Masih soal hipotesa kelahiran LuSi

12

lusi.jpgdomino.pngBerikut dongeng tentang kelahiran Lusi yang dulu dipikir lucu ternyata nakalnya minta ampun.
Diskusi dengan salah seorang sahabat saya tentang hipotesa HotMudFlow.

== ==

Vick, Kalo isu temporal, antara drilling dengan Lusi juga temporal kenapa musti yang itu terkait yang ini tidak ?

Friend, isu drilling menyebabkan underground blow out ini bukan temporal … tetapi kausal. Namun jelas juga bukan semata-mata menyatakan drilling membuat Mud Volkano. Karena harus ada causal relation yang “HARUS” mampu dijelaskan secara scientifik. Artinya harus ada pengukuran fisis-nya.

Itulah sebabnya saya bisa langsung bilang kalau menghubungkan gempa dengan Lusi ini “jauh panggang dari api”. Karena secara fisis ngga mathuk. Dari itung-itungan maupun pengamatan.

Pertama-tama harus dikontraskan, biar jelas duduk perkaranya.
Membandingkan blowout dan mud volcano adalah bagaikan membandingkan jerawat dengan bisul. Bentuknya mirip tapi dimensinya beda satu kecil local, satu lagi besar, regional.

Size of disaster ini untuk pada saat awal, masih bisa dikorelasikan. Yaitu ketika flowrate-nya sangat kecil pada hari-hari pertama itu. Jelas bukan untuk kondisi saat ini.
Menurut aku analoginya lebih pas kalau bisul yang menjadi infeksi ketimbang ukuran bisul dengan jerawat. Infeksi saat ini barangkali lebih tepat kalau sudah mengarah kanker bisa saja karena salah urus atau karena ketiadaan obatnya.

1. Dalam MV yang bergerak adalah shale yang bertekanan lebih dari sekelilingnya, overpressure, jadi SEAL ROCK yang plastis, mengalir. Sedangkan dalam BO yang bergerak adalah fluida dari RESERVOIR. Dalam kasus Lusi ini, menurut akmanov ada yang khusus lagi, sebagai suatu peristiwa diapir, terjadi pembebasan air pada reaksi ilitisasi pada lapisan-lapisan shale yang kaya dengan smectite. Ini yang mengecoh kita, karena dengan serta merta kita simpulkan bahwa air dari Kujung, padahal itu bukan satu-satunya kemungkinan. Lagi pula, kalo ada koran yang mengkamapnyekan ini mud diapir ngejowantah, siapa yang mau beli korannya ?

lusi-lahir-1.pngPada saat hari-hari pertama, mungkin bisa dilihat data-data airnya. Apakah ada kemiripan atau tidak antara air-air yang diukur atau dikaji di Kujung di Sumur Porong-1 dengan air yang di BPJ. Ini sebagai pembuktian fisis dari mana kemungkinan air pada hari-hari awal itu. Sekali lagi Friend, kita ini dihadapkan kondisi dinamik yang mestinya telah berkembang. Akan berbeda ketika dibandingkan kondisi awal terjadi dengan kondisi saat ini.

lusi-lahir-2.pngItulah sebabnya sayapun akhirnya menyatakan dan berkali-kali menjelaskan ke media bahwa yang keluar itu BUKAN LUMPUR PEMBORAN. Ini setelah sebulan. Lah wong lumpur-pemborannya ya sudah pasti sudah habis muncrat keluar hanya sampai pada hari ketiga atau mungkin maksimum hingga minggu pertama (spekulatif saja, harusnya bisa dihitung dengan math volumenya).

lusi-lahir-3.pngJadi spekulasinya adalah … underground blow-out (UGBO) terjadi akibat pengeboran (ini yang dikemukakan oleh ADB sejak awal kejadian). UGBO inilah yang membuat jalan sehingga ada perpindahan tekanan dari bawah ke atas. Dari reservoir Kujung ke atas … skali lagi Friend, ini hanya awalnya.

