Bagaimana letusan Kelud tahun ini ?

19

Kelud masih ditunggu-tunggu, seberapa besar letusan nantinya masih menjadi tanda tanya sekaligus mengundang deg-degan. Apakah akan sebesar 1990 ataukah lebih besar mengingat tekanan yang telah terkumpul bisa jadi lebih besar dari pra letusan 1990.

🙁 “Lah mbok dilihat pakai grafik to pakdhe. Jadi aku bisa mudah melihatnya. Jangan cuman dibeber dengan kata-kata bikin ngga jelas je”
😀 “Ya wis, ini aku buatin grafiknya supaya mudah dipahami ya thole”

Penggambaran lima letusan Gunung Kelud yang terakhir sebelum ini semoga dapat memberikan gambaran kira-kira seperti apa letusannya nanti.

Terimakasih kepada Pak Supardan yang memberikan data banyaknya air kawah dan hubungannya dengan jumlah korban lewat Mailist IAGI-net. Data lain yang dipakai disini adalah dari Smithsonian Institude.

letusan-kelud.gif

Sumber Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menjelaskan : dari data yang diplot sebagai grafik di atas dapat dilihat adanya hubungan antara volume air danau kawah dengan jumlah korban jiwa (berbanding lurus). Namun apakah ada hubungan antara volume air danau kawah dengan sulit/ mudahnya meletus, barangkali tidak ada. Ketebalan sumbat lava dan besar/ kecilnya energi magma, merupakan 2 faktor yang sangat berpengaruh terhadap letusan

Grafik diatas juga menjelaskan bahwa besarnya VEI (atau tingkat skala kekuatan letusan) tidak secara langsung berhubungan dengan jumlah korban, namun skala ini sangat konsisten atau setara dengan jumlah thepra, atau material yang terlempar keluar dari mulut kawah.

Pada letusan tahun 1919, kecepatan aliran lahar panas mencapai 65 km/ jam dengan jarak aliran mencapai 37,5 km (dihitung dari puncak G. Kelut) dan mencapai kota Blitar. Pada letusan saat itu, jumlah korban jiwa cukup besar (5160). Dengan demikian bahaya primer dari letusan G. Kelut yang dapat menjadi pembunuh utama adalah lahar panas.

Salah satu usaha untuk mengurangi besarnya letusan adalah dengan membuat terowongan. Dibawah ini foto dari terowongan menuju danau kawah Gunung Kelud, yang diambil dari MAPALA.net

Menurut koran Kompas

http://mapala.net/wp-content/gallery/00-single/DSC01483.JPGPemerintah kolonial Belanda baru membangun dam di sepanjang Sungai Badak tahun 1905 untuk mengalihkan aliran lahar dari permukiman di sekitar Blitar. Saat letusan tahun 1919, dam itu ternyata tak cukup efektif karena ikut tersapu lahar. Dalam tempo kurang dari satu jam, aliran lahar sudah menjangkau 38 km, merusak lebih dari 15.000 hektar lahan pertanian dan ratusan desa, serta menewaskan 5.160 penduduk.

Sejak letusan yang sangat dramatis itu, tahun 1919 mulai dibangun terowongan untuk mengendalikan air danau kawah. Saat penggalian terowongan sepanjang 955 meter itu, permukaan danau kawah masih kering. Namun, karena suhu kawah sangat tinggi (berkisar 46 derajat Celsius), terowongan belum juga rampung hingga tahun 1923, dan danau kawah sudah kembali terisi air hingga 22 juta kubik.

Akhirnya diputuskan membuat tujuh terowongan paralel di bawahnya untuk menurunkan permukaan air danau. Terowongan itu selesai tahun 1926 dan berhasil menurunkan volume air danau kawah hingga kurang dari 2 juta kubik.

Apakah dengan rekayasa ini manusia mampu menaklukkan Gunung Kelud ? Wah jawabnya ya jelas bukan itu. Tetapi sebagai manusia tentunya harus berusaha “berkenalan” dan “bersahabat” dengan alam. Manusia harus mengerti perilaku alam sehingga mampu hidup berdampingan.

