Belajar dari adik-adik

2

“belajar dari siapa saja”

Satu hal yg sulit dilakukan orang adalah belajar dari anak buahnya, atau belajar dari adiknya, atau bahkan belajar dari anaknya. Sangat sulit dan gengsi belajar dari pengikut atau belajar dari generasi penerus. Kita lebih sering dicekoki dengan kata-kata belajarlah dari sejarah. Belajar dari sejarah bukan hal buruk, tentu saja. Dengan mengetahui masa lalu yg suram dan cerah kita bisa memilah jalan yang akan dilalui nanti. Belajar dari orang sebelum kita termasuk orang tua kita adalah bekal dalam perjalanan. Namun belajar dari orang setelah kita termasuk adik dan anak kita adalah ilmu dimasa depan.

Namun perjalanan kita tidak utk kembali ke masa lampau, kita hanya akan berjalan kedepan, kita berjalan untuk menyongsong nanti, besok pagi, minggu depan, bahkan sepuluh tahun ke depan. Yang perlu diketahui adalah masa depan bukanlah hal masa lampau yg diulang, waktu berubah, lingkungan berubah, bahkan kita sendiripun akan berubah.

Nah siapakah yang akan memimpin atau mengontrol jalannya dunia dimasa depan ?
Ya adik-adik kita dan anak anak kita. Merekalah yang akan menjadi pemimpin masa tahun depan dan masa yang akan datang. Merekalah yg akan menentukan bagaimana cara hidup dimasa depan.

Dulu saya tidak tahu bagaimana menggunakan “mouse“, tapi tengok anak-anak usia SD sekarang sangat piawai menggunakan “joystick“. Alat kontrol joystick ini bisa jadi akan merupakan alat kontrol kendaraan kita dimasa mendatang, mungkin bukan lagi “steering wheel“.

Jadi kenapa malu belajar dari adik-adik dan anak-anak kita ?

– 🙁 “Kalau gitu Pakdhe ke sini, Dhe. Belajar main Nitendo ke saya !”
+ 😀 “Siwalan !!! Tole, Aku pancen lebih suka jadi murid yang belajar, ketimbang menjadi guru yg menilai”

2 COMMENTS

  1. Iya pak dhe, orang tua sebaiknya belajar kepada yang muda dalam hal mengikuti kemajuan jaman,supaya tidak dianggap gaptek(gagap teknologi) , kuper (kurang pergaulan) atau kinfo (miskin informasi).
    Tetapi pak dhe, orang tua juga harus dapat menularkan pengalamannya kepada yang muda terutama dalam hal berpikir secara arif dalam menghadapi sesuatu masalah yang perlu pemecahan, sehingga jangan sampai pemecahan masalah menimbulkan masalah baru. Bukankah pengalaman itu guru yang terbaik ? Jadi jangan sampai manusia(atau keturunannya) seperti keledai yang terantuk pada batu yang sama atau terperosok pada lubang yang sama karena tidak belajar dari pengalaman.

  2. Salah satu kebahagiaan dan kesuksesan hidup adalah, ketika menyaksikan bahwa generasi penerus, lebih baik dari kita…

    Keseimbangan “Belajar dari sejarah dan belajar dari yang baru belakangan hadir di dunia”, adalah penting…

    Sering dan secara sadar manusia banyak melupakan hal seperti ini…

    Regards
    Sigit

Leave a Reply