Detak-detak kelahiran LUSI

25

babylusi.pngdomino.pngKelahiran seorang bayi memang selalu ditunggu-tunggu, tetapi kelahiran prematur tentunya tidak pernah diinginkan seorang ibu hamil. Mereka selalu menginginkan kelahiran normal ketika usia kandungan sudah memenuhi. Walaupun saat ini tanggal kelahiran bisa dipilih-pilih mencari hari baik dengan bedah caesar tentunya πŸ˜‰ . Menyaksikan detak-detak kelahiran SI Genit Lusi cukup menarik juga tentunya. Walaupun tidak ada yang mengharapkan kelahirannya, namun Lusi tetep saja suatu saat akan lahir kedunia

– πŸ™ : “Looh, Pak Dhe Vicky, yang jadi bidannya po ? Lahirnya premature ya ?”
+ πŸ˜€ : “Hust !”

Semburan lumpur atau dalam bahasa orang geologi disebut Mud Volcano atau Gunung Lumpur bukan hal baru tetapi khusus semburan Lusi merupakan fenomena unik yg mengandung kontroversi. Kali ini kita coba lihat dengan membuat sebuah hipotesa detak-detak kemunculan (kelahiran) semburan lumpur di Sidoarjo yang masih muda usia ini. Hipotesa ini disusun berdasarkan data, jurnal ilmiah, diskusi yang ada serta beberapa hasil seminar yang pernah dilakukan sebelumnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa proses kelahiran semburan sejenis ini sebenarnya pernah terjadi sebelum terjadinya semburan Mei 2006. Semburan Bledug Kuwu yang fenomenal, juga gunung lumpur di Madura, dan juga Gunung Anyar yang paling berdekatan dengan lokasi Lusi. Bahkan ada kemungkinan sudah pernah direkam sejak jaman Majapahit.

Data awal diambil dari presentasinya Dr. Ir. Rudi Rubiandini R.S. Staff pengajar di TeknikPerminyakan ITB, beliau juga sebagai Ketua Majelis Ahli IATMI (Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia), serta ketua Tim Penyelidik semburan lumpur panas ini. Juga dari hasil diskusi di IAGI-net, beberapa publikasi ilmiah serta mencoba dengan olah pikir, tentunya ! πŸ˜›

 

Berikut perkembangan sumur BPJ-1 dari 27 Mei hingga 3 Juni 2006. Menurut Rudi Rubiandini, dalam sebuah Seminar IAGI 29 September 2006, Detak-detak kelahirannya dapat disarikan beberapa peristiwanya dibawah ini. Gambar setiap tahapan ini bisa dilihat digambar-gambar dibawah (klik saja gambar dibawah ini) : (maaf gambar tidak jelas, tumpang tindih karena dikopi sesuai aslinya pdf file)

27may07.png

28may07.png

29may07.png31may07.png

  1. 27 May 06 : Pemboran sampai kedalaman 9277 ft (Berlangsung aman tanpa masalah)
  2. TerjadiTotal Loss pada kedalaman 9297
  3. Pompa lumpur denganLCM
  4. TarikRangkaian @ 4241 ft,
  5. Terdeteksi adanyaβ€œKick”
  6. TutupBOP
  7. Killing Well Kemudian Stuck Pipe
  8. PompaLumpur HiVisPill (40 bbl).
  9. Semburan pertama (gas dan air) keluar dipermukaan
  10. Pompa semen (150 bbl, 15.8 ppg)
  11. (maaf slide ga ada) πŸ™
  12. (maaf slide ga ada) πŸ™
  13. Semburan ketiga lalu Cement Plug 20 bbl, 15,8 ppg (2590’–2790’) dan 30 bbl (2100’–2250)
  14. Rig Down
  15. Well Abandonment (3 June 06)

Kesimpulan yang diambil oleh Dr Rudi Rubiandini menyatakan bahwa telah terjadi Underground Blow Out (UGBO) pernyataan yang sama dikemukakan oleh Mantan Ketua Umum IAGI Dr Andang Bachtiar. Kejadian awal ini merupakan kejadian yang sering terjadi dalam sebuah aktifitas pemboran. Menurut Dr Rudi Rubiandini pula di sebuah media Republika bahwa di Indonesia ini terjadi 2-3 kali blowout dalam proses pemboran migas. Artinya proses blow out itu bukan hanya pertama kali terjadi tetapi bisa dtangani dengan tepat.

