Raport merah lima tahunan migas di Indonesia

26

petrominer0307.jpgExodus ahli-ahli perminyakan yang dikenal dengan GGRE (Geologist-Geophysicist-Reservoir-Engineer) dari Indonesia ke luar negeri terutama Malaysia pernah menjadi satu topik khusus di Majalah Petrominer Bulan Maret 2007 lalu. Dalam majalah itu tercatat paling tidak ada lebih dari 200 GGRE saat ini di Malaysia. Statistik keberadaan mereka yg hijrah ini perna ditulis juga disini sebelumnya.

Selanjutnya dibawah sana secara grafis anda dapat melihat bahwa sangat mungkin ada hubungan antara penemuan-penemuan migas selama ini di Malaysia dan Indonesia akan berhubungan dengan adanya Brain-drain selama ini.

– πŸ™ “Whallah, Pakdhe slalu crita braindrain padahal jadi bagian dari drain itu sendiri”
+ πŸ˜€ “Hust !, ini hanya pembelajaran bagaimana mengelola sumber daya manusia”

Raport merah lima tahunan

discoveries.jpgTanpa penjelasan detil tentunya grafik disebelah ini semestinya akan memberikan sedikit petunjuk mengapa terjadi penurunan penemuan migas di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini (klik gambar untuk memperbesar). Penemuan-penemuan migas di Indonesia mengalami fluktuasi sebelum tahun 2000 namun mulai tahun 2001 terjadi penurunan yang cukup tajam dari volume minyak dan gas yang diketemukan.
Keterangan gambar MY = Malaysia, INA = Indonesia

Harus diketahui juga bahwa pada tahun 2001 merupakan awal diundangkannya UUMIGAS (UU22/tahun2001). Sangat mungkin UUMigas ini menjadi pemicu awal menurunnya investasi di Indonesia. Tentusaja dengan menurunnya investasi akan diikuti dengan penurunan jumlah pekerjaan yang tersedia pada sektor ini di Indonesia. Dan sebagai domino efek barangkali yang mengakibatkan “harga beli” terhadap GGRE menjadi sangat rendah didalam negeri Indonesia, yang tentu saja akan memacu para GGRE ini untuk berkiprah mencari pengharagaan yang sepadan dengan rekan-rekan mereka secara global. Dan lagi-lagi Malaysia menjadi tujuan terdekat dan paling mudah karena hambatan kulturalnya paling kecil, dan secara geologipun banyak sekali kemiripannya. Artinya pengalamannya akan sangat bermakna ditempat baru.
Dibawah ini komentar Pak Teguh yg saat ini menjadi ketua IATMI-KL yang kebetulan kolega saya di Murphy-Oil Sarawak sebelum saya bergabung dengan HESS.

by-profession.jpg Data yang dibuat pakdhe Vicky memang menarik, karena waktu tahun 2002-an memang adalah awal-awal orang perminyakan Indonesia membanjiri Malaysia dan tahun 2005 emang lagi banyak-banyaknya. Yang dari 2002 sekitar 20-an menjadi lebih dari 150-an di tahun 2005.

Saya masih selalu terobsesi untuk mengetahui trend ini dari dulu, yaitu angka ‘real contribution’ dari orang perminyakan Indonesia di Malaysia. Seberapa besar sih kontribusi kita dalam sukses eksplorasi maupun kenaikan produksi di Malaysia ini?

Yang jelas kalau di Murphy Sarawak Oil, saya berani bilang kalau kontribusi orang Indonesia dalam sukses eksplorasi dan kenaikan produksi di Sarawak Basin memang besar !! Yang saya sangat ingin tahu adalah apakah dengan kedatangan orang-orang perminyakan Indonesia ada korelasinya dengan kenaikan produksi dan kenaikan ekplorasi sukses ratio di Peninsular, Baram ataupun Sabah?

Lha kalau yang seperti ini bisa divisualisasikan dalam bahasa gambar seperti pakdhe Vicky buat khan asyik juga… Terus dikasihkan ke boss Petronas atau mungkin sama Pak Lah…., sambil bilang ke Pak Lah, “Tolong lihat kontribusi kita ke bisnis perminyakan Malaysia, makanya Pak Lah, jangan panggil kita Indon lagi ya…, tapi INDONESIA !!!”

