Hati kecil masyarakat Islam dimanapun menginginkan hari raya yang satu.

35

Seorang kawan saya Muntaha Zaim, yang sedang belajar di UIA (Universiti Islam Antarabangsa UIA – International Islamic University IIU) mengajak ngobrol tentang fenomena perbedaan penentuan hari Raya atau penanggalan Islam. Dibawah ini hasil obrolan santai itu.

 

Hati kecil masyarakat Islam menginginkan hari raya yang satu.
Kalau diminta memilih antara dua hal, berhari raya berbeda atau beda hari raya dalam satu negeri, kemungkinan besar akan banyak yang memilih dan berharap agar hari raya jatuh pada hari yang sama.
Akhirnya, mudah-mudahan ke depan kriteria untuk menyatukan dapat ditemukan oleh tokoh-tokoh dan yang ahli dalam bidangnya dan menjadi hari raya yang satu, dan itu insya Allah dapat dicapai jika ada “keinginan untuk islah dan bersatu”.


Seperti yang sudah diduga oleh Mas Marufin sebelumnya tentang Awal Ramadhan, Syawal Dan Zulhijjah 1428 H disini sebelumnya, ternyata memang bakalan ada perbedaan penentuan awal Syawal 1428 tahun ini. Bagaimana mestinya mensikapi perbedaan ini ? Itu sih pendapat tiap orang mungkin berbeda tetapi jelas pada dasarnya manusia ini pingin bersama-sama (sosial). MAsih ingat tulisan tahun kemarin disini ? Kapan mau lebaran nih ? Disitu jelas terlihat peta yang mirip dengan peta dibawah sana. Yang menunjukkan lokasi di bumi yang dapat melihat hilal pada hari awal bulan syawal.

Allah SWT mengingatkan tentang kemungkinan bersatunya kembali pasangan suami istri yang sudah berselisih, “in yuridaa al-Ishlaha yawaffiqillahu baynahuma” (Kalau mereka berdua (suami istri) menginginkan untuk islah (berbaik-baikan lagi), maka Allah akan memberikan taufiq (jalan keluar dan langkah tepat) di antara mereka berdua, tapi kuncinya jika memang menginginkan. Tapi jika memang pasangan tersebut tidak ingin bersatu dari manakah akan ada jalan. Mungkin keinginan inilah yang harus dikedepankan untuk mendapatkan taufiq dalam penentuan berhari raya.

Menurut Muntaha ini ,memang masalah “ru’yat” dan “hisab” dan juga “kriteria” tentang standarisasi yang dianggab mu’tabar masih belum bisa disepakati oleh tokoh-tokoh ormas Islam di Indonesia. Sebagai contoh tahun 1981 antara Persis dan Muhammadiyah yang sama-sama menggunakan “hisab” ternyata dalam menentukan hari raya juga berbeda. PBNU yang berpegang dengan ru’yat ternyata juga berbeda pada tahun kemarin, PWNU Jatim merayakan lebih dulu satu hari dari keputusan PBNU.
Dan kalau dicari-cari dalil-dalil baik dari nash-nash Al-Qur’an dan Hadits-hadits dan juga dalil ‘aqli (science) antara ru’yah dan hisab sama-sama kuat. Dan sebenarnya tidak akan ada perselisihan antara nash dan sciences dalam masalah hilal ini sebab obyeknya jelas dan satu. Wallahu a’lam, dalam mengambil jalan keluar ini mungkin sekali lagi harus ditinjau dari maqashid ‘idul Fitri setelah memadukan (jam’) semua dalil, sebab kedua-dua kubu sama-sama berpegang dengan dalil.

( “Whaduh Pakdhe kalau sudah jadi perang ayat runyem deh”
D “Itulah thole tidak mudah menggabungkan pemikiran wong pinter-pinter yang tidak mau mengalah”

Untuk meninjau maqashid syari’ah (tujuan-tujuan disyaria’tkan suatu hukum) dalam ‘idul fitri, ada beberapa pandangan lain:

Puasa adalah ibadah bersama-sama, dan idul Fitri adalah ibadah perayaan kebersamaan,

Rasulullah SAW bersabda: “As Shoumu yauma Tashumuna wal Fitru yauma tuftirun” (Hari berpuasa adalah pada hari di mana kamu semua berpuasa, dan hari (idul) fitri adalah dimana kamu semua merayakan ‘idul fitri”. Hadits ini sangat jelas mengedepankan persatuan umat, yang bisa jadi kurang begitu banyak mendasari pihak-pihak yang berwenang dalam menentukan hari Raya atau awal puasa.
Seandainya hadits ini dijadikan sebagai dasar tentu akan sangat mudah menyatukan awal dan akhir puasa Ramadhan.

