Prof Dr R.P. Koesoemadinata : SURAT TERBUKA KEPADA KETUA UMUM IAGI

34

Slide paling sering terlihat pada simposium ituSelain catatanku sebelumnya, berikut ini sebuah catatan lain dari Prof Dr RP Koesoemadinata (mantan Ketua IAGI 1973-1975) pada International Geological Workshop on Sidoarjo Mud Volcano yang diselenggarakan IAGI bekerjasama dengan BPPT, Badan Geologi dan LIPI, tanggal 20-21 February 2007 lalu.

– 🙁 “Pak Dhe, Mbah Koesoema marah ya ?”
+
😉 ” Hush, apaan sih kamu ! Diem Ah !
– 🙁 “Wah ternyata yang nggrundel dari workshop kemarin itu ngga cuman Pakdhe saja, ya”

Pak Koeseoema mengirimkan dalam bentuk surat terbuka yang dikirimkan ke mailist IAGI-net

simposium-lusi.JPGSURAT TERBUKA KEPADA KETUA UMUM IAGI (1)

Sdr. Ketua Yang Terhormat.

Pertama-tama saya ucapkan selamat kepada Sdr. atas terselenggaranya International Geological Workshop on the Sidoarjo Mud Volcano tgl 20-21 Februari 2007 di Jakarta, dan saya ucapkan terima kasih atas undangan untuk ikut hadlir yang telah saya terima dengan baik.

Namun dengan berat hati dan rasa sangat prihatin saya menulis surat terbuka ini kepada Sdr. Di satu pihak saya salut bahwa IAGI dapat menyelenggarakannya bekerja sama dengan BPPT, Badan Geologi serta LIPI dengan mendatangkannya para pakar gunung api lumpur dari luar-negeri yang sangat terpilih, tetapi di lain pihak saya merasa kecewa dan sangat prihatin dengan perumusan akhir dari hasil-hasil workshop selama 2 hari ini saya terus mengikutinya.

Di antara para pembicara secara menyolok tidak ada kehadliran Sdr. Dr. Ir. Rudy Rumbiandini, ketua dari Tim Investigasi yang segera ditunjuk oleh enteri ESDM, begitu kejadian Lumpur Sidoarjo terjadi. Selain itu saya catat ada seorang ilmiawan yang cukup penting yang telah menulis dalam suatu journal ilmiah terkemuka GSA Today yang “referreed” (yang diterbitkan the Geological Society of America), yaitu Richard Davies dari Inggris yang tidak termasuk dalam pembicara. Kami dengar yang bersangkutan memang tidak diundang, tetapi yang bersangkutan ternyata hadlir. Apakah karena takut dia mempunyai bukti-bukti dan analisa yang kuat sehingga berkesimpulan bahwa gunung api lumpur itu kemungkinan besar disebabkan karena kelalaian pemboran Banjar Panji-1? Sebagai suatu perkumpulan profesi seperti IAGI ini justru orang ini harus diberi kesempatan berbicara mengenai hasil penelitiannya, sehingga kita bisa meng’interogasi’ dia atas keabsahan dan keakuratan dari data yang dia gunakan, serta validitas dari analisanya. Yang bersangkutan datang dalam waktu hanya dalam waktu 2 hari setelah diberi tahu oleh rekannya yang ada di Indonesia. Saya dapat memahami alasan apapun yang diberikan panitya seperti keterbatasan waktu, masalah komunikasi atau bahkan mungkin pula yang bersangkutan menolak untuk berbicara. Itu saya dapat fahami, namun saya tetapi sangat menyayangkannya.

Ketua tim perumus pada pembacaan kesimpulan dari workshop ini praktis hanya mengemukakan pendapatnya sendiri yang didukung oleh data-datanya sendiri, dan hanya menyebut sekilasn butir-butir utama yang hanya mendukung pendapatnya serta seolah-olah sudah ada kesepakatan bahwa terjadinya gunung api lumpur di Sidoarjo ini semata-mata murni bencana alam yang disebabkan rekahan yang dipicu gempa bumi di Jogyakarta dan tidak ada hubungannya dengan pemboran Banjar Panji-1.

Mungkin sebaiknya perumus itu menjadi salah seorang pembicara, mengingat yang bersangkutan mempunyai pendapatnya sendiri, serta kepakarannya, pengetahuannya yang luas dan mungkin sekali mempunyai akses pada data-data geologi dan geofisika di sekitar Sidoarjo ini, dan Tim Perumus diserahkan kepada orang lain.

Saya sangat fahami bahwa ada kepentingan nasional (saya tidak mengatakan kepentingan politk) dalam penyelenggaraan International workshop ini, tetapi mengapa kita tidak dapat lebih bijaksana, elegant, atau diplomatis dalam mengambil kesimpulan ini tanpa harus mengorbankan nilai kebenaran dan kaidah ilmiah?

Kalau kita simak bagaimana bijaksananya para ilmiawan Jepang dalam mengemukakan pendapatnya untuk tidak mengecewakan tuan rumah tetapi juga tidak mengorbankan kebenaran ilmiah. Prof. Mori memperlihatkan secara tegas adanya hubungan antara gempa bumi dengan aktifivitas gunung api lumpur dengan mengeplot magnitude dari gempa bumi serta jarak antara epicentum dengan gunungapi lumpur yang diaktifkan, antara lain gempa Aceh yang menyebabkan gunung api lumpur di pulau Andaman. Pada slide yang ditampilkan, posisi Lusi pada grafik ini mula-mula tidak ditampilkan, tapi ‘oops’ sekilas ia tampilkan yang ternyata berada jauh diluar garis mencerminkan bahwa Lusi terlalu jauh dari epicentrum gempa Jogya untuk dapat menimbulkan aktivitas gunung api lumpur. Penampilan sekilas ini cukup untuk para wartawan yang jeli sehingga besok harinya muncul berita di koran2, a.l. Kompas yang memberitakan bahwa Prof Mori dari Jepang menyatakan tidak ada hubungan gempa Jogya dengan penyemburan lumpur Sidoarjo, dan bahwa hal ini melulu disebabkan kelalaian pemboran. Bahwasanya dia menyangkal pernyataan ini keesokan harinya di depan wartawan bisa sangat difahami, karena beliau memang tidak pernah mengatakan bahwa Lusi adalah disebabkan pemboran. Di dalam abstrak yang sudah dibagikan dia hanya menyatakan bahwa masalah peneyebab Lusi oleh pemboran adalah sangat menarik. Kemudian dia mempaparkan efek dari gempa terhadap turun naiknya sumber air panas (hotsprings) walaupun berada pada jarak ribuan kilometer dari episentra.

