RESIKO BENCANA KEBUMIAN DAN EVOLUSI BUDAYA MANUSIA

19

Kali ini ada titipan tulisan seorang kawan Dosen Geologi yang ahli ilmu kebencanaan. Masih dalam perenungan menghadapi tahun-tahun kedepan yang “mungkin” akan banyak terjadi bencana yang akan masuk ke media massa dan masuk ke telinga kita juga.

– “Waddduh Pak dhe tulisane gaya dosen serius banget yak”
– “Hust, sesekali kowe juga harus serius dalam menghadapi hidup ini. Ora mung guyon thok !”
– “Nggih Pakdhe” 🙁 karo mbesengut

Renungan Awal Tahun 2007 Oleh: Agus Hendratno Dosen Teknik Geologi FT UGM; Anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bumi yang kita diami telah berusia kurang lebih 5 miliar tahun dan selama beribu-ribu tahun bumi telah dihujani oleh meteor, pembalikan medan magnet yang mendadak, penambahan serta penyusutan massa gunung-gunung es yang membuat bentuk baru bagi permukaan bumi. Kehidupanpun telah kembali kebentuk aslinya. Selama lebih dari 3,5 miliar tahun sejak kehidupan pertama muncul, spesies-spesies telah datang dan pergi (punah), tetapi kehidupan tetap berlangsung tanpa gangguan. Pada kenyataannya apapun yang dilakukan oleh manusia, ia tidak akan mengalahkan pengaruh fisik dan kimia yang sangat kuat.

– 🙁 “Pak Dhe, pembalikan magnet mendadak itu apa seperti filem to ?”
– 🙂 “Wong geologi itu kalau ada sesuatu yang terjadi selama sepuluh tahun udah dibilang mendadak !”
– 🙁 ” Blaik !”

PERADABAN MANUSIA MODERN

Pada perkembangannya kehidupan manusia modern muncul sejak beberapa ratus ribu tahun terakhir sungguh hanya sekejap jika dibandingkan dengan sejarah planet bumi yang sudah berusia 5 miliar. Kita tidak dapat mengganggu sistem bumi secara keseluruhan, namun kita telah mempengaruhinya dengan menggunakan energi yang menyebabkan polusi sewaktu membuat makanan, tempat berteduh, dan sejumlah produk lainnya bagi populasi dunia yang meningkat. Kita melepas senyawa-senyawa kimia yang menyebabkan timbulnya lubang dilapisan ozon yang berfungsi melindungi kita dari radiasi ultraviolet dan kita membakar bahan bakar yang menyebabkan terbentuknya gas-gas panas yang tidak dapat keluar dari lapisan atmosfer sehingga jumlahnya terus bertambah. Penambahan jumlah populasi juga menambah beban bagi potensi pertanian dan kebutuhan lahan semakin meningkat.

Hutan-hutan tropis yang merupakan tempat tinggal bagi jutaan spesies ditebang untuk pertanian, padang rumput, tempat tinggal dan kawasan industri. Bahan baku yang diambil dari permukaan bumi untuk menjaga kestabilan ekonomi dari dunia yang sedang berkembang, dan kita memperlakukan atmosfer, tanah dan air sebagai limbah yang dihasilkan dari penggunaan energi dan barang-barang dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui geologi masa lampau, kondisi di atmosfer, samudera dan biosfer untuk sebagian besar telah mengikuti perputaran alami. Sekarang, kegiatan-kegiatan manusia merupakan kekuatan yang penting yang mendorong perubahan-perubahan di dalam lingkungan global. Kekuatan pendorong dalam peradaban budaya manusia modern ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan akal fikiran dan budidaya manusia dalam mempertahankan kehidupannya di planet bumi ini. Dengan meningkatnya populasi manusia di planet bumi akan semakin menambah marak kehidupan terhadap lahan dan sumberdaya lainnya yang potensial dan strategis bagi kelangsungan hidup kelompok-kelompok manusia yang pada suatu saat terjadi ketergantungan terhadap lingkungan alam. Ketergantungan terhadap lingkungan alam akan segera teratasi dengan meningkatnya budaya manusia dalam penguasaan ilmu dan teknologi yang nantinya akan semakin jelas bagaimana manusia akan berperilaku terhadap lingkungan alam dan perubahan yang menyertainya.

