Nggrundel soal energi – tidak tahu tapi dimanfaatkan oleh orang lain !

25

On Dec 1, 2007 8:16 PM, Ismail Zaini <liamsi@ > wrote: di IndoEnergy

Di TV tadi PLTU Batubara di Jepara juga di demo . Jadi PLTN Tidak Boleh, Batubara Tidak Boleh , mungkin nanti menyusul Geothermal tidak boleh , dst krn menggangu linkungan . Akhirnya tinggal angin dan matahari yang yg diperbolehkan , Sy tidak kebayang kalau untuk mencukupi listrik yang ribuan MW ini cuma dari Angin dan matahari…

Aku tercenung dan berpikir masih banyak rakyat yang tidak tahu tapi dimanfaatkan oleh orang lain !

Tulisan pendek sahabat saya diatas membuat aku trenyuh sekaligus geram, bukan marah tapi gimana gitu looh … 🙁

Kayaknya masih banyak masyarakat kita yang tidak tahu ini justru dimanfaatkan oleh yang pinter. Kasihannya mereka sendiri nanti yang akan mengalami kesulitan. Memang benar PLTN ada bahaya dan risikonya, memang tidak salah kalau PLTU (Batubara) tidak 100% aman. Tetapi tidak memanfaatkan sama sekali juga ada risikonya. Paling tidak risiko tidak tersedianya energi.
Nah, apakah mereka juga sadar akan adanya risiko ini?

Tidak tertutup kemungkinan bahwa setelah PLTN dilarang dan juga PLTU (Batubara diprotes) maka sumber geothermal juga akan ditolak di Jepara, yang sangat mungkin saja ada di sekitar Gunungapi Muria. Bali sudah menolak pemanfaatan potensi geothermal Bedugul dengan alasan sosial. Mungkin saja memang beralasan karena aspek sosial ini memang benar. Namun Bali harus menanggungnya (membayarnya) dengan pemenuhan energi yang mahal dan nantinya biaya tourisme yang mahal hanya dinikmati orang asing. Dan karena biaya operasionalnya mahal juga tidak menambah devisa juga.

25 COMMENTS

  1. pak de, tolong dong di sampe-in pada orang orang jauh (yang duduk di singgasana) dan orang orang dekat (yang duduk di singgasini) agar di jakarta itu rumah rumah satu tingkat diganti jadi rumah bertingkat. Namanya boleh apa aja, seperti RUSUNAWA (RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA)sehingga rumah rumah di jakarta bertingkat semuanya. Dengan cara ini, maka transportasi antar penduduk menjadi sederhana. Dijamin deh, konsumsi bahan bakar juga pasti turun sampai seper sepuluhnya.
    dengan cara seperti sekarang, yang dulunya pinggir jakarta itu bekasi barat, sekarang adalah cikarang. Di selatan, dulu depok itu jauh, sekarang cikeas tuh dekat, dsb dsb

  2. Pak Dhe,
    Menyambung tulisan mas Andang. Sebenarnya ini butuh pembelajaran buat kita sebagai ahli kebumian dalam pemaparan keilmuan kita terhadap rakyat luas yang rata-rata masih awam, juga terhadap rakyat itu sendiri terhadap suatu isue keilmuan.

    Masalahnya adalah terlalu banyak pihak ketiga yang menyebarkan isue energi dengan berbagai kepentingan yang terkandung di dalamnya.

    Repot kalo sudah masuk zona ini…

  3. Bagi Otto, semuanya itu ada resiko. PLTA, lha kalo bendungannya jebol, atau proses pendangkalan yang terlalu cepat. Demikian juga dengan sumberdaya yang laen. yang penting adalah membuka pikiran semua pihak, bahwa apa yang hendak dibangun adalah karena kebutuhan, bukan karena kepentingan sepihak. Kasihan khan mereka yang byar-pet…..

    OOT: kabarnya Gembul gimana, Pak Dhe..?

  4. Pakdhe, saya penasaran ama blue energy yg ditemukan paklik joko suprapto dari nganyuk. Mohon diceritakan dong gimana sih kira2 proses ekstraksinya dari air laut. Matur sembah nuwun….