earthquake trigger lusi ?Prof. Kumai juga sangat menarik dalam pembicaraan mengenai hubungan gempabumi dan mud volcano, dengan judul makalahnya yang tegas Earthquake as a major casue of the Lusi mudvolcano. Namun dalam pembahasannya dia lebih berkutik pada efek gempa di Osaka City terhadap turun-naiknya air tanah di sekitar daerah itu, dan dalam hal Lusi ia hanya mengatakan bahwa sumber air dari Lusi itu suatu kedalaman besar, mungkin berasal dari volkanisme atau granit yang tua. Sama sekali tidak menjelaskan bagaimana gempa telah menyebabkan terjadinya rekahan/ fault sehingga air panas itu muncul ke permukaan sebagai mud volcano

Yang sangat mengesankan adalah pembahasan dari Dr. Danny Hilman Natawidjaja dari LIPI , seorang pakar yang sangat berperan dalam penelitian gempa di ceh. Beliau terus terang bahwa waktu dihubungi dia berpendapat secara tegas tidak ada hubungan antara gempa Jogya dengan terbentuknya Lusi, namun setelah diskusi dengan Prof Kumai entah apa yang diskusikannya), dia katakan ‘oh kalau begitu mungkin’. Namun dia kemudian mempertanyakan mengapa pada waktu terjadi gempa sebelumnya yang dirasakan di daerah Pasuruan-Sidoarjo dengan intensitas VIII pada sekala MMI tidak menghasilkan gunung api lumpur sedangkan gempa Jogya yang di Sidoarjo dengan intensitas II-III MMI menyebabkan Lusi.

Juga tidak kalah menarik adalah pembahasan dari Dr. Wahyu Triyoso seorang seimologist dari ITB. Dia menyatakan bahwa gempabumi mempunyai efek terhadap reservoir (minyak?) yang dapat merubah karakteristik reservoir, a.l. rheology, permeabilitas bahkan pressure gradient. Kita jangan hanya lihat gempa Jogya yang pertama saja tetapi juga aftershocks yang bertubi-tubi, dan ini yang akan meningkatkan tekanan serta produktivitasnya. Ide ini tentu sudah kita ketahui, dan teknologi meningkatkan produksi dengan vibroseis yang dipromosikan perusahaan Rusia pernah dicoba di lapangan Sumatra Tengah oleh Chevron (Caltex) dengan hasil yang tidak konklusif. Yang menarik adalah bahwa dalam diagram yang ditampilkan dia perlihatkan adanya reservoir (Kujung?) dengan saluran vertikal ke permukaan (lubang bor BP-1?), dan dijelaskan bagaimana peningkatan tekanan dalam reservoir dapat menimbulkan penyemburan lumpur ke permukaan. Jadi dia sama sekali tidak menyatakan bahwa gempa Jogya telah mengaktifkan suatu patahan (rekahan) yang menyemburkan lumpur ke permukaan, tetapi hanya meningkatkan tekanan pada reservoir!
(bersambung)

Bag 2

Di lain pihak yang sangat menarik adalah telah terungkapnya pula data pemboran yang pada waktu sebelumnya (terutama pada permulaan erupsi Lusi) tidak pernah muncul pada laporan pemboran, yaitu yaitu bahwa 10 menit setelah terjadinya gempa di Jogya, terjadi ‘partial loss’ dari lumpur pemboran yang teramati pada mud pit. Hal yang sama diungkapkan pula oleh Dr. Doddy Nawangsidi, tetapi waktunya adalah 70 menit sesudah gempa (mungkin Pak Doddy ini keliru membaca 1 sebagai 7). Ini data yang sangat menarik karena sebelum data ini belum pernah dilaporkan dan menunggu 7 bulan untuk terungkap. Di lain pihak Dr. Nawangsidi ini menunjukkan secara kwantitafi dengan menggunakan rumus reservoir (Darcy) dengan parameter2 yang diasumsikan bagaimana tidak mungkinnya laju (rate of production) jumlah air sebegitu besar (100 sampai 160 juta meter kubik per hari?) dari satu lubang sumur yang menembus Kujung hanya 15 kaki saja.. Analisa ini tentu merupakan pukulan, paling tidak renungan, bagi mereka yang berpendapat bahwa gunung api lumpur ini bersumber dari air bertekanan tinggi dari reservoir terumbu Kujung yang telah ditembus sumur BP-1, walaupun tentu orang dapat mempertanyakan data serta parameter yang diasumsikannya, serta adanya tambahan sumber air panas lainnya yang ikut terpicu dengan underground blow-out dari Kujung ini.

Mengenai stratigrafi lubang bor Dr. Adi Kadar dkk mengakui telah mereview serta menganalisa ulang data biostratigrafi dan disimpulkan bahwa seluruh lapisan batuan yang ditembus Banjar Panji hanyalah berumur Pleistocene yang menimbulkan kesan bahwa Formasi Kujung tidak tersentuh oleh sumur bor ini. Juga telah ditekankan keberadaan diapirism dalam selang overpressured shale, yang banyak menganggap sebagai sumber lumpur.

