Lusi binti Lula mulai ‘ceprut-ceprut’ seperti geyser

9

Castle Geyser, Yelow Stone Pada waktu lebaran ini Lusi minta perhatian lagi. Soalnya ga bisa minta baju baru siih 😛 .
Ada sms dari kawan geologist di BPLS yang memberitahukan seperti ini :

Perilaku Lusi makin jelas seperti geyser, dalam 2 hari terakhir ini kejadian ‘quiet’ selama 20 menit-150 menit dengan interval 5-8 jam, meskipun (seperti geyser) diawali semburan yang cukup kuat 3-5 meter mud kick

Kalau anda melihat fenomena semburan air panas (geyser), maka memang benar Lusi sudah menunjukkan gejala-gejala mirip geyser. Dilihat dari fenomena ini sepertinya siklus pembentukan gunung lumpur yang ditulis sebelumnya disini )*.

Hubungan sekuensial ketika terjadi “intermitten flow” (semburan terbatuk-batuk), dan amblesan setempat/”differential subsidence” (banjir), semakin membuat yakin bahwa kejadian ini memang semestinya harus ditangani secara scientific dengan baik. Bukan sekedar dengan penelitian seadanya. Saya setuju dengan pendapat Mantan Ketua IAGI Andang Bachtiar dahulu bahwa yang paling pantes menangani segi penelitian ilmiahnya adalah BPPT. Sehingga dengan misi saintifik ini maka banyak data akan dapat terbuka kepada siapa saja yang berminat meneliti. Dan akan mempermudah scientist-saintis memperoleh data untuk diteliti dengan lebih intensif.

🙁 “Pakdhe, kalau gitu bisa jadi mirip Yellow Stone Park, yang gambarnya diatas itu ya ? Bagus donk bisa untuk wisata ” 😛

Air dari kedalaman 8000 (ft)meter (?).

hydrothermal-source.jpgInfo baru dari Pak Awang yang menyebutkan bahwa sumber air diperkirakan dari kedalaman 8000 feet meter semakin membuka tabir-tabir kemunculan gunung lumpur ini. Hal ini juga semakin jelas hipotesa “Detak-detak kelahiran LuSi” semakin menunjukkan kebenaran hipotesa ini. Penemuan dengan analisa deutrium pada air yang sangat menarik dari Pak Awang. Indikasi sumber air dari kedalaman 8000 ft m ini bukannya tidak pernah didiskusikan. Tetapi sebenarnya sudah pernah dimodelkan dalam “Detak-detak kelahiran Lusi”. Dan waktu demi waktu akhirnya aku semakin yakin bahwa “Detak-detak kelahiran Lusi” ini dapat dipakai sebagai hipotesa untuk memperkirakan ‘what next ?‘, apa yang akan terjadi kemudian?.

Saya masih yakin bahwa di kedalaman 8000 feet ini belum masuk ke basement. Saya memperkirakan adanya sedimen dibawah Formasi Kujung, atau paling tidak ada sub cekungan (yang disebut syn-rift) yang menjadi wadah penampung sedimen mengandung air. Dalam model Detak-detak kelahiran Lusi aku sebut di dalam model itu sebagai “potential hydrothermal reservoir” (lihat klick gambar dibawah ini).

New Update

Ternyata air diperkirakan dari 8000 meter. Yang diinterpretasikan berdasarkan peningkatan deitrium dan juga data GPR yang menunjukkan ada kemungkinan reaktivasi patahan. Menurut Pak Sofyan bahkan gelaja ini dapat diikuti aktifitas pergerakannya hingga saat ini.

Kalau dugaan ini Pak Sofyan diatas benar .. “Barusan terbentuk konduit/fracture/fault baru” Saya malah mengkhawatirkan nantinya akan akan ada amblesan di permukaan. Amblesan (fault reactivation) dari bawah akan pelan-pelan merembet menuju ke atas.

Gejala “ceprut-ceprut” (intermitten flow) ini menujukkan terbuka dan menutupnya jalan akibat runtuhan-runtuhan dibawah tanah. Tentunya akan ada selang antara gejala “ceprut-ceprut” dengan amblesan di permukaan. Kalau dahulu selang atau jedanya pendek karena dangkal, kali ini selangnya akan lebih lama, karena adanya gejala runtuhan (gerakan) dari dalam. Seperti yang pernah ditulis sebelumnya disini: Tuuuh-kan-lusi-luber-lagi

Bagaimana sumber airnya ?

slide6.GIFMenurut pendapat penulis, jumlah air yang sangat banyak ini sangat sulit kalau disebabkan oleh diffesential magmatik. Mungkin saja akan ada fraksi-fraksi differential magmatik sebagai pembentuk air (wah ini menjadi info baru tentang dari mana asalnya air ya ?), namun fraksi terbesarnya kemungkina adanya wadah (reservoir) tempat penyimpanan air dibawah sana.

