Kali ini issue dari KOMPAS – Hoax ?

36

dg_banner1.pngSudah baca kompas yang berjudul “Patahan Sunda – Ancaman Eksistensial Jawa-Sumatera” ? Sebuah tulisan dari seorang warga Indonesia di Tokyo, ya Tokyo di Jepang yang merupakan negara “penggemar” gempa bumi. Cukup mengagetkan dan mungkin bahkan menakutkan. Hanya saja, mestinya tidak perlu ketakutan atau khawatir yang berlebihan soal ini.

Mari kita tengok satu-satu apa kata Mu’man Nuryana Peneliti Tamu di Hosei School of Policy Sciences, Universitas Hosei, Tokyo

Quote

Ancaman eksistensial

Motivasi tulisan ini sekadar mengingatkan bahwa aktivitas seismik Patahan Sunda adalah sebuah ancaman paling realistis dan serius dewasa ini bagi keberlanjutan bangsa Indonesia, terutama bagi mereka yang tinggal di Pulau Sumatera dan Jawa.

Benarkah ini sebuah ancaman eksistensial ?

Bencana besar yang melanda Indonesia terutama Jawa dan Sumatra akhir-akhir ini seperti yang disitir ditulisan itu, telah terjadi telah terjadi pada 26 Desember 2004. Begitu pula peristiwa gempa bumi di Nias (28 Maret 2005), di Yogyakarta (27 Mei 2006), di Pangandaran (17 Juli 2006), dan di Padang (6 Maret 2007). Rentetan peritiwa ini memang sangat mengagetkan terutama peristiwa bencana multi nasional di Aceh, dan bencana gempa besar di Jogjakarta.

Bencana Aceh memang sangat fenomenal terutama dalam jumlah korban dan jumlah negara yg mengalami. Kejadian inilah yang menjadi pemicu kesadaran akan kerawanan Indonesia karena bagian dari Ring of Fire – Ring of Disaster. Kejadian gempa selang empat bulan berikutnya di Nias tidak sebesar Aceh, bahkan beritanyapun “tertutupi” kebesaran bencana Aceh. Sedangkan gempa di Jogja dan Padang sangat mengagetkan lagi karena terjadi pada pulau yang sangat padat penduduknya. Dampak psikologis kejadian bencana-bencana ini pun sebenernya berketerusan ketika terjadi semburan lumpur di Sidoarjo. Kontroversipun muncul apakah penyebab semburan ini natural ataukahakibat aktifitas manusia.

Rentetan bencana inipun tidak sendirian sebenarnya. Karena sebuah statistik jumlah kebencanaan memang menunjukkan adanya peningkatan bencana secara mendunia. Silahkan baca tulisan disini sebelumnya “Bumi semakin berbahaya“. Namun kalau dilihat dalam skala waktu yang lebih panjang, sebenarnya kejadian-kejadian lebih teruk dari yang sedang terjadi ini pernah terjadi juga sebelumnya.

Letusan Tambora 1815, kemudian letusan Krakatau tahun 27 August 1883 sebenarnya daua letusan yang jauh lebih besar pada masa itu. Namun letusan inipun tidak menjadikan eksistensi Jawa hilang. Bahkan Jawa masih menjadi tujuan perdagangan masa kolonial Belanda, dan akhirnya Indonesia berhasil merdeka tahun 1945 … MERDEKA !!!.

Bencana besar di Jogjapun pernah terjadi sebelumnya. Bahkan diperkirakan di sekitar Jogja pernah terjadi gempa yg lebih besar dari gempa 2006 ini. Frekuensi gempa di Jawa barangkali 150-200 tahun sekali namun ketika terjadi gempa seringkali berukuran diatas 6/7 SR. Bahkan gempa tahun 1867 yang merusak Taman Sari diselatan Jogja itu diperkirakan berkekuatan 8 MW. Sebuah gempa yg sangat kuat kan ? Ya, perkiraan ini didasarkan atas kerusakan Taman Sari (di selatan Pasar Ngasem Jogja) juga adanya korban hingga 500 orang. Memang sepertinya hanya 500 orang korban meninggal tetapi pada kala itu tentunya Jogja belum sepadat saat ini kan ?

