Go to PLTN: yes or No itu keputusan politis strategis

18

Ada pembaca yang bertanya perbandingan biaya mengembangkan “Gas alam dan Batubara”, mana yang murah ?.

Ini jawabannya juga tidak sekedar yes or no saja. bisa beda-beda tergantung apa yang sudah ada saat ini disitu. Kalau infra struktur batubara di Indonesia ini sudah cukup banyak. Karena selama ini kita sudah membangun PLTGU dengan bahan bakar BB (BatuBara) cukup banyak di Jawa. Juga kapal pengangkut sudah tersedia cukup banyak.
Gas alam belum sebanyak yang digunakan sumber energi lain, sehingga pembangunan infra struktur akan terasa mahal. Apalagi pasaran didalam negeri juga belum sebanyak pemakai BB atau BBM. Seolah-olah penggunaan BBM dan BB menjadi murah karena “keterlanjuran”.

May NOT by design, but accidentally … or may be fortunately !

Kalau ditinjau dari segi “ekonomi sesaat” jelas mengambangkan batubara sebagai bahan bakar PLTGU saat ini akan lebih visible ketimbang mengembangkan gas alam. Tetapi dalam jangka panjang masih banyak ketidak pastiannya. Masih akan selalu ada faktor belum tentunya banyak sekali. Coba tengok cara berpikir ekonom saat ini, mereka lebih suka melihat NPV atau Net Present Value (nilai uang saat ini), sebagai salah satu tolok ukur utama dalam melakukan atau memutuskan GO or NOT to go. Dengan NPV ini tentunya kondisi saat inilah yang akan berpengaruh.

Demikian juga nasibnya dengan teknologi PLTNuklir. Banyak yang bilang PLTNuklir ini saat ini merugi. Lah iyo mungkin saja kan ? saat ini di dunia mungkin sudah jenuh dengan PLTN, bahan bakar nuklir menjadi mahal dan sulit. Dengan demikian biaya pembangkitan perr Kwh  listriknya juga meningkat. Makanya PLTNuklir saat ini mungkin ngga akan bisa bersaing dalam pembiayaan pembangunan reaktor/ generatornya. Tetapi dahulu di jaman rekiplik sewaktu Indonesia punya duik hasil penjualan minyak melimpah dan ada kesempatan membangun dengan biaya mahal toch ga ada yang berani memanfaatkan. Malah udreg-udregan dewe. Ada yg sekolah sampai doktor niklir, ada yang belajar ke negeri sebrang. Sampai sekarang !!!

Trus bagaimana dengan energi panasbumi (geothermal) yang berlimpah ruah dan tersebar di Indonesia terutama Jawa dan Sumatra. Perbandingan keekonomian geothermal dengan minyak bumi pernah dituliskan spintas disini. Bisa jadi akhirnya Indonesia kayak anak kecil punya sepatu baru yang ngga pernah dipakai … setelah udah gede sepatunya sempiit dan modelnya udah koeno .
Cucian kaan ? D

Keputusan akhir Go to PLTN: yes or No … itu keputusan politis strategis
… bukan sekedar ekonomis dan environmentalis

