Malesa Negeri yang sedang mencari jati diri budaya-nya (1)

33

Dalam kurun sepuluh tahun terakhir ini Malesa memang sedang “moncer” kata orang jawa, bahasa gaulnya sedang jadi “belalang” alias “naik daun“. Namun karena memang secara sejarah Malesa tidak memiliki hal yang khusus maka Malesa-pun harus memulai dengan mencari jati dirinya dengan mencoba mencomot sana-sini.

πŸ™ “Lah iya tapi kok trus semua mencomot karya Indonesia ta dhe ?”
πŸ˜€ “Enggak cuman Indonesia Thole. Malesa tidak hanya mencomot budaya Indonesia tetapi juga budaya sekitar misalnya tomyam makanan Thailand, roti canainya India, dll”

Malesa masih melihat Indonesia yang dulu

Dari sejarah singkat Indonesia-Malesa yang sudah dituliskan sebelumnya, menunjukkan bahwa Malesa memang berbeda dengan Indonesia. Malesa masih menggunakan cara lama untuk “mendekatkan diri” dengan Indonesia, mereka menarik minat dengan merayu menggunakan issue serumpun (melayu) dan seiman (muslim) dimana saat ini kurang diminati Indonesia. Bahkan kejadian kriminal di Malesa yg berhubungan dengan warga Malesa dan Indonesia menunjukkan gejala-gejala kedua negara bahkan cenderung menjauh. Ini sangat disesalkan, karena melemahkan kawasan Asia Tenggara.

Sebagian masyarakat terdidik di Indonesia sudah tidak tertarik dengan issue serumpun seperti yang sudah ditulis sebelumnya, karena indonesia sudah memulai untuk meninggalkan pemikiran rasial. Bahkan bahasa Cina-pun sudah boleh digunakan di dalam televisi Indonesia. Juga issue seiman-pun sulit memasuki “hati” masyarakat Indonesia, karena Indonesia yg sekarang sudah menghargai pluralitas, bahkan sudah mulai sekuler. Ini yang kurang disadari dalam politik luar negerinya Malesa.

Ketertinggalan pandangan politik luar negeri Malesa inilah yang juga menyebabkan mengangkasanya cosmonout Malesa tidak menjadi kebanggaan Region asia Tenggara. Issue yang dibawa pada cosmonout turis ini adalah isue cosmonout muslim dari melayu. Sehingga sangat tidak mewakili Indonesia secara utuh. Bahkan kalau Indonesia juga mengucapkan selamat dan ikut berbangga hati justru membahayakan Indonesia sendiri, karena Indonesia bukan seperti itu (lagi). Demikian juga Singapore tidak ikut merasa bangga dengan issue cosmonout muslim dari etnic melayu ini.

πŸ™ “Maaf Pak Cik, Indonesia dan Singapore sudah tidak berpikir soal keimanan dan kesukuan lagi. Indonesia sudah menghargai pluralitas dan kesejajaran semua bangsa”
πŸ˜€ “hust opo kui thole” πŸ˜›

Malesa menggunakan Bahasa Hukum, Indonesia Menggunakan Bahasa Rasa

Selama ini Indonesia kedodoran dengan bahasa antar bangsa dalam percakapan bahasa hukum. Baik hukum laut (teritorial), hukum paten-patenan (maksudte soal patent getuu). Dan juga Indonesia ketinggalan penggunaan hukum dalam kasus kriminalitas antar bangsa/negara sekalipun. Lah wong pencuri dan penjenayah (penjahat dalam bahasa Malesa), termasuk pencuri kayu dan agen tenaga kerja yang nakal di Malesa bisa dilindungi kok di Malesa ini. Apakah Malesa menggunakan hukum dengan baik ?. Wah jangan melankolis begitu. Bahasa hukum itu artinya Malesa akan mempersiapkan segala “amunisi” dalam meja persidangan nantinya. Misalnya KLAIM duluan secara hukum, mempersiapkan bukti-bukti (terutama bukti tertulis), dan juga mempersiapkan ahli hukum internasional. Dan ahli hukum Indonesia sepertinya tertinggal zaauh soal ini. Dalam hal ini ahlu hukum bilateral Indonesialah yang harus banyak belajar.

