Mengapa perlu PLTN ?

55

Didalam benak saya alasan pemanfaatan PLTN yg paling pas hanyalah “diversifikasi” atau kEberAgamaN pemanfaatan sumber daya energi untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis sumber energi. Harus disadari PLTN tidak akan mampu untuk menggantikan peranan Migas maupun batubara, juga tidak untuk melawan geothermal energi, serta PLTN juga meragukan untuk menurunkan harga jual listrik. Sedangkan alasan-alasan lain (misanya risiko bencana dan juga lingkungan) hanyalah complimentary (tambahan) saja tetapi jelas bukan alasan utama mengapa kita perlu atau tidak perlu PLTN.

šŸ™ “Kalau bermacam-macam yg dikembangkan apa ngga malah bikin bingung pakdhe ?”
šŸ˜€ “Ora popo bingung thole, kalau ngga bingung malah ngga ada pembelajaran. Orang bingung itu pertanda berpikir. Yang terpenting kita akan belajar banyak hal dan akhirnya akan mengerti banyak hal”

Menurut saya keliru jika ada yang menyatakan sebaiknya memanfaatkan geothermal tetapi bukan PLTN. Saya akan tetap berpikiran keduanya diperlukan saat ini karena masing-masing memiliki ciri khasnya. Bahkan kalau ada energi gelombang-pun sangat perlu dikembangkan dan diteliti pemanfatannya. Setahu saya di Indonesia rencananya PLTN-pun hanya akan menyumbang kurang dari 10% kebutuhan listrik yang ada. Itupun belum tentu mencukupi total kebutuhannya. Soal risiko sih semuanya ada risikonya tergantung seberapa besar kita memberikan angka atau mematerialkan risiko-risiko ini sehingga dapat disebandingkan.

Indonesia memiliki beragam sumber energi semuanya memiliki peluang yang sama untuk dikembangkan. Hanya saja secara praktis akan berbeda tahapannya. Ada yang saat ini diyakini ramah lingkungan tetapi mahal biayanya. Ada yang suangat murah biaya pembangkitannya tetapi mahal konstruksinya. Ada pula yang tidak perlu bahan-bakar tetapi perlu alat yang canggih misal energi surya. Bahkan ada yang tiap hari ada tetapi teknologinya belum tersedia yg siap untuk kebutuhan yang sangat besar misalnya energi biomassa.

Energi yang ada di Indonesia saat ini yang sudah dipantau atau diteliti dan diperkirakan hingga tahun 2004 yang terrekam dalam KEN (Kebijakan energi Nasional) ada dibawah ini.

Potensi Energi Indonesia (2004)

Semua jenis sumber energi ini haruslah dapat dimanfaatkan secara optimal sesuai dengan tahapannya masing-masing.

Tapi mengapa kita perlu membangun PLTN saat ini?. Ya karena kita sudah mempersiapkannya sejak lama. Dalam ilmu ekonomi semakin cepat memanfaatkan investasi maka nilai ekonominya selalu akan lebih tinggi. Investasi pemanfaatan PLT, termasuk pembentukan BATAN dan pendidikan ahli pengelolaan PLTN sudah dipersiapkan sejak dahulu, tetapi pelaksanaannya selalu tertunda-tunda.

Bacaan terkait :

55 COMMENTS

  1. benar sekali mas saat ini masyarakat masih takut dengan teknologi nuklir.untuk dpt terlaksana PLTN ini harus ada penyuluhan atau seminar tentang teknologi nuklir tidak berbahaya

  2. Hmmm Nuklir PLTN, mngp tdk?
    aq se7 banget ma tulisan n pdpt penulis, emg sih banyak sumber2 pembangkit listrik alternatif namun utk memenuhi kebutuhan listrik saat ini mungkin mnrt pandangan pemerintah Teknologi yg sudah siap di Negara kita saat ini adl Teknolog Nuklir (PLTN), bayangin aja kita punya Badan Ketenaganukliran (BATAN) sejak jaman Bung Karno, kita jg pnya akademisi2 nuklir sejak thn 1970an, tp mereka tdk jg dimanfaatkan…

    So, Jangan Apriori, Jangan Skeptis dulu dong ama Nuklir (PLTN).
    Klo gak berani nyoba, ya gak ada pembelajaran ya gak maju2 dong….