Peradaban manusia dalam perkembangan evolusi budaya dan adaptasi biologis dimulai setelah ditemukannya api sebagai alat untuk memenuhi berbagai keperluan dan keinginan. Api merupakan penemuan teknologi paling awal yang membawa peradaban manusia pada kemampuan untuk mengubah lingkungan alamiah menjadi lingkungan binaan yang sesuai dengan kehendak dan aspirasinya. Perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa evolusi budaya lebih mendominasi adaptasi biologis manusia terhadap lingkungan manusia. Terlebih lagi ketika perkembangan teknologi sebagai bagian dari perkembangan budaya yang paling menonjol. Akibat kemajuan yang pesat dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan manusia kurang menyadari pentingnya adaptasi terhadap lingkungan alam, karena dengan teknologi manusia bisa mengatasi berbagai hal dalam bentuk relung dan kondisi lingkungan tanpa memiliki kemampuan alami. Kita sudah dapat menyaksikan bahwa manusia dapat berkeliaran di dasar samudera tanpa memiliki insang seperti halnya ikan, atau bertamasya ke ruang angkasa tanpa harus bersayap. Akibat perkembangan budaya manusia karena peradaban yang dibawanya dengan teknologi sebagai instrumen yang menyertainya menjadikan pandangan manusia terhadap lingkungan alamiah mengalami perubahan yang berarti. Dengan ilmu dan teknologi yang dimilikinya manusia telah merasa menguasai lingkungan, padahal kejadian yang sebenarnya lingkungan alam dan lingkungan binaan manusia jauh dari kekuasaannya.

Kemampuan manusia untuk menguasai lingkungan alam hanyalah suatu impian atau khayalan yang kurang mendasar. Tidaklah etis bilamana ada manusia yang mengatakan dengan bangganya telah menaklukkan lingkungan alam yang berupa kawasan pegunungan, kawasan pantai, kawasan DAS, lautan, sumberdaya air serta bahan galian mineral. Bukankah semua potensi lingkungan alam tersebut merupakan tanggung jawab kita sebagai pengelola sumberdaya bumi demi kemaslahatan umat manusia. Tidak banyak yang menyadari bahwa kehadiran lingkungan alam beserta proses alam yang menyertainya merupakan amanah terhadap manusia. Dalam pandangan geofilosofi, kehadiran manusia dengan budayanya selalu dipandang sebagai pemelihara alam. Tetapi kini dengan munculnya krisis lingkungan, manusia telah menjadi perusaknya. Manusia telah mengubah perannya, berkat uluran tangan peradaban modern, dari makhluk yang diturunkan dari langit dan hidup harmonis dengan bumi menjadi sebuah makhluk ciptaan yang memandang dirinya sebagai yang merangkak dari bawah dan kini menjadi pemangsa dan pembasmi yang sangat mematikan.

Dalam pandangan Islam sebagai rahmatan seluruh alam semesta, memandang manusia sebagai wakil (al-khalifah) Allah SWT di atas bumi dan secara eksplisit Al-Qur’an menegaskan, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang wakil (khalifah) di muka bumi” (Al Baqarah : 30). Lebih jauh lagi, kualitas kewakilan ini disempurnakan dengan kualitas kehambaan (al-‘ubudiyyah) kepada Allah SWT. Manusia adalah hamba Allah dan karenanya harus menaati-Nya. Sebagai khalifah Allah, manusia harus aktif di dunia, memelihara keharmonisan lingkungan alam dan menyebarluaskan berkah dan karunia karena ia sehubungan dengan kedudukan manusia sebagai ciptaan yang terdidik dan berbudaya di dunia yang sementara ini merupakan perantara.