Tujuan ‘iedul Fitri adalah perayaan kegembiraan umat Islam,

Seringkali orang “menghibur diri” dengan menyatakan bahwa orang Indonesia sudah biasa berbeda, atau perbedaan dalam amaliah beragama itu adalah rahmat. Sepertinya jika ada mertua dan menantu yang berbeda merayakan ‘idul fitri dalam satu rumah, yang satu berpuasa wajib dan satu lagi mewajibkan dirinya berbuka, tentu sama sekali bukan ini yang diharapkan dalam Islam yang penuh rahmat. Begitu juga antara suami istri yang berbeda pilihan, pasti akan banyak mengalami hambatan sosial. Sebab jauh dari tujuan asal disyari’atkannya ‘idul fitri, juga termasuk tindakan yang sulit untuk dinalarkan. Dan menimbulkan implikasi dan dampak sosial yang kurang sehat.

Tidak semua perbedaan itu rahmat,

Dalam ilmu fikih hampir setiap permasalahan mulai dari thaharah sampai bab jihad sarat dengan perbedaan pendapat; tapi tidak semua perbedaan pendapat itu rahmat. Kita jadi ingin sekali mendapatkan tokoh sekaliber Ibnu Mas’ud RA, yang pada waktu Utsman bin Affan menjadi khalifah, ketika Utsman naik haji dan mabit di Mina, Utsman melaksanakan shalat Zhuhur dan Ashar sebanyak masing-masing empat rakaat. Oleh Ibnu Mas’ud ketika mendengar berita kontroversial tersbut Utsman R.A. dianggap telah meninggalkan sunnah Rasulullah SAW, sebab Rasulullah hanya shalat 2 raka’at 2 raka’at. Meskipun beliau secara prinsip tidak setuju dengan Utsman yang menyempurnakan empat rakaat, tapi ketika Ibnu Mas’ud shalat berjamaah di Mina di belakang Utsman R.A., ia shalat seperti shalatnya Utsman R.A. Ketika orang-orang mempertanyakan hal itu, Ibnu Mas’ud berkata, “Al-Khilafu Syarr (Berselisih itu jelek)”. Hadist Riwayat Abu Dawud.
Benarkah Utsman R.A meninggalkan sunnah dalam masalah ini?, sebelum tergesa-gesa mengambil keputusan mungkin posisi usman dihadapan Nabi SAW akan mencairkan masalah, adakah Utsman yang hidup lama bersama Nabi SAW tidak mengetahui sunnah? tentu tidak, beliaulah orang yang sangat faham dengan sunnah. Untuk melihat lagi mengapa Utsman menyempurnakan empat rakaat, perlu waktu tersendiri yang tentu saja saat ini bukan pada topik pembahasan.
Yang menjadi hikmah adalah Ibnu Mas’ud menganggap bahwa diantara perbedaan itu ada yang jelek, mungkin kalau beliau saat ini ada juga akan berpendapat bahwa beda hari raya di satu kampung bahkan satu rumah adalah termasuk yang jelek tersebut.

( “Disini kok Ibn Mas’ud mau mengalah ?”
D “Itulah yang beliau maksudkan. Didalam perbedaan sering muncul hal yang tidak baik, thole. Memang benar di dalam perbedaan itu ada hikmat yang dapat menjadi rahmah. Namun kebersamaan semestinya lebih diutamakan, dari sekedar berbeda dan terpisah. Caranya? … mengalah

Amrul hakim yarfa’ul khilaf (Keputusan ulil Amri dapat menghilangkan perbedaan pendapat).

Mungkin di antara masyarakat yang dalam mengartikan demokrasi terlalu jauh adalah masyarakat kita; untuk ‘idul Fitri pada tahun kemarin di Indonesia ada 4 hari berbeda, dan yang terakhir pada hari Rabu -kalau tidak salah- 1 syawal dirayakan oleh sebuah kelompok pengajian.
Kalau di negeri Islam lainnya, tidak terhitung ilmuan dan ulama’ yang punya pendapat berbeda-beda dan punya kapabilitas yang tidak diragukan, baik dari kalangan ahli ru’yah ataupun hisab, tapi semua hanya berwacana dan semua hanya mengusulkan dan memberikan yang terbaik. Begitulah di Mesir, Saudi, negara-negara Timur Tengah, dan juga Malaysia. Dan pada giliran mengumumkan Idul Fitri ulama’-ulama’ dan ilmuan-ilmuan hanya berani menunggu keputusan “Hakim”, yang terkadang kata ini di masyarakat kita seringkai hanya muncul ketika orang tidak punya wali dan mau menikah, sehingga walinya wali hakim. Itu semua disebabkan adanya kaidah besar dalam ilmu Fikih bahwa “Amrul Hakim Yarfa’ul Khilaf”. Disinilah mungkin pentingnya surat an Nisa’: 59, tentang urgensi ta’at kepada Allah, Rasulullah dan Ulil Amri.
Sebagai contoh kongkrit adalah catatan sipil pernikahan yang menjadikan adanya wali bagi calon pengantin wanita adalah syarat sahnya pernikahan, di semua KUA di Indonesia menyeragamkan pelaksanaan ini dan tidak memberikan toleransi kepada yang berpendapat lain, meskipun ada dalam khazanan fikih Islam yang legal. Dan alhamdulillah semua masyarakat menikmati keseragaman ini dan merasakan rahmatnya.

