Buzz … Cadangan gas di Asia Tenggara

19

Gas well with flare stack

Rasanya ga adil kalau aku hanya berbicara perlunya mengembangkan gas di Indonesia, ketika menulis Rapot merah MiGas di Indonesia, kalau tanpa memberikan gambaran seperti apa sih gas yang di Indonesia. Apakah gas ini yang bisa menolong kita dalam mengisi kekurangan energi ataukah hanya buzzz .. !!

🙁 “Pakdhe jarene ada fakta bahwa kentut secara konsisten selama 6 tahun 9 bulan, akan menghasilkan gas yang cukup untuk menciptakan energi yang setara dengan bom atom ”
😀 “Blaik kowe iki , serius nape !”

Penemuan Gas di Asia Tenggara.

gas-1.jpg Gas di Asia Tenggara mulai diketemukan dalam jumlah besar sejak sekitar akhir 1970-an. Jumlah gas yang cukup besar pada waktu itu dianggap bukan sebagai bahan energi yang berguna dan memiliki nilai ekonomis. Banyak sumber minyak yang mengandung gas hanya membakar gasnya lewat “flare” (menara pembakar).

Hal ini disebabkan karena pada saat itu tidak ada (sangat terbatas) mesin yang mampu menggunakan energi gas ini. Sehingga gas tidak laku untuk dijual. Bahkan kalau diproses menjadi LNG teknologinya masih mahal pada waktu itu. Di Indonesia pemrosesan Gas menjadi LNG pertama kali dibangun di Aceh sekitar tahun 1974. Pada waktu itu LNG masih baru dieksport ke Jepang. lah wong mereka bersedia mengubah mesinnya sehingga bisa menggunakan LNG. Waktu itu mobil gas juga belom ada looh.

gas-2.jpg

Jumlah cadangan gas di Asia Tenggara ini meningkat pesat hingga 1980-an. Total yang sudah diketemukan mencapai angka lebih dari 182 Tcf (Trillion cubic feet, ini cadangan yang mungkin diambil dengan teknologi masa kini. Total yang ada dibawah (sering disebut inplace) sejumlah 223 Tcf. Bandingkan dengan cadangan di Australia yang hanya 120 Tcd dan Cadangan Eropa hanya 58 Tcf. Dan tahu nggak, kira-kira 100 Tcf nya ada di INDONESIA !!! Dan ada satu lapangan buesar yang ngga (eh belum) dikembangkan adalah Natuna D-Alpha sebesar 46 Tcf Gas (recoverable – dapat diambil). Total keseluruhan Asia Tenggara memiliki cadangan sebanyak 12% dari cadangan gas dunia yang sudah diketemukan.

🙁 “itu kalau disetarakan dengan kentut tadi, selama berapa tahun ya dhe ?
😀 “Hust kowe iki, ra iso serius apa ?”
🙁 “Bukan gitu Pakdhe, aku kan ga bisa ngebayangin itu besarnya seperti apa ?”

Sebagai gambaran cadangan di Lapangan Gas Arun yang dipakai untuk mengembangkan Train LNG di Aceh dahulu besarnya 15 Tcf dan yang mungkin terambil (recoverable) sebesar 13 Tcf. Jadi kalau ditotal-total semua besarnya gas di Asia Tenggara ini kira-kira setara 14 industri Arun. Taaapi … cadangan gas yang diketemukan ini tidak mudah dikembangkan seperti Arun, mengapa ?

Penyebaran Lapangan dan Pengembangan Gas

gas-3.jpg

Lapangan-lapangan gas di Asia Tenggara ini tersebar di beberapa negara antara lain di

