Meramal Gempa #1 – Mission ImPossible

18

earthquake.jpgWalaupun sudah tahu bahwa gempa itu tidak membunuh tetapi bangunan buruklah yang membunuh, tapi syapa sih yang tidak takut gempa ?. Dan ketakutan ini bersumber dari banyak hal tentunya, bisa karena takut kehilangan, takut sakit, takut mati dll. Namun ketakutan sendiri dapat berasal dari ketidak-tahuan atau juga takut karena memang tahu.

πŸ™ “Duh Pakdhe, ndak usah pilosopis gitu, jadi sebenarnya gempa itu bisa diramal ngga sih ?

Meramal atau lebih enaknya disebut prediksi, khususnya untuk prediksi gempa ada tiga aspek harus ada. Ketiga aspek itu adalah sebagai berikut :

  • Dimana tempatnya. Mencakup area yang cukup sempit
  • Seberapa besar kekuatannya. Dalam skala gempa tertentu
  • Kapan terjadinya. Dalam rentang waktu yang memadai

Ketiga aspek ini harus secara spesifik terpenuhi. Sehingga kalau ada yang mengatakan dalam bulan depan akan ada gempa di Jawa dengan kekuatan diatas 3 SR …. itu si Gemblung Thole aja juga bisa πŸ˜›

Kalau kita belajar ilmu biologi tentunya ada ilmu taksonomi, nah kalau peramalan kita juga tentunya bisa juga mencoba dengan membagi-bagi supaya mudah dimengerti ya.

Peramalan gempa :

  1. Non ilmiah

    Misalnya ramalan dukun atau psychic. Metode mboh aku ngga tahu tetapi yang jelas ada yang mencoba meramal dan memberitahukan ke orang lain. Keakurasian dan lainnya silahkan disimak sendiri πŸ˜›

  2. Semi ilmiah

    Ini seringkali berhubungan dengan perilaku alam yang aneh. Misal binatang yang dikatakan punya indera khusus. Namun lucunya kenapa tidak terjadi pada gempa susulan. Bukankah gempa susulan juga memiliki mekanisme yang sama ? hanya ukuran kekuatannya lebih kecil.

  3. Ilmiah

    Ciri khas dari metode ilmiah ini adalah dapat dipelajari oleh siapa saja. Apabila memerlukan alat, maka alat tersebut semestinya dapat di’indera’ oleh siapa saja, misal pengukuran dengan meteran atau alat ukur. Berdasarkan pengukuran serta metode fisis (parameter fisika).

Wah untuk yang nomer satu dan nomer dua silahkan ditanyakan ke yang bersangkutan. Barangkali metode-metodenya justru lebih canggih ya silahkan saja memakai dua metode paling atas itu. Tapi kita coba melihat satu sisi termudah saja yaitu dengan cara ilmiah.

πŸ™ “Kenapa termudah pakdhe ?”
πŸ˜€ “Iya thole karena cara ini dapat dipelajari di sekolahan, dan siapa saja boleh mempelajarinya”

Complex vs Complicated

Kompleks (mencakup banyak aspek) atau komplikated (membingungkan).

simple.jpg Kejadian gempa apabila diplot dalam skala waktu digambarkan secara sederhana seperti disamping ini. Gempa yang sederhana akan mengalami perulangan dalam selang waktu yang konstant. Menurut Kanamori dan Brodsky (2001), gempa yang sederhana (simple) merupakan perulangan penumpukan regangan (stress) yang apabila melampaui kekuatan penahannya maka akan terjadi pelepasan regangan dalam bentuk gempa. Segera setelah gempa regangannya turun. Namun karena gerakan tektonik yang menyebabkannya masih terus berjalan, maka gempa akan terus-menerus terjadi secara berulang. Apabila semuanya sederhana saja, maka kekuatannya juga tetap, pemicunya hanyalah akibat kekuatan penahannya yang selalu saja sama. Predisksinya tentunya mudah, kita hanya memerlukan pengukuran secara berulang-ulang secara sequential atau kronologis saja.

πŸ™ “Lah itu, gempa ternyata mudah diramal donk Pakdhe?”
πŸ˜€ “Sayang sekali … model
gempa itu tidak ada yang sesederhana seperti diatas”

komplikated.jpgSekarang seandainya kekuatannya berubah-ubah sepanjang masa, misalnya yang satu masih ada gunung apinya, namun berikutnya gunung apinya tidur. Sehingga gangguan-gangguan aktifitas gunungapinya tidak ada. Juga seandainya suatu saat batuan penahannya hancur oleh gempa sebelumnya, maka kekuatan penahannya juga berubah segera setelah gempa terjadi.