Apa yang terlihat ? Bahwa bencana alam memang sudah terjadi jauh sebelumnya. Dan itu semua tidak membuat eksistensi Jawa hilang. Bukan sok berlagak dan sombong bahwa Jawa bangsa yang kuat menghadapi alam. tetapi justru menunjukkan eksistensi Jawa yang mampu bercengkerama dengan kondisi alam yang sangat dinamis ini. Tulisan tentang bencana lumpur yang ditulis oleh Awang sebelumnya disini juga menunjukkan bahwa bencana-bencana besar pernah pula terjadi di Jawa dan sekitarnya pada jaman Majapahit. Walaupun ada kemungkinan peristiwa ini menjadi alasan kemunduran kejayaan kerajaan Terbesar di Asia Tenggara ini, namun dari sisi manusia tetap saja manusia Jawa eksis di tanah ini.

– 🙁 “Pakdhe, wong Jowo niku klamak-klemek tapi kok tegar juga ya dhe”
+ 😀 “justru kuwi tole, wong Jowo kui intine ora grusa-grusu, ngga pernah terburu-buru”

Melongok dan membandingkan kondisi saat ini dengan jaman dahulu sangat bermanfaat dalam proses ‘adaptasi lingkungan‘. Manusia Jawa ini ternyata telah beradaptasi dengan alam. Demikian juga rakyat Jepang yang sudah ‘terbiasa‘ dengan bencana gempa. Eksistensi bangsa ini bukan dalam usia ratusan tahun, tetapi dalam ribuan tahun. Usulan migrasi besar-besaran yang diindikasikan oleh Mu’man di Tokyo ini barangkali terlalu berlebihan. Bahkan barangkali Mu’man lupa kalau Tokyo sendiri justru lebih terancam oleh bencana tektonik terutama gempa, namun tidak menunjukkan adanya migrasi manusia Jepang. Bahkan Jepang bekerja keras membangun dan berpikir keras untuk beradaptasi dengan lingkungannya, misalnya mempelajari karakteristik bangunan tahan gempa.

Migrasi besar-besaran

Cukup beralasan bila mulai berpikir tentang konsep migrasi penduduk dalam skala besar dalam konteks jangka panjang bagi mereka yang tinggal di Pulau Sumatera dan Jawa ke pulau lain yang relatif lebih aman. Di dalam Nusantara sendiri, Indonesia memiliki Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi yang relatif aman bagi permukiman penduduk.

Usulan migrasi besar-besaran ini justru malah mengundang problem lain yang berkepanjangan, tengok saja latar belakang migrasi yang terjadi beberapa ratus terakhir ini. Setiap migrasi memiliki alasannya sendiri-sendiri. Migrasi penduduk gelombang pertama jaman pra sejarah dari teori Out of Africa, kemudia migrasi penduduk pada jaman masuknya Islam di Jawa menggeser Jawa kuno, dan juga migrasi bangsa Eropa menggeser Aborigin berbeda-beda konteksnya. Awalnya migrasi karena soal mencari makanan hingga berkembang kemudian sebagai penjajahan. Migrasi besar-besaran yg di usulkan menjadi berlebihan kalau dengan alasan kebencanaan Jawa.

Namun demikian perlu dipikirkan juga bagaimana memindahkan asset-asset penting ke tempat lebih aman. Juga harus disadari dan dimengerti tidak seluruh permukaan Jawa terancam akan bencana yang sama. Misalnya Lusi, dampak langsung Lusi ini secara alami hanya sekitar bediameter 5-10 Km. Bahkan gunung api-pun diameternya dampak langsungnya hanya 30-50 Km, itupun berkembang dalam orde jutaan tahun. Sedangkan pulau Jawa memiki luas hingga 138.793,6 Km persegi dengan panjang sekitar 1000 Kilometer.

Bencana yang mungkin diantisipasi

Bencana gempa yang terjadi dalam akhir 5 tahun ini tidak harus dikhawatirkan berlebihan, bahkan tidak perlu dikhawatirkan sampai mengancam eksistensi Jawa-Sumatra. Namun mestinya kebencanaan dapat diantisipasi, dan lebih penting selanjutnya perlu dipikirkan bagaimana kita harus beradaptasi dengan perubahan lingkungan pasca bencana. Fenomena alam ada yang mudah diperkirakan misal cuaca, namun ada yg susah diperkirakan. Kapan, dimana dan seberapa besar kekuatan terjadinya gempa sangatlah susah diperkirakan atau diramalkan. Berbeda dengan kejadian alam lainnya yang mungkin diramalkan. Gunung meletus masih bisa diramalkan dan diatisipasi beberapa bulan sebelumnya. Fenomena alam atmosferik lebih mudah diatisipasi beberapa bulan sebelum kejadian.

