Awal Ramadhan, Syawal Dan Zulhijjah 1428 H

54

Setiap akan memulai puasa seringkali kita akan “meributkan” soal kapan akan memulai puasa, demikian juga kalau akan mengakhiri bulan puasa memasuki bulan syawal. Bagaimana untuk kegiatan ibadah puasa yang akan dilaksanakan bulan ini ? Mas Ma’rufin Sudibyo yang sering ngutek-ngutek astronomi ini menceriterakan buat pembaca dongengan.

Ini hanya dongengan untuk menambah ilmu perbintangan kita, sehingga tidak hanya ilmu kebumian saja 🙂 . Tanggal-tanggal yang diperkirakan disini perlu diuji oleh ahli hisab dan rukyah tentunya.

Seperti kita tahu bahwa sampai kini belum ada kesepakatan bersama di antara Umat Islam bagaimana awal bulan Hijriyyah dimulai. Secara umum Mas Marufin menyebutkan ada tiga opsi berbeda yang sering dijadikan acuan, yakni :

marufin.jpg1. Keputusan Saudi Arabia

Keputusan Saudi Arabia menjadi faktor penting dalam Ittihad al-Matla’ (hilal global) seperti yang diterapkan oleh negara-negara Timur Tengah dan belakangan diterapkan pula oleh komunitas Muslim di Eropa dan Amerika Utara, dimana bila Saudi Arabia memutuskan untuk memulai bulan Hijriyyah pada suatu hari maka tempat-tempat tersebut juga mengikuti keputusan Saudi Arabia untuk mengawali bulan Hijriyyah pada hari yang sama, terlepas dari masalah apakah hilaal sudah bisa diobservasi atau tidak di tempat-tempat tersebut (baik berdasarkan kriteria Wujudul Hilaal maupun International Lunar Date Line).

Mungkin ada yang masih ingat tulisan tahun lalu yang di dongengkan disini juga tentang hilal global, ketika kita mempermasalahkan kapan akan lebaran ?

Kalender di Saudi Arabia sendiri unik, karena sepenuhnya berdasarkan pada peristiwa konjungsi Bulan-Matahari, bukan pada kemunculan Hilaal (baik dalam perhitungan maupun observasi). Sistem penanggalan Saudi Arabia menggunakan Kriteria Umm al-Qura yang dikreasikan oleh ilmuwan Institute of Astronomical & Geophysical Research di King Abdulaziz City for Science & Technology dengan ketentuan :

  • Satu hari adalah selang waktu sejak Matahari terbenam hingga Matahari terbenam berikutnya.
  • Jika umur Bulan (yakni selisih waktu antara terjadinya konjungsi dengan terbenamnya Matahari di satu tempat) di wilayah Saudi Arabia pada suatu hari adalah lebih dari 12 jam, maka hari pertama bulan Hijriyyah dimulai pada saat Matahari terbenam satu hari Julian (24 jam) sebelumnya.

Saudi Arabia tidak menunjukkan konsistensinya dalam penggunaan kriteria untuk menetapkan awal bulan hijriyyah. Kriteria Umm al-Qura tidak lagi digunakan sejak 1421 H dan digantikan oleh Wujudul Hilaal dengan titik acuan kota Makkah al-Mukarramah. Namun sejak 1427 H kriteria Umm al-Qura digunakan kembali. Kelemahan prinsip ini, selain mengabaikan Wujudul Hilaal, juga menggunakan konsep yang tidak jelas (tidak ada rujukannya secara syar’i).

🙁 “Pakdhe aku kok seneng dengan konsep global ini ya. Sebenernya kalau ini disebut ijtihad kan boleh saja to ?”
:D”memang thole, kalau diseluruh dunia menggunakan hilal global maka dimanapun di belahan dunia ini ada yang bisa”melihat” hilal dapat dipakai sebagai penanggalan global”

2. Kriteria Wujudul Hilaal

Sederhananya Kriteria Wujudul Hilaal adalah kondisi dimana Matahari terbenam lebih dulu dibanding Bulan. Kriteria ini memiliki ketentuan :

  • Satu hari adalah selang waktu sejak Matahari terbenam hingga Matahari terbenam berikutnya.
  • Awal bulan Hijriyyah dimulai jika pada saat Matahari terbenam Bulan baru (bulan sabit) diperhitungkan masih berada di atas horizon barat.

Kriteria Wujudul Hilaal membuat permukaan Bumi ‘dibelah’ menjadi dua bagian oleh garis tinggi nol derajat, yakni garis imajiner yang menghubungkan titik-titik di permukaan Bumi dimana ketinggian Bulan saat itu adalah nol derajat pada saat Matahari terbenam. Kriteria ini adalah kriteria paling sederhana dalam penentuan penanggalan Hijriyyah dan secara teknis tidak sulit karena tersedianya algoritma gerak Bulan dengan tingkat akurasi sangat tinggi. Kelemahannya, prinsip ini tidak berdasar pada teramatinya Hilaal secara aktual baik dengan mata telanjang maupun teleskop/binokular.

🙁 “Pakdhe, dalam masa lalu dimana komunikasi sulit serta ilmu serta teknologi belum berkembang jauh sakjane cara ini paling praktis ya ?”

3. International Lunar Date Line (ILDL)

International Lunar Date Line (ILDL) atau Garis Batas Penanggalan Bulan Internasional pengembangan dari garis tinggi nol derajat, dimana ia menghubungkan titik-titik di permukaan Bumi yang bisa melihat Hilaal (pada interval konfidensi 95 % atau lebih) dengan bantuan teleskop/binokuler dalam kondisi cuaca cerah beberapa saat setelah terbenamnya Matahari. Konsep ILDL adalah sama dengan konsep Garis Batas Tanggal Internasional yang digunakan dalam penanggalan Gregorian (Masehi). Bedanya, jika letak Garis Batas Tanggal Internasional selalu tetap (yakni pada garis bujur 180o), maka letak ILDL selalu berubah-ubah bergantung pada konfigurasi Bulan-Matahari saat itu.

🙁 “Pakdhe menyebutkan angka >95% konfidensi atau keyakinan >95% ini angka 95 nya darimana ya ? Kenapa enggak 85 % gituu”
😀 “Thole banyak hal didunia ini berasal dari usulan yang kemudian menjadi kesepakatan. Lah jaman Nabi dulu ilmu belum sepesat sekarang, makanya ada Ijtihad”

ILDL pertama kali diusulkan oleh Prof. Ilyas (1994) memanfaatkan algoritma modern untuk gerak Bulan yang pertama kali dikembangkan oleh F. Bruin (1977). Ketentuan yang harus ditaati dalam pembuatan ILDL :

  • Jarak sudut/elongasi Bulan-Matahari (aL) harus melebihi batas minimum 7o (Danjon limit) sebagaimana diformulasikan oleh Andre Danjon (1936).
  • Selisih tinggi Bulan-Matahari saat Matahari terbenam (aD) harus melebihi 4o, yakni batas minimum bagi terlihatnya Hilaal sebagaimana diusulkan Prof. Ilyas (1988).