Banyak yang bertanya-tanya kemungkinan besarnya letusan nanti dibandingkan letusan-letusan sebelumnya. Ini bukan hal yang mudah tentunya. Naiknya suhu yang sangat cepat dengan diikuti tremor dan deformasi memang menunjukkan kemungkinan besarnya tenaga yang terkumpul. Namun semua itu masih perkiraan saja. Hanya yang lebih dikhawatirkan adalah aliran lahar panas yang mungkin menyertai akibat banyaknya air di danau. JAdi bukan sekedar besarnya skala letusan VEI, tetapi tentunya kita lebih takut akan jumlah korban karena dampak proses letusannya.

Kalau aliran lahar itu terjadi maka daerah-daerah bahanya yang selama ini sudah dipetakan dibawah ini harus diperhatikan.

http://rovicky.files.wordpress.com/2007/10/kelutkrb3d.jpg

Bacaan terkait :

19 COMMENTS

  1. Beberapa hari ini kita disuguhkan pertunjukan erupsi gunung kelud yang sempat mendebarkan hati semua orang. Pihak berwenang menyimpulkan bahwa terjadi perubahan tingkah laku g kelud, tidak seperti kejadian ledakan sebelumnya tahun 1990. Kenapa langsung menyimpulkan gitu ya???. Padahal ledakan-ledakan sebelum tahun 1990 kita tidak tahu karena terbatsnya data. Jangan-jangan tunbuhnya kubah lava ini terjadi juga pada tahun 1919 atau sebelumnya. Apalagi disimpulkan tidak akan meletus wah bisa berbahaya….
    Analog dengan ini seperti pendapat mbah ronggo dan beberapa masyarakat yang bermukim di kawasan rawan yang tidak mau ngungsi. Mereka harus melihat tanda-tanda sebelum letusan seperti hewan-hewan turun, ada pohon yang layu/mati, keadaan sunyi senyap tidak ada angin. tabda-tanda ini mereka dapat dari pengalaman letusan selama ini yaitu pada tahun 1951, 1966, 1990. Mereka tidak tahu bahwa tanda-tanda itu tidak akan terlihat kalau letusan terjadi di malam hari dan saat hujan lebat. Mereka tidak tahu tanda-tanda letusan sebelumnya misalnya tahun 1919 yang menyebabkan korban sangat banyak, mereka tidak tahu bahwa g kelud ini yang mengubur kerjaaan-kerajaan di kediri.

  2. Pak De rovicky, pinter kali jelasinnya, emang menarik belajar gunungapi itu, aku turut komentar. kalo penerawangan saya erupsi kelut sekarang mirip dengan Galunggung 1918-1920, yaitu pembentukan G. jadi (kubah lava), yang mana letusan kelud 1990 mirip leutusan Galunggung 1896.
    Jadi kalo energi naiknya magma berhenti atau istirahat, kubah lava berhenti, tapi kalo masih ada maka kubah bertambah tinggi seperti G. Merapi atau Semeru. tinggal tunggu perkembangan selanjutnya, dari berita PVMBG.

  3. Pakde, boleh nanya ya? Tapi kalo bisa tolong dijawab.. hehe. Ditulisan yg lalu dikatakan kelud punya keunikan tdk spt gunung lain, kalo mau meletus gejalanya tdk spt gunung2 lain. Apa yg bikin beda, pakde? Apa krn kimiawi magmanya, struktur batuannya, letak dapur magmanya, atau karena ada danau di kawahnya, atau krn ada hal2 lain? Makasih pakde.

  4. @ma’ruf: ngeblog ndiri dunx or cukup kasih link-nya:{

    pk dhe, pemerintah qt dah bikin apa aja u’ mitigasi bencana. kolonial yg numpang rumah koq malah lbh concern (bukan mo minta di jajah lagi lohh hehehe)

  5. Wah hebat juga nerangin pakai gambar yang bagus. ngunduh darimana tuh.
    harapan kita moga-moga kelud tidak meletus, semeru tidak batuk dan merapi jadi tenang.
    berdo’a aja semoga bencana di negara kita berakhir. amien…

  6. Pakde,,
    Tolong dong dijelasin akibat munculnya kubah lava yg semakin lama semakin tinggi kemunculannya di kawah Kelud. Menurut hasil penerawangan pakde, apakah masih akan terjadi letusan yg besar?? ataukah Kelud akan gembos spt kt pakde??

