Tanggul itu luber karena amblesan setempat differential subsidence

11

diffsubsidence Kejadian luberan yang tak terkendali ini sangat memprihatinkan. Kalau kita perhatikan luber itu bisa terjadi karena dua hal berbeda, mengisinya kebanyakan atau wadahnya kekecilan. Dalam hal tanggul yang luber kali ini sangat dimungkinkan karena terjadi amblesan setempat differential subsidence. Seperti yang sudah saya tulis dahulu disini tentang amblesan setempat atau differential subsidence akan lebih berbahaya ketimbang curah hujan maksimum yang pernah ditakutkan dahulu.

– 🙁 “Memang kalau ngga kompak itu selalu bikin masalah ya Dhe ? Ini ambles saja kok ya sebagian saja bikin lebih repot”.
+ 😀 “Mulane orang Indonesia ini kudu kompak, kalau kompak ya susah ditembus oleh musuh. Kalau ada satu yang ngga kompak, ya susah. Wong kaki cuman dua aja kalau ngga kompak bisa jatuh kesrimpet kok “

Luberan yang akhirnya sempat mematikan jalur transportasi Surabaya Malang ini terkesan tak terkendali dan malah banyak yang menyangka volume semburan semakin besar. Bisa saja volume semburan membesar tetapi ada juga kemungkinan adanya amblesan setempat. Secara mudah overtopping ini bisa dilihat pada gambar dipaling atas. Klick saja. Tidak mudah melihatnya, tentunya harus dibuktikan dengan pengukuran dilapangan. Semoga pengukuran yang dilakukan oleh Prof Hassanudin dari Geodesi ITB Bandung masih terus dilakukan. Karena hanya dengan pengukuran akurat seperti inilah kita dapat mengetahui dinamika bumi dari batuan dibawah. Dan dapat melakukan penanganan dengan tepat.

overtopping.jpg Kalau memperhatikan peta satelit yang dibuat awal tahun ini oleh Ikonos terlihat bahwa amblesan yang terjadi memang mengikuti pola zona lemah. Kalau kita perhatikan peta satelit terbaru yang ada (edisi 5 January 2007), jelas terlihat adanya pola dari lokasi-lokasi amblesan setempat yang ditandai dengan lokasi luberan yang telah terjadi beberapa kali sebelumnya.

tanggul Dahulu ambrolnya tanggul-tanggul ini akibat gorong-gorong yang ada dibawah atau didasar tanggul. Namun dengan cekatan ambrolnya tanggul akibat hal ini sudah dapat dicegah. Namun tumpahan kali ini mekanismenya berbeda.

Masih ingat kan fase-fase dalam pembentukan mudvolkano ini ? Kalau lupa baca lagi disini. Fase amblesan kali ni mungkin akan mendominasi permasalahan dinamis selanjutnya setelah uap panas (hydrothermal steam).

– 🙁 ” Ah pakdhe pasti dikasi tahu sama Mama Loren ya ?”
+ 😀 “Hust, Mama Loren yang baca blog ini, le. Tulisan fase-fase itu udah ditulis sejak September setahun yang lalu”
– 🙁 “hehehe, memange Pakdhe mau nuntut pengakuan juga ya ?”
+ 😀 “slompret tanin kowe ki ! Tapi ngertio le, Mama Lorent aja baca blog ini tapi Pak Gubernur malah ngga mau baca”
– 🙁 “Haiyak Pakdhe Ge-eR !”

Apakah setelah ables ini maka semburan akan berhenti ?

Wah tentusaja tidak sesederhana itu. Fase-fase ini nantinya bisa seperti fase aktifitas Gunung api. Yang akan berulang-ulang dan menerus sampai akhirnya mati juga.

Pola amblesan

Perspektif dari selatanNah ini yang perlu diperhatikan oleh TimNas. Pola amblesan ini akan mengikuti pola zona lemah. Kalau dugaan ini benar Sesar Watukosek menjadi zona terlemah didaerah ini, maka perlu diwaspadai arah-arah pelurusannya. Sesar Watukosek ini berarah Timur laut-Barat daya seperti yang terlihat pada gambar disebelah ini.

Sudah pernah lihat gambar ini kan ? Ya peta disebelah ini sangat penting untuk mengetahui zona-zona lemah yang mungkin akan mengontrol amblesan nantinya. Pola-pola geologi didaerah ini tentunya ada di tangan TimNas saat ini. Dan semestinya menjadi dasar dalam pengambilan keputusan. Peta-peta bawah permukaan tentunya sudah banyak dimiliki oleh Timnas misal peta Microgravity, namun tidak semuanya mudah diperoleh atau disebarkan. Ntah apa alasannya.

Apakah amblesan ini akibat insersi Bolton ?

Tidak mudah untuk diketahui dengan pasti. Fenomena amblesan ini walaupun tidak ada intervensi Bolton-pun sudah diperkirakan sebelumnya disini.. Seperti yang ditulis sebelumnya tentang genesa serta tahap-tahap mudvolkano, maka amblesan inipun sudah diperkirakan sebelumnya. Nah yang menjadi permasalahannya adalah pengukuran, ya pengukuran segalanya tentang hal yang bersifat dinamis. Pengukuran ini bersifat pengamatan artinya terus menerus bukan hanya sesaat saja, termasuk jumlah semburan permenit, karakteristik semburan, material yang keluar dari hari ke hari, besarnya subsidence, besarnya dan jenis gas-gas yang keluar dari seburan, dan masih banyak lagi. Semua pengukuran inilah yang nantinya menjadi dasar dalam penentuan langkah penanganan. Baik penanganan permukaan ataupun penanganan bawah permukaan.

