Meluruskan sejarah – Suatu usaha baik yang sia-sia ? (2)

6

Lanjutan yang sebelumnya …

map.gifItulah sebabnya seorang ahli geologi harus terlatih untuk – stay out of the object —> “do not make judgement … just explore, uncover and present to others”. Seandainya saja seorang ahli geologi mengatakan atau menyimpulkan bahwa sebaiknya tidak usah banjir atau menyatakan bahwa banjir itu salah, gempa saja itu yang betul, dan gunung meletus itu harus dicegah …. maka berarti saya yg menjadi pengamat alam mencampuri kehendak alam yang tentunya kita semua tahu ….“impossible or hardly possible”.

Pengetahuan sejarah alam bukan untuk meluruskan jalannya sejarah alam. Pengetahuan manusia tentang gejala alam juga bukan untuk menghentikan gejala alam, namun untuk hidup berdampingan dengan alam. Namun karena manusialah yang diberi berkah berpikir maka manusia harus berusaha untuk menyelaraskan irama dirinya dengan irama alam. Manusia memerlukan tempat bermukim yang sangat mungkin mengambil jalannya sang air namun sudah semestinya memberikan jalan lain untuk air tetap dapat mengalir.

Lantas bagaimana para ahli sejarah manusia ini bersikap ketika mempelajari objek ilmunya. Ini sangat menarik untuk dikaji dari cara pandang melihat masa lampau ahli geologi. Para ahli sejarah serta pengamat sejarah di Indonesia ini sering sekali bersibuk-sibuk untuk mencari kebenaran sejarahnya, berusaha untuk meluruskan sejarah. Dan kenyataannya hal yang mirip seperti judul tulisan ‘usaha pelurusan sejarah’ selalu saja saya dengar. Mungkin manusia ingin melegitimati dirinya dengan mengungkapkan sejarahnya. Judgement atau penilaian sejarah manusia terhadap suatu kejadian atau perlilaku manusia menjadikan manusia itu sendiri menjadi subjek sekaligus objek. Sehingga interest lain ketika mengkaji sejarah menjadi sulit dipisahkan karena “conflict of interest ini”.

“Hidden traps in experience”.

Apakah dengan menggunakan “uniformitarianism” akan membuat jalan menjadi mulus, wah belum tentu, coba lihat dikiit saja, jawab dulu dua pertanyaan ini :

  • – Apakah jumlah penduduk di Jogja lebih besar dari 10 750 500 orang ?
  • – Lantas berapa kira-kira estimasi anda ?

Kalau anda jujur maka jawaban anda untuk pertanyaan kedua tidak jauh dari angka yang tertulis diatasnya. Mungkin anada akan menebak 10 800 000, atau 11 juta, sehingga terlihat anda terpengaruh menjawab pertanyaan kedua karena adanya angka dalam pertanyaan pertama. Secara tak sadar pertanyaan pertama diatas memberikan ‘prior knowledge‘ untuk pertanyaan kedua.

Inilah manusia yang juga termasuk saya yang sering terjebak dengan pengalaman masa lalunya, selalu terjebak dengan apa yang sudah dialaminya atau barangkali kalo kebangetan malah terlalu mengagungkan pengalaman sejarahnya, atau lebih ekstreem lagi ilmu pengetahuannya. Coba saja tanyakan pertanyaan diatas ke orang lain namun dengan pertanyaan pertama diawali jumlah yang sangat besar misalnya 30 juta, atau angka yang sangat detil hingga puluhan. Anda akan jelas melihat bagaimana pengaruh manusia terhadap ‘prior knowledge’ dalam ‘judgement‘ atau “decision making.”

Karena adanya prior knowledge serta conflict of interest ini menjadikan sejarah Indonesia yang kupelajari sejak SD lebih banyak menceritakan mana yang pahlawan dan mana yang musuh. Mana yang yang jagoan mana yang penjahat. Seolah aku dicekoki untuk mengikuti dan tidak diberi hak bebas untuk menilai sendiri tanpa dipengaruhi penilaian penulis atau pengamat sejarah.

Apa yang akan terjadi besok ?
(meramal berdasarkan sejarah)

Manusia selalu saja ingin mengetahui apa yang akan terjadi besok pagi. Manusia ingin melihat apa takdirnya besok pagi. Banyak diantaranya memperkirakan masa depan dengan pengalaman masa lampaunya. Pengetahuan masa lampau seringkali dipakai utk memperkirakan masa mendatang atau dipakai untuk membuat rekaan masa depan. Kita sering melihat fluktuasi saham untuk melihat harga saham besok pagi, atau flluktuasi dolar untuk perkiraan nilai kurs tahun depan, juga melihat trend harga minyak untuk menentukan anggaran tahun depan. Apakah ini cukup bagus ?