Coba lihat kelihaian Malesa dalam perebutan Sipadan-Ligitan. Indonesia sama sekali tidak siap dalam “pertempuran” di meja pengadilan, kan ? Ahli hukum Indonesa masih sibuk dengan membela klien-klien busuk perongrong negeri Indonesia. Coba kita cari, siapa ahli hukum Internasional Indonesia yang mumpuni dalam hal pertahanan teritorial ? Mungkin dua tangan ini sudah kebanyakan jarinya untuk menghitung. Ahli hukum Indonesia masih banyak ahli hukum perdata atau malah ahlku hukum pidana kriminal kerah putih.

Dalam bahasa hukum antar negara tentusaja istilah-istilah klaim, patent, intelectual property, ownership, dan lain-lain merupakan perbendaharaan kata yang utama sebagai perlindungan. Sedangkan kesadaran patent-mematent di Indonesia belum “se-meriah” di Malesa. Tahu nggak dunia ini sedang keranjingan klaim kepemilikan. Lah, kapling-kapling real estate di bulan saja sudah banyak kok, mau ikutan ?

πŸ™ “wis pakdhe kok malah nyalahin yang kalah”
πŸ˜€ “Wupst !… bener thole victimise the victim itu tidak menyeleseikan masalah, ya ”

Dengan gambaran diatas terlihat bahwa bahasa yang dipergunakan antara Indonesia dan Malesa sudah berbeda. Dalam hal ini Malesa jelas lebih maju. Ntah, penggunaan hukum ini secara bener entah tidak itu bukan pointnya disini, tetapi inilah yang terjadi hingga kini.

Dalam menghadapi kasus Rasa Sayange Indonesia hanyalah menggunakan rasa … ya rasa sayang tadi itu. Kebanyakan masyarakat Indonesia menggunakan argumentasi “rasa sayang” dalam arti sebenarnya. Sedangkan Malesa bener-bener melihat aspek realitas hukumnya bahwa tidak mungkin sebuah lagu rakyat akan dipateni .. eh maksudnya dipatenkan. Memang dengan melihat sisi budaya saja kita akan mudah melihat “rasa” dari mana sebuah lagu itu berasal. Benar bahwa lagu itu dari “kawasan” Indonesia yang bukan melayu. Coba apa bacaan (pronounce) di melayu untuk kata dengan akhiran “e” pada Rasa Sayang-“e”. Melayu tidak mengucapkan “e” seperti kita membaca “tape” (yang dari ubi itu tuuh, glek ! jadi pingin deh), tetapi mereka mengucap “e” seperti “sedih, selasa, sementara”. Jadi memang “rasa” itu sudah tidak dipakai di Malesa ini, paling tidak bukan itu bahasa mereka.

πŸ˜€ “Kenapa thole kok senyum. Lucu lihat argumentasinya Malesa, ya ?”
πŸ™ “Bukan lucu Pakdhe, Malesa itu stupid kalau keilmuan diroda-peksa dengan hukum!”
πŸ˜€ “Jangan gitu, itu soal etika, yang berhubungan dengan tingginya nilai luhur budaya yang masih belum kuat disana”

Tetapi menurutku, sangat tidak mungkin Indonesia menolak didengungkannya lagu “rasa sayange”, tidak mungkin menolak bangsa lain menyanyikannya di negara lain termasuk Malesa. Siapa saja boleh menyanyikannya. Apakah rekaman Lokananta merupakan bukti kepemilikan hukum ? Ini bisa diperdebatkan tentusaja. Tetapi saya ragu Indonesia memenangkan dari bahasa hukum. Sayang sekali Indonesia sudah tidak se”bahasa” dengan Malesa.

Bagaimana rasa itu hilang ? ke tulisan -2 Malesa Negeri yang sedang mencari jati diri budaya-nya (2)

33 COMMENTS

  1. Loe tau ga sih klo Malaysia juga klaim lobak, tom yam, roti canai, makanan tradisional Cina Selatan, makanan tradisional India dan makanan tradisional Indonesia, Thailand sebagai makanan tradisional mereka. Tau kan Thai Food is a well established food dari Asia Tenggara.