Dalam tulisan ini digunakan ILDL berdasarkan kriteria yang dikembangkan Mohammed Odeh (2005), yang mengandung dua ketentuan :

  • Satu hari adalah selang waktu sejak Matahari terbenam hingga Matahari terbenam berikutnya.
  • Awal bulan Hijriyyah dimulai jika saat Matahari terbenam elemen Bulan memenuhi pertidaksamaan : -0,96 > aD (-0,1018 W3 + 0,7319 W2 6,3226 W + 7,1651) dimana aD : selisih tinggi Bulan-Matahari tanpa memperhitungkan refraksi atmosfer (dalam satuan derajat) dan W : lebar sabit pada kondisi toposentrik (dalam satuan menit busur).

Kelemahan penggunaan garis ILDL adalah terdapatnya zona ketidakpastian sebesar 25o bujur (rata-rata) yang muncul sebagai konsekuensi langsung dari banyaknya variabel yang harus diperhitungkan guna teramatinya Hilaal (Schaefer, 1996).

1. Awal Ramadhan 1428 H

hilal-11sept07.jpg

Gambar 1

 

Kedudukan garis tinggi nol derajat, garis ILDL dan posisi Matahari saat konjungsi terjadi untuk situasi awal Ramadhan 1428 H. Hanya area di sebelah kiri garis putus-putus saja yang memenuhi kriteria Wujudul Hilaal, demikian pula hanya area di sebelah kiri garis biru saja yang memenuhi kriteria Odeh.

Konjungsi Bulan-Matahari terjadi pada tanggal 11 September 2007 pukul 12 : 45 GMT. Di Makkah al-Mukarramah, pada 11 September 2007 itu Matahari terbenam pukul 18 : 25 waktu setempat dengan umur Bulan 2 jam 40 menit (kurang dari 12 jam). Sementara di Indonesia untuk tanggal yang sama, konjungsi justru baru terjadi setelah maghrib.

Posisi Matahari saat konjungsi berada di atas wilayah Afrika barat dan terjadi Gerhana Matahari Sebagian (Parsial) yang hanya bisa disaksikan di Amerika Selatan dan Antartika. Wilayah yang memenuhi kriteria Wujudul Hilaal adalah sebagian Afrika (selatan dan barat), sebagian besar Amerika (seluruh Amerika Selatan dan Amerika Utara kecuali Kanada) dan Pasifik. Sementara wilayah yang memenuhi garis ILDL dari kriteria Odeh hanyalah sebagian wilayah Pasifik.

Sehingga :

  • Saudi Arabia akan memulai puasa Ramadhan hari pertamanya pada tanggal 13 September 2007 karena baik kriteria Umm al-Qura maupun Wujudul Hilaal tidak terpenuhi, demikian juga dengan komunitas Muslim di Eropa dan Amerika Utara.
  • Indonesia akan melaksanakan puasa Ramadhan hari pertamanya juga pada tanggal 13 September 2007, karena baik kriteria Wujudul Hilaal maupun garis ILDL dari kriteria Odeh juga tidak terpenuhi.

2. Awal Syawwal 1428 H

hilal-11okt07.jpg

Gambar 2

 

Kedudukan garis tinggi nol derajat, garis ILDL dan posisi Matahari saat konjungsi terjadi untuk situasi awal Syawwal 1428 H. Hanya area di sebelah kiri garis putus-putus saja yang memenuhi kriteria Wujudul Hilaal, demikian pula hanya area di sebelah kiri garis biru saja yang memenuhi kriteria Odeh.

Konjungsi Bulan-Matahari terjadi pada tanggal 11 Oktober 2007 pukul 05 : 02 GMT. Di Makkah al-Mukarramah, pada 11 Oktober 2007 itu Matahari terbenam pukul 17 : 56 waktu setempat dengan umur Bulan 9 jam 54 menit (kurang dari 12 jam).

Posisi Matahari saat konjungsi berada di atas wilayah Indonesia bagian barat daya, tepatnya di dekat Selat Sunda. Garis tinggi nol derajat membelah Indonesia sehingga wilayah yang memenuhi kriteria Wujudul Hilaal adalah Australia, sebagian Indonesia, sebagian besar Afrika (kecuali negara-negara maghribi), sebagian besar Amerika (seluruh Amerika Selatan dan Amerika Utara kecuali Kanada dan sebagian Amerika Serikat) serta Pasifik. Sementara wilayah yang memenuhi garis ILDL dari kriteria Odeh hanyalah sebagian wilayah Amerika Selatan dan Pasifik.

Sehingga :

  • Saudi Arabia kemungkinan besar akan melaksanakan shalat Idul Fitri pada tanggal 13 Oktober 2007 jika menggunakan kriteria Umm al-Qura atau pada tanggal 12 Oktober 2007 jika menggunakan kriteria Wujudul Hilaal.
  • Indonesia akan melaksanakan shalat Idul Fitri pada 12 Oktober 2007 jika berpedoman pada kriteria Wujudul Hilaal (yakni Muhammadiyah, Persis dan sebagian kalangan NU yang meyakini pada hari itu Hilaal sudah bisa dilihat) dan pada tanggal 13 Oktober 2007 jika berpedoman pada “kriteria” MABIMS (yang dikenal tidak reliabel) maupun garis ILDL dari kriteria Odeh.

3. Awal Dzulhijjah 1428 H

hilal-9dec07.jpg

Gambar 3

 

Kedudukan garis tinggi nol derajat, garis ILDL dan posisi Matahari saat konjungsi terjadi untuk situasi awal Dzulhijjah 1428 H. Hanya area di sebelah kiri garis putus-putus saja yang memenuhi kriteria Wujudul Hilaal, demikian pula hanya area di sebelah kiri garis biru saja yang memenuhi kriteria Odeh.

🙁 “Pakdhe biasanya kalau untuk menentukan awal Dzulhijah kok ngga pada ribut ya ?”
😀 “Mungkin karena ini hanya diperlukan untuk menentukan hari Arafah di Makkah sana, jadi Makkah lah yang lebih tertarik dengan penentuan tanggal ini.

Konjungsi Bulan-Matahari terjadi pada tanggal 9 Desember 2007 pukul 17 : 41 GMT. Di Makkah al-Mukarramah, pada 10 Desember 2007 Matahari terbenam pukul 17 : 48 waktu setempat dengan umur Bulan 17 jam 7 menit (lebih dari 12 jam).

