Semburan lumpur berkurang drastis – Be alert !

17

Tentunya anda masih ingat terngiang berita semburan berhenti mandadak selama 30 menit pada tanggal 19 Maret 2007 lalu, yang waktunya kebetulan setelah insersi BolTon. Berita tentang berkurangnya volume semburan lumpur tentunya sering mengundang harapan. Tentu saja harapan supaya problem semburan Lusi binti Lula ini segera berakhir. Namun pengalaman selama ini menyatakan bahwa ada kemungkinan fluktuasi semburan diikuti oleh amblesan. Beberapa hari lalu Antara memberitakan volume semburan yang berkurang drastis. Tentunya harus ada kewaspadaan tentang gejala-gejala ini.

🙁 “Looh Pakdhe, bukannya kalau semburan berkurang kan berarti bagus kan ?”
😀 “Ya, betul thole, kalau berkurang terus-terusan itu bagus thole’ Tapi jangan lengah dengan pengalaman gejala berhentinya semburan selama ini. Perubahan gradual atau perlahan lebih bagus ketimbang berkurang drastis”

Berita yang dilansir oleh Antara menyebutkan :

Deputi Operasional Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Sofyan Hadi membenarkan bahwa volume semburan lumpur yang keluar dari pusat semburan sebulan terakhir ini terpantau hanya 0,8 meter kubik/detik, menurun drastis, dibanding saat awal semburan lumpur yang diestimasikan mencapai 1,5 meter kubik/detik,

Belajar dari pengalaman

Pengalaman masa lalu yang tergambar dalam grafis awal dibawah ini memperlihatkan semburan yang terbatuk-batuk (intermitten) diikuti dengan sebuah perubahan perilaku semburan.

slide12.gifSemburan yang terbatuk-batuk pada awal seburan ini menyebabkan adanya “letusan” hidrothermal. Seperti yang sebelumnya pernah dijelaskan bahwa apapun yang terjadi dipermukaan merupakan manifestasi dinamika apa yang ada di bawah permukaan.

Apakah interpretasi perubahan volue menunjukkan perubahan kondisi dibawah permukaan ini selalu benar ? tentunya harus ada proses pembelajaran terus menerus untuk mengetahui perilaku semburan Gunung Lumpur (Mud Volkano) ini. Itulah perlunya pembelajaran untuk sebuah fenomena baru di dunia ini.

🙁 “Pakdhe, katanya kejadian ini bukan hal baru. Dahulu jaman Mojopahit juga pernah terjadi ?”
😀 “benar thole itulah sebabnya ada Chandra Sengkala ‘Sirno Ilang Kertaning Bumi’ yang mungkin artinya hilang amblas ditelan bumi. Tetapi belum ada ilmu kebumian pada waktu itu. Dan ini membuktikan perlunya Paleodisaster study bagi kawan-kawanmu yang sekolah di Arkeologi”

Proses ini secara logis diinterpretasikan sebagai sebuah fenomena yang memperlihatkan perubahan struktur bawah permukaan (structural colapse) yang ditunjukkan oleh perubahan fenomena permukaan. Dalam hal ini perubahan debit volume dari 1,5 meterkubik/detik, menjadi 0,8 meter kubik/detik.

Kalau dilihat jeda waktu kedua fenomena ini, maka terlihat bahwa kejadian dari intermitten flow hingga timbulnya letusan dan colapse pada waktu awal ini selisih waktunya (jedanya) hanya selang beberapa hari atau bahkan serta-merta ( instant). Ada kemungkinan perubahan ini akibat colapse pada daerah dangkal. Coba tengok dan baca lagi detak-detak kelahiran Lusi Binti Lula ini.

Sedangkan terhentinya semburan selama 30 menit pertengahan bulan Maret 2007 itu diikuti dengan jebolnya tanggul-tanggul yang menyebabkan jalan raya Porong lumpuh pada akhir bulan Maret, atau kira-kira 2 minggu setelahnya. Dengan kejadian berkurangnya volume semburan kali ini tentusaja harus diikuti dengan kewaspadaan bukan sekedar sorak-sorak bergembira saja.

Semburan kecil-kecil yang bermunculan juga perlu diperhatikan.

hdcb_1.jpgPada waktu dilakukan insersi BolTon dilakukan pengamatan jumlah semburan dengan baik oleh Tim HDCB ini, sehingga data pengamatan dari waktu kewaktu ini dapat dipakai sebagai rujukan untuk melihat perilaku semburan. Semoga saja pengamatan seperti ini terus dilakukan oleh BPLS.