– 🙁 “Menggugah orang tidur kan harus diguncang-guncang Pakdhe. Mosok pakai lagu mendayu nan merdu to, Dhe”
– 😀 “Lah iyo tole. Tapi nek baru tidur digugah pakai gertakan bisa jantungen juga. Perlu dua sisi itu, kan”
– 🙁 “Tapi tulisan kayak pakdhe gini ngga bakalan laku di koran, week !”

Saat ini selain mempelajari patahan-patahan aktif di selatan Jawa dan Sumatra, justru yang perlu dipikirkan dan diantisipasi adalah bencana global yang mungkin melanda pesisir pantai utara Jawa dan Sumatra. Pesisir pantai utara Jawa dan Sumatra ini secara perlahan justru mungkin akan mengalami penenggelaman. bencana yang mungkin terjadi pada puluhan tahun mendatang ini bisa diprediksikan, dan bisa diantisipasi. Dampaknya akan menggerogoti walaupun tidak mengagetkan dalam jangka hidup manusia.

– 🙁 “Dhe ini nanti kayak Jogja itu. Takut ancaman Gunung Merapi di utara ngga tahunya malah terjadi gempa diselatan Jogja”
+ 😀 “sing penting eling lan waspodo tole”

36 COMMENTS

  1. numpang yach!!!
    kita gk usah takut dengan gempa. negara kita kan banyak polisi dan angkatan bersenjata lainnya. suruh tangkap aja tuh yg namanya gempa !! bikin onar takut mayarakat aja. udah ketangkep terus di adili tuch, kan banyak gedung pengadilan nganggur. terus eksekusi. kaya amrozi cs. beres kan? GITU AJA KOK REPOT. heheheee.

  2. entah benar atau tidak, untuk peristiwa gempa gempa terutama gempa besar Sumatra dan Yogyakarta beberapa waktu lalu disebabkan oleh ledakan bom nuklir.

    Jika coba search dengan Google, itu adalah bentuk percobaan militer dimana untuk mengaburkannya adalah dengan membuat korban jiwa dan harta benda dalam bentuk bencana alam.

    Salah satu yang pernah beredar di masyarakat adalah sebelum gempa, terdengar suara ledakan cukup keras…

    Bukannya menafikkan arti budaya bahwa kemungkinan terjadi perang “ilmu” di kerajaan Laut Selatan, namun dari banyak artikel yang gw dapet dicurigai (bahkan diindikasikan) bahwa ledakan itu adalah bunyi bom atom bawah laut bawah dasar laut.

    Benar atau tidak, wasallam aja.

    Coba aja search dengan keyword Nuclear Bomb Indonesia atau Atomic Bomb Indonesia

  3. Kalo mau melihat velocity strucutre nya di bawah Merapi dan sekitar nya, bisa di lihat hasil tomography nya Kelompok GFZ Postdam German, disitu terlihat Low Velocity di bawah Merapi ke utara terus ke arah timur (jawa timur), jika ini benar tentu akan sangat menarik…..

  4. Betul pak rovicky, inilah dampak negatif ato boomerang dari kemajuan teknologi informasi. Masyarakat menjadi khawatir dan cemas karena adanya berita ini. Masyarakat kita udah kecanduan kemajuan teknologi dan lupa apa yang diajarkan oleh nenek moyang dulu. Padahal dulu belum secanggih sekarang ini, tapi mereka lebih hebat dalam menghadapi alam. Kenapa kita “lupa” ya???

