“Impact from the Deep” : Pandangan Baru Kepunahan Massal dalam Sejarah Bumi

26

Ancaman bumi biasanya diasosiasikan dengan pikiran kejatuhan meteor. Mengapa ? Dalam bahasa Inggris bencana diterjemahkan “disaster.” Kata ini aslinya dari kata Latin merupakan gabungan dari dua kata “dis” yang berarti “anti” (against) dan “astrum” yang berarti “bintang” (star). Jaman dahulu istilah “disastrum” dipakai untuk merujuk pada bencana yang diakibatkan oleh benda-benda yang jatuh dari langit. Ya mestinya “benda-benda yang jatuh dari langit” bukanlah hanya bintang, terutama meteor.

Pak Awang Harun Satyana, kawan saya yang tiap hari belepotan minyak (beliau kerja di BPMIGAS) ikutan menndongeng. Beliau cerita tentang ancaman kepunahan mahluk bumi yang asalnya dari dalam bumi sendiri, bukan dari meteor seperti diatas.

“Impact from the Deep”

by : Awang H Satyana

“Deep Impact” kita tahu adalah judul sebuah film terkenal yang menceritakan bagaimana sebuah komet/asteroid bisa memunahkan kehidupan di Bumi. Tetapi, “Impact from the Deep” adalah judul sebuah teori baru yang pada intinya menyatakan bahwa kepunahan masal justru datang dari Bumi sendiri.

Kepunahan massal (mass extinction) selalu menarik untuk dikaji. Telah cukup banyak buku dan artikel ilmiah ditulis untuk menampung argumen-argumen yang ada. Simposium khusus pun telah beberapa kali diadakan, terutama setelah teori Alvarez dikemukakan pada tahun 1980. Walter dan Luis Alvarez, pasangan anak-bapak (anaknya ahli geologi, bapaknya ahli fisika) mengemukakan teori bahwa dinosaurus punah pada Kapur Akhir 65 Ma (million years ago) akibat Bumi dihantam sebuah komet (deep impact). Teori ini kemudian terbukti benar karena banyak bukti fisik di lapangan ditemukan akibat benturan itu : a.l. (1) lapisan iridium ditemukan di mana-mana di seluruh dunia pada lapisan berumur 65 Ma (di Indonesia belum ada yang menelitinya), (2) impact debris, termasuk semua batuan dengan ciri petrografi pressure-shocked tersebar di seputar globe (3) kawah benturan (impact crater) berumur 65 Ma ditemukan terkubur di Semenanjung Yucatan Mexico yang disebut Kawah Chicxulub. Unsur Iridium langka ditemukan di Bumi, tetapi berlimpah di extra-terrestrial bodies seperti meteor, komet, dan asteroid. Berdasarkan lebar kawah Chicxulub, ditaksir komet/asteroid pemusnah kaum dinosaurus itu berdiameter 10 km.

impact-from-deep-1.JPGKarena kepunahan di K-T (Kapur-Tersier) boundary itu terbukti benar oleh extra-terrestrial impact, maka setiap periode kepunahan di Bumi selalu dihubungkan dengan hantaman komet/asteroid. David Raup, paleontologist penulis buku “Extinctions : Bad Genes or Bad Luck ? “ (terbit awal 1990an) menyatakan begitu, memang impacts selalu disalahkan sebagai penyebab major extinctions, penyebab lain mungkin ada, tetapi tak dominant. Apakah benar begitu ?