Untuk satu segment gempa saja, barangkali model diatas dapat diamati seandainya semua faktor-faktor itu terukur. Misal kekuatan regangannya diketahui dengan GPS, kecepatan plate tektoniknya diketahui, juga jenis batuannya diketahui oleh geologist.

simple_complikated.jpg

Namun yang mungkin paling sederhana dari model gempa hanyalah seperti yang disebelah kiri ini. Yaitu gabungan beberapa segment yang saling berdampingan dengan memilki karakter yang sama. Model inipun sangat jarang dijumpai di alam. Bayangkan saja seandainya ada bulan yang kita tahu dapat menjadi salah satu trigger dalam terlepasnya stress ini.

πŸ™ “Pakdhe lah wong komplikated kok paling sederhana?”
πŸ˜€ “Lah kalau masih bisa dimodelkan dengan baik itu artinya sederhana. Lah ini modelnya aja ngga tahu, je”

interaksi-lokal-global.jpg

Lewis menggambarkan bagaimana interaksi lokal, dalam hal ini faktor-faktor yang ada dalam segment itu sendiri dan sekitarnya. Sedangkan secara global terjadi interaksi yang terus berkembang dan berubah-ubah. Bayangkan saja kalau rumus yang sudah diketemukan harus diubah karena misalnya seperti yang kita tahu saat ini sedang terjadi pemanasan global.

Jadi kita sekarang mengetahui bahwa terjadinya gempa itu tidak sederhana. Sangat kompleks bahkan sangat membingungkan, ini berdasarkan pengetahuan manusia hingga kini. Ingat ya, ilmu plate tektonik itu juga baru diketahui limapuluh tahun yang lalu. Sebelumnya, ya tentusaja presiden Amerika-pun bingung dengan kejadian gempa. Tapi manusia terus saja berusaha “meramal” atau mempredisksi kapan gempa itu “akan” terjadi.

Secara ilmiah ada beberapa metode peramalan gempa antara lain :

  • Data historis gempa masa lalu. Historical data (Statistical or cyclical analysis)

Ini cara paling mudah untuk sebuah kejadian yang sering terjadi dan diyakini akibat sebuah siklus. Seringkali kita mendengar adanya hujan lima tahunan, banjir seratus tahunan dsb. Demikian juga dengan gempa. Namun gempa ini sangat unik karena fenomena “triggering”nya selain faktor perubahan yang smooth berupa penumpukan tenaga juga ada faktor pemicu yang bersifat mendadak. Usaha lain adalah dengan metode fraktal. Cara ini dhulu pernah dilakukan oleh Dr Sigit Sukmono (dari ITB) yang mengamati karakteristik fraktal dari sesar Sumatra dan memprediksikan gempa. Cara Pak Sigit pernah dianggap mendekati kebenaran ketika memprediksi gempa di Sumatra tahun 2000.

Secara mudah metode ini melihat “perulangan” gempa. Banyak sekali metodenya. Namun salah satu kendala adalah catatan gempa yang dimiliki manusia ini hanyalah catatan sejak 1960. Dimana pencatatan sudah mulai dilakukan untuk lokasi, kedalaman, serta besaran kekuatannya. Sebelum itu catatannya tidak lengkap. Misal gempa tahun 1867 yang merusak Taman Sari diselatan Jogja itu diperkirakan berkekuatan 8 MW, tetapi kita tidak tahu dimana pusat gempanya.

  • Pengukuran langsung Direct measurement

  • Pengukuran dan pengamatan tidak langsung

Nah, yang kedua dan ketiga ini dilanjutkan besok, ya supaya ngga bosen bacanya πŸ˜›

Bacaan terkait :

18 COMMENTS

  1. Gempa tidak bisa diramal oleh manusia, itu rahasia yang kuasa,mariktajahui yang berbentuk maksiat dan kemungkaran,bertobatlah wahai manusia ,Allah akan melindungi hamba-hambanya yang bertobat,dan kita selalu berdoa agar terjauh dan terlindung dari bencana.

  2. Lha wong Gempa kok repot..
    wis lah…jenenge wong urip yoo kudune eling…
    ojo dumeh..urip ora suwe..yo tho pakde…
    gempa ki anggep wae..koyo hiburan masal…
    yo koyo goyang inul..opo goyang patah2…hahaha
    sorry pakde..komentare rodo ra mutu…
    salam kenal pakde…

  3. biasanya gempa itu diumumkan jarang sekali diramalkan..atau diprediksi..ditipi2 kan sering ada tuh..telah terjadi gempa dimana..dengan kekuatan bla bla bla..kedalaman bla bla…selalu seperti itu…trus diembel2 berpotensi tsunami…trus diralat lagi karena ndak jadi …trus ndak pernh ada ya..pengumuman akan terjadi gempa…hehehe emang bisa yaa..ndak kan? trus kalau gitu…ahli gempa tugas nya apa? ngumumin klo ada gempa…gitu aja…
    gimana menurut anda tentang adanya awan gempa…awan tegak lurus…siapa yang mau bales komen saya..monggo….