  5. arief: Lha piye toh aku wis kukut arep tindhak sing adhoh.. ee gempane issue hungkul… hahaaha..
    mega: nya urang ge geus misahkeun ijasah bisi hese diteang mun katimpa bata imah. itu sapa sih yang udah netepin tanggal 6 sbg tanggal finalnya?ku sobek mulutmu!! tapi kita tetap mesti waspada karena rumor ga pernah jadi sekata-kata begitu aja, pasti ada bukti ilmiahnya.cuma gw masih pengen ngededel perut yang pertama netepin tanggal semena-mena gitu!
    arief: iyooo cangkeme sopo sing lamis ngono. aku wes diguyu ambe konco-koncoku. isiiin!!! tapi sing penting aku ngenteni kampusku sing elek bangunane cepet ambrol. aku wis ngesu ambe ketua yayasane sing siga kuya burut gitu lhooo…
    mega:bener itu ketua yayasan koret banget ya rif, masa mau dapet beasiswa syaratnya mesti bayar kuliah dulu, uda taw kita minta beasiswa gara2 ga gablek duit. ieu kalah nitah mayar kuliah, nya keneh-keneh kehed atuh…
    arief: udah ah mega, malu dibaca orang sedunia.kita kan lagi ngomongin gempa, jadi ngomongin ketua yayasan kampus kita.
    mega:OK,tapi masyarakat harus tetep waspada

  6. # Liliks Says:
    Juni 2nd, 2007 at 2:40 pm

    Salam kenal dulu.
    bagaimana dengan yang ini…..?

    “Disiarkan CNN 3 hr yang lalu, bhw lempeng Australia b’gerak ke utara menuju Asia. Diperkirakan bs bertubrukan dgn lempeng selatan Indonesia(P.Jawa). Perkiraan air laut meluap. 11hr stlh air pantai mluap (Rabu 7 Juni 2007) Akan ada gempa dahsyat & kemungkinan terjadi tsunami. Jgn pergi ke daerah tepi pantai terutama pantai selatan. Mohon fwd ke kel/tmn2. Kita berdoa smg jgn terjadi msbah yg parah”

    Seperti itu bunyi SMS panjang yang saya terima hari ini tanggal 02 Juni 2007. Bagaimana menurut anda…?

    aneh…. hoax seperti itu kok masih sering dipercaya sih….

  7. Mas/pak Bochan,

    Papua selatan juga bukan daerah yang tenang koq. Pegunungan Jayawijaya itu muncul sebagai hasil interaksi antar lempeng Australi dengan Pasifik, yang menghasilkan sekian banyak patahan di sana dan di Jayawijaya itu masih aktif juga. Lebih ke barat, di dekat kepala burung papu,a malah ada tarera aiduna dan ransiki, juga sorong (nama-nama patahan) yang tak kalah aktifnya juga. So, satu2nya tempat yang aman hanya Kalimantan Barat, tapi resikonya daerah itu tidak subur….

    Pak dhe, kayaknya pak Danny di Bandung bisa disetarakan dengan mbah Maridjan di Kinahrejo nggih 🙂 Jadi kalo pak Dannby sudah mulai pindah, ya otak atik gatuknya sesar lembang dan segmen2 terkait sudah mulai akan berulah toh ? Hehehe just kidding 🙂

    Btw, isu gempa itu disiarkan di CNN pak. Disebut tanggalnya juga, 7 Juni 2007 ini. Konon akan terjadi gempa besdar (M > 7) dan tsunami di Indonesia timur. Sumbernya ? BMG. Tapi BMG sudah membantah.

  8. Salam kenal dulu.
    bagaimana dengan yang ini…..?

    “Disiarkan CNN 3 hr yang lalu, bhw lempeng Australia b’gerak ke utara menuju Asia. Diperkirakan bs bertubrukan dgn lempeng selatan Indonesia(P.Jawa). Perkiraan air laut meluap. 11hr stlh air pantai mluap (Rabu 7 Juni 2007) Akan ada gempa dahsyat & kemungkinan terjadi tsunami. Jgn pergi ke daerah tepi pantai terutama pantai selatan. Mohon fwd ke kel/tmn2. Kita berdoa smg jgn terjadi msbah yg parah”

    Seperti itu bunyi SMS panjang yang saya terima hari ini tanggal 02 Juni 2007. Bagaimana menurut anda…?

  9. Serius banget mikirin umur yang hanya seperjuta titik (bukan setitik) dari panjang garis umur geolgis/astronomis.
    Apa memang kita mau bekerja keras ngumpulin harta hanya untuk sekejap saja?, terus habis ditelan bumi?