Paling tidak, di dalam 500 juta tahun terakhir ini bisa kita catat telah terjadi lima kali kepunahan massal yang besar : (1) pada 443 Ma (ujung Ordovisium), (2) pada 374 Ma (ujung Devon), (3) pada 251 Ma (ujung Perem), (4) pada 201 Ma (ujung Trias),dan (5) pada 65 Ma (ujung Kapur). Kepunahan pada 251 Ma (ujung Perem atau ujung Paleozoikum) adalah kepunahan terbesar yang menghapus 90 % penghuni lautan dan 70 % penghuni daratan bahkan sampai sekecil serangga pun. Kepunahan ujung Perem adalah “great dying” atau “the mother of mass extinctions” tulis Douglas Erwin di majalah Scientific American edisi Juli 1996. Apakah kepunahan Permian ini juga akibat asteroid impact ? Peter Ward, profesor biology-earth and space sciences dari University of Washington melaporkan penemuan baru tentang kepunahan masal terbesar di ujung Permian ini (Scientific American, Oktober 2006, p. 42-49).

Lima tahun lalu, sekelompok ahli geologi dan ahli kimia organik mulai mempelajari kondisi-kondisi lingkungan pada masa-masa kritis dalam sejarah Bumi. Pekerjaan mereka meliputi mengekstraksi residu zat kimia dari lapisan-lapisan berumur tertentu berusaha mencari fosil molekuler kimiawi yang dikenal sebagai biomarker yang ditinggalkan organisme yang telah punah. Karena kuatnya, suatu biomarker masih terawetkan di sedimen2 meskipun jazad organismenya telah lenyap meluruh. Analisis biomarker telah biasa dilakukan di petroleum geochemistry.

– ” 🙂 🙁 >?:”>:”.?” …. opo neh iki ?”

Biomarker ini merupakan kunci ke pengetahuan kondisi seperti apa yang terjadi di Bumi pada saat kehidupan suatu organisme berlangsung. Sampling dan penelitian telah dilakukan pada periode-periode kepunahan masal. Dan para ilmuwan tersebut mendapatkan kejutan bahwa data dari periode2 mass extinction selain pada periode K-T boundary, selalu menunjukkan kondisi lingkungan yang menunjukkan bahwa lautan2 purba telah beberapa kali berada pada kondisi kandungan oksigen yang sangat rendah (anoxia). Bersamaan dengan kondisi ini ditemukan biomarker dalam jumlah besar berupa green sulfur bacteria yang bisa melakukan fotosintesis. Pada zaman sekarang, bakteri sejenis itu ditemukan berupa green-purple sulfur bacteria di tempat2 dalam laut stagnant seperti Laut Hitam yang mengoksidasi H2S sebagai sumber energinya dan mengubahnya menjadi belerang. Gas H2S adalah gas beracun bagi banyak makhluk hidup. Kelimpahan bakteri ini pada periode2 kepunahan massal yang seperiode dengan turunnya kandungan oksigen secara ekstrim telah membuka wawasan baru tentang penyebab kepunahan masal.

+ ‘Kalau rada mumeth dengan istilah2 ini … hmm tunggu bentar nanti PakDhe cariin dongengan istilah-istilah ini ya  soalnya ini masih rada-rada teknis geologis …” 🙂

Para ilmuwan telah tahu bahwa pada setiap periode kepunahan masal level oksigen selaluimpact-from-deep-2.jpg lebih rendah daripada biasanya. Juga, mereka tahu bahwa banyak volkanisme terjadi pada setiap periode kepunahan masal – volkanisme adalah teori tandingan asteroid impact bagi kepunahan masal. Volkanisme bisa meningkatkan CO2 di atmosfer, mengurangi kadar oksigen, dan menyebabkan global warming. Tetapi, volkanisme dan berlimpahnya CO2 di atmosfer tak langsung menjelaskan punahnya banyak hewan laut pada ujung Permian juga punahnya tanaman darat, justru tanaman darat akan berlimpah dengan banyaknya CO2. Lalu, apa hubungan antara kelimpahan sulfur bacteria, depleted oxygen, volkanisme yang meningkat, global warming dan kepunahan masal ? Adakah kaitan satu dengan yang lainnya, bagaimana ?

