Renungan Gempa di bulan Ramadhan

9

earthquake.jpgAku terkesima dengan tulisan press release IAGI dibawah ini. Juga berita di koran yang menyebutkan potensi-potensi gempa. Ya aku masih menyatakan potensi bukan rawan gempa, karena aku ingin tahu apa yang dapat dilakukan oleh geoscientist untuk melihat dan mengamati serta mengakali supaya tetap survive di “lingkungan panas” ini
Sebagai geoscientist sayapun sadar bahwa Indonesia berada pada sabuk bencana, namun apakah saya dan kawan-kawan sebagai geosaintis hanya bertugas untuk menahan/”ngadang-adangi” (apa ya bhasa Indonesianya ?) setiap rencana konstruksi sipil.

Sayapun sadar dengan pasti bahwa bencana gempa sebesar ini tidak main-main. Apakah sudah cukup puas bagi geosaintis yang telah mampu (misalnya) menyatakan bahwa Jawa berpotensi gempa M9 tidak lama lagi. Sumatera tidak jauh dari kemungkinan gempa besar, trus Patahan Palu Koro masih aktif, disamping juga ancaman tsunami akibat longsoran bawah laut mungkin terjadi di Selat Makassar. Pegunungan Papua pun rawan longsor akibat gempa. Muria tidak layak untuk PLTN. Jembatan Suramadu tidak layak tanpa kajibumi …. Whaddduh kok isinya hal buruk tanpa solusi, tanpa sugesti.

tsunami.jpgLah lantas, bagaimana kita harus “ngakali” atau hidup dengan ancaman seperti itu ? Apakah itu brarti Jawa tidak layak huni untuk dimasa depan, Apakah Sumatera harus ditinggalkan ? Disana konstruksi tidak ada yg mampu menandingi hingga berusia lebih dari 30 tahun misalnya ?
Tentu tidak, kan ….

gunungapi.jpgKarena kenyataannya justru Jawa dan Sumatera hingga kini menjadi tempat paling padat penduduknya di Indonesia. Artinya proses survival telah terjadi secara alami di sini. Dan pasti ada natural resources (sumber daya alam) yang mendukungnya selama ini.

Untuk dapat lebih maju, Pe-eR geoscientis bukan hanya memperkirakan bencana (kapan, dimana, dan seberapa besar). Dan juga bukan hanya mengajukan keberatan (bukan protes sih) menolak PLTN karena berhasil memeperkirakan bencana disitu, juga bukan sekedar menolak pembangunan gedung-gedung tinggi di kota besar, maupun jembatan penghubung negeri kepulauan ini. Bukan cuma mencegah penambangan pasir ataupun usaha ekstraksi kekayaan bumi dan tanah-air, termasuk pengeboran dan pengambilan hasil tambang misalnya. Toh sudah jelas juga, bahwa usaha manusia bukan berarti selalu menantang alam. Tapi sudah sewajarnya geosaintis dituntut untuk mampu menggiring, mengarahkan atau mengajak agar masyarakat Indonesia ( termasuk di Jawa dan Sumatera) masih mau dan mampu “hidup dan bertahan” dalam lingkungan panas ini, kan?

dream.gif

“Not fight to it, but how we adapt to it”

Lagi bermimpi membuat gedung Twin Tower tahan gempa dan pembangkit listrik yang memiliki peringatan dini bila terjadi longsoran dan tsunami lengkap dengan auto-shutdown.

9 COMMENTS

  1. soal PLTN yg banyak mengundang protes…
    yg jelas sudah banyak lsm dalam dan luar negeri yg mengompori hal itu.
    bahkan sudah byk dana yg mengucur entah dari mana untuk mengerakkan aksi tersebut.
    saya tdk tahu persis manfaat dan ruginya pembangunan PLTN itu. klalau bermanfaat kenapa tidak. kalau merugikan kenapa dipaksakan.
    dengan adanya intrik intrik politik disana jadi bingung deh…yang saya tahu tanjung jati terletak di wilayah jepara adalah daratan yg menjorok jauh ke laut, disana dilindungi oleh gunung muria yg menjadi penghalang dan pemisah wilayah tersebut dari kota jepara, kudus dan pati. disana penduduknya masih jarang dan merupakan perkebunan jati dan karet alamnya indah bangeet.

  2. ‘Lagi bermimpi membuat gedung Twin Tower tahan gempa dan pembangkit listrik yang memiliki peringatan dini bila terjadi longsoran dan tsunami lengkap dengan auto-shutdown.’

    orang dipadang udah ada yg stress sama gempa..jadi pusing2 gitu ngrasa gempa mulu… aku juga pernah kena fx gini waktu march 2005 dulu, waktu nias… efeknya kita jadi ngrasa pusing2 gitu…giddiness deh
    buat ngibur diri, ciptain juga alat yg bisa ngebekuin tsunami jadi es waktu nyiprat… kaya’ di film the incredible atau fantastic four….khayalan orang lagi stress nih….

  3. Usul pakde. Koq spt nya lbh manfaat buat masyarakat, kalau IAGI duduk sama2 dg ahli2 konstruksi (HAKI?), buat rancangan disain rumah/bangunan ekonomis yg tahan gempa, atau bahan2 bangunan yg bisa minimalkan celaka. Korban kebanyakan kan krn kena runtuhan bangunan, bukan krn goyangan gempanya.
    Sedangkan wilayah pantai yg berpotensi kena tsunami, selain penataan tata ruangnya, juga penanaman pohon bakau atau kalau tdk dg pohon cemara udang, yg konon dpt meredusir kekuatan “dobrakan” gelombang tsunami. Walaupun tetap banjir, tapi daya rusaknya akan menurun drastis.
    Ideal sekali “forum solusi” spt diatas disponsori oleh Kementerian Ristek. Kan manfaatnya langsung bisa dirasakan masyarakat. Tks pakde, salam.

  4. Baiknya memamng jangan bangun dulu PLTN, soalnya masih ada tenaga Panas Bumi..ya kan ? katanya jawa ma sumatra panas kan…nah kan banyak G berapi di jawa…hehehe..tinggal di borr..trus kasih air..uapnya suruh nggerakin turbin..jadilah listrik..trus katanya di jawa potensi panas bumi oke banget…ya udah manfaatin aja dulu yang potensinya gede…untuk memimalisir korban sudah saat nya kita bikin rumah2 yang aman dari gempa…kita contoh aja jepang..bikin rumah dari kayu..atau yang kira2 kalu rumah roboh ndak akan bikin patah tulang…
    atau bikin rumah pohon aja…soalnya jarang pohon tumbang gara2 gempa..tapi klo kena angin gimana..hehe
    Kalau gitu masukin dong ke kurikulum pendidikan untuk bagaimana mengahadapi gempa…kasih aja di SD pelajaran tentang Gempa..jadi anak2 akan tahu sejak dini..bagaimana mengahadapi bencana gempa yang datangnya kapan saja…dan tidak bisa diprediksi waktu dan kekuatanya…

Leave a Reply