  4. Pakde, suatu metode disebut ilmiah bila sdh bisa dibuktikan secara experimental. Jadi mungkin yg saat ini dianggap “non ilmiah” ataupun “semi ilmiah” & hypothetis, nanti bila sdh difahami lengkap asnek2nya & indikator serta parameternya, kan tentunya bisa jadi “ilmiah”. Betul kan pakde? Contohnya spt perilaku binatang pra-gempa, atau munculnya “awan gempa” spt yg lagi dipelajari ilmuwan china.mungkin bisa “ngilmiah” nantinya.

  5. Pakde, tolong terusin dg bab berikutnya, baru bisa lengkap memahaminya. Cuma yg blm jelas buat saya, selain 3 faktor diatas, indikator2 apa saja yg bisa dipakai utk bikin “prakiraan” gempa?
    Tks, salam.

  6. gue ga setuju ma isadikin
    yang nama nya gempa itu bukan hasil prediksi ato simulasi model bla3x.
    plis deh, ini ga bisa di prediksi melalui data sample. soalnya nyang namanya gempa itu ga berkorelasi satu dgn yang lainnya, maka nya lo ga mo nunjukin mukamu kan, gara gara malu ngasi ide tolol.

  7. Pak Rovicky, menurut saya kalau kita punya super komputer yang cukup kuat untuk memodelkan tanah dan pergerakan lempeng bumi, kita bisa mendapatkan estimasi keadaan stress tanah dan batas kritikalnya sebelum energy release (gempa). jadi saya setuju sekali kalau gempa bisa diramalkan. cuma masalah waktu saja sampai kita dapat komputer yang cukup kuat dengan harga yang terjangkau dan memiliki data statistik yang cukup komplit untuk menjalankan simulasi.

  8. Yayayaya… perbedaan pendapatan adalah berkah… http://www.puthzel.com, nah bagi sebagian orang yang mempercayai ramalan yach silakan, coba bawa se pack kartu ke Mama Laurent atau Dedy Corbuzier.. trus minta ramalin “seandainya saya membuka dan memilih satu kartu, apa kartu yang saya ambil?”

    Nah coba tantang seperti itu…
    Menyambung masalah gempa.. Ini adalah alam.. para ilmuwan dapat MEMPREDIKSI tempat2 mana yang berpotensi gempa namun TIDAK TAHU kapan gempa akan terjadi…

    Semoga membantu…:)

  9. huhu.. agak aneh sebetulnya untuk menanggapi masalah ramal-meramal.. pengen tapi..

    meramal hanya dari memodelkan perilaku data historis serasa melihat orang ‘saat akan’ tertabrak.. seandainya jadi superman yang bisa bergerak lebih cepat dari yang menabrak.. akhirnya jadi ‘seandainya’ πŸ˜€

    kalau meramal dengan memodelkan secara sebab-akibat tentunya terbatas di kelengkapan dan signifikansi faktor-faktor yang menyebabkan gempa yang serba kurang (mis. kurang akurat data sensornya atau kurang akurat model sebab-akibat yang digunakan, dan kurang yang lainnya)..

    namanya juga tebak-tebakan.. walaupun kalau kalah ternyata mengorbankan nyawa manusia.. namanya juga usaha.. lebih baik tidak mencari siapa yang salah..

    *nungguin lanjutan dongengnya*

  10. BMG kita kok nggak uptodate yah, tadi malem ada M6.4 dikepulauan mentawai tapi nggak diupdate..
    kadang pemerintah kita cendrung nutup nutupin deh… ini masalah nyawa mending blak-blakan jadi warga bersiap-siap…
    mungkin maksud pemerintah baik, biar warga nggak panik… tapi kita terkesan takabur juga membantah ilmuwan luar.. mungkin maksud mereka blak blakan karna nyuruh kita siap2… semoga aja yang diramalkan nggak akan terjadi…..
    semoga aja prediksi mereka salah, eh kita bilang prediksi mereka ‘menyesatkan’…. duh takabur…

  11. Kita tinggal di Indonesia suatu daerah rawan gempa. Jadi gempa mesti akan datang. Gempa itu seperti KEMATIAN ( MAUT) gak bisa diramal kapan datangnya, oleh karenannya yang paling baik adalah menyiapkan diri sebaik-baiknya menghadapinya bila sewaktu-waktu gempa menerjang daerah tempat kita berada, seperti kita menghadapi kematian, bersiap-siap sedini mungkin, sebab kita tak mungkin menghindarinya.

  12. ternyata sulit ya..
    Klo gak salah saya pernah baca buku tentang Peramalan Gempa oleh ilmuan Fisika, bukunya dah lama.
    Beliau memakai prinsip klo 2 benda saling menekan akan timbul gaya. Di buku itu gaya ini yang beliau teliti.

Leave a Reply