Kuncinya ternyata ada di biomarker. Biomarker dari oceanic sediments berumur ujung Permian dan juga dari batuan Trias akhir menghasilkan bukti kimia tentang adanya suatu kelimpahan yang luar biasa bakteri pengkonsumsi H2S di lautan-lautan Permian dan ujung Trias. Karena mikroba ini hanya dapat hidup di lingkungan yang bebas oksigen (an-aerob) tetapi tetap membutuhkan cahaya Matahari untuk melakukan fotosintesis, keberadaan bakteri ini di suatu lapisan batuan Permian mengindikasikan bahwa lingkungan laut pada saat itu adalah juga suatu marker yang menunjukkan laut tanpa oksigen tetapi kaya H2S.

Di lautan-lautan sekarang, keterdapatan oksigen dan H2S terjadi dalam keadaan setimbang. H2S terdapat di tempat2 dalam di wilayah yang stagnan. Di kawasan H2S yang beracun ini hidup organisme pencinta H2S tetapi pembenci oksigen. Hal yang unik, karena sirkulasi air, oksigen berdifusi ke bawah, sedangkan H2S berdifusi ke atas, akhirnya lapisan oksigen dan lapisan H2S bertemu di tengah di suatu level yang disebut “chemocline” yang bisa setimbang, tetapi bisa juga terganggu.Gangguan atas batas chemocline ini bisa berakibat dahsyat dan inilah yang terjadi di ujung Permian yang menyebabkan kepunahan masal yang paling besar dalam episode sejarah Bumi.

– “Duh Pakdhe … Permian niku sinten ta ? Saya ok belum kenalan ya ?” 

Perhitungan oleh dua ahli geologi dari Pennsylvania State University : Lee Kump dan Mike Arthur menunjukkan apabila level oksigen drop di lautan, kondisinya akan sangat menguntungkan bakteri an-aerob dari tempat dalam, yang akan menghasilkan sejumlah besar gas H2S. Dalam perhitungannya, bila konsentrasi H2S lautdalam ini melampaui batas kritis selama periode oceanic anoxia (laut miskin oksigen), maka lapisan chemocline akan mengerucut ke atas (seperti gejala water coning) dan akhirnya semburan gas H2S beracun dari tempat dalam akan masuk ke atmosfer.

Studi Kump dan Arthur menujukkan bahwa pada penghujung Permian telah terjadi toxic H2S gas upwelling yang telah menyebabkan kepunahan di daratan dan lautan. Kemudian, model yang dibangun oleh Pavlov dari University of Arizona menunjukkan bahwa semburan H2S Permian ini telah merobek lapisan ozon Bumi pada Permian sehingga radiasi ultraviolet (UV) yang mematikan menerobos masuk membunuh setiap makhluk hidup di daratan dan lautan. Bukti terhadap model ini datang dari fosil spora berumur ujung Permian di Greenland, yang menunjukkan deformitas (perubahan bentuk) akibat exposure terhadap high level of UV.

Kump dan Arthur menghitung bahwa jumlah gas H2S yang memasuki atmosfer di ujung Permian itu 2000 kali lebih banyak daripada yang dierupsikan oleh semua gunungapi2 sekarang. Efek mematikan H2S meningkat seiring naiknya temperatur, bila pada saat yang sama terjadi greenhouse effect dan global warming, maka permusnahan akan semakin efektif ! Urutan model pemusnahan dengan cara ini adalah sebagai berikut : (1) kegiatan volkanik yang meningkat melepaskan CO2 dan metan ke atmosfer, (2) rapid global warming, (3) laut yang menghangat akan mengurangi daya serap oksigen dari atmosfer ke laut, (4) terjadi kekurangan oksigen – anoxia di lautan, (5) keadaan anoxia akan mengganggu kesetimbangan chemocline – chemocline yang semula datar menjadi mengerucut dengan kolom dissolved oxygen berkurang sedangkan dissolved H2S meningkat, terjadi H2S upwellling, (6) green & purple sulfur bacteria berlimpah sementara mahkluk lautan yang bernafas dengan oksigen musnah akibat hilangnya oksigen dan naiknya gas H2S yang beracun, (7) gas H2S yang menyembur membunuh makhluk daratan, (8) gas H2S naik terus ke atmosfer dan akhirnya merobek perisai ozon, (9) radiasi UV menerobos via celah di perisai ozon membunuh kehidupan di Bumi yang masih tersisa, (10) kepunahan masal.

