After the fact

26

question.gif Pingin tau ajah :
Selepas ada berita AA Gym menikah lagi bagaimana swasana rumah tangga anda ? Adakah yang merasa suasana rumah berbeda ?
Istri curigaan, atau istri tambah mesra takut suami pergi atau swami malah cengar cengir … atau diskusi rame ๐Ÿ˜€

Dirumahku Nyi Laras nulis gini nih : Jiaan Angel Tennaan !!

just curious free for comment
Atas permintaan Mas Priyadi aku tulis dikit udreg-udregan dirumah ๐Ÿ™‚

Ketika berita itu muncul di web yang kubaca, Nyi Laras langsung mbesengut. ๐Ÿ™ Aku sih mesem-mesem aja. Bukan mesam-mesem tanda setuju looh ๐Ÿ˜‰ Lah iya lah aku kan ga kenal siapa beliau juga.

Dengan gaya dosen menerangkan biologi akupun mulai nggedabus ke NyiLaras

+ “Seks memang tinggalane evolusi manusia dari sifat binatang. Itulah sebabnya nek aku weruh uwong kawin … maksudte nikah … karena mencegah zinah … aku masih bisa manthuk-mantuk, Nyi. Tapi kalau ada yang nikah lagi juga alasan takut zina … lah mnurutku wis ra mathuk maneh. Mestinya ono alasan liyane
Nek kawin bojo kedua alasan biologis kurang pas, nek alasane teologis yo ra masalah.

– “Alasan teologis piye to Kang ?” tanya, Nyi Laras?

Bentar, Crita dulu ya :

Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib.
Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.” (Jรขmi’ al-Ushรปl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

Nek diwaca ngono wae … iki ketoke nabi dewe ra seneng nek anake dimadu. (Kalau sekedar dibaca begitu saja seolah terlihat Nabipun tidak suka istrinya dimadu), tapi alasannya apa ?

Lah, kalau tahu sejarahnya bisa dipikirkan kemungkinan ada alasan yang berbeda :

Ini crita dari kawan lain mengenai akan dimadunya Fathimah adalah Hadis Sahih Muslim Bab 17. no.1654 , Ttg keutamaan Fathimah binti Rasulullah SAW isinya sbb:

“Diriwayatkan dari Al-Miswar bin Makhramah r.a., bahwa Ali bin Abi Thalib pernah melamar putri Abu Jahal ketika dia sudah beristri Fathimah binti Rasulullah SAW. Ketika hal itu didengar oleh Fathimah, dia datang kepada Nabi SAW, lalu mengatakan kepada beliau, “Sesungguhnya kaum Anda mengatakan bahwa Anda tidak memarahi putri putri Anda . Sekarang ini Ali akan menikahi putri Abu Jahal.” Kata Miswar: Kemudia Nabi SAW berdiri (untuk berpidato) dan aku mendengar beliau ketika beliau membaca Syahadat. Setelah itu beliau mengatakan ” Sesungguhnya aku telah mengawinkan Abul’Ash bin Rabi’, lalu dia memberitahuku dan membenarkanku. Sesungguhnya Fathimah binti Muhammad adalah darah dagingku , oleh karena itu aku tidak suka jika orang orang memfitnahnya. Demi Allah, sungguh tidak boleh dipertemukan (dimadu) selamanya antara putri Rasulullah SAW dengan putri musuh Allah oleh seorang suami.”

Kata Miswar: Maka Ali RA membatalkan lamarannya.

(Hadis ini juga diriwayatkan oleh Bukhari, no hadis 3729

Jadi kalau melihat hal di atas ada kemungkinan Rasulullah marah karena yg akan dinikahi Ali adalah seorang musyrikin, atau ada kemungkinan lain Rasulullah mengetahui bahwa Ali kemungkina besar tidak bisa berbuat adil. Hanya Allah yang tahu.

