Gempa susulan dan yang terpicu gempa

21

earthquake.jpgSeringkali kita mendengar adanya gempa utama dan gempa susulan. Pada prinsipnya kedua jenis gempa ini sama mekanismenya, yaitu adanya penumpukan stress atau regangan dalam waktu cukup lama yang akhirnya terlepaskan dalam waktu singkaat.

πŸ™ “Aku kalau sedang stress juga suka marah-marah looh Pakdhe ?, tapi justru karena tumpukannya kurang, pakdhe. Soale kirimanku untuk bayar kost belum dateng-dateng “ πŸ˜›

gempa-tsunami.jpgSebelah kiri ini merupakan penayangan sekali lagi gambar yang pernah ada disini sebelumnya, yaitu tentang pelepasan energi yang tertumpuk-tumpuk akibat gerakan tektonik. Perbesar dengan mengeklik gambar itu, dan perhatikan bahwa gambar 1-3 itu dapat memakan waktu puluhan hingga ratusan tahun. Sedangkan gambar 4-6 terjadi hanya dalam waktu menit saja.

Kali ini kita lihat lebih detil tepat pada bidang patahan atau pada bidang gempa. Sudah tahu, kan, kalau gempa tektonik itu bukanlah sebuah ledakan tetapi pergeseran dua tubuh batuan ?

Patahan naik/turun dan patahan geser.

Yang disebelah kanan ini sebuah diagram balok yang memperlihatkan sebuah bidang patahan yang terbentuk pada saat gempa. Bidang gempa ini sering disebut “rupture zone” zona hancuran. Bidang ini bisa saja berupa bidang patahan yang ada sebelumnya, namun tidak menutup kemungkinan bidang ini benar-benar dibentuk baru ketika terjadi gempa. Jadi batuan memang benar-benar terpatahkan akibat tekanan gerak-gerak tektonik. Pada kenyataannya bidang ini tidak harus satu bidang licin tetapi dapat juga berupa zona yang terdiri bidang-bidang lainnya. Bidang ini dapat dihasilkan oleh pergerakan vertikal seperti yang ditengah, ataupun karena pergerakan lateral.

πŸ™ “Aku tahu Pakdhe, yang gerakan vertikal disebut patahan naik yang mungkin membentuk tsunami, trus yang gerakannya mendatar disebut poatahan mendatar kalau kata kawanku yang geolog disebut patahan slip fault … iya kan dhe ?”
πŸ˜€ “Wah kowe ki ndisiki aku. Ya wis, thole bener itu. Trus kenopo yang satu tidak membentuk tsunami ?
πŸ™ “Ya karena tidak ada dislokasi atau perpindahan masa batuan secra vertikal … hehehhe aku tadi udah baca draftnya sebelum diketik disini kok
πŸ˜€ “Hust ….!

Bidang patahan atau rupture zone.

Yang berwarna merah jambu dalam diagram itu merupakan sebuah bidang patahan (rupture zone). Tanda panah menunjukkan arah gerakan dari tubuh batuan ini. Sekarang perhatikan lagi bidang warna merah jambu itu.

Untuk mempermudah penggambaran serta melihat detil apa yang terjadi dalam bidang patahan atau rupture zone ini, maka dibuat gambar yang lebih sederhana lagi. Gambar selanjutnya hanya menunjukkan bidang patahannya saja. Perhatikan garis merah serta garis biru yang ada disebelah kanan-kiri ini. Garis merah mewakili bagian diatas yang terangkat. Garis biru mewakili yang dibawah.

Tentu saja dalam realitas bidangnya ini tidak berupa bidang yang lurus tetapi dapat berupa lengkungan. Seperti yang terlihat di sebelah kanan ini.

Gempa utama akan menyebabkan pergeseran terbesar dengan ditandai terbentuknya bidang baru paling besar. Bidang berwarna merah jambu ini merupakan bidang gempa utama, atau bidang yang terbentuk akibat gempa utama. Ketika gempa besar terjadi tentunya kesetimbangan akan terganggu. Terganggunya kesetimbangan ini akan menyebabkan tirik-titik kritis lainnya ikut terpicu. Dalam gambar diatas terlihat akhirnya muncul bidang-bidang lain yang bergetar sebagai usaha alam untuk menduduki kesetimbangan barunya. Bidang warna kuning terbentuk sebagai gempa-gempa susulan. Munculnya gempa susulan inipun akhirnya memicu lokasi-lokasi untuk juga mengikuti perubahan kesetimbangan yang terjadi, dan munculan susulan-susulan berikutnya sampai suatu saat terjadi kesetimbangan baru di segment itu.

Apabila digambarkan urutan serta kekuatan gempa-gempa ini, maka akan terlihat seperti apa yang kita lihat dalam plot gempa utama dan gempa susulan di atas ini. Gempa utama selalu memiliki kekuatan yang terbesar yang diikuti oleh gempa-gempa susulan yang berkekuatan kecil.