18 COMMENTS

  1. *Kenapa PLTN ?
    1.Cost per kwh paling competitive dibandingkan fossil termasuk geothermal.
    2.Tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca
    *Sudah saatnya ?
    1. Populasi pembangkit dengan batubara yang besar di China menjadi persoalan lingkungan secara nasional China maupun global.
    ( kenaikan suhu udara dan hujan asam ). Jika Indonesia memilih batubara maka tahun 2025 akan mengalami hal serupa China.
    2. Minyak bumi dapat disecure hanya untuk yang non pembangkit listrik skala besar ( genset ) maupun untuk transport. Gas alam dapat ditingkatkan nilai tambahnya menjadi pupuk atau untuk kepentingan rumah tangga misalnya. Sedangkan batubara dapat diolah kebentuk bb cair.
    Selain itusemua senyawa hidrocarbon adalah bahan utama untuk membuat tekstil. Biarkan urusan energi dicover oleh bahan nuklir. Sementara hidrocarbon dapat dimanfaatkan utkkepentingan lain selain dibakar menjadi energi yang menghasilkan emisi gas rumah kaca.
    3. Keterbatasan cadangan minyak dan gas bahkan untuk bbm indonesia sudah menjadi net importir.
    Kesimpulan
    Indonesia cepat atau lambat akan memerlukan energi alternatif pengganti bbm dan bbg sementara nuklirlah yang paling siap untuk digarap ( keperluan akan supply yang puluhan MW )
    *Fosil energy terbatas dan akan habis. Bangsa Indonesia harus mulai introduksi teknologi nuklir, belajar, membangun, mengoperasikan dan mengembangkan, agar selain mampu memenuhi kebutuhan energi listrik nasional yang terus meningkat, juga sejajar dengan negara lain dalam penguasaan teknologi nuklir. Di sisi lain, energy fosil adalah penyumbang utama emisi karbon, penyebab global warming, dan negara negara di dunia ini sepakat menguranginya.

  2. Saudara Rirawan menulis panjang sekali yg kebanyakan datanya dari: http://www.worldwatch.org/node/1646
    Kemudian Infoenergi juga melakukan justifikasi data ilmiah yg salah terhadap rata2 waktu kontruksi PLTN dan capacity factor. Dan data mentah diclaim sbg data kesimpulan oleh referensi yg dirunjuk. Padahal data2 hasil olahan infoenergi perlu transparasi dan diteliti kebenarannya.

    Politik praktis dicampur dengan pragmatis menolak semua resiko terhadap kemajuan teknologi menjadi spt ini.

    Perihal PLTN dlm proses pembangunan pd tahun 1979, kebanyakan mengalami penundaan operasi komersial krn adanya kecelakaan Chernobyl. Hal ini wajar untuk memastikan reaktor yg sedang dibangun dilakukan dengan benar dan tambahan waktu untuk pengujian dan kajian keselamatan nuklir pada waktu itu. Cost pembangunan PLTN yg mengalami delay sudah pasti akan naik.

    Saat terjadi kecelakaan pesawat terbang di Jogjakarta sehingga puluhan pesawat sejenis langsung grounded sampai kajian keselamatan selesai dilakukan. Panjangnya waktu konstruksi PLTN Anggra 1 (Brasil), Shoreham (USA) dll adalah wajar disamping public acceptance sedang drop pada waktu itu. Namun pemerintah USA masih melanjutkan pembangunan PLTN2 lainnya (planned: 7 PLTN, proposed: 25 PLTN). Brasil juga demikian (planned: 1 PLTN, proposed: 4 PLTN). Brasil dengan bekerja sama dengan Jerman sedang melakukan alih teknologi PLTN sampai 90%. Mexico (proposed: 2 PLTN). Dan masih banyak projek PLTN di negara2 lainnya. Total rencana pembangunan PLTN di dunia (under constraction: 34 PLTN, planned: 81 PLTN, proposed: 223 PLTN). Jumlah yang tidak sedikit bukan.

    Lalu bagaimana dengan persediaan bahan bakar Uranium yang semakin sedikit. Saya yakin jumlah cadangan Uranium yg sebenarnya sangat dirahasiakan dan terpublish sebagian. Data geologi menyangkut kekayaan alam mungkin bisa dijelaskan oleh pakar geologi.

  3. Benar, penghargaan kepada orang yang berjasa bagi negara ini sangat minim sekali. Ibaratnya di negara ini orang yang bekerja keras dengan orang yang leha-leha digaji sama besar. Di amerika, seorang pemenang hadiah nobel sekalipun bisa dipecat kalau dia tidak menunjukkan peningkatan prestasi yang bagus.