Jadi alasan nabi tidak diperbolehkannya karena anaknya akan dimadu dengan seorang musrykin (non muslim). Yang sebenarnya saya yakin Nabipun tahu nikah lagi itu jelas diperbolehkan. Dan saya juga ragu kalau Nabi meragukan takut tidak adilnya (Ali) suami dari anaknya ini.
Jadi, mnurutku kawin pertama karena takut mendekati zina itu adalah alasan biologis. OK lah . Tapi kalau nikah untuk istri kedua (dalam waktu sama) dengan alasan takut zina seperti Ulama Aceh disini, mnurutku pemahamannya kurang tepat dari sisi agama.

Kalau kawin kedua itu disebabkan alasan teologis … ini mungkin baru sunah nabi

– “Nyi laras langsung nyamber, “Lah nek kawin maneh karo wong sing luwih enom, kemungkinan alasan biologis, bukan teologis donk ?”
+ “Haiyak kok trus kebablasen ngelit niat orang sih ?”

Memang bagaimanapun laki-laki itu bisa saja dianggap lemah disitu. Walaupun tergantung cara pandangnya … Satu iku paling angel, Nyi. Sorri.

Lah yang lebih parah biasane soal ‘yang satu‘ itu merupakan ekses2 juga dari yang lain. Kebanyakan harta akan menyebabkan lari ke wanita. Deket dengan tahta (kekuasaan) juga dekat dengan ekses wanita kaya kasus anggota Dewan Porno Republik ini. Terus terang sampai aku dewe bingung seolah-olah terjadi pembenaran dalam zina kalau tidak ada yang lain, padahal itu menunjukkan sisi kebinatangannya manusia. Ya itu sih bukan manusiawi. Tetapi sisa-sisa kebinatangan wae.

Seks itu ibarat rasane koyo ngombe banyu putih.
“Lah nek “tuku” utawa jajan iku, ngombe banyu putih nganggo ember. Embere iso wae kebak penyakit reged, cedek karo binatang mau. Ya Ki ?”

Kalau sekedar seks untuk transaksi, itu seperti minum air putih pakai ember. Tentunya tidak higienis.
Mestine seks yang baik harus manusiawi … seolah ngombe banyu putih nganggo gelas khusus sing resik ndik mejo makan, sambil duduk dimeja makan ๐Ÿ™‚

Keduanya sama-sama menghilangkan rasa haus kan ?
Tapi harus diingat keduanya bisa berarti tidak benar dari sisi agama kalau tidak dilakukan dengan benar (nikah) ….. opomaneh pas poso, jadi batal deh !

Pssst … ada yang menarik kalau alasan statistik karena lebih banyak wanita, sehingga laki-laki sebaiknya menikahi lebih dari satu wanita nah statistik kependudukan di Indonesia itu, seperti ini :

usia 0-14 tahun: 28.8% (Laki-laki 35,995,919/wanita 34,749,582)
15-64 tahun: 65.8% (Laki-laki 80,796,794/wanita 80,754,238)
65 tahun dan lebih 5.4% (Laki-laki 5,737,473/wanita 7,418,733)

Artinya jumlah wanita lebih banyak itu untuk usia diatas 65 tahun !!!
Jadi silahkan ambil wanita2 yang usia diatas 65 tahun sebagai istri edua ketiga dan ke empat.
Kalau masih mau … salut !!

26 COMMENTS

  1. Sebenernya dari bapak ibu sekalian yang punya anak lebih dari satu merasa berbuat adil nggak sih pada anak2nya semua??? Kenapa yah kok anak2 sering merasa orangtuanya nggak berlaku adil??? Benarkah orangtua nggak bersikap adil???
    Saya rasa begitu juga yang dialami wanita, merasa tidak akan diperlakukan adil oleh suaminya jika dipoligami. Padahal kasusnya gak jauh beda loh ama anak2…
    Setahuku yang dimaksud berbuat adil itu jika membagi ke lebih dari satu orang. Kalau membaginya cuman kepada satu orang, sebenernya dibilang adil nggak sih?? kan pembaginya cuman satu…
    Hehehehehehe….
    Piss Ahh……..