2. Volume yang terlibat juga beda, kalo BO setelah tekanan reservoir stabil dan sama dengan lingkungannya, berhenti lah dia. Awal-awal kasus Lusi dulu, kita secara internal juga perhitungkan, kalo ini memang benar dari Kujung, paling lama 100 hari harus sudah kembes, ini terkait dengan volume reservoir yang kita petakan, dengan asumsi porositas batupasir saja biar mudah, meski pun kasusnya batugamping, pokoknya dibikin maximum case. Nyatanya malah makin besar, makin besar. Jadi dari mana air itu datangnya ?

lusi-lahir-4.pngKalau saja kita benar bawah Kujung awalnya menyebabkan .
Itulah kalau saja tidak ada “domino effect”. Maksudku domino effect terhadap energy potensial dibawah yang berupa energy hydrothermal –> Geothermal.
Kalau melihat resentasinya Pak Lambok, ada kemungkinan sistem airnya adalah sistem terbuka. Jadi ada incharge dan discharge .. lagi-lagi ini perlu pembuktian seperti yg beliau usulkan dengan analisa airnya yang belum dilakukan hingga waktu itu.

3. Blow out berdimensi well, paling banter field, energi yang bekerja juga hanya tidak se-durable MV. Sudah biasa kita planning berapa jumlah wells untuk menguras 60 juta barel fluida. Kalo kita recomendasikan cukup satu well dengan produksi 1 juta barel per hari, pasti langsung dipecat tanpa pesangon. Record Blow out di indonesia paling lama umurnya berapa lama ? satu minggu ? satu bulan ? Aku masih cari info baram delta brunei. Kalo bledug kuwu dari jaman ajisaka sampai sekarang masih aktif meskipun sudah sangat berkurang.

domino.pngKalau tidak ada “domino effect“, sangat mungkin akan mati seperti dugaan anda, Friend. Dan aku yakin dalam beberapa hari atau bulan juga akan berhenti apalagi dengan flowrates segitu, pasti cepet habis. “Trigger” dan “main couse” ini yang harus dibedah dengan benar Friend. Karena bukan berpikir ngebor menyebabkan MV, tapi drilling menyebabkan Underground Blow Out (UGBO), UGBO membuka jalan untuk MV…. kemudian MV berkembang menjadi Hydrothermal.

4. Kalo mau jujur, mustinya Anda bikin plot juga rate sumur minyak seluruh dunia, untuk menandingi plot magnitude epicenter terhadap distance gempa lusi. Hasilnya pasti sama-sama gak masuk akal. Karena akal kita terlalu terbatas memahami seluruh persoalan.

Kalau ada datanya aku bersedia saja menampilkannya Friend. Makanya aku selalu berusaha menampilkan apa saja yang aku tahu. Sayangnya data aslinya saja tertutup. Aku minta data ke Lapindo jelas ngga bakalan dikasi, kan ?

Ketertutupan menimbulkan kecurigaan, yang akhirnya kalau tak terkontrol menjadi perseteruan dan berkepanjangan.

5. Dalam hal MV, dimensinya basin wide, karena yang bekerja adalah gaya tektonik regional, bisa jadi terjadi shortening basin jawa timur akibat gempa. Nah urusan gempa ini juga ada yang patut diluruskan. Gempa adalah energi mekanik yang ter-release akibat terjadi pematahan batuan. Sedangkan gaya yang bekerja sendiri kan tidak terbatas di titik epicenter, namun bahwa lempengan samudra Hindia bergerak 70 mm per tahun ke arah utara menabrak katakankah lempeng pulau jawa, daerah kerjanya seluruh pulau. Intensitas menjadi tidak penting dan tidak terlalu relevan dalam MV, seperti halnya dengan vulkanisme macam di Semeru. Sebaliknya, justru luas area yang telibat lah yang lebih menentukan.

Kalau anda menghubungkan dengan aktifitas Semeru, Aktifitas Tektonik dimana secara lokal bisa dijelaskan secara fisis aku rasa bisa saja dicoba. Kenapa tidak ?
Seperti yang aku buat hipotesaku bahwa tadinya ada beberapa potensi yang terkumpul menjadi satu. Aku tulis sepintas dalam dongeng tentang “second of disaster”. Bahwa kejadian awal bukan penyebab segalanya. Ada potensi-potensi yang terkumpul menjadi satu sehingga menimbulkan bencana besar.