  4. Tidak gitu mas Dewa, PTDI atau IPTN punya kesalahan meninggalkan sejarah pejuang perintisnya almarhum NURTANIO yang sudah membuat Si Kumbang,Kepik,Glatik,Belalang dll. NURTANIO gugur dalam kecelakaan pesawat yang ditumpanginya.Dulu N singkatan dari NURTANIO, kemudian nama NURTANIO diganti dengan NUSANTARA, lalu terakhir NUSANTARA diubah menjadi INDONESIA. Jadi secara moral perusahaan itu “kuwalat” sama pejuang perintis pendahulunya dengan meninggalkan sejarah tidak mengabadikan nama NURTANIO. Andaikan nama NURTANIO tetap dipakai ,perusahaan industri penerbangan itu tentu ABADI.
    Btw, Pembom B-25 MITCHEL adalah cara Amerika mengabadikan tokoh penerbang MITCHEL yang terkenal dengan teorinya bahwa sebuah kapal perang dapat ditenggelamkan oleh pesawat terbang .
    Mengapa Indonesia tidak menyebut N250 sebagai bentuk pengabadian menjadi NURTANIO 250? Itulah kesalahannya, meninggalkan sejarah, menuai ketidak abadian.

  5. Kalo mnurutku yang cuman lulus SD tapi jadi pedagang begini justru bisa memaklumi kenapa pesawat dituke beras ketan. Bukannya dagang itu prinsipnya tukar menukar. Hanya saja ada yg menggunakan uang sebagai alat tukar. Tapi kalau pakai uang justru termakan selisih kurs. Makanya penukaran pesawat dengan beras ketan adalah tindakan bagus dalam mengatasi kelemahan perbedaan kurs.

    Sayangnya ide pak HBB lebih banyak direcokin secara politis. Walo bagaimanapun stuju bahwa N250 (kalau memang jadi) akan lebih bagus ketibang BOEING bekas yang amnburadul sekarang. Kalau BOEING baru ya emang kalah. Tapi nyatanya masakapai penerbangan indonesia pakai BOEING kuno-kuni.

    Bangsa kalau cuman komplein melulu mbalah ga maju-maju
    iya ngga Pakdhe ?

  6. Horotonoyoh … menika mistikane napa panjenengan ompapang?
    Aduh, saya jadi rindu BeNgawan Solo, lagu kesayanganku, tapi oleh Ompapang kog didiskon N nya ya? Saya ini ngomong suka ceplas-ceplos, semoga saja yang tersinggung bisa legowo.

    25 tahun itu didasarkan pada: 1) Prediksi bahwa teknologi pemanfaatan nuklir secara aman masih perlu sedikitnya 2 dekade lagi untuk mematangkannya, sehingga mayoritas negarawan dunia memutuskan untuk menstop dulu rencana pembangunan PLTN dan mulai membahasnya lagi kelak setelah penguasaan manusia tentang ini dinilai cukup. 2) Seperti diuraikan oleh ompapang, kualitas SDM kita perlu 1 generasi lagi untuk layak serius menangani beginian (wong lapindo saja setahun tidak beres-beres). 3) Presiden bilang tahun 2030 gnp kita US$ 18 ribu nomor lima di dunia (RI lho, bukan BBM).

    Selain itu, mengapa membangun PLTN, jika uang yang sama bisa untuk bikin 2-4 PLTU, PLTGU dll, yang komponen lokalnya jauh lebih banyak?

    Kalau IPTN, nggak krismonpun tetap nyusu terus, bikin sang ibu (pertiwi) teler kepayahan, wong gen-nya TETUKO.

  7. Ya…betul itu…itu memang maksudnya, om!
    Tapi koq cuman disini yang om TAUTKAN, sedangkan yang
    diblog lain …tidak. Apa hayo?

    Umpannya sih sangat pingin diembargo…eh dimakan.
    Hanya saja dari awal memang tidak pingin aktif disini,
    tapi gara2 lihat ada omPapang…tangan jadi gatel!

  8. maksud pak Usil EMBARGO oleh Amerika? Kalau boleh tak koreksi, BOIKOT (BOYCOTT) itu yang punya inisiatif kita, kita tidak beli suku cadang pesawat dari Amerika itu namanya BOIKOT, tetapi kalau Amerika gak mau jual suku cadang pesawat ke Indonesia itu namanya EMBARGO, atau kita tak boleh export furniture atau pakaian jadi ke Amerika itu juga boleh disebut Amerika melakukan EMBARGO perdagangan terhadap Indonesia. Tetapi bila kita oleh undang-undang R.I. dilarang mengexport barang kita ke suatu negara tertentu, itu dinamakan Indonesia mengembargo negara tersebut untuk jenis barang tertentu.
    Terus kalau Pak Usil gak mau ikut lagi berkomentar di blog ini, namanya pak Usil memboikot ompapang.