  2. .byk org pintar utk berbicara
    .tp sdikit org yg ” BISA ” bertindak
    .pd dsrnya teori nilainya 100 bahkan 1000 atau tak terhingga..???
    .tp pd prkateknya ” 0 ” besar
    .syg memg..ktk budaya negeri sendiri dg enknya diklaim org lain
    .pdhal itu sudh jd tradisi bahkan kebiasaan
    .” Jgn tykan ap yg sudh diberikan negara utk kamu..!!! ”
    .” Tp tykan ap yg sudh kamu berikan utk negara..??? ”
    .mgkn memg..pejabat kt terlalu ” ELIT ”
    .hingga g prnh mau mendgarkan aspirasi rakytnya
    .tp..pjbt jg manusia..yach..wlopun py sisi buruknya..( Anda smua Psti tau )
    .tp..jk kt adlh termasuk org2 yg mampu menjadikan pena sbagai senjata..??? KNP TIDAK..???
    .torehkan aspirasi dan keinginan kt melalui itu..
    .sygkan klo kt hy sling menyalahkan..??
    .tnp ada pnyelesaian..
    .org BIJAK bukan org yg hanya bs mengkritik
    .tp..org bijak juga bisa memberikan solusi
    itu baru ” CINTA TANAH AIR ”
    .” JANGAN KATAKAN ITU SBAGAI SATU KEBODOHAN ”
    .” TP KATAKAN ITU SBAGAI SATU KESALAHAN ”
    .jd harus diperbaiki
    .” JANGAN SALAHKAN ORANG INDONESIA TERUS ”
    .” KARNA KITA YANG BERBICARA JUGA ORANG INDONESIA ”
    Oce bro…

  3. Sekadar bertanya, kalau benar Indonesia “tidak berpikir soal keimanan dan kesukuan lagi. Indonesia sudah menghargai pluralitas dan kesejajaran semua bangsa” bagaimana masalah antar-suku di Ambon, dan lain-lain udah tak ada lagi? Bagaimana antara Jawa dan bukan Jawa?

    Soal “keimanan” ramai muslim di Malaysia masih menganggap itu soal penting: saudara seiman (walaupun di Indonesia tu udah tak penting lagi mungkin). Lihat saja bila Aceh di landa Tsunami.

    Ramai rakyat Malaysia dari keturunan Cina dan India menganggap pemerintah Malaysia beri lebih prioritas kepada orang Indonesia (seperti memberi kartu kenegaraan “pemastautin tetap”). Kenapa? Bagi yang Melayu masih menganggap yang Indonesia itu serumpun; perlu diutamakan.

  4. Sayeu pikir, malay jauh pintar dari indonesa yeu … Maybe Indonesa ta ada maney (money) susah tok bangun sana sini. Mudah-mahan ajeu Indonesa mahaju ke depan… Soal TKW laen lagi cik & puan
    itu soal bizniz …
    Indonesa lagi puseeng, lagi sakiieee sekarang, nah Malay ngambil untung dari neeeh…

    Semoge ape yang terjadi jadi pelajaran bagi kedua bangsa yeuuuu.

  5. saya seneng banget membaca blog Rovicky,bahasanya simpel,mudah di pahami& saya menjadi pinter setelah membaca blog ini,krn bgt banyak pengetahuan yang saya dapatkan,wawasan saya menjadi luas.

  6. saya setuju sm pendapat pa Kifli… dan tentu sama pakdhe rovicky…
    sya tidak setuju sm pendapat cik Ahmad Albab…

    bukan..bukan karena alasan primodialisme, pembanggaan akan asal ras/etnis/suku/bangsa/warga… saya sebagai indonesiais memang menjadi hak semua orang untuk membela diri apa yang kita anggap benar..

    kita harus proporsional membaca, mengapresiasi, memandang, suatu masalah, tidak letterlek atau memvonis suatu tanpa alasan argumen yang jelas menurut fakta yang benar-benar benar.. πŸ™‚

    kita bisa berargumen, kita bisa membela diri, kita bisa berbangga pada diri sendiri, kita bisa saling menyalahkan.. dan kita..dan kita..dan kita…

    saya ‘masih’ suka sama malaysia (malesa ikut-ikitan kata2 pakdhe rovikcky, karena orang malesa juga ny-luk ke bangsa kita jg pake kata indon- kagak lengkap brur malesa!!)
    dan tentu harus bangga ama tanah kelahiran saya-kita, karena siapa lagi yang akan membangun tanah kelahiran kita untuk dapat maju bersama menuju kebaikan kemajuan kalau bukan kita yang lahir disini dan anak-anak cucu kita kelak..

    ya..apa yang terjadi biarlah terjadi..kita mesti berkaca-bercermin, memndang ke depan aja dah… kelak nanti ndak terulang lg masalah pencaplokan, smacam penghinaan terhadap bangsa kita.

    mari kita bangun Indonesia menjadi lebih baik dari sekarang…dan hari esok lebih baik lagi..dan lebih baik lagi… dan lebih baik lagi…

    Hidup Indonesia…!!!