🙁 “Hikmah itu selalu ada baik dalam kebersamaan maupun perbedaan, ya Pakdhe ?”
🙂 “Hiya, tetapi kebersamaan sebenernya harus diakui lebih ketimbang perbedaan, karena manusia ini maunya satu. Jangan sampai memperoleh hikmah dan berhenti mencari kebenaran yang selanjutnya”

Yang menentukan ‘idul ‘Idul Fitri dan Shalat ‘Ied bukan individu.

Semenjak zaman Rasulullah SAW wacana individu dalam menganalisa dan mencari hilal selalu hasil akhirnya disampaikan dan dikembalikan kepada yang berwenang, Rasulullah SAW, dan sepeninggal beliau adalah khulafa’ul Rasyidin dan begitulah selanjutnya. Di Indinesia ada berpuluh-puluh ormas Islam, kalau seandainya semuanya membuat tim ru’yah dah hisab mungkin akan semakin menambah runyam.
Mungkin DEPAG adalah salah satunya wadah yang dapat mengakomodasi semua ormas-ormas tersebut dengan pakar-pakarnya masing-masing; yang pertemuannya tidak hanya sekedar ketika menjelang hari raya tapi terus intensif memantau setiap awal bulan Hijirah untuk menemukan kriteria dan akhirnya keputusan diambil dari sidang akbar dengan niat yang tulus ikhlas ingin mencari yang benar.

( “Pakdhe, Gusti Allah lebarannya kapan ?”
) “Hust … !!!”

Epilog

http://rukyatulhilal.org

Memanglah benar secara naluriah, manusia ini ingin menjadi (ber)satu bukan dua, juga bukan tiga. “Satu” itu menjadi sebuah impian dalam kebersamaan dalam keragaman. Saat ini kita tahu bahwa manusia di dunia masih belum (ber)satu, dunia masih memiliki pemisah formal dan diakui bersama yang cukup besar yaitu “negara“. Pemisahan yang lain masih ada secara informal walaupun riil keberadaannya misalnya pemisahan negara-negara barat dan negara-negara timur. Namun keberadaannya tidak di”legal“kan, walaupun kita dapat merasakan keberadaannya. Konsep “negara“pun juga belum begitu lama kalau dirunut balik dalam sejarah. Karena sebelum munculnya konsep pemerintahan negara di dunia ini ada pemerintahan “kerajaan”. Manusia berkelompok berdasarkan atas kekuasaan kerajaan yang akhirnya berevolusi menjadi “negara”.

Sangking kuatnya konsep kekuasaan “negara” ini akhirnya mempengaruhi konsep “SATU” dalam diri individu manusia ini. Dalam benak hampir semua orang mengatakan diriku satu dalam sebuah nation yang sama yaitu “negara”, dalam bahasa populernya menjadi slogan “nasionalism”. Perasaan bersatu masih lengket dalam persaaan khusus. Rasa bersatu terkotak dalam “satu negara”. Karena pemikiran pemersatunya adalah “pemerintahan negara”. Saya kira dahulu dijaman kerajaan-kerajan pemikiran (ber)satu atau bersama bukan dalam satu negara, wong kata negara saja belum ada, dulu mungkin berpikir nasionalism masih dalam kungkungan konsep “SATU kerajaan”. Jadi kebersamaan saat ini masih lengket kalau dikatakan bersatu dalam satu negara.

Adakah konsep pemerintahan “negara” atau “kerajaan” dalam pemikiran Islam ?. Yang saya tahu sistem kerajaan itu bukan yang Islami, karena manusia dijadikan pemimpin bukan berdasarkan keturunan. Pemikiran keturunan ini juga sempat menggegerkan agama Ibrahim (samawi). Siapa yang berhak menjadi Nabi ? Apakah kurunan Ismail atau keturunan Ishaq. Namun munculnya Nabi Muhammad sebagai nabi menunjukkan bahwa konsep keturunan bukanlah konsep penting didalam ajaran Islami.

Yang menarik adalah Islam sepertinya juga tidak mengenal konsep pemerintahan yang disebut negara, walaupun dahulu mengenal “pemerintahan khusus” (satu) yaitu kekhalifahan. Tapi jelas konsep kekhalifahan ini sudah hilang didalam kelompok Islam dan agama samawi lain. Kristenpun sudah tak ada, hanya barangkali Katolik saja yang masih memiliki konsep kebersamaannya dengan kepausan, saya kira (cmiiw).

Kebersamaan dalam ibadah.

Lantas kalau memang kita bermimpi berhandai-handai Islam semestinya bersatu secara global di dunia ini mungkin nggak ? OK deh ini terlalu rumit kita kembali lagi saja untuk soal kebersamaan dalam berpuasa dan berlebaran secara global. Mungkin nggak ?
Kalau saja konsep keturunan dipakai dalam penentuan ibadah, wah pasti akan amburadul, yang keturunan arab puasanya mengikuti negara2 arab, yang keturunan Melayu mengikuti jadwalnya orang melayu, yang kturunan Cina mengikuti hisab-rukyat versi Cina dll. Persis seperti yang ditulis kawan saya Muntaha diatas itu, nanti perkawinan campuran menjadikan satu keluarga saja tidak (ber)satu lagi, kan ? Menantu dan mertua tidak dapat sungkeman dihari yang sama.