Posisi Matahari saat konjungsi berada di atas wilayah Pasifik timur, tepatnya di lepas pantai Chile. Garis tinggi nol hanya melintasi Pasifik, Amerika Selatan dan Atlantik sehingga wilayah yang memenuhi kriteria Wujudul Hilaal hanyalah sebagian Amerika Selatan dan Pasifik. Sementara wilayah yang memenuhi garis ILDL dari kriteria Odeh hanyalah sebagian kecil wilayah Pasifik.

Sehingga :

  • Saudi Arabia kemungkinan besar akan menetapkan tanggal 10 Desember 2007 sebagai 1 Dzulhijjah karena kriteria Umm al-Qura telah terpenuhi sehingga shalat Idul Adha akan dilaksanakan pada tanggal 19 Desember 2007. Sedangkan jika kriteria Wujudul Hilaal kembali digunakan, maka 1 Dzulhijjah adalah pada tanggal 11 Desember 2007.
  • Indonesia akan menetapkan tanggal 11 Desember 2007 sebagai 1 Dzulhijjah jika berpedoman pada kriteria Wujudul Hilaal, garis ILDL dari kriteria Odeh dan “kriteria” MABIMS sehingga shalat Idul Adha akan dilaksanakan pada tanggal 20 Desember 2007.

Rujukan :

  1. Odeh, 2005, Exp. Astron. (2005) 18 : 39 – 64.
  2. Schaefer, 1996, Q.J.R. Astr.Soc (1996) 37 : 759 – 768.
  3. Ruang diskusi ICOP

Dongengan Ma’rufin diatas cukup menggambarkan ada beberapa kriteria dalam menentukan awal tanggal dalam Islam. Tapi semua itu hanyalah perhitungan versi dongengan hanya untuk memperkenalkan saja tentang penanggalan Islam yang cukup kompleks sehingga mengundang rasa ingin tahu. Bukan hal terpenting mengetahui kapan mulainya, tatapi menegrjakan dengan niat yang benar Insya Allah lebih diterima.

Jeng Juminten mbeber kloso, dodol megono neng ngarep gapuro,
Meniko dinten bade poso, kulo sakluargo nyuwun ngapuro…..

Ketupat kecampur santen, wonten lepat nyuwun ngapunten,

Sosor bebek sosor meri, kalau salah mohon di sorry,

Selamat berpuasa bagi yang menjalankan !

54 COMMENTS

  1. pakde, kriteria wujudul hilal maupun ummul qurro tak diterapkan oleh saudi untuk penetapan dzulhijjah tahun ini. Karena ummul qurra memakai kaedah ijtimak qoblal ghurub, sementara pada tgl 9 Desember 2007 yang terjadi adalah ijtima bakdal ghurub. yakni ghurub jam 17.39 sedangkan ijtima jam 20.41 waktu saudi. Jadi menurut kriteria wujudul hilal maupun ummul qurro, tgl 10 desember itu belum dzulhijjah.

    saudi memutuskan 10 Desember 2007 sebagai awal dzulhijjah karena ada yang ngaku lihat hilal pada tgl 9 Desember.

  2. ASSALAMU’ALAIKUM.WR.WB.

    SAYA ADALAH SEORANG AHLI MATEMATIKA & TEKNIK INFORMATIKA, YANG JUGA MENDALAMI ASTRONOMIS.
    KOMENTAR SAYA TIDAK AKAN MENULIS DENGAN FORMULA-FORMULA. SEHINGGA MEMUDAHKAN PENGERTIAN KEPADA SEMUA ORANG-ORANG.

    PERBEDAAN HARI DALAM KALENDER ISLAM YANG ADA DI SELURUH DUNIA ADALAH HAL YANG WAJAR TERJADI.
    MENURUT DR.T.DJAMALUDIN (DOSEN ASTRONOMI ITB) MENGATAKAN BAHWA BUMI ADALAH BULAT. DALAM KALENDER MASEHI YANG SEKARANG KITA GUNAKAN (JANUARI SAMPAI DESEMBER), TERJADI PERBEDAAN HARI SETIAP HARINYA. NAMUN KITA SERINGKALI MENGABAIKANNYA.
    MULAI DARI GRENWICH (BUJUR 0 DERAJAT) SAMPAI DAERAH SAMUDERA PASIFIK DISEBUT DENGAN BELAHAN BUMI TIMUR. INI SUDAH MASUK TANGGAL BARU / HARI BARU DALAM KALENDER MASEHI.
    MULAI DARI SAMUDERA PASIFIK SAMPAI GRENWICH LAGI DISEBUT BELAHAN BUMI BARAT. INI BELUM MASUK TANGGAL BARU DALAM KALENDER MASEHI.
    ARTINYA, JIKA DI INDONESIA SUDAH MASUK TANGGAL 12 OKTOBER 2007. NAMUN , DI AMERIKA SERIKAT PADA WAKTU YANG SAMA MASIH TANGGAL 11 OKTOBER 2007. KARENA, BELAHAN BUMI INDONESIA SUDAH LEWAT JAM 12 MALAM. TAPI DI AMERIKA MASIH DI BAWAH JAM 12 MALAM (SIANG).

    DISAMPING ITU, PADA KALENDER MASEHI SUDAH ADA KESEPAKATAN TENTANG GARIS TANGGAL MASEHI. YANG TERLETAK DI SAMUDERA PASIFIK. GARIS TANGGAL INI BERSIFAT TETAP.

    PERBEDAAN PADA KALENDER ISLAM TERLETAK PADA GARIS TANGGAL YANG TERJADI SETIAP BULANNYA BERUBAH-UBAH.

    SALAH BESAR, JIKA PERBEDAAN HANYA HISAB ATAU RUKYAT.
    PADA METODE HISAB TERDAPAT PERBEDAAN JUGA. YAITU, HISAB LOKAL ATAU HISAB GLOBAL.
    RUKYAT JUGA ADA PERBEDAAN. YAITU, RUKYAT LOKAL ATAU RUKYAT GLOBAL.

    NAMUN, JIKA PAKAI HISAB ATAU RUKYAT GLOBAL, INI AKAN TERJADI KEKACAUAN YANG LUAR BIASA. MISAL, BERITA MUNCULNYA RUKYAT PERTAMA ADA DI AMERIKA. SEDANGKAN DI INDONESIA SUDAH MASUK SIANG HARI. APAKAH LANGSUNG DITETAPKAN BAHWA PADA JAM, MENIT, DETIK YANG SAMA SELURUH DUNIA HARUS 1 SYAWAL. INI BAHAYA. BUMI KITA TIDAK DATAR. TAPI BULAT. JADI, ADA SAATNYA DI BELAHAN BUMI TERTENTU ADA YANG SUDAH TANGGAL BARU. TAPI DI BELAHAN BUMI LAINNYA MASIH BELUM. TERGANTUNG TERLIHATNYA HILAL.