Mengenai sumber air ini masih juga ada yang berpendapat bahwa lumpur ini berasal dari overpressured shale yang diyakini semua orang keberadaannya jauh di atas formasi Kujung, namun berdasarkan analisa penampang seismic dibantah oleh Dr. Alam sebagai mud diapir. Dr. Adriano Mazzini dari Oslo University masih berpandangan bahwa sumber lumpur ini adalah dari overpressured shale ini, tetapi ketika ditanyakan oleh Richard Davies bagaimana begitu banyak air dapat dihasilkan dari overpressured shale ini, mengingat shale adalah impermeable, yang bersangkutan menghindar untuk menjawabnya dengan dalih pertanyaannya tidak jelas. Namun suatu hal penting yang dikemukakannya adalah bahwa cekungan Jawa Timur adalah matang (ripe) atau rawan terjadinya gunung api lumpur dibuktikan dengan adanya overpressured shales dan banyaknya gunung api lumpur, tanpa pemboran (atau gempa) pun gunungapi lumpur dapat terjadi sewaktu-waktu. Mengenai kayanya cekungan Jawa Timur Utara juga telah dibahas oleh Dr. Djajang Sukarna, Kepala Badan Geologi, dalam keynote speech nya

Yang menarik adalah makalah dari Dr. Gregorii Akhmanov dari Moscow University yang membahas mud volcanism di Elean Basins yang, dengan tidak mengenyampingkan jenis gunungapi lumpur di daerah lain seperti shale diapirism, menyatakan bahwa pembentukan mudvolcano di Elean basins adalah oleh hydro-fracturing. Hydro-fracturing adalah proses terjadinya LUSI yang dianut oleh mereka yang meyakini bahwa bahwa air dari Fm Kujung sebagai penyebab semburan lumpur LUSI. Saya catat bahwa tidak ada makalah yang membahas berbagai jenis atau klasifikasi mudvolcano, sedangkan menurut hemat saya gunungapi lumpur itu ada berbagai jenis dengan yang disebabkan shale diapirism di satu ujung (end member), biasanya merupakan lumpur kental dan membentuk keruncut yang terjal, dan jenis mud spring di ujung lain, yang sangat encer (kadar air yang sangat tinggi) dan nyaris tidak membentuk
kerucut atau kerucut yang sangat landai. Saya menganggap LUSI ini lebih sebagai jenis mud spring.

Walaupun makalah-makalah pada umumnya membahas asal gunungapi lumpur disebabkan air yang bertekanan tinggi, yang boleh jadi disebabkan gempa, namun gunungapi Lusi disimpulkan selain terjadi secara alamiah juga disebabklan karena rekahan dan aktivitas tektonik yang diakibatkan oleh gempa bumi Jogya. Namun anehnya pada seluruh persidangan ini tidak satupun ada makalah yang membahas tektonik serta sistim sesar dari daerah Sidoarjo, bahkan peta geologi yang menunjukkan patahanpun nyaris tidak ada kecuali peta sesar Watukosek dengan satu garis saja yang menghubungkan Watukosek dengan Lusi dan G. Anyar dengan arah NNE-SSW.dan sesar-sesar amblasan yang berarahkan WSW-ENE yang menghubungkan semburan-semburan lumpur yang sekarang sudah tidak aktif lagi. Apa lagi pembahasan bagaimana mekanisme gempa bumi Jogya dapat mengakibatkan sesar (rekahan) itu sama sekali tidak ada. Inilah yang dikeluhkan Dr. Benyamin Sapiie dari ITB pada komentar yang diberikannya sesaat sebelum rumusan akhir dari hasil workshop ini dibacakan. Beliau menyatakan betapa pentingnya kita menganalisa tegangan-tegangan tektonik yang aktif di daerah Sidoarjo ini untuk menentukan critical stresses yang didapatkan, namun pembahasan ini tidak ada sama sekali.

Sdr. Ketua yang terhormat.

Saya sangat prihatin dengan hasil dari workshop yang disebutkan sebagai bertaraf internasional ini. Rumusan yang diberikan banyak tidak relevant dengan apa yang dibahas, bahkan cenderung bertolak belakang. Ini sangat menyedihkan, orang awampun akan bertanya-tanya apakah kesimpulan dari workshop ini sudah ditentukan sebelumnya demi kepentingan nasional? Komentar di masyarakat ilmiah di luar negeri pun sudah bermunculan.

Sampai di mana kebenaran pengamatan dan pendengaran saya ini selama mengikuti persidangan tentu akan ada yang meragukannya mengingat usia saya yang sudah lanjut ini. Untuk itu saya sudah meminta pada panitya supaya bisa mendapatkan Power Point files dari presentasi masing-masing pembicara itu. Namun sayangnya panitiya hanya akan memberikannya sesudah dilakukan peng-edit-tan terlebih dulu (mengingat adanya data-data yang dianggap confidential oleh BP Migas).

