Tidak perlu tanah-air tapi perlu Air, Listrik dan Jalan

9

flag-indonesia.gifMenyambut HUT Kemerdekan RI ke-62

Dahulu kita selalu menggunakan istilah tanah-air sebagai salah satu unjuk nasionalisme.
Tanya kennappa ? Ya, karena tanah dan air inilah sumber awal dari kehidupan, dan sebagai modal dasar untuk membangun komunitas bernama Negara. Kita memerlukan tanah dan air untuk hidup, untuk memulai kehidupan diperlukan tanah dan air. tetapi sekarang kita sudah hidup, lantas apa keperluan dasarnya ?

Hmmm yep … seperti judul diatas saat ini modal dasar untuk membangun adalah Air – Listrik – Jalan. Saat ini ketiga modal dasar ini merupakan tiga fondasi yang harus ada dalam membangun sebuah kawasan kehidupan. Entah itu sebuah kawasan kota baru, desa baru

Air

Air merupakan sumber kehidupan masih jelas mudah dimengerti. Ya karena air merupakan kebutuhan untuk segala hal. Termasuk kehidupan biologis makan-minum juga kebutuhan membangun sarana fisik diperlukan air sebagai medium sewaktu menyemen merkatkan batu-batu serta beton penyusun bangunan.

Selain memaknai air disini sebagai sumber kehidupan, tetapi memang secara fisik pembangunan infra struktur air adalah hal yang utama dalam sebuah perkotaan. Menurut kerangka acuan Bappenas :

Secara nasional, ketersediaan air di Indonesia mencapai 1.957 milyar meter kubik per tahun. Dengan jumlah penduduk sekitar 220 juta jiwa, potensi tersebut mencapai 8.800 meter kubik perkapita per tahun, masih di atas rata-rata dunia yang hanya 8.000 meter kubik per kapita per tahun. Namun, jika ditinjau ketersediaan air menurut wilayah dan waktu maka kondisi yang terjadi akan bervariasi. Lebih dari 83 persen dari aliran permukaan terkosentrasi di Sumatera, Kalimantan dan Papua, 17 persen lainnya di Jawa-Bali, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Pulau Jawa dengan luas 7 persen dari total daratan wilayah Indonesia hanya memiliki potensi air tawar 4,5 persen dari total nasional. Tetapi pulau ini dihuni oleh sekitar 65 persen total penduduk Indonesia. Kondisi di atas menggambarkan bahwa potensi kelangkaan air yang sangat besar akan terjadi di Jawa dengan daya dukung sumbedaya air yang telah mencapai titik krisis.

Dari kajian diatas diatas terlihat permasalahannya ada opada distribusi, bukan ketersediaan. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari kepulauan merupakan tantangan tersendiri dalam mendistribusikan sumberdaya alam yang sebenarnya sudah tersedia ini.

Listrik

listrik1.JPG

Listrik merupakan manifestasi sumber energi secara umum, sumber tenaga untuk membangun. Distribusi listrik saat ini masih terkonsentrasi di Jawa. Saat ini energi yang langsung dimanfaatkan oleh rakyat maupun industri adalah energi dalam bentuk energi listrik. Sehingga listrik dimasukkan dalam salah satu komponen infra struktur yang harus ada dalam membangun sebuah komunitas.

Kondisi listrik di Indonesia saat ini terlihat seperti disebelah kiri ini (klik untuk memperbesar). Jelas terlihat bahwa saat ini Jawa sangat mendominasi kebutuhan energi listrik. Distribusinyapun masih belum memenuhi.

listrik2.JPG

Namun sayangnya pola pemanfaatan listrik di Jawa yang aku tulis dua tahun lalu menunjukkan bahwa kebutuhan listrik yang sangat memuncak pada malam hari jelas bukan untuk kebutuhan berproduksi, lihat disebelah kiri. Kebutuhan beban puncak ini lebih untuk kebutuhan hura-hura. Waktu beban puncak yang mulai jam 5 hingga jam 10 malam, menunjukkan saat listrik untuk mall dan kebutuhan hura-hura. memang lamanya hanya 5 jam dalam satu hari, namun kbutuhan itu harus dipenuhi. Dimana pembangkit harus mambu untuk memnuhi kebutuhan pada 5 jam yang justru kurang produktip ini.