– “Amppuun Dhe … niku nopo malih upwelling ?” 🙁 

Mekanisme pemusnahan kehidupan seperti di Permian dan Triassic telah terjadi, apakah kelak bisa terjadi lagi ? Kepunahan hebat pada ujung Permian terjadi pada saat kadar CO2 di atmosfer telah mencapai sekitar 3000 ppm, kadar CO2 di atmosfer kita sekarang berada pada 385 ppm. Apakah kita tidak perlu takut ? Tunggu dulu, kepunahan pada ujung Triassic terjadi pada saat CO2 di level 1000 ppm, dan CO2 kita sekarang meningkat 2-3 ppm setiap tahun. Bila dihitung secara linier peningkatan itu akan kita temukan bahwa pada tahun 2200 nanti kadar CO2 di atmosfer kita bisa mendekati 900 ppm –suatu kondisi yang sangat bisa mendorong keadaan stress anoxia di lautan dan rentetan efek2 mematikan berikutnya seperti ditulis di atas.

+ ” Sabar-sabar, nanti abis pulang dari konvensi IAGI di Pekanbaru, Pakdhe kasih contekan istilah2 ini. Tapi kalau mau ya coba dulu pakai gugle” 🙂
– “Hallah, maunya didongengin kok malah disuruh belajar”  🙁

The past is the key to the future. Bumi menyediakan catatan hariannya, semoga kita bisa arif membacanya buat kepentingan kehidupan masa mendatang.

Salam,
awang

26 COMMENTS

  1. `makanya kusarankan mulai sekarang, disiplin pada diri sendiri dulu aja…baru kemudian ke orang lain ditularkan. misalnya hemat energi, cinta lingkungan, mau berfikir untuk alam sekitar. Tak ada yang bisa menerka kapan kehancuran akan tiba,tapi dia pasti datang. Bersiap…Berupaya sekuat tenaga….dan…BERDOA. Pasti Selamet…Pasti. JanjiNya takkan pernah diingkari. Makasieh pakde….semoga pakde dan kita semuapun ada dalam lindungan Nya.Apa ga sebaiknya pakde bikin satu situs yang memuat informasi dari banyak pakar? dan jika diketahui perubahan iklim begitu mengkhawatirkan khan pakde bisa memberikan Early Warning ke kita-kita..yang nantinya bisa kita beritahukan kepada masyarakat yang buta akan informasi… semoga pakde bisa membuka dan merealisasikan adanya situs ini.

  2. Memikirkan Kehancuran Bumi Lumrah, karena kita memang hidup di Bumi. Tapi pemikiran akan datang nya Kehancuran kadang membuat orang mendahului kehendak yang maha Kuasa (ALLOH) dan itu termasuk Dosa Besar……………………………………………………………………………………………………………………………………..Innallaha Ma’asobirin jadilah orang2 yang sabar………………………………………

  3. I think the world will end if god want it!we can not do anything iF it trully happen!and u Mr.Bush u will be send to hell!!!!!!!!!!!!!u’re a murderer!!!!! I love U agnes monica……..