Hisab-rukyat Global (masih mimpi)

Saya bermimpi, nantinya ru’yat-hisab global menjadi satu rujukan seandainya Islam memang menginginkan kebersamaan ibadah secara global. Karena satu cara global inilah yang paling pas dipakai sebagai metode penanggalan. Sayangnya konsep hisab-ru’yat global itu “terlalu maju sejaman“, masih sulit diterima diantara pengikut Islam di dunia yg terpisah secara geografis. Ini tidak hanya soal Islam namun juga soal kemanusiaan yang lain juga, bahwarasa kebersamaan dalam satu negara jauuh lebih kuat dibandingkan rasa kebersamaan dalam satu dunia global. Secara praktis kebersamaan ibadah ini masih akan menemuai banyak kendala dalam pelaksanaannya, termasuk kendala “egoisme negara“. Saat ini kita tahu, ilmu pengetahuan, peralatan, teknologi termasuk komunikasi global bukanlah halangan dalam menyatukan dunia. Saat ini justru masih tergantung pada (individu) manusia dalam “kotak negara“nya dalam memutuskannya kebersamaan ibadah.

Rukyat-hisab global masih belum bisa diterima karena belum adanya rasa (ber)SATU, selama masih terkotak dalam kelompok-kelompok terpisah termasuk dalam negara, dalam ormas, dan lain-lain.

( “Pakdhe, apakah ber(satu) itu memang yang benar dan berbeda itu salah ?
D “Ini bukan sekedar perkara mencari mana yang benar mana yang salah, tapi itulah yang terjadi saat ini, thole”.

Wallahu a’lam.

35 COMMENTS

  1. Mas Jittus
    Jawabannya (mungkin) pernah yaitu tahun 1997. Arsip beritanya ada disini : http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1997/02/08/0064.html

    Waktu itu Soeharto sudah siap-siap memimpin nabuh bedug. Walaupun ada bisak-bisik (issuenya) berbeda dengan arab dsb, ternyata acaranya tetap seperti yang ditetapkan setneg.
    Waktu itu berhubungan dengan jadwal kenegaraan yang sudah “keburu” diset duluan. Acaranya sendiri sangat meriah katanya :

    http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1997/02/11/0032.html

    Namun tak berapa lama kemudian Soeharto jatuh eh lengserr !!

  2. assalamualaikum..
    mau ikut nimbrung dong..
    membahas masalah kapan 1 syawal, selala ini kan kita hanya mendengarkan dari orang2 yang pinter berutak atik dengan rukyah dan hisap. nah pemerintah pun dalam menentukannya berdasarkan hasil musyawarah antar pemerintah dan wakil ormas tentunya. kalau dipikir lebih lanjut, apakah pernah pemerintah menentukan 1 syawal berdasarkan politis atau ekonomi.. seperti kl 1 syawal jatuh hari anu, maka distribusi bahan pokok terhenti sementara.. trus pengusaha anu ga mau hari itu karena itu jg.. ada ga ya kira pemerintah menentukan tgl 1 syawl berdasakan hal2 semacam ini..
    wassalam..

  3. Tahun lalu, dengan penuh syukur, Muhammadiyah dan NU-Jawa Timur menyatakan hari raya yang sama, dengan hisab dan ru’yah masing-masing. Tetapi: ternyata pengumuman pemerintah lain lagi. Kesimpulannya, yang sering salah bukan hanya peng-hisab atau peng-rukyah, melainkan ditambah satu lagi, “pembuat pengumuman”. Terus… niatnya mau membuat perselishan antar umat atau memperpanjang hari penjualan dagangan? Barangkali ini perlu dikaji menurut ilmu (penghuni) bumi.

  4. Ada yang menolak, bahkan (dengan bangganya) membid’ahkan hisab, padahal :
    1. Mereka shalat dengan melihat jam (dalil aqli), padahal harusnya dengan melihat matahari (dalil naqli)
    2. Kalo Jumatan atau lainnya, mereka menyebutkan tanggalan hijriyah di mimbar dengan “pede”nya. Padahal data itu mereka dapatkan dari perhitungan (Hisab).

    Kalo mau pake ru’yah (doang) terus, bagaimana kita bisa nentuin kalender islam? Apakah kita ingin selamanya menentukan schedule ke-depan kita dengan tanggalan masehi?
    Tak ada jalan lain dalam penentuan kalender islam, kecuali dengan menggabungkan metode hisab dan ru’yat.
    wAllahu a’lam..

  5. duh wa kok jadi inget khotbah di mesjid ya knp indonesia yg negaranya muslim kena bencana terus? karena indonesia ini memalukan umat islam, islamnya terbesar di dunia tapi korupsi nomer 1, untuk masalah hari raya yg penting ga pernah barengan , bener ndak yah Indonesia ini sebenarnya malah membikin malu nama Islam di dunia?