    USUL SAYA, BAGAIMANA JIKA PENENTUAN KALENDER ISLAM SELURUH DUNIA MENGGUNAKAN METODA HISAB ATAU RUKYAT LOKAL SAJA. HAL YANG MIRIP ADALAH : PENENTUAN WAKTU SHOLAT. DALAM PENENTUAN WAKTU SHOLAT, TIDAK MUNGKIN DSAMARATAKAN SELURUH DUNIA HARUS MENGIKUTI KOTA SUCI MEKKAH ARAB SAUDI. SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT. SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.
    MANA MUNGKIN KITA SHOLAT SHUBUH JAM 10 PAGI. KARENA JAM 10 PAGI WAKTU INDONESIA BARAT, SEDANGKAN DI ARAB MEMANG MASIH JAM 4 SHUBUH. INI ANEH.

    DI KALENDER ISLAM, PERGANTIAN TANGGAL TERJADI MULAI ADZAN MAGHRIB. INI MENANDAKAN MUNCULNYA HILAL DI SUATU KOTA.

    KESIMPULANNYA : MENENTUKAN JATHUNYA TANGGAL ISLAM, HENDAKNYA SEPERTI MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.
    TIAP KOTA DALAM JADWAL SHOLAT BERBEDA-BEDA.
    DI JAKARTA, MAGRIB JAM 17.45 WIB. DI BANDUNG, MAGHRIB JAM 17.42 WIB. DI SURABAYA, MAGHRIB JAM 17.29 WIB.
    MAKA, TIDAK MENJADI SOAL, JIKA DI JAKARTA PADA MAGRIB TANGGAL 29 RAMADHAN 1428 H SUDAH LIHAT HILAL, TAPI DI BANDUNG BELUM, MAKA DI JAKARTI KE BARAT SUDAH LEBARAN. SEDANGKAN DARI BANDUNG KE TIMUR BELUM LEBARAN.
    JADI , NANTI ADA JADWAL MUNCULNYA HILAL DI SELURUH KOTA-0KOTA BESAR DI SELURUH DUNIA.
    MISAL: KOTA-KOTA DI SELURUH DUNIA YANG SUDAH MASUK 1 SYAWAL 1428 H PADA TANGGAL 12 OKTOBER 2007 M ADALAH:
    -JAKARTA, TANGGERANG, BANTEN, PADANG, MEDAN, ACEH,DST.
    KOTA-KOTA DI SELURUH DUNIA YANG MASUK 1 SYAWAL 1428 H PADA TANGGAL 13 OKTOBER 2007 M ADALAH:
    -BANDUNG, SUMEDANG, CIREBON, SEMARANG, JOGJAKARTA, SURABAYA, AMBON, DST.
    TIDAK MASALAH DALAM SATU NEGARA LEBARANNYA BERBEDA. YANG PENTING, DALAM SATU KOTA HARUS SAMA.
    CONTOH KASUS KALAU GARIS TANGGALNYA MELEWATI NEGARA INDONESIA.

  3. DI DALAM AGAMA ISLAM MEMANG LIBUR TIDAK ADA.

    NAMUN SAYA SELAKU ORANG YANG BERKTIFITAS DAN BERKELUARGA TENTUNYA SANGAT BERMANFAAT JIKA LIBUR DI TEMPATKAN SESUAI DENGAN SEMESTINYA.

    DI MALAYSIA, YANG TERGOLONG NEGARA AGAK ISLAMI. LIBURNYA BANYAK. PADA IDULFITRI DANIDULADHA.

    USULAN SAYA: GUNAKAN KALENDER ISLAM SEBAGAI PATOKAN KALENDER PENDIDIKAN NASIONAL DI SELURUH NEGARA REPUBLIK INDONESIA.
    -SEKARANG YANG TERJADI : >>SEMESTER 1 DIMULAI DARI JULI SAMPAI DESEMBER
    >>SEMESTER 2 DIMULAI DARI JANUARI SAMPAI JUNI.
    INI AKAN KAGOK, KARENA LIBUR PUASA DAN IDULFITRI TIAP TAHUN SELALU MAJU 11 HARI. JADI, GAK AKAN ENAK KALAU PUASA JATUH PAS SAAT-SAAT UJIAN NASIONAL ATAU ULANGAN.
    -USULAN SMART : >>SEMERTER 1 DIMULAI DARI SYAWAL SAMPAI RABIULAWAL
    >>SEMESTER 2 DIMULAI DARI RABIULAKHIR SAMPAI SYA’BAN.
    JADI, MULAI DARI 1 RAMADHAN SAMPAI 10 SYAWAL ANAK-ANAK SD,SMP,SMA,PERGURUAN TINGGI AKAN MENIKMATI SUASANA RAMADHAN DAN LEBARAN BERSAMA KELUARGA.
    SEMINGGU SEBELUM RAMADHAN SELALU DIADAKAN ULANGAN UMUM / UJIAN NASIONAL. SELAMA 2 MINGGU AWAL RAMADHAN DIGUNAKAN PESANTREN RAMADHAN, SAMBIL NUNGGU DIBAGI RAPOT.
    LALU LIBUR 10 HARI TERAKHIR RAMADHAN PLUS 10 HARI SESUDAH IDULFITRI ADALAH SEKALIGUS LIBUR KENAIKAN KELAS.

    EFEKTIF BUKAN ?????????????????

    JADI, LIBUR LEBARAN SEKALIGUS SEBAGAI LIBUR KENAIKAN KELAS.
    JADI, LIBUR LEBARAN SEKALIGUS SEBAGAI LIBUR KENAIKAN KELAS.
    JADI, LIBUR LEBARAN SEKALIGUS SEBAGAI LIBUR KENAIKAN KELAS.
    JADI, LIBUR LEBARAN SEKALIGUS SEBAGAI LIBUR KENAIKAN KELAS.
    JADI, LIBUR LEBARAN SEKALIGUS SEBAGAI LIBUR KENAIKAN KELAS.
    JADI, LIBUR LEBARAN SEKALIGUS SEBAGAI LIBUR KENAIKAN KELAS.
    JADI, LIBUR LEBARAN SEKALIGUS SEBAGAI LIBUR KENAIKAN KELAS.
    JADI, LIBUR LEBARAN SEKALIGUS SEBAGAI LIBUR KENAIKAN KELAS.
    JADI, LIBUR LEBARAN SEKALIGUS SEBAGAI LIBUR KENAIKAN KELAS.
    JADI, LIBUR LEBARAN SEKALIGUS SEBAGAI LIBUR KENAIKAN KELAS.
    JADI, LIBUR LEBARAN SEKALIGUS SEBAGAI LIBUR KENAIKAN KELAS.
    JADI, LIBUR LEBARAN SEKALIGUS SEBAGAI LIBUR KENAIKAN KELAS.