  10. mungkin kata sulawesi pada ‘migrasi besar2an’ musti diganti papua selatan. sulawesi kan pabrik gempa,pakdhe.

  11. yulinuxer Says:
    Mei 31st, 2007 at 12:31 am

    Yang paling seneng kalo ada gempa makelar asu 😀 ransi je.. Akueeh tenan komisine.. 😀

    Principal yang Reas nya nggak imbang, bangkrut dulu, wong klaimnya bejibun. Nah, untuk polis baru (Agennya pindah dong! Principalnya Bangkrut!) komisinya Akueeh tenan, Client baru yang khawatir ngantri, ditambah Preminya naik! :)).

  12. Pak Antoni,

    Dalam fisika (kebetulan saya menggelutinya) gempa bisa dianggap sebagai ‘ledakan energi’, karena terjadi pelepasan energi besar dalam waktu singkat sehingga bila digrafikkan seperti pulsa. Misalnya saja gempa Yogya, ia melepaskan 40 kiloton TNT hanya dalam waktu 60 detik, atau daya sebesar 2.790 milyar watt ! Kalo mau dirubah jadi energi listrik, kalikan saja dengan angka 30 % (dengan asumsi pembangkit termal).

    Memang belakangan ada jenis gempa yang tidak melepaskan energi secara pulsasi semacam itu. Ini dikenal sebagai silent earthquake atau gempa sunyi atau kalo menurut bahasa rekan2 pak Dhe : aseismic slip. Energi yang dilepaskan mungkin sama, tapi waktu pelepasannya tidak lagi berkisar detik/menit/jam, namun bisa berhari-hari, katakanlah 2 – 3 minggu. Makanya gempa sunyi ini tidak meradiasikan gelombang getaran sebagaimana gempa ‘normal’. Gempa sunyi ini banyak terjadi di Indonesia, namun belum diteliti lebih jauh. Munculnya mud volcano di Porong, jika mau dikaitkan dengan gempa, kemungkinan disebabkan oleh aktivitas aseismic slip ini meski probabilitasnya kecil (menurut saya) karena gejala-gejala ikutannya tidak muncul.

    Jadi, itulah mengapa gempa saya anggap sebagai “ledakan”. Di antara bencana2 geologi lainnya (terutama erupsi gunung api), pelepasan energi gempa tergologn besar dan waktunya paling singkat.

    Salam

    Ma’rufin

  13. Pak Ma’rufin gempa itu bukan “ledakan” to ?
    Tapi emang banyak yg nganggep gempa itu sebuah ledakan. Padahal kalau denger crita Pakdhe … Gempa itu adalah GETARAN PERGESERAN.
    Betul ngga dhe ?

  14. Sedikit tanggapan saja.

    Kalo pak Mu’man Nuryana menyatakan perlu migrasi besar-besaran dari Jawa ke Kalimantan atau Sulawesi, ya sami mawon. Lha wong Kalimantan bagian timur serta Sulawesi secara keseluruhan itu juga daerah langganan gempa koq. Apalagi secara geologi Sulawesi adalah ‘triple junction’ antara lempeng Eurasia, Pasifik dan Filipina. Sehingga pulau ini ‘dikepung’ oleh beragam subduksi dan patahan (sebut saja Patahan Palu-Koro, Matano, Pasternoster, Gorontalo dll) yang berpotensi menimbulkan gempa kuat (M > 6). Sementara Kalimantan bagian timur, berhadapan langsung dengan Selat Makasar yang mirip2 Laut Merah dengan gejala2 pemekaran lantai samudera ditengah-tengahnya, meski entah kenapa aktivitasnya cenderung menyusut sehingga gagal membuka.

    Nah, sekarang mau migrasi ke mana ? Sumatra juga rawan, apalagi Papua yang kecepatan lempengnya justru paling tinggi di Indonesia (11 cm/tahun).