    Soal Fusi, skrg jangan dulu dech, masih dlm taraf penelitian lab, ya kcuali kl mo ngeledakin seluruh dunia, silakan pake aja…..

  3. fusi?
    paling dikit 70-100 taon lagi teknologi anak-cucu umat manungsa isa nikmati huenak e energi a’la termonukler matahari ini. sebelon itu emang gawat, musti hemat dan memacu energi jenis terbarukan yang saat ini masi mahal.
    tapi ga tau diri, takabur en semangkin deket bubaran sebagai bangsa kalo nekad bikin pltn atawa fisi uranium.

  4. Saya jadi bingung. Enaknya nolak apa terima ya? šŸ˜Æ

    Tadi Pakdhe bilang di awal postingan alasan kenapa PLTN harus dimanfaatkan adalah untuk mengurangi ketergantungan akan satu jenis energi. Hmm … Ada betulnya juga. “Don’t put your eggs in one basket,” seperti kata para spekulan pasar saham. Masuk akal.

    Saya pribadi bukan mau menghentikan industri nuklir atau menolak mentah-mentah pemanfaatan energi nuklir untuk listrik secara komersial. Tapi, apa ya ndak sebaiknya penelitian di bidang ini (nuklir) digalakkan dulu agar benar-benar layak untuk dipakai? Kan energi nuklir ada 2 tuh: fisi dan fusi. Yang fisi jelas-jelas berbahaya, udah banyak kecelakaannya yang “oh … tragis …!” Apa yang fusi sama aja (dengan yang fisi tadi)? Menurut info yang saya dapat, yang bagus itu yang fisi. Kalo emang itu benar, kenapa para ahli nggak fokus di situ dulu?

    Jadi, mungkin bukan menolak kali ya (meskipun saya tergabung dalam Gerakan Tolak Nuklir), tapi menunda dulu sampai benar-benar aman.

  5. Negara ini perlu belajar bertanggungjawab dulu, baru bikin nuklir. Lapindo kelelep saja tidak ditanggungjawabi.

    pertanyaan lanjutan, nantinya energi hasil nuklir ini untuk siapa? Apakah akan sama nasibnya dengan:
    # Gas Bumi dari Sumsel dan Riau yang dialirkan melalui pipa ke Singapura (yang meteran pencatatnya ada di negeri sana).
    # Biodiesel (yang untuk memproduksinya mesti memangsa hutan alam dan tanah rakyat di Sumatera dan Kalimantan) tapi diperuntukkan untuk ekspor, sementara di sini bisa terjadi krisis pisang goreng.

    ???

  6. nggih nak pinter lish. aku munafik ajalah, tenan lebi uuuenak. suru singapur atawa malangsia ngebangun pltn duluan. disini kite abisin dulu batubara sambil ngeliatin jiran2 itu. kalo aman en beneran mura, kite pikirin lagi. biar ga disumpahin generasi.

  7. ITU BARU USUL YANG KOMPRE, SEKALIAN MENDIDIK DISIPLIN BANGSA. KALO PAKE BANYAK WATT DAN MEMBAYAR PENUH KENEGARA, YA ADIL.
    MASAALAHNYA MAKE RIBUAN WATT, EH…TERNYATA NYOLONG!
    YANG SUKA NYOLONG KAYAK GINI, BOLEH TUH…BANGUN PLTN DIDAPURNYA HEH!

