Apaan sih Counter weight – apa saja yg perlu tahu?

10

dg_banner1.pngSetelah mendengarkan penjelasan soal penanganan semburan Lumpur Sidoarjo dengan metode Counter Weight itu …. “Presiden tadi menyambut baik presentasinya. Dan meminta teknologi sipil ini dibicarakan dulu dengan ahli-ahli di bidang geologi,” kata Pak Menteri PU.

Sepenggal kalimat yang membuat saya punya keinginan sumbang saran di sela-sela kursus di Hotel Mulia Jakarta. Jadi pingin ikut menuliskan apa saja yang mesti diketahui bersama sebelum menjalankan teknik ini.

klik untuk memperbesarTeknik counter weight ini bukan hal baru bagi geologist indonesia mirip capping yang pernah kutuliskan (klick) disini juga disikusikan di mailist IAGI-net. Saat itu saya sudah mewanti-wanti kemungkinan munculnya semburan baru akibat gaya dan tekanan dari bawah bagaimanapun akan masih harus dijaga. Tidak hanya pada lubang semburan, tetapi juga pada semburan-semburan lama. Bahkan ketika dilakukan pengeboran pada Releief well sebelumnya, pernah muncul semburan hingga sejumlah lebih dari 30. Artinyatanah dibawah daerah atau lokasi ini sudah retak-retak. Sehingga kalau mau ditutup maka luasan penutupannya semestinya bukan hanya lokasi lubang semburan saja.

Ada satu kajian yang sederhana dalam hal ini yang mungkin akan mempersulit dalam tahap pembuatan atau tahap konstruksi yaitu kedala waktu.

Penuh dalam 8 hari.

Kalau semburan ini masih dengan asumsi volume 150 000 meterkubik sehari, maka sesuai dengan uraian pula yang dikemukaan oleh salah seorang dosen Teknik Sipil ITS, kalau radius bendungan baja itu 100 meter (catatan diameter lubang saat ini diperkirakan 50 meter) atau dengan demikian maka luas bendungan sekitar 30.000 meter persegi, maka setiap hari lumpur akan memenuhi lima meter dari bendungan itu. Itu artinya, bendungan yang direncanakan setinggi 40 meter itu akan penuh dalam delapan hari.

Kalau saja separo darinya (75 000 meterkubik) yang bisa mengendap dan sisanya dialirkan semasa konstruksi maka akan penuh dalam 18 hari atau hanya sekitar tiga minggu. Waktu selama 3 minggu ini termasuk masa yang “mendadak” dalam mengatasi semburan dari bawah. Bolton dipikiran dan dimodelkan akan mengurangi secara perlahan.Namun bolton ini pun sudah sangat mengganggu jalannya semburan bahkan meruntuhkan bagian dalam dari corong keluarnya semburan.

Dengan demikian ada dua kendala yaitu masa tersedia untuk konstruksi yang sangat pendek yang kontradiksi dengan penutupan secara perlahan. Dan pengalaman dari bolton yang diikuti dengan amblesan yang cukup mendadak sangat akan mempersulit saat konstruksi dijalankan.

Saran utama :

  • Perlu dimodelkan secara numeris sebelum dilakukan tahap konstruksi
  • Ekstra hati-hati dan harus ada monitor pada lokasi-lokasi semburan lama dimana bubble dan semburan pernah terjadi.
  • Perlu memonitor amblesan secara teliti, karena merupakan manifestasi apa yang terjadi dibawah permukaan.
  • Perlu dilakukan sosialisasi sebelum dilaksanakan sehingga meningkatkan partisipasi masyarakat awam maupun masyarakat ilmiah supaya tidak terkaget-kaget apabila sesuatu yang tidak diduga terjadi.

– πŸ™ “Pakdhe, mbok njenengan itu ngasi wejangan, mumpung sedang di Jakarta minggu ini”
+ πŸ˜€ “Lah iya aku ini ndik jakarta sampek kamis besok ya le, kalau mau nelpon aku eh sms dulu, di +6012 203 8984″
– πŸ™ ” Lah inggih ta Dhe, 600 milyar itu duwiknya sapa ya dhe ?”
+ πŸ˜€ “mungkin juga sumbangan arang Jepang. Ono istilah no cure no pay, nek ora mari orasah bayar. Tapi mbohh le, kalau berhasil ya cucuk kan ? wong jare Lapindo sudah menghabiskan 1.4 T
+ πŸ™‚ “1.4 Trilliun !!! .. niku duwik kabeh ? Kirain daun, kayak dipakai buat pasaran πŸ™‚ ”

10 COMMENTS

  1. Hello ! My name is Donny B Tampubolon.

    I’m Structural Engineer at T.Y.LIN International-Indonesia.

    Would you come to Mr Wiryanto Dewobroto’s blog at ” wiryanto.wordpress.com β€œ.

    At his blog we can share all about Civil Engineering knowledge.

    Regards,

    Donny B Tampubolon

  2. akan sangat susah merencanakan Penaganan Permukaan kalau keadaan Bawah Permukaannya belum dapat dipastikan. Di bangun diameter 100m. e tahunya growongnya sudah lebih dari itu (kasus pipa gas Pertamina dan pipa air PDAM). Ukur dua kali, potong satu kali kata tukang kayu!!