Soal siapa yang bersalah … itu bukan tujuannya … menurutku looh !

earthquake trigger lusi ? 6. Gempa Yogya mungkin hanya satu tanda saja bahwa terjadi peningkatan aktivitas tektonik di pulau Jawa. Bisa terkait langsung dengan Lusi, bisa juga tidak. Muncul atau tidaknya semburan lumpur tergantung potensi masing-masing daerah. Bledug Kuwu dan Sangiran sudah habis lumpurnya, maka tidak muncrat lagi. Macam odol yg sudah habis, pagi hari mau gosok gigi, pencet sampai kentut ya tidak akan keluar odol lagi.

Kalau terkait langsung aku masih ragu Friend. Kalau terkait dengan hal lain dahulu, mungkin saja. Kenapa tidak ?
Tetapi menggunakan getaran gempa yang hanya III-IV MMI menimbulkan atau memunculkan kelahiran MV mnurutku terlalu buru-buru secara ilmiah.

7. Seismograf hanya mengukur gelombang permukaan, sedangkan selain itu ada yang lebih dahsyat lagi dalam hal energi, yaitu gelombang P yang merambat di bawah permukaan. Tapi sayang tidak ada seismograf yang diletakkan di dalam bumi sana, macam kita VSP/checkshot. Yang menarik sebenarnya adalah meskipun intensitasnya rendah, seluruh wilayah sekitar Malang-surabaya Mojokerto merasakan gempa, seperti yang dilaporkan USGS (pake data apa ya mereka ?. Dengan kata lain, berbeda dengan daerah lain (kecuali daerah Yogya yang memang terkena gempa langsung) di daerah Mojokerto, Malang Surabaya ini terbentuk “gema” atau resonansi gempa Yogya. Di permukaan memang rendah intensitasnya, karena umumnya ditutup lapisan lempung meredam, tapi di batuan keras di bawah permukaan sana, who knows, intensitas gempa bisa jadi lebih besar ?

Spekulasi bisa saja … tetapi yang penting kan pembuktiannya. Saya bisa menolak langsung hipotesa gempa menyebabkan lahirnya MV, dengan hitungan maupun pengukuran.

8. Tentang selang 2 hari antara gempa dengan muncratnya lumpur, data orang-orang dalam proyek bola berantai itu mungkin bisa membantu. Merekabisa hitung waktu tempuh lumpur dari kedalaman 3000 ft ke permukaan, apakah 2 hari juga atau 2 jam. Kita tunggu saja report mereka.

Ya HDCB ini merupakan satu hal yang membuat aku sangat-sangat penasaran. Apalagi katanya dimasukkan probe (pengukuran) walaupun aku ndak tahu bagaimana cara membaca atau mengirimkan sinyal pembacaraannya.
Tapi sekali lagi Friend, aku ini jauh dari data otentik. Sehingga data yang keluar lewat Media yang mampu saya pakai untuk menganalisa (lebih tepatnya untuk berspekulasi).

Skali lagi … ketertutupan mengundang kecurigaan.

9. Semestinya kita mengelompokkan Lusi itu dengan Semeru, atau aktivitas kawah Bromo, gunung Penanggungan, dan lain-lain tectonic driven activities di wilayah itu, bukan dengan drilling BJP-01, karena beda level. Ini lah relevansi yang mendasari emailku tentang foto aktivitas semeru tadi.Selama ini semua orang keracunan informasi drilling driven disaster, akibatnya solusi yang terpikir adalah penampungan lumpur, relief wells. Asumsi dasarnya adalah BO yang berdimensi terbatas, umur yang hanya hitungan hari dan tidak akan berlarut-larut. Saat dulu ada yang bilang “mungkin tidak bisa dihentikan” gak ada yang percaya.

Coba saja bikin hipotesa baru tentang hal ini Friend. Siapa tahu ada manfaatnya. Menurut perkiraanku, dari pada “membakar dari Jogja yang lebih dari 200 Km, lebih mateng kalao membakar dari Gunung Penanggungan yang kurang dari 50 Km, atau Gunung Semeru”

10. Manifestasi aktivitas tektonik volkanik sangat macam-macam, terkait dengan gejala-gejala magmatik hingga geotermal, misalnya perubahan suhu air di mata-air, muncratnya air lumpur di Tangerang, Ciputat, atau di belakang gedung arsip nasional, semburan lumpur di Blora, dan banyak lagi. Namun kita semua mengabaikan, otak tidak mampu memahami.

