Kebutuhan safety tidak hanya PLTN

10

Kita tahu bahwa safety (keselamatan) saat ini paling sering didahulukan dalam setiap project. Berapapun keuntungannya kalau tingkat safetynya tidak memenuhi syarat, maka proyek dapat dibatalkan. Pembangunan serta pengoperasian PLTN juga mengalami hal yang sama, tingkat keselamatan (safety)-nya harus dudahulukan. Tapi sayangnya PLTN ini sepertinya sudah menjadi issue yang sulit ditelaah kebenaran “potensinya“, baik potensi keberhasilannya dan potensi bahayanya. Salah satunya adalah potensi penggunaan energi nuklir sebagai senjata yang menjadikan issue nuklir berkembang menjadi issue berdimensi banyak. Bahkan ada yang menggeser dan menggelindingkan issue agama … waddduh !

Kalau konsen kita benar-benar murni keselamatan, maka PLTN bukanlah sesuatu yang lebih bahaya dengan proyek-proyek instalasi industri yang lain. Namun sebaliknya justru karena selama ini PLTN sudah terbiasa di hantam sana-sini, saya yakin justru instalasi PLTN nantinya akan merupakan sebuah instalasi yang aman.

Kesadaran Listrik di Malaysia lebih buruk dari Indonesia

Ini hanya sebagai ilustrasi saja yang mungkin akan kedengaran aneh bagi yang selama ini di Indonesia. Saya membandingkan dua negara tetapi mengambil porsi yang setara, yaitu Listrik di Jawa dan Listrik di Peninsular Malaysia, keduanya merupakan kawasan yang sangat membutuhkan listrik. Di Malaysia mereka bilang api (api=listrik). Selama di Malaysia saya mengalami listrik mati secara regional dua kali (2003 dan 2005), maksudnya listrik seluruh semenanjung peninsular Malaysia ini mati-total (blackout). Sedangkan selama di Indonesia (di Jakarta) sepuluh tahun terakhir, kalau tidak salah listrik Jawa-Bali mati baru sekali.

Kemarin ketika di Jakarta, ada kawan IT di kantor Jakarta memasang Uninterruptible Power Supply (UPS) saya tanya “sebenarnya untuk apa sih ?” … diskusi berkembang akhirnya terkuak bahwa di Malaysia ini justru lebih banyak gedung yang tidak memiliki GenSet sendiri. Mereka yang di Malaysia ini benar-benar mengandalkan PLN (PNB-Jawatan Letrik), padahal kenyataannya listrik di KL ini stabilitas voltage-nya tidak lebih stabil dari listrik di Jakarta. Sudah banyak rekan-rekan IT mengeluhkannya. Tetapi berita kelemahannya ini tidak pernah mencuat dikoran atau media.

Selama ini yang namanya mengalami listrik mati dirumah di KL maupun di dalam gedung di KL ini justru lebih sering ketimbang sewaktu di JKT. Mengapa saya bilang “kesadaran listrik” Indonesia lebih bagus ? Ya, di Indonesia hampir tiap hari kita bisa melihat seberapa besar kebutuhan listrik di Jawa (tapi kok hari ini aku ngga bisa akses kurva beban di www.pln.co.id lagi ya 🙁 ). Termasuk kalau akan ada penggiliran, kita akan “alert“karena media selalu akan memberitakannya. Walaupun dengan misuh-misuh, tetapi ada kesadaran akan keterbatasan penyediaan listrik.

Akhirnya dengan memiliki “kekhawatiran” ini justru menimbulkan “kewaspadaan” ekstra. Kewaspadaan inilah yang merupakan safety faktor positipnya. Nah, kalau saja kekhawatiran ini dibandingkan dengan kekhawatiran PLTN, saya rasa akan sama.

Seorang kawan dari bagian hukum (legal) punya istilah lain lagi. Di Indonesia ini WYSWYG (What you see is what you get), apapun yang anda lihat di Indonesia ya itulah adanya. Sedangkan di Malaysia masih belum bisa menemukan berita seadanya di medianya. Mungkin rakyatnya sendiri belum sesiap seperti tetangganya di Indonesia ini. Berita dari Antara ini mungkin membuka wacana anda. Namun juga harus disadari, seringkali keterbukaan dan kebebasan berekspresi di Indonesia ini juga diselewengkan dengan hanya menyebarkan yang negatip saja. Seharusnya kita juga berani menguak yang benar selain berani menguak yang salah.