Satu hal yang menarik adalah Workshop ini tidak memberikan rekomendasi mengenai langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk menanggulangi masalah ini, atau kapan . Padahal inilah yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Masyarakat tidak terlalu peduli mengenai apa penyebab gunungapi lumpur ini, walaupun mereka cenderung untuk menyalahkan pemboran. Yang berkepentingan dalam apa penyebab dari gejala ini adalah dalam masalah soal siapa yang harus menanggung biaya penanggulangan bencana ini. Masyarakat hanya ingin mendengar bagaimana bencana lumpur ini dapat dihentikan. Tentu saja kita bisa berdalih bahwa untuk dapat menghentikan semburan lumpur itu kita harus tahu penyebabnya. Kalau panitya workshop ini berkeyakinan bahwa hasil workshop ini adalah LUSI murni gejala alam dan tidak dapat dihentikan dan tidak dapat diprediksikan kapan akan berhentiknya, maka satu-satunya rekomendasi yang bisa diberikan adalah mengevakuasi (mengosongkan) daerah yang dipengaruhi LUSI, khususnya daerah yang bakal amblas, membangun tanggul sekitarnya serta mengalirkan airnya dengan saluran bertanggul ke laut, sedangkan lumpur padatnya secara alamiah dapat ditinggalkan di daerah amblasan, bahkan mudah-mudahan dapat mengkompensasi amblasannya sendiri. Saya lihat ada lebih dari 1 makalah (a.l. dari Dr. Ir. Prihadi Sumintapura dari ITB) para pakar kita telah mampu melakukan deliniasinya. Saya sadar bahwa pernyataan demikian mungkin mempunyai dampak yang luas bagi masyarakat, tetapi saya kira itu satu-satunya rekomendasi yang dapat diberikan kalau panitia perumus menganggap penyebab ini gejala alam yang tidak dapat dihentikan atau tidak dapat diprediksi kapan berhentinya..

(bersambung Bag 3)

Saya berpendapat bahwa untuk menguak kebenaran penyebab semburan lumpur Sidoarjo ini tidak dapat diselesaikan dengan suatu workshop dengan menghasilkan suatu kesepakatan pendapat atau kompromi sebagaimana dilakukan dalam masalah sosial politik. Kontroversi akan berjalan terus, dan ini adalah biasa saja dalam geosciences, bahkan kadang-kadang menyangkut hal-hal yang prinsipiil (simak buku: “Controversies in Modern Geology” eds: D.W. Mueller et al, 1991, Academic Press). Adakalanya suatu masalah dapat diselesaikan secara tuntas, tetapi memakan waktu bertahun-tahun dengan biaya yang sangat besar. Contohnya saja untuk menentukan apakah tsunami di Samudra Hindia yang dipicu oleh gempa Aceh itu disebabkan longsor bawah laut atau karena terjadinya sesar yang aktif itu memakan waktu lebih dari 2 tahun dengan mengerahkan suatu kapal penelitian (research vessel) berbulan-bulan di daerah perairan laut sebelah barat Aceh dan melibatkan puluhan geoscientists dan engineers, dan tentu memakan biaya puluhan juta USD. Dari situ diketahui ‘the smoking gun’ berupa adanya gawir sepanjang puluhan kilometer yang naik pada waktu yang sangat resen. Ini adalah murni demi science karena tidak mempunyai dampak apapun pada masyarakat. Apakah kita dapat mengumpulkan dana sebesar itu?

Untuk menentukan ‘the smoking gun’ dalam masalah LUSI dan sekali gus menghentikan semburan mungkin satu-satunya adalah dengan melakukan pemboran relief well yang langsung ditujukan kepada lubang bor pas di atas top Kujung atau gejala apapun yang telah menyebabkan loss & kick, dengan hypothesa kerja bahwa penyebab semburan lumpur itu adalah air dari Kujung atau reservoir apapun. Mengenai kemampuan teknik pemboran untuk melakukan itu dan mampu mem-pint-point’ tepat pada lubang bor di kedalaman 9000 kaki dan dari jarak mungkin lebih dari 500 m (di luar daerah amblasan) saya tidak akan berkomentar karena itu merupakan kompentensi dari pakar teknik pemboran.

Kalau usaha ini berhasil menyetop semburan lumpur, maka hipotesa kerja terbukti dan ‘the smoking gun’ diketemukan, namun jika tidak berhasil menghentikan, kontroversi tidak akan berakhir, karena orang bisa berargumentasi bahwa kekhilafan operasi pemboran hanya penyebab permulaan (initial cause) dari semburan lumpur dan selanjutkan memicu rekahan pada Formasi Kunjung sehingga menjadi liar. Untuk pembuktian hipotesa ini dengan relief well akan memakan biaya USD 50 juta. Mungkin instansi/ masyarakat ilmiah di luar negeri mau dan dapat menggalang dana sebesar itu untuk membuktikan suatu hipotesa sebagai mana dilakukan pada masalah penyebab tsunami di Aceh?

Yang menyedihkan lagi adalah bahwa kemungkinan terjadinya perbedaan pendapat antara para anggota IAGI yang tidak lagi didasarkan atas kaidah-kaidah ilmiah, tetapi didasarkan pada kepentingan-kepentingan nongeologi. Bahwasanya seorang geologiawan akan memihak suatu pendapat yang dipengaruhi oleh lingkungan kerjanya itu adalah wajar saja dan bersifat manusiawi, tetapi jika lingkungan kerjanya itu sudah mempunyai kepentingan pendanaan, bisnis bahkan politik inilah yang sangat memprihatikan saya. Dalam renungan balik (hindsight) mungkin sebaiknya IAGI tidak melibatkan diri dalam suatu geological controversy kalau hal ini akan melibatkan kepenting-kepentingan tertentu. Tentu ini tidak sejalan dengan gagasan mantan Ketua Umum IAGI, Dr. Andang Bachtiar, yang ingin membumikan geologi untuk turut berperan-serta memecahkan persoalan aktual yang terjadi di masyarakat. Soal membumikan geologi adalah pandangan yang sangat baik, selama ini tidak menimbulkan konflik dengan kepentingan-kepentingan nongeologi. Biarlah konflik politik dan bisnis diselesaikan di pengadilan, walaupun menyangkut pendapat ilmiah/geologi.