Detil penggunaan energi listrik dijawa dijelaskan disini. Total kebutuha listrik di Indonesia ini meningkat tajam bukan saja karena peningkatan kesejahteraan saja tapi tahukah anda bahwa Baru sekitar 52% penduduk negeri ini yang menikmati energi listrik ? Itulah sebabnya saya masih mengharapkan dibangunnya pembangkit-pembangkit listrik (termasuk PLTNuklir dan PLTGeothermal) untuk memberikan akses listrik kepada 48% saudara-saudara kita di Indonesia di tempat terpencil sekalipun.

🙁 “Tapi mau bangun PLTGeothermal diprotes, tuh di Bali. Mau bangun PLTNuklir diprotes juga, mau makai BBM harganya mahal juga diprotes. Trus pripun dhe”
😀 “Makanya ojo mung kakehan protes ! Yang produktip nape !”

Jalan

Jalan merupakan manifestasi dari hubungan atau network. Dengan menghubungkan satu titik dengan titik yang lain, satu desa dengan desa yang lain, juga satu kota dengan jota lain, termasuk satu pulau dengan pulau lain merupakan infra struktur yang menjadi modal ketiga yang harus dipenuhi untuk membangun komunitas yang maju.

Menurut Tante Wiki Indonesia memiliki sekitar 158.670 km jalan beraspal, dan sekitar 184.000 km jalan biasa (perkiraan pada 1999). Panjang Jalur kereta api: total: 6.458 km yang terdiri atas narrow gauge: 5.961 km 1.067-m gauge (101 km listrik; 101 km rel ganda); 497 km 0.750-m gauge (1995). Jalur pipa: ini merupakan jalur distribusi sebagai penghubung juga. Total jalur pipa ini minyak mentah 2.505 km; produk petroleum 456 km; gas alam 1.703 km (1989). Indonesia merupakan negeri kepulauan sehingga yang dimaksud jalan disini termasuk untuk hubungan udar. Jumlah Bandara: 446 (perkiraan 1999) Bandara – dengan landas pacu beraspal: total: 127 Bandara – tanpa landas pacu beraspal: total: 319.

distributed.jpgModal jalan (baca network) yang sudah ada diatas tentulah tidak cukup. Masih diperlukan jalan-jalan baru untuk menghubungkan satu kota dengan kota lain. Bukan hanya membuat jalan baru ditengah kota. Kesalahan pengelolaan transportasi di Jakarta slah satunya adalah pembenahan lokal tetapi tidak terdistribusi. Kalau saja dibangun jalan akses ke kota-kota sekelilingnya maka kebutuhan Jakarta dapat dipenuhi oleh kota sekitarnya. Dengan demikian kesemrawutan dapat diatasi.

Setelah dibangunnya Jalan Tol Bandung-Jakarta, maka sangat terlihat perkembangan sepanjang jalan tol. Juga secara berangsur kebutuhan Jakarta akan dipenuhi oleh Bandung dan daerah sekitar jalan tol. Salah satu contoh adalah, kalau dahulu kebutuhan rekreasi Jakarta hanya disekitar 60 Km dari kota (Ancol, Tamanmini, Puncak, Bogor dsk), saat ini distribusi rekreasi akan memnugi daerah yang lebih luas.

Ini artinya tanpa diperlukan otonomi daerah untuk mendistribusikan kesejahteraan akan berjalan dengan sendirinya setelah saranya jalan untuk akses dapat dipenuhi. UU otonomi menghabiskan milyaran bahkan kalau digabung dengan UU yang dibuat oleh kabupaten2 yg terkait mungkin sudah triliunan rupiah untuk uang sidang, uang studi dan uang-uangan, itupun hanya menjangkau kalangan tertentu yg diatas. Namun dengan membangun sarana fisik jalan tol maka distribusi kesejahteraan akan berjalan riil dan pasti.