  8. Sak jane kita sekarang ini boros listrik. Coba tengok 30 atau 50 tahun yang lalu, ketika Bapak- Bapak yang sekarang jadi pemimpin bangsa masih kanak-kanak atau remaja. Pake apa mereka menerangi meja belajarnya ?. Ada yang pake sentir, teplok (lampu yang ditempelkan (diTEPLOKkan ), lampu gantung, lampu duduk dll yang semuanya pake minyak tanah. Yang lebih kaya pake lampu gantung antik berbandul , petromaks, stromking atau lampu aladin ( pake semprong + kaos ). Kadang-kadang mereka pake lilin. Aku beruntung tinggal dikota yang ada jaringan listriknya (110 V ), sehingga dapat belajar dengan lampu listrik walau hanya dapat jatah 10 watt, soalnya daya terpasang dirumahku hanya 100 watt. Tetanggaku bahkan hanya 65 Watt untuk satu keluarga. Sekarang mereka sudah jadi pemimpin bangsa ( Presiden,Menteri, anggota DPR dsb). Jadi dengan ketersediaan listrik yang minim, bangsa kita toh sudah dapat melahirkan pemimpin-pemimpin yang ada seperti sekarang dan bahkan kalau kita lihat penerangan belajar para perintis kemerdekaan dan pendiri NKRI dimasa mudanya sangatlah jauh dari mencukupi.
    Sekarang kita menuntut pemenuhan kebutuhan listrik yang jauh lebih besar dari 30 atau 50 tahun yang lalu. Dengan 450 Watt sekarang masih kurang. Soalnya gaya hidup kita sudah berbeda. Air tidak nimba dari sumur,tapi pake pompa air listrik, seterika listrik, menanak nasi pake listrik, kipas angin listrik, TV listrik. Juga yang agak kecukupan ada oven listrik,kulkas , pemanas air untuk mandi dan penyejuk udara (AC) semuanya pake listrik.Belum terhitung listrik yang diMal atau tempat hiburan malam/ kafe dan warnet game yang banyak dikunjungi kawula muda.Kalau boleh kita simpulkan , kita boros listrik tapi belum untuk keperluan yang memajukan bangsa sehingga nantinya belum tentu dapat menelorkan pemimpin-pemimpin bangsa sekaliber pendahulunya, sebab generasi sekarang gaya hidupnya sudah lain, karena ada fasilitas listrik yang berlebihan.
    Bila ada gerakan nasional 100 juta orang pengguna listrik secara kolektif yang menghemat masing-masing 50 watt, maka dapat dihemat 5000 juta watt atau 5000 Mw. Jadi gak perlu bangun PLTN atau PLTU 5000 Mw. Cara gerakan nasional, dengan membatasi pelanggan listrik. Untuk rumah tangga dijatah 5 watt per m2 luas lantai bangunan, sehingga jatah listrik maksimum untuk bangunan type 36 m2cukup 250 VA dan untuk bangunan type 100 m2, listriknya 450 VA. ( ctt.Yang terjadi sekarang, rumah type 36, listriknya minimal 450 watt dan yang 100 m2, minimal 900 watt).
    Kalau ada yang nyuri listrik, dihukum badan, disamping denda.Untuk Industri yang bekerja malam hari diminta tidak menggantungkan listrik PLN, pake power station atau Generator sendiri.

  9. Yang pingin bangun PLTN, silahkan dibangun dipekarangan rumahnya saja. Jika meledak dan yang punya rumah tidak modar, silahkan bangun dihalamanku juga. POKOKE BEGITU…

  10. hehe, klo emongsi, lantas semua diwolak walik. munafik? jadi kite yang pinter bikin pltn, trus singapur atawa malasia yang beli? ah, aku milih munafik aja.