IAGI pernah mempunyai masalah pelik di masa lalu, hanya 3 tahun setelah didirikan terjadi pergolakan kepentingan-kepentingan politik. Dengan sangat bijaksana Bp,. Soetaryo Sigit, salah seorang pendiri dari IAGI, segera menidurkan IAGI sampai tahun 1972, pada waktu mana saya ditugaskan untuk membangkitkannya lagi dan diberi kepercayaan dan kehormatan untuk mengemban jabatan Ketua dari tahun 1973 sampai tahun 1975. Dalam perjalanan sampai di abad ke 21 ini IAGI memang sudah berkembang sangat pesatnya dan mau tidak mau harus terlibat dalam pendanaan, fasilitas dan bahkan bisnis, serta juga melibatkan diri untuk kepentingan nasional. Mungkin saja pemikiran saya ini sudah usang dan ketinggalan zaman, namun demikian saya tetap prihatin dengan perkembangan dewasa ini.

Sdr. Ketua yang Terhormat.

Sekali lagi dengan sangat berat dan menyesal sedalam-dalamnya saya melayangkan surat terbuka ini. Terus-terang saja saya telah merenung dan tidak dapat nyenyak tidur hampir satu minggu sebelum mengambil keputusan ini. Namun akhirnya saya merasa terpanggil untuk melakukan hal ini demi IAGI dan telah mempertimbangan konsekwensi apapun yang saya harus hadapi, sehingga saya dapat tidur nyenyak kembali. Jika surat terbuka ini tidak berkenan di hati Sdr., maka kami mohon maaf sebesar-besarnya.

Wassalam, Bandung, 25 Februari 2007
R.P.Koesoemadinata
Mantan Ketua IAGI 1973-1975
Anggota IAGI no. 0021

——

Gambar dibawah ini yang saya sitir dalam penulisan saya sebelumnya sejak tentang keraguan saya gempa penyebab mudflow ini Dibawah ini menunjukkan bahwa hanya gempa dengan intensitas diatas 6MMI yang mungkin menyebabkan terjadinya likuifaksi. Di Malang hanya tercatat 3 MMI sehingga sangat sulit membentuk likuifaksi.

gempa_mud_volc_eruption.jpg

sumber : http://eqinfo.ucsd.edu/~dkilb/mud.html

34 COMMENTS

  1. Maaf baru bisa bergabung sekarang, di Jawa Timur saya mengikuti seminar dan diskusi LUSI, meski nurani saya sebagai Geos mengatakan penyebabnya LUSI adalah human error, karena setelah gempa 27 mei 2006 saya mengecek sesar Brantas dan sesar Grindulu di Pacitan tidak ada perubahan. Tapi memang akibat gempa Jogja terjadi reaktivasi sesar Opak dan Prambanan – Bayat karena dekat.

    Dalam rekonstruksi imaginer saya, ada missing link yang diduga disembunyikan, karena dari data lesan teman ” Yang tau kejadian ” tidak seperti press release pemerintah atau IAGI. Prof. Kusuma, saya sangat berterimakasih missink link telah terbuka dengan surat terbuka anda, saya sangat kagum pada pendapat anda yang kukuh, ilmiah, jujur tanpa tendensi selain kebenaran.

    Sebagai salah satu “murid” anda waktu kuliah lapangan di Karangsambung Kebumen tahun 80-an ( gabung UGM dan ITB ), meski saya beda almamater dengan Bapak, tapi dari segi idealisme dan keilmuan kita sama, meski usia saya sekarang 50 tahun saya tetap akan berjuang di Jatim dengan teman-teman yang sepaham seperti Amien Widodo ITS untuk kebenaran yang bapak sampaikan.

  2. salut bwat bpk tntg bukunya geologi minyak dan gas bumi ,, gwe jdkn bekal memperbanyak imu tentang geologi minyak dan gas bumi ,, dalam kulyah,,

  3. wah makin seru nie pak dhe pmbahsan mengenai lusi,, aq bangga sama eyang koesoemadinata yang terus peduli dengan keada2n sekitar kita, beliau emang sosok orang yang harus kita teladani dan patut kita contoh.. semoga saja para pakar2 geologi bisa bersikap demikian… kita juga yang nantinya akan menjadi calon geolog wajib bersikap seperti beliau……. salam geologi!!!!!!

  4. Yth. Bapak Koesoemadinata,
    Saya ingin bertatap muka dengan Bapak, namun melalui e-mail Bapak yang diberikan oleh wartawan Jawa Pos yang menulis mengenai “Colorado Connection” ternyata alamat tersebut salah. Bila bapak berkenan mohon menulis kepada saya melalui yahoo.com yang dapat diperoleh melalui web site ini. Hal yang ingin saya sampaikan adalah soal data migas yang disimpan oleh kenalan baru saya (bapak B) yang nampaknya mengenai kandungan migas di Indonesia.
    Atas kesediaan Bapak saya mengucapkan diprbanyak terima kasih.
    Hormat saya,
    Pramono
    Pensiunan Migas

  5. Berbuat sosial dengan setulus hati lebih berhati mulia dari pada berpolitik demi kekuasaan.
    ya pak yaa……..

  6. Gimana yah….. Saya itu mau sperti itu (Bpk.RP.Koesumadinata), tapi karena kemampuan saya ndak ada gimana mau bantu.
    Tapi apapun ceritanya saya tetap mendukung bagaimana cara untuk mengatasi masalah ini.
    Geo_Medan 98

  7. hebatnya lagi kemaren (SIGI -SCTV, 25/03/07) seorang perwakilan dari PT. Lapindo Brantas (Lantas) mengatakan bahwa bantuan untuk korban di porong sidoarjo bukan karena Lantas mengaku “salah” dan sebagai bentuk pertanggungganjawab atau pengakuan dosanya tetapi katanya “SEBAGAI SOCIAL CORPORATE RESPONSIBILTY” sebagai bentuk amal jariyah dari Lantas…. (ehm, benar-benar pahlawan)