  • Vietnam memiliki cadangan sebesar 16 Tcf. Tersebar di laut dangkal. Kesulitan pengembangan lapangan disebabkan karena tidak tersedianya infra struktur yang memadai serta jumlahnya yang kecil-kecil.
  • Cambodia sebesar 75 Bcf (Billion cubic feet), sayangnya infra struktur negeri ini tidak ada sehingga lapangan gasnya pun suit dikembangkan. Namun Cambodia masih memiliki daerah cukup luas yang belum dieksplorasi.
  • Brunei memiliki pemrosesan LNG (BLNG – Brunei LNG), shipment dimulai tahun 1973 ke Jepang. Brunei tidak mendapatkan masalah serius untuk lapangan-lapangan yang belum dikembangkan, karena memiliki train LNG sendiri yang mampu menyerap produksi gasnya.
  • Thailand hanya memiliki 3,580 Bcf (3.5 Tcf) gas yang tidak dikembangkan, lainnya yang 73% dikembangkan oleh single operator yaitu Chevron, lapangannya tersebar sehingga memerlukan banyak platform (anjungan). Thailand merupakan negara yang juga memiliki pasaran gas, sehingga gas yg diketemukan lebih mudah dicari pasarnya dan dikembangkan.
  • gas-4.jpgDi Malaysia total cadangan gas lapangan yang tidak dikembangkan memiliki total cadangan sebesar 38 Tcf. Pasaran gas di Malaysia sebenarnya cukup bagus, namun mengalami kendala kandungan gas CO2 yang cukup besar terutama di laut dangkal Sarawak yang berdekatan dengan Natuna.
  • MT JDA (Malaysia – Thailand Joint Developement Area) merupakan daerah kerjasama antara Malaysia dan Thailand, mirip Timor Gap. di MT-JDA ini juga dijumpai banyak lapangan gas yang sudah mulai dikembangkan. Ada 15 lapangan yang sudah diketemukan dengan total cadangan sekitar 9.8 Tcf.
  • Pilipina memiliki cadangan sebesar 4,270 bcf (4.3 Tcf) yg “stranded” (nganggur). Cadangan ini berada pada dua lapangan saja.
  • Myanmar memiliki 13 Tcf gas yang tidak belum dikembangkan. Diperkirakan lapangan-lapangan ini baru dapat berproduksi tahun 2010.

Indonesia

gas-5.jpg

Indonesia memiliki cadangan yang nganggur (stranded) sebesar 100 Tcf. jumlah yang suangat besar tentunya. Tentunya sangat disayangkan mengapa cadangan sebesar ini tidak belum dikembangkan. Apalagi ada satu lapangan sebesar 45 Tcf dari satu lapangan saja, yaitu Natuna D-Alpha yang diketemukan pada tahun 1973 oleh Agip (perusahaan minyak Italia). Total gas yang terkandung di lapangan terbesar di Asia Tenggara ini sebesar 222 Tcf, tetapi 70%-nya berupa CO2. Kandungan gas ikutan inilah salah satu masalah utama mengapa lapangan ini tidak mudah dikembangkan.

Biaya pengembangan lapangan D-alpha ini dapat mencapai 42 Billion USD, atau sekitar 1 Billion setiap Tcf. Jumlah yang suangat mahal. Hal ini karena kandungan gas CO2 dan H2S yang korosif mencapai 70%.

🙁 “Pakdhe, lah itu gas CO2 yang 70% itu kan yang bisa untuk bikin Cola to dhe ?. Mbok digalakkan minum Cola aja dhe, ben payu nggih”
😀 “Whaduh nanti teh ginasthelnya yang ngga laku thole”

gas-6.jpgPenyebaran lapangan gas yang tidak dikembangkan di Indonesia ini tersebar 62% di laut dangkal (shelf), 22 % di darat dan sisanya 16% di laut dalam. Lapangan-lapangan ini di Indonesia ini berukuran sedang hingga kecil sehingga pengembangan lapangan dengan “stand alone type” (satu lapangan satu fasilitas) tentunya menjadi sangat tidak ekonomis. Pengembangan lapangan yang ideal adalah dengan menggunakan satu kesatuan. Tentunya tidak hanya fasilitas produksinya tetapi juga pemasarannya.

Dari sejumlah lapangan yang nganggur (stranded) ini, 54 Tcf ada ditangan Chevron, Conoco dan Pertamina. Namun yang 11 Tcf ada di Chevron laut dalam (ex Unocal). Conoco phillips memiliki 9 tcf tetapi tersebar dalam 39 lapangan kecil, sedangkan Pertamina memiliki 70 lapangan kecil-keci. Namun ada satu Senoro Field di Sulawesi berkapasitas cadangan 3 Tcf, yang diharapkan akan mulai dikembangkan dengan mini LNG tahun 2009.

Lainnya ada sebuah lapangan dengan cadangan 4.5 Tcf yang dimiliki oleh perusahaan Jepang Inpex yang berada di Laut Timor. Yang mungkin dikembangkan dengan memanfaatkan infrastuktur dari Australia LNG Plant.

Coba lihat gambar disebalah kiri atas ini, bagaimana lapangan-lapangan ini tersebar pada daerah yang saat ini 1.6 Tcf ada di daerah yang tidak dalam pengerjaan (open areas).