Perforemance GGRE Indonesia atau akibat UUMigas

drilling.jpgMemang benar pada tahun 2001 saat diundangkannya UUMIGAS, namun pasa saat itu memang merupakan awal terjadinya penurunan volume penemuan migas yang sangat signifikan. Tapi sebelum mengkambingkan UU ini kita coba tengok dulu gambar yang dibuat oleh Cris Newton pada pertemuan IPA bulan May 2007 ini. Gambar disebelah ini menunjukkan bahwa jumlah sumur yang dibor pada tahun-tahun itu tidaklah berkurang secara signifikan. Memang awal 2004 menunjukkan peningkatan tetapi kalau anda bandingkan dengan grafik volume migas yang diketemukannya maka perforemance eksplorasinya jelas anjlok cukup tajam.

Mengapa volumenya sedikit ?

Kalau dilihat lebih dalam lagi jumlah sumur yang yang dibor kebanyakan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang telah menguasai blok yang sudah berproduksi, yang artinya … biaya sumur eksplorasi ini masuk dalam cost recovery ! Sangat mungkin dapat memberikan petunjuk serta gambaran mengapa cost recoverynya cukup besar. Namun yang lebih penting dari sisi eksplorasi adalah konsekuensi logis melakukan pengeboran eksplorasi di daerah (block) yang sudah berproduksi, Konsekuensinya adalah volume prospek-prospek yang ada ini berukuran kecil-kecil, yang besar tentunya sudah dibor duluan. Dan ini tercermin dari sumur discovery nya dan volume migas yang diketemukan.

– πŸ™ “Pakdhe ki mung ngliatin jeleknya doank lah trus pripun dhe ?”
+ πŸ˜€ “Looh salah satu tugas sebagai rakyat kan ngasi komentar tole, lah skalian ngasi usulan yang semestinya bukan asal-asalan

Lantas ?

Bulan lalu ketika di IPA Jakarta, saya juga sempat bertemu teman-teman yang berkecimpung di HR (Human Resources) di perusahaan migas di Jakarta. Mereka mengeluhkan juga kepindahan para GGRE ini ke LN tetapi juga perpindahan lateral dari satu kumpeni ke kumpeni lain di dalam negeri. Hal ini tentusaja menjadikan “harga” GGRE meningkat mengikuti demand yang tinggi. Mereka (kawan-kawan yang bekerja di bid HR) ini merasa sudah mengkompensasi harga dengan harga di luar. Bahkan ada yg mengemukakan sudah memberikan harga setara dengan kawan-kawannya di LN. Ada yang menyatakan saat ini sudah 60-80% hampir sama dengan pekerja asing !! Pekerja asing mendapatkan lebih karena menghargai pengorbanannya” ke negeri yang jauuh. Perbedaan 30-40% menjadi wajar ketika ada fasilitas utk pekerja asing.

oil-prod.jpgNamun sayangnya peningkatan “harga” GGRE ini tersebut belum tercermin dalam performance (discoveries). Kalau dilihat dari minyak tidak terlihat peningkatan produksi. Bahkan sangat mungkin pencapaian 1.3 juta barrel perday ditahun 2009 menjadi impian yang tak mungkin direalisasikan. Barangkali memang ada angka merah di raport lima tahunan industri (hulu) migas ini.

Saatnya buat GGRE di Indonesia untuk menggeliat menunjukkan performancenya. Sehingga “harga beli” yang meningkat dari “pembelian” GGRE, yang dikatakan kawanku dari HR ini, memang benar-benar bermakna dalam industri migas kita.

Stop complaining start performing !