    Kalo sesar2 di Jawa bagian selatan, itu banyak dan dalam sejarahnya banyak juga yang sudah meletuskan gempa secara periodik. Tentu saja yang terbaik diteliti, diperkirakan kapan ‘meledak’ lagi untuk kemudian disosialisasikan mitigasinya. Masalah mitigasi ini penting, sebab banyak sekali (dalam kasus gempa Yogya) pihak yang ternyata tidak tahu menahu apa yang harus dilakukan kala gempa mengguncang. Tahunya lari keluar rumah. Makanya pada 27 Mei 2006 itu banyak ‘orang telanjang’ berkeliaran di luar, mungkin karena sedang mandi, dan tiba-tiba ada guncangan. Padahal tidak harus keluar, yang penting bisa melindungi kepala di bawah struktur tertentu seperti gawang pintu (kayu), kolong meja, kolong ranjang dll.

    Salam

    Ma’rufin

  15. Migrasi / potensi bencana?? maka kata makelar, tanah yang rencananya akan ditinggalkan akan turun harga sedangkan tanah yang dituju sebagai tempat baru akan naik. 🙂 Kalau semua adem ayem saja, ya nggak dapat komisi dong kita 🙂

  16. Makasih untuk penjelasannya, Pak. Dongeng2 Pak’e ki sangat berguna banget, ra ruwet tur gampang dimengerti oleh mereka yang awam (termasuk saya).

    Memang sudah seharusnya sebuah peristiwa dimaknai dengan bijak, dalam artian bahwa peristiwa2 alam yang kerap terjadi di Indonesia belakangan ini seyogyanya menjadi focus of interest kebijakan pemerintah indonesia (dan pastinya pe-er bagi para ahli yang berkompeten) bagaimana mengantisipasi hal2 tsb.

    Setelah baca tulisan di media tersebut, saya yang awam ini langsung mikir… yang namanya bencana alam itu kan banyak macemnya dan bisa terjadi kapan saja. Skrg Jawa Sumatra terancam gempa dg kekuatan sekian2 SR, ayoo migrasi ke Kalimantan. Nanti di Kalimantan ketemu dengan ancaman kabut asap, ayoo migrasi ke Sulawesi. Nah, kalo tiap kali ada ancaman kita2 disuruh migrasi… bayangin berapa banyak migrasi yang mesti dijalani? Emange kucing… ekekekek…

    Eniwei, salam kenal ya, Pak 🙂 sekalian mohon ijin manteng disini untuk belajar dan nambah wawasan… 😀

  17. bener Pak Dhe, memang sebaiknya sejarah masa lalu juga jangan dilupakan kalau membahas masalah bencana alam ini supaya kita tahu dan sadar bahwa bencana yg lebih besar juga pernah terjadi dan menimpa manusia sebelumnya. pekan lalu saya juga nonton film meletusnya Krakatau di tv, memang dahsyat sekali. selain tsunami, debu panas yg keluar dari perut krakatau juga ternyata sangat berbahaya, terlebih karena penjalarannya yg bisa lebih jauh dari gelombang tsunami, dan suhunya yang bisa membuat manusia gosong terbakar.

  18. Mas Paijo,
    Sebenernya sejak dulu mungkin saja menyatu. Hanya ’saat ini’ sudah diketahui menyatu atau ada studi yang menunjukkan menyatu dari hasil studi baru. Studi ini dulu belum ada, dan baru muncul setelah ada teknologi baru untuk mendeteksinya.
    Jadi perlu dibaca dengan kritis kalau ada statement baru dari peneliti2 baru.
    Lah kalau penyatuannya sendiri memang secara geoogi ada waktunya tetapi JUTAAN tahun, bukan cuman puluhan tahun saja.
    Lah kalau barusan ada gempa trus ada penelitian menujukkan dapur magmanya satu, jangan trus diambil kesimpulan setelah gempa akhirnya dapur magmanya menyatu … itu jelas salah kan …
    – 🙁 “Pakdhe kalau ada yg bilang, eh dapurnya sudah nyampur gara-gara gempa, bilang aja … Dapurmu itu !!!”
    + 😀 “HUST !”

  19. Saya sependapat pak De, itu hoax. Dulu tahun 80-an juga pernah ada rumor kalau batolit ( dapur magma ) gunung Merbabu dan gunung Merapi sudah menyatu ( mungkin saja benar ) dan sudah melebar sampai tepinya pulau Jawa pesisir utara dan selatan ( mungkin itu dilebih-lebihkan ).
    Akibatnya, jika terjadi letusan besar dari gunung Merapi maka pulau Jawa akan terbelah dua ( yang ini hoax to pak De ). Buktinya sampai sekarang pulau Jawa belum terbelah juga kok. Bagaimana menurut pak De ? Salam eksperimen aja pak De.