  9. omPapang! bagaimana dengan boikot s.parts
    dari USA atas pesawat AURI kita?
    Apa ini juga penyebabnya kita tidak berani “konfrontasi”
    di Ambalat? Sehingga terkesan AURI “lumpuh”!

    Apa ini bisa terjadi juga jika kita bangun PLTN?
    Apa kalau suppliernya boikot technoloy dan s. partnya
    maka PLTN itu bisa “lumpuh”?

    Maaf tidak bermaksud tendensius dengan negara
    sahabat. Ini hanya sekedar ilustrasi saja.

  10. Horotonoyoh, ayo pak dhe, dengar itu Begawan R Irawan kasih wejangan filosofi politik enjinering.
    Hayo siapa yang bilang TUTUKA N250 itu SING TEKA ORA TUKU-TUKU. SING TUKU ORA TEKA-TEKA !! Wong masih bisa ditukarkan dengan beras ketan dari Thailan kok.(kata idealis)
    Kanjeng Begawan R Irawan,
    Menurut Njeng Begawan ,PLTN rak masih jauh ada diseberang to? Untuk menggapainya harus melewati jembatan teknologi yang aman, perlu waktu 25 tahun, kalau dipaksakan PLTN akan menjadi SI MANIS dari JEMBATAN ANCOL yang akan menghantui sebagian penduduk P.Jawa yang 70 juta itu. Gitu to Njeng Begawan ?
    Btw, waktu saya mengikuti penataran P4 saya tanya mengapa kita tingkatkan menggalakkan pembangunan di bidang Industri dimana dinegeri asalnya ada yang ditutup karena mencemari lingkungan, kok tidak dibidang pertanian yang sesuai dengan sifat agraris tanah air kita, jawab salah seorang penatar:” karena bidang industri dapat menghasilkan nilai tambah (added value) yang lebih besar dari bidang pertanian”. Setelah krismon, baru terbukti kalau jawaban penatar P4 tersebut salah, karena kebanyakan bahan baku sebagai komponen produksi dalam prosentase tinggi masih diimport dari luar negeri dengan US $, sehingga ketika kurs dollar melambung,matilah industri Indonesia. Jadi belajar dari sejarah politik ekonomi tersebut kiranya menjadi pertimbangan pemimpin kita kalau akan menentukan kegiatan industri strategis yang bahan bahannya harus diimport.

  11. Para spesialis nuklir, pesawat-terbang dll boleh militan dengan dunianya. Tidak ada yang salah dengan itu. Justru mereka harus percaya atas manfaat nuklir, pesawat dll; terus tekun dan semangat menggali lalu mempropagandakan kehebatannya. Bahwa ujungnya mereka memperjuangkan pembangunan PLTN dan IPTN, itu juga sah (untuk para spesialis).

    Tetapi keputusan tergantung para pemimpin, yang bisa berkualitas negarawan atau bodoh atau spesialis. Demokrasi, suara rakyat dan referendum kendati bisa menyeimbangkan dan memperluas wawasan pemimpin, tetapi bisa pula dipakai oleh para pemimpin karismatik untuk menggolkan keinginannya.

    Nah, disini nasib suatu bangsa amat tergantung pada cukup tersedianya para negarawan. Dan apakah kebetulan para pemimpin yang mengambil keputusan itu sekaligus seorang negarawan?