  11. Bung, Jerman itu munafik. Ngakunya nutup PLTN tapi listriknya beli dari prancis yang berasal dari pltn. kalo sy sih apa aja asal bukan PLTU. Pokoknya tolak PLTU! Radiasinya dibuang-buang. BIkin generasi nanti kena kanker. Udah tahu musim di jakarta gak jelas kok bangun PLTU. Global warming bikin musim jadi gak jelas. Kita mbangun geothermal, solar cell energi angin itu pasti rugi. Saya katakan pasti!! kalaupun untung setelah puluhan tahun itupun kecil. Tapi kita butuh listrik biar lebih maju, jadi tetep harus dibangun. Kalo mikir generasi gitu, PLTU kan pasti efek buruknya. Ini harus ditolak dulu.PLTN?? Wong yang tiap hari keluar masuk ruang kedokteran nuklir RS sardjito aja nyantai kok. Anda tahu?? hampir semua manusia yang pernah di roentgen terkena radiasi di atas ambang batas yang diperbolehkan. PLTU itu, di atmosfer bikin efek rumah kaca. di bumi bikin radiasi. Fu*k PLTU!!

  12. menristek / kepala bppt negesin: “rencana pembangunan pltn akan jalan terus, sebab ledakan di lab batan dan lukanya ahli2 nuklir disana ga ada kaitannya dengan rencara pembangunan pltn.”
    pada saat yang sama beliau heran: “kenapa orang jepara protes padahal pemerintah belon mutusin jadi-tidaknya pltn dibangun.”
    menristek lebih keheranan: “aneh munculnya keberatan dari dpr, karena sampai saat ini pemerintah belon nentuin jadi-tidaknya pltn dibangun.”
    bahasa “byar-pet” gini bikin otak puyeng gara2 penggede yang ga kunjung mentas ngurusin segala macem, jadi mangkin teler.

  13. akur ompapang.tandanya otak kite-kite masi kepake. ameriki yang nguasi penuh teknologi nuklir ama duitnye segunung udah 20 taon lebih setop mbangun pltn komersil, alasannya ga nguntungin, boro2 prifit listriknya malah musti disubsidi. makanya aku sih sujud ama senior kaya ompapang. andaikan menteri kita ompapang, indonesia ga semrawut kaya gini. la ngapain belagu maju. wong bisanya cuma beli, tapi ngejalaninnyapun masi suka mangkir ga becus disiplin, ko ngotot bangun pltn di muria, 1 mw 2016, 4 mw 2025, yang saat itu baru cuma 4% dari seluruh daya yang ada. ga masuk akal banget dibanding repot ama ongkosnya. la dgn duit yang sama bisa dibangun sedikitnya 3-5 kali pltu batubara. sayangnya menteri kite bukan ompapang, melainkan orang “maju”, yang ngeberesin bencana apapun malah bencananya beranak tamba gede. alih2 nuklir, ngurusin tabung gas ama bio-diesel aja udah meletup, untung cuma ahli2 nya doang yang semaput kesamber. udahlah, ngapain cari resiko tambahan maen nuklir, pltn segala. bikin puyeng banyak orang. lebi baek mikirin keselamatan generasi, ta iya.

  14. makasi pencerahannya.
    tapi ko nuduhnya “pokoke nolak”. uda buanyak alasan yang diajukan, dari harganya mahal banget, cuma nambahin utang negara, semuanya impor, resikonya gede, bikin jutaan orang sekitar ketakutan, para ahli kita kerjanya masi suka asalan, kita toh punya banyak alternatip, la ngapain ngotot mbangun pltn? kenapa ga ikut aja kaya jerman dll yang bikin undang2 stop pltn? mereka punya report analisis yang pltn jauh lebih banyak negatipnya, dan jelas bukan “pokoke nolak”.

  15. Mas Hadianto_a

    Nuklir jelas lebih “maju” ketimbang yang lain donk. Bukannya PLTN sudah terbukti “ada manfaatnya” dimana-mana sebagai sebuah sumber energi. Kelemahannya “ada”, itu sudah pasti untuk semua teknologi. Dan yang lebih penting sudah pernah dibuktikan manfaatnya selama ini. Memang bukan berarti yang lain ngga maju-maju. Jangan dibenturkan begitu caranya. Tetapi coba pikirkan mana pikiran yang “lebih maju”, memikirkan untuk menjalankan dengan benar (aman) atau menghambat dengan menolak “pokoke bukan PLTN” ? Lebih parah lagi “Pokoke jangan ditempatku” !