Pakai Gas ?

prod-gas-oil.jpgSalah satu yang dapat diharapkan untuk memperbaiki angka merah di raport ini adalah melihat potensi gas yang ada saat ini. Disebelah ini memperlihatkan bagaimana produksi migas selama ini. Gas yang sudah menjadi andalan sejak akhir 70-an ini meningkat tajam hingga menjelang abad 21 (awal dari era gas). Dilihat dari penemuan pada dekade 1990-2000 terlihat penemuan migas cukup signifikan, namun sepertinya belum terlihat dalam produksi minyak dan gas disebelah ini. Artinya potensi mengembangkan gas harus bisa dipakai sebagai sarana memperbaiki angka merah di raport GGRE yang bekerja di E&P (exploration and Production). Produksi minyak yang mungkin sulit dicapai pada angka 1.3 juta perbarel ini, mungkin dapat disubstitusi dengan peningkatan produksi gas dari lapangan-lapangan yang belum dikembangkan. Tentunya ini akan sejalan dengan energy-mix policy yang ada untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Dari sisi eksplorasi, semestinya promosi “daerah-daerah sulit” lebih diutamakan karena akan lebih memberikan dampak lebih berarti dari sisi potensi migas secara volumetrik. “Gajah akan lebih mudah dicari dihutan belantara. Di hutan yang sudah dibuka tentunya gajahnya sudah tertangkap, dan hanya tinggal kelinci-nya saja”.

– πŸ™ “Lah kok pakdhe trus menghindar lari ke LN. Supaya ga dapet raport merah ya dhe”
+ πŸ˜€ “Naah larinya GGRE ini merupakan raport merah utk HR-HR ini yang tidak mampu menahan aliran banjir, tole”
– πŸ™ “Halllah Pakdhe juga crewet, smua trus dikomplen gituh !”

Referensi:
– Chris Newton (IPA Annual Convention May, 2007)
– Probe – IHS Database (Q1 2007)

26 COMMENTS

  1. om, bisa tampilkan gmana sh gambaran lapangan produksi migas????? aq ada tgs nih disuruh buat miniatur lap produksi.. tlong yayaa buth bgt nehh!!!!!!!!!!!!!!!

  2. On 6/23/07, kartiko samodro wrote:
    > Mas
    > apakah perbandingan tingkat kenaikan produksi / discovery antara indonesia
    > dan malaysia sudah mempertimbangkan juga masalah maturity field dari kedua
    > negara tersebut.

    Sakjane membandingkan itu penuh dengan asumsi kemiripan, yang kita
    lihat hanyalah apa yang berbeda. memang keduanya bisa saja menjadi
    sangat-sangat berbeda. Kondisi geologi jelas tidak ada yg sama persis,
    tingkat maturity juga tidak sama. Namun saya hanya dengen sederhana
    melihat discovery field size saja.

    Intinya “benchmarking” (membandingkan) itu melihat apa yang berbeda.
    Dengan asumsi yang lain ‘dianggap’ sama.

    Kalau exploration maturity (karena saya hanya membandingkan discovery)
    saya rasa keduanya mirip-mirip saja. Di Sarawak ini sejak jaman kuda
    gigit besi dioperasikan oleh Shell. Bahkan daerah yg dioperasikan
    murphy oil sudah pernah dieksplorasi oleh 3 perusahaan lain
    sebelumnya. Namun ketika ada Pak Teguh dkk (yg mana banyak orang
    Indonesianya) dapat mengalirkan dan menemukan migas cukup banyak.
    Seperti yang di klaim Pak Teguh yang saya sitir itu.

    Satu keuntungan di My adalah orang2 GGRE dr Indonesia ini menampilkan
    hal berbeda dengan sebelumnya. Pak Teguh dkk tidak sekedar menggunakan
    cara Shell (operator terlama) juga daerah ini pernah dikelola Opic,
    namun beliau membawa ilmu dari Indonesia, dan sukses. Apakah pak Teguh
    juga akan sukses bila di Indonesia ? Jawaban jelas belum tentu. Belum
    tentu Pak Teguh akan sukses kalau tidak tereksposes dengan daerah yg
    baru, juga belum tentu kalau Pak Teguh yg di Indonesia sebagai pegawai
    tetap akan se”semangat” bekerja di LN dengan status kontrak. Secara
    mental kawan-kawan di KL itu menjadi “terbebani” oleh status pegawe
    kontrak yang dapat berhenti 2 tahun lagi.

