Palak … eh Pajak

16

Tadi aku ngobrol dengan kawan yang kebetulan bekerja di deloitte, konsultan perpalakan perpajakan yang di Indonesia. Banyak hal-hal yang menarik buat rekan-rekan di LN yang sampai saat ini tidak eh belum memilki NPWP Indonesia.

Obrolan ini karena niatanku memilki NPWP sendiri di Indonesia.
hehehe maunya Pak Dhe juga sok nasionalis, boleh kan ?

Kan skalian menyambut HARI PAHLAWAN

Tadi kawan saya ini (sebut saja Vika) crita dan akhirnya ngobrol sekalain dia bertanya tentang status palak pajak saya di Indonesia. Awalnya Vika bertanya tentang kepemilikan NPWP, ya tentusaja saya ndak punya karena kewajiban memilki NPWP itu gencar dan dimulai sejak 2001. Lah wektu itu aku sudah hengkang dari Indonesia ke Brunei … tentunya dengan pemikiran sederhana buat apa memilki NPWP. Bikin repottt !! dan malah menambah masalah iya kan ?

Sewaktu masih bekerja di Indonesia pajak dibayarkan lewat perusahaan … moga-moga emang dibayar beneran .. lah wong aku ngga punya npwp sendiri kok 🙁 Jadi selama di Indonesia dulu (sebelum 2001) aku pasrah saja, aku anggap aman dari pajak.

Selama di LN tentunya aku membayar pajak ke negara tempat aku bekerja. Walaupun aku kerja di Brunei-pun kebetulan aku bekerja atas nama perusahaan Ustrali (bodyshop), dan katanya yang punya usaha ini (bodyshop), akupun dipajekin sama Ustrali. Blaik ! ini aku ngga ngapa-ngapain kok Ustrali malah ngenai palak … lah soale emang aku ngga punya NPWP sih, prusahaan tetap saja ingin pegawenya bersih. Sedangkan di Brunei memang bebas palak pendapatan.

Di Malaysia aku juga membayar pajak pendapatan ke Negara Malaysia. Lah wong jelas di perusahaan perminyakan ini soal “tax” selalu diusahakan “comply” … atau boleh dibilang perusahaan ini selalu ingin taat pajak ! Jumlahnya emang ngaudubilah karena warga asing, aku sih yakin di Indonesia juga segitu-segitu jugak. Walaupun kalau ada kekurangan pasti pihak/petugas pajak Indonesia ngejar2.

Tetapi tadi Vika crita bagaimana perlunya memilki NPWP, Tentunya kepemilikan ini akan menguntungkan diri sendiri. Namun secara praktis, bukan teoritis looh ya … Kalau memang tidak akan balik lagi ke Indonesia ya uwis ndakusah punya NPWPpun skalian ngga apa-apa. Walaupun dia tidak menyarankan ngga punya NPWP atau ngga balik ke Indonesia tetapi diapun sadar dan sangat realistis sekali melihatnya . Emang sangat mungkin akan ada masalah nanti kalau balik ke Indoz. Walaupun ada juga kata “belum tentu” tetapi kalau sudah lebih yakin ndak bakalan balik, tentunya pilihan jatuh pada pemikiran yang lebih mungkin.

Potensial mengalami problem dengan pajak memang akan ada selama nantinya akan balik tinggal di Indonesia. Nah, gantian aku tanya. Kalau aku sekarang memulai mendaftarkan NPWP apakah nantinya ‘kisah‘ yang sejak 2001-2006 ini akan menjadi problem ? Walaupun aku mulai mendaftar untuk mulai tahun 2007 nanti ?

Vika menjawab lugas dan tegas “Wah Vika sih yakin, for the next after 2007 onward there will be no problem. But not sure about the past 2001-2006″.

Blaik !!! Aku trus mikir, lah kalau begitu…. mengapa aku harus kembali ke Indonesia kalau kembali malah dihadang problem palak ?

– “Pak Dhe katanya tadi mau nasionalis … mana, Dhe ?”
+ “Nasionalis itu apa sih, le ? Apa kalau sudah membayar pajak berarti sudah nasionalis, dan sebaliknya ngga membayar pajak berarti ngga nasionalis …
Mboh Ah !!

16 COMMENTS

  1. sebelum komentar tentang pajak, lebih baik kita mempelajari dulu kayaknya banyak jenis2 pajak
    1. Pajak Pusat ( PPh, PPN, PBB & BPHTB )
    nantinya PPh juga dibagi-bagi lagi ada PPh ps.21, PPh ps.22 PPh Ps.23 PPh Ps.25 PPh Ps.26 trus PPh Ps.22 dibagi bagi lagi, ada yang atas impor dll. PPh. ps 23 juga dibagi-bagi lagi atas jasa konstruksi, sewa, dll. untuk PPN juga begitu ada yang menggunakan SPT PPN pedagang eceran atau penghitungan PK PM = PK ( Pajak Keluaran ) PM ( Pajak Masukan
    2. Pajak daerah
    mis : Pajak penjualan, pajak galian c dll

    jadi menurut saya kalau ada yang protes tentang pajak langsung aja laporkan ke KPK jika perlu ( apabila menyangkut oknum ) namun apabila aturanny yang perlu diubah kita harus ke DPR bro…. ingat UUD kita ” segala jenis pajak diatur dengan undang2 “. ngomong2 ada yang tau ga UU Pajak Kita nih.
    UU PPN, UU PPh, UU KUP, UU PBB&BPHTB, UU Penagihan UU Bea Materai