Perlu sosialisasi penggunaan gas.

Pengembangan lapangan gas sangat ditentukan oleh pengguna atau pemasaran. Itulah sebabnya penggunaan gas di Indonesia harus digalakkan, baik untuk industri maupun rumah tangga. Apabila gas menjadi sumber energi utama di Jawa saja, barangkali pengembangann gas menjadi relatif lebih mudah dan semoga lebih murah.
Sekarang kita sudah kita lihat betapa besarnya cadangan yang nganggur di Asia tenggara dan di Indonesia ini. Jadi tergantung kita saja, apakah gas akan menjadi BOOM gas di Asia atau BUZZZZ nggembozzz .. 😛

Refrence : Majalah PetroMin March 2007

Ingin main-main dengan konversi seberapa besar sih 1 Tcf ? silahkan lihat dibawah :

🙁 “Whallah malah dikasi PeeR sama Pakdhe” ;(

Konversi energi gas

1 MMSCF of natural gas = 172.3 barrels of crude oil equivalent = 365 x 1,000,000 scf
1 million cu.ft. of natural gas = 18.91 tons liquid = 1598.69 cu.ft.liquid
1 std.cu.feet of natural gas = 1000 BTU = 252 kilocalories
1 m.ton of coal = 4.879 barrels of crude oil equivalent
1 m.ton of lignite = 2.053 barrels of crude oil equivalent
1 ltr of fuel oil 1500 sec = 38.9 cubic feet of natural gas
1 kg of LPG = 47.0 cubic feet of natural gas
1 normal cu.m. per day (Nm3/d) = 37.33 standard cu.ft. per day (SCFD)

(LNG conversions)
1 ton of LNG = 1.14 1.4 x 103 normal cu.m.natural gas (Nm3) = 52.3 x 103 standard cubic feet natural gas (SCF) = 55.0 x 109 joules (HHV)

(energy equivalents)
1 ton of LNG = 1.22 tonne crude oil= 0.80 tonne heavy fuel oil = 0.91 tonne LPG = 1.91 tonne coal

(commercial composition)
1 barrel per day (b/d) = 50 tonnes per year (approx.)
1 barrel of oil equivalent = 1 barrel of crude oil
= 5,487 cubic feet of gas *

* Natural gas is converted to barrels of oil equivalent using a ratio of 5,487 cubic feet of natural gas per one barrel of crude oil. This ratio is based on the actual average equivalent energy content of TOTAL’s natural gas reserves.

1 barrel of crude oil per day = appr. 50 tons of crude oil per year
1 ton of crude oil = 1 metric ton of crude oil = appr. 7.3 barrels of crude oil (assuming a specific gravity of 33 API) = 6.6-8.0 bbl. of crude oil with 7.333 bbl. taken as average = 1.16 kl. of crude oil (average)
1 ton of oil equivalent = appr. 1,125 cubic meters of natural gas

Tcf (Trillion Cubic Feet)
Bcf (Billion cubic feet)
MMSCF (Million standard cubic feet)

Konversi lengkap disini

19 COMMENTS

  1. @ary karang,
    jawa barat sekarang sedang mengalami shortage gas, banyak kontrak-kontrak gas existing tidak terpenuhi kebutuhan gasnya. ditambah, gas sekarang mulai gencar dilirik orang, karena harga crude naik gila2an, akibatnya pengembang lapangan sendiri maunya merubah harga gas kontrak existing (kontrak existing di jawa sekitar US$ 3.50/MMBTU) sedangkan untuk gas yg baru dikembangkan, konsumen mau membeli dgn harga tinggi US$5.00/MMBTU.
    Sayangnya sumur2 penghasil gas banyak berada di remote area, jauh dari lokasi demand, mungkin saatnya penggunaan CNG carrier diaplikasikan, asalkan masuk keekonomianny, tks

  2. Tolongin, ini kalau bersedia lho, ceritain panjang lebar asal muasalnya kok ada sour well dan sour crude. H2S nya berasal dari mana, atau dari sebab apa ya?
    Terima kasih buanyaaak.

