Pola konsumsi Listrik di Jawa

17

listrik2.JPGDaripada ngabisin energi ngomongin poli-polian“, aku lebih suka ngomongin energinya saja. Diskusi saya dengan Pak Johand Dimalouw di milist IndoEnergi ternyata cukup menarik .
Tentunya masih anget di benak ini Baru beberapa bulan lalu Pak SBY meresmikan pembangkit listrik yang baru dibangun di Cilacap. Dan sepertinya “gelontoran” energi listrik ke Jawa ini akan langsung dilahap habis sebagai bahan konsumsi. Lantas kapan energi listrik ini bukan lagi sebagai energi konsumsi tetapi bisa dipakai sebagai energi untuk produksi ?

Berikut hasil diskusi dengan Pak Johand setelah melihat tulisan disini sebelumnya:

listrik2.JPG
Pola penggunaan listrik dalam satu minggu

Gambar 3. Fluktuasi beban listrik dalam sepekan di Pulau Jawa.

Kalau saya lihat kurva beban harian Pulau Jawa Bali itu, sangat tipikal pola konsumsi listrik rumah tangga; bukan pola konsumi listrik Industri.

Ciri-cirinya dapat dilihat pada kurva beban harian sbb.:

  1. Pada malam hari mulai jam 00:00 lampu2 penerangan rumah berangsur-angsur dimatikan konsumsi menurun, sisa yang masih nyala lampu jalan dan luar rumah.
  2. Jam 5:00 lampu di dapur dinyalakan untuk masak dan siapkan sarapan ada kenaikan sedikit.
  3. Jam 7:00 semua lampu penerangan dimatikan, beban listrik terendah
  4. Jam mulai, jam 8 pagi sampai sore jam 5 kegiatan rumah tangga mulai aktif, seperti mencuci, setrika dan diwilayah perkantoran mungkin juga AC dan sebagainya. Pada jam 12 s/d 1 siang ada istrahat kegiatan jadi ada penurunan konsumsi listrik.
  5. Pada jam 7:00 – 10.00 malam hari jelas beban listrik mencapai puncaknya untuk memenuhi kebutuhan penerangan, termasuk papan reklame dll yang bersifat komersial.

Kurva beban listrik untuk wilayah industri, maka beban puncak akan terjadi pada waktu siang hari sekitar jam 10 pagi dan kemusian sekitat jam 3 sore, karena banyaknya kegiatan industril aktif pada siang hari. Pada malam hari kebanyakan konsumen industrial tidak aktif sehingga beban listrik turun. Adanya konsumsi listrik untuk lampu2 penerangan dan papan reklame, konsumsi ini relatif sangat kecil dibandingkan dengan beban listrik industrial yang umumnya menggunakan motor listrik ukuran besar.

Saya pernah bekerja di sebuah sistim listrik Industrial, kebetulan Produsen Minyak bumi yang terisolasi dari sistim luar (PLN). Dasar beban listrik adalah Pompa2 sumur minyak bekerja 24 jam/hari jadi beban listriknya rata sepanjang hari. pada siang hari bengkel dan perkantoran aktif sehingga bebannya naik dan mencapai puncaknya seperti tersebt di atas. Malam hari beban2 lampu penerangan tidak mampu menaikan kurva beban karena relatif kecil. Variasi beban harian kurang dari 10% saja

Dari kurva beban harian yang anda berikan terlihat jelas tantangan besar bagi kita dan juga PLN sbb.:

1. PLN sungguh sangat repot melayani beban dengan variasi sebesar 40% persen (selisih antar angka terendah dan tertinggi dalam sehari (14000 MW ke 10000 MW) PLN mempunyai dua pilihan yang sama sulit dan tidak effisien dari sudut biaya:
* harus mematikan dan menghidupkan mesin2 Pembangkit listrik setiap hari, yang akan menimbulkan kerusakan2 pada komponen mesin yang panas, dan tidak semua pembangkit mampu bekerja dalam siklus harian seperti itu atau
* menjalankan mesin2 dengan pembebanan hanya beberapa jam pada beban maksimum (misalnya 100%) dan sisanya pada beban rendah sekitar 80% hanya untk 8 jam dan sisanya sekitar 60% beban. Ini menyebabkan penggunaan bahan bakar yang kurang effisien
2. Kita semua sebagai pemilik PLN yang telah investasi untuk pusat2 pembangkit listrik tersebut haruslah berpikir bagaimana kita memanfaatkan kapasitas mesin2 Pembangkit kita dengan effisien. Caranya adalah mengisi waktu dimana terjadi beban listrik rendah (pada malam hari dan siang hari) dengan kegiatan industrial yang produktif. Memang akan terjadi konsumsi BBM yang meningkat dan harus kita bayar, yang ujung2nya dibayar oleh konsumen yg membeli produk2 industri itu. Yang pasti PLN tidk perlu melakuukan investasi lagi untuk melayani kebutuhan listrik industri yang bekerja di siang dan malam hari, diluar waktu beban puncak yang ada sekarang.
3. Kalau tarif listrik PLN industri yang sekarang berlaku, sudah memperhitungkan semua biaya investasi dan operasi PLN, maka PLN bisa memberikan rangsangan finansial ke Industri dengan hanya membebani biaya operasional saja (misalnya bila biaya investasi = $0,02 per kWh maka ini lah pengurangan tarif yg diberikan sebagai insentif peningkatan produktifitas).
4. Jadi saran saya bukan kita fokus pada “Penghematan” tetapi kita fokus pada “Peningkatan Produktivitas” ke depan.

——————————

Demikian penuturan Pak Johan dari tulisanku dua tahun lalu.

Apa yang bisa kita pelajari dari sini ?

PLN tidak mudah dalam mengatur besarnya beban yang akan ditanggungnya. Karena beban listrik itu mengalami puncak pada malam hari. Sehingga dapat disimpulkan puncak kebutuhannya bukanlah untuk industri. Bahkan seperti yang saya duga dua tahun lalu pula bahwa konsumsi tertinggi diserap oleh MALL dan tempat hiburan. Karena aktifitasnya mulai pukul 6 sampai pukul 10. Atau mungkin juga lampu penerangan jalan, lah kalau jalan tol semestinya bebannya pengelola tol, yang jelas ditagihkan ke pengguna tol juga 🙁

Dulu pernah terbesit kita (Indonesia) akan bekerja sama dengan Malaysia dalam penyediaan listrik. Mengapa ? Coba tengok kurva beban di Malaysia yang dikelola oleh Tenaga Nasional (PLN-nya Malaysia)

Kurva beban malaysia

 

Dalam gambar diatas terlihat beban terbesar justru pada siang hari, artinya kondisi beban di Malaysia justru terbolak eh terbalik dengan kondisi di Indonesia … eh di Jawa kan ?

Ah, masak sih kita di Jawa ngga bisa menghemat listrik ?
Ah untuk apa berhemat, menurut kawan saya itu yang penting bagaimana memanfaatkan besarnya kapasitas pembangkit yang cukup besar ini dipakai untuk berproduksi !

Kapasitas pembangkit listrik di Jawa lebih dari 70 % dari total Indonesia

17 COMMENTS

  1. mas, kayaknya saya telat kenal sampeyan ya..
    (telat nge-blog juga sih)
    tapi saya janji untuk belajar terus sama sampeyan.
    mohon diterima jadi murid..
    *jongkok menyembah*

  2. Walah mas Soya, pembangkitan energi nulir kuwi ra koyo ngono. Ha yo medeni nek ngono kuwi. Reaktor kartini emang bukan unt pembangkitan energi, cuman riset, makanya energinya cuman 100kw. tapi mekanisme pembanggkitan energinya mirip kok. reaktor energi, transfer energi panas –> listriknya tuh pake “air” terpisah, gak saling bersentuhan. “air” di kolam reaktor cuman berada disekeliling bahan bakar yg terbungkus rapat dg aluminiumzirkaloy, sama sekali gak nyenggol uranium+anak-pinaknya, dan berfungsi nyerap panas sampe +/- 300 C TANPA UMEP, krn bertekanan lbh tinggi dari 1 atm. trus dialirkan ke heat-exchanger lewat pipa siklus tertutup, artinya “air” di reaktor cuman bolak-balik dari reaktor nyerap panas ke heat exchanger lepas panas trus kalo dah dingin balik lagi ke reaktor (boring bangetkan jadi airnya). Nah yg umep itu air pendingin di heat exchanger, uapnya dialirin ke turbin, muter turbin, nah tenaga puterannya kuwi yg diubah “dinamo” jadi listrik. begitu .. jadi gak ada namanya reaktor UMEP.