    INI UNTUK MENERAPKAN KALENDER ISLAM DI SELURUH SEKOLAH-SEKOLAH NEGERI DAN SWASTA DI SELURUH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDOENSIA.
    MAYORIS ISLAM BO ???????????????

    LIBUR NATAL PLUS TAHUN BARU TETAP SELAMA 2 MINGGU.

    GANTIAN DONG, YANG TIDAK TETAP SELALU RAMADHAN DAN LEBARAN AJA ??????????

    ALLOHU AKBAR !!!!!!!!!!!!!!

  4. SAYA JUGA MENEKANKAN SEKALI LAGI.
    BAHWA YANG PERLU DITAMBAH LIBURNYA ADALAH :
    1. LIBUR IDUL FITRI SUDAH CUKUP, YAKNI : 1 HARI SEBELUM HARI-H, DAN 7 HARI SESUDAH HARI-H.
    2. LIBUR IDUL ADHA HARUS DITAMBAH, JANGAN HANYA 1 HARI SAJA. KITA SEBAGAI UMAT ISLAM PERLU MEMPERSIAPKAN UNTUK PELAKSANAAN IBADAH QURBAN DI MASING-MASING DAERAH.

    INGAT BAHWA BERDASARKAN AL-QURAN DAN AL-HADIST YANG SHAHIH, UMAT ISLAM DI SELURUH DUNIA MEMILIKI 2 (DUA) HARI RAYA. YAITU: IDUL FITRI & IDUL ADHA.

    JADI, SUDAH SEMESTNYA SELURUH UMAT ISLAM DI PENJURU DUNIA HARUS MEMERIAHKAN KEDUA HARI SUCI INI.

    CONTOHNYA, DI MALAYSIA, SAUDI ARABIA, ATAU NEGARA MUSLIM LAINNYA, SUDAH MENETAPKAN BAHWA KEDUA HARI BESAR TADI MASUK SEBAGAI HARI KENEGARAAN.

    JADI, SUDAH SEPANTASNYA LAH KITA SEBAGAI BANGSA YANG BERDSARKAN PANCASILA DAN UUD 1945 BAHWA “KETUHANAN YANG MAHA ESA” ADALAH BANGSA YANG BERAGAMA.

    TOLONG, SAMPAIKAN KEPADA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA :
    1. TERAPKAN KALENDER ISLAM DI SELURUH SEGI KEHIDUPAN
    2. LIBURKAN SELAMA 5 HARI UNTUK IDUL ADHA DARI TANGGAL 9 SAMPAI 13 DZULHIJAH.

    KALENDER ISLAM MUNCULNYA LEBIH BARU DAN TELITI. MASA SIH KITA MASIH KUNO BANGET. MASIH PAKAI KALENDER MASEHI.

    BANYANGKAN, MASA KITA HARUS MENGERJAKAN TUGAS DAN HARUS UJIAN PADA SAAT MALAM TAKBIRAN IDUL ADHA.

    SEKALI LAGI, IDUL FITRI & IDUL ADHA ADALAH HARI YANG SUCI BAGI UMAT ISLAM DI SELURUH DUNIA.

    ALLOHU AKBAR!!!!!!!

  5. ASSALAMU’ALAIKUM.WR.WB.

    SAYA ADALAH SEORANG AHLI MATEMATIKA & TEKNIK INFORMATIKA, YANG JUGA MENDALAMI ASTRONOMIS.
    KOMENTAR SAYA TIDAK AKAN MENULIS DENGAN FORMULA-FORMULA. SEHINGGA MEMUDAHKAN PENGERTIAN KEPADA SEMUA ORANG-ORANG.

    PERBEDAAN HARI DALAM KALENDER ISLAM YANG ADA DI SELURUH DUNIA ADALAH HAL YANG WAJAR TERJADI.
    MENURUT DR.T.DJAMALUDIN (DOSEN ASTRONOMI ITB) MENGATAKAN BAHWA BUMI ADALAH BULAT. DALAM KALENDER MASEHI YANG SEKARANG KITA GUNAKAN (JANUARI SAMPAI DESEMBER), TERJADI PERBEDAAN HARI SETIAP HARINYA. NAMUN KITA SERINGKALI MENGABAIKANNYA.
    MULAI DARI GRENWICH (BUJUR 0 DERAJAT) SAMPAI DAERAH SAMUDERA PASIFIK DISEBUT DENGAN BELAHAN BUMI TIMUR. INI SUDAH MASUK TANGGAL BARU / HARI BARU DALAM KALENDER MASEHI.
    MULAI DARI SAMUDERA PASIFIK SAMPAI GRENWICH LAGI DISEBUT BELAHAN BUMI BARAT. INI BELUM MASUK TANGGAL BARU DALAM KALENDER MASEHI.
    ARTINYA, JIKA DI INDONESIA SUDAH MASUK TANGGAL 12 OKTOBER 2007. NAMUN , DI AMERIKA SERIKAT PADA WAKTU YANG SAMA MASIH TANGGAL 11 OKTOBER 2007. KARENA, BELAHAN BUMI INDONESIA SUDAH LEWAT JAM 12 MALAM. TAPI DI AMERIKA MASIH DI BAWAH JAM 12 MALAM (SIANG).

    DISAMPING ITU, PADA KALENDER MASEHI SUDAH ADA KESEPAKATAN TENTANG GARIS TANGGAL MASEHI. YANG TERLETAK DI SAMUDERA PASIFIK. GARIS TANGGAL INI BERSIFAT TETAP.

    PERBEDAAN PADA KALENDER ISLAM TERLETAK PADA GARIS TANGGAL YANG TERJADI SETIAP BULANNYA BERUBAH-UBAH.

    SALAH BESAR, JIKA PERBEDAAN HANYA HISAB ATAU RUKYAT.
    PADA METODE HISAB TERDAPAT PERBEDAAN JUGA. YAITU, HISAB LOKAL ATAU HISAB GLOBAL.
    RUKYAT JUGA ADA PERBEDAAN. YAITU, RUKYAT LOKAL ATAU RUKYAT GLOBAL.

    NAMUN, JIKA PAKAI HISAB ATAU RUKYAT GLOBAL, INI AKAN TERJADI KEKACAUAN YANG LUAR BIASA. MISAL, BERITA MUNCULNYA RUKYAT PERTAMA ADA DI AMERIKA. SEDANGKAN DI INDONESIA SUDAH MASUK SIANG HARI. APAKAH LANGSUNG DITETAPKAN BAHWA PADA JAM, MENIT, DETIK YANG SAMA SELURUH DUNIA HARUS 1 SYAWAL. INI BAHAYA. BUMI KITA TIDAK DATAR. TAPI BULAT. JADI, ADA SAATNYA DI BELAHAN BUMI TERTENTU ADA YANG SUDAH TANGGAL BARU. TAPI DI BELAHAN BUMI LAINNYA MASIH BELUM. TERGANTUNG TERLIHATNYA HILAL.