    Seorang negarawan tidak akan terperangkap oleh kepentingan masa kini, karena wawasannya meliputi rentang waktu yang panjang, dari sejarah hingga ke visi masa depan dalam jangkauan rasio yang ditunjang oleh data dan fakta lengkap.
    Seorang negarawan tidak akan terperangkap oleh kepentingan ego-sektoral, karena ia mencari nilai dan kelayakan dalam semua aspek, antara lain: kematangan teknologi, manfaat ekonomi, kadar risiko, ketersediaan SDM, keselamatan penduduk dsb.
    Seorang negarawan tidak akan terperangkap oleh kepentingan sempit, seperti: selera, hobby, golongan, kelompok dll, karena ia meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas segalanya.

    Maka, seorang negarawan tidak akan menerbitkan PP-No.12 tgl 26-04-1976 dan mendirikan PT IPTN dengan modal US$ 3 milyar dan selama 25 tahun berikutnya diduga menghabiskan dana sedikitnya USD 5 milyar tambahan dan menyedot SDM terbaik negeri ini hingga 16 ribu orang untuk dijadikan karyawan. Tetapi sepanjang hidupnya PT IPTN membuat barang-barang setara tidak lebih dari 300 pesawat yang dipaksakan dibeli oleh perusahaan-perusahaan domestik atau dibarter murah dengan nilai total tidak lebih dari US$ 3 milyar. Sehingga kehidupan para karyawan PT IPTN buruk diselimuti ketakutan atas masa depan, sampai mereka pernah demo dengan spanduk besar: “B-anyak J-anji, tapi HAnya BIkin BIngung.” Dan kini mewariskan mesin-mesin yang lebih banyak menganggurnya atau rusak, puluhan hektar lahan terlantar, SDM berpendidikan tinggi yang terbiasa makan gaji tanpa produktivitas, dan sisa 3700 an karyawan yang saat ini berjuang dengan nama PT DI membuat segala macam alat industri, senjata atau jadi tukang servis hanya untuk bisa bertahan. Dampak berantai yang diharapkan membangkitkan ekonomi lingkungan tidak pernah terwujud, selain ribuan SDM berpendidikan tinggi yang terkena PHK berebut hidup dilorong-lorong non-formal (lihat komen Dedi Ganedi di atas).

    Persoalannya, kenapa ketika itu yang dipilih pabrik pesawat? Sehingga sekarang 60% buah harus impor, beras impor, gula/kedelai lebih murah impor, kapal diatas 35 rb dwt harus impor dan harus diservis di luar negeri, bahan bakar harus impor dari kilang-kilang Singapore yang tidak punya minyak, dan banyak ironi lainnya.

    Kini kita berdebat mau bangun PLTN.
    Para spesialis nuklir memang perlu terus mendalaminya dan silahkan terus mempromosikan keamanan, keuntungannya dan perlunya segera dibangun di Indonesia. Itu memang peran dan tugas mereka, yang kita hargai dan hormati.

    Tetapi layakkah saat ini dibangun PLTN di Indonesia?
    Menurut saya, belum ada satupun dasar pendukung kelayakan itu, selain: perkiraan, pengandaian, harapan atau hipotesa bersyarat, yang berpangkal dari arogansi optimisme (pinjam istilah info-energi: “… yang masih di angan-angan dianggap sudah ditangan …”.
    Apakah selamanya?
    Untuk PLTN, saya cenderung mengatakan “ya”, atau setidaknya 25 tahun kemudian barulah topik ini pantas dibahas di skala nasional, itupun sekiranya ada hal-hal baru yang bisa dikategorikan sebagai pendukung kelayakan pembanguan PLTN di Indonesia.