Seperti halnya Allah SWT memelihara dan mengasuh dunia, manusia sebagai wakil-Nya juga harus memelihara dan mengasuh dengan kasih sayang, keharmonisan terhadap : litosfer, atmosfer, tanah/lahan, mineral, energi, serta air, dimana ia memainkan peran penting. Fungsi pemeliharaan terhadap lingkungan alam merupakan kesaksian manusia sebagai pemegang amanah ketika bersaksi dihadapan Sang Pencipta. Allah SWT menunjukkan hal ini dalam ayat yang terkenal, Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka (yaitu, anggota kelompok manusia) menjawab, betul Engkau Tuhan kami, kami bersaksi (Al-A’raaf : 172). Menjadi masyarakat manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan terdidik berarti menyadari akan tanggung jawab yang melekat dalam status “wakil Allah SWT”. Dalam ayat-Nya bahwa Allah SWT telah menundukkan (sakhkhrara) lingkungan alam bagi manusia sebagaimana termuat dalam ayat, “Apakah kamu tiada melihat bahwa Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya” (Al-Hajj : 65) tidaklah berarti bahwa dengan perkembangan peradaban dibidang ilmu dan teknologi manusia semena-mena melakukan eksploitasi terhadap lingkungan alam/sumberdaya bumi (apa yang ada di bumi). Dengan ayat itu dimaksudkan, bahwa dominasi atas segala apa yang ada di bumi diperbolehkan bagi manusia sejauh itu sesuai dengan hukum-hukum Allah pada sifat-sifat dasar dinamika kebumian dan perilaku lingkungan alam. Secara makro dapat diartikan bahwa eksploitasi sesumber alam itu lebih ditekankan pada kemaslahatan masyarakat/umat manusia.

– 🙁 “Pakdhe, ini yang nulis dosen agama apa dosen Ilmu Geologi sih ?”
– 🙂 “Hust !”

Namun apa yang banyak terjadi disekitar kita saat ini, bahwa manusia mulai bisa hidup dan merasa aman dalam lingkungan alam yang sudah diubahnya menjadi lingkungan binaan dan secara budaya telah menjauhkan kepekaan manusia terhadap resiko yang dapat ditimbulkannya maupun resiko proses kebumian yang menyertainya. Perlakukan terhadap sumberdaya alam kebumian ini harus menekankan pada kemampuan daya dukung alam/lingkungan dimana diperbolehkannya untuk dimanfaatkan sebagaimana adanya.

  pray1.gifKepekaan manusia dalam dimensi penghambaan kepada Allah SWT serta dimensi kewakilan-Nya di bumi ini mulai luntur dan makin bias dengan kemajuan peradaban modern. Manusia semakin tidak menyadari bahwa dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan pembangunan terdapat dimensi kewakilan (al-khalifah) dan kehambaan (al-‘ubudiyyah) serta adanya proses perubahan alam (dinamina atmosfer dan litosfera) didalamnya. Perubahan lingkungan alam menjadi lingkungan binaannya selalu dimulai dengan munculnya kesempatan yang lebih baik dan mapan. Karena itu dibalik kemapanan kesempatan itu, manusia hanya mampu memandang berbagai manfaat dari manipulasi terhadap lingkungan alam dengan berbagai potensi sumberdaya kebumian yang terkandung didalamnya. Setiap manusia memiliki keinginan dan kehendak untuk mengeksploitasi lingkungan alam, bayang-bayang resiko selalu tertutup rapat-rapat, sehingga kemungkinan muncul ancaman baik dari proses alam kebumian maupun lingkungan binaannya kurang mendapat perhatian yang proporsional.

RESIKO BENCANA ALAM

Bencana alam merupakan peristiwa atau kerugian/kehilangan secara mendadak karena proses alam. Terdapat 3 unsur dalam bencana alam yaitu, pertama adalah unsur kerugian/kehilangan, kedua unsur dadakan sehingga manusia tidak mempunyai waktu untuk menghindar, serta ketiga adalah unsur proses alamiah. Unsur kerugian atau kehilangan dapat berupa kehilangan jiwa manusia, harta benda, budidaya manusia, kerusakan lingkungan, juga dapat berupa hilangnya aset nasional yang potensial. Unsur dadakan yang dimaksud adalah dalam hal yang menyangkut kerugian yang ditimbulkannya.