  4. kenapa pemanasan global bisa terjadi?
    rasanya sedih bangetzz lihat bumi kita tercinta mengalami kerusakan, terasa sedih dan penuh penyesalan kira-kira apa yang harus kita lakukan untuk ini ?akankah es yang berada di kutub akan mencair?hanya ada sisa pertanyaan yang belum tentu terjawab

    I LOVE EARTH

  5. Berita tentang masa depan (news from the future):

    56: Al-Waqiah :
    1. APABILA TERJADI KIAMAT .
    2. TIDAK SEORANGPUN DAPAT BERDUSTA TENTANG KEJADIANNYA .
    3, KEJADIAN ITU ) MERENDAHKAN ( SATU GOLONGAN ) DAN MENINGGALKAN ( GOLONGAN YANG LAIN ) .
    4, APABILA BUMI DIGONCANGKAN SEDAHSYAT – DAHSYATNYA .
    5, DAN GUNUNG – GUNUNG DIHANCURKAN LULUHKAN SEHANCUR – HANCURNYA .
    6, MAKA JADILAH DIA DEBU YANG BERTERBANGAN .

    101, Al-Qari`ah
    1. HARI KIAMAT ,
    2, APAKAH HARI KIAMAT ITU ?
    3, TAHUKAH KAMU APAKAH HARI KIAMAT ITU ?
    4, PADA HARI ITU MANUSIA ADALAH SEPERTI ANAI – ANAI YANG BERTEBARAN .
    5, DAN GUNUNG – GUNUNG ADALAH SEPERTI BULU YANG DIHAMBUR – HAMBURKAN .

    70, Al-Ma`arij
    8. PADA HARI KETIKA LANGIT MENJADI SEPERTI LULUHAN PERAK .
    9, DAN GUNUNG – GUNUNG MENJADI SEPERTI BULU ( YANG BERTERBANGAN ) .
    10, DAN TIDAK ADA SEORANG TEMAN AKRABPUN MENANYAKAN TEMANNYA .

    Inilah jawaban sebagian manusia:
    DAN BILA DIKATAKAN KEPADA MEREKA : JANGANLAH KAMU MEMBUAT KERUSAKAN DI MUKA BUMI. MEREKA MENJAWAB : SESUNGGUHNYA KAMI ORANG – ORANG YANG MEMBUAT PERBAIKAN (2:11, Al-Baqarah)
    12, INGATLAH , SESUNGGUHNYA MEREKA ITULAH ORANG – ORANG YANG MEMBUAT KERUSAKAN , TETAPI MEREKA TIDAK SADAR

    Believe it or not?
    Za

  6. yang jelas kita itu makhluk lemah. Menghuni planet yang memiliki banyak jalan untuk membuat kita mati massal.

    Amalan manusialah yang menjadi penentu segalanya. Sebab ketaatan manusia pada Sang Pencipta bisa membuat asbab kebinasaan menjadi asbab kejayaan.

    Ki Tamtomo Madipo-dipo

  7. Pade ku …mohon bantuannya nich tuk garap seminar ku pengin dengan judul korelasi al qur’an dengan ilmu kebumian barang kali pak dhe punya bahannya banyak dan bisa bantu saya dalam penyusunan dan kawan dalam menyelesaikan tugas …biar cepet rampung kuliah heeeeeee
    thanks

  8. Waddduh pipo njeblug …. Aku lagi di pekanbaru ikutan konvensi IAGI.

    Lah aku dapet crita dari anggota timnas yg kebetulan ikut acara ini.

    Kalau ditengok brita 2 hour lalu ada ambles 1 meter dalam sehari. Trus diikuti ambles 5m juga dalam sehari. Ambles 5 meter ini terkena jalan tol yg dibawahnya ada pipa gas. Akibatnya pipa patah gas terbakar, tanggul abrol .. Brolll. Lumpur panas mleber kemana-mana. Sehingga menelan 10 korban jiwa.
    Innalillahi wainna ilaihi rojiuun.

    Amblesan saya perkirakan maksimun 200 meter kalau melihat yg ada di lokasi sumur porong-1. Tetapi terjadi pelaaaaan dan luaaaama. Yg dikawatirkan memang penuruan mendadak (episodic).

    Krn ini akses hanya dr blackberry crita lengkap nanti kalau dah balik KL ya.