  5. Sebenernya rakyat itu gak akan dikit2 protes atau demo kalo tau akar permasalahan dan solusi yang bisa dipecahin bareng2. Bener bgt sarannya mbak hayati sosialisasi awal kemasyarakat secara dini itu paling pas,jgn sampe diduluin kepentingan politik yg nyekokin mrk. Kasian masyarakat udah berbagai krisis dimensional dirasain ditambah lagi ada beberapa org yg manfaatin.karena urusannya perut laper n perlu duit mau aja diajak demo. Jadi kliatannya rakyat itu cuma bisa teriak2 aja demo nuntut ini dan itu.Spt PLTSa yang di Bandung itu kan di demo juga…jujur saya sndiri blm ngeh bener model dan sebab akibat dari adanya PLTSa itu sndiri.ada yang mau ngasih tau gak???????

  6. Pak, kalau kebutuhan satu rumah tangga, mungkin kah dipenuhi dengan energi dari sinar matahari?

    Dimana saya bisa dapat perhitungannya? Mulai dari harga sel matahari, berapa banyak yang harus dibeli, sampai sesulit apa perawatannya?

    Terimakasih

  7. kang kan ada sumber energi yang besar di sepanjang pantai, bagaimana kalo gelombang dan masa air laut di gunakan sebagai alternatif selain angin dan matahari.

  8. Vick,… ati-ati lho rek,…
    Anggapan kita bahwa orang lain (baca: rakyat) itu tidak tahu, seringkali menjerumuskan kita pada proses dialog yang berat sebelah dimana kita akan cenderung berusaha memaksakan kepada orang lain (rakyat) bahwa pengetahuan kitalah yang paling benar. Di dalam khasanah filsafat ilmu kita juga pernah belajar bahwa kebenaran ilmu pengetahuan itu derajatnya berbanding lurus dengan keterbukaannya terhadap proses falsifikasi secara independen. Nah, tanpa ada dialog dua arah yang seimbang, kita akan sulit mendapatkan sumbangan analisis falsifikasi dari pihak lain (baca: rakyat), sehingga kebenaran yang kita bawa seringkali akhirnya menjadi semu, teoritis, diawang-awang dan tidak terpakai. Hal ini berlaku juga untuk pengetahuan kita tentang aspek mudharat dan manfaat dari PLTU, PLTN, PLTG, dsb. Analisis aspek mudharat seringkali dibingkai dalam dimensi waktu kekinian; dimana riset2 dan publikasi-publikasi yang dirujuk mengabaikan ketidaklengkapan sebaran data dalam skala waktu – terutama waktu geologi: ground water residence time leading to pollution outbreak, pressure build-up leading to tectonic rupture and block movement, dsb – sehingga kesimpulannya juga tidak boleh dikatakan representatif dan statistically valid. Apalagi bila dikaitkan dengan potensi hazard 1-2 atau 5 generasi ke depan (100-200 tahunan?): analisis2 kita seringkali tidak lengkap, linier, dan tidak multivariate (mencoba membuat sederhana “mother earth nature” memang sangat bermanfaat dalam modeling untuk industri ekstraktif geologi, tapi menyederhanakan bumi dalam modeling hazard & disaster malah jadi sebaliknya: menyesatkan!). Belum lagi kalau kita agak keluar sedikit dr wawasan sempit ilmu alam (kebumian) untuk menjelajah dan mengintegrasikan juga sosiologi dan politik;…==> “persepsi masyarakat” juga adalah faktor utama dalam kebenaran ilmu yang musti di-modelkan. Persepsi masyarakat bisa didrive oleh gerakan politik (dan ekonomi), bisa juga didrive oleh kearifan lokal (yang tidak bisa disistematisir jadi ilmu),.. atau gabungan kedua-duanya (terutama gerakan politik ekonomi yang menunggangi kearifan lokal)…
    Nah, to make it short: rakyat itu sebenarnya juga “tahu”, hanya saja “pengetahuan” mereka mungkin tidak sama dengan pengetahuan kita (baik secara intrinsik maupun kerangka sistim-nya),.. sehingga hindarilah mengatakan bahwa rakyat itu tidak tahu…

    Note: salut dengan usahamu yg terus menerus untuk membuat rakyat tahu pengetahuanmu …….maju terus, jangan capek2….