  6. perbedaan itu adalah rahmat
    bukan rahmat adalah perbedaan…bro
    kalo gitu…
    bersatu adalah bencana dunk
    he he
    just opinion

  7. Amrul hakim yarfa’ul khilaf (Keputusan ulil Amri dapat menghilangkan perbedaan pendapat).
    selama ini melihat yang terjadi di bangsa kita ini yang dominant muslim,tapi sok mengedepanan kepentingan golongan …….. tapi ini sudah nash dari Rasulullah SAW bahwa mungkin golongan yang ada dibangsa kita itu termasuk 73 golongan yang disebutkan Rasulullah SAW, jadi menurut saya setuju dan berharap sekali seperti kalimat awal di atas bagaimana HAKIM alias Pemerintah berkiprah dan di”ajeni” ……

  8. kenapa yang mesti bikin heboh mesti 1 syawal ya? (ya karena itu idul fitri,… hehehhe) Cuman lucunya,… tiap kali 1 syawal heboh, kok 1 ramadhan hampir ndak pernah heboh ya?
    Semua pasti kompak untuk penentuan awal puasa dan malam sebulumnya semua bareng tarawih. Aku belum pernah liat orang berangkat tarawih maju 1 hari

    Padahal dari sekian banyak orang, pasti ada yang tahun lalu 1 syawal lebih maju 1 hari atau berbeda. Lha terus adjusment kalender mereka bulan apa ya? kok ndak pernah diumumkan. Bukan masalah 1 harinya sih,… cuman kalo diitung nalar,… taun kemarin maju 1 hari, berarti tahun ini ramadhan lebih cepat 1 hari dan mungkin 1 syawal akan lebih cepat 2 hari.

    Tiga puluh tahun lagi, yang lain baru berangkat puasa,….eeeeee….. udah ada yang lebaran 😀

    ngapunten lho pakdhe,.. nderek langkung.

  9. Mas Zaki kalau sholat ngadep Kabah ya mudah aja. Ayat yg dipakai mestinya “Maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah” Artinya kiblat itu bukan semata-mata Kabah saja. Perlunya kiblat adalah mengatur arah sholat supaya teratur. Kiblat dibuat ke Kabah mnurutku, karena jeniusnya Nabi Muhammad, karena waktu itu untuk membedakan dengan umat agama lain yg juga berkiblat ke Aqsa.
    Lah kalau astronot ya ngadep aja ke bumi wong mereka sholat ngga jamaah 40 orang yg sedang jumatan kok. 😛

    Kalau hikmah mengapa penanggalan pakai lunar dan ibadah hariannya dengan matahari cukup seru nih … aku tulis terpisah saja 😛

  10. Utk Pak Hendar,
    Kalo pertanyaannya kenapa pilih penanggalan lunar dan dihubungkan dg orang kutub tidak mendapatkan rahmat Islam, ya rada susah ngejawabnya. Sama aja kayak bilang, kenapa shalat menghadap ke Ka’bah, dan dihubungkan dg bagaimana caranya astronot muslim shalat di luar angkasa. Mestinya yg ahli agama yg jawab pertanyaan model begini.
    Saya ngejawab hal yg rada gampang aja, walaupun ga terlalu nyambung dan rada tebak2an, namanya juga cari yg gampang dibahas je… mudah2an sedikit menjawab pertanyaannya.
    Utk perhitungan bulan, Islam menggunakan siklus bulan sebagai dasarnya seperti posting comment saya sebelumnya. Utk perhitungan tahun, Islam menggunakan perhitungan 12 bulan (yg berdasarkan siklus bulan) seperti juga sdh saya kemukakan di atas.
    Nah, kalo utk perhitungan harian, Islam menggunakan siklus harian matahari. Apa buktinya? Gampang, waktu shalat kita ditentukan oleh siklus harian matahari. Waktu shalat dzuhur adalah ketika matahari tepat telah bergeser dari atas kepala kita (mulai timbul bayangan setelah sebelumnya bayangan tepat berada di bawah badan kita) sampai panjang bayangan sama dengan panjang benda aslinya (misal panjang bayangan kita sama dengan tinggi badan kita). Waktu shalat asar dimulai ketika panjang bayangan sudah mulai lebih panjang dari panjang bendanya sampai matahari terbenam. Magrib dimulai dari terbenamnya matahari sampai hilangnya awan merah (yg menandakan langit di tempat kita sdh tidak menerima sinar matahari). Isya dimulai dari hilangnya awan merah sampai terbitnya fajar yg pertama (langit mulai menerima cahaya matahari lagi) dan Subuh dimulai dari terbitnya fajar pertama sampai terbitnya matahari (matahari di ufuk/cakrawala/horizon).
    Jadi pertanyaan kenapa pakai penanggalan bulan, mungkin ya karena mengikuti siklus yg bersangkutan, utk harian mengikuti siklus matahari, utk bulanan mengikuti siklus bulan. Utk tahunan? Kan udah dibilang tadi setahun = 12 bulan.
    Kalo ditanya kenapa begitu? Ya jawaban saya sih satu aja, kalo nanya jangan yg susah2 dong… Yg pasti sih, ada satu hikmahnya bagi kita, yaitu kemudahan. Utk waktu shalat tinggal lihat posisi matahari di langit. Utk waktu puasa & hari raya tinggal lihat posisi bulan di langit.
    Gitu aja kok repot…

  11. Wah menarik Pak Zaki,
    Tapi kenapa Islam memilih penanggalan LUNAR ? Yang lebih menggelitik lagi adalah : Lunar itu penanggalan yang paling bagus untuk poisis geografis antara 60 LU dan 60 LS, Di kutub Lunar tidak kelihatan bagus. Padahal ISlam itu agama seluruh umat, Apakah orang kutub tidak mendapatkan rahmat Islam ?