  3. Mas Pram dan Mas Gunadi, kalau lihat kurva beban Jawa-Bali yang dipampang pakdhe, maka sebenarnya yang dibutuhkan adalah pembangkit listrik yang bisa “mati-murup” tiap hari. Nah yang bisa begini itu PLT Air atau PLT Gas. Nah kalau kita bangun PLTN malah bisa runyam, lha wong PLTN itu kalau udah “murup” mintanya harus murup terus je, dan sekali mati butuh beberapa hari untuk bisa nyala lagi.

    Tentang reaktor Kartini, yang diceritakan mas Pram itu, sebenarnya nggak begitu sama dengan PLTN. Kalau reaktor Kartini, begitu “kepanasen” reaktornya dirancang untuk makin tidak aktif, alias nggak bakalan “umep” (mendidih). Ya namanya cuma reaktor penelitian. Nah, kalau reaktor di PLTN itu memang dirancang untuk “umep”. Masalahnya kalau udah “umep” terus pompa airnya macet, ya akhirnya meleleh, kayak yang di Three Mile Island atau Chernobyl itu.

  4. nah idem dito sama mas gunadi, kayaknya kita sudah waktunya dan perlu memikirkan sumber energi alternatif. Di jogja Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) sudah sejak 1979 mengoperasikan reaktor nuklir Kartini dan alhamdulillah aman-aman saja… semoga seterusnya (lha wong lokasi persis di utara pesanggrahanku) hehehe…
    btw denger2 rencana pemerintah mo membangun PLTN lokasi di Semenanjung Muria (katanya sudah menjadi pilihan dari beberapa lokasi alternatif) trus kira2 jadi nggak yach om dan lagi studi masalah keamanan, geologis plus lingkungannya apa sudah final… (maksudnya aman bagi semuanya)….

  5. Mengapa penerangan lampu yang selalu disalahkan dalam penghematan listrik? saya tidak punya referensi di indonesia, cuman kalo referensi dari US environmental Protection Agency, 2005, Lighting hanya berkontribusi di household sebanyak 7% dan 45% dikontribusi oleh AC serta Mesin Cuci menempati urutan ke dua dengan 10% kontrubusi.
    Harusnya kalo fair, penghematan jangan hanya bicara lighting dong. Ya nggak? Any comment

  6. Penghematan besar-besaran memang harus dilakukan terutama reklame dengan neon sign yang menyala 24 jam. Misalnya “Toko Krabat” punya neon sign yang menyala dari jam 18:00 s/d 6:00. Padahal efektif tokonya sendiri tutup jam 21:00. Jadi buat apa dinyalakan neon sign tersebut s/d jam 6 pagi toh orang juga kecele nggak bisa masuk ke toko tsb. Lain halnya dengan ATM, SPBU, UGD di RS, pos polisi, toko swalayan 24 jam yang buka 24 jam penuh. Misalkan satu neon sign makan daya 80 watt di satu kecamatan ada 500 neon sign sudah makan daya sekitar 40kw. Kalau Jakarta ada 50 kecamatan bisa jadi sudah memakan daya sekitar 2 Megawatt. Belum termasuk neonsign yang besar-besar. Coba bandingkan dengan negara eropa yang tidak punya/minim pembangkit listrik. Mereka benar-benar memperhatikan pemakaian listrik karena di sana mahal sekali biaya listriknya. Tolong koreksi bila perhitungannya salah.

  7. Pak De,
    Saya sangat setuju dengan wacana anda untuk “meratakan” peak demand energi listrik di Jawa. Salah satunya mungkin dengan memberi insentif tarif bagi industri untuk berproduksi di “off peak” hours. Yang kedua adalah dengan jalan memproduksi listrik untuk memenuhi base load demand dengan sumber energi alternatif yang berbasis renewable resources seperti angin (pantai selatan jawa) dan tidal current di selat sunda, cilacap, madura dan selat bali. Agar menarik, alternatif kedua ini tidak harus dibuat dan dimonopoli oleh PLN. Suatu bentukan “Perusdalistrik” pun akan mampu memenuhi kriterian “kepentingan publik” kan?
    Mari kita ciptakan bersama “the Indonesian (atau Jawa” low entropy society” segera.

  8. adikku yang tukang engsinyur jebolan ugm bilang “hanya ada dua pilihan mengenai listrik di masa depan yaitu pake nuklir atau tak pake listrik sama sekali”
    tapi ketika aku suruh njelaskan ya….dijelaskan tapi bahasanya kok bikin bingung.
    Tolong diulas mengenai masa depan listrik kita secara mendalam dengan bahasa awam,
    matur nuwun.