Gambar dibawah menunjukkan bagaimana keakurasian prediksi harga minyak yang dibuat oleh Departemen energi Amerika. Sangat jelas sekali bahwa prediksi harga minyak mentah tidak dapat dipakai lagi atau selalu meleset sangat jauh dari yang diperkirakan.

oil-price-predictionGambar disebelah prakiraan harga migas serta kenyataan yang terjadi.

Jebakan tertutup (“hidden traps”) diatas sedikit memberikan gambaran bagaimana pengalaman masa lampau (“prior knowledge”) sering menjebak kita untuk segera bertindak atau dalam meberikan penilaian (judgement). Namun hanya pengalaman itulah yang kita miliki sampai saat ini. Lantas bagaimana memperkirakan masa depan yang baik ? mestinya ada “cheat code”nya ya.

Yang paling sering melakukan prakiraan besok pagi atau nanti adalah para ahli meteorologi. Mereka sekarang mempunyai metode peramalan yang sangat canggih. Namun kalau kita lihat bagaimana mereka meramal, hal ini yang sangat menarik. Para ahli meteorologi ini tidak banyak menggunakan “past experience”. Mereka tidak memperkirakan besok hujan atau tidak berdasarkan atas kondisi hujan hari ini saja namun lebih banyak berdasarkan atas parameter lain. Prakiraan hujan lebih banyak ditentukan oleh arah angin, kelembaban udara dan kondisi awan disekitarnya. Suatu bentuk peramalan yang bukan hanya berdasarkan atas ‘pengalaman’ saja.

“Past experience is not the best way to predict the future”

Pemahaman sejarah manusia sebaiknya tidak memberikan penilaian atas pelaku-pelakunya. Biarkan saja kalau nanti anak cucu menganggap Sukarno pahlawan atau penjahat, biarkan saja anak-anak kita menilai Soeharto seorang cecunguk atau super hero, biarkan saja kalau Gajah Mada dianggap pahlawan atau penjahat. Atau kita akan menjadi bulan-bulanan dan ditertawakan oleh anak cucu kita secara bergantian.

Tugas saya sebagai sejarawan alam hanya untuk “explore, uncover and present” mengeksplorasi, membuka, dan menyajikan.

6 COMMENTS

  1. sejarah, babad, riwayat, legenda, mitos juga statistik kayaknya mirip-mirip PERISTIWA ATAU KEJADIAN YANG DIBUAT CATATANNYA, hanya tujuan pembuatannya yang berbeda disesuaikan kepentingan yang membuatnya atau yang menyuruh membuatnya, ya Pak dhe?
    Karena sarat dengan rekayasa demi kepentingan, maka catatan tersebut walaupun ada argumen yang ilmiah, kemungkinan bisa menjadi bermacam versi yang semuanya disebut oleh pembuatnya sebagai FAKTA, bukan OPINI hasil ANALISIS.
    Jadi mana yang lurus dan mana yang bengkok,sulit diketahui, baik oleh ahli maupun awam.

  2. Mungkin masih terkait dengan “meluruskan sejarah”.
    Video ini berisi gambaran proses perubahan bumi. Si pembuat video meyakini bahwa bumi dulunya kecil, trus membesar seukuran sekarang.

    Agak aneh penjelasannya dan lebih condong ke pseudoscience. Soalnya modalnya cuma othak-atik-gathuk. Tapi animasinya menarik.



  3. Meluruskan sejarah akan sulit diterima jika menghadapi suatu keyakinan spritual emosional non-rasional tradisional. Akan lebih mudah diterima jika menghadapi keyakinan spritual intelektual rasional maju terbuka.

    Keyakinan/keimanan harus gugur dan tidak dapat membohongi diri jika ada kebenaran rasional/fakta/bukti ilmiah (bukan teori/dugaan) yang menyangkal apa yang diyakininya. Misalnya, keyakinan bahwa matahari mengelilingi bumi harus gugur karena fakta ilmiah telah menyangkalnya.

    Sebaliknya, keyakinan/keimanan tidak dapat gugur jika tidak ada fakta dan bukti ilmiah yang menyangkal keyakinnannya. Misalnya, keyakinan akan adanya surga tidak dapat gugur karena tidak ada fakta/bukti ilmiah yang menyatakan bahwa surga itu tidak ada.

    Namun, jika terbukti secara ilmiah bahwa surga itu ada maka tidak ada lagi keimanan kepada adanya surga sebagaimana tidak ada keimanan bahwa matahari itu ada. Karena sudah merupakan fakta ilmiah.

Leave a Reply