    Gitu aja pakde, salam kenal ya…

    Makasih
    Vin4619

  7. Rabu, 29 Desember 2004
    Gunung Jangan Pula Meletus
    Oleh Emha Ainun Nadjib

    KHUSUS untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai Sudrun. Apakah kata mampu mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra mampu menuturkan kedalamandukanya? Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung nilai-nilaikandungannya?
    Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan dari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena tak bisa kubedakanapakah ia sedang berduka atau tidak.
    Sebab, barang siapa tidak berduka olehngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraan para korban yang jiwanya luluhlantak terkeping- keping, akan kubunuh.
    “Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding Aceh!,” akumenyerbu.
    “Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran,” Sudrun menyambut dengankata- kata yang, seperti biasa, menyakitkan hati.
    “Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?”
    “Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Acehdinikahkan dengan surga.”
    “Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir amat dan palingmenderita dibanding kita senegara, kenapa masih ditenggelamkan ke kubangankesengsaraan sedalam itu?”
    “Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya sehinggaderajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian ditinggalkan untuk terusmenjalani kerendahan.”
    “Termasuk Kiai….”Cuh! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa begini. Sejak dahulukala. Kuusap dengan kesabaran.
    “Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu peringatan, kenapa tidak kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta? Kalau itu ujian, apa Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan dan ketakutan rakyat Aceh selama ini, di tengah perang politik dan militer tak berkesudahan?
    “Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang lucu dari kata-kataku. Badannya terguncang-guncang.
    “Kamu mempersoalkan Tuhan? Mempertanyakan tindakan Tuhan? Mempersalahkanketidakadilan Tuhan?” katanya.
    Aku menjawab tegas, “Ya.”
    “Kalau Tuhan diam saja bagaimana?”
    “Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa Indonesia akan terusmempertanyakan.”
    “Sampai kapan?”
    “Sampai kapan pun!”
    “Sampai mati?”
    “Ya!”
    “Kapan kamu mati?”
    “Gila!”
    “Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu mempertanyakan kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa di Aceh. Kamu bahkan tidak tahu apa yang akan kamu katakan sendiri lima menit mendatang. Kamu juga tidak tahu berapa jumlah bulu ketiakmu. Kamu pengecut. Untuk apa mempertanyakan tindakan Tuhan. Kenapa kamu tidak melawanNya. Kenapa kamu memberontak secara tegas kepada Tuhan.
    Kami menyingkir dari bumiNya, pindahdari alam semestaNya, kemudian kamu tabuh genderang perang menantangNya!”
    “”Aku ini, Kiai!” teriakku, “datang kemari, untuk merundingkan hal-hal yangbisa menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan adalah diktator danotoriter….”Sudrun malah melompat- lompat. Yang tertawa sekarang seluruh tubuhnya.Bibirnya melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku.”Kamu jahat,” katanya, “karena ingin menghindar dari kewajiban.”
    “Kewajiban apa?”
    “Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan otoriter.Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu belajar menerimanya,dan akhirnya memperoleh kenikmatan mengikhlaskannya. Tuhan-lah satu-satunya yang ada, yang berhak bersikap diktator dan otoriter, sebagaimana pelukisberhak menyayang lukisannya atau merobek-robek dan mencampakkannya ke tempatsampah. Tuhan tidak berkewajiban apa- apa karena ia tidak berutang kepadasiapa-siapa, dan keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapa pun. Tuhan tidak terikat oleh baik buruk karena justru Dialah yang menciptakan baikburuk. Tuhan tidak harus patuh kepada benar atau salah, karena benar dansalah yang harus taat kepadaNya. Ainun, Ainun, apa yang kamu lakukan ini?
    Sini, sini…”-ia meraih lengan saya dan menyeret ke tembok-“Kupinjamkandinding ini kepadamu….”
    “Apa maksud Kiai?,” aku tidak paham.
    “Pakailah sesukamu.”
    “Emang untuk apa?”
    “Misalnya untuk membenturkan kepalamu….”
    “Sinting!”
    “Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal pembelajaran yang terbaik untuk cara berpikir yang kau tempuh.”
    Ia membawaku duduk kembali.”Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib terbaik untuk manusiamenurut pertimbanganmu?,” ia pegang bagian atas bajuku.”Kamu tahu Muhammad?”, ia meneruskan, “Tahu? Muhammad Rasulullah shallallahu’alaihi wa alihi wasallah, tahu? Ia manusia mutiara yang memilih hidupsebagai orang jelata. Tidak pernah makan kenyang lebih dari tiga hari,karena sesudah hari kedua ia tak punya makanan lagi. Ia menjahit bajunyasendiri dan menambal sandalnya sendiri. Panjang rumahnya 4,80 cm, lebar 4,62cm. Ia manusia yang paling dicintai Tuhan dan paling mencintai Tuhan, tetapi oleh Tuhan orang kampung Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat jidatnya berdarah. Ia bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit sangat panas badan oleh racun Zaenab wanita Yahudi. Cucunya yang pertama diizinkan Tuhan mati diracun istrinya sendiri. Dan cucunya yang kedua dibiarkan oleh Tuhan dipenggal kepalanya kemudian kepala itu diseret dengan kuda sejauh ratusankilometer sehingga ada dua kuburannya. Muhammad dijamin surganya, tetapi iaselalu takut kepada Tuhan sehingga menangis di setiap sujudnya.