    Aku yakin geothermal juga maju, ini yg sering pakdhe gemborkan dulu (ntah pakdhe rofiq kok skarang diem soal energi ini). Tapi geothermal juga menghadapi kendala “non tehnis” padahal cocok untuk Bali. Energi lain misal gelombang, surya, angin dll belum “semaju” perkembangan PLTN. Dalam artian “maju” dari semua segi, termasuk “kesiapan”-nya hingga saat ini di Indonesia.

    Coba dibuat saja roadmap-nya. Nanti kita lihat saja mana yang lebih dahulu didepan dan mencapai gars finish, itu yang dikerjakan terlebih dahulu. Saat ini penolak PLTN lebih banyak yang berbicara sekedar menolak, padahal lebih baik tenaganya dipakai untuk mengembangkan energi terbarukan. Bukan membantu mencari alternatif eeh malah menghambat yang lain. Ini namanya bukan “win-win” tapi “win-loose”, Kompetisi negatif bukan sinergi …. Sedih, kan ?

  16. eh ngaco bung. urusan nuklir kite urang indon ga pesimis, tapi otak masih waras. ngebangun pltn apanya yang maju? segalanya cuma beli dari negara maju. mesinnya, masangnya, bahan bakarnya, limbahnya, ijin operasinya, ngawasi operasinya, malah nutupnya kelak, semuanya impor dan dikerjain dan sepenuhnya tergantung luar negeri. jerman aja yang beneran maju memutuskan stop bangun nuklir dan kerjanya sekarang cuma menutupin pltn yang terlanjur ada.
    la disini nuklir malah digandrungin sama yang merasa diri maju dan bisa mandiri, soalnya orang2 itu ga perlu minta subsidi dan ga perlu merengek bantuan pemeritah, wong sudah sukses ngumpulin buat 3 turunan dan masih terus pengen nguasai proyek2 sampe nuklir segala.

  17. Wah knapa kok banyak orang Indonesia yang pesimistis ya ? Apa-apa kalau untuk sebuah kemajuan selalu lebih banyak yang menghalangi ketimbang yang mendukung.
    Kapan smajunya Indonesia Pakdhe ?

    Masih banyak yang kekanakan, minta subsidi, minta jaminan, mrengek bantuan pemerintah …. kok ngga mandiri banget yak ?

  18. Pak Teddy, saya baca di harian KR(Kedaulatan Rakyat) Rabu 12 September2007, ada kecelakaan LEDAKAN di Lab.BATAN Jakarta, makan korban luka-luka serius 4 peneliti BATAN.Walau polisi mengatakan tidak ada bahaya radio aktif, tapi Ketua DPR Agung Laksono mengatakan kecelakaan ini akan menambah alasan penolakan PLTN.Jadi bila Pak Teddy tak setuju PLTN, sudah ada contoh soal kecerobohan orang Batan yang bisa menimbulkan ledakan! Bayangkan kalau yang meledak itu PLTN !

  19. Menurut saya boleh – boleh aja pake PLTN tapi letaknya jauh dari pemukiman warga..
    bayangkan negara rusia aja dan jepang bisa bocor apa lagi indonesia
    sapa sech yang bisa jamin kalo PLTN itu aman
    andai kata udah bocor semua pejabat saling mengkambing hitamkan orang…
    jadi coba dech dipikrkan yang matang..
    bangun ditempat pulau2 yang kecil jauh dari opulau yang bayk penduduknya…

    Jangan hany kepentingan org tertentu untuk mendapatkan keuntungan pribadi ,
    saya tetap menolak bila PLTN diletakan di jepara
    saya lulusan Teknik .Elektro System tenaga UNISSULA SEMARANG …. jdi saya tau benar gman reaksinya jika bocor…
    tolong dech , sekali lg tidak ada yang bisa jamin kita aman!!!!!!!!!!!!