    Disini mereka tidak bisa leha-leha leyeh-leyeh dapet gaji sampai 14
    kali, dan merengek ke BPMIGAS utk ditingkatkan C &B-nya. Kawan-kawan
    ini rata-rata hanya 12 kali gajian, tanpa bonus. Tetapi sistem ini
    justru memacu adrenalin mereka menuju sukses. Kalau kata Pak mBong
    disini pilihannya cuman dua “maju terus atau terus maju” :). Pak mbong
    ini yang membawa suksesnya Pertamina di Malaysia. Iya looh harus
    diinget bahwa Pertamina juga ada blok eksplorasi di Malaysia, dan
    sukses menemukan lapangan baru di Sarawak, salah satu yg disebut2 Pak
    Teguh tadi.

    > maksud saya akan lebih sulit untuk menemukan / meningkatkan produksi dari
    > field yang sudah matang dibandingkan dengan field yang masih baru.

    Lapangan2 yang dikembangkan ulang (rejuvinasi) oleh kawan-kawan GGRE
    yg bekerja Petronas (Carigali) rata-rata lapangan tua yang
    ditinggalkan oleh Shell. Beberapa lapangan dikembalikan ke Petronas,
    karena kontraknya TIDAK diperpanjang oleh Petronas. Jadi mereka
    (kawan2 GGRE) ini mengelola lapangan tua, dan mencari (eksplorasi)
    didaerah yang sangat matang stadia eksplorasinya.

    > kalau dikatakan tingkat produksi /discovery di malaysia meningkat dengan
    > kenaikan /masuknya tenaga kerja indonesia ke malaysia , apakah mungkin
    > karena sebenarnya explorasi dan produksi di malaysia memang baru masuk ke
    > tahap permulaan , di mana masih banyak daerah yang belum dieksplorasi dan
    > banyak field yang baru mulai diproduksi sehingga sepertinya tingkat
    > kenaikannya tinggi dibandingkan dengan indonesia yang secara eksplorasi dan
    > produksi sudah sangat mature.
    >

    Malaysia itu basinnya cuman 3 besar Peninsular Malaysia, Sarawak,
    Sabah. Aku dulu menyebut 8, Tapi pak ADBmenganggap cuman 3. Aku
    menyebutkan ada Balingian, Luconia, Baram dsb. Tapi kalau itu
    disejajarkan sebagai cekungan maka di Indonesia jadi ngga sepadan.
    Karena Istilah Balingian, Luconia dsb, hanyalah setara dengan
    subbasin. Misalnya dibandingkan Jawa Timur saja ada banyak
    sub-basinnya, ada Cetral graben, ada South Madura, ada Cepu Sub basin.

    Jadi kalau dibandingkan jumlah basin, di Malaysia cuman tiga saja. Dan
    itu sudah diuprek-uprek sejak jaman penjajahan. Lah Indonesia justru
    memiliki 60 Cekungan. Justru Indonesia semestinya stadianya lebih muda
    (immature) dibandingkan cekungan di Malaysia, kan ?

    Lapangan Miri diketemukan tahun 1920, sekitar 30 tahun setelah Talaga
    Said di Sumatra Utara. Kalau mau tahu detil history perminyakan
    Malaysia silahkan klik sini :
    http://allmalaysia.info/news/story.asp?file=/2005/5/20/state/10993919&sec=mi_sarawak
    Munculnya Petronas juga setelah Pertamina established.

    Soal maturity ini bisa ditinjau dari banyak sisi, kalau dilihat dari
    well densityya, maka South Sumatrapun bisa disebut immature
    dibandingkan Sehlaf area dari Gulf of Mexico. Dulu Jack Kerfoot pernah
    membandingkan juga jumlah sumur explo yg dibor di Gulf Mexico
    dibanding Sarawak, yang kesimpulan menurut dia Sarawak sangat sangat
    Immature !!
    Walah apalagi cekungan2 Indonesia timur yang baru ada dua sumur dalam
    satu cekungan ?

    Kalau kata Pak mBong lagi, sakjane potensi Indonesia ini sangat
    “nggilani” saking buesarr-nya. Hanya gimana mengelolanya ya ?
    Wah itu Pe-eR kita bersama.

    rdp


    http://rovicky.wordpress.com/

  3. bener mas, saya tempo hari job di west setia murphy oil – labuan ft… wuihh banyak bgt org indon… bolehlah…
    cheers,
    david
    singapore

  4. Mas andree makasih advisnya,….kalo mau memperbaiki negeri,..ya masuknya sektor POLITIK lagi,….itu dia yg ga mau,..katanya klo politik ga bisa tegel.