  3. halo om…
    maap nih lama gak mengunjungi blog-e sampeyan….
    hehehe….
    semoga sehat2 aja…

    ok kembali ke masalah ‘counter weight’….
    om… sebenernya kalo saya mencermati tulisan njenengan tentang overweight eh salah hehehe… itu mah kegemukan ya ?
    maksudnya ‘counter weight’… sepertinya… kalo secara teori sih bisa…
    tapi kalo prakteknya apa gak seperti analogi bikin wahana dengan kecepatan cahaya ?
    yang setau saya, yang awam ini, kecepatan cahaya adalah “batas” yang gak bisa dilewati manusia sampai sekarang ini…
    kalopun toh ada, maka partikel yang “dinaikkan” ke wahana tersebut akan mengalami “pemuaian massa dan dilatasi panjang”… bahasa bodo-ne “mbuntek” hehehe….
    kok malah ngomongin kecepatan cahaya sech ???

    so…
    kayaknya masih dalam koridor “tangeh lamun” atau “hil yang mustahal” kata asmuni……

    tapi semoga aja saya keliru….

    jadi dengan demikian menurut hemat saya (padahal saya boros loh, hehehe)….
    lupakan masalah sumbat-menyumbat lumpur atau menghentikan keluarnya lumpur….
    kita harus berbesar hati untuk menerima bahwa ITU adalah fenomena (bukan acara tipi loh) ‘mud volcano’….
    so, akan lebih masuk akal untuk lebih konsentrasi mengurangi dampak yang muncul, terutama sosial ekonomi, akibat luapan lumpur tersebut….

    sekali lagi semoga saja saya salah….

    wassalam,
    -masthoni

  4. Pak Dhe, aku kok merasa ada yang ganjil. Sebagai orang awan, ech, awam, gimana naruh “genthong” itu di lokasi? Pake krane, seperti memasukkan “penthil-penthil” beton? Lha gentong itu beratnya berapa, apakah lapisan tanah penyangga krane gak ambles? Tapi sesungguhnya pake apa gitu? Tinggi lebih-kurang 25 meter, diameter lebih-kurang 50 meter, tebal dinding baja berapa? Itung berat gentong itu, lebih ringan dari penthil-kah? Iya kalo yang dibawah ukuran tekanannya mendekati itung-itungan “para pakar” Kalo lebih gedhe, karena ada lapisan tanah yang mbumpheti, karena katanya belon ada penelitian yang menyeluruh tentang struktur tanah, sehingga keluarnya dikit-dikit, pas ada tekanan yang “itungannya hampir sama” malah menekan tanah, akibatnya seperti “kenthut” yang tertahan karena acara arisan. WAH, opo malah ora luwih parah. Kalo aku lebih ke arah saran Pak Dhe, kita kelola tuh Lusi, gimana kalo dijadikan bledhug Kuwu ke-2. Lumpur yang terus-terusan keluar, langsung “dilarikan” ke sungai Porong, bikin “got” aza, gak usah pipa dengan penyedhot dan segala hal yang njlimet. Yang diutamakan, sungai Porong jangan sampai surut, meski musim kemarau. Lha kalo cara supaya gak surut, sejak SD udah diajarin gimana cara menjaga agar sungai dan mata air dimana sumber air sungai terus ada. Kalo lupa, tanya aza sama anak-anak SD. Gitu aza kok repot….

  5. mengkhawatirkan juga ya jika ada kemungkinan terjadi blow out/semburan baru di luar bendungan baja akibat overpressure di bawah permukaan karena tersumbatnya lubang utama. Seharusnya ini juga diantisipasi karena dulu juga muncul bubbles di beberapa tempat yang lumayan jauh dari lubang semburan utama yang menunjukkan adanya rekahan. Apalagi bendungan dari besi setinggi 40 meter dengan diameter 100 meter gimana membuatnya ya, ya kalo di tanah lapang yang luas dan tanahnya stabil mungkin bisa, tetapi kalo di sana yang dimana-mana lumpur semua. Dhe bendungan besi ini konstruksinya gimana to? Silinder tinggi 40 meter dengan diameter 100 meter, secara bodon-e aku mbayanginnya kayak stadion senayan itu je.

  6. mungkin pompa air grafitasi bisa dijadikan alternatif untuk mengalirkan cairan lumpur dengan tanpa memakan BBM dan listrik untuk menjalankannya.

    secara toritis alat ini rasional dan gampang-gampang susah teknik pembuatannyya.

    kalo ada yang mau mencoba membuatnya, kirim email ke [email protected]

    @li

  7. linda … tenggelam belum tentu kali, tapi yang pasti udah babak belur. agaknya pengeboman dalam bumi, bisa membantu … tentulah punya risiko …

  8. cakep banget penjelasannya pak dhe, bangsa kite ini banyak yang pinter. dinegeri orang banyak diem2 karyanya hebat2. cuma disini kitenya aja masi minder, kalo jepun ato bule, liatnya wah, ya menteri ampe presiden semuanya takzim dengerin. kalo orang kite katanya malah diluar lebih gampang akses dan ngomong, asal isinya mutu. tapi sih yang emang fakta, duit mereka buanyak. jadi apa bole buat, walau idenya ga istimewa dan ga orisinil, kalo si jepun mau ngongkosin dulu, ya silahken ajala. kalo sukses semburannya bisa mampet, 600 miliar sih masih murah daripada nunggu 30 taon.

Leave a Reply