Dari perkembangan peradaban budaya, manusia telah mengenal apa yang disebut dengan bencana alam. Dilihat dari kacamata geologi, bencana alam merupakan proses alam kebumian, tetapi yang berjalan sangat cepat dengan ukuran manusia yang didalamnya terdapat unsur manusia. Pada dasarnya terdapat dua jenis proses alam yang dapat mengakibatkan bencana alam. Proses alam yang bersumber dari dalam bumi atau juga disebut proses alam asal dalam atau proses endogen, dan yang bersumber diatmosfer atau disebut juga proses asal luar atau proses eksogen. Yang termasuk dalam proses endogen adalah gempabumi dan letusan gunungapi. Gempabumi dapat menimbulkan goncangan dan persesaran pada permukaan. Bila akumulasi energi melebihi kondisi elasto-plastis, bahkan ke kondisi runtuh maka energi akan menimbulkan getaran yang menyebar melalui tanah dan batuan ke permukaan bumi menjadi gempa tektonik yang dahsyat dan memporak-porandakan semua aktivitas yang dikenainya. Bilamana hal ini terjadi di perairan samudera maka akan terjadi gelombang tsunami yang sangat berbahaya bila dekat dengan kawasan pantai yang padat dengan aktivitas budaya manusia, seperti yang telah terjadi di Aceh, 26 Desember 2004 yang lalu.

Aktivitas gunungapi merupakan fenomena yang jarang diperhatikan banyak orang kecuali para saintis bidang volkanologi maupun fisika gunungapi. Bahan padat hasil erupsi baik berupa aliran lava, penumpukan kubah lava, bahan piroklastik merupakan material-material yang sangat merusak bila mengenai kawasan budaya manusia di lereng-lereng gunungapi. Guguran kubah lava yang menyebabkan awan bersuhu tinggi dan bergerak sangat cepat merupakan bahaya yang sangat fatal terhadap kehidupan manusia maupun lingkungan di lereng gunungapi. Demikian juga bila terjadi banjir lahar dingin yang bersifat merusak pada aliran yang dilewatinya.

Gejala eksogen ialah hujan yang berlebihan misalnya (atau sebaliknya, kekeringan), serta angin kencang. Dikawasan yang berlereng curam dengan kestabilan batuan dan tanahnya tidak baik, kemudian bila akumulasi air dalam tanah berlebihan sering terjadi longsoran, runtuhan yang merupakan gejala yang wajar. Demikian juga bila terjadi kelebihan massa air dan curah hujan, sering menimbulkan banjir baik banjir genangan maupun banjir bandang/banjir kiriman. Bencana kekeringan yang pada gilirannya dapat menjadi penyebab paceklik dan kelaparan, penyakit, dan juga kebakaran. Angin kencang atau angin ribut dapat menimbulkan bencana. Gelombang air laut pasang dapat pula ditimbulkan oleh angin yang meniup kuat.

Semua ini menyangkut gejala alam yang pada hakekatnya merupakan proses alam yang wajar-wajar saja. Proses alam akan menjadi sebuah bencana alam bilamana proses alam tersebut mengenai semua aktivitas budaya manusia. Apakah aktivitas itu di kota, di desa, di kawasan pegunungan, kawasan pantai, daerah kantong-kantong kemiskinan atau daerah dengan akses ekonomi yang tinggi atau wilayah yang mempunyai aset nasional. Bencana alam yang melanda bumi akhir-akhir ini hendaknya menjadikan kita sadar betapa tidak berdayanya manusia terhadap lingkungan alam.

Kenyataan menjadi jelas bahwa lingkungan alam kebumian dan lingkungan binaan manusia memiliki berbagai potensi bencana alam seperti gempabumi tektonik, tsunami, bencana awan panas, tanah longsor, banjir bandang/banjir genangan, angin kencang, badai salju yang sangat fatal terhadap perkembangan budaya manusia. Hal ini terkadang lepas dari sorotan pada saat manusia merencanakan berbagai kegiatan hidupnya. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibanggakan dan diharapkan oleh manusia untuk dapat melindungi dirinya dari ancaman bencana alam justru menimbulkan berbagai bentuk gangguan terhadap lingkungan maupun ekosistem. Pada gilirannya, gangguan dan degradasi lingkungan akibat penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak tepat telah menimbulkan dampak negatif terhadap perikehidupan dan peradaban lingkungan budaya manusia itu sendiri. Sebagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi tentang tata cara pembuangan sampah / limbah padat pada media geologi tertentu perlu perlakukan khusus. Namun demikian, kesalahan dalam manajemen ilmu dan teknologi tersebut mangakibatkan satu rangkaian komunitas budaya masyarakat Leuwigajah (Cimahi) harus hilang seketika (kasus longsoran di lokasi penimbungan sampah di Leuwigajah, Cimahi, pertengahan Februari 2005 lalu).

– 🙁 “Waddduh Dhe … panjang banget tulisane ?”