  20. Info saja
    Pak Danny Hilman sendiri rumahnya dilewati sesr ini. Jadi kalau beliau sebagai ‘penunggu gempa’ masih duduk=duduk santai disitu ya insya allah aman2 saja.
    – serius on
    memang sesar ini merupakan salah satu sesar di Selatan Jawa yang memerlukan perhatian. Jadi ada Sesar Opak (jawa tengah), Sesar Cimandiri – Lembang (jawa Barat), Sesar Grindulu (Jawa Tiimur)
    Paling tidak sesar2 ini perlu diperhatikan, makduste diteliti geethuuu
    Tetapi jangan sampai membuat statement bahwa akan ada gempa pada tanggal sekian disitu dengan kekuatan segini … itu pasti HOAX !!!

  21. Dari milis sebelah Pak Dhe,….lumayan bahan gosip baru….???
    Subject: [i-ares] Bandung Terancam Gempa Dahsyat
    Perlu Ada Penelitian Sesar Cimandiri-Lembang
    Bandung Terancam Gempa Dahsyat
    BANDUNG, (PR).-
    Kota Bandung dan sekitarnya terancam diguncang gempa besar berkekuatan 7,5 pada
    skala Richter (SR). Ancaman ini bisa muncul, jika terjadi pergerakan di sejumlah
    lempeng penyusun patahan Cimandiri-Lembang. Jika ini terjadi, gempa besar
    tersebut akan mengguncang cekungan Bandung. Selain Kota Bandung, Cimahi,
    Padalarang, serta Lembang, gempa juga mengintai sejumlah wilayah di Sukabumi,
    termasuk Palabuhanratu.
    “Sesar Cimandiri-Lembang masih tergolong aktif. Yang menjadi masalah terbesar,
    sesar ini dikelilingi wilayah padat penduduk, seperti Kota Bandung dan Kota
    Cimahi,” tutur pakar geoteknologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
    (LIPI), Dr. Danny Hilman Natawidjaja, usai Seminar Mitigasi Bencana Geologi di
    Hotel Horison, Bandung, Rabu (23/5).
    Sesar (patahan) yang memanjang dari Palabuhanratu Kab. Sukabumi hingga Maribaya
    Lembang itu tersusun oleh lebih dari lima segmen batuan. Salah satunya, Segmen
    Maribaya-Cimahi, yang panjangnya mencapai 25 km. Menurut Danny, jika terjadi
    secara bersamaan, pergerakan 3-4 segmen saja sudah bisa menimbulkan gempa dengan
    kekuatan mencapai 7,5 pada skala Richter.
    Berdasarkan penelusuran “PR”, gempa berkekuatan 7-7,9 SR dapat mengakibatkan
    kerusakan serius pada areal yang cukup luas. Diperkirakan, gempa ini bisa
    menghancurkan sebagian besar gedung dan fondasinya. Bahkan, getarannya bisa
    menimbulkan retakan tanah di areal yang cukup luas. Kerusakan yang ditimbulkan
    bisa disetarakan dengan ledakan 160 juta ton TNT (trinitrotoluene).
    Kalaupun yang mengalami pergeseran hanya satu segmen, menurut Danny, gempa yang
    ditimbulkan bisa mencapai 6 SR. Bahkan, jika Segmen Maribaya-Cimahi yang
    bergerak, kekuatan gempa bisa menembus angka 6,9 SR. Gempa ini cukup untuk
    menimbulkan retakan tanah dan menghancurkan bangunan dalam radius lebih dari 100
    kilometer.
    Sayangnya, menurut Danny, hingga saat ini sesar Cimandiri-Lembang belum mendapat
    perhatian serius dari pemerintah. Padahal, potensi bencana yang akan ditimbulkan
    akibat pergerakan sesar tersebut cukup besar.
    “Sejauh ini, pergerakan yang terjadi di sekitar patahan Cimandiri-Lembang memang
    masih relatif aman. Bahkan, berdasarkan data 100 tahun terakhir, belum diketahui
    adanya pergerakan yang bisa menimbulkan bencana besar,” tuturnya.
    Namun, mengingat padatnya wilayah di sekitar sesar alam itu dan tingginya
    potensi gempa yang bisa ditimbulkan, ia menyarankan agar pemerintah segera
    melakukan penelitian lanjutan. “Bagaimanapun kita tinggal di areal rawan gempa.
    Kapan saja, sesar tersebut bisa mengalami peningkatan aktivitas,” tuturnya.
    Dia menilai, data yang ada saat ini belum mencukupi kebutuhan minimal untuk digunakan sebagai acuan melakukan tindakan pencegahan maupun langkah evakuasi.
    Padahal, selain kecepatan pergeseran, struktur tanah dan batuan yang ada di
    sekitar wilayah gempa juga memiliki andil yang besar untuk menentukan besarnya dampak yang ditimbulkan.
    “Suatu gempa dengan kekuatan yang sama dapat menimbulkan efek yag berbeda,
    bahkan di dua lokasi yang jaraknya berdekatan sekalipun,” tutur Kepala Balai
    Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Dr. Antonius Ratdomopurbo.
    Walaupun sebuah bangunan yang berjarak 10 km dari pusat gempa rusak parah,
    menurut dia, tidak tertutup kemungkinan jika bangunan lain yang berjarak 3 km
    dari pusat gempa hanya mengalami retak ringan. Hal itu dipengaruhi susunan
    sedimentasi tanah yang ada di lokasi tersebut.
    “Karena itu, untuk melakukan mitigasi bencana perlu dilakukan penelitian secara
    menyeluruh, termasuk struktur sedimentasi yang membangun lapisan tanah di suatu
    daerah. Dengan demikian, pemerintah bisa dengan efektif melakukan mitigasi
    bencana,” katanya.
    Penelitian menyeluruh di patahan Cimandiri-Lembang, menurut Danny, diperlukan
    untuk memprediksi sumber gempa, efek yang ditimbulkan, dan bagaimana kerusakan
    yang akan timbul. “Dengan demikian, proses mitigasi bencana bisa dilakukan
    dengan efektif dan efisien,” kata Danny. (A-150)***