casing-set.jpgYang perlu diketahui juga bahwa sumur BPJ-1 ini bukannya tidak memasang casing, tetapi pemasangan casing dilakukan tidak seperti yang diprogramkan. Konon menurut ceriteranya karena adanya kendala operasi yang mengharuskan pemasangan casing 16 ” terlalu awal. Lihat gambar disamping ini :

Pemasangan casing yang terlalu awal ini bukan karena perbedaan formasi. Terlihat bahwa lithologi yang diperkirakan tidak mengalami perbedaan mencolok untuk batuan-batuan diatas 2365 ft.

Namun dibagian bawah terlihat adanya perbedaan atau missed interpretasi yang pernah saya jelaskan disini dan disini sebelumnya, mengapa hal ini bisa terjadi. Namun dibagian bawah memang sangat mungkin = telah terjadi missinterpretasi . Batuan yang berwarna biru (batugamping) tidak diperkirakan dijumpai namun dijumpai batuan kuning (batupasir), sehingga ada lubang tidak di-casing hingga kedalaman 9297 ft. Seperti yang dijelaskan Pak Rudi padawaktu mempresentasikan hal ini, bahwa tidak dipasangnya casing ini bukanlah penyebab utama, karena secara tehnis (engineering) masih diperbolehkan. (catatan saya : kalau tidak terjadi apa-apa).

Nah selanjutnya disusun sebuah hipotesa yang bersifat kronologi untuk menjelaskan detak-detak terjadinya semburan lumpur panas ini. Hipotesi ini belum tentu benar, harus diuji dengan pengukuran detil. Apakah benar air dari Gunung Penanggungan menjadi sumber air yang keluar selama ini.

Sebelum kejadian semburan Lusi (Pre Disaster)

Klik memperbesar gambar

Pada awalnya di lokasi Porong tidak terlihat aktifitas mudvolkano sehebat yang kita lihat saat ini. Namun gejala-gejala regional dengan unculnya mudvolkano memang jelas teramati baik disekitar Porong masa purba, maupun juga jaman majapahit seperti yang ditulis disini sebelumnya.

Pada saat itu proses hydrologi terjadi seperti biasa, yaitu masuknya air kedalam tanah terjadi dan diperkirakan berasal dari Gunung Penanggungan masuk kebawah kedalam tanah hingga mendekati sebuah hotspot atau sumber panas. Proses ini sangat diduga membentuk jebakan uap panas atau hydrothermal ini terjadi tentunya sudah sejak lama. Proses hydrothermal ini mungkin tidak ada di bagian utara Jawa Timur ini, karena proses hydrothermal ini hanya terjadi berdekatan dengan gunung api.

Selain terjadi proses pemanasan air tanah ini, diatas jebakan hydrothermal ini terdapat batugamping Formasi Kujung yang memiliki tekanan cukup tinggi. Pengukuran di sumur Porong-1 (7 Km sebelah timur dari lokasi Lusi), tekanan fluida disini sekitar 9000 psi dengan kedalaman sekitar 9000 kaki atau sekitar 3000 meter.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa adanya tekanan besar di Formasi Batugamping Kujung, serta adanya pola-pola rekahan (fractures) yang sudah ada sebelum kejadian. Pola-pola ini dikenali dari data seismic. Namun sepengetahuan saya, sebelum kejadian tidak ada yang memetakan adanya rekahan atau patahan Watukosek yang memanjang hingga lokasi pengeboran.

Awal pengeboran (Early drilling operation)

slide2.gif Seperti yang dituliskan oleh Pak Rudi bahwa tidak terjadi hal-hal yang serius ketika melakukan pengeboran awal. Hanya terjadi pemasangan selubung yang terlalu dini (Premature set) seperti yang digambarkan diatas. Hal ini mungkin karena adanya tekanan yang tidak terduga dibagian atas sehingga harus dilakukan pemasangan pipa selubung (casing) lagi walaupun baru mengebor sekitar 2000 feet (kaki), atau sekitar 1000 feet dari casing sebelumnya di 1300 feet.