Bagaimana volume semburan ?

Mengetahui volume debit semburan tentunya kan bermanfaat untuk diketahui. Namun tidak mudah mengukur debit ini. Pak Sofyan BPLS memberikan petunjuk dengan sms-nya kembali

“Menurutku memang ada ada penurunan. Efektif 3 pompa plus satu overflow yang kapasitas total 0.8 m/detik x75% (efektifitas pompa+flushing water)”

🙁 “Whaduh Pakdhe, kok malah dikasi PeeR sama Pakde Sofyan ya ?”

Kalau gejalanya akhirnya menjunjukkan “geyser saja” (hanya uap air yang keluar), yang perlu diperhatikan adalah debit. Bisa saja kalau geyser ini merupakan siklus tertutup dari Gunung Penanggungan, maka proses ini menjadi lebih mudah dikontrol, lagi-lagi seperti dugaan “Detak-detak kelahiran Lusi”. Namun kalau material yang keluar masih bercampur lempung dan material padat lainnya, maka kondisi “batuk-batuk” ini perlu dicermati karena kemungkinan akan terjadi amblesan lagi yang akan menyebabkan banjir limpahan pada bagian tanggul yang turun.

Bacaan selanjutnya :

Sumber gambar http://unews.utah.edu/

9 COMMENTS

  1. Waktu baca saya menjadi rancu, karena deuterium itu sebenernya berasal air yang memiliki rumus kimia H2O yang terdiri dari Hidrogen dan Oksigen. Hidrogen sendiri dalam air memiliki beberapa isotop yaitu Deuterium, Hidrogen, dan Tritium.
    Kalau memang pengambilan sampel deuterium dari air permukaan, memang deuterium banyak dipakai dalam riset geohidrologi terutama untuk mengetahui origin dari air yang keluar dari mata air pada ketinggian tertentu dan biasanya disandingkan dengan oksigen-18. Deuterium ini umumnya lebih stabil daripada oksigen namun sangat sensitif apabila terjadi presipitasi atau penguapan terutama untuk air permukaan. Deuterium bisa pula terkayakan karena mixing dengan aktifitas magmatik/hidrothermal dibawah permukaan apabila memang ada. Jadi peningkatan deuterium memang bisa disebabkan oleh banyak faktor.

    Oya pak dhe, Minal Aidin Wal Faidzin, maaf lahir dan batin yaaa 😉

  2. Mas Prasso, setahuku yang disimpulkan Pak Sofyan bukan pengamatan langsung dengan deutrium pada analisa air. Tetapi ketika pemikiran induktid-deduktif (interpretasi), terjadinya peningkatan deutrium ini juga bersamaan dengan diketahui adanya “sesar baru” dari kedalaman 8000, yang kononnya sesar ini masih aktif (bergerak). Sehinga beliau memperkirakan air ini dari kedalaman 8000 meter.
    bener enggaknya tidak mudah dipastikan ataupun disangkal. Hanya interpretasi atau masih hipotesa yang perlu diuji.

  3. Pak dhe, kalau memang Lusi binti Lula ini terjadi intermittent flow apa ada kemungkinan bahwa terdapat sistem recharge seperti model panasbumi dan bukan dari runtuhan formasi yang loose setelah air muncrat?
    Dan kalau boleh tau, gimana pak Sofyan bisa menentukan asal air dari kedalaman 8000 ft memakai isotop deuterium?

  4. Surabaya Banjir?

    Kalo ternyata tidak mampet tentu bahaya bagi warga Sidoarjo. Semoga saja segera mampet.

    Saya mo tanya Pak, saat ini Lusi dibandingkan dengan Denanyar mana yang lebih besar? Kalo sudah lebih besar Lusi, saya optimis akan segera mampet.

  5. Sol,
    Bisa saja akhirnya mampet pet. Walaupun potensi terbentuknya masih saja akan terus ada karena dinamika bumi tetap akan terjadi.
    Yang terjadi di Gunung Anyar juga mampet, yg diduga jaman Mojopahit itu juga mampet kan ?

Leave a Reply