  12. Sedikit menjawab pertanyaan Ompapang ttg penanggalan hijriah yg memakai bulan. Cuma berhubung tidak sedang memegang referensi apa2, ya jawabannya agak preman sedikit, mudah2an nanti ada yg bisa bantu dengan detail2nya (dan meluruskan kalo ada yg salah).
    Pada dasarnya di Al Quran sendiri dinyatakan bahwa bilangan bulan itu adalah 12 bulan dalam 1 tahun dan 4 diantaranya adalah bulan haram. Mengenai nama bulan2 tsb tidak disebutkan, kecuali bulan Ramadhan di surat Al Baqarah di ayat setelah ayat ttg kewajiban berpuasa.
    Sedangkan rujukan mengenai perhitungan bulan adalah merujuk hadits Nabi SAW yg memerintahkan kita utk berpuasa dengan melihat bulan dan berbuka dengan melihat bulan. Artinya awal bulan Ramadhan ditentukan dengan melihat bulan dan awal bulan Syawwal juga ditentukan dengan melihat bulan. Terus terang saya tidak ingat apakah rujukan seperti itu ada di Al Quran atau ngga (maklum yg nulis bukan ahli Al Quran).
    Sedangkan penanggalan hijriah itu sendiri ditetapkan setelah Rasulullah wafat, yaitu pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab RA. Pada saat itu difikirkan bagaimana agar umat Islam memiliki penanggalan yg terstruktur rapi, mengingat sebelumnya bangsa Arab tidak memiliki perhitungan tahun yg tetap, melainkan merefer kepada kejadian2 tertentu. Mungkin masih ingat bahwa kelahiran Nabi SAW adalah pada 12 Rabiul Awwal tahun Gajah, merujuk kepada kejadian penyerangan kota Makkah (khususnya Ka’bah) oleh tentara Abrahah dari Yaman. Selain itu sebelum penanggalan hijriah ditetapkan, umat Islam sering merujuk kepada awal turunnya wahyu kepada Nabi SAW, misalnya Isra Mi’raj terjadi di tahun 10 kenabian. Oleh Umar dan para sahabat akhirnya ditetapkan awal perhitungan tahun Islam merujuk kepada tahun terjadinya hijrah Nabi SAW dari Makkah ke Madinah, mengingat saat itulah dipandang sebagai titik awal kemenangan Islam (lepas dari penindasan kaum kafir Makkah dan memiliki ‘negara’ sendiri di Madinah). Dari masa Umar itu tinggal menghitung bahwa Nabi SAW hidup selama 10 tahun di Madinah (Rabiul Awwal tahun 1 H sampai Rabiul Awwal 11 H) dan Abu Bakar RA memerintah selama 2 tahun. Jadi Umar mulai memerintah dari tahun 13 H sampai 23 H ketika beliau wafat dibunuh ketika akan memimpin shalat Subuh.
    Karena tahun hijriah berdasarkan siklus bulan maka perhitungannya sbb:
    – tgl 1 adalah mulai terbitnya bulan di ufuk (cakrawala) pada saat matahari terbenam
    – tgl 3-4 adalah pada saat bulan sabit
    – tgl 7 adalah pada saat bulan setengah
    – tgl 10-11 adalah pada saat bulan 3/4 penuh
    – tgl 14-15 adalah pada saat bulan purnama
    – tgl 17 adalah pada saat bulan 3/4
    – tgl 21 adalah pada saat bulan setengah
    – tgl 24 adalah pada saat bulan sabit
    – tgl 29-30 adalah pada saat bulan mati (tidak terlihat)
    Jadi setiap tanggal 29 sore, posisi bulan harus dilihat apakah pada saat matahari terbenam bulan sudah muncul atau belum. Jika sudah muncul maka besoknya menjadi tanggal 1 bulan berikutnya, jika belum muncul artinya masih bulan mati dan besoknya dihitung sebagai tgl 30. Ini juga sesuai perintah Nabi agar kita menggenapkan perhitungan bulan menjadi 30 hari jika bulan belum terlihat pada tgl 29 sore.
    Yg menjadi masalah adalah karena matahari terbenam lebih dulu di bagian timur (iya dong, kan terbitnya juga duluan di bagian timur), misalnya di Sulawesi, maka bisa jadi ketika matahari terbenam di Sulawesi, pada saat itu bulan masih belum terlihat, artinya besok tgl 30. Tetapi ketika matahari terbenam (sekitar 1 jam kemudian) di daerah yg lebih barat misalnya di Sumatra, posisi bulan sudah lebih naik sehingga bisa terlihat di Sumatra, sehingga bagi orang2 di Sumatra, besok adalah tgl 1. Utk itu pemerintah menetapkan kesatuan hukum dalam satu wilayah sehingga utk seluruh Indonesia, besok adalah tgl 1 (jadi mestinya sih cukup melihat di Aceh aja ya karena paling barat?).
    Nah, tambah repot lagi karena jazirah Arab letaknya lebih ke barat dari Indonesia, sehingga bisa jadi ketika waktu matahari terbenam di Indonesia (magrib), saat itu di Arab masih Asar. Ketika di Arab magrib, posisi bulannya sudah lebih naik lagi sehingga kelihatan, akhirnya besoknya di Indonesia kita masih puasa(tgl 30) tapi di Arab sudah Idul Fitri (tgl 1).
    Kenapa posisi bulan bisa berbeda2 ketika magrib di daerah yg berbeda2? Jawabannya simpel, karena rotasi bumi adalah 24 jam, sedangkan revolusi bulan thd bumi tidak 24 jam, tapi 1 bulan, otomatis jadi ada perbedaan.
    Kira2 begitu. Wallahu a’lam.