    Sedangkankalian yang pekerjaannya mencuri, kelakuannya penuh kerendahan budaya, yangpolitik kalian busuk, perhatian kalian kepada Tuhan setengah-setengah,menginginkan nasib lebih enak dibanding Muhammad? Dan kalau kalian ditimpabencana, Tuhan yang kalian salahkan?”Tangan Sudrun mendorong badan saya keras-keras sehingga saya jatuh kebelakang.
    “Kiai,” kata saya agak pelan, “Aku ingin mempertahankan keyakinan bahwa iconutama eksistensi Tuhan adalah sifat Rahman dan Rahim….”
    “Sangat benar demikian,” jawabnya, “Apa yang membuatmu tidak yakin?”
    “Ya Aceh itu, Kiai, Aceh…. Untuk Aceh-lah aku bersedia Kiai ludahi.”
    “Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku meludahimu. Yang terjadi adalah bahwa kamu pantas diludahi.”
    “Terserah Kiai, asal Rahman Rahim itu….”
    “Rahman cinta meluas, Rahim cinta mendalam. Rahman cinta sosial, Rahim cintalubuk hati. Kenapa?”
    “Aceh, Kiai, Aceh.”
    “Rahman menjilat Aceh dari lautan, Rahim mengisap Aceh dari bawah bumi.Manusia yang mulia dan paling beruntung adalah yang segera dipisahkan oleh Tuhan dari dunia. Ribuan malaikat mengangkut mereka langsung ke surga denganrumah-rumah cahaya yang telah tersedia.
    Kepada saudara- saudara mereka yangditinggalkan, porak poranda kampung dan kota mereka adalah medan pendadarantotal bagi kebesaran kepribadian manusia Aceh, karena sesudah ini Tuhanmenolong mereka untuk bangkit dan menemukan kembali kependekaran mereka.
    Kejadian tersebut dibikin sedahsyat itu sehingga mengatasi segala tema AcehIndonesia yang menyengsarakan mereka selama ini. Rakyat Aceh dan Indonesia kini terbebas dari blok-blok psikologis yang memenjarakan mereka selama ini,karena air mata dan duka mereka menyatu, sehingga akan lahir keputusan danperubahan sejarah yang melapangkan kedua pihak”.
    “Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan para korban sukar dibayangkan akan mampu tertanggungkan.”
    “Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu orang yang tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak selamat, buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai hidupmu. Kalau bagimu rumah tidak ambruk, harta tidak sirna, dan nyawa tidak melayang, itulah kebaikan;sementara yang sebaliknya adalah keburukan- berhentilah memprotes Tuhan,karena toh Tuhan tak berlaku di dalam skala berpikirmu, karena bagimukehidupan berhenti ketika kamu mati.”
    “Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak berdosa, sementara membiarkan para penjahat negara dan pencoleng masyarakat hidup nikmatsejahtera?”
    “Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para pencoleng itu di nerakakelak tidak terlalu lama. Jadi dibiarkan dulu mereka memperbanyak dosa dan kebodohannya. Bukankah cukup banyak tokoh negerimu yang baik yang justruTuhan bersegera mengambilnya, sementara yang kamu doakan agar cepat mati karena luar biasa jahatnya kepada rakyatnya malah panjang umurnya?”
    “Gusti Gung Binathoro!,” saya mengeluh, “Kami semua dan saya sendiri, Kiai,tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman berpikir setakaran dengan yang disuguhkan oleh perilaku Tuhan.”
    “Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu bagaimana pola perilaku Tuhan. Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia membiarkan terus penyakit itu sehingga politiknya memuakkan, ekonominya nggraras dan kebudayaannya penuh penghinaan atas martabat diri manusia sendiri-maka Tuhan justru menambahi penyakit itu, sambil menunggu mereka dengan bencana yang sejati yang jauh lebih dahsyat. Yang di Aceh bukan bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah pemuliaan bagi mereka yang nyawanya diambil malaikat, serta pencerahan dan pembangkitan bagi yang masih dibiarkan hidup.”
    “Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai ketidakadilan….”
    “Alangkah dungunya kamu!” Sudrun membentak, “Sedangkan ayam menjadi riang hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk kenikmatan manusia meski ayam tidak memiliki kesadaran untuk mengetahui, ia sedang riang dan bersyukur.”
    “Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman sejahtera hidupnya?”
    “Sampai siang ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang kepada mereka sehinggaselama satu dua bulan terakhir ini diberi peringatan berturut-turut, baikberupa bencana alam, teknologi dan manusia, dengan frekuensi jauh lebihtinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tetapi, karena itu semua tidakmenjadi pelajaran, mungkin itu menjadikan Tuhan mengambil keputusan untukmemberi peringatan dalam bentuk lebih dahsyat. Kalau kedahsyatan Aceh belummengguncangkan jiwa Jakarta untuk mulai belajar menundukkan muka, adakemungkinan….”
    “Jangan pula gunung akan meletus, Kiai!” aku memotong, karena ngeri membayangkan lanjutan kalimat Sudrun.
    “Bilang sendiri sana sama gunung!” ujar Sudrun sambil berdiri dan ngeloyor meninggalkan saya.
    “Kiai!” aku meloncat mendekatinya, “Tolong katakan kepada Tuhan agar beristirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana alam….”
    “Kenapa kau sebut bencana alam? Kalau yang kau salahkan adalah Tuhan, kenapa tak kau pakai istilah bencana Tuhan?”Sudrun benar-benar tak bisa kutahan. Lari menghilang.
    Emha Ainun Nadjib Budayawan