Hingga kedalaman 9277 feet pengeboran masih tergolong normal. Pada tanggal 27 May 2006 itu di Jogja sedang terjadi gempa besar dengan kekuatan 6.3 SR (USGS). Ada yg menduga gempa ini menyebabkan likuifaksi, namun dibantah dengan perhitungan yg tertulis disini juga gambar yang dilampirkan Pak Koesoema ketika membuat surat terbukanya disini. Masalah ini masih kontroversi, kita kesampingkan dahulu kali ini.

Kondisi kritis saat pengeboran (Critical moment on drilling)

slide3.gif Kondisi kritis terjadi ketika drilling mencapai kedalaman 9297. Saat itu terjadi kehilangan lumpur dan diikuti dengan kick (lost-gain).

Operasi yang terjadi saat mengalami lost-gain inilah yang merupakan kondisi kritis pengeboran. Penanganannya memerlukan keahlian drilling engineer yang berpengalaman menurut Dr Rudi Rubiandini.

Menurut Dr Andang Bachtiar, penanganan yang kurang tepat pada saat kritis ini yang diduga menyebabkan pecahnya batuan dibawah (underground fracture (UGBO), mungkin saat penyemenan, atau saat kill well. Dr Rudi Rubiandini juga meyakini terjadinya UGBO seperti yang tertulis di harian Kompas, 19 Agustus 2006.

Awal kelahiran (Underground Blow Out – UGBO)

slide4.gifPada saat terjadi pecahnya batuan akibat UGBO, maka terjadi aliran fluida dari batuan dibawah yang bertekanan tinggi masuk ke batuan yang bertekanan rendah diatasnya.

Menurut teori dalam pengeboran, zona terlemah dalam pengeboran terletak pada kedalaman dekat dengan casing shoe atau sepatu pipa selubung. Yaitu sekitar kedalaman 3500 feet. Kedalaman ini sebelumnya sudah diukur kekuatannya sebesar 14 ppg.

Indikasi terjadinya blow out pada awal ini diindikasi oleh Dr Rudi Rubiandini dalam seminarnya di IAGI bulan September 2006, “Saat erupsi pertama, yang keluar adalah air–asin–panas dari kedalaman 6150 –6500 ft yang naik sambil menggerus shale ataur eactive-shale atau mud-diapir pada kedalaman 6100 –1700 ft”. Indikasi air asin ini menunjukkan bahwa air berasal dari laut yang kemungkinan besar merupakan air yang berasal dari Batugamping Kujung (Formasi Kujung).

tingay-2005.gifMekanisme semburan seperti ini pernah terjadi di Brunei dimana Shell melakukan pengeboran di laut yang menyebabkan semburan selama puluhan tahun. Tingay (2005) meneliti geomechanics di daerah Brunei Darussalam dan menggambarkan mekanisme UGBO seperti yang tergambar disebelah kanan ini.

Proses transisi (Transition Process)

slide5.gifPada saat transisi inilah terjadi penurunan tekanan pada fluida Formasi Kujung. Tentusaja. Formasi Kujung ini memilki fluida yang bertekanan hingga 9000 psi dari pengukuran di Sumur Porong-1 yang terletak 7 Km dari okasi sumur Banjarpanji-1.

Secara mudah dapat dimengerti bahwa akan terjadi selisih tekanan yang cukup besar ketika fluida di Formasi Kujung ini mengalir keatas, sambil terus menerus menggerus shale atau batulempung yang dilewatinya.

Hingga pada suatu saat batuan yang memisahkan Formasi kujung dengan sumber hydrothermal dibawahnya tidak kuat lagi menahan selisih tekanan.

Sesuai dengan perhitungan sebelumnya yang dilakukan oleh ahli-ahli dari Lapindo ketika memperkirakan bahwa fluida ini akan habis selama 3 bulan. Dan benarlah dugaan ini, yang terjadi setelah tiga bulan adalah .. ledakan hydrothermal !! Ledakan ini terjadi pada tanggal 27 Agustus 2006, kira-kira 3 bulan setelah awal semburan.

slide12.gifSangat beruntung tim penanganan pada saat awal yang dipimpin Pak Rudi Rubiandini dalam team relief well ini memiliki pengukuran yang cukup detil dari hari-kehari dengan mencatat besarnya flowrate (debit lumpur ini). Gambar disebelah ini sangat jelas menunjukkan kronologi tersebut.