  13. Pakdhe, saya salut sekali dengan pakdhe… pengetahuan nya luas sekali. saya jadi pengen nanya, bagaimana caranya membagi waktu antara bekerja (yang pasti sangat menyita waktu), dengan keluarga (yang mnyita waktu juga), trus blogging (melihat tulisan-tulisan jenengan yang cerdas, pasti butuh waktu untuk riset juga), dan kegiatan2 lain yang pasti (lagi-lagi) nyita waktu… sementara cuma aada 24 jam sehari….

    RDP 😀 :

    Kalau mau tahu kuncinya ada di “cara nulis diBlog”
    Baca disini : Tips menulis blog ? – Matikan layar monitor !

  14. ngikut mana yah? saya khan lom punya ilmu untuk menentukan hari raya idul fitri euy… jadi?

    saya malah lebih prioriti memikirkan “apakah hari raya idul fitri itu memang hari kemenangan kita karena telah bersungguh-sungguh menggembleng ibadah di bulan puasa atau tidak…?”

    semoga seluruh perbuatan kita dinilai ibadah ma Alloh…Amin…

  15. Pak Dhe, bisa cerita tentang sejarah tahun Hijriyah sebagai tahun Komariah (patokannya bulan).Kenapa patokannya bukan matahari seperti tahun gregorian, tahun Saka, Cina maupun Jepang yang penggantian harinya berdasar terbit dan tenggelamnya matahari yang JELAS KELIHATAN. Sedang penggantian jam bisa jam 24.00 = 00.00 tiap harinya. Lha dalam tahun Hijriyah, penentuan jam oleh MATAHARI(cmiiw), sedang pergantian HARI oleh BULAN, tapi namanya tetap sama(Ahad -Saptu) seperti tahun Gregorian yang bersumber dari Yunani yang berpatokan MATAHARI.Jam berapa pergantian hari yang benar menurut tahun komariah ,apakah sesudah isya atau maghrib atau jam 24.00 seperti tahun gregorian ?
    Kalau tahun Jawa ( Sultan Agungan) yang menggabungkan Tahun Hijriyah (tahun berpatokan bulan ) dan Tahun Saka (tahun berpatokan matahari),siklusnya menjadi 35 hari (“lapanan”) hasil perkalian 7 hari(Ahad-Saptu) dan 5 hari ( Pon – Paing ), sedang pergantian hari pada pukul 16.00 ( jam 4 sore ).Misal Hari SENIN – PON jam 15.00, namanya masih Senin – pon, tetapi lewat jam 16.00 misal jam 17.00 sudah dihitung masuk MALAM SLASA – WAGE.
    Jadi menurut tahun Jawa, SATU HARI (menurut peredaran matahari)dihitung MALAM dulu baru SIANG.Jadi SATU HARI adalah terdiri dari SATU MALAM + SATU SIANG, bukan SATU SIANG + SATU MALAM seperti tahun Gregorian. Lha sekarang apakah SATU HARI dalam tahun HIJRIYAH itu terdiri atas SATU MALAM + SATU SIANG atau SATU SIANG + SATU MALAM atau bukan kedua-duanya karena PERGANTIAN HARI ditentukan oleh PEREDARAN BULAN. (Ctt. Pada siang hari bulan juga bisa tampak dilangit !)
    Kalau puasa ditentukan penampakan matahari, bagaimana menentukan jam buka dan sahur di didaerah dekat kutub. Lha wong di Eropa dan Amerika/Canada atau Australia saja bisa jadi buka puasa jam 22 atau jam 23 . ( 10 – 11 malam )
    Begitu saja ya pak Dhe, nanti pak Dhe yang crita, mungkin dongeng pak dhe dapat mempersatukan banyak perbedaan pendapat/keinginan semua pihak..

  16. ..antara Persis dan Muhammadiyah yang sama-sama menggunakan “hisab” ternyata dalam menentukan hari raya juga berbeda

    Jadi sebenarnya bukan semata2 karena perbedaan hisab dan ru’yat kan pak?

    Tahun lalu, antar keluarga saya aja sampai berselisih paham. Masa dalam satu keluarga ada yang lebaran duluan. Piye toh? apakah ini yang dicita2kan oleh umat Islam di Indonesia ya pak?