    by: Teddy M.P (Alumni UNISSULA SMG )

  20. pilu dibungkus geliā€¦ā€¦..
    1 september menristek hajatan mendanai gelar sosialisasi di jepara, katanya pltn akan dibangun di muria dan bersama kepala badan tenaga nuklir nasional meyakinkan masyarakat sono, kalo lembaganya punya pengalaman nangani nuklir dan pltn ada manfaatnya sehingga perlu didukung.
    10 september gas bocor dan meledak di laboratorium batan sampe para ahli nuklir batan luka masuk rumah sakit.
    11 september menteri negara lingkungan hidup menegaskan didepan komisi 7 dpr, bahwa rencana pltn muria itu belum punya analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). meneg lh menambahkan, sampe saat ini tidak ada satupun dokumen amdal tentang pltn muria, malah kementerian lh belum menerima permintaan apapun terkait amdal pltn muria.
    walahā€¦ā€¦ā€¦kacau teler gini, la nasib jutaan orang dan generasi jadi taruhan atawa mainan orang2 ā€œpinterā€.

  21. setuju nuklir—–kita kuasai teknologi nuklir—–listrik murah dari nuklir—–aman nuklir—–ga usah takut nuklir—–kita bangun 1000 mw di muria—–lalu nyusul 4×1000 mw. la la la, belum apa2, senin 10 september 2007, 15.23 wib dilokasi laboratorium penelitian kristal badan tenaga atom nasional (batan) serpong terjadi ledakan. 4 ahli nuklirnya luka parah, professor, doktor, msc, apu, ir, ssi. katanya ga ada kebocoran radioaktif, cuma ledakan gas tekanan tinggi dari penelitian kimia bahan nuklir. untunglah, disana ada reactor 30 mw.
    tapi apa ya perlu ngotot cepet2 ngebangun listrik nuklir gede di muria? kalo ledakan yang sama terjadi, penduduk jawa histeris, yang kaya2 dan orang asing kabur semuanya. apa banyak sumber alternatip lain dianggep ga keren, ga modern, ga mentereng? sudah 40 tahun ini kita metamorphose kebelakang. yang dikejar titel, gelar, korsi, pangkat, duit, harta. caranya? apapun jadilah. kerja keras dan ilmu ? ah, ngapain pusing2, mending jalan pintas.
    makanya lumpur lapindopun ga kunjung bisa diatasi. ga tahu, masih brapa lama lagi?

  22. Saya setuju-setuju aja dengan pembangunan PLTN.Sebagai diversifikasi energi,setidaknya PLTN akan menyumbangkan pasokan listrik sebesar 5-6% untuk indonesia.Hanya saja,kenapa dibangun di pulau jawa,yang sangat berpotensi sekali dengan gempa…Apakah mungkin pada saat analisis studi kelayakan memunculkan semenanjung murialah yang cocok untuk lahan PLTN,dilakukan pada saat indonesia tidak sedang berada dalam fase gempannya,seperti sekarang…Ya,semoga saja,dimanapun pembangunan PLTN adalah yang terbaik…

  23. boleh juga ada energi nuklir tapi indonesia itu kan banyak pulau kenapa juga harus di pulau jawa?
    di jawa timur lagi coba yang setuju itu di bangun aja pltn dekat rumah mereka kan malah bagus tidak ada unsur politik tidak ada unsur apa2 klo bocor paling cuma nimpa yang setuju itu. he he ehe hee
    mending bikin pulsat nuklir di pulau2 luar indonesia trus buat laboratorium yang bagus klo ada kebocoran kan tidak ada masalah to kan di luar pulau yang ada penduduknya, gitu aja kok repot yukkkkkkkkkkkkk

  24. Menurut WALHI Indonesia berada dalam Ring of Fire sehingga tidak memungkinkan / tidak aman untuk pembangunan PLTN. Nah menurut Pakdhe gimana? bisa dijelaskan sedikit?