Sebelum terjadi ledakan hydrothermal juga tercatat adanya runtuhan bawah permukaanyang ditandai dengan berhentinya semburan (intermitten flow) Lihat tanda panah hijau dari catatan asli Dr Rudi Rubiandini disebelah kiri ini.

Paling tidak harus ada pembelajaran sampai saat ini, yaitu ketika terjadi aliran yang mulai “batuk-batuk” (intermitten) maka dapat diartikan atau diinterpretasikan telah terjadi runtuhan dibawah sana. Setelah terjadi runtuhan dibawah permukaan maka akan segera diikuti terjadi amblesan dipermukaan.

Tentunya masih ingat bahwa semburan sempat terhenti selama 30 menit pada tanggal 20 Maret 2007 yang akhirnya diikuti dengan amblesan setempat yang menyebabkan lubernya tanggul sebelah barat hingga menutup jalan raya Porong sejak pekan lalu.

Proses akhir (Late process)

slide6.gif Yang terlihat saat ini adalah proses hydrothermal dimana keluarnya semburan uap panas yang berasal dari sumber dapur hydrothermal yang berada dibawah Formasi Kujung.

Air yang keluar saat ini sudah berbeda dengan yang keluar pada saat awal semburan. Air yang keluar bukanlah air asin (air laut) yang terjebak pada Batugamping Kujung lagi.

Setelah terbentuknya proses ini jelas terlihat bahwa hanya awal 3 bulan itulah yang merupakan golden time period. Dan sepertinya Dr Rudi Rubiandinipun sudah terlambat menghambat kelahiran Lusi yg semakin memanas ini.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa di Mud Volkano lainnya tidak berkembang menjadi proses hydrothermal seperti Lusi ? Ya, seperti kita ketahui bahwa sumber panas tentusaja dari proses volkanisme. Mud volkano atau gunung lumpur di Madura serta di Bledug Kuwu sangat jauh dari aktifitas volkanisme. Sehingga ketika terjadi atau terbentuk semburan lumpur ini tiak berkelanjutan. Demikian juga dengan UGBO yang merupakan kejadian yang sering terjadi dalam pengeboran di migas. Dimana seringkali pengeboran migas ini berjauhan dengan aktifitas gunung api.

– πŸ™ “Pak Dhe, jadi prosesnya itu tidak serta merta ya dhe ?”
+ πŸ˜€ ” Setiap proses itu ada tahapannya, setiap kejadian pasti didahului gejala, tergantung apakah kita mampu membaca gejala-gejala itu”
– πŸ™ ” Jadi yang bener ya seperti kata Pak Dhe ini ?”
+ πŸ˜€ “Nanti dulu Le, ini namanya hipotesa kronologi yang dibangun berdasarkan atas data-data yang ada, masih banyak yang harus diuji apakah hipotesa kronologi ini benar adanya”

hydrothermal-source.jpgSumber fluida berdasarkan atas suhu serta penurunan suhu yang dibuat oleh D Rudi Rubiandini diinterpretasikan ulang. Karena saat ini diketahui adanya kemungkinan sumber lain dari air tersebut maka diperkirakan sumber hydrothermal berada pada kedalaman dibawah 9000-10000 feet.

Harus diuji kebenarannya.

Hipotesa diatas tentunya masih bukan berupa bukti kebenaran. Masih banyak yang harus dilakukan untuk dibuktikan. Misalnya bagaimana dengan kronologi atau laju amblesan, apakah mendukung atau menolak hipotesa kronologi detak-detak kelahiran lusi ini. Mungkin Pak Hassanudin dari geodesi ITB dapat menyumbangkan data laju amblesan dari wkjtu-kewaktu. Kemudian bagaimana dengan dugaan air dari Gunung Penanggungan ini ? Ini bisa dibuktikan dengan uji laboratorium terhadap air yang keluar saat ini, seperti yang disarankan Dr Lambok, seorang ahli hydrologist. Dan masih banyak lagi uji saintifik terhadap hipotesa detak-detak kelahiran Lusi ini.

Referensi :

  • Presentasi Dr Rudi Rubiandini pada seminar di IAGI tanggal 29 September 2006.
  • Present-day stress orientation in Brunei: a snapshot of ‘prograding tectonics’ in a Tertiary delta, Journal of the Geological Society, Jan 2005 by Tingay, Mark R P, Hillis, Richard R, Morley, Chris K, Swarbrick, Richard E, Drake, Steve J
  • Koran, Media, diskusi IAGI-net, dll.