  22. Kalau masuk koran ngga laku lah mbok ya dibuat buku Pakdhe.
    pada mau beli ga ya ? yg pasti aku pesen dua, yang satu buat temenku 😛

  23. Euforia yang luar biasa …. temen-temen dari dalam maupun dari luar pulau jawa sampai mem-forward berita itu ke emailku … tapi aku punya pakDhe yang lebih wisefully dalam menjawab tantangan pulau jawa yang imoet ini …. Terima Kasih atas penjelasannya ya Dhe …!!!!

  24. Memangnya ada tempat yang benar-benar bebas dari bahaya? Bahaya kan bukan cuma gempa. Ada tornado, hurricane, tanah longsor, banjir, atau diserang teroris. Konon (lupa sumber dari mana), kecelakaan lalu-lintas memakan korban lebih banyak daripada korban bencana alam.

  25. Tulisan mengenai bencana sedang laku keras di media massa. Apalagi penulisnya kelihatan wah … gagah … peneliti tamu di negeri yg juga banyak bencana. Tulisan bagaimanapun pasti di ‘makan’ tu oleh media, nggak peduli palung, zona zubduksi dibilang patahan. Wacananya juga semborono, migrasi besar2an … lalu kenapa orang jepang nggak pergi jauh2 dari negaranya, penulis sendiri malah bertamu ke negeri penuh bencana, jepang …

  26. emangnya ada tempat yang totally guaranteed as secure? gak mungkin!! gak kalimantan, gak sulawesi, gak australia. yang pentingkan gimana kita sadar resiko dan bener dalam prevensi (kalo mungkin) dan adaptasinya (pasti mungkin, tapi apa mau, gitu deh..).

  27. Bener Pak Dhe, sing penting kuwi Eling lan waspodo,Mung wong jowo saiki karo wong jowo biyen bedo pool,biyen sik eling lan waspodo, saiki ra iling lan sembrono 🙂
    pak dhe ndak ngirimi kado nyang lusi ?, hari ini kan Ulangtahune si Lusi

Leave a Reply