Crack-rekahanHingga saat peringatan HUT kemerdekaan RI ke 62 kemarin, jumlah semburan kecil sudah bertambah hingga 71 Titik Semburan. Penambahan-penambahan semburan ini menunjukkan adanya atau timbulnya rekahan2 diseputar semburan utama.

hdcb_3.jpgTim HDCB menyatakan bahwa berkurangnya jumlah semburan ini adalah dampak dari insersi yang dilakukan. Namun ketika semburan terhenti selama 30 menit dan karena kemudian terjadi amblesan yang luar biasa sehingga banyak yang menyatakan amblesan ini juga akibat dari insersi, yang dianggap tindakan insersi BolTon berdampak negatip. Akhirnya program HDCB tahap ke dua tidak diteruskan atau ditangguhkan.

🙁 “Sepertinya proses-proses ini terjadi seperti perkiraan pakdhe sebelumnya ya ? Bahwa ada siklus-siklus dalam pembentukan gunung lumpur ini”

Apakah ada kemungkinan amblesan ini nantinya akan diikuti dengan habisnya atau berhentinya semburan Lusi Binti Lula ini ?

Harapan itupun sebenarnya ada dan pernah diceritakan disini dengan mekanisme sederhana seperti dibawah ini.

Amblesnya tanah di lokasi Porong-1Kalau melihat gambar/ ilustrasi disamping ini, kita dapat melihat bahwa ketika semua material lempung dibawah itu sudah berpindah keatas, maka karena adanya amblesan sangat mungkin lubang semburan tertutup sendiri, maka semburan terhenti. Gambar disebelah ini hanyalah penyederhanaan saja, karena sebenarnya material padatan yang ikut menyembur keluar bukanlah hanya satu lapis saja.

Tentunya harus diketahui juga seandainya lubang tempat semburannya tertutup sendiri ini, bukan berarti tekanan atau tenaga dari bawah ini sudah habis looh. Sangat mungkin saja tekanan ini mencari jalan keluarnya. Kalau ada lubang lain yang terbentuk akibat aktifitas manusia (penegboran yang sembrono) maupun oleh akibat alamiah (gempa yang membuat rekahan). Hal ini sama saja dengan gunung api, kita tahu ada gunung api yg non aktif dan ada yang aktif. Juga kita sudah tahu ada cerita kelahiran gunung api baru bernama Paricutin disini.

Mengapa proses ini tidak akan berhenti ? Ya, tentusaja karena proses alami ini berlangsung terus. Proses tektonik yang menyebabkan pergerakan lempang ini terus berjalan, perubahan struktur bumi berjalan terus walaupun tidak kasat mata karena sangat pelan.

Namun bukan berarti proses alam itu berhenti.

Salam Waspada !

17 COMMENTS

  1. Meskipun telat ingin ikut nimbrung juga masalah Lusi. Sudah hampir 5 tahun, korban Lusi yang tidak untas-tuntas karena memang perlu dhuwit yang buanyak sekali. Itupun karena diperintah sang ibu untuk memberi sedikit kompensasi. Lapindo ini kalau beroperasi di USA atau Amerika Latin, sudah habislah harta Bakri group. Contoh Texaco kalah juga di pengadilan di Venezuela kalau tidak salah sekitar thn 97-an, yang terakhir Mobil oil di teluk Mexico. Harus bayar ganti rugi karena terjadinya polusi. Sementara, di Indonesia karena negara sangat pemaaf, sopan dan permisif….ya sudahlah negara yang nanggung. Uenak tenan ya? Pada hal, kalau sudah ketahuan ada mud volcano dari data seismic (karena survey seismic pasti sampai ke basement) sudah bisa diidentifikasi dan diantisipasi waktu drilling berlangsung ditambah analisa geology-nya. Drilling designnya dimodifikasi sambil mud loggingnya dicermati untuk menentukan kapan mau nge-set casingnya sekiranya ada anomali selama drilling. Ini tidak mungkin terjadi kalau drillingnya bener dengan prinsip mementingkan faktor keselamatan dan tidak mementingkan ekonomi. Ibarat membangunkan harimau tidur. Kalau membangunkannya secara halus, dikitik-kitik dulu, paling mata melek sebentar lalu tidur lagi pasti tidak mengaum dan ngamuk. Tapi kalau sembrono dan grusa-grusu pengen cepet bangun ya……ini hasilnya. Masak rig yang seharusnya bekerja untuk meng-“kill well” malah disuruh keluar. Karena rig ini yang punya fasilitas. ada pompa lumpur, bisa mencapur lumpur dalam volume yang besar, memasang casing dll koq malah pergi. Pasti ada “some thing wrong” dengan rig ini. Kontrak mungkin? Ya sudah karepmu..yang penting rignya aman. Good bye Lusi, selamat mengamuk. Untuk mencari root cause secara profesional tidak mempan karena sudah dilatar belakangi politis dan kekuasaan……ya seperti orang bicara di TV-lah, pasti gak ada solusinya. Sampai dedengkot masalah Drilling sebagai consultant dari ITB mengundurkan diri karena sudah tidak klop. Ditambah lagi yang melalukan “root cause analysis” (RCA) dari kepolisian. Bagaimana mau ketemu akar masalahnya, polisi disuruh ngurusi drilling. Polisi disuruh baca drilling mornig report (kalau komplit dan tidak ada manipulasi data) pasti bisa terjawab. Ya gak mungkin ketemu. Polisi harus belajar drilling dan ikut praktek ngebor paling tidak 2-3 tahun. Baru OK. Sepertinya, kalau lumpur keluar terus, tanahnya pasti ambles. Beda sama minyak atau gas. Mereka berdua ini menghuni disela-sela (mengisi pori-pori) butiran batuan pasir atau gamping. Kalau mereka keluar, tidak ada pengaruhnya kepada batuan. Tanah tidak akan ambles. Tapi sangat berbeda dengan lumpur. Beliau keluar bersama-sama sampai tenaganya habis, baru istirahat. Ya itulah nasib rakyat Sidoarjo…………….LUSI riwayatmu ini. ada pepatah Jawa: ?Mburu uceng, kelangan deleg” Pepatah ini seharusnya berlaku untuk Bakri group yang haus harta dan tidak mensyukuri nikmat dari Alloh SWT.