  8. Kalangan IAGI-HAGI beruntung punya orang sekaliber Bpk.Prof.Kusumadinata…..salut utk beliau…..bersama dgn DR. Untung mereka masih saja aktif mengikuti perkembangan dunia geologi dan keilmuan di Indonesia, mereka sudah sepuh2 usia sudah lanjut dan baru saja beberapa bln yll salah satu sesepuh Petrologi-Petrografi yi Bpk Rubini meninggalkan kita selamanya …..Pemikiran idealis dari para sesepuh kita seharusnya kita jalankan dalam perikehidupan kita, hendaknya organisasi profesi berbicara berdasarkan fakta yg ada dan kebenaran yg diyakininya, tidak berpolitik, tidak membiarkan kepentingan politik/pengusaha yg berduit menjadi panglima yang mengendalikan KEBENARAN dari data alam yg terkumpul dari kronologis peristiwa pengeboran sumur BP – Lapindo Brantas………Tulisan Pak Kusumadinata diatas….seharusnya menohok urat kemaluan para ilmuwan kebumian dan membuat kita semua harus merenung dan mengambil tindakan yg seharusnya berpihak pada Kebenaran Ilmiah…….IAGI-HAGI haruslah Independent …! tidak memihak siapapun, dia hanya memihak kpd Kebenaran dari proses, kesalahan dlm melakukan pekerjaan suatu hal yg biasa, berbeda pendapat dlm keilmuan adalah hal yg lumrah, tidak perlu takut salah…..dan seharusnya tidak perlu menutupi……krn pada dasarnya manusia itu pada fitrahnya, hati nuraninya selalu JUJUR……….Keprihatinan seorang pakar sekaliber Pak Kusumadinata haruslah kita tindak lanjuti………saya cuma mengingatkan bahwa hidup kita itu tidak lama……….dan kelak dikemudian hari akan diminta pertanggungjawaban oleh SANG MAHA PENCIPTA……….

  9. Prof Mori dari Jepang : “tidak ada hubungan gempa Jogya dengan penyemburan lumpur Sidoarjo, dan bahwa hal ini melulu disebabkan kelalaian pemboran”

    kalo itu benar…, koq untuk kerugian warga sidoajo, pemerintah ikut yang tanggung…

    asik juga jadi pengusaha…

  10. Salut Buat Pak Koesoemadinata,
    Salut juga buat ahli2 geologi yg
    independent non politik………………………………!!!

    Jaya geologi Indonesia..!!!!!!!!!!!

    Sebagai Ahli geologi, beri kesimpulan sesuai ahlinya bukan kesimpulan yg di rekayas untuk menutupi kesalahan seseorang……….!!!!!!!!!!!!!!!

  11. Tulisan bapak Koesoemadinata di atas merupakan satu bukti bagaimana kemampuan menulis yang baik dan santun dari satu orang saja dapat memberi pengaruh yang besar dan berjangka lama dibandingkan demo oleh sekelompok orang yang biasa kita temui di sini selama ini.

    Terus terang apakah materi yang beliau sampaikan adalah benar atau salah, secara profesi memang aku tidak paham, tetapi yang jelas aku jadi tahu bahwa “International Geological Workshop on Sidoarjo Mud Volcano yang diselenggarakan IAGI bekerjasama dengan BPPT, Badan Geologi dan LIPI, tanggal 20-21 February 2007 lalu” haslnya **diragukan*.

    Jadi kerja IAGI dan BPPT dalam satu sisi tertentu, sia-sia dan tidak menunjukkan sebagai suatu institusi ilmiah yang kredibel. Reputasinya jadi diragukan.

    Jadi kemampuan berkomunikasi secara tertulis dengan bantuan otak itu lebih dahyat dari sekedar otot atau teriak-teriak dengan suara keras.

    Kalau begitu …
    **belajar nulis lagi**

  12. Salam, bapak. saya tidak tahu mau katakan apa untuk merespon tulisan ini tapi yang jelas saya ingin menyampaikan;ini semua hanyalah merupakan proses yang terus berlanjut dari konsekuensi kehidupan ,tidak ada yang salah pada manusia itu kecuali apa yang menjadi landasan kepentingan didalam hatinya.

  13. Thank-s deh Pak atas pemahamannya…
    Daripada membahas Lusi terus, yang bikin science dan scientis banyak yang “kejepit-jepit”, saya pingin di dongengin masalah giant sinking hole-nya Guatemala itu. Apa bener karena liquifaction? Daerah situ langganan banjir apa gempa ya, Pak?? Saya cuma khawatir, di Bandung sana, tanah longsor akibat timbunan sampah. Di Surabaya sampah juga jadi masalah. Saya pernah ngerjain proyek sanitary landfill, tapi kalo cuman gitu-gitu aja berapa tahun lagi baru bisa back to nature yah? Salah-salah malah meledak atau sinking itu tadi! Surabaya sendiri udah pindah TPA dari daerah timur sekarang ke barat. Yang di timur deket pantai, dan sekarang udah nggak dipakai.

  14. Die,
    Kalau sebagai manusia tentunya ya harus humanis dan bersentuhan dengan bidang lain, misal bisnis, duwik, sosial dan politik. Tetapi yang disayangkan Pak Koesoema ini adalah sosok organisasi profesi yang semestinya tidak memilki attribut manusia. Organisasi profesi itu memilki kekuatan hukum memang bisa saja iya. Tetapi organisasi profesi yang kental dengan science ini lebih banyak sisi sciencenya.
    Science mana kenal moral, scientist (orangnya) sih iya jelas ada attribut moral, tetapi ilmu mah apa adanya dibilangin saja seadanya.