Dalam dua dasawarsa terakhir hingga memasuki abad 21 kini, tanpa disadari jumlah manusia, harta benda/aset nasional yang menjadi korban bencana alam kebumian ternyata meningkat, meskipun dari kacamata geologi maupun klimatologi, lingkungan geologi dimasa kini (Kuarter, kurang dari 1.8 juta tahun yang lalu hingga sekarang ini) tidak menunjukkan suatu perubahan yang mendasar. Masih ingat dengan gempabumi di Peru, gempabumi di Kobe, gempabumi di Meksiko, tsunami di Flores, tsunami di Banyuwangi, Gempabumi di Liwa, gempabumi dan tsunami di Pangandaran dan Cilacap Juli 2006, awan panas Merapi, banjir Pantura, banjir di Jakarta, banjir di Aceh dan Sumut, tanah longsor di Jabar, tanah longsor dan banjir bandang di Bohorok dan di Pacet – Jatim, tanah longsor di Purworejo, banjir di berbagai tempat di Sumatera – Kalimantan, dan Jawa; gempabumi di Iran, gempabumi di Nabire, tsunami di Biak, gempabumi di Alor, gempabumi dan tsunami di Aceh dan Sumut; gempabumi Bantul dan Klaten Mei 2006, longsor di Solok; gempabumi di Mandailing Natal Sumur, merupakan peningkatan yang nyata dari peristiwa bencana kebumian baik ditinjau dari segi kejadiannya maupun jumlah korban manusia yang ditimbulkannya akan lebih berat lagi oleh kenyataan bahwa jumlah penduduk bumi juga semakin meningkat. Belum lagi peristiwa semburan lumpur panas di sekitar sumur eksplorasi Banjar Panji-1 milik Lapindo Brantas di Porong, sebagai bentuk akumulasi kekuatan alam yang kurang diantisipasi dengan kamampuan teknologi eksplorasi sumberdaya migas yang handal. Akibatnya keperluan manusia akan lingkungan alam juga semakin meluas dan makin meningkat baik ditinjau dari segi kebutuhan akan ruang untuk hidup maupun kebutuhan akan sumberdaya yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu bila keperluan manusia akan ruang hidup dan sumberdaya bumi yang terkandung didalamnya tidak dipertimbangkan dengan potensi sumber bencana kebumian, resiko yang akan ditimbulkannya semakin fatal dan sangat berbahaya. Bahwa peningkatan jumlah penduduk dan kecepatan pertumbuhan penduduk yang tinggi merupakan ciri khas negara yang sedang berkembang seperti halnya Indonesia. Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumberdaya bumi dan sumber bahaya kebumian. Karena itu sudah sepantasnyalah pertimbangan terhadap resiko bahaya kebumian ini harus mendapat perhatian seksama di Indonesia. Apalagi bila dikaitkan dengan adanya pusat-pusat pertumbuhan wilayah strategis yang sebagian berada di kawasan rawan bahaya kebumian. Bila perhatian terhadap sumber bahaya kebumian beserta resikonya lolos dari berbagai rencana pembangunan nasional maupun daerah, maka bukan hanya manusia yang semakin peka terhadap bencana kebumian, bahkan proses pembencanaan alam yang bersumber dari kelalaian peradaban manusia terhadap ancaman bencana kebumian tidak dapat dihindarkan.

dg_banner1.gif

– 🙁 “Dhe ini katanya dongeng … tapi kok kayak kuliah ?”

 