  3. Pakdhe Rovicky,

    Omong2 ttg lapangan Blok D Natuna Alpha, selama ini kita membahas dari biaya utk mengkomersialkan cadangan gas tsb. Tapi di sisi lain, bagaimana hitung2an emisi CO2-nya? Soalnya Indonesia itu skrg di peringkat 10 dunia utk volume gas alam yg di-flare.
    [Tapi mungkin kita mesti buru2 mengkomersialkannya sebelum ada ‘Protokol Kyoto’ yg baru yg memasukkan Indonesia ke dalam list Annex B-nya, hehehe…]

  4. Wah, menarik sekali artikel ini. Dengan kata lain, ini sebuah tantangan, bagaimana menjadikan stranded gas ini jadi lebih bermanfaat. Kalau tidak salah ada teknologi CNG yang memungkinkan transportasi dengan terminal yang murah, sehingga bisa mengakomodasi sumber gas yang sedikit dan terpencil. Mohon pencerahan atas solusi tersebut…

  5. perkenalkan saya cHun-cHan maRoe cHen, saya masih sKul disebuah kota hening dipulau jawa.
    saya mau berterimakasih atas informasi yang ada diwebsite ini, karna dengan adanya website ini saya mempunyai pengetahuan yang lebih..

  6. pakdhe,
    denger2 lapangan gas Tangguh di papua juga mengandung gas dlm jumlah signifikan. tapi baca di situs apa gitu (kalo ga salah wikipedia), ada pelanggaran HAM.. ih sereem

  7. yup! btw konversi minyak tanah ke Elpiji terkesan terlalu buru-buru dan sangat dipaksakan. sehingga sering terjadi kendala. namun, memang ada benarnya juga. kalau kita gunakan terus-menerus minyak tanah kan bisa habis juga. ada baiknya konversi dilakukan secara pelan-pelan dulu (tapi pasti). ingat kan, bagaimana orang-orang mulai menggunakan tabung Elpiji 12 Kg? tanpa paksaan. sebaiknya konversi minyak tanah ke Elpiji dikaji lebih dalam lagi (namun tidak mesti harus dihentikan, melainkan harus terus berjalan). hanya saja metode yang digunakan harus lebih “kenna” lagi. biar masyarakat belajar mencintai produ Elpiji (khususnya tabung 3 Kg). seperti mereka mencintai tabung Elpiji 12 kg.

  8. @ suhardo
    tinggal ngitung kok pak suhar
    1000 BTU = 1 scf NG = 0.293 kWh
    1 Tcf = 10^12 scf = 0.293 x 10^12 kWh = 2.93 x 10^10 kWh
    tapi itu masih itungan kasar banget, tidak memperhitungkan hilang panas dalam proses dan efisiensi turbin

  9. sosialisasi penggunaan gas?? kalo utk rumah tangga harus konversi lagi tuh dari LPG (propane & butane) ke LNG (methane & ethane), lha wong konversi dari minyak tanah ke LPG aja menuai banyak kendala dan korban.
    Sebenarnya kandungan gas CO2 yang tinggi itu bisa malah menguntungkan jika digunakan utk keperluan industri pupuk urea loh dhe (CMIIW), kan bahan dasar pupuk urea kan gas N2, H2 dan CO2 yang selama ini didapat dari proses steam reforming LNG.
    Kalo utk rumah tangga, LNG kayaknya kalah sama biogas (sama2 kandungan utamanya methane). Tinggal modifikasi septic tank jadi reaktor biogas jadi bisa punya sumber energi gratis loh, meskipun hal ini baru dilakukan di Pengalengan, integrated sama peternakan sapi perah. di sono banyak rumah tangga yang sudah memanfaatkan biogas dg menggunakan reaktor biogas sederhana dari plastik.
    Itu kali yak, yang dimaskud si thole dengan ‘kentut’ bin biogas …. 🙂

  10. Mas Mbilung
    Lah wong Pakdhe iki malah ngasi PR gitu je. Aku juga pingin tahu berapa banyak 1Tcf itu ? Kalau untuk menggerakkan turbin listrik 1Kwh butuh brapa sih pakdhe ?

  11. Siiip iki Pakdhe.
    Punya konversi energi dengan perbandingan kegiatan sehari-hari ndak pakdhe? Misalnya 1MMSCF bisa dipake buat mendidihkan air brapa banyak.

  12. PERTAMAX!! Wow, artikel keren pak dhe… Aku nyari konversi nya malah nemu di situs ini… Trus menulis biar orang2 bodoh seperti aq ato mungkin khalayak umum di lokal / remote area bisa paham… Makasih atas “sharing” ilmu nya

Leave a Reply