    Science ini tidak mengenal kata baik-buruk, jahat-baik. Itulah sebabnya Pak Koesoema, beberapa waktu lalu mengkaji bahwa lumpur ini bukan limbah, ya beliau bilang aja gitu. Trus ada scientist bilang bahwa drilling itu bisa menyebabkan mud volcano karena tak terkontrol. Dalam artian bisnis keduanya bisa saja positip bisa saja negatip tetapi science semestinya tidak terpengaruh penilaian (kepentingan) bisnis, politis, norma ataupun moral.

  15. Pagi ini saya baru sempet baca ulasan surat pak Profesor secara lengkap bahkan pake stabilo segala.
    Comment : SEDIH!
    Buat saya pribadi, yang namanya scientist dan engineer itu bisa dibagi menjadi dua spesies.
    1. Scientist + Engineer yang bekerja semata-mata untuk urusan dunianya sendiri. Nggak perduli masalah-masalah lain, termasuk kepentingan pribadi maupun yang bergesekan dengan kepentingan-kepentingan lain. Sebut aja golongan ini sebagai PURE SCIENTIST or PURE ENGINEER. Misinya cuma untuk mendapatkan hasil sepenuhnya dari ilmunya. Atau gampangnya tipe IDEALIS
    2. Scientist + Engineer yang masih mau noleh kanan-kiri. Bekerja demi kepentingan orang banyak, maupun kepentingan-kepentingan lain, dan masih memperhitungkan fee dan hasil duniawi lainnya.
    Yang ini lebih HUMANIS walaupun kadang-kadang salah jalan karena terpaksa bergesekan dengan kepentingan-kepentingan di atas tadi.
    Nah… saya sendiri dari golongan civil engineer juga seringkali bergesekan dengan hal-hal seperti tadi. Namun saya kembalikan aja pada diri sendiri. Patut engak kita nyemplung di salah-satu or salah dua kepentingan tadi??? Kembali ke MORALITAS aja. Dan jeritan hati rakyat banyak adalah kepentingan yang paling tidak bisa ditunda. Dari segala ilmu yang ada, MBAH-MBAHnya dulu bertujuan untuk mengayomi masyarakat, menuju ke masa depen yang lebih baik. Bukan untuk gontok-gontokan adu pendapat, pinter-pinteran tapi membohongi rakyat. SUSAH MEMANG!!!!

  16. Adudududuhhh!!! Pusing amat baca komentar-komentar ini, seh! Yang penting orang-orangnya di slametin dulu, infrastruktur di kasih alternatif dulu, baru deeeh, meneliti sana-sini… Khan udah aman nggak ada yang DEMO, NGREPOTIN, nggangguin???
    Perkara siapa yang kudu ngganti siapa ya kembali ke lap-top, eh… Kembali pada TATANAN HUKUM yang berlaku. Gitu aja kok repot?!

  17. Pak rovicky, saya sering ditanya sama temen2 kira-kira retakan tanah/pergeseran tanah akibat lumpur lapindo sampai sejauh mana?. rumah saya 1.5 Km ke utara dari Perumtas ( Kecamatan candi). pak dhe temen2ku yang ada diperumtas I ketika berdialog dengan pihak lapindo dan pemerintah katanya, terlihat jelas kalo pemerintah membentengi lapindo (membela) apa benar?. apa dugaan saya benar ?tentang pemerintah dan lapindo memang sengaja mengkondisikan seperti ini.

  18. Aini dan kawan-kawan lain,
    Aku kok masih rada ngga mudeng soal penggantian tanah atau “ganti untung” ini. Bagaimana kepimilikannya ?
    Kalau memang diganti dengan dibeli, trus siapa yang menjadi ‘pemilik” tanah ini ? Negara, Pemda (karena otonomi) atau Bakrie yg mengeluarkan duwit.
    Atau kasih ke saya aja 🙂

    Aku buat analogi gini, suatu saat anda tak sengaja menabrak motor pengendara ojek, motor seharga 1 juta terpaksa diganti 1.2 juta (namanya juga ganti untung). Tetapi motor yang walaupun rodanya copot ini harus menjadi milik negara karena kesalahan anda …. Bisa kah begitu ?

    RDP

  19. Inilah hasilnya kalo semua informasi tidak transparan, akan timbul prasangka buruk diantara kita, semua bisa dikambinghitamkan, yang diinginkan masyarakat sebenarnya hanyalah suatu kepastian, bukan teori-teori geologi yang mbuat kepala puyeng, kalo bisa dihentikan yo…..hentikan mawon……, ojo saling gonthok2an beradu argumen,…..pilih jalan yang sesuai dengan kemampuan dana, kalo gak bisa dihentikan,……ya itu dia……ganti mawon tanahnya masyarakat dengan harga yang sesuai,…..beres kan……..hehehe

    Salam

  20. Aku udah lama mensinyalir banyak geologiwan kita yang tidak pro-masyarakat, tapi pro pemodal besar saja. Kadang-kadang ada yang bisa mplintir data asal harganya cocok. Hehe, sori kalau ada yang tersungging…

    Bravo Pak Kusuma, “old soldier never die!!”

  21. ass.wr.wb
    Kelihatanya dugaan awal tetnang Lusi semakin terkuak, ” Pemerintah dengan lapindo memang mengkondisikan demikian. sehingga mereka dapat membeli bahkan merebut tanah warga secara murah, karena kandungan gas dan minyak disidoarjo begitu banyak. Kami dapat informasi ada suatu pondok pesanteren ( manbaul Hikam) di desa Putat kecamatan tanggulangin kira-kira 1.5 Km dari Perum Tas I telah didatangi pihak lapindo agar segera mencari tanah kosong untuk lokasi baru pondok pesantren ( disuruh pindah), berarti memang lapindo dan pemerintah telah punya peta target perluasan lahan lapindo. Berarti pemerintah dan lapindo telah mendzalimi masyarakat. Mereka telah menunjukan kekuasaanya kepada masyarakat. mudah2an allah menunjukan kekuasaannya kepada mereka.
    Allahu Akbar.