Akhirnya evolusi budaya manusia akan membawanya kepada perubahan lingkungan awal secara global, karena kita mengetahui bahwa perubahan-perubahan akan membawa konsekuensi yang baik maupun yang buruk. Perikehidupan manusia modern saat ini sedang berada pada suatu titik yang menentukan dalam evolusi sejarah peradaban modern yang mana akan menghadapi keadaan yang memburuk tentang kemiskinan, kelaparan, ketidak-sehatan, tuna aksara dan berlanjutnya kerusakan ekosistem, tempat bergantungnya kesejahteraan kita. Sementara itu kesenjangan antara kaya dan miskin makin berlanjut. Satu-satunya jalan untuk menjamin adanya masa depan yang lebih aman dan lebih sejahtera bagi kita adalah mengembalikan fitrah manusia pada kekhalifahan dan kehambaan kepada Tuhan dengan konsekuensinya melakukan pembangunan nasional / daerah yang ramah lingkungan kebumiannya dalam mengupayakan kebutuhan pokok umat manusia, memperbaiki taraf hidup semua orang dan mengupayakan perlindungan serta pengelolaan ekosistem yang lebih baik dan bijaksana. Dalam menjalankan semua ini kita harus mempunyai suatu visi yang memandang jauh kedepan demi kesatuan dan keutuhan bangsa/umat manusia serta kelestarian pembangunan yang berwawasan lingkungan kebumian. Disamping itu kita perlu memandang perlunya solidaritas kemanusiaan dalam pelaksanaan pembanguan. Umat manusia adalah satu, oleh karena itu dalam transformasi kebudayaan untuk mengantisipasi berbagai perubahan termasuk di dalamnya resiko bencana kebumian, degradasi lingkungan global, peledakan populasi, kita memerlukan solidaritas kemanusiaan yang berkelanjutan untuk evolusi budaya manusia. Pada dasawarsa terakhir ini, terlihat bahwa interaksi dinamis antara atmosfer dan litosfer yang berimplikasi pada resiko kehidupan dan hasil budaya bangsa ini telah menujukkan satu proses pembelajaran yang sangat mendalam tentang makna kehadiran manusia sebagai khalifahtull fill ardh. Kemana hakekat kehidupan budaya manusia dan budaya bangsa ini dibawa dalam lingkungan yang sangat dinamis yang melibatkan semua elemen/unsur atmosfer dan litosfera bergerak mengikuti ritme Sunatullah-Nya. Semoga kita mampu mengambil pelajaran dari semua kejadian itu untuk tahun yang akan datang, dan selalu berpikir bahwa : ”tidaklah Aku ciptakan ini dengan sia-sia”

Wallahu’alam.

Yogyakarta, awal Januari 2007.

Agus Hendratno

(Staf Pengajar di Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM Yogyakarta). (pengampu MK Studi Islam Kontekstual untuk FT-UGM, 2000-sekarang) Hp. 0815.686.8523

– 🙁 “Wuih … duawane nulise … apa ngga capek nulis segitu panjang ya, dhe ?”

19 COMMENTS

  1. Dunia yang dibentuk 5.000.000.000 tahun rusak hanya dalam tempo 500 tahun. Macam redenominasi mata uang aja pon. Miris hati membacanya. Adakah sedikit optimisme yang bisa dipegang? Atau optimisme itu yang kan jadi dongeng?

  2. MARI KITA JAGA EKOSISTEM ALAM
    MARI KITA JAGA EKOSISTEM ALAM
    MARI KITA JAGA EKOSISTEM ALAM
    MARI KITA JAGA EKOSISTEM ALAM
    MARI KITA JAGA EKOSISTEM ALAM
    MARI KITA JAGA EKOSISTEM ALAM
    MARI KITA JAGA EKOSISTEM ALAM
    MARI KITA JAGA EKOSISTEM ALAM

  3. Mau coment apa yachhh ????? panjang buanget artikelnya gw aja jd pusing 7 keliling ngebacanya tp sayang gak’ sesuai dengan tugas yang mau gw buat ! tp udah nyelip ilmu dikit di otak gw sich !!!!! thank’z ya !!!!!!!

  4. assalamualaikum

    butuh bantuan nih….
    tentang sejarah fisika kebumian tiap periode
    dengan tinjauan fisika…
    bisa bantu ga…
    kayaknya ahlinya tuh…
    makasiah seeblmnya…

  5. saya setuju dengan presentasi karya ilmiah berupa tulisannya.marilah kita menjadikan manusia yang berwawasan mengenai pikiran kita…ok

  6. Waduuh….Sualut dech! laen kale bikin yg lbih berat lagi aza..!he he he…thanks berat atas sumbangsihnya terhadap peradaban manusia, dan apakah akan terus peduli, Padhe?

  7. Dari penjabaran Pak Dhe, saya menemukan kesimpulan, bahwa evolusi peradaban itu berdasarkan beberapa faktor:
    1. Bencana alam
    2. Perkembangan daya pikir manusia
    3. Kemampuan adabtasi manusia terhadap alam

    dengan ini semua, kemungkinan evolusi peradaban akan terus terjadi hingga saat ini.