    O ya, Pakdhe, sekali – sekali mengulas tentang teknilogi NANO dong, siapa tahu teknologi ini bisa menjadi alternatif untuk masa yang akan datang. Walaupun Pakdhe orang geologi, tapi kalau ada waktu boleh mengulasnya dong….

  25. setuju ma PLTN.
    resiko pasti ada, tp bukan berarti kita harus takut.
    bandingkan aja sepeda pancal, sepeda motor, trus pesawat terbang. resikonya makin tinggi di pesawat. tp banyak mana kejadian kecelakaan pesawat, kecelakaan sepeda pancal dan kecelakaan sepeda motor?
    nuklir emang bahaya klo bocor ato meledak. tp kita kan gak konyol biarin nuklir bocor/meledak. pasti ada sistem operasi, peraturan dll yg bisa dibuat utk mengontrol si nuklir itu.

    halah, jangankan PLTN, ma konversi kompor minyak ke kompor LPG aja kita masih takut.

  26. Saya juga cuma berpikir, PLTU it bahaya banget lho. Radiasi yang dipancarkan masih 3x lebih berbahaya dari PLTN. Seseorang yang bekerja di PLTU akan menerima paparan radiasi 3x lebih besar daripada bekerja di PLTN. Trus, seseorang yang bekerja di udara (pilot dan pramugari) menerima radiasi 10x lebih parah daripada mereka yang bekerja di PLTN. Harusnya, PLTU dilarang donk. Trus, jangan sampe ada orang yang bekerja di udara. Kita sih enak, lha mereka gimana?? Mereka kena radiasi yang sangat besar lho. Kan kasian.
    Coba, mas Ca’em dipikir sampe disitu.
    Jaman dulu, orang eropa ke amerika pake kapal juga gak masalah to??
    Dan yang pasti, tanpa PLTU, kita juga akan merasakan apa yang dirasakan suku Baduy, kalo mas ca’em sih gak papa. Kalo saya, berdasar kuliah kebijakan energi, rasio elektrifikasi berbanding lurus dengan kesejahteraan suatu negara. Karena saya ingin sejahtera, saya butuh listrik mas….

  27. Buat mas ca’em, ngenet gak pake listrk ya mas. Mbok gak usah ngenet 1 bulan aja mampu gak mas.Udah pernah ngerasain belajar cuma pake lampu teplok tiap hari?? Kalo belum pernah, mas ca’em belum pernah hidup di desa ya. Kalo saya sudah pernah mas. Saya asli Kulon Progo yang masih sangat ndeso. Ada listrik baru awal 1990. Itupun gak semua. Kalo bulan purnama senang sekali bisa main ‘sekongan’. Trus apa gak kasian sama suku badui yang masih primitif. Tidakkah ada kemauan membuat mereka jadi lebih maju?? Maju, jangan dipake sendiri mas. Bagi2 donk….

  28. Orang awam untuk memutuskan sesuatu mudah dikalahkan oleh Ilmuwan. (Ini bagus!)
    Ilmuwan untuk memutuskan sesuatu mudah dikalahkan oleh bisnisman/yang punya duit.
    Bisnisman untuk memutuskan sesuatu kebanyakan yang penting untung (apa yang bisa diakali, ya diakali. Apa yang bisa dikurangi, ya dikurangi. Kalo ga ketahuan kan ga masalah. Kalo bisa kenapa ngga! dll)
    tolong pikirkan sampe kesana ya!

  29. terserah deh, toh semuanya dah terlanjur. Akumah cuman ngasih saran doang dan ngasih pernyataan “kalo bisa aku memilih!”.
    Diterima syukur, ya ngga juga ga papa! Toh manusia juga akhirnya akan mati.
    Soal listrik…suku Baduy sampe sekarang ga pake listrik ga pernah ada masalah tuh! Kembali ke alam khan bukan suatu yang hina.
    sekali lagi “kalo bisa aku memilih!”