Nah sekarang kita bandingkan gempa Aceh dengan gempa Bengkulu-Mentawai. Kedua gempa ini memiliki pola yang berbeda antara gempa utama dengan gempa susulannya. Gempa aceh memiliki kekuatan 9.0 SR (ini catatan awal USGS waktu itu), yang diikuti oleh gempa-gempa lain yang kekuatannya seper seratus dari gempa sebelumnya. Ingat kekuatan gempa ini angkanya memiliki arti logaritmik. Artinya gempa skala 9.0 itu sama dengan 100 kali gempa skala 7.0 dst.

update-17sept07.jpg

update-17sept07-p.jpg

Sedangkan gempa Bengkulu-Mentawai, terlihat ada pola yang sedkit berbeda yang menunjukkan bahwa gempa itu (setidaknya) memiliki dua gempa utama. Bahkan seandinya dilihat lokasi-lokasinya juga terlihat bahwa gempa-gempa besarnya berada pada tempat yang berjauhan (klik gambarnya untuk memperbesar).

Gempa memicu gempa

Kalau kita lihat sepertinya gempa Bengkulu ini telah memicu gempa sebelahnya (segment gempa Mentawai). Dengan mekanisme yang hampir sama dengan pembentukan atau terjadinya gempa susulan, maka gempa Mentawai juga terganggu kesetimbangannya akibat gempa di Bengkulu seperti terlihat digambar ini.

πŸ™ “Kalau Gempa Mentawai terpicu oleh Gempa Bengkulu lantas apa yang memicu Gempa Bengkulu Pakdhe ?”
πŸ˜€ “Wah trus ra sabar kowe ya

Pemicu gempa

Gempa Bengkulu sangat mungkin terpicu oleh sebuah perubahan kecil pada saat itu. Selain disebabkan oleh perubahan kondisi kesetimbangan akibat gempa disampingnya. Perubahan-perubahan kecil ini dapat saja berupa getaran-getaran lain disebelahnya, atau aktifitas endogen lainnya. Misalnya aktifitas gunung api.

Sangat mungkin gerakan bulan yang pada saat Gempa Bengkulu itu tepat pada bulan mati atau awal bulan Ramadhan. Dibawah ini gambaran bagaimana frekuensi gempa-gempa dihubungkan dengan peredaran bulan.
Lantas apa yg harus dilakukan.
Penelitian lain yg menunjukkan dimana daerah-daerah β€œmatang” untuk terjadinya gempa perlu diketahui. Dan melihat kondisi pasang surut bukan hal sia-sia, namun tidak perlu takut apalagi trus fobia terhadap bulan purnama. Hanya perlu waspada pada saat bulan purnama dan awal bulan.

Jaman dahulu selalu ada upacara adat ketika bulan purnama, juga ada yang menjalankan ritual ketika terjadi gerhana, karena gerhana itu selalu terjadi pada pertengahan bulan. Hal ini mungkin dipakai oleh para nenek moyang dahulu itu sebagai pertanda untuk selalu menjaga kewaspadaan kita.

πŸ™ “Lah trus pripun dhe ?”
πŸ˜€ “Yo ra piya-piye thole. Yang penting kita tahu bahwa ada mekanisme tertentu terbentuknya atau terjadinya gempa-gempa ini”

Jadi satu hal yang sangat penting yang harus dipelajari dalam mempelajari gempa, yaitu mengikuti terus perkembangannya. Hal ini disebabkan setiap gempa memiliki sifat-sifat yang unik dalam pembentukan dan perilakunya. Pengamatan perilaku gempa-gempa di Indonesia ini akan memberikan pengetahuan baru ke kita untuk mengerti karakter gempa-gempa yang ada. Sayang sekali kan, kalau gempa-gempa ini tidak diikuti terus, dan ini yang semestinya dilakukan oleh peneliti gempa dan hasilnya disebarkan sebagai pembelajaran bersama.

πŸ™ “Leres pakdhe, kalau saja setiap gerak langkahnya diikuti mungkin kita jadi mengerti bagaimana tindak-tanduk gemnpa-gempa ini ya ?

Bacaan terkait :

21 COMMENTS

  1. Mas RDP,

    Aku mau nanya dari kacamata orang awam, kan di website2 maupun TV sudah ada informasi mengenai kemungkinan gempa 8-9 skala richter di dataran Sumatra khususnya Padang.
    Kira2 kalo pindah, lebih aman ke Batam, Medan atau Bogor ya …?
    Aku ngerti karena prediksi epicentrumnya mungkin tidak akan bisa tepat sekaligus waktunya, cuma kalo terjadi akan sedahsyat atau mungkin lebih dari Aceh.

    Aku punya mertua yg mau pindah dari Padang walau beliau memang Alhamdulillah selamat dari bencana kemarin ini.

    Wassalam,
    AAL

  2. pakdhe, gambare koq apix-apix ki angsale saking pundi ta dhe…………..