  2. kyaknya pemerintah dll lgi bingung nih!!!!
    kami juga sebagai masy sgt bingung apa smburan-semburan ini akan berakhir atau malah bakal menghancukan sidoarjo.sepertinya kita sebagai masyarakat cuma bisa berharap.bagaimana nantinya masih dipertanyakan sampai sekarng??????

  3. Bagi para ilmuwan geologi Indonesia semestinya fenomena Lumpur Sidoarjo merupakan universitas terbuka tempat untuk memeras otak dan keringat yang selama ini tidur pulas. Bangkitlah para Ilmuwan geologi Indonesia, berikan sumbangsihmu pada negeri ini, tunjukkan pada dunia bahwa kalian ada!!! Kenapa tidak pernah diadakan forum ide dimana semua lapisan masyarakat yang kebetulan punya ide bahkan yang paling konyol pun kalau memang bisa memberikan argumen yang masuk akal bisa ditampung sebagai masukan.

  4. Nggak lah, ndonya belum tuwa, malah masih anak-anak !
    Ndonya lagi bethik alias mbeling atau lagi hiperaktif.
    Kalau sudah tuwa malah anteng diem ngga banyak gerak. Lah ini bumi lagi seneng berjoged je.

    😀

  5. Kalau memang memungkinkan mud vulcano seperti yang pernah terjadi pada jaman kakek mojopahit dulu, kenapa pembebasan jalan tol relokasi kok masih disekitar itu dan sudah berlangsung, kira2 berapa persen ya kemungkinan bisa recovery 100%???

  6. Ah, iya jadi sebuah fluktuasi atau semacam itukah?
    Saya komentar singkat saja ya, jadi maaf kalau ngawur.

    Saya jadi ingat kalau sebuah letusan gunung yang sampai menghabiskan lava akan mengakibatkan amblesan. Kemudia daerah amblesan itu bisa menjadi lokasi interpalate quake, atau apapun itu. Jadi maksudnya bisa saja benar ketika ltusan berhenti terjadi amblesan. Namun daerah tadi bisa menjadi daerah pemicu gempa.

    ngawur…jangan dihiraukan.

  7. Saya sepakat dengan pak roficki untuk mengantisipasi kemungkinan amblesan.
    Kalau penurunan debit akibat musim kemarau tentunya akan berdampak perlahan-lahan tidak drastis atau tidak instant serta-merta.
    Pori-pori bumi tentunya tidak berupa pipa yang akan memberikan respons “seketika”. Lah iya kan pak roficki, mengalirkan air lewat selang saja perlu ada selang waktu dari kran dibuka hingga ngocor. Tapi aku mau tanya juga, berapa lama dampak hujan di gunung memberikan efek di akifer bawah tanah yang ebrjarak 10-20 Km ?

  8. Bertubi-tubinya gempa bumi dan gunung2 meletus merupakan proses alami yang harus diwaspadai secara lebih serius lagi.
    Always expect the unexpected.

  9. the first we must say thanks to god, because of him we still live in peacefull city ( Jakarta).we just human being and we must correct our sin, and bertobatlah………..

  10. Pakdhe kok sama dengan gempa ya, kalau ngga pernah gempa trus dipikir bukan daerah aman tapi barangkali terjadi penumpukan tenaga untuk gempa lebih besar.
    Lah trus yang bener mana ? Gejala yang bagus itu yang seperti apa, Pakdhe ?

Leave a Reply