25 COMMENTS

  1. Wah….ternyata aku terlambat…info ini…bagus banget tuh penjelasannya.
    Minta ijin dan ikhlasnya aku copy artikelnya, untuk menambah wawasan.
    Rencana dipostingkan di blogku :http://mbahjogo.wordpress.com
    Sekaligus untuk menambah melek teknologi…LUSI aku pikir…he..he..he

    Maturnuwun.

  2. Pak Dhe…. wah setelah kita tahu penyebab dan kronologinya enak’e kita tu cari solusinya. jangan lumpurnya saja yang diurus. korbannya juga dong.. Oce Pak Dhe!!

  3. wah LUSI namanya singkat banget tapi dah bikin nangis orang se-indonesia. ya semestinya harus di kasih susu dulu biar berhenti nangis tho…. Kok malah kasih bola beton, kan belum mempan, apa gak bikin aliran lumpur keluar dari tepat lain. ya gak papasih untuk nyoba-nyoba kan banyak jalan ke roma, He.. he..
    Mud Vulcano dari sidoarjo tuh katanya akibat gempa jogja, seandainya gempa gak terjadi apa LUSI gak bakalan terlahir atau save pengaman pengeborannya kurang masa soal keamanan pengeboran dari dampak endogen bumi nggak di pikirin….

  4. wah, maaf pk.Dhe, aku kok yo lupa e-mailku sendiri to?hehe. habis baca uraian pk.Dhe tentang Lusi (ilmu geologi, perminyakan), aku jadi mumet.hehe. e-mailku: [email protected].
    ngapuntene yo pk.Dhe. makasih

  5. Ass. Pk.Dhe.
    salam kenal dari aku, Edi Susanto, dari LA Mania (Lamongan), tonggoe wong Sidoarjo, dkk (wong Jatim, maksute).
    pk. Dhe, aku ijin memakai dongengan2 tentang LUSI buat referensi tesis. dan jika diperkenankan, nanti aku butuh diskusi sama pk.Dhe, jadi minta e-mailnya. e-mailku: [email protected].
    oh yo pk.Dhe, aku lagi kuliah di Studi Pembangunan, ITB, angkatan 2006. tesisku nanti insy. ALLAH tentang kajian para saintis terhadap semburan lumpur ini. merujuk pada buku science in action, politic of nature, dan reassembling the social karya Bruno Latour. jadi lebih kearah social theory pk.Dhe.
    tp, aku belum bisa cerita banyak tentang rancangan tesis ini pk.Dhe, maklum ini hal baru dalam khasanah intelektualku, aku dulu S1 di FE-UB (angkatan 2001). jd, sekarang sambil kuliah, mengumpulkan informasi ilmiah tentang Lusi ini, sekaligus baca2 teori sosial.
    atas bantuannya, aku ucapkan banyak terima kasih. salam Indonesia pk.Dhe.
    wass.wr.wb.

  6. Jangan melawan “kehendak” ALAM, Tidak akan bisa!! Pahami dulu mengapa ALAM Begini atau ALAM Begitu then “go along” with ALAM. Dengan itu kita baru hidup sentausa. Kita ini hanya NUMPANG. Terima kasih.

  7. comment only no action is nothing too
    just try fren, because nothing is impossible…
    go go bola beton.. buah karya anak bangsa…
    jangan karena hanya kulitnya yang sawo matang sehingga di cerca terus menerus….
    bagaimana kalau ide ini datangnya dari japanesse atau americans? what do you comment? still comment?? (take form: wawancara pak basuki dengan wartawan maret 2007)

    bola2 beton cukup reasonable, saya dari porong, sebelumnya saya juga punya banyak ide kayak bapak2 ini, tapi setelah melihat langsung kondisinya maka saya menyimpulkan bahwa Metoda HDCB (bola2 beton) inilah yang paling reasonable…
    karena membiarkan lumpur mengamuk begitu saja itu sangat tidak terpuji kawan2, kawan2 bisa ngomong begitu karena kawan2 bukan pengungsi, bukan warga sekitar yang setiap malamnya tidak bisa lagi tertidiur nyenyak…
    INI HARUS KITA HENTIKANNNN… LAWAN ALAM INI…