  5. Bronx,
    1. Ada yang bilang UU Migas ini (ini katanya) mensyaratkan soal perpajakan, selain membingungkan ada kewajiban investor menyetor pajak sewaktu masih dalam tahap eksplorasi. Artinya belum untung saja sudah dibebani pajak.
    2. Kalau soal berita, bwehehehe … berita emang tidak menjelaskan. Harus cari sendiri datanya. Tapi datanya sendiri juga ga tau mana yang bener … pripun pakdhe ?
    3. Balik ke Indonesia ? hmmm kalau bisa lebih bagus, kalau engga ya ga papa. Terbaik buat dia belum tentu terbaik buat negari. Kecuali dia memang pingin berbakti memperbaiki negeri.

    Haree geneee ?

  6. saya bukan dr bidang migas,…ingin tau sedikit informasi mengenai sektor PERTAMBANGAN,…:
    1.secara singkat/kesimpulan,.kenapa UU MIGAS 2001,…disebut menurunkan?..apa point2nya yg “medeni”investor?
    2.Mbaca koran,…saya “BINGUNG”,..hr ini di harian tempo,katanya sektor pertambangan TIDAK ADA pertumbuhan sejak krismon 1997,….tapi mbaca korann2 bulan2 sebelumnya sektor ini ada pertumbuhan(satu2nya sektor riil yg BANGKIT,…),…bahkan jadiANDALAN indonesia 2020,karena eksport non migas yg terbesar pertumbuhannya dr PERTAMBANGAN.
    Yang bener yg mana yah?
    3.Putera seorang kawan,bekerja di sebuah pers pertambangan di australia sbgi bussiness analyst,bagaimana prospeknya kalo plg keindonesia?krn ybs ingin bekrja disektor pertambangan(background IT dn Bussines,non geologist),….kawan tsb tanya saya…saya sarankan tetap disana selama 5-10 thn ini,…apakah ini saran yg TERBAIK?….bagaimana prospek INDONESIA 5-10 thn kedepan dlm sektor petambangan?..apakah saran saya ke kawan tsb cukup benar?

    Mohon Pakde atau senior2 dibidang ini berkenan menjawab,…matur suwun sebelumnya.

  7. Bapak2 yth,
    Minta tulung dong saya di kasih refferensi salary di Mobil Cepu Limited untuk DIII experience 7 Tahun. Karena saya sekarang mau offering salary. Pls ya lewat japri aja..Terima kasih sebelumnya. Salam. [email protected]

  8. Mas vicky
    mungkin juga bisa ditambahkan sejak UU MIGAS 2001 penurunan produksi minyak & kondenat indonesia berhasil diangkat cuma menjadi 2-4% tahun, bandingkan freefall dari tahun 1997 yang mencapai 7-10%/tahun…

    untuk nilai merahnya eksplorasi memang mau tidak mau harus diterima. Mungkin kalau mau dilihat efek GGRE yang eksodus terhadap performance eksplorasi bisa dilihat dari background GGRE yang eksodus itu dari perusahaan mana trus dilihat bagaimana performance eksplorasi sebelum GGRE pergi dan setelah GGRE pergi… apakah memang ada korelasi positif atau korelasi negatif..
    aku bersedia membantu dengan membrikan data discovery dari KPS2 yang ditinggalkan oleh GGREnya tersebut… atau kalau bisa mas vicky share data GGRE yang pergi asal perushaannya… thanks
    just
    ujay
    yang lagi ngumpulin data statistik migas indonesia

  9. On 6/23/07, on IAGI-net, kartiko samodro wrote:
    > Mas
    > apakah perbandingan tingkat kenaikan produksi / discovery antara indonesia
    > dan malaysia sudah mempertimbangkan juga masalah maturity field dari kedua
    > negara tersebut.

    Sakjane membandingkan itu penuh dengan asumsi kemiripan, yang kita lihat hanyalah apa yang berbeda. memang keduanya bisa saja menjadi sangat-sangat berbeda. Kondisi geologi jelas tidak ada yg sama persis,
    tingkat maturity juga tidak sama. Namun saya hanya dengen sederhana melihat discovery field size saja.

