Sukses atau Gagal ? Pemanfaatan PLTN di dunia

6

Memberikan nilai atau menilai sebenernya bukan keahlianku. Aku ya ndak tahu bagaimana cara yang benar menilai kesuksesan atau kegagalan. Lebih enak menjadi murid yang belajar ketimbang menjadi guru yang menilai. Namun ada sesuatu yang menggelitik pikiran saja ketika aku melihat ada yang mencoba menilai kegagalan atau keberhasilan sebuah project atau perjalanan karir seseorang maupun sebuah usaha. Seringkali yang terlihat adalah ketika sipenilai hanya memperhatikan dan konsentrasi kejadian titik akhir dari sebuah perjalanan project atau perjalanan kehidupan.

Contoh kasus yang sedang lumayan baru adalah tentang penggunaan PLTN sebagai salah satu alternatif energi. Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini banyak PLTN yang mengundang protes, ntah karena kasus lingkungan, kasus keekonomian, maupun kasus pencapaiannya.

🙁 “Pakdhe bukankah, manusia itu dilihat dari apa yang terlihat saat ini ?”
😀 “Bener thole, tapi tidak seluruhnya benar. Banyak hal-hal yang telah dilewati seseorang itu perlu diketahui dan diperhitungkan”

Diponegoro berakhir di penjara, Napoleon akhirnya kalah, Hitler akhirnya mati, Majapahit juga runtuh, Romawi sudah tak ada lagi, Demikian juga HM Suharto. Tetapi perjalanan mereka bukanlah hanya dilihat seperti yang ditulis sebelumnya disinitoh akhirnya …”Mari kita tengok bagaimana “kehidupan” sebuah proyek itu “dihargai“. Yang paling mudah barangkali melihat keekonomian sebuah proyek. Melihat sisi ekonominya ini hanya sekedar mempermudah. Kita tahu sebuah usaha, kerja atau projek tidak hanya berdampak pada sisi material saja. Namun sisi ini paling mudah karena dapat dibuat dalam bentuk angka.

Net-Cashflow

Bagi anda yang belajar ekonomi tentunya sudah tahu apa itu “cash flow“. Kalau tertarik dalam soal CF bisa klik sini. Kali ini untuk lebih mudahnya kita anggap saja hanyalah penggambaran total uang yang dibelanjakan dan diperoleh pada suatu waktu tertentu. Misalnya tahun ini sedang membangun dan mengeluarkan uang, maka tentusaja net-cashflownya negatip, sedangkan pada saat sudah ada uang masuk maka “net-cash flow“-nya postip.

silus-cashflow.jpg

Lagi-lagi secara mudah digambarkan secara grafis disebelah kanan ini. Pada saat awal total modal dikeluarkan sebesar 6$ katakanlah selama dua tahun. Sedangkan tahun ke tiga sudah mulai untung sebesar 3$, dan toal penerimaan selama produksi 7 Tahun adalah 21$. Kemudaian saat ditutupnya pabrik memerlukan biaya sebesar 3$. Dengan demikian total yang diperoleh sebagai keuntungan adalah 12$. Jadi dengan modal 6$ dapat mengantongi keuntungan bersih 12$ … looh lumayan kan ?

: ( “Whadduh itu usaha apa Pakdhe ? kok bisa untung 2 kali lipat dari modalnya ?”
😀 “Hallah iki cuman contoh, thole. Tapi ingat kalau itu sebagai angka angka dalam juta dollar … hmm” 😛 .

Penggambaran cashflow dapat secara mudah digambarkan seperti diatas. Sekarang bagaimana kalau kita coba tengok apa yang terjadi dengan “cashflow” pada masing-masing tahap sebuah projek atau sebuah pembentukan badan usaha atau pabrik.

cashflow1.jpg

Titik 1. Pada saat awal perencanaan pabrik dan juga saat awal pembangunan sebuah projek tentusaja tidak ada pemasukan. Semua hanyalah pembelanjaan, itulah sebabnya cash flow-nya negatip. Apakah berarti perusahaan sedang merugi ? Hehehehe … tunggu dulu lay ! Jangan buru-buru menilai.
Dalam perusahaan migas, saat titik 1 ini merupakan tahap eksplorasi, dimana perusahaan migas sedang membelanjakan uangnya untuk mencari dan mencari serta mencari dimana cebakan migas itu berada. Kalau pembangunan pabrik tentusaja sedang tahap pembelian lahan dan pembangunan mesin-mesin pabrik.