  2. Luthfi Says:
    November 11th, 2006 at 5:18 adalah

    aku cuman mikir gini Om, kayaknya di Indonesia kita kena pajak berkali-kali. Misal gaji kan sudah kena pajek tuh, eh kalo beli pulsa, atau beli barang apa gitu, kan ada pajaknya juga. Kok pajeknya dobel2 tho? Kira2 apa penyebabnyakah?

    Bambang wrote : Mas Luthfi sebaiknya menanyakan langsung ke Kantor Pajak terdekat. Jenis2 pajak itu memang banyak, ada PPN, PPh.. adalagi Pajak Daerah ( kalo pas Mas makan di McDolnald or konkow di Hard Rock Cafe )… jadi memang Pajak itu banyak jenis dan rupanya.

    Minarwan Says:
    November 12th, 2006 at 8:00 adalah

    Dulu aku sengaja daptar NPWP dengan ikhlas, not a bid deal.
    Bambang wrote : Hanya maut yang akan memisahkan anda dengan NPWP anda itu Mas hahahahahaha…

  3. kasih sayang ku padanya sangat dalam. aku juga nggak tahu kenapa. yang jelas waktu bertemu di jalan gejayan beberapa tahun yang lalu, kusadari dari sorot matanya, dia sombong, sama sepertiku. tapi sebenarnya hati kami baik. pengalaman hidup saja yang membuat kami seolah angkuh. mulai sejak itu kupikir kami saudara senasip….. wis mboh lah, gitu pokoke.. ni dosenku dah masuk

  4. sori banget. ini nggak nyambung. tapi penting. he..he..he.. buat siapa saja yang menganggapku sahabat. aku cuma mau curhat n minta tolong kalo ada yang bisa. aku punya sahabat namanya Sakti Irawan. dia anak muntilan. lahir tanggal 1 oktober 1987. padanya aku berjanji datang bawa hadiah di hari ultahnya. tapi pas itu aku nggak tahu dia dimana. sahabatku itu aneh bin ajaib. kadang marah tanpa sebab. kadang telpon cuma m denger aku menyapanya dengan salam. sebenarnya aku bukan cuma sahabat melainkan juga neneknya, mengingat usiaku dah lanjut 🙂 oh ya, sampaikan juga tahun depan insyaAllah aku nikah dan ikut suamiku ke Palembang atau kalimantan, atau mungkin kenias. calon kakek ipar sakti irawan ini (alias calon suamiku) sangat jelek, miskin, bodo lagi, tapi sangat sayang dan imannya insyAllah kuat. sebagai nenek dan kakek, kami ingin sekali bertemu dengan Sakti Irawan, saudara tak sedarah namun sangat kami cintai. siapapun yang mengetahui keberadaannya, saya mohon sampaikan padanya. bahwa kami masih kakaknya atau kakek neneknya yang dulu. bagiku dia adalah rajawali kecilku. gunung boleh tinggi tapi tidak boleh menghancurkan bumi, kesulitan tidak boleh mengalahkan pahlawan. berjuanglah adikku sayang. semoga suatu hari nanti Allah SWT mempertemukan kita. “kini terasa sungguh, semakin engkau jauh semakin terasa dekat,…”
    sory, maapin arin buat siapa aja yang mbaca. ini lagi kuliah, dosennya belum dateng.

  5. aku belm pernah merasa mbayar pajak. enak ya jadi cewek, segala urusan babe yang atasi. nah kalo dah nikah ya suami yang majakin. jadi… mending semua rame2 pake rok saja, piye? asik to

  6. Mas, geoBlogi dah jadi belom ? ceritanya nagih janji neh…

    oh,ya mas, saya kan rencananya mo ikut field tripnya anak UNPAD ke daerah Bantarujeg, Majalengka minnggu depan.Saya cuama orang awam aja yg tertarik ama geologi,bisa ga mas kasih gambaran aja tentang daerah tsb,kalo bisa via japri aja mas.

    makasih
    Soorry nanyanya ga sesuai topik ini.

  7. Nasehat orang tua :
    Jika hidupmu ingin bahagia dan tentram maka jangan sekali-sekali berurusan dengan 3P, yakni :
    1. Penjahat ( Preman ) : –ntar korban kriminal
    2. Polisi : — Anda yang jadi Penjahatnya
    3. Petugas Pajak.: –yang rajin membayar maupun yg ngemplang pajak sama-sama dibuat susah.