    Intinya “benchmarking” (membandingkan) itu melihat apa yang berbeda. Dengan asumsi yang lain ‘dianggap’ sama.

    Kalau exploration maturity (karena saya hanya membandingkan discovery) saya rasa keduanya mirip-mirip saja. Di Sarawak ini sejak jaman kuda gigit besi dioperasikan oleh Shell. Bahkan daerah yg dioperasikan
    murphy oil sudah pernah dieksplorasi oleh 3 perusahaan lain sebelumnya. Namun ketika ada Pak Teguh dkk (yg mana banyak orang Indonesianya) dapat mengalirkan dan menemukan migas cukup banyak. Seperti yang di klaim Pak Teguh yang saya sitir itu.

    Satu keuntungan di My adalah orang2 GGRE dr Indonesia ini menampilkan hal berbeda dengan sebelumnya. Pak Teguh dkk tidak sekedar menggunakan cara Shell (operator terlama) juga daerah ini pernah dikelola Opic, namun beliau membawa ilmu dari Indonesia, dan sukses. Apakah pak Teguh juga akan sukses bila di Indonesia ? Jawaban jelas belum tentu. Belum tentu Pak Teguh akan sukses kalau tidak tereksposes dengan daerah yg baru, juga belum tentu kalau Pak Teguh yg di Indonesia sebagai pegawai
    tetap akan se”semangat” bekerja di LN dengan status kontrak. Secara mental kawan-kawan di KL itu menjadi “terbebani” oleh status pegawe kontrak yang dapat berhenti 2 tahun lagi.

    Disini mereka tidak bisa leha-leha leyeh-leyeh dapet gaji sampai 14 kali, dan merengek ke BPMIGAS utk ditingkatkan C &B-nya. Kawan-kawan ini rata-rata hanya 12 kali gajian, tanpa bonus. Tetapi sistem ini justru memacu adrenalin mereka menuju sukses. Kalau kata Pak mBong
    disini pilihannya cuman dua “maju terus atau terus maju” :). Pak mbong ini yang membawa suksesnya Pertamina di Malaysia. Iya looh harus diinget bahwa Pertamina juga ada blok eksplorasi di Malaysia, dan
    sukses menemukan lapangan baru di Sarawak, salah satu yg disebut2 Pak Teguh tadi.

    > maksud saya akan lebih sulit untuk menemukan / meningkatkan produksi dari
    > field yang sudah matang dibandingkan dengan field yang masih baru.

    Lapangan2 yang dikembangkan ulang (rejuvinasi) oleh kawan-kawan GGRE
    yg bekerja Petronas (Carigali) rata-rata lapangan tua yang
    ditinggalkan oleh Shell. Beberapa lapangan dikembalikan ke Petronas,
    karena kontraknya TIDAK diperpanjang oleh Petronas. Jadi mereka
    (kawan2 GGRE) ini mengelola lapangan tua, dan mencari (eksplorasi)
    didaerah yang sangat matang stadia eksplorasinya.

    > kalau dikatakan tingkat produksi /discovery di malaysia meningkat dengan
    > kenaikan /masuknya tenaga kerja indonesia ke malaysia , apakah mungkin
    > karena sebenarnya explorasi dan produksi di malaysia memang baru masuk ke
    > tahap permulaan , di mana masih banyak daerah yang belum dieksplorasi dan
    > banyak field yang baru mulai diproduksi sehingga sepertinya tingkat
    > kenaikannya tinggi dibandingkan dengan indonesia yang secara eksplorasi dan
    > produksi sudah sangat mature.
    >

    Malaysia itu basinnya cuman 3 besar Peninsular Malaysia, Sarawak,
    Sabah. Aku dulu menyebut 8, Tapi pak ADBmenganggap cuman 3. Aku
    menyebutkan ada Balingian, Luconia, Baram dsb. Tapi kalau itu
    disejajarkan sebagai cekungan maka di Indonesia jadi ngga sepadan.
    Karena Istilah Balingian, Luconia dsb, hanyalah setara dengan
    subbasin. Misalnya dibandingkan Jawa Timur saja ada banyak
    sub-basinnya, ada Cetral graben, ada South Madura, ada Cepu Sub basin.