    Alasan politis-strategis?
    Ini mulai dari ambisi kemandirian hingga pamor internasional.
    Membangun PLTN saat ini akan membuat Indonesia makin kehilangan kemandirian. Sebab, mulai dari: pemeriksaan, pengujian, sertifikasi dan ijin pengoperasian PLTN tergantung pada badan-badan internasional yang didominasi oleh negara-negara maju, terutama Amerika. Seluruh komponen proyek ini, dari mulai konsep teknologi/disain, barang-barang hi-tech/presisi, tenaga ahli inti, bahan-bakar, pengamanan limbah, uji keamanan dan perawatan mesin, praktis semuanya sangat tergantung dari negara maju atau harus diimpor atau ditangani oleh ahli asing.
    Tentang pamor internasional, masih relevan pelajaran yang diperoleh, ketika setiap tamu negara digiring ke Bandung untuk melihat PT IPTN. Meskipun mereka memuji-muji, namun bungkam kalau ditawari pesawat IPTN. Bahkan tidak juga menaikkan pamor produk lain Indonesia yang dipersepsikan sudah menguasai teknologi tinggi dan mampu membikin pesawat.
    Perancispun memamg pernah terjerembab ke dalam dilema ini, sebab para pemimpin Perancis didominasi oleh teknolog secara sentralistis, akibat dari pandangan masyarakat Perancis yang sangat mengagungkan ahli teknik, jauh di atas ahli hukum, ekonomi dll, maka orang Perancis menyukai produk-produk super dari teknologi, misalnya: kereta api tercepat di dunia, pesawat supersonik Concorde dan tentu saja nuklir. Setelah membangun 1 PLTN saat embargo minyak 1973, Perancis mengimpor 55 reaktor berikutnya dari Amerika karena pertimbangan keunggulan teknologi dan keamanan. Lalu sampai sekarang Perancis masih terus didera kemelut yang tak habis-habisnya dan menelan dana sangat besar akibat urusan limbah nuklir, sebab rakyat Perancis sangat mencintai tanahnya sebagai pusara nenek moyang mereka dan tidak ada yang rela di bawah mereka ada kuburan limbah nuklir.

    Alasan ekonomis?
    PLTN Shoreham 800 Mwe, 60 Km timur Manhattan – USA yang selesai dibangun 1989 dengan biaya US$ 6 milyar, akhirnya harus ditutup pada tahun 1994. Jerman juga harus mengeluarkan dana luar bisa besar untuk mengoperasikan dan akhirnya menutup banyak PLTN nya. Laporan EC Energi Policy Paper January 2007, menguraikan fakta bahwa di USA dari 1950 s/d 1990 investasi komersial untuk PLTN telah menghabiskan dana US$ 492 milyar, dan biaya tambahan US$ 375 milyar untuk dampak radiasi atas kesehatan, kecelakaan dan asuransi, tetapi belum termasuk beaya yang muncul dari penanganan limbah dan penutupan PLTN di masa depan, sehingga investasi PLTN-PLTN ini sudah membebani konsumen dengan US$ 0,09 per Kwh, sangat jauh di atas biaya energi lain yang cuma sekitar 3 – 6 cents.
    Studi dari Christopher Flavin and Nicholas Lenssen melaporkan, bahwa dari 20 PLTN yang terakhir dibangun di Amerika menunjukkan biaya pembangunan US$ 3000 – 4000 per Kwe, ini jauh lebih tinggi daripada PLTGU (combined cycle) dengan mesin turbinjet terbaru yang cuma US$ 400 – 600 per Kw. Di Indonesia, biaya pembangunan ini bisa mencapai 50-100% lebih mahal akibat beaya konsultasi asing, ongkos transport, waktu pembangunan yang panjang, mark-up dll.
    Info Energi sudah menjelaskan sisi kelam PLTN di negara berkembang, misalnya:
    – Brasil: PLTN Angra I, 600 Mwe, masa pembangunan 10 tahun, selesai 1982, menghabiskan dana US$ 2 milyar, operasinya rugi dan diputuskan untuk ditutup di tahun 2009.
    PLTN Angra II, 1270 Mwe, masa pembangunan 20 tahun, selesai 2001, beaya US$ 10 milyar. Jelas pengoperasian PLTN ini tidak mungkin tidak rugi.
    – Filipina: PLTN di Pinatubo, 621 Mwe, masa pembangunan 8 tahun, selesai 1984, beaya US$ 2,3 milyar tetapi tidak pernah beroperasi hingga kini.
    – Mexiko: PLTN di Laguna Verde, perlu waktu pembangunan 30 tahun sejak 1969, dan dipertimbangkan untuk ditutup sebab pengoperasiannya merugikan perusahaan listrik negara Mexiko.
    Maka, energi “sangat” murah dari PLTN disadari kini sebagai mitos!