Titik 2. Merupakan saat awal produksi atau “peak production state“. Pada saat ini tentusaja tidak hanya keuntungan yang ada, juga akan ada biaya operasi namun karena sudah mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan, maka dalam kurun satu waktu tertentu (biasanya setahun) cash flow-nya menjadi positip. Titik 3. merupakan titik saat keemasan sebuah perusahaan. Pada saat ini keuntungan diraup cukup besar. Biaya operasional rutin mungkin bisa ditekan, sehingga keuntungan produksi terus dapat ditingkatkan.

Saat usia pabrik sudah mulai tua adalah saat Titik 4. Disini keuntungan perusahaan bisa saja masih ada (postip cash flow), namun meningginya dan meningkatnya biaya perawatan menjadikan keuntungan menurun. Dalam industri explorasi migas ini meupakan saat dimana sumur sudah tua, air sudah mulai banyak terproduksi. Kondisi ini seperti kondisi lapangan-lapangan migas di Indonesia saat ini. Hingga suatu saat di Titik 5 perusahaan harusbenar-benar ditutup.

Titik 6. Saat membongkar serta menutup kembali sebuah pabrik tentusaja tidak ada produksi. Dalam sebuah industri Migas merupakan saat untuk menutup sumur-sumur, membongkar fasilitas platform. Serta satu hal yang jangan dilupakan, membayar pesangon pegawai-pegawai. Saat-saat ini dalam industri migas juga dalam PLTN dikenal dengan nama decomissioning.

macam-macam-cf.jpgMacam-macam profil net cash flow

Bentuk profil atau tipe dari masing-masing total cash flow akan berbeda-beda untuk setiap jenis usaha. Ada yang bertipe jangka panjang sehingga terlihat keuntungannya mungkin besar namun harus diukur untuk jangka 10-20 tahun. Namun kalau saja uang yang dibelanjakan dalam tahap awal itu jauuh lebih besar dari total pemasukan saat produksi tentusaja projek itu boleh dikatakan merugi.

Dalam bisnis migas biasanya memiliki tipe dimana modalnya sangat besar pada waktu awal, namun juga lama usaha (projectnya) tidak terlampau lama. Saat ini banyak lapangan2 minyak terutama di laut dalam disusahakan diproduksi secepatnya karena untuk menekan biaya konstruksi. Sedangkan dalam PLTN seringkali modal awalnya suangat besar, namun berjangka operasi lama 20-30 tahun. Sehingga perlu dipikirkan kelangsungan selama masa produksi nanti. Dalam PLTN misalnya jaminan pasokan bahan bakar dsb.

cashflow2.jpg

Yang menarik adalah ketika kita mendapatkan kemungkinan (kesempatan/ oportunity) untuk membuat usaha yang sedang menurun performanya untuk dikembangkan lagi seperti disamping ini. Siklus sebuah proyek tidak harus satu kali saja namun bisa diremajakan (rejuvinated). Sebagai contoh sebuah pabrik yang akan mengalami kebangkrutan dapat dikelola. Tapi ini tentunya perlu cerita panjang. Dan saya bukan ahlinya untuk hal ini 😛 Misalnya dengan menyuntikkan modal supaya pabrik beroperasi lagi.

Bagaimana yang pas untuk menilai sebuah usaha/project ?

Tentusaja kalau menilai berdasarkan kondisi sesaat maka yang diperoleh tidaklah benar-benar mewakili dampak baik positip maupun negatip dari sebuah usaha. Melihat kiprah PLTN saat inipun perlu kejelian dan kearifan untuk mengetahui sampai dimana saat ini dalam satu siklus kehidupannya. Semestinya dengan melihat satu siklus-penuh “kehidupan” sebuah pabrik atau sebuah usaha diatas dapat memberikan gambaran seperti apa seharusnya menilai sebuah usaha membangun PLTN. Itulah sebabnya kalau ada yang berargumen bahwa ada sebuah PLTN rugi, saya akan melihatnya itu sebagai data atau sebagai pengamatan sesaat yang mungkin saja tidak menunjukkan dampak keseluruhan project pembangunan PLTN.