    Jadi kalau dibandingkan jumlah basin, di Malaysia cuman tiga saja. Dan
    itu sudah diuprek-uprek sejak jaman penjajahan. Lah Indonesia justru
    memiliki 60 Cekungan. Justru Indonesia semestinya stadianya lebih muda
    (immature) dibandingkan cekungan di Malaysia, kan ?

    Lapangan Miri diketemukan tahun 1920, sekitar 30 tahun setelah Talaga
    Said di Sumatra Utara. Kalau mau tahu detil history perminyakan
    Malaysia silahkan klik sini :
    http://allmalaysia.info/news/story.asp?file=/2005/5/20/state/10993919&sec=mi_sar
    awak
    Munculnya Petronas juga setelah Pertamina established.

    Soal maturity ini bisa ditinjau dari banyak sisi, kalau dilihat dari
    well densityya, maka South Sumatrapun bisa disebut immature
    dibandingkan Sehlaf area dari Gulf of Mexico. Dulu Jack Kerfoot pernah
    membandingkan juga jumlah sumur explo yg dibor di Gulf Mexico
    dibanding Sarawak, yang kesimpulan menurut dia Sarawak sangat sangat
    Immature !!
    Walah apalagi cekungan2 Indonesia timur yang baru ada dua sumur dalam
    satu cekungan ?

    Kalau kata Pak mBong lagi, sakjane potensi Indonesia ini sangat
    “nggilani” saking buesarr-nya. Hanya gimana mengelolanya ya ?
    Wah itu Pe-eR kita bersama.

    rdp

  10. Lho, bukankah setiap kontrak lewat tender dulu? Kalau tidak salah baca berita, untuk yang Exxon-Cepu (bener nggak sih?) sempet oleh Pak Kwik atau Pak Amin diusulkan untuk tidak diperpanjang / diambil alih oleh Pertamina saja. Tapi oleh Pak Rizal sebagai Ketua (?) Tim Nego dikatakan intinya Hasil yang diperoleh sudah yang terbaik.

    Di blogg ini kalau tidak salah ada surat terbuka Pak Dhe kepada Pak Rizal. Arsip tanggal berapa ya? Di search koq nggak ketemu?

  11. Dear All,
    Kalau aku melihatnya semua ini terkait dengan kondisi politik di negara kita, maafkan kalau aku salah ya

    putut

  12. bagi2 cerita saja.
    pertanyaan serupa jg mengenai pertamina kok tdk bs bersaing secara pantas dgn petronas, knp pertamina senengnya jualan blok2 migas & blok migas komersil mana sih yg pernah di temuin oleh pertamina? setahu sy (maaf jk salah) lapangan yg dioperate murni oleh pertamina lap ex londo kan.
    Saat itu ada diskusi & presentasi di stand Pertamina, dan inti jawaban dari seorang bapak sy lupa namanya (Manager Explorasi Pertamina EP), ga bisa krn yg pegang duit Pertamina trmsk dana explorasi Dep keu, BPK dll.
    Berarti ada yg salah dgn pertamina, bisa jadi pemerintah yg megang dananya pertamina belum bisa teryakinkan oleh hasil studi/reserve yg dilakukan Pertamina.
    kalo Pertamina brani bilang bhw suatu blok ini, punya reserve segini, kalo mmg bs jd sumber profit yg bgs, masak Dep Keu ga mau, kan tar duitnya utk negara jg. ato ada yg salah dgn Dep keu? IAGI, HAGI dll bikin program/hari kebangkitan migas kek, undang pemerintah,akdemisi,org2 pertamina,BP Migas, cari solusi bareng2, beri “tekanan” dikit ke pemerintah biar sadar akan kekeliruannya.
    Soeharto yg “super powerst” aja bisa di lengser oleh mahasiswa, masa’ kita (G & G) yg paham bgt di bidang ini, ga bisa yakinkan (Dep keu/pemerintah yg nyimpan duit Pertamina) yg gak begitu ngerti ilmu ini.
    kalo kita bicara dengan kita sj ya susah pertamina berubah & bertambahnya porsi tuan rumah thd SDA nya.
    bicara dgn pemerintah, Dep Keu, lbh baik x, kl mereka ga dgr, ya bicara agak keras, kalo perlu turun ke jln. ga usah x, mgkn bs lwt G & G yg duduk di kursi pemerintahan.
    Mudah2an bs menggugah.
    Ga enak liat IPA rame bgt, Indonesian Petroleum Association tp kok bny perusahaan uil & ges kulit putihnya ya??????