  7. Hmmm,kemaren malem sempet ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang temen saya,dan kebetulan membicarakan masalah ini.
    Ada satu pernyataan dari temen saya yang tertua,bahwa okelah malesa boleh mengambil budaya kita secara fisik,tapi tidak secara substansial.Di dalam budaya tentunya sesuatu yang ingin disampaikan.Nah,malesa bisa saja mengambil sekedar comot saja,tanpa bisa menghayatinya.Yang bisa menghayatinya tentu saja yang memilikinya sejak lama,betul tidak!?
    Mendengar hal tersebut,ya jadi lumayan sejuk lah hati ini,ga sepanas kemaren2,ketika beritanya bermunculan dimana-mana.

  8. satu lagi yer pak cik ahmad albab, saya agak pening sikit terfikir nasib pekerja asing yang terkena razia sama RELA. betapa nasib mereka yang ‘KOSONGAN’ itu sangat2 berbeza jauh dengan nasib TEKONG2 yang dah bawa mereka melintas laut dari seberang.
    Saya belum pernah dengar cerita tekong2 yang ditangkap akibat membawa pekerja Indonesia. Padahal peranan mereka mendatangkan pekerja ‘haram’ itu bukannya kecil.
    Sudah enak mereka dapat duit, resiko tengelam kapal di tengah laut bersama puluhan jiwa gak digubris, nasib mereka setelah sampai di MLY pun tidak diendahkan. Kalaupun orang2 yang mereka bawa itu dicambuk, mereka masih bisa bawa orang lagi masuk. Macam maner nie pak ciiik…
    Kalau boleh jangan potong ilalangnya saja, cangkul dan keringkan akarnya biar tak tumbuh lagi.

  9. beberapa tahun merantau di Malesa, saya cukup tahu kalau memang benar tidak semua masyarakat sana bertindak zalim kepada TKI. ada banyak orang yang justru hormat dan respek dengan bangsa kita. Tetapi saya juga tidak menafikan bahwa lebih banyak lagi cerita2 sedih TKI yang saya dapat TIDAK MELALUI MEDIA melainkan dari orang2nya langsung.
    Pak Cik Ahmad Albab sebenarnya kes mengenai ini sama dengan kes jenayah yang dilakukan para TKI. Di negeri Pak Cik, sudah cukup terkenal akan cerita-cerita jenayah orang Indon yang walaupun benar ada orang2 kami yang melakukannya, tapi juga cukup banyak orang Indon yang sopan dan santun terhadap majikannya, bekerja keras tidak pernah mengugut ataupun mengadakan kerusuhan. Tapi begitupun imej bangsa degil yang tidak boleh diatur telah lekat kepada kengkawan orang2 Indon ini. Bahkan di Malaysia, telah terkenal kalau salah satu bangsa di SUMUT adalah kanibal, dan kepercayaan itu masih ada sahaja hingga kini. Sering org2 MLY kawan sy menanyakan kalau itu betul adanya.
    Saya jadi teringat Allah mengingatkan kalau kita dilarang mencela satu kaum/golongan. Karena belum tentu yang dicela itu lebih buruk dan belum pasti yang mencela itu lebih baik.
    Saat kita menuding dengan telunjuk, semua empat jari yang lain menuding ke hati sendiri…
    Betul kata pak Dhe, sering bangsa Kita ‘Tangi Kawanen’, kesiangan bangun. Saat semua sudah terjadi, seluruh orang terbangun gelagapan, berteriak2 kesurupan bahwa yang sudah terjadi itu salah. Padahal sebelum bangsa kita tidur, mereka tidak menyiapkan apa2 dengan harta bendanya. Saat Sipadan Ligitan terpelosok, justru Mly yang membangunnya, memberi fasilitas, memajukan. Saat anak-anak kita sudah lupa akan lagu daerahnya, MLY lah yang menaikkannya, mengenalkannya pada dunia. Saat para penari reog sudah mulai surut, susah hidupnya, MLY lah yang mengangkat namanya. So what gitu loh..
    We’ve done nothing about them…
    Saat pemerintah gak mau ngangkat IPTN, justru sarjana2 cerdas kita diembat PT asing, diopeni, dihargai.. Saat pemerintah gak bisa ngasih kerjaan, Arab Saudi, Qtar, MLY, Korea, Hongkong, telah mengambil dan ngopeni pekerja2 profesional maupuan para pengasuh2 kita yang penuh kasih sayang (ini diakui oleh org s’pore, dan tempat2 lain). Sampai mereka ‘malas’ mau pulang lagi (pak cik ada benarnya kan?), ada sepasang pembantu di korea berharap bisa tinggal saja disana?
    So what gitu loh??? We’ve still done nothing to them…
    Saat kita marah karena Parang ROsak dihak-i oleh Malesa, apa kita sudah pasti pemerintah kita melindunginya? Lha wong gadis kita diperkosa di negeri orang aja pemerintah kita gak bisa berbuat apa-apa kok.
    kangmas2 sekalian, sekarang kan era global, biar aja MLY ngangkangin budaya kita, ngakuin milik mereka, toh masih banyak budayawan2 internasional yang tahu bahwa mereka tak kan bisa ngambil “Rasa” nya dari kita.
    Saya rasa, saat ini kita cuman marah dan mlongo, bertanya2 “Lho ternyata tayuban itu bisa dipatenin to, oalaaaah…..”. Tangi kang, tangi…..!