Saya suka sekali dengan “menguak seluk dan beluknya” PLTN ini apa adanya, dengan demikian kita semua akan tahu apa adanya, dan seadanya, tanpa mengada-ada. Semakin PLTN dikuak, semakin banyaklah kita belajar darinya. Sehingga ketika PLTN dibangun tahun 2009 nanti semua sudah siap !!

10 COMMENTS

  1. Sebaiknya, PLTN adalah solusi terakhir.

    Mungkin yang harus dimaksimalkan terlebih dahulu adalah sumber Energi yang ada. Mis : Thermal, Angin, Ombak, Surya, dll.

    Kita juga tunggu PLTN-FUSI dari Menristek.

  2. Kangmas,
    Saya termasuk yang sangat awam di bidang PLTN.
    Cuma sekedar pengin tahu…
    Saya mengira selain masalah-2 teknis yang sudah didiskusikan para pemberi komentar sebelumnya (yang saya yakin pakar di bidangnya), ada masalah NON TEKNIS (politis) yang juga mempengaruhi pengambil keputusan di Republik tercinta ini. Misalnya masalah pemasok bahan bakarnya, yang kita tahu di dunia ini mungkin hanya bisa dihitung dengan jari 1 tangan saja. Dan ini tentunya akan mempengaruhi harga dan ketergantungan (terms and conditions) yang tidak enteng…
    Kecuali kalau ada orang shaleh yang berani melawan koboi kayak di Iran, mungkin akan lebih terarah.
    Saya melihatnya tidak adanya transparansi dari otoritas pengambil keputusan (go or no go –nya). Kalau misalnya semua permasalhan dibeberkan (semua termasuk yang tabu) yang tabu (teknis dan non teknis), barangkali akan memberikan edukasi kepada masyarakat yang pada akhirnya apapun keputusannya ya kita tanggung bersama…

    Ini cuma komentar orang yang sangat awam lho…

    Monggo kangmas..

  3. Pak Dhe, numpang buat komentar yo 😀

    Kang Mas Dhan,

    PLTN, sependek pengetahuan saya, tidak akan meledak sepertihalnya bom atau senjata nuklir. Jika terjadi accident fatal, yang terjadi yaitu berupa melting core dari reaktor tersebut. Namun sebelum itu terjadi, banyak langkah langkah safety yang sekarang secara automatically akan mencegah hal ini. Salah satunya bisa dilihat animasinya di blog saya.

    Saya kira sudah banyak perdebatan mengenai PLTN di Indonesia ini terutama masalah SDM, management, dll. Namun, tidak hanya di Indonesia, dinegara negara yang PLTN-nya sudah maju pun, terjadi perdebatan yang sama. Agaknya, BATAN, sebagai promoting body, dan juga ESDM, harus berusaha dan bekerja ekstra untuk melakukan sosialisai dalam arti pencerdasan (bukan pembodohan atau pemutarbalikan fakta) mengenai PLTN ini.

    Saya justru membayangkan bahwa dengan dibangunnya PLTN, akan membawa kepada sikap positif, yaitu kepercayaan diri bangsa. Sikap ini yang sekarang hilang dalam segala lini kehidupan berbangsa. Saya percaya SDM Indonesia memiliki keunggulan yang sama bahkan lebih (mungkin) dibandingkan dengan bangsa lain..

    Mungkin begitu Pak Dhe..

    Salam
    CH
    http://nuklir.wordpress.com/

  4. Hmm… saya termasuk yang kurang setuju ada PLTN di kita, terutama di P. Jawa. Ya maklum saya memang awam dan kebayangnya cuma bahayanya saja, apalagi kalo kebocoran/ledakan terjadi bisa meracuni lingkungan selama ribuan bahkan puluhan ribu tahun katanya. Rasanya tidak sebanding dengan aspek seperti wibawa negeri yang hanya efek samping saja. Tentu kalau pengukurannya terhadap pemenuhan kebutuhan energi… yaa… masih bisa ditolerir deh. Tapi rasanya untuk pemenuhan ini masih ada cara lain yang masih bisa ditempuh. Mungkin sama repotnya, tapi tanpa mengambil potensi bahaya.