Bener friend, semua gejala ini pernah ada sebelumnya, seperti yang aku tulis bahwa bekas-bekas bisul dan koreng nampak dikiri kanan kita. Hanya saja apa yang menyebabkan bisul ini meletus yang sering menjadi tanda tanya dan perdebatan.
Saya yakin tidak 100% drilling penyebabnya. Hanya saja aku lebih yakin ada porsi tertentu atau trigger mechanism karena UGBO. UGBO merupakan gejala wajar didunia drilling, hanya saja tidak ada domino effect dari ugbo-ugbo sebelum ini

11. <<gema-gempa-yogya.ppt>> Saking awamnya kita dengan MV ini, sampai-sampai di kompleks mud volcano Gununganyar dekat bandara Juanda Surabaya, orang bikin rumah tepat di atas lubang kawah MV yang sudah mati. Waktu kita tanya apa gak pernah ada yang aneh selama ini, dia jawab memang kadang-kadang di lantai keramiknya suka keluar cairan. Waktu gempa aceh dulu, dari lantai rumahnya menyembur lumpur sampai ke langit-langit rumah.
Dan itu dalam hitungan jam saja, mungkin gelombang P yang bicara di kasus itu. Namun sekali lagi, orang tidak peduli. Coba diplot jarak gempa aceh surabaya dan intensitasnya, jatuhnya di mana ? Dinas geologi jatim juga tidak pernah kasih penyuluhan.

bisul-bisul-jawatimur.png

Aku juga jadi inget ketika aku masih kuliah sodarakupun yang tinggal di Sidoarjo pernah bertanya-tanya tentang adanya semburan disawah yang katanya bau sekali seperti jumbleng (kakus). Wektu itu aku ya ndak tau pa yg terjadi.

Ngga ada yg konsen sebelum ada kejadian Lusi ini.

Kalau aku lihat di peta distribusi intensitas gempa terlihat bahwa intensitas di sekitar ini hanya III-IV yang terlalu kecil atau terlalu lemah untuk membuat liquifaksi. Ini mungkin rasanya seperti ada Truk Semen lewat dekat rumah pas kita duduk, akan sangat terasa sekali. Tetapi kalau terjadinya gempa Jogja dipakai untuk penyebab atau bahkan melahirkan MV, aku ragu-ragu akan hal ini.

12 COMMENTS

  1. Yang perlu diketahui tekanan itu tidak tergantung dari sumber. Selain berjauhan antara keduanya juga tidak dalam satu pressure zone yang sama.

    Tekanan yang ada di Bledug kuwu “saat ini” mungkin hanya tekanan sisa-sisa dari tekanan utamanya pada masa lampau. Tidak (belum) diketahui kapan terjadinya Bledug kuwu ini. Namun kalau melihat strutur batuan atau geologinya tentunya terjadi pada masa kwarter atau sangat mungkin lebih muda dari 200 rb tahun. atau bisa juga ratusan tahun yang lalu. Belum pernah ada yg melakukan penelitian pentarihannya.

  2. Sorry Om kalau memang lumpurnya dari satu sumber kenapa tekanannya berbeda antara di bledukuwu ama lusi???
    kalau bleduk uwu historysnya n kapan terjadnya? mohon pencerahannya om

  3. ass om rovicky
    Om rov, bantuin aku dunk buat bikin analisa “Apa yang terjadi dengan sidoarjo” dari awal ampe sekarang2 ini, hatur nuhun nya…diantos pisan info na:D

  4. Kalau aku baca, spertinya Pakdhe cenderung menyatakan semburan akibat dari pengeboran. Walaupun itu tidak dianggap sebagai penyebab langsung tetapi melalui proses domino epek gitu ya dhe ?
    Kalau ada kebakaran di pompa bensin yang salah yang punya bensin apa yang nyalain korek sih dhe ?

