Alamiah itu bukan berati paling aman

7

Seringkali kita mendengar iklan obat ataupun makanan sehat yang ngeklaim bahwa obat ini dibuat dari bahan-bahan alamiah yang bukan buatan manusia, dibuat dari bahan-bahan natural, dan dengan embel-embel jaminan aman. Namun perlu diketahui bahwa bisa ular juga bahan alamiah yang bersifat racun bahkan mematikan. Demikian juga dengan bunga maupun buah-buahan, banyak sekali yang tidak aman bagi manusia, bersifat racun dan bahkan mematikan.

Seringkali geosaintis ini menyatakan setiap bencana alam sebagai hal yang wajar dan biasa saja. Lah, memang kenyataannya begitu kok. Geosaintis sekedar menjelaskan kejadian alam, yang dulu juga pernah terjadi, yang memang itu merupakan gejala alam.

Bagaimana dengan proses alam, gempabumi, banjir, hujan, dan petir? atau bahan yang dihasilkan oleh alam ? Ya, sama saja. Bahan-bahan kimia alamiah ada juga yang bermanfaat bagi kehidupan, namun juga ada bersifat racun seperti Hg (airraksa), Fe (besi) dan zat-zat alam lain juga dapat saja menjadi pencemar. Bahkan debu merupakan pencemar alamiah banyak terjadi disekitar gurun.

– πŸ™ “Pakdhe, kalau gitu LuSi juga polutan donk !”
+ πŸ™‚ “Haiyak, ntar dulu ah … kok trus njujug mau mepetin aku saja”

Memang benar apa yang keluar dari perut bumi dan jatuh dari langit adalah bahan-bahan alamiah. Tetapi kalau yang keluar itu gas-gas beracun ya tetap saja berbahaya, seperti yang terjadi pada 1979 dimana 149 orang meninggal akibat mengisap gas beracun di Dieng. Kalau jatuh dari langit itu meteor langsung dikecam disebut disaster (dis aster, jatuhan benda langit). Tetapi bagaimana dengan hujan ? Bahkan hujan yang sering dianggap sebagai simbol “berkah” dari langitpun harus bisa dilihat sebagai gejala alam yang dalam skala tertentu menjadi membahayakan. Hujan deras yang sedang memasuki kawasan Indonesia pada bulan-bulan ini tentunyaharus diketahui dan dimengerti “perilaku”nya. Termasuk dimana, kapan, dan seberapa besar. Kemampuan prediksi, peramalan serta antisipasi menjadi sangat penting.

Mari kita tengok bahan alam yg satu ini air dengan turunnya hujan !
Seringkali hujan dianggap sebagai bahan curahan Ilahi yang bermakna berkah. Namun dalam kadar tertentu tidak lagi disebut berkah. Justru kadang ditakuti, misalnya curah hujan di Sidoarjo, dan juga di lereng G Merapi.

Awas i itu lereng Merapi looh, longsoran hasil erupsi kemarin masih mengancam Jogja dan sekitarnya.

Jadi ya memang kurang tepat kalau geologist-geologist lebih terkonsentarsi menjelaskan bahwa gempa bumi ini, bahwa banjir ini, bahwa longsoran ini … dan ini juga ini … semua adalah kejadian alamiah (natural phenomena). Kurang tepat disini dalam artian tuntutannya, dan semestinya sumbangan yang diberikan lebih dari sekedar menyadari peristiwa alam saja.

Masih ngga mudeng yang aku bicarain kan ?
Coba baca diskusinya di IAGI-net disiniΒ 
http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg16143.html

Justru ilmu pengetahuan (termasuk ilmu geologi) yang dimilki semestinya dipergunakan untuk “mengatur” dan menyesuaikan diri agar tidak hanya semata-mata tunduk pada dorongan/insting nature (primitif) semata.

– πŸ™ “Jadi Pakdhe, semestinya gimana ?”
+ πŸ™‚ “Ya, kalau menghadapi gejala alam yg berbahaya itu, sodorkan langkah-langkah kongkrit untuk menyelamatkan diri. Itulah yang harus didahulukan, secara mudah masyarakat lain hanya akan memandang apa yang kamu perbuat untuk mereka. Walupun kamu pinter kalau tidak ada karya nyata yang dirasakan masyarakat awam ya pasti dituduh macam-macam lah”
– πŸ™ “Tapi kan harus ngilmiah to PakDhe”
+ πŸ™‚ “Ya betul, harus ngilmiyah, tetapi kan tidak harus ruwet dan njlimet. Justru harus sederhana supaya mudah dimengerti. Kalau mau berbicara dan diskusi ilmiah ya bukan di koran-koran atau media televisi”

– πŸ™ “Ah, penjelasan Pakdhe kadang ya ruwet tuh, dhe ?”
+ πŸ˜€ ” Tentunya ada tugas masing-masing, kamu kalau mau baca ya jangan minta aku ngajari membaca ‘ini ibu budi’, duong !”

7 COMMENTS

  1. spada,pakdhe..dari sekian banyak krisis yg mlanda indonesiaku ini,ternyata krisis kehilangan sosok pemimpin yg paling teyem,deh!soalnya yg namanya pemimpin itu ndak ada,dhe..adanya pemimpi yg baru bisa mimpi jadi pemimpin!milih pimpinan saat ini sama saja seperti “membeli iblis dalam kantung plastik bening”.bukan “seperti membeli kucing dlm karung..aku salah ndak ya,dhe?

  2. spadaa,pakdhe..nkotb neh..selama menjadi pemerhati “pembicaraan” pakdhe,saya jadi inget pak slamet “intisari” suseno deh..ujaran andika berdua itu banser alias banyol tapi serius..dalem banggets geto loh!diseputaran diy,ada pak leto (klo ndak salah lho) yg ngudhar gagasan ttg gejala dan prstwa geologi,dll lwt ch.147090..cara beliau njelasinnya sama sprti andhika berdua..cetha wela wela!hrsnya ada orang2 media cetak-elektronik pandang dengar yg kreatip yg bisa mengudarakan menjadi acara cerdas pada jam2 prime time..jadinya bangsaku ini ndak jadi bangsa degil pandir cablak dungu..gicyu lho,pakdhe..trima kasih dan tabik

  3. Mas Rovick ada apa?,kok tiba-tiba mengklaim bahwa :”Alamiah-itu-bukan-berati-paling-aman” dan tak ikuti tulisannya kok sepertinya lagi kecewa?,

    Lagi kecewa sama siapa Mas?.Bilango saya,nanti tak belani temenan.

  4. Sepertinya ada faktor lain yang saya masih bingung apa namanya. Contoh, gempa bumi itu tak pernah membunuh manusia. Kalau ada manusia mati pasca gempa, itu karena terkena runtuhan bangunan atau benda atau yang lain. Apa namanya ya Pak?

  5. jadi inget penjelasan Guru Besar Geologi (lupa namanya) menyikapi Men LH terhadap pembuangan LUSI ke badan air penerima (pernah juga di muat di blog pakdhe ini khan??)

    well, gw berkesan bahwa Geolog itu ‘naturalis’ ternyata mendengar penjelasan pakdhe ini, geolog itu ‘humanis’ juga ya he..he..he..

    Kalau semua yang terjadi itu sudah alamiah…(begitu adanya) maka sikap kita terhadap penyakit tentu bisa serupa…”ah penyakit khan juga ciptaan Tuhan…”

    begitulah….

Leave a Reply