  8. Di Indonesia….
    Gaji dipotong pajak penghasilan….
    punya rumah walaupun masih kredit waktu beli kena pajak, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan dan tiap tahun bayar pajak bumi bangunan…
    punya motor dan mobil (masih kredit juga :)..) waktu belinya kena pajak penjualan dan bea balik nama, tiap tahunnya masih harus bayar pajak kendaraan bermotor, itupun kena palak di kantor samsat…
    pasang listrik kena pajak penjualan, dan pajak penerangan jalan…
    bahkan pak walikota pernah mencetuskan ide pajak air bagi siapa saja yang pasang jet pump…. wadoooh!!!!
    tambah lagi pajak etc, etc dan etc…..
    masih dibilang juga kalo orang indonesia kurang kesadarannya untuk bayar pajak….
    lha wong mau bayar pajak aja malah dipalak je…
    neng monconegoro kepiye pakdhe??? pajeke mbiyayah nggak?? jadi kepingin jadi expatriat neehhh…

  9. Dulu aku sengaja daptar NPWP dengan ikhlas, not a bid deal. Sekarang pun sebagai mahasiswa aku masih mengisi SPT Tahunan. Baru-baru ini didenda Rp 100.000 karena telat setor, padahal dulu waktu masih bayar pajak telat setor SPT sampe 5 bulan enggak ada dendanya tuh.

    Enggak apa-apalah isi SPT, wong cuman nihil, nihil, nihil, nihilllllllllll dst.

    Yang susah itu kalo punya penghasilan sendiri, bukan dipotong perusahaan, hitung-hitungannya kan kadang njelimet, lah terus mo ingat berapa penghasilan kan enggak mudah, lantas juga mesti ada receipt (receit) bukti pemasukan toh, supaya enggak kalah gertak sama petugas palak eh pajak (misalnya begini:

    Akuntan Ditjen Pajak: Pak, ini perhitungannya sudah bener belum, ada buktinya enggak? Kalau tidak saya bisa tuntut lho, atau gini saja deh, sisanya untuk saya, enggak jadi saya tuntut.

    Wajib Pajak: Oh ada dong, ini buktinya, sampeyan mau malak saya? Saya laporkan ke KPK nanti, enak saja duit untuk negara bikin gedung SD kok sampeyan mau pake buat kawin 5 kali, kampret lu!!!).

    Di Aussie urusan pajak kayaknya enggak seseram di Indonesia lho. Enggak ada yang nggertak, nakut-nakutin untuk cari-cari kesalahan soale. Di sini pajak dihitung oleh konsultan pajak, asal ada tax invoice alias receiptnya, jika administrasinya rapi semuanya bisa dilakukan dengan mudah.

    Mau hitung pajakpun bisa dibantu oleh http://www.ato.gov.au
    Yah enggak detil sih tapi kira-kira berapa pajak yang harus dibayarkan jika penghasilannya misalnya AU$A/tahun.

    Untuk gaji AU$60,000/tahun pajaknya sekitar 25%-30%. Jadi kalau Mas Vicky mau bayar pajak ke Aussie, dengan penghasilan AU$100,000/tahun duit Mas Vicky bisa hilang 35%-40% hehehe….

    Tapi kalau Mas Vicky kredit rumah pertama, kredit mobil, dan punya perusahaan sendiri dan ngeluarin expenses buat modal perusahaan Mas Vicky, ntar akan diberi pengurangan pajak sekian persen (enggak tahu berapa detilnya dan perhitungannya gimana). Dan tentu saja Mas Vicky akan mendapatkan Medicare, alias asuransi kesehatan dari pemerintah, jalannya rapi dan bagus, trotoarnya rapi, pepohonan di jalan terawat dengan baik, lubang di tengah jalan kayak dulu di depan KemChiks enggak ada, sampahnya diambil tiap seminggu sekali, dst.

    Kalo dipikir-pikir, bayar 25% pajak ke Indonesia sama bayar 25% ke Aussie kok rasanya beda yah 🙁

  10. kalau buat saya yg pendapatan totalnya setelah dihitung2 ternyata gak kena pajak alias NIHIL, NPWP itu bikin repot di tiap akhir tahun anggaran, waktu harus ngisi SPT (Surat PemberiTahuan) tahunan PPh dan mengembalikannya ke kantor pajak. masalahnya, ngisi SPT itu memang perlu waktu dan energi khusus.

  11. Luthfi,
    Di Indoz memang masih bermental palak. Jadi seolah-olah berpikir semakin banyak memeras ketimbang services.
    Sakjane sejak dulu ya ada. Dulu namanya upeti ke kerajaan, sekarang disebut pajak ke negara. Dana itu diperlukan oleh penyelenggara pemerintahan (penguasa)
    Tetapi jelas kita hidup ngga bisa lepas dengan hal ini. Lah mau hidup di bulan ?

  12. aku cuman mikir gini Om, kayaknya di Indonesia kita kena pajak berkali-kali. Misal gaji kan sudah kena pajek tuh, eh kalo beli pulsa, atau beli barang apa gitu, kan ada pajaknya juga. Kok pajeknya dobel2 tho? Kira2 apa penyebabnyakah?

  13. betewe NPWP itu apa pakde? lha kuli internet kayak saya ini perlu bayar pajak tidak pakde :D. Gedene sepiro yo, wah ra sido gajian malah due utang ro negoro kie 🙁

Leave a Reply