    beberapa catatan untuk dijadikan refence,
    kondisi lapangan:
    1. panas 100-120 degC
    2. lumpur yang keluar bercampur bentuk… halus & berbentuk kerikil
    3. tanggul2 yang ada disana sangat labil sehingga kita tidak bisa membuat pondasi serta tidak bisa melewatkan truk ukuran besar, hanya ukuran sedang saja yang bisa lewat..
    4. tiap hari jalan mesti terus-menerus ditinggikan agar truk2 pasir bisa tetap lewat. karena subsidence global tiap harinya, sekarang saja tanggulnya 21m thdp muka tanah sebelumnya…. bayangkan.. sudah seberapa dalam yang tenggelam
    5. asap H2S beracun, anda harus sangat hati2, jika angin mengarah ke anda.. anda bisa mampus karenanya…
    6. tidak semua orang (profesional/buruh) yang mau bekerja disana… terlalu high risk [tidak ada satupun asuransi yang mau menanggung orang2 yang bekerja disana]
    7. model topografi lebih rendah ke utara. ingat di selatan ada sungai porong tapi itu adalah sungai irigasi belanda (so pasti posisinya lebih tinggi dari tanah sekitar, melihat fungsinya sebagai irigator gitu)
    8. ada laut di timur, tapiiii… jauhnya 5 km sedangkan beda elevasi hanya 1 meter… bisakah air murni mengalir???? apalagi lumpur???
    9. belum lagi masalah intrik politik dan duit… karena saya pikir tidak akan ada orang/kontraktor yang mau bekerja tanpa pembayaran yang jelas..

    terimakasih…
    melihat langsung memang benar2 membuka mata…
    sebaiknya mungkin bapak2 lihat dan pahami langsung masalahnya… dari pada sekedar menebak2 saja…

  8. Dulu untuk menyumbat lumpur ada yang nyembelih kambing, coba nyembelih gajah mungkin bisa tersumbat. Ada yang pake wayang Antareja disuruh nyilem buat nutup lumpur, coba aja dalangnya yang suruh nyilem mungkin bisa nyumbat lumpur. Jadi lebih hemat biaya daripada buat bikin bola-bola beton.

    Saya setuju pendapat pakdhe bahwa “LUSI jangan dilawan mending dimanfaatkan”.

  9. Oalah Pakdhe..kok makin ruwet aja ya?
    Makin ruwet kalo mikirin ntar saya mo mudik ke Malang, dari Juanda Airport mesti muter lewat Mojosari.. πŸ˜€

  10. Jadi Pak Dhe sependapat dengan saya bahwa aliran lumpur panas itu laksana aliran air panas dari kran yang lewat water heater dikamar mandi, yaitu adanya tekanan dari WATER TOWER (G.Penanggungan) dan adanya pemanasan dari WATER HEATER ( geothermal) menjadi proses hydrothermal ?

  11. Pak Dhe,
    Kalau nantinya akan jadi gunung khan jelas, material yg. keluar akan menumpuk membentuk bukit/gunung,…lha kalau yang keluar matherial cair (lumpur?)…yang ndledek/meluber kemana-mana gitu gimana?
    Apakah suatu saat nanti material yg. keluar akan berganti batuan gitu?

  12. Pakde Rovicky… (Rofiq = setia kawan hehehehe), mungkin po ra pak nek energi soko LUSI dijadikan sarana utk pemutar turbin guna pembangkitan listriK?

  13. Walah Pak Dhe, mumet tho bacane… gambarnya nyampur. Terus Pak Dhe, gimana dengan tulisan Kompas, Senin, 24 Juli 2006 mengenai kelahiran Lusi ini. Jadi casing itu dipasang sampai kedalaman berapa gitu.

    Pak Dhe.. Pak Dhe.., Lusi sudah mulai dewasa, tapi cerita brojolnya baru sekarang. Tapi, gpp.