    Andry

    G Mining

  13. Bisa rugi lah wong dimintai uang para menteri/dirjen departemen ybs untuk dana non budgeter /dana taktis, serta keuntungannya diunthet pengelolanya (direksi) untuk diri sendiri atau seseorang yang lebih kuasa dan juga ada yang diharuskan oleh presiden mengisi kas Yayasan bentukan Presiden.

  14. Indonesia di jaman Bung Karno pernah menasionalisasi perusahaan minyak asing,kalau gak salah BPM (Bataafsche Petroleum Maatshappij), Stanvac (Standard Vacuum ) dan Mobil Oil, menjadi Permindo lalu Permina kemudian mejadi Pertamina dengan Dirut yang terkenal dr(dokter) Ibnu Sutowo.(Bekas dokter di Plaju & Sungai Gerong di Jaman Jepang)
    Btw,juga perusahaan BUMN lain,NV NEDAM menjadi AMARTA KARYA. Juga Hutama Karya,Waskita Karya asalnya dari perusahaan Belanda. Sektor perkebunan juga banyak diadakan nasionalisasi, misal perkebunan teh PT Pagilaran yang dikelola Fakultas Pertanian UGM adalah hasil nasionalisasi dari perusahaan Inggris. Di sektor perdagangan hasil nasionalisasi menjadi : Jaya Bakti, Sejati Bakti,Cipta Niaga.
    Juga PLN dari ANIEM, POS dan TELKOM dari PTT.
    PT KAI/PERUMKA/PJKA/DKA dari gabungan NIS,SS en T, JSS,SSS dll.
    Sayang sesudah dipegang bangsa sendiri perusahaan -perusahaan banyak yang mengalami kemunduran bahkan rugi terus yang akhirnya DIJUAL KE ASING LAGI dengan istilah SWASTANISASI ( baca: DENASIONALISASI ).
    SAYANG . . . . .

  15. Mungkin bukan comment tapi nanya, Mas Juni thn 1951 yang lalu, Iran melakukan nasionalisasi perminyakan dari Inggris , juga baru-baru ini dibeberapa negara Amerika Latin melakukan hal yang sama.

    Pertanyaannya, mungkinkah itu dilakukan oleh Indonesia? Mengingat toh tenaga ahli kita sudah mumpuni.

    Thx
    Teguh Santoso

  16. Jawaban yg mudah tanpa pretensi ada apa dalam pengellaan perusahaan adalah yang disebut Petronas itu semua yag berhubungan dengan perminyakan di Malaysia. Mulai dari sisi regulasi, pengawasan serta operasi. Artinya yg disebut Petronas secara umum itu adalah setara dengan Dirjen MIGAS + BPMIGAS + Pertamina. Industri perminyakan Indonesia sudah diacak-acak tangan asing (IMF) gara-gara utang. Sehingga image ttg migas Indonesia berantakan semua.

  17. Sebenarnya,ada yg ingin saya tanyakan”kenapa Petronas bisa lebih besar dr Pertamina,..padahal sumberdaya alam indonesia jauh lebih besar dr Msia?…”…bidang saya bukan MIGAS,…tetapi seorang sahabat saya yg bidangya MIGAS malah tanya ke saya pertanyaan tsb(dlm diskusi mengembalikan produksi indo dr 1jt ke 1,5 jt barrel/hari).

    Pertanyaan ini,…saya teruskan ke Pakdhe,…semoga berkenan menjawab.

  18. pak RDP, dari cerita bapak diatas saya berpendapat semua lebih karena “uang”…. dan derajat orang kita ingin disamakan ratakan bahwa kalo bisa diatas orang bule2…
    salam,

  19. jadi selama GGRE indonesia lari keluar negri dari tahun 2001, GGRE expat yang kerja di indonesia gak melakukan apa-apa ya pakdhe? padahal kan mereka dibayar suangat tinggi ? πŸ™‚

Leave a Reply