  30. Kapan siapnya kalau cuma mikirin kegagalannya. Perlu dong dipikirkan, penduduk semakin banyak, life stylenyapun sudah berubah perlu fasilitas listrik lebih besar;lagian listrik sangat diperlukan oleh industri – sementara cadangan minyaknya udah menipis. Mau industrinya nggak berproduksi atau mengurangi produksi, mau listriknya dibatasin cuma untuk penerangan!!Ayo, jangan pesimis dong memulai PLTN

  31. Seperti Sdr. Kawansyam, saya setuju dgn diversifikasi energi, tetapi utk PLTN, pikir-pikir dulu. Jangan hanya melihat hasil positifnya, namun jika terjadi sesuatu yang terburuk juga harus ikut dipikirkan, misalnya saja: kebocoran. Bagaimana cara pencegahan dan penanggulangan serta mengatasinya.
    Wong memadamkan kebakaran gedung bertingkat di Jakarta saja belum optimal (maaf, kalau tidak mau dibilang banyak gagalnya).

  32. Kalo kata dosen saya, PLTN juga dimanfaatkan untuk penelitian energi hidrogen. Wow, energi apaan lagi tuh…?

    Kalo soal kedisiplinan. Mbok dimulai dari diri kita dulu(termasuk saya). Gak usah maksa pemerintah mendisiplinkan pemerintahan atau gimana.

    Kemarin saya jadi EO pameran komputer ada suatu penghubung yang menghubungkan 2 gedung. Disitu pengunjung hanya boleh lewat tidak boleh keluar.Nyatanya, kebanyakan pengunjung lebih memilih keluar lewat situ dan kalau diingatkan cuma bilang, “alah gak papa mas, motor saya parkir disitu…”. Yak ampun, remeh gitu aja gak patuh, kok nentang korupsi nentang ini itu. Padahal budaya itu tanpa kita sadari telah kita bangun dari meremehkan peraturan kecil seperti itu karena ada kesempatan….
    tanya kenapa

  33. Kalau misalnya PLTN ngga dibangun, trus listrik akhirnya byar-pet …. kalau pas “mak pet”, kebetulan saudara atau orang yg kita sayangi sedang di-operasi dokter … gimana ya ?

  34. Sedikit pertanyaan: Kalo SDM-nya ngelakuin korupsi, pengawas bisa disogok, pengelola teledor dll, trus terjadi bencana gimana ya?
    Mudah-mudahan tak terjadi
    Mungkin semua sudah terlanjur. Solusi: Pengawasan harus bener-bener serius, kalo ngga mending ditutup aza!

  35. saya msh kurang setuju tuh, krn sy mash melihat banyak hal yg masih belum ter-urusi dg baik dan sistematik di qt, tp memang qt perlu terobosan baru tuk energi, jd mnrt sy tertibkan dulu deh sistem dan manejemn di qt tx

  36. Juntrungannya sih (mungkin) masalah dana lagi…

    Saya sih hanya mengkhawatirkan penjagaan dan penanganannya…Mengurus badan Pemerintahan saja sudah kewalahan, sekarang harus mengurus PLTN yang punya potensi meledak (Meski sedikit)…

  37. Ini baru solusi yang terbaik menurut saya, jangan hanya disibukkan degan pro dan kontra semata. Jelas kebutuhan listri semakin bertambah dari tahun ke tahun, sehingga harus dicari dari berbagai sumber yang kita miliki untuk memenuhinya.

  38. Saya penasaran, bagaimana sih hitung-hitungan bisnis/ekonomis pembangkit-pembangkit listrik negeri ini, entah itu PLTA, PLTN, PLTG, atau lainnya. Kapan mengulas soal ini, pakdhe?

Leave a Reply