    Alasan lainnya karena saya menilai banyak aspek manajemen di negeri ini yang macet. Sehingga terbayangnya sangat fatal kalau manajemen PLTN diabaikan, bukan hanya manajemen operasi (termasuk safety), tapi kalau birokrasi dan manajemen pada policy maker tidak rapi khawatir berimbas pada level operasi. Ujung2nya safety dan berbagai prosedur penting lainnya cuma macan kertas aja.

    Saya yakin Indonesia tidak kalah secara teknis dan SDM, tapi rasanya harus diakui bahwa kita morat marit parah dalam hal disiplin dan political will.

    Mungkin Bapak bisa mencerahkan pikiran dan menenangkan perasaan awam ini. 🙂

    Salam

  5. Buat Mas fathonezic,

    Sedikit koreksi mas,
    Apa yang disampaikan mas itu terbalik. PLTN dioperasikan dengan temperature coefficient of reactivity negatif. Jika positif, maka akan terjadi melting down atau shut down. Bisa dilihat di buku John R Lamarsh, Introduction to Nuclear Engineering, pp 307-308..

    Buat Pak Dhe,
    Setuju sekali pak dhe. Segala lini memerlukan perhatian safety yang sama besarnya, tidak hanya PLTN.

    Bagaimana sistem passive safety di ESBWR buatan GE? bisa dilihat disini

    http://nuklir.wordpress.com/

    CH

  6. Saya cuma mau ngomong. Selama ini ada yang bilang di berbagai seminar kalo PLTN itu bom nuklir yang dikendalikan.Padahal kuliahnya di Fisika Nuklir. Anehnya kok ya masih ‘goblog’ soal nuklir. Mana ada PLTN bisa meledak. Bom nuklir cuma dibuat dari uranium yang koefisien reaksinya negatif. Lha PLTN kan positif, trus gimana cara bikin cerita biar PLTN meledak??? Hal paling parah yang bisa terjadi dari PLTN itu cuma meleleh pada reaktor. Dan itu terjadi pada PLTN Three Mile Island. Tapi kan keamanannya sudah terdjamin. Kalo Chernobyl gak usah dibahas. Aneh membahas sesuatu yang dari awalnya sudah ruask. Jelas gak debatable.

  7. Walah, sampai BATAN bikin FTV juga loh pakde…buat ngampanyekan PLTN…

    Yach, nanti ujung-ujungnya pasti rakyat lagi yang rugi…padahal seperti tulisan pakDhe sebelumnya, mereka itu ndak tau apa-apa.

    Waktu di warung kopi, pernah aku denger orang bilang, “aku ndak setuju ada PLTN, bahaya”. Lha waktu aku tanya PLTN itu apa, dianya ndak bisa jelasin alias blank ndak jelas gitu…

    hihihii…

  8. — In [email protected],
    MetNet wrote:

    Setuju pak,
    mudah-mudahan “menguak” PLTN ini apa adanya ini diikuti oleh rekan-rekan dari LSM manapun atau dari elemen non-LSM.

    Jangan sampai saat tercekik karena tdk punya BBM 22 tahun lagi, baru bilang kenapa tidak dari dulu pakai PLTN.

    Menurut ESDM, cadangan minyak bumi hanya sekitar 19 Milyar Barel, produksi 500 juta barel per tahun.
    Berdasarkan komposisi konsumsi energi Indonesia tahun 2005, pemakaian minyak bumi sangat dominan. Konsumi BBM mendominasi 63% dari energi mix nasional. Sisanya batubara 8%, listrik 10%, gas 17% dan lain 2%.

    Mengganti peran BBM untuk energi 22 tahun kemudian, artinya perlu menaikkan peran batubara, gas, geothermal, angin, surya, biomasa, hidro, dll. Tinggal yg sisanya porsinya PLTN, sesuai prinsip “PLTN adl alternatif terakhir”.

    Salam
    Muhammad Subekti

Leave a Reply