  2. Rasulullah tidak melarang Ali berpoligami, akan tetapi melarang Ali menikah (lagi) dengan anak Abu Jahl, musuh Rasulullah. Penjelasannya:
    Kalangan antipoligami juga sering mengetengahkan hadits tentang larangan Rasulllah saw terhadap Ali berpoligami saat masih beristeri dengan puteri beliau, Fatimah ra. Mereka mengutip Hadits: Nabi saw marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad saw, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib ra. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah (kerabat Abu Jahl) meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka (anak Abu Jahl) dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku terlebih dahulu, Fatimah Bagian dari diriku, apa yang meragukan dirinya meragukan diriku, dan apa yang menyakiti hatinya menyakiti hatiku, aku sangat kwatir kalau-kalau hal itu mengganggu pikirannya (Jรขmi’ al-Ushรปl, juz XII, 162, Hadits: 9026).

    Penggunaan Hadits ini untuk melarang poligami ternyata tidak sesuai dengan latar-belakang pelarangan tersebut. Nabi saw melarang Ali ra menikah lagi karena hendak dinikahi Ali ra anak musuh Allah Swt, Abu Jahl. Menurut Rasulullah saw tidak layak menyandi putri utusan Allah dengan putri musuh Allah. Sehingga, letak pelarangan tersebut bukan pada poligaminya, namun lebih kepada person yang hendak dinikahi. Beliau sendiri juga menegaskan, tidak mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Hal ini dapat disimpulkan dari Hadits yang sama dari riwayat lain.

    Dalam riwayat al-Bukhari, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Fatimah adalah dari diriku dan aku khawatir agama akan terganggu. “Kemudian beliau menyebutkan perkawinan Bani Abdi Syams dan beliau menyanjung pergaulannya, “Dia bicara denganku dan mempercayaiku, dia berjanji padaku dan dia penuhi. Dan sungguh aku tidak mengharamkan yang halal dan tidak pula menghalalkan yang haram, akan tetapi, demi Allah, jangan sekali-kali bersatu putri Utusan Allah dengan putri musuh Allah.” (H.R. Bukhari)

  3. ini komentar tanpa dalil karena saya lebih senang berpikir logika berdasarkan ilmu yang ada ๐Ÿ™‚

    Ada beraneka ragam motivasi untuk melakukan poligami diantaranya syahwat, mengangkat status sosial wanita dan keadilan.

    Banyak yang melakukan poligami hanya dorongan nafsu belaka (tipe ini jelas lari dari “konteks”), Tetangga saya melakukan poligami untuk mengangkat status sosial wanita (janda memiliki banyak anak, gak cantik lagi), trus ada yang melakukan poligami lain dibibir lain dihati, katanya keadilan eh ternyata nafsu belaka (Ini tipe paling buruk).

    Kesimpulan saya pribadi:
    SEMUA AMAL DAN PERBUATAN ITU BERGANTUNG KEPADA NIAT.

    Dalil yang membolehkan “alquran”, disisi yang lain rasul melarang Ali berpoligami (Apakah hadist akan menjatuhkan aturan dalam alquran? TIDAK!)

    Bertentangankah?
    Tidak, Muhammad SAW adalah insan mulia , nabi terakhir dan suri tauladan bagi seluruh umat manusia.
    Semua yang dilakukannya pasti memiliki alasan yang kuat untuk tidak mengizinkan Ali berpoligami.

  4. Komentar Teungku Faisal di atas tidak salah, karena justru perselingkuhan dilakukan oleh orang-orang yang sudah punya isteri. Kita bisa lihat dari pola kehidupan di kota-kota besar, kalangan eksekutif, yang mereka sudah punya istri, tetapi masih juga suka kelayapan di luar.

    Yang ingin ditekankan oleh Teungku Faisal, ketua Rabithah Taliban Aceh, adalah jika pemerintah membuat atau memodifikasi perangkat hukum untuk membatasi poligami, pemerintah juga perlu merancang perangkat hukum dan sanksi untuk mereka yang berzina atau berselingkuh.

    Wassalam,
    Maratbek Rustambekov

  5. Bapakku berpoligini – maaf bukan poligami. Dari bahasa latin, pria yang berpasangan ganda disebut poligni dan wanita berpasangan ganda disebut poliandri.

    Sedihnya dengan bangga bapakku memamerkan istri barunya ke kawan2nya setelah ibuku baru seminggu keluar dari rumah sakit terkena kanker payudara.