    –> Haiyak, Nggambar sendiri aja pakai powerpoint juga bisa kok πŸ˜›

  3. Bagaimana kalu bangunannya dibuat bukan pake beton tapi kristal silikon . . .
    Bikin bangunan yang flexibel . . .
    Manfaatkan carbon nanotubes,,pada saat terjadi gempa
    nanotubes bekerja mempertahankan bangunan dg cara melawan dan membalikkan efek getaran gempa(meredam) sehingga kemungkinan bangunan runtuh atau ambruk bisa
    d kurangi bahkan g terjadi . . .
    Cuman ide doank . . .

  4. Pras, saya setuju banget sama idenya.. tolong juga dong kita campaign ini besar2an ..
    jepang aja yg kena bencana mulu tapi mereka tegar2 aja…
    katanya untuk ngurangi destruction dari tsunami harus ditanami mangrove gitu disepanjang pantai….
    sedih nih… kita kaya’nya nggak begitu peduli soal value human life….
    ntar larinya saling nyalah2in..
    koran disini juga nulis titlenya nyebelin.. ‘mega quake, is Indonesia ready??’ insensitive banget media… emang pertandingan pake acara ready.. tapi intropeksi diri kita harus ready ama penanggulangannya… pemerintaaahhh tolongg dong…. usul diatas bagus..
    memang belom kerasa kalo belom anda yg ngalaminya…

    secara aku bukan ahli bangunan… bangunan yg ‘ramah’ gempa atau bencana itu seperti apa??

  5. Wuah Mas Rovicky.. heubaat tenan dongengannya jadi ingat waktu kuliah dulu diajarin ama mas rovicky. Masih inget saya nggak? Abdulloh, mas… temennya ipik fisika 95, sempet dulu aktif di milis ui bareng mas rovicky. Btw, coba kunjungi situsku http://www.jobitcom.com … eh boleh nggak tukeran link ama mas rovicky?

  6. Pakde, konon dlm bbrp puluh tahun terakhir ini terjadi trend pertambahan frekuensi gempa dan juga magnitudenya. Kebanyakan korban bukan krn gempanya, tapi kejatuhan runtuhan bangunan. Apa tidak ada upaya mitigasi bencana secara komprehensif, misalnya kementrian RISTEK mengajak IAGI dan ahli2 konstruksi utk menentukan standardisasi disain bangunan, bahan2 bangunan & lokasi bangunan, trus disebarluaskan (edukasi) ke masyarakat. Jadi tiap org yg mau bikin bangunan sdh punya mindset ttg “bagaimana mewujudkan kewaspadaan”.
    Juga ttg kemungkinan tsunami, mbok ya dilakukan hal yg sama spt tadi, perlu edukasi langsung ke masyarakat, mungkin wilayah pantai rawan tsunami ditanami bakau atau cemara udang yang konon dapat mengurangi secara drastis energi gelombang tsunami nya. Walaupun tetep kebanjiran, tapi energi sdh sangat berkurang.
    Maturnuwun sanget kalau pakde dan teman2 yg punya keahlian mau mempelopori upaya2 tadi. Salam.

  7. Hmmm masuk akal juga gravitasi bulan-bumi sebagai pemicu gempa. Kenapa tak terpikirkan dari dulu ya? Saya pikir bulan hanya mempengaruhi tidal wave saja. Tengkyu pak dhe atas pencerahannya. πŸ™‚

  8. Sebagai Head of CMRT (Crisis Management Respond Team) pada sebuah perusahaan ritel go-public, sudah lama kami mengintip tulisan-tulisan di blog ini karena nyata benar bermanfaat.

    Tidak saja memberi wawasan, tapi juga mencerahkan orang awam. Terimakasih, dan teruslah memantau Indonesia ini.

    Salam,
    Agung MSG
    http://www.Indonesia-Aman.Info

  9. Looh Pasang surut itu kan mempengaruhi dan dipengaruhi gravitasi ta ?
    Nah stress ini kan salah satunya “melawan” bebannya sendiri (tentunya ada faktor gravitasi disini). Yang tentusaja gravitasi dibumi dipengaruhi oleh gravitasi bulan.
    Jadi ya emang peredaran bulanlah yang mungkin menjadi pemicu gempa (terutama Gempa Bengkulu yang kemarin ini).

  10. Pakde, jadi bulan purnama itu sebenarnya hanya mempengaruhi pasang surut air laut saja dan tidak memberikan andil sebagai pemicu gempa nggih?
    Saya dengar di acara Naked Science, ada yang punya teori kalau bulan purnama bisa menjadi salah satu hal yang memicu gempa bumi. Itu masuk akal apa mboten pakde?
    Nuwun

  11. Jadi satu hal yang sangat penting yang harus dipelajari dalam mempelajari gempa, yaitu mengikuti terus perkembangannya

    -saya akan mengikutinya terus perkembangannya, melalui dongeng geologi ini, maturnuwun pak-

  12. Mengejar ekor gempa adalah perkara pelik, namun mempersiapkan masyarakat untuk menerima fakta adalah perkara yang tak kalah ribet. Kebanyakan orang di republik ini menanggapi dengan fobia :(.

    Mas RDP lanjut nulisnya, biar bangsa ini bisa sedikit berubah menjadi waspada. Mudik ga Mas ?

Leave a Reply