  8. Manusia diciptakan oleh Allah SWT dimuka bumi ini tidak lain adalah sebagai seorang ‘abd (hamba) yang memiliki tugas untuk selalu menjalankan apa yang menjadi perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya (taqwa), dan juga sebagai wakil Tuhan dimuka bumi (khalifatullah fil ardli) yang mengembang tugas kekhalifahan dalam membentuk tatanan kehidupan dunia (manuisia, alam, hewan ) secara seimbang. Akan tetapi sekiranya dalam Al Qur’an bahasan manusia dalam konteks hubungannya dengan dunia lebih besar porsinya, dalam hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia memiliki tugas yang besar dalam perannnya di dunia ini sebagai khalifatullah. Sehigga sudah barang tentu apa yang menjadi tugas manuisa harus ditunaikan yaitu dalam mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemunkaran (amar ma’ruf nahi munkar). Dalam fenomena kekinian acapkali kita saksikan baik secara lagsung maupun melalui media elektronik, media massa, kasus-kasus pelamggaran terhadap tatanan keberlangsungan kehidupan dilakukan, mulai dari membuang sampah sembarangan, penggunaan kendaraan yang berlebihan sehingga menyebabkan polusi yang besar, sampai pada eksploitasi kekayaan alam secara besar-besaran, serta lain sebagainya. Sehingga tidak mengherankan kalau seringkali kita saksikan terjadinya bencana alam yang banyak memakan korban dalam beberapa kejadian belakangan ini. Dalam fenomena ini kiranya kalau kita mengasumsikan bahwa hal itu adalah siklus alam yang sudah menjadi sunnatullah sepertinya kurang tepat. Karena dalam siklus alam pasti bencana-bencana yang terjadi tidak akan sebesar dan sesering seperti apa yang terjadi sekarang ini. Karena alam (macro cosmos) ini selalu mengalami evolusi yang teratur dan sustainable. Maka kalau kemudian alam tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang mengerikan dan membuat paranoid banyak orang adalah implikasi dari ulah tangan manusia itu sendiri, yang akhirnya menbuat alam ini tidak bersiklus secara semestinya. Dengan demikian sudah sangat tepat kalu kerusakan yang terjadi di daraty dan laut tidak lain karena ulah tangan mausia. Untuk itu marilah kita selalu berssahabat dengan alam ini, dimulai dari diri kita terhadap lingkungan disekitar kita dengan hal-hal yang kecil.

  9. Lha kok jadi ngeri ya kalo baca (baca : dengerin) orang ngomong (risiko) bencana. apa memang harus begitu ya Kang Dhe ? wah kasian juga ya…

    Bukankah setiap hal yang dilakukan oleh manusia mengandung risiko ? Bisakah (risiko) bencana itu “boleh” dilihat untuk menambah kenyamanan sehingga terasa menyenangkan hidup tiap orang (yang katanya hanya sekali) ?

  10. Mau jadi expert bencana? ini tipnya :
    Risiko bencana bisa disederhanakan secara matematis sbb :
    Risiko Bencana (R) = f (ancaman (H=hazards),kerentanan (V=vulnerability,kemampuan (C=capacity))