    Hampir tiap malam aku menangis menyaksikan ibuku mengalami depresi. Aku tidak lagi bangga dengan bapakku dan tentu maluku tak terhingga menyaksikan tatapan tetangga.

    Bila ada yang ingin berpoligini atau berpoliandri, pikirkan secara mendalam, apapun pembenaran agama…akan ada orang yang tersakiti dan merasa dizolimi.

    Bagiku tindakan poligini ataupun poliandri adalah kejahatan moral.

  6. Saya kira cuma nafsu aja,kalau ingin Polygami baiknya ke pulau Bawean(Pulau Putri) aja.Di sana banyak wanita ditinggalkan Suaminya.Jadi jangan sama yang setiap hari bertemu,kalau saya sih tuh namanya selingkuh murni berdalih sunnah rasul.

  7. silakan polygami, namun harus konsekwen. Ntar kalo anak perempuannya ditembung orang buat dijadiin isteri kedua sampe keempat ya harus ikhlas…

    Mbah Dipo
    Pro Syareat Islam.. termasuk ‘kebolehan polygami’

  8. om udah ditimbali kalian tuan putri kangge pesen khusus ya ?

    sorone nek tuan tuan putri pada nuntut om-om untuk belajar berbagi ‘istri’, lhak mumet tenan :-))

  9. Aa Gym kawin lagi kok pada repot yah? Di kampungku di sleman sana, bukan hanya poligami yang dimainkan, ada juga poliplastik dan polijarik (itu yang netnya dibuat dari kain sehingga klub yang bertanding tidak bisa saling melihat).

  10. yang namanya “poli-poli” an itu emang suka mbikin pusing, mangkanya kalo ndak terpaksa banget ya jangan didekati, contohnya: politik, poligami, polisi, poliklinik, polio, polis asuransi, poliren (baca: piliren), dan poli poli yang laen.
    apalagi kalo dikombinasi, main politik sama poligami yang gak sah (selingkuh) trus digebukin sampe masuk poliklinik urusannya sampe polisi sehingga polis asuransi nggak mau mengcover bisa-bisa kena polio sampe poliren (baca: pileren) he…he…he….

  11. Weleh weleh weleh dimana-mana topiknya masih poligami yang di lakukan oleh dai kondang kita, sampe-sampe istri-istri di kampung saya pada curiga kalo suaminya mo pergi ke pengajian yang di takutkan mengikuti jejak sang dai kondang. jan blas ra mutu tenan kok….hehheheheh

  12. Pada saat yang sama ada contoh “poligami” yang jelas-jelas
    tidak sesuai yang dilakukan anggota DPR kita dgn penyanyi
    ndangdut. Ini petunjuk untuk kita bahwa ada poligami yang “baik”
    ada poligami “tidak sesuai”. Pilih mana????

  13. #6 Hi Nur
    Lah iya …. Islam ga akan luntur kok. “Islam” terlalu kuat kalau ditakutkan hilang dengan kasus beginian.

    #7 Dear Hedi
    Kadangkala emang gatel juga nulis yang berbeda dari biasanya. Asalkan jangan keterusan ya … ๐Ÿ˜€

  14. wah… skenarione Gusti Allah pancen hebat! Gusti Allah yen pengin ngajari menungso iku rasah kakean polah. Cukup ono kedadean sedikit heboh, ilmu langsung bertebaran di atas bumi. Gusti Allah yang tahu …

  15. Pakdhe, kyknya dosen2 juga pada ribut di kampuss. masuk milis san sini juga saya nemunya poligami dan poligami. Mendadak poligami deh! bahkan ada istilah NATO = No AaGym TehNinih Only. Jian! Bahkan dosen saya melakukan analisis atas maraknya bapak ibu yg ribut soal poligami.Hehe

    Dari pengamatan kami:
    1. bapak-bapak yang banyak diskusi tentang poligami, PASTI belum
    berpoligami
    2. Kalau sudah diam, ada 2 kemungkinan:
    a. sudah melaksanakan poligami, jadi biarkan anjing menggonggong
    kafilah tetap berlalu
    b. sudah sadar bahwa dirinya tidak mampu dan/atau tidak laku
    berpoligami

    Kekeke…

Leave a Reply