  5. Pak dhe ,kalau begitu sejak awal sudah tahu semburan berasal/akibat pengeboran ya pak dhe?
    Lha ,sekarang pak dhe,kalau pemompaan lumpur dari atas kan dibantu oleh gravitasi, jadi lumpur dapat menembus celah-celah yang sempit . Sedang kalau pemompaan oleh “mesin pompa alam” entah apa bentuknya dibawah sana kan melawan gravitasi,jadi kalau cuma gas yang keluar tekanannya tetap tinggi sampai diatas, tetapi bila yang keluar lumpur, makin tinggi kolom lumpurnya kan makin kecil sisa tekanannya dalam bentuk “residual pore pressure”
    Padahal sisa tekanan inilah sebetulnya yang berperan mencari jalan kepermukaan sebagai semburan baru, bukan “mesin pembangkit tekanan yang ada dikedalaman 3000 m.
    Satu lagi pak dhe, kalau sudah 9 bulan lebih celah -celah itu berisi lumpur yang berhenti/mengendap, mereka tentunya akan menutup celah itu dengan sendirinya,seperti proses orang menyuntik beton bangunan yang retak rambut, atau proses grouting pada bangunan pengairan yang bocor.
    Gimana pak dhe kira-kira …..

  6. –> Om Papang
    Ketakutan atau kekhawatiran munculnya semburan baru juga bukan tanpa alasan. Kalau Ompapang melihat kronologi munculnya semburan baru dahulu, itu terjadi bersamaan dengan proses pengeboran “relief well”. Dan konon menurut salah seorang kawan, yang keluar dari semburan baru ini adalah lumpur pemboran. Artinya batuan dasar disekitar semburan situ sudah retak-retak dan pecah-pecah. sehingga setiap dipombakan lumpur untuk membantu proses pengeboran menjadi sulit, dan bahkan seolah menjadi tidak bisa dibor atau undrillable
    Pasca amblesan awal dahulu itu, kondisi bawah sana sudah tidak seperti saat sebelum terjadinya kasus ini. Retakan sudah kemana-mana, sehingga ada saluran yang menyebabkan lumpur pemboran menyembur keluar kalau dipompakan.

  7. Pak dhe Rovicky, seperti berita yang pak Robert VDR bilang lumpur berhenti 35 menit,35 menit berhenti bukan waktu yang singkat lho. Bila sempat berhenti 20 menit saja, kalau memang punya tekanan yang cukup mesti sudah muncul semburan baru ditempat lain.Nyatanya tidak terjadi semburan baru ditempat lain. Walaupun saya bukan ahli geologi,hanya pakai ngelmu titen, saya dalam beberapa kesempatan pernah menulis diblog asuhan pak dhe, bahwa kita tak usah takut akan muncul semburan baru jika lubang semburan tersumbat atau disumbat termasuk bila terjadi saat pemasukan HDCB atau sebagai akibat bila dibuat pond susun ciptaan pak Syahraz. Sebab menurut hukum Pascal yang mengatakan tekanan pada fluida akan diteruskan kesegala arah, maka bila tekanan MEMANG mampu menembus beberapa lubang, harusnya sejak awal sudah terjadi banyak semburan lumpur.Nyatanya kan hanya satu yang besar. Jadi apabila celah lain tidak tertembus itu berarti karena mempunyai restriksi yang sangat besar. ( Kalau dalam listrik punya R ( Resistansi ) yang besar ) Walaupun tekanan itu berasal dari proses geothermal, karena sudah dilawan berat tinggi kolom lumpur 3000 meter, tekanan tersisa sebetulnya relatip kecil yang tidak mampu menembus restriksi celah-celah yang ada.Jadi yang keluar hanyalah bubble. Percaya atau tidak,nanti kalau HDCB sudah mampu menyumbat 100 % ( butuh waktu ), keyakinan saya ini dapat terbukti salah atau benarnya. Jadi tunggu HDCB sampai rampung. (ctt: Saya termasuk yang tidak menolak HDCB lho pak Dhe, tapi tetap saya kritisi ! ) Salam !

  8. Pak Dhe, hari ini senin 19-03-07, ….si Lusi sempat berhenti menyembur selama 35 menit (detik info),….dan sekarang semburannya agak kecil,……tak tunggu kajian ilmiahnya dari Sampeyan dan dari para pakar geologi,……semoga dalam waktu dekat memang berhenti menyembur,….Amien

    Salam

Leave a Reply