    Salam duka 🙁

  9. mas,pemerintah tu gila ato gmana si? kan uda taw pipa / logam yang kena panas lama2 bisa memuai… lha kok suplai gasnya g dimatikan. walopun ada factor of safetynya tapi namanya disain pipa gas kan bukan bwt kondisi seperti di porong. btw gara2 ledakan kemarin pengaruhnya thdp debit lumpur yang keluar gmana si? sy punya rumah di waru,klo liat bencana lumpur kya gini enaknya rmh sy dijual ato g y? he3x
    o ya ,kata dosen sy bapak Toufiq Rochim forget it sby

  10. Met Kenal pak Deeeeee …. sory baru ikutan (

    iya… tuh gimana yang Njebloegh kemaren?? ada Info?? kok mereka pada gak memperkirakan ada pipa gas di deket situ??

    Sorry ya Pak dhe, nanyanya malah ke sampeyan bukan pihak berwenang… abis Pak de tuh paling tuaaaa… eh taauuuu !!!

  11. Wah,….takut aku Pak Dhe’ ….opo maneh lek manungso sa’bumi podo ngentut bareng, nambah gas opo yo …Pak Dhe’…hehehehe kidding,….tapi menarik juga Pak Dhe teorinya, nambah wawasan, nambah elmu ben iso menang lek eyel2an karo konco kantor…hehehe, saiki yak opo cerita’ne sing njeblugh…nok porong Pak Dhe…….uaakeeh sing tewas lho….DanRamil’le 2 (kale)sekaligus).

  12. “Ancaman terbesar bagi bumi adalah bumi itu sendiri”
    …….dari film apa ya? aku lupa.
    Deep impact, Volcano,???????

    Halo pak Roficky, minta pendapatnya!

  13. Menarik sekali dongengnya tapi namanya manungso selalu ada uneg-uneg kan pakde? Nah uneg-uneg saya, kalo memang di bumi terjadi 5 kali kepunahan massal (salah satunya di ujung triassic), kenapa kok dinosaurus malah berkembang biak lebih banyak di akhir triassic dimana pada jaman itu banyak yang punah? Dinosaurus kan mengalami masa kejayaannya di jaman Jurassic dan punahnya di ujung Kapur? Apakah ini berarti H2S yang upswelling di ujung Triassic masih belom mampu membuat Dinosaurus punah?
    Ngomong2 kalo mau membaca artikel aslinya ada disini by Peter D. Ward (University of Washington)
    http://climatechangenews.blogspot.com/2006/10/impact-from-deep.html

  14. Wadduh kok trus aku ditunjuk2 nih … Ini tanggung jawab bersama kan.
    Jadi gimana kalau aku yang njawab kamu yabg nanggung …. Wupst 😀

    Sebenernya secara natural, saat ini yg kita manfaatkan memang carbon based energy. Miyak dan gas ini merupakan hydrocarbon, coal juga karbon. Bahkan makanan kita juga karbohidrat, kan. Jadi karbon based energy memang dipakai oleh semua mahluk hidup. Kalau tidak mau bermasalah dengan carbon based energy ya manfaatkan nuclear atau alternatip lain misal geothermal yang jumlah di indonesia ini memiliki 40 pct dari cadangan dunia itu …. Pripun ?

  15. Tambahan: yang perlu diwaspadai dan memiliki kontribusi yang cukup signifikan dalam kepunahan massal berikutnya justru oil company deh kayaknya… 🙂 nah loh, sampeyan harus ikutan tanggung jawab Pak Dhe…

  16. Ada dampak yang berbeda dari fenomena global warming. Di lintang tinggi katanya global warming justru akan mengakibatkan terjadinya “ice age” karena melemahnya transpor massa air hangat dari daerah tropis akibat melelehnya es di kutub yang menurunkan laju downwelling (massa air yg turun ke bawah permukaan) di sekitar Greenland. Sementara itu di daerah tropis, karena melemahnya arus termohalin (arus yg dibangkitkan oleh beda temperatur dan densitas), kemungkinan akan terjadi “overheating”. Kondisi ini selanjutnya akan meningkatkan laju evaporasi (penguapan) yang berdampak pada meningkatkan curah hujan.