    R = H x V /C

    Untuk kita orang Indonesia, ancaman(H) yang akan menimpa kita sangat jelas yaitu dari bencana
    bencana kebumian, bencana klimatologis, bencana biologis (penyakit menular)dan dari bencana
    karena ulah manusia seperti kecelakaan industri, transportasi, teknologi, kebakaran hutan,
    kebakaran, teroris dsb. Kalau kita klasifikasi bencana itu berdasarkan frekuensi kejadian dan
    dampak yang ditimbulkan maka kita akan mengetahui risiko ancaman itu, misalnya ada ancaman
    frekuensi kejadian banyak dan dampaknya sangat beasar maka ancaman itu ternasuk berisiko
    tinggi dan demikian sebaliknya kalau frekuensi kejadian sedikit dan dampaknya kecil termasuk
    ancaman berisiko rendah.
    Kerentanan (V) inlah yang jadi masalah hampir di seluruh negara berkembang termasuk Indonesia
    karena sangat tergantung pada kondisi tata nilai dan kebijaksanaan negara. Tata nilai yang
    berkembang di masyarakat kita yang menyebabkan kerentanan tinggi antara lain kita masih tabu
    atau pantangan kalau membicarakan bencana (hal-hal yng menakutkan) taku kualat atau kena kutuk
    sehingga cerita tentang bencana dan bagaiman cara menghindari bencana ini sangat sedikit. Ini juga mempengaruhi kebijakan negara sehingga tidak melakukan upaya-upaya untuk pencegahan atau
    mitigai atau kesiapsiagaan atau upaya rekoverinya. Riset-riset yang berkaitan dengan upaya
    mitigasi dan kesiapsiagaan jarang diakomodasi.
    Kemampuan (C) dalam mengantisipasi bencana harus dimiliki oleh setiap rakyat di daerah rawan
    bencana dan ini bisa ditingkatkan melalui pendidikan, sosialisasi dsb sehingga menjadi gerak
    reflek saat terjadi bencana. Kemampuan ini juga harus dimiliki oleh negara dengan lembaga riset
    dan perguruan tinggi sehingga bisa mengurangi/mendistribusikan/meloklisir/mengimprovisasi/menghancurkan ancaman yang berisiko
    tinggi jadi rendah. Improvisasi itu misalnya membuat alat peringatan dini
    Ada contoh eksrem yang ditunjukkan oleh Amerika dalam menangani teroris yaitu dengan jalan
    menghancurkan sarang teroris (Afganistan dan Irak).
    Wah kepanjangen ya maaf

    Amien Widodo

  11. Selama ini kita menganggap bahwa manusia-lah yang paling penting di dunia ini. Fenomena alam yang biasa diangkat menjadi bencana bila menimpa kehidupan manusia. Namun bila fenomena alam ini menimpa makhluk lain selain manusia, kita tidak pernah peduli. Ingatlah kepada tujuan alam ini diciptakan oleh Allah SWT, semata-mata untuk sarana ibadah bagi penghuninya, bukan hanya manusia.

  12. Makalahnya kurang menarik bila dijual Pak Dhe’….kedhau’wan, ndowo banget pembahasannya, intinya padahal hanya mengenalkan bencana secara global,….tapi rak po’po,…menurut aku,…kenapa kita tidak membahas bencana alam yg sering terjadi disekitar kita dan akibatnya terhadap kita mengapa terjadi, apakah ada sumbangsih perbuatan kita??….well…contoh yg paling gampang adalah banjir,….sumbangsih perilaku manusia dari hulu sampai hilir sangat besar ….lek gak percoyo……liat banjir jkt setiap tahun??????lihat…. pola masyarakat kita yg gak memelihara daerah resapan air di hulu, lihat…. pola masyarakat kita yg masih menganggap sungai adalah tempat sampah. dadi para pakar harus memberi konklusi yg nalar ,…sak’jane’ kudu piye????…..wah melok mbulet aku……poko’e sip..lah

  13. Salam kenal Pak Dhe, selama ini saya hanya ngintip blog sampeyan soalnya suka dengan gaya tulisannya yang nge-pop gak sulit dipahami cah cilik. Tapi kalo tulisan kaya’ gini gayanya kok jadi berat ya bacanya. Mungkin itu ya sebabnya ilmu dari perguruan tinggi hanya berkilau di atas menara gading susah membumi, lha wong gak mudah dipahami wong cilik. Tapi saya salut pak dhe sudah memulai pake bahasa yang enteng but tetep informatif, saya dukung terus dhe..

  14. Setelah baca uraian di atas kesimpulannya cuma satu :GIMANA CARANYA MENG-EDUKASI MASSA UNTUK PEMAHAMAN TENTANG “KEHIDUPAN YANG SELARAS DAN SEIMBANG DENGAN LINGKUNGAN SEKITAR”. Naaah… ini adalah bagian yang terrrrrsulittt. Seperti kita ketahui, sekarang ini yang ada dalam pikiran manusia di Indonesia adalah bagaimana caranya menyambung hidup untuk esok hari. Mau mikirin lingkungan…eit!!! tunggu dulu!. Jadi analisis saya, kalo memang mau mengedukasi massa, sasarannya yang paling tepat ya di mulai dari USIA ANAK-ANAK aja. Yang masih gampang dipengaruhi, yang belum mikirin susahnya mencari sesuap nasi. Jadi… Setuju tidaaak????

Leave a Reply