    Pareng pak dhe…

  10. Btw, kalo lihat dari sejarahnya, Malaka jatuh ke tangan Portugis th 1511. Ekspedisi pembebasan Malaka dari tangan Portugis yg dilakukan dalam skala besar2an malah dilakukan oleh penduduk dari luar semenanjung Malaka, yaitu pertama oleh Pati Unus (saat itu putra mahkota kerajaan Demak) dan kedua (hampir satu abad kemudian) oleh Sultan Iskandar Muda (kerajaan Aceh).

  11. Zaman dulu Bung Karno pernah menawarkan Pancasila kepada dunia di forum PBB. Sayangnya ngga diterima blok barat & blok timur.
    Gimana kalo skrg kita coba tawarin lagi, ke tetangga kita aja dulu, siapa tahu Malaysia mau mengadopsi Pancasila sbg dasar negara, nanti sekalian budaya kita bolehlah diaku oleh mereka, wong nanti mereka sekalian gabung Indonesia je…
    πŸ˜€

  12. Hampir lupa, Malaysia juga mempunyai jatidiri yg tersendiri. Kami tidak akan terasimilasi dengan budaya Indonesia. Jatidiri Malaysia bukan diukur hanya dengan LAGU RASA SAYANG & ALAT MUZIK ANGKLUNG. Tetapi ia merangkumi sosial, ekonomi dan politik yang rumit. Jadi penggunaan tajuk β€œMalesia Sedang Mencari Jatidiri Budayanya’ adalah tidak tepat, kalau hanya sekadar dikaitkan dengan lagu Rasa Sayang dan muzik Angklung.

    Berkaitan soal artis – memang tidak dinafikan yg lagu2 dari Indonesia sangat diminati di sini (saya juga peminat Dewa). Tetapi ia tidak akan menjadikan kami kehilangan jati diri. Kemasukan artis Indonesia ke Malaysia bukanlah perkara yang baru. Ia sudah berlaku semenjak 1970an dan 1980an lagi. Tetapi sehingga sekarang kami masih berjiwa Malaysia. Lagu2 Indonesia sekadar dinyanyikan dengan mulut tanpa mengubah jatidiri kami.

    Soal jenayah 80% dilakukan oleh warga Malaysia. 80% itu akan menjadi sangat sedikit jika dinisbahkan dengan jumlah 28 juta (million) rakyat Malaysia.

    Harus anda ketahui 2/3 rakyat asing di negara ini adalah dari Indonesia, iaitu masih belum sampai 10% daripada jumlah populasi Malaysia. Harus juga diketahui hampir 20% jenayah di Malaysia dilakukan oleh warga Indonesia. Sekarang cuba anda hitung 20% itu dengan jumlah rakyat Indonesia yg tidak sampai 10% dari populasi Malaysia. Anda akan mendapat nisbah yang besar.