    Berdasarkan fenomena itu, kondisi untuk terjadinya mekanisme seperti yang dijelaskan oleh Kump dan Arthur masih agak kurang jelas di sini. Untuk kondisi seperti saat ini, dimana aktivitas vulkanik tidak sebanyak jaman dahulu kala, saya kira input CO2 dan metan ke atmosfer tidak terlalu signifikan dan bisa diimbangi dengan diabsorpsi oleh hutan dan lautan, sehingga terjadi siklus carbon yang alamiah dimana jumlah karbon yang tidak diserap hutan dan lautan dan dilepas ke atmosfer tidak bertambah secara signifikan. Hanya saja saya sendiri tidak tahu, meningkatnya kegiatan vulkanik saat ini secara statistik seperti apa, karena yang saya tahu, dan juga sering didengung2kan akhir-akhir ini, justru penambahan CO2 dari kegiatan manusia (anthropogenic activities) lah yang berperan sangat besar dalam “mengganggu” siklus karbon alami yang ada dan meningkatkan jumlah karbon di atmosfer secara signifikan dalam 100 tahun terakhir.

    btw. menarik juga teorinya…

  17. Pak De, dalem namung saget mudeng 1% saja, yaitu bagian peringatan bahwa “The past is the key to the future. Bumi menyediakan catatan hariannya.” Sayangnya, catatan yang beginian sama sekali tidak bisa baca.

    Singkatnya, pak De harus benar-benar mengubahnya menjadi dongeng. Bukan sekadar “kasih contekan istilah2 (yang ada di s)ini”. Bersambung juga gak apa-apa. Dalem akan sabar mengaji.

    Terus, terhadap 10 langkah menuju kepunahan masal, dalem mencoba meraba, temtu dengan tergopoh-gopoh. Hasilnya “takut dan mengkirig; (hiiih iiiiihhh)”. Dengan menempatkan diri percaya pada teori (kepunahan masal yang) baru ini, dalem tanya: Apakah sekarang kita sudah di tingkat 2, atau baru tingkat 1. Terus berapa lama proses sampai tingkat 10?

    salam

  18. Weh hebat juga dan kebetulan saya pernah berfikir juga masalah ini dan sudah saya krimkan ke beberapa geolog tentang hipotesis bumi akan ganti kulit (mlungsungi seperti ular). Ini terjadi karena banyaknya bencana besar beberapa tahun terakhir ini yang berdampak sangat luas
    sehingga “albedo” dan emmisivitas permukaan bumi berubah. Albedo ini kemampuan atau daya serap sinar matahari, sedangkan emisivitas kemampuan pancar bahan. Albedo dan emisivitas yang
    sangat penting artinya dalam mengatur iklim bumi.
    Mungkin contoh akibat letusan gunung Merapi Yogya yang telah merubah areal sekitar puncak menjadi gersang. Ini akan merubah iklim lokal disitu. Contoh yang lebih jelas lagi ya bencana
    luapan lumpur sidoarjo yang akan merubah daerah porong dan sekitarnya dan mungkin akan
    menutup Selat madura dst dst sehingga iklim akan berubah secara dalam waktu yang cukup lama
    sehingga akan terjadi seleksi alam.
    Mungkinkah kita mencegah dan mengurangi dampak ini? Jelas jawabnya sangat mungkin yaitu
    dengan jalan manajemen bencana yaitu serangkaian kegiatan untuk mengurangi risiko dan
    jumlah korban yang dilakukan sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana. Artinya kita bisa
    buat pemodelan dan simulasi bila terjadi bencana serta pemodelan dan simulasi penanggulangan
    bencana tersebut.

    Salam
    AW

Leave a Reply