    Salam

    adb

  9. “Trenyuh” itulah kalo falsafah “anut grubyug” di kalangan masyarakat kecil n kurang pendidikan yang kadang selalu dimanfaatkan orang2 tertentu, meski kadang juga merasa “gemes” melihatnya. Masih banyak juga orang pintar yang kurang mau dan mampu menularkan kepintarannya kepada orang lain, kalo mengetahui betapa besar nilai ibadah dan pahala yang diterima… tentu akan lain jadinya, wallahualam

  10. Jika bulan dan bumi mempunyai beda muatan listrik yang besar dihubungkan, maka ada potensi aliran listrik di antara keduanya.

    Pertanda adanya beda muatan listrik tidak bisa dilihat dari adanya petir atau loncatan listrik di antara keduanya karena jarak antara bulan dan bumi cukup jauh.

    Hubungan kabel antara bulan dan bumi adalah kutub bumi yang terdekat dan bagian bulan yang berhadapan dengan bumi. Dari kutub, energi listrik diedarkan ke seluruh dunia lewat kabel bawah laut.

    Maaf, ini hanya mimpi.

  11. itu terjadi karena pemerintah gagal dalam upaya meyakinkan masyarakat kita, saya tidak melihat adanya masalah yg begitu serius dalam mengelola sumber energi nuklir misalnya ataupun batu bara, karena teknologi terus berkembang dan teknologi untuk keamanan teknologi nuklirpun makin baik, tapi sekali lagi bagaimana mungkin masyarakat percaya sama pengelolaan pemerintah, jangankan nuklir yg sangat berbahaya, tempat pembuangan sampah di Bantar Gebang saja banyak masalah apalagi nuklir yg resikonya wuuiiihhhh bahaya baaaangeet bok, capeh deh…

  12. wah… begitulah um, masyarakat kita mudah terpancing omongan orang. Ngga mengkaji dulu apa yang dibilang orang itu bener-bener bener ato ngga. Mudah diprovokasi, dikit2 demo, dikit2 boikot, dikit2 sweeping.

    Kalo aku sih setuju aja dengan PLTN ato PLTU, dengan kondisi pengelola menjamin pelaksanaan dan perawatannya sesuai prosedur dan dilaksanakan dengan teliti. Dan kalo bisa ngga dikelola pemerintah ato BUMN. Sikasih ke swasta aja, tapi tetep diawasi.

  13. Yah, begitulah pakde. DitawariPLTN gak mau, dibangun PLTU diprotes katanya energi terbarukan masih banyak. Eh, ndilalah, dikasih solar cel gratis kok ya cuma dijadiin meja. Maksudnya opo to?? Pas, ditawari transportasi murah kayak busway malah dihadang. Lah, masyarakat maunya apa?? kita di kampus jadi bingung…

  14. Ya ya ya … yang pasti, di daerah saya, PLN itu meneror kehidupan, byrapret. Nah, kalau yang dipercaya nguru energi tapi ngak beres-beres juga, lalu gimana dong? Apa ngak perlu dikasih sanksi tu, atau gimana ya?