    USUL SAYA, BAGAIMANA JIKA PENENTUAN KALENDER ISLAM SELURUH DUNIA MENGGUNAKAN METODA HISAB ATAU RUKYAT LOKAL SAJA. HAL YANG MIRIP ADALAH : PENENTUAN WAKTU SHOLAT. DALAM PENENTUAN WAKTU SHOLAT, TIDAK MUNGKIN DSAMARATAKAN SELURUH DUNIA HARUS MENGIKUTI KOTA SUCI MEKKAH ARAB SAUDI. SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT. SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.SAYA AKAN TERTAWA JIKA KITA MENGIKUTI ARAB SAUDI DALAM MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.
    MANA MUNGKIN KITA SHOLAT SHUBUH JAM 10 PAGI. KARENA JAM 10 PAGI WAKTU INDONESIA BARAT, SEDANGKAN DI ARAB MEMANG MASIH JAM 4 SHUBUH. INI ANEH.

    DI KALENDER ISLAM, PERGANTIAN TANGGAL TERJADI MULAI ADZAN MAGHRIB. INI MENANDAKAN MUNCULNYA HILAL DI SUATU KOTA.

    KESIMPULANNYA : MENENTUKAN JATHUNYA TANGGAL ISLAM, HENDAKNYA SEPERTI MENENTUKAN JADWAL SHOLAT.
    TIAP KOTA DALAM JADWAL SHOLAT BERBEDA-BEDA.
    DI JAKARTA, MAGRIB JAM 17.45 WIB. DI BANDUNG, MAGHRIB JAM 17.42 WIB. DI SURABAYA, MAGHRIB JAM 17.29 WIB.
    MAKA, TIDAK MENJADI SOAL, JIKA DI JAKARTA PADA MAGRIB TANGGAL 29 RAMADHAN 1428 H SUDAH LIHAT HILAL, TAPI DI BANDUNG BELUM, MAKA DI JAKARTI KE BARAT SUDAH LEBARAN. SEDANGKAN DARI BANDUNG KE TIMUR BELUM LEBARAN.
    JADI , NANTI ADA JADWAL MUNCULNYA HILAL DI SELURUH KOTA-0KOTA BESAR DI SELURUH DUNIA.
    MISAL: KOTA-KOTA DI SELURUH DUNIA YANG SUDAH MASUK 1 SYAWAL 1428 H PADA TANGGAL 12 OKTOBER 2007 M ADALAH:
    -JAKARTA, TANGGERANG, BANTEN, PADANG, MEDAN, ACEH,DST.
    KOTA-KOTA DI SELURUH DUNIA YANG MASUK 1 SYAWAL 1428 H PADA TANGGAL 13 OKTOBER 2007 M ADALAH:
    -BANDUNG, SUMEDANG, CIREBON, SEMARANG, JOGJAKARTA, SURABAYA, AMBON, DST.
    TIDAK MASALAH DALAM SATU NEGARA LEBARANNYA BERBEDA. YANG PENTING, DALAM SATU KOTA HARUS SAMA.
    CONTOH KASUS KALAU GARIS TANGGALNYA MELEWATI NEGARA INDONESIA.

    ALLAHO AKBAR !!!

  6. Masalah penetapan 1 syawal,harus dikumpulkan semua ulama murni yg tdk terlibat politik,ekonomi dan segala hal yg berbau jabatan,untuk berunding,dan hasilnya harus diumumkan pemerintah.

  7. Karena untuk 1 syawal 1428 H sekarang ini posisi bulan pada tanggal 11 Oktober 2007 M pada jam 18:00 (sunset) di arab saudi adalah minus 0:24, ini berarti terbenamnya bulan mendahului matahari, tetapi arab saudi menentukan 1 syawal 1428 H pada tanggal 12 Oktober 2007.
    Kalau menurut metoda wujudul hilal itu tidak mungkin, karena bulan harus di atas ufuk (berapapun ketinggiannya) pada saat sunset.

  8. Kalau menurut saya, berdasarkan penentuan tanggal-tanggal hijriyah dari iedul adha tahun 2005 sampai sekarang arab saudi itu bukan menggunakan methoda wujudul hilal tapi memakai metode qobla ghurub, yaitu apabila ijtima antara matahari dan bulan terjadi sebelum maghrib maka tanggal 1 adalah esok harinya.

  9. Saya sangat sependapat dengan komentarnya Mas Mufaqih. Situasi yang kita rindungan oleh Umat Islam Se-Dunia adalah yang seperti dituliskan diatas.
    Kita merindukan seorang Imam yang bisa menyatukan Umat Islam Se-Dunia, contohnya adalah seperti penentuan 1 Syawal di kemudian hari.

    Saya sendiri merayakan lebaran hari ini, 12 Oktober.
    Untuk saudara2ku, bila baru kenal dan tak sempat bersua & berjabat tangan, perkenankanlah uluran tangan saya untuk ber-silaturahim dan mengucapkan Mohon Maaf Lahir & Bathin.

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H.

    Wicaksono (www.in30day.com)

  10. hehehe…seru juga baca komentar2..
    btw,saya jadi pengen lebaran nih hari ini Jumat 12 Oktober 2007..
    btw,lebaran nya sekarang ,tapi sholat id-nya besok bisa gak yak,soalnya saya ketinggalan sholat Id nya hari ini hehehehe…