Dampak domino (domino effect)
Adakah perusahaan yang mau diajak bekerja sama?”

Mungkin saja ada yang tahu tentang peranan Petronas dalam memberikan sponsor Formula -1. Salah seorang kawan di Petronas mengatakan bahwa sponsor ke Formula-1 ini proyek merugi. Artinya Petronas tidak mendapatkan keuntungan langsung dari pensponsoran Formula-1 ini. Namun dengan sponsor ini menjadikan Petronas dikenal oleh Negara-negara lain, perusahaan-perusaan lain. Secara mudah dalam menilai perusahaan adalah, “Adakah yang mau bekerja sama dengannya?“. Dampak positip ini tidak mungkin dengan mudah diperhitungkan dengan grafik net cash flow diatas.

PLTN merupakan salah satu bagian dari program negara dalam penyediaan energi. Bisa jadi dalam skala nasional memang mungkin saja PLTN-nya sendiri merugi, tetapi sangat mungkin PLTN ini memberikan manfaat positip pada industri lain. Selain itu tidak dapat dipungkiri bahwa issue “penguasaan teknologi” dapat memicu dan memacu kebanggaan yang sulit diketemukan di hati rakyat Indonesia saat ini.

Jadi kalau ingin melihat dampak dari sebuah proyek jangan melihat kondisi sesaat.

Bagaimana dengan pembangunan Busway yang menyebabkan kepedihan dan kemacetan di Jakarta saat ini ? … Apakah ini merupakan negatip cash-flow akan menghasilkan nilai positip dalam jangka panjang ? Wupst !! 😛

6 COMMENTS

  1. Ikut nimbrung ya pakde.. 🙂
    Saya pernah ngobrol dg pejabat bidang energi, ttg PLTN & Geothermal. Bottom line nya, ya masalah kalkulasi ekonomisnya, geothermal msh lbh mahal drpd PLTN per kwh nya. Saya setuju dg gaya pendekatan pakde, yg saya pahami bhw penggunaan PLTN harus ada batas waktunya. Perhitungan ekonomis tidak hanya pada “pendirian” PLTN nya thok, tapi harus dilihat bahwa penggunaan PLTN untuk mendorong tumbuhnya penggunaan energi alternatif lainnya. Jadi seandainya PLTN dipakai 18 tahun (=6 kali penggantian bahan radiaktifnya), maka dalam masa itu sdh harus ada jenis energi alternatif. Bisa saja PLTN yg berbasis reaktor fissi sdh digantikan reaktor fussi, atau geothermal sdh lbh ekonomis, atau bio fuel sdh menjadi pelengkap yg ekonomis, atau energi matahari, angin, pasang surut, atau bahkan pemurnian hidrogen dari air laut dll. Jadi maksud saya, parameter ekonominya juga mengikutkan pada faktor penggerak pembangunan energi lain yg didorong oleh PLTN tadi.
    Nah, singkatnya, proyek PLTN sdh harus dibarengi dengan blueprint program pengembangan energi pengganti PLTN.Jadi pengertian ekonomis tidaknya harus dilihat dalam kerangka itu.
    Gitu pendapat saya, pakde. Tapi ngomong2,ompapang dll koq gak kasih komentar lagi ya pakde? Padahal kalau beliau2 kasih komentar, wah ilmu saya bisa nambah dgn tiba2… Monggo ompapang dan bapak2/ibu2 lain yg tahu banyak ttg nuklir, ditunggu komentarnya.. (maap ya pakde, sdh lancang.. hehe..)

  2. semestinya nuklir kalau dikelola dengan baik memang bagus .. tapi kalau birokrasi di Indonesia masih amburadul, cash-flow nya nanti akan negatif terus pakdhe….

    kenapa? nanti PLTN akan jadi ATMnya para pejabat lagi, seperti pertamina sekarang 😀

Leave a Reply