Jalan serta akses sekali lagi tidak hanya jalan beraspal. Indonesia ini negara kepulauan sehingga kebutuhan transport diperlukan juga antar pulau. Gambar dibawah menunjukkan bagaimana Indonesia harus disatukan dengan kontrol dari pusat di Tingkat propinsi. Bagaimanapun tingkat propinsi masih harus terkait kuat dengan pusat. Hal ini bukan karena sentralisasi lebih bagus dari sistem distribusi tetapi mungkin saja hanyalah karena kondisi geografis Indonesia masih membutuhkan secara politis.

central.jpgAku sendiri tidak terlalu berpikir rumit untuk negara kesatuan secara politis. Sarana fisik ini sangat diperlukan dan hasilnya lebih riil, ketimbang membuat UU serta ketetapan MPR tentang negara kesatuan.
Sebenarnya dahulu ketika ada Tetuka (N235) dan Gatotkaca (N250) akan dibuat sendiri di dalamnegeri, sudah dapat dipakai sebagai modal dalam menyatukan Indonesia. Sayangnya PTDI terlalu dini mengundang kontroversi politisi yang cerewet yang akhirnya usaha riil inipun mandeg.

Jadi sebagai modal dasar dalam pembangunan yg hasilnya moga-moga saja akan terdistribusi dengan baik saat ini adalah AIR, LISTRIK dan JALAN !
Air
Ketersediaannya cukup tetapi masih menyisakan tantangan utama ada pada distribusi.
Listrik Ketersedian jelas masih belum mencukupi. Penyediaan kebutuhan listrik ini mestinya menjadi prioritas yang utama.
Jalan Selain prasarana jalan aspal darat juga hubungan antar pulau dengan kapal air dan kapal udara

Nah sebagai penutup kita nyanyikan lagu yg dibikin heboh itu :

MERDEKA !!

9 COMMENTS

  1. saya sebagai bangsa indonesia banyak mengucap syukur terhadap TUHAN YANG MAHA ESA karena kita di izinkan untuk merdeka dan menikmati alam indonesia kita.
    UNUTK ITU MARIKITA BERSATU UNTUK MAJU,BERSATU MEMBERANTAS PARA KORUPSI,DAN PARA PENJAJAH,SUPAYA KITA TETAP JAYA,DAN SUPAYA NEGERA INDONESIA TIDAK LAGI NEGARA TERMISKIN DIDUNIA,DAN SERTA KITA HARUS TAU MENGUCAP SYUKUR KEPATA TUHAN KITA .
    IWAN SINAMBELA

  2. saya sebagai bangsa indonesia banyak mengucap syukur terhadap TUHAN YANG MAHA ESA karena kita di izinkan untuk merdeka dan menikmati alam indonesia kita.
    UNUTK ITU MARIKITA BERSATU UNTUK MAJU,BERSATU MEMBERANTAS PARA KORUPSI,DAN PARA PENJAJAH,SUPAYA KITA TETAP JAYA,DAN SUPAYA NEGERA INDONESIA TIDAK LAGI NEGARA TERMISKIN DIDUNIA,DAN SERTA KITA HARUS TAU MENGUCAP SYUKUR KEPATA TUHAN KITA .
    IWAN SINAMBRLA

  3. Rakyat indonesia begitu meriah dan semarak merayakan HUT Kemerdekaan RI. Bendera merah putih berkibar di sepanjang jalan di depan rumah. Upacara kenegaraan diselenggarakan begitu khidmat melebihi khidmatnya sholat berjamaah di mesjid yang riuh dengan anak-anak. Namun, olinya oli “Top One”.

  4. air dan tanah kita sudah dirampas bangsa lain dari tanah air kita.

    apakah kita memang terlalu lemah dalam urusan bertanah air. atau memang karena terlalu banyak air dan tanah, hingga kita melupakannya?

Leave a Reply