    Pls deh.. jelasin…

  14. Mengerikan Pak. Kalau terus-terusan begini nanti bisa muncul gunung api dong pak. Bearti adanya wacana akan munculnya bangbang wetan, yaitu abang-abang soko wetan atau cahaya kemerahan dari timur mungkin akan segera menjadi kenyataan. Pak, mungkin gak ya dengan adanya hydrotermal ini mengakibatkan berubahnya kelahiran gunung lumpur menjadi lahirnya gunung api baru dengan mengikuti teori perbedaan tekanan tadi yaitu ketika sumber hydrotermal tersebut habis.
    Dampak sosial dan plolitik dari perubahan gunung lumpur menjadi gunung api seandainya benar-benar memungkinkan untuk menjadi nyata tentu akan sangat luar biasa sekali. Coba kita cermati bersama-sama dengan agak mendalam; pertama, kota pahlawan ada di surabaya dan kita sama-sama tahu bahwa saat itu rakyat surabaya dan sekitarnya berani melawan ultimatum sekutu ( gabungan dari inggris, belanda dan lain2). Kedua, bonek kelompok supporter sepakbola dari surabaya yang berani datang ke jakarta dengan hanya bermodal uang 10.000 atau 15.000 rupiah untuk 2-3 hari di jakarta. Benang merah keduanya adalah bahwa masyarakat suarabaya dan sekitarnya termasuk sidoarjo mempunyai energi yang hebat sekali untuk melawan apapun dan menghadapi siapapun atau kondisi apapun. Bedanya waktu jaman kemerdekaan dulu ada yang memimpin semisal Bung Tomo sekarang belum kelihatan pemimpin yang benar2 berwibawa. Selain ini patut disimak pernyataan tokoh PBNU (ketua PBNU) yang pernah saya baca bahwa lumpur lapindo/sidoarjo ini bisa menyebabkan kejatuhan pemerintahan sekarang ini.
    Mejelang Agustus 2007 ini LUSI sepertinya akan semakin berulah dan jebol-nya tanggul2 akan semakin sering dan perlu diwaspadai seandainya uap air hydrothermal ini habis apakah ada kemungkinan nanti yang keluar bukan lagi air bercampur lumpur tapi aliran lava gunung berapi.
    Perrtanyannya adalah apakah ada solusi untuk semua kejadian ini :
    1. Solusi mikro atau teknis mungkin sangat berat atau hampir mustahil, coba kita tengok aja kasus terakhir yaitu insersi bola beton saja masih belum menunjukkan hasil yang maksimal dan anehnya seolah2 alam tau bagaimana cara membuat repot timnas memasukkan bola2 beton yaitu mulai dari hujan, asap tebal sampai amblesan dan jebolnya tanggul2 cincin. Cara yang paling mungkin adalah apabila usaha dan ikhtiar sudah kita laksanakan semaksimal mungkin cara berikutnya adalah berdo’a. Tapi do’a kita terkabul atau tidak sangat tergantung dari kondisi makro bansa ini.
    2. Solusi makro (dampak sosial, ekonomi dan politik). Dampak LUSI ini bener2 bisa berskala nasional karena bisa melumpuhkan Jawa Timur yang merupakan salah satu urat nadi perekonomian Indonesia terutama Indonesia Timur. Solusi ini sangat besifat umum & luas tapi saya ragu pemerintah punya nyali untuk hal ini. Karena menghadapi keluarga Bakrie dengan lapindonya saja pemerintah terkesan ewoh pakewoh atau sungkan apalagi menghadapi semisal Amerika dengan Exxon, Caltech dan Freeport. Karena solusi makro untuk LUSI lebih menitikberatkan pada sikap pemerintah untuk kemandirian bangsa mewujudkan kesejahteraan rakyat. Sehingga do’a2 rakyat kecil yang telah sejahtera dan tentram hidupnya mungkin bisa menghentikan si LUSI ini. Harap diketahui bangsa ini sekarang sedang mengalami atau diberi hal-hal spesial atau khusus dari Tuhan yang tidak diberikan kepada bangsa lain. Istilah lainnya adalah Qudroh.
    Sekarang mari kita lihat dan tunggu perkembangan selajutnya beberpa bulan kedepan.

  15. Oompapang,
    Kalau pancinya dibiarkan saja ya habis dengan sendirinya, tetapi kalau “panci”nya selalu diisi terus (dari G Penanggungan) ya ndak bakalan habis-habis donk :p
    “Dimanfaatkan” saja lah …

  16. Pak dhe, apa proses keluarnya lumpur karena hidrothermal itu kira -kira seperti kalau kita merebus susu sapi segar, dimana susu panas sesudah mendidih, lalu membludag luber keluar dari panci sampai habis (jika tidak konangan)?

Leave a Reply