  13. Terima kasih kerana memberikan beberapa komen terhadap negara kami. Cuma ejaan Malesa itu tidak tepat. Inilah yg tepat: MALAYSIA. Saya mengakui beberapa perkara yang ditulis oleh penulis adalah benar; misalnya tentang lagu rasa sayang, korupsi RELA etc.

    Tetapi isu2 ini adalah isu terpinggir (sedikit/ jarang berlaku). Saya bukanlah seorang prejudis terhadap bangsa Indonesia. Jauh sekali untuk memusuhi kalian, kerana saya juga mempunyai ramai sahabat berbangsa indonesia.

    Cuma persepsi anda terhadap Malaysia itu adalah salah. Apa yg nyata media anda sering sahaja membesarkan isu yg berlaku, seolah-olah semua warga Indonesia di Malaysia teraniaya.

    Sedangkan kerajaan(pemerintah) & warga kami sudah terlalu banyak berkorban utk warga anda di sini. Pekerja2 ladang yg umumnya berasal dari Indonesia disediakan rumah, elektrik, air, perkhidmatan kesihatan, bahkan sekolah. Ibu2 yg sedang hamil dimestikan datang ke klinik setiap bulan & bayi yg baru dilahirkan juga diwajibkan mendapat suntikan imunisasi.

    Saya masih ingat semasa di sekolah menengah (SMA) begitu ramai teman berbangsa Indonesia. Malah ada juga keluarga saya yg berkahwin dengan mereka. Pernah seorang teman Indonesia menyatakan bahawa kalau boleh dia ingin terus menetap di Malaysia kerana keselesaan & β€˜keistimewaan’ yg mereka dapat. KALAU TIDAK PERCAYA BOLEH SAJA MELAWAT KE MALAYSIA.

    Kalau saja saya tuliskan semua pengorbanan yg rakyat kami berikan kepada rakyat Indonesia yg datang ke sini, akan menjadi sangat panjang. Cukuplah dulu setakat ini. Kalau ada masa saya akan tuliskan pula MASALAH YANG DITIMBULKAN OLEH WARGA INDONESIA TERHADAP MALAYSIA.

    Semoga kita akan melihat perkara2 ini dengan fikiran yang terbuka.

  14. Usul kepada presiden agar dibuat kementrian paten agar lagu daerah, bahasa daerah, kebudayaan daerah dll tidak dicuri oleh bangsa lain dan mengklaim milik mereka. Jangan-jangan nanti bahasa jawa diklaim juga oleh malesa karena disana banyak TKI dari jawa. Benar-benar ndunyo edan. Yen ora edan ora keduman.

    Teddy
    Tokodai, Tokyo

  15. Malesa itu ejaan lidah Jawa berasal dari MALAYSIA, seperti Indonesia menjadi Endonesa. MALAYSIA itu berasal dari MALAYA. Karena dimerdekakan oleh Inggris, nama MALAYA ditambah SIA menjadi MALAYSIA, sebagai identitas negara merdeka seperti IndoneSIA.Tetapi MALAYA MERDEKA mungkin TIDAK TAHU bahwa SIA dalam nama IndoneSIA berasal dari INDUS (INDIA) + NESOS yang berarti Kepulauan India ( TIMUR), untuk membedakan kepulauan India Barat (Aruba,Bonaire & Curacao di Amerika tengah ) Atau mungkin TAHU, tetapi nama MALAYNESIA mirip dengan MELANESIA di Pasifik Barat, sehingga NESOS atau NESIA hanya dipakai SIA nya saja menjadi MALAYSIA/MALESA.
    Budaya MALAYA, bisa jadi campuran budaya NEPAL yang ada di pegunungan HiMALAYA dengan budaya SUNDA di TasikMALAYA . . . he 3X.

  16. Iya , betul apa kata Geologist kita ini ! kasian malesa , syahdan kalo pada game civilization , benih -benih keindonesiaan sudah exist sejak tahun 450 an dengan kutai diteruskan dengan crivijaya yang sempat menganeksasi semenanjung malaya , dan kegemilangan berlanjut dengan diidrikannya candi candi di P Jawa dan Sumatra , sedangkan malesa baru berkutat untuk menguatkan melaka pada tahun 1450 an , itupun setelah lepas dari Crivijaya dan Mojopait ,
    Siapa tau nanti malesa pingin claim atas candi candi yang ada di endonesa biar ada kebanggan sejarah ,.. euleuh mun kitu mah karunya teuing nya malesa teh !