    Demi soal keyakinan – soal hisab dan ru’yat – kesatuan dikesampingkan. Jadi apa gunanya kita punya negara (Depag) ya Pak? Kalau semua menggunakan hitungannya sendiri2.

    Tadi siang saya baca di detik.com .. negara muslim lainnya mempertanyakan mengapa negara Indonesia yang mayoritas beragama muslim, lebaran nya bisa beda2. Kalau dinegara yang tidak ada DEPAG urusan Islam (yang muslimnya minoritas), memang biasa .. lebaran berbeda2 karena tidak diatur oleh negaranya.

  17. Di level grass root, yang hanya punya pemikiran sederhana, bentrokan memang berpotensi tsunami *halah* berpotensi terjadi.

    Perdebatannya pun malah bisa melebar kemana-mana. Kapan ya kita bisa sepakat? Para petinggi ormas islam, halooooo ?

  18. “Perbedaan adalah rahmat”.

    Secara bodon, clethukan ra nggenah, maka bisa ditanggapi dengan:

    “Jika perbedaan adalah rahmat, jadi kalo sama berarti musibah dong… 🙂 ”

    Selama ini yang saya rasakan, perbedaan dalam hal awal ramadhan dan syawal ini bukan rahmat yang diperoleh, tapi kok ya rasa nggak enak, malah pernah saya temui di level grassroot, saling tuding, merasa golongannya yang paling benar…

    Indahnya lebaran bersama….kapan ya???

  19. saya sendiri seperti sudah terbiasa dengan perbedaan yang sudah berulang kali terjadi.. tapi, saya juga merasa perlu adanya wadah yang benar-benar mampu menyatukan ormas-ormas yang ada.. wadah yang tidak hanya mampu menampung perbedaan yang mungkin terjadi, tapi juga wadah yang mampu meminimalisir perbedaan-perbedaan tersebut.. salah satu syaratnya adalah pemimpin yang disegani oleh semua ormas dan mampu bertindak tegas..

    masalahnya, adakah pemimpin seperti itu di sini? mampukah DEPAG berperan sebagai wadah itu?

  20. Pakdhe, saya minta ijin utk menanggapi:
    Dari tulisan Pakdhe, ada 4 hal yang saya kutip, yaitu:
    —start quote—
    1. Puasa adalah ibadah bersama-sama, dan idul Fitri adalah ibadah perayaan kebersamaan

    2. Amrul hakim yarfa’ul khilaf

    3. Yang menentukan ‘idul ‘Idul Fitri dan Shalat ‘Ied bukan individu.

    4. Dan kalau dicari-cari dalil-dalil baik dari nash-nash Al-Qur’an dan Hadits-hadits dan juga dalil ‘aqli (science) antara ru’yah dan hisab sama-sama kuat. Dan sebenarnya tidak akan ada perselisihan antara nash dan sciences dalam masalah hilal ini sebab obyeknya jelas dan satu.
    —end quote—

    Dari 4 hal di atas, nomor 4 perlu dikritisi sbb:
    ru’yah adalah dalil naqli (dari as-sunnah), sedangkan hisab adalah dalil ‘aqli. Setahu saya, dalil ‘aqli hanya boleh dipakai ketika tidak ada dalil naqli.

    Dalam kasus ini (penentuan 1 Syawal) karena sudah ada dalil naqli, maka tidak boleh lagi pakai dalil ‘aqli.

    Jika dikatakan : “tidak akan ada perselisihan antara nash dan sciences dalam masalah hilal ini sebab obyeknya jelas dan satu” maka ini pun kurang tepat, sebab toh nyatanya hasilnya sering beda. Walaupun objeknya satu, jika cara “melihat” nya beda, yang satu pakai mata kepala, yang lain pakai otak, maka hasilnya bisa beda (dan sering terbukti).

    Akhirnya, jika kita perhatikan semua hal di atas (point 1 sampai 3 dan ditambah koreksi di point 4), insya Allah tidak akan terjadi kerancuan dalam masalah ini. Wallahu a’lam.

  21. Hendar,
    Karena yg diatas itu hasil diskusi dengan sahabat yang ahli tentang “ayat” ya aku ngikut saja.
    Idenya hanyalah apakah mungkin menyatukan Islam dengan logika scientifik ? Ya salah satunya dengan hisab-ru’yat global lah.
    Setahuku Muslim Amerika dan Eropa sudah melakukan hal ini. Tanpa harus repot-repot berargumentasi dengan “lempar-lemparan ayat”.
    Apakah ini akan menyeleseikan semua permasalahan ? Jawabku akan tegas TIDAKS, but … this is clearly another step foreward.

  22. Pak dhe inilah tulisan cerdas yang sebenarnya saya tunggu-tunggu keluar dari para petinggi di NU dan Muhammadiyah. Iedul Fithri yang sama sesuai keputusan pemerintah. Mudah-mudahan ulama-ulama di NU, Muhammadiyah,Persis dll ormas Islam, menjadi orang pandai dan meninggalkan taklid organisasi yang membuat bodoh bangsa Indonesia

Leave a Reply