  22. Pak roviky, saya orang sidoarjo asli. Sekarang tinggal di Sidoarjo.
    Saya juga ketar-ketir lihat lusi, takut kalo sampai juga akhirnya ke Sidoarjo. Apa ndak ada perhitungan yang akurat kira-kira semburan itu bisa ditutup ato nggak. Kalo nggak, antisipasinya apa? Tolong po’o. Orang kecil kayak kami ini butuh informasi yang apa adanya biar kita bisa antisipasi sejak awal. Jangan informasi yang “Asal Bapak Senang” saja sehingga nanti malah merepotkan kita semua karena gak bisa antisipasi sejak awal.
    Matur nuwun sebelumnya.

  23. Awalnya aku pesimis tentang akhir dari diskusi berkepanjangan yang dilakukan ahli-ahli yang akhirnya hanya menyimpulkan seperti yang diduga semula.
    Aku sangat salut dengan pernyataan pak Kusumadinata, karena pernyataan ini geologiawan Indonesia tidak akan kehilangan muka di mata rakyat Indonesia dan dunia.
    Saya siap mem-backup kalau dibutuhkan.

  24. Yth All,

    Saya secara pribadi sangat shock membaca tulisan itu, karena saya tidak tahu apakah ada keterkaitan politik, atau apapun itu, seharusnya sebagai para ahli, dimana notabene bergabung dalam satu wadah profesionalisme, dapat memberikan pemaparan yang jelas walupun itu pahit sekalipun, bagaimanapun yang namanya ahli, atau profesionalisme dasarnya adalah kejujuran, bukan bisnis, bukan kedekatan dengan seseorang.
    Mungkin sudah sering yang menulis tentang bagaimana kondisi dilapangan, marilah kita bayangin kalau orang-2 yang terkena musibah, sudah menabung puluhan tahun, sudah disiapkan rumah untuk anak-cucu, tau2 hilang tenggelam oleh lumpur.. saat ini sudah banyak yang sudah mulai stress, dan masih banyak orang yang tidak tau apakah nasib mereka akan seperti orang2 yang sudah kehilangan rumah.. so apakah akan disembunyikan kebenaran itu.. sampaikanlah walau sesungguhnya itu pahit, dan bisa jadi dari kepahitan itu nantinya dapat memberikan kebaikan buat yang lain.

  25. Menyimak tulisan bapak Koesoemadinata diatas terutama dibagian saran bahwa untuk menentukan ‘the smoking gun’ dalam masalah LUSI dan sekali gus menghentikan semburan mungkin satu-satunya adalah dengan melakukan pemboran relief well yang langsung ditujukan kepada lubang bor pas di atas top Kujung ……………………..

    Sangat cocok dengan apa yang telah kami sampaikan keberbagai pihak terkait, beberapa bulan yang lalu (Oct/Nov 2006) tentang “RECOMMENDED STRATEGY TO HALT UGBO IN BJP-1-PORONG” oleh suatu perusahaan relief well yang telah berpengalaman menghadapi bencana serupa walaupun dalam skala yang lebih kecil, mereka sanggup menghentikan bencana semburan ini secara pre-financing project, tentu harus disertai dengan jaminan pembayaran (Bank Garansi), sayangnya kurang mendapat response dari pihak terkait tersebut dengan alasan tiadanya biaya ?

    Adapun ringkasan yang akan mereka kerjakan secara teknis sbb:
    (tentu untuk detailnya mereka bersedia untuk mem-presentasikan-nya terlebih dahulu)

    Dear Sir,
    1) I will Use active magnetic ranging technology to locate the fish in the blowout well bore from a relief well, The active magnetic ranging tools are run in the relief well and they detect the metal fish in the blowout well. The software then gives output as to distance and direction. This tool is run numerous times and is used to guide the relief well to the blowout well.
    2) I can do the modeling but in all probability, a new location will have to be built closer to the blowout well bore.
    3) Intercept and re-enter the blowout well bore immediately beneath the fish at roughly 4200 feet TVD,
    4) Follow the blowout well bore to bottom
    5) Run to bottom with a kill string consisting of (probably – calculation may change the recommendation) 5 ½ inch premium thread casing
    6) Run diagnostics consisting of temperature surveys and noise logs through the kill string to determine the depth of the blowout interval
    7) Plug back the blowout well bore to the inverse pressure transition so the well bore will maintain heavy fluids
    8) Divert and measure the flow rate in order to calculate the kill rate and mud weight required to control the well
    9) Rig up the hydraulic horsepower necessary to control the flow
    10) Kill the well, I will use my exclusive well control software to model the geometry and blowout and calculate the kill weight mud and the rate at which it must be pumped to control the well. I have used this software for more than 20 years and it has never failed. When the flow is diverted through the kill well, the flow from the blowout will be accurately determined and the kill procedure can be outlined.
    11) Plug and abandon the blowout well bore.

    The equipment required will be active magnetic ranging tools, relief well, kill string, sufficient hydraulic horsepower to control the well, and sufficient cement to plug and abandon the well.

    Regards,
    Robert D Grace (Director GSM Inc) &
    Mike Miller (President Safety Boss Inc)
    Houston, Texas.

  26. Allah memang Maha Tahu, mana yang benar dan mana yang salah.
    dan ternyata masih ada Orang ( Prof Dr R.P. Koesoemadinata ) yang berjiwa bersih dan peduli ( ama Kami korban lusi ).
    kami juga kecewa, karena masih ada membela LAPINDO

Leave a Reply