  8. kalo saya kebetulan wong Kediri dewe, walopun jarak ama gunung nya masih 25 km, tapi bangsa banjir lahar yang aq dw ngrasakno, cuma waktu itu lahar dingin, Bagaimana aq juga liat yang di bawa ama “mbah” lahar itu berbagai macam, dari mulai truk, hewan sapi n banyak binatang ternak, kayu2 hutan yang gede2… Wis pokoe kalo inget waktu itu ngeriiiiiii bnt… hubungannya ama tahun ini, kalo emang diperkirakan 4 x lipat… Waoooo opo meneh sing dibawa mbah lahar??????

  9. Mugo-mugo jangan sampai kejadian omongan orang-orang dulu ya pak dhe,
    “Lek kelud mbledos Blitar dadi latar,Kediri dan wedi,Tulungangung dadi kedung”

  10. pak dhe di tv bilang ada 3 kemungkinan, malah yang agak melegakan kalo asapx sudah keluar ada kemungkinan meletusnya gk gede. smoga aja bener ya…

  11. Pak Dhe, aku sempet denger dari radio wawancara dengan Bp. Surono, kepala PVMBG, katanya energi yang terkumpul sudah 4 kali lipat di banding letusan tahun ’90. Apa ada kemungkinan nantinya yang lebih banyak keluar lahar panas? Soalnya waktu tahun ’90 lahar keluar kalo gak salah inget setelah 3 hari dari letusan awal. Yang paling banyak ngeluarin abu & pasir

  12. Hebat tenan pakdhe niku, menerangkan dengan gambar memang lebih ciamik daripada pakai kata-kata yang dikoran.
    Matur nuwun banget menjelaskan dengan sabar. Salam kagem Thole nggih 😀

Leave a Reply