  11. Terus terang kali ini saya tadinya agak sulit memutuskan harus meyakini jatuhnya 1 syawal 1428 H pada 12 Oktober atau 13 Oktober 2007. Sebenarnya Allah SWT menyatakan ummat Islam sebagai ummatan wahidah (ummat yang satu) artinya seharusnya mulai dari Merauke hingga Maroko dan terus ke barat adalah satu ummat. Nasionalisme kebangsaan tidak setelah saya renungkan tidak beda dengan kabilah-kabilah arab di zaman Rasulullah yang seharusnya menjadi lebur setelah adanya Islam, tetapi sekarang kita lestarikan. Sebenarnya jika kita konsisten dengan konsep ummat yang satu, maka jika ada satu bagian bumi dimana ada ummat Islam meski hanya 1 orang pun sudah bisa melihat hilal atau seperti pada gambar di atas dimungkinkan di kawasan Amerika Selatan, maka seluruh bagian dunia islam di wilayah manapun mengikutinya, artinya sudah masuk awal bulan baru. Bukankah dalam kasus di Indonesia, meskipun di Merauke secara kriteria belum masuk 1 syawal misalnya namun jika di Jakarta atau Aceh sudah masuk 1 syawal maka yang di Merauke juga ikut. Jadi mengapa kita tidak melihat hal ini menjadi lebih luas, dimana di bagian bumi manapun ada ummat Islam maka ia merupakan bagian dari wilayah ummat Islam secara keseluruhan. Jika sikap konsisten ini bisa diterima maka Insya Allah tidak akan ada lagi perbedaan. Jika dizaman Rasulullah perbedaan sangat mungkin terjadi karena jangkauan komunikasi sangat terbatas, maka hal ini tidak lagi kita alami. Jika di satu kawasan Afrika misalnya bisa melihat hilal atau secara hisab ketinggian bulan sudah lebih dari 2 derajat, maka hal ini harus diterima oleh seluruh ummat Islam. Tetapi sebaliknya jika kita konsisten berpegang setiap wilayah harus mensyaratkan melihat hilal dari titik di masing-masing wilayah, maka untuk wilayah di Indonesia yang secara hisab atau rukyat tidak mungkin melihat hilal, mereka harus menunda dulu memasuki permulaan baru, dan tidak boleh mengikuti wilayah yang sudah masuk bulan baru.
    Dengan memandang bahwa ummat islam adalah ummat yang satu, maka akhirnya saya berkeyakinan bahwa 1 syawal 1428H sudah jatuh pada hari Jum’at, karena meskipun seandainya di saudi menetapkan 1 syawal jatuh pada hari sabtu, namun sudah ada di bagian bumi lainnya yang sudah masuk 1 syawal pada hari jum’at. Ini insya Allah juga tidak bertentangan dengan hadits nabi yang menyuruh untuk melihat bulan, karena Rasulullah tidak hanya berbicara kepada sahabat-sahabatnya ketika itu, tetapi beliau berbicara kepada semua ummatnya hingga di akhir zaman, dan jika ada kesaksian seorang muslim meskipun seandainya dia berada di kutub selatan, namun jika ia menyaksikan melihat bulan baru misalnya, maka kesaksiannya harus diterima oleh ummat islam di bagian bumi manapun. Bukankah kita meyakini deklarasi al-qur’an bahwa kita ummatan wahidah, dan bukankah di zaman modern ini hambatan komunikasi dapat dikatakan hampir tidak ada lagi?

  12. iwa babat iwa usus, daging sapi di ires-ires.
    dadi wong ojo nggole masalah, manut wae karo pemerintah.ngono lo pak dhe.

  13. yang penting itu adalah bagaimana menghargai pendapat yang lainnya. Mereka itu (Muhammadiyah-NU) itu-kan sudah ber-ijtihad. Kalau ijtihad salah satunya benar maka akan diganjar 2 pahala dari Allah SWT, namun apabila ijtihad salah satunya itu salah maka akan diganjar 1 pahala atas ijtihad tsb. Yang paling penting jangan sampai ummat islam pecah belah dan ada yang tidak shalat ied…

  14. Setelah aku browsing situs kesana kemari di seluruh penjuru dunia ini….berdasarkan scientist, ilmiah, dengan berpedoman alqur’an akhirnya saya memutuskan Idul Fitri 1428H jatuh pada hari Jum’at, 12 Oktober 2007…………..sekali ini keputusan saya sendiri.

  15. Jadi kesimpulan lebaran kapan? hehehe…..
    Oh ya, menurut saya, meskipun sudah banyak metode yg digunakan… tolong deh jgn arogan (alias malu ma kalender) klo ternyata hitung2an di atas kertas tidak tepat…

  16. orang jepang bisa prediksi gerhana, dari hari, tanggal jam sampai detik dengan tepat. ada apa dengan kita?
    asal jangan pada sotoy aja

  17. Tahun kemaren bagemana mas Abu? NU-Jatim sudah melihat hilal, Muhammadiyah sudah OK dengan hisabnya, tetapi pemerintah masih mengundur hari raya, menambah puasa 1 hari lagi! Kita harus bagemana????????

  18. UMAT ISLAM BERSATU DAN TIDAK BUKAN KARENA PERBEDAAN PENENTUAN TANGGAL QOMARIYAH. SAAT INI SEBENARNYA KITA SUDAH BERSATU MENGHADAPI “SYAITHON” TAPI SYETAN ITU SIAPA INI YANG MASIH SANGAT TERGANTUNG OLEH KEPENTINGAN. SUATU CONTOH AMERIKA MASIH DIANGGAP DEWA OLEH PEMERINTAH KITA, SEHINGGA BILA PEMIMPINYA KE SINI HARUS DISEMBAH BAHKAN XXXX AKAN MENJILAT PANTANTNYA KALO PERLU

  19. Islam bersatu…..tak bisa dikalahkan !. Pernah dengar kata-kata ini ?. Biasanya terdengar di demo-demonya umat islam. Dan dihadapan sang Pencipta kan tidak ada islam ini, islam anu, islam itu ya. Kalau kemudian ada satu syawal islam ini, islam anu, islam itu ?. Wajarlah kalau islam (yang tidak mau bersatu) mudah terkalahkan. Bersatulah umat islam, bertobatlah, bertobalah, bertobatlah.

  20. Sensasi… selalu mencari sensasi untuk memutuskan 1 syawal. kalau menganggap kedua atau ke tiga metode itu sah dan boleh untuk rujukan penentuan 1 syawal, kenapa sih gak mau ngikutin pemerintah, yang notabene sebagai panutan bangsa ini. apakah metode A itu pasti benar? atau apakah metode B itu pasti benar? kebenaran itu hanya milik Allah,.. yang penting marilah kita sambut Idul Fitri ini dengan suka cita dan kebersamaan, sehingga kita bangga dilihat bangsa lain…seindah-indahnya perbedaan, lebih indah kalo kita bersama…

  21. kita pertahankan terus bahwa kita tidak bisa berbarengan berlebaran…agar orang diluar sana tahu bahwa kita tidak pernah kompak, agar mereka tahu KELEMAHAN kita….horeee

  22. Aku seneng ketika membuka website ini, karena aku termasuk awam tentang Astronomi, oleh karena itu kalau punya DVD penentuan wujudul Hilal tolong dikirim ke E mail ini. thanks.

  23. […] Ditulis oleh agorsiloku di/pada Oktober 1st, 2007 Wah saya bukan ahli agama, cuma sekedar ingin menyampaikan unek-unek saja. Tadi pagi, entah kenapa tausyiah subuh jadi sedikit ramai, terutama mengenai lebaran bersama.  Karena kita haruslah mengerti, perbedaan itu rahmat, karena semua ijtihad berpahala apapun isi telaah kritis satu Syawal. Lalu kita akan berlebaran dengan segala pengalaman perbedaan itu.  Saya tidak akan lupa, untuk menengok apakah Pak Dhe sudah membahas belum soal satu syawal 1428 ini. […]

  24. Ngawur.
    Dulu ada yang sudah melihat hilal. Tetapi karena hitungan belum kena, maka diputuskan belum lebaran (walau sebagian sudah lebaran, mungkin 1991) Oleh karenanya diubah menjadi 2 derajat itu mas, supaya tidak malu kalo ketingaalan (barangkali). Sebab jika 3 derajat hanya bisa bersama atau ketinggalan. Jika 2 derajat bisa sama atau lebih cepat. (Gengsi dong!)