    Alasan trend energi global?
    Bahwa kehidupan manusia modern makin dekat dengan nuklir?
    Ini kuno!
    Ini nostalgia pertumbuhan PLTN dunia yang 700% di dekade 1970-an, lalu 140% di dekade 1980-an, dan hanya 5% di dekade 1990-an dengan puncaknya 343 Gwe di tahun 1995. Sejak itu, meskipun PLTN masih terus dibangun, tetapi jumlah kapasitas dunia turun menjadi 315 Gwe di tahun 2005 dan diprediksikan terus turun hingga tinggal 172 Gwe di tahun 2020 (source: Worldwatch Database). Sangat jauh mengkoreksi ramalan tahun 1974 yang memprediksikan jumlah kapasitas PLTN dunia bakal mencapai 4500 Gwe di tahun 2000.

    Nah, apakah PLTN masih kita anggap sebagai gadis manis teknologi Indonesia?

  12. Menambah penasarannya Ompapang.
    Ktika Indonesia krisis tahun 1997-98 yang menghancurkan Indonesia, waktu itu kita barusaja sukses menerbangkan pesawat buatannya sendiri. Yaitu pesawat buatan IPTN yang terbang pertama !!
    Nah kalau saja IPTN tidak direcokin barangkali kita saat ini sudah punya pesawat baru N250 yang saya yakin tetep akan lebih bagus ketimbang pesawat BOING bekas-bekas itu 🙂

  13. Pak dhe, sebelum tahun 1965,saya lupa tahun dan tanggalnya, Harian Kedaulatan Rakyat dihalaman depan (dari 4 halaman) memberitakan pidato Bung Karno yang mengatakan bahwa tahun 1965 Indonesia sudah dapat membuat bom atom. Terus 1965 meletus G 30S/PKI yang kabarnya memang direkayasa oleh CIA/Amerika.
    Nanti kalau keputusan politik menjadikan kita punya PLTN dan Laboratorium riset nuklir, apa kita tidak dibayang-bayangi oleh CIA dan dicurigai akan membuat bom atom seperti yang dikatakan Bung Karno tempo dulu,sehingga negara kita dikisruh Amerika seperti Iran dan Korea utara.
    Btw, belajar dari pengalaman tahun 1960 -1965 ,peroketan mahasiswa maju pesat, salah satu organisasi dibantu Amerika dengan dana yang besar. Ternyata bantuan dana tersebut dimaksudkan untuk memecah belah pengurus organisasi peroketan mahasiswa tersebut agar berebut dana/uang sehingga lupa mengembangkan ilmu peroketannya sendiri. Jadilah peroketan mahasiswa mlempem sampai sekarang. Saat ini saya dengar Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional ) akan menyusun sejarah peroketan di Indonesia, mungkin juga akan menguak teka-teki kemunduran peroketan mahasiswa selama ini.
    Jadi kita perlu belajar sejarah perkembangan teknologi strategis di Indonesia, kalau ingin negara kita tidak diganggu negara lain.

  14. Ada kalanya Pemerintah mesti memperhitungkan cadangan sumberdaya itu sendiri Pak Rovicky. Yang saya khawatirkan semua sumber cadangan yang ada di Indonesia, khususnya Batubara dikeruk sekian cepat. Sehingga harga batubara yang ada di pasar cenderung turun, karena banyaknya batubara, dan biaya produksi tidak bisa tertutupi lagi. Sedangkan teknologi PLTG maupun PLTN sendiri menurut saya mesti melihat pasar ke masyarakat. Apakah nanti nya masyarakat akan menerima hasilnya dengan baik, atau akan lebih melihat ke sisi kekhawatiran dari dampak PLTN atau PLTG tersebut (ekonomis dan environmentalis). Kalopun menurut Pak Rovicky itu akan menjadi keputusan politis strategis pemerintah, menurut saya wajar karena semuanya mesti diperhitungkan secara matang sehingga faktor ekonomis dan environmentalis dapat terjaga secara apik. Terima kasih pak

Leave a Reply