  15. hehe, seru juga yah,, tapi emang bener bren,sebagian besar kebutuhan listrik di negara kita dipenuhi melalui bahan bakar minyak,,
    nah,harga minyak selangit gituh,, tambah mendem ajah pln,, bangsa kita emang bangsa yang mudah disulut,aq juga heran,,
    ya kalo tenaga nuklir memang berisiko tinggi karena ada kemungkinan bocor dll tapi kalo menolak batubara dan geothermal?? au ah,,
    salam kenal bos liamsi

  16. Sebenarnya yang bundet itu apanya to ?
    Masalah energi di Indonesia bisa jadi politis dan berkembang menjadi macam-macam persoalan, hingga sosial, budaya bahkan agama … wah kok aneh ini negeri

  17. nuklir ga boleh…batubara ga boleh..geothermal ga boleh, ya sudah kembali saja ke jaman batu, susah memang mental bangsa terjajah…kalau wong londo bilang jelek, semuanya jadi koor bilang jelek, celakanya kalau listrik mati juga teriak kencengnya minta ampun, ngiri sama negri londo sana yang listriknya ga mati-mati, padahal mereka juga pake nuklir sama batubara.

    bangsa yg aneh memang…setiap ada masalah, bukannya nyari solusi tapi malah umek dewe.

  18. Dhe, ada kemungkinan juga kita harus membaca situasinya begini. Selama ini, kan banyak sektor industri maupun fasilitas umum lain yang dibangun tanpa memberi manfaat yang nyata kepada penduduk sekitar. Mereka justru menerima dampak negatifnya macam limbah (cair, gas, padat) dan perubahan sosial macam menjamurnya miras, prostitusi, atau gaya hidup negatif lainya sebagai akibat tumbuhnya fasilitas negara atau industri tsb. Maka, pembangunan prasarana umum yang berisiko itu harus diimbangi dengan program CD (community development), sebagai partisipasi konkrit dan lansung kepada masyarakat sekitarnya. Masyarakat kita kan sekarang udah banyak mengakses informasi, jadi mereka sebetulnya juga menyadari kemungkinan mereka akan dirugikan oleh pembangunan sarana umum tadi. Tengok kasus Lusi binti Lula itu. Kan masyarakat kita trauma, Dhe… Maka solusinya, sosialisasi awal seperti komentar sdr. Gerie di atas itu, saya sepakat. Jadi, masyarakat menyetujui dibangun sesuatu karena selain mereka paham manfaatnya, mereka juga paham bahwa bila ada risiko tertentu dari pembangunan sarana umum itu, mereka tahu kompensasi atau apa yang akan mereka terima, atau setidaknya tahu apa yang harus dilakukan manakala ada situasi kedaruratan…

  19. Yah memang barangkali sekarang ini yang oleh Ronggowarsito (1800-an) disebut sebagai jaman kalabendu. Tapi kan tetap harus optimis terutama bagi
    para pemegang amanat rakyat banyak utk tetap eling (ingat) dan waspada, bahwa dalam proses pengambilan keputusan itu harus diawali dengan “conditioning” secara bijak dan strategis tentang apa problem nasional kita dan manfaat & kerugiannya, sehingga masyarakat tidak mudah di ombang ambing kan oleh issue2. “Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti” (segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar).
    Atau mungkin maksudnya kita memang disuruh balik ke jaman batu, pakai obor, naik kuda atau kebo…

  20. Setuju pak. Saya juga menduga kampanye-kampanye negatif untuk menentang pemanfaatan energi nuklir ada aktor intelektual jahat di balik itu. Ayo pak, kita gencarkan kampanye positifnya, kita cerdaskan masyarakat kita agar tidah mudah diperalat oleh orang-orang tak bertanggungjawab. Bravo.

  21. Emang ya pakdhe negara kita lagi menghadapi krisis energi? Trus kalo kebutuhan energi listrik ga bisa memenuhi kebutuhan yang terus meningkat ga cuma pemadaman bergilir tapi bakal terjadi pemadaman total, trus kita ga bisa menikmati listrik lagi dong. Kalau begitu PLN juga bakal didemo juga. Mungkin masyarakat kita emang belum sadar betul bagaimana menciptakan dan mengelola energi alternatif (PLTN, batubara, geothermal) yang aman bagi manusia dan juga lingkungan. Padahal kebutuhan listrik justru semakin meningkat. Gimana pakdhe bisa dijelasin ga gimana langkah alternatif bagi negara kita agar krisis energi bisa teratasi tanpa dampak yang besar bagi manusia dan lingkungan di sekitarnya? Mkasih…

Leave a Reply