  25. Asyik yah….kita bisa memulai puasa bareng, sahur dan buka puasa juga bareng di seluruh dunia dengan mengabaikan definisi puasa yang dimulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari! rasanya kita ini bukan tambah cerdas, malah ngawur bin nguaaawuuurrr…..!

  26. Pak Rovi, tahun 1996 Muhamadiyah akan menganggap tanggal 1 sudah tiba apabila konjungsi berada pada sudut 3 derajat. tahun 1997 berubah 2 derajat. Menurut Pak Rovi, apa pertimbangan perubahan itu?

  27. Salam Pak Dhe:
    Saya ada pengalaman, ketika ikut rukyah dan selesai lalu pada laporan. Anehnya ada yg berani lapor bhw dia lihat hilal; padahal saya tahu persis itu salah, kok nekat.
    Saya khwatir selama ini juga ngawur padahal diikuti ummat. Kalau yg lain juga setipe beliau..waduuuh.
    Ya Allah apa ini akibat makanan yg haram atau apa yaa?

  28. Wah, terimakasih pakde atas tulisan2 perhitungan matematisnya. Bagus buat nambah pengetahuan. Makin tinggi pengetahuan makin banyak argumen yg bisa disajikan. Tapi yg lebih dibutuhkan umat adalah kesepakatan bersama. Urusan argumen silahkan dilingkungan para ahli dan alim ulama yg diberi wewenang untuk itu, bukan konsumsi publik spt tahun lalu yg malah bikin bingung umat. ‘Tul kan pakde?

  29. Dear pak Dhe,

    Memang membikin “guyup” masyarakat, dengan masing2 punya dasar yang mereka yakini kebenaran nya, butuh kesabaran kali ya…

    Pada dasarnya manusia ini memang diciptakan berbeda, hanya dari perbedaan itu sebaik nya dicari titik temu nya unutuk saling bersinergi, demi terbentuknya masyarakat global yang sejahtera dan damai…opo maneh iki yo, he he he…

    Regards
    Sigit

  30. Pak dhe uraiannya hebat, sampai aku ra dong hehehe. Menurut aku yang orang awam mbok yao, kita-kita ini punya rasa malu gitu loh pak dhe. Malu banget ngurusi tanggal puasa dan tanggal berhenti puasa saja kok ra iso-iso, kok tidak bisa-bisa. Dari aku kecil sampai setengah tua kok masalahnya muter-muter di situ saja. Pak Dhe, aku berharap bapak-bapak pengurus ormas Islam itu BERHENTILAH DARI MEMBINGUNGKAN MASYARAKAT. BETAPA INDAHNYA JIKA KITA SAMA-SAMA BERPUASA. SAMA-SAMA BERANGKAT SHOLAT IEDUL FITHRI.MARILAH KITA BERSATU. BERSATU (BUKAN BERBEDA) ITU RAHMAT. BUANGLAH EGO ORGANISASI. TAATILAH ALLAH, TAATILAH RASUL DAN ULIL AMRI. KITA SERAHKAN KEPUTUSAN INI PADA PEMERINTAH. PEMERINTAHLAH YANG BERKEWAJIBAN MENETAPKAN MULAINYA PUASA DAN BERAKHIRNYA PUASA.
    maaf pak Dhe jadi emosi nulisnya. aku sungguh berharap ormas-ormas itu berhenti saling berbeda selanjutnya dari sekarang bersatu mendukung keputusan menag. Pak Dhe dan teman-teman para pakar hitung, silakan menghitung yang ruwet-ruwet itu yang aku ra dong, tapi legowo bila pemerintah memutuskan lain. Demikian juga yang mantap dengan rukyat, kalau kesaksiannya ditolak, jangan mutung legowolah dengan keputusan pemerintah. Biarkanlah hitung-hitungan dan kesaksian rukyat masuk peti/laci dan kunci rapat-rapat. Marilah kita bersama-sama bergembira menyambut bulan ramadhan dan bersama-sama sholat iedul fithri.
    Pak Dhe aku terimakasih sekali coretan yang ngawur ini bisa ditampilkan diweb ini mudah-mudah yang membaca tidak ada yang tesinggung/marah. Kalaupun iya maka saat ini juga aku mohon maaf sebesar-besarnya atas kelancanganku menulis unek-unek yang ngawur ini.

  31. Aku kok belum ngerti yah.. Kata Orang Berbeda itu Indah, tapi menurut saya Persamaan/Bersama Justeru Lebih indah yah..hmmm kapan kita bisa sama2x Awal dan akhir puasanya yah..biar tambah seru gitu…

  32. Yu Ngatinah ngudal roso,
    Ati bungah ngarepi sasi poso,
    Ayo konco ngibadah marang sing Kuwoso,
    Mugo iso nglebur dosa.

    Sambel goreng opor basah-basah,
    Paling mantep pake lontong,
    Jika ane ada salah.
    Maapin duoong…..

    SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1428 H
    Semoga amalan ibadah kita diterima olehNYA
    maap lahir batin ya…

  33. kalo menurut saya sih inti sebenarnya adalah sebagaimana yang dilakukan rasul dulu yaitu rukyatul hilal, cuman jaman dulu kan gak ada telpon jadi tiap daerah beda2. Lha sekarang kan komunikasi udah global, jadi kalo satu daerah dah liat hilal mestinya yang lain juga mengikuti……
    begitu menurut kulo pak dhe

  34. Dhe…Ada Apa dengan Situbondo???
    Cedhak banget sama Jember, kotanya Eyangku, lho… Kok tiba-tiba ada goyangan sebesar 4,5 skala richter padahal kotanya gak ada gunung????

  35. salam kenal pakdhe…
    maaf nih…saya ngga gitu dhong dengan penjelasan njenengan…^_^…maklum…bacanya kurang seksama…
    saya pernah dikasih tau bapak mertua, bahwa salah satu cara mengetahui “mana yang benar” diantara penentuan 1 syawal adalah dengan mengacu pada hari Iedul Adha (10 Dzulhijjah) pada tahun yang sama, karena (kata beliau) antara Iedul Fitri & Iedul Adha jatuh pada hari yang sama, misalnya, Iedul Fitri pada hari Ahad, otomatis Iedul Adha pun jatuh pada hari Ahad… begitu kira2…
    menurut pakdhe sendiri, penjelasan tersebut masuk akal dan berteori tidak ?
    mohon penjelasannya…
    syukron.

Leave a Reply