Kalau memang pengamatan jumlah semburan permenit ini menunjukkan frekuensi yang berkurang, memang ada kemungkinan volume fluidanya yang keluar juga berkurang. Sebelumnya setiap menit 20 kali menjadi hanya 12 kali per 5 menit. Tentu saja sulit mengukur dengan tepat berapa volume sebenarnya apalagi dibarengi dengan fase amblesan yang menyebabkan ponds atau kolam-kolam ini tak terkontrol volumenya.

kerikil_lusi.jpg

Ada hal menarik dari sebuah foto kerikil yang dikirimkan ke saya dari Pak Amien … akan dituliskan terpisah. Tunggu ya ?

11 COMMENTS

  1. thanx for information…jadi buat nambah pengetahuan memahami perilaku lumpur dan tanggul untuk memudahkan penanganan jebolnya tanggul atau overtopping…..terutama titik 25, selalu jebol

    Anggota Deputi Operasi – BPLS

  2. Pak Vicky,selama 10 thn terakhir,saya mencatat 3 KEJADIAN BESAR di INDONESIA ,KELAS SEJARAH DUNIA:
    1.Bencana ekonomi 1997/1998,menurt harian kompas 2/3 thn yg lalu(lupa tglnya) adlah DEPRESSI EKONOMI TERBESAR ,DALAM SEJARAH EKONOMI DUNIA..(MINUS 70% GROWTH).

    2.BENCANA TSUNAMI ACEH,…adlah TSUNAMI TERBESAR DIDUNIA(…barusan nonton national geographic channel).

    3.LUSI,BENCANA LUMPUR PERTAMA/TERBESAR di DUNIA juga,….(menurut blog anda).

    Saya jadi ingat ucapan bung Karno,..indonesia akan jadi mercusuar dunia,….memang sekarang Indonesia agak lebih terkenal krn banayak bencana,….apa ya itu maksutnya,…

    Apa itu tanda2 akhirnya negara ini?…wallahuallam…saya juga banyak melihat kawan2 yg pindah kerja ato usaha keluar negeri(termasuk anak2nya sekolah di m’sia ,katanya biayanya sma),…apa sebenarnya diem2 pada mau ngungsi,…
    Kalo baca artikelanda,..keruntuhan majapahit dan lusi purba,…apa ada korelasinya?..tuk gatuk.How about now?

    Mohon maaf kalo salah,..mungkin sebagai bahan renungan,..

  3. Ada koreksi lokasipatahan porong,mestinya diletakkan/diagriskan di k porong yang mbelkodi sebelah bartnya itu.Soalnya dibelokan kaliyang lurusitu ada kedung yang sangat dalam. Gambar itu jadi tepat dengan citra satelit itu bahwa di sebelah baratdan utara merupakan footwall patahan………
    AW

  4. pa_dhe itu kerikil darimana ya? keluar dari pusat semburan ato kerikil yang buat nanggul? kok apik2 bentuknya, bisa pipih gitu meh seragam lg. Ditunggu ya berita slanjutnya. Tengkyu…

  5. pak_de mo tanya neh…
    kl citra yg ditampilin di atas, pake data pd waktu kapan? apakah masih ditampilin di web- pakde ini yang pada bulan oktober 2006, bukan?
    kalo pakde punya yang terbaru tolong ditampilin citra pada perkembangan terakhir?
    menurut yg saya trima [dlm fikiran sy] dari berita-2 di TV, pengeluaran lumpur terus berlangsung tp sepertinya juga penanggulangan terhadap lumpur yang terus meluber tidak ada perkembangan yg berarti malah kayaknya terus meluber yg keliatannya akan terus meluas hingga bakalan menghambat perkembangan kehidupan di sekitar porong – ya paling tidak daerah sekitarnya…
    kan pakde…punya sahabat yang menjadi anggota TimNas utk penanggulangan LuSi, kl boleh tanya : pastinya pakde memberi saran-kan ke sahabat-nya disana, saran-nya ditindaklanjuti gak ya pakde???

    ok..trims a lot… maaf kl ade salah-2 kate..
    🙂

    truzz produksi-lahirkan-tayangin karya-2 nya pakde…

    ta enteni…

    🙂

    caioo..
    salam hangat,

    Jack

  6. Hal paling bijak yang perlu segera dilakukan adalah beralih fokus penangan dari modifikasi kejadian (modify event) ke penanganan kerentanan manusia dan kerugian (modify human vulnerability and distribute the losses). Karena usaha mengurangi semburan melalui 4 skenario dari snubbing unit, sidetracking, relief well sampai insersi bola beton belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Penanganan lumpur di permukaan dengan sistem pananggulan juga tidak mudah, berkali-kali terjadi luberan (overtopping), rembesan maupun tanggul jebol. Akibatnya kerentanan penduduk semakin meningkat dan aktivitas sosial-ekonomi di sana semakin berisiko. Biar tidak semakin kedodoran karena bahaya primer (luberan lumpur) dan bahaya sekunder (subsidence) semakin tidak terkendali. Secepatnya relokasi penduduk dan infrastruktur penting dilakukan sebelum semuanya menjadi terlambat, bukan begitu pak Dhe…

Leave a Reply