  17. Pak Cik Roviky
    You are great to show your intelectual thought for both countries background. Please let us know what you and your friends thought about Malaysia. We are within two different countries but don’t make the people separates by country boundary.

  18. Pak Abdul somad
    Di Malesa itu mereka memakai tutp kepala (tudung) tetapi bukan jilbab. Tudung disini seperti pakaian daerah. Kepalanya pakai tudung, tetapi pakai baju kaos lengan pendek itu biasa sekali.
    Tapi kalau wak Somad ingin istri lebih dari satu di Malesa emang boleh kok… mau ? πŸ‘Ώ

  19. Assalamualaikum wr wb
    Masih mending Malesa, ada usaha, mau mencari jati diri.
    Dari pada Endonesa, yang tak punya jati diri.
    90% penduduk Endonesa mengaku Islam, tapi Alergi dengan aturan yang berbau Islam.
    90% Wanita Endonesa mengaku Islam, tapi cara berpakaian Muslimah yang benar saja mereka tak pandai.
    90% Laki-laki Endonesa mengaku Islam, tapi koq mengangkat wanita menjadi pemimpin.

  20. Mau misuh2.. Nanti dibilang, rakyat Indonesia bisanya cuma menghujat! Mau diam saja.. Nanti dibilang, rakyat Indonesia letoy! Mau pake jalur hukum.. Jangan2 kita malah kalah! Lalu, kita mesti gimana? πŸ‘Ώ *

  21. inilah kisahku tentang negri malaysia…
    TKW disiksa juga diperkosa…
    aduhai nasib …
    apatah daya…
    lagu hamba diculik malaysia kemana dia…
    sipadan ligitan telah pula hilang…
    hilang tiada pesan…
    aduhai nasib…
    apatah daya….
    Indonesia cuma bilang..
    kemana dia…
    ting..tong..ting..ting..ting..ting..tong.tong..tong

  22. Saya sungguh salut pada Malesa, sebagai negara yang mengaku truly asia, memberikan teladan bagaimana cara mencuri budaya orang (tentu saja dengan alasan yang jenial dan masuk akal) adalah merupakan ciri-ciri negara yang hebat. Saya yakin, dengan strategi yang dijalankan Malesa sekarang, cepat atau lambat malesa akan menjadi gudang berribu jenis kekayaan. Kalau budaya yang tidak bisa dimiliki saja dicuri, kenapa tidak yang lainnya? Dan, seperti umumnya para pencuri, mereka tidak pernah berurusan dengan rasa dan kejujuran. Ya, buat apa? Toh keduanya tidak diperlukan oleh para penjahat sukses. Jayalah malesa yang membangun sejarah dirinya di atas kebohongan. Membangun menara kehebatan.

    Sampai batas waktu kebenaran itu datang.
    Ketika kau memiliki semua tapi kau tak bisa menikmatinya selain kehampaan… yah, tentu akan sangat mengenaskan.

  23. Hegh, kethok (bukan katrok, kethok = tampak) kalo Malesa ternyata sangat tewur (ruwet). US (Amrik) bermuka dua dalam ngurusi timur tengah dan Israel, lha Malesa bermuka sepuluh dalam perjalanan pencarian jati dirinya. Mari, sebagai bangsa dan negara yang besar kita bantu Malesa ilmu kita yang sangat mumpuni, yaitu nepotisme yang merusak, korupsi dan kolusi kepada Malesa

  24. keren!!! jadi gak bosen baca ulasan nnya bos, gaya bahasanya simpel dan sangat mudah di mengerti buat newbie seperti saya. saya permisi pasang link sampeyan di blog saya ya bos… salut bos

  25. Joke contekan:
    Alkisah, negeri Laos mengirim utusan ke negeri Malaysia untuk benchmark. “Kami datang ke senior di ASEAN berkehendak belajar membuat Kementrian Angkatan Laut” kata pemuka utusan.
    Orang Malaysia kanget. “Mengapa? Bukanlah Laos tidak punya laut?”
    Santun, orang Laos menjawab, “Justru itu kami perlu benchmark. Kami mau benchmark ke Kementrian Kebudayaan Malaysia.”
    (Aku lupa kahir ceritanya. Apakah, seperti budaya Malaysia yang semuanya curian, nantinya laut Laos juga curian?)

Leave a Reply