  9. lha gimana mo produksi? lha wong kalo dah jam 7 mlm, listriknya ga kuat kalo untuk nyalain mixer ato bahkan komputer desktop. padahal, kalo saya, lebih produktif malam hari. ga ada gangguan anak2…

    🙂

  10. wah terimakasih sekali lagi atas info yg menarik ini; menurut saya musti dilihat juga berapa banyak industri di indonesia jyg gak pakai pln, karena kalo gak salah harga jual pln masih terlalu tinggi. dulu misalnya waktu solar masih rendah, banyak gedung tinggi di jkt pakai genset sendiri (spt wisma gkbi di sudirman) nggak mau beli listrik dr pln. Belum lagi industri-industri besar lainnya. . . saya nggak tau kalau sekarang ya, dgn harga solar yg tinggi spt ini (tapi tetep lebih murah drpd malaysia/sing). RNI saja sekarang malah nanem pohon jarak, utk diambil minyaknya utk menggantikan solar yg dia pakai di pabriknya.

    juga spt mas Adhi bilang, komposisi industri tidak sebanyak jumlah penduduknya, walau cuma pake 450 Watt/rumah tangga, tapi kalau di jawa jumlahnya banyak tuh yg pakai seperti itu. (kalau nggak salah ada sekitar min 20 juta pelanggan di jawa)
    lagipula pln sekarang malah mengharuskan pakai min 900 watt/rumah tangga. Apa malah beban puncaknya malah jadi kegedean???

    jadi aku malah bingung sendiri jadinya sama pilihan pln macam gini. . .

  11. Mas Hedi,
    Ketakutan atau rasa takut emang memakan biaya. Kalau emang ada alasannya ya ndak apapa, kalau takut mata rusak ya pakai lampu yang hemat energi,

    Adi,
    memang Malaysia penduduknya hanya sekitar 20 juta atau 10% dari Indonesia. Itu saja hampir 10 %nya sejumlah dua juta adalah orang Indonesia yang nota bene semuanya pekerja.
    Tapi Amrik itu juga negara dengan jumlah penduduk sahohah looh. Hanya saja mereka sudah dalam taraf “kepenak” sehingga dengan kondisi yang sudah PW mereka bisa menggunakan energinya untuk produksi. Lah kita energinya masih utk hidup je.

    OK kita bandingkan sederhana saja ya .. angkanya ngga usah eksak, tetapi pengertiannya akan sama.

    Katakanlah begini :
    – Untuk hidup perlu 10 energi = seharga/setara 10 dolar
    – Untuk berproduksi perlu 5 energi = seharga 5 dolar
    – Dari industri diketahui 5 energi untuk produksi bisa menghasilkan 20 dolar.

    Nah sementara di Indonesia itu baru mencukupi 15 energi perkapita.
    Lah akhirnya hanya 5 energi dipakai untuk produksi.
    Ketika dihitung akhirnya dibilangnya Indonesia hanya mampu menghasilkan 5 dolar perkapita kan ?

    Sementara Malesa bisa mencukupi 30 energi = atau seharga 30 perkapita
    – Untuk hidup dipakai 15 energi … lah kan sdikit lebih makmur.
    – Sisanya 15 energi untuk produksi dan menghasilkan 60 (kan 3 kali dari Indonesia, asumsinya efisiensinya sama).
    Terlihat seolah energinya memang banyak menghasilkan. tetapi sebenernya karena kemampuan penyediaan energinya juga buesar.

    Jadi karena Indonesia tidak mampu menyediakan energi cukup besar, terutama dalam berproduksi, yang terlihat energi di Indonesia lebih banyak untuk hidup ketimbang untuk berproduksi.

    Jadi kalau energi di Indonesia dinaikkan ada potensial untuk berproduksi lebih, tetapi kalau perliakunya tetep saja, kebutuhan listrik hanya dimalam hari yang meningkat ya sami mawon tah … 🙁

  12. Pakdhe, kalau menurut pendapat saya pribadi hal itu mungkin karena industri malaysia lebih banyak dengan penduduk yang “sedikit” kebalikan dengan indonesia industri “sedikit” dengan jumlah penduduk buanyak sekali begitu kira-kira pakdhe.

Leave a Reply