Is the oil BOOM over ? (4) – Milih kerja kontrak atau permanen ?

37

Min Says: October 29th, 2006 at 11:04 pm e
Jadi sebaiknya minta kontrak atau permanen, Mas Vicky?

Ini pertanyaan yang sering ditanyakan ketika “peluang kerja” sedang mengalami perubahan. Musim pancaroba dalam pasaran kerja selalu mengundang petanyaan ini terutama bagi pekerja serta HR diperusahaan.
Sebelumnya kita tengok dulu aja ya …. apa saja perbedaan antara permanent dengan kontrak ?

Bekerja kontrak atau permanen bisa dilihat dari beberapa sisi. Okay deh awalnya kita tengok dulu dari sisi “Job Security” aku terjemahkan bebas saja sebagai pengamanan kerja. Dan nantinya kita tengok dari kondisi saat ini, khususnya pekerja perminyakan. Tetapi sebelumnya harus diingat bahwa bekerja kontrak ini bisa dua macam, yang satu pekerja kontrak untuk low level workers (pekerja kasar) dan high level wokers (konsultan). Secara mudahnya konsultan biasanya bekerja di perusahaan dalam sistem kontrak waktu tertentu juga tetapi seringkali tidak tergabung dalam serikat pekerja. Dalam tulisan kali ini terutama untuk high level workers. Yang low level worker (blue collar) ini seringkali sudah bermuatan sangat politis, aku ndak nyampai untuk mikir kesana.

Pekerja kontrak high level ini gaji bulanannya, malah lebih besar dari pegawai tetap. Kalau menurut Bruce Crager, CEO (Inteq Engineering) semstinya yang status kontrak 1.5-2 kali itu. Berbeda dengan yang low level (blue collar) yang juga statusnya kontrak looh, tetapi gajinya malah dibawah yang pegawai permanen. Jelasnya soal tantangan yang high level itui baca tulisan disini sebelumnya.
Job Security

Sebenernya job sekurity ini tidak bisa dengan begitu saja dianggap kurang kalau sebagai kontraktor. Permasalahannya dimana kita mau menaruhnya. Kalo kita taruh di perusahaan sekalipun, maka kita mesti lihat apa iya kumpeni kita akan tetap survive dan eksist sampai akhir usia pensiunkita ? Aku jadi inget dulu (sekitar sepuluh tahun lalu) ketika seorang temen di CPI dan ARCO crita kalau CPI bisa menampungnya sampai pensiun. Namun kenyataannya belum genap 20 tahun sudah kerja ARCO sudah berganti pemilik, juga keduanya sudah membuat program pengurangan pegawai. Demikian juga Mobil, Vico dll.

profesi-1.gifLantas mengapa masih ingin permanen ?
Juga tentunya harus disadari adanya kenyataan, masih lebih banyak pekerja yang ingin bekerja sebagai permanen staff walaupun setelah resign (atau Kesepakatan pemutusah hubungan kerja MAT-Mutial Agreement Termination). Banyak diantara mereka yang menginginkan menjadi pegawai permanen lagi ditempat lain.
Namun kenyataannya banyak yang baru bekerja 2-3 tahun sudah kepingin berpindah lagi. Jadi, sebenarnya agak aneh juga untuk apa menjadi pegawai permanen, kalau toh akhirnya menjadi “belalang yang loncat mencari rumput hijau” ?

Bukan salah mereka, namun mereka (yg jadi belalang ini) banyak yang ngga sadar kalo dirinya sudah berubah ke tahap independent sekarang. Mereka masih mendua, padahal sudah merasa “memiliki” job sekuriti di otaknya, dan di dadanya juga, barangkali. Dan biasanya pada tahap ini keinginannya lebih banyak untuk hal-hal yang bersifat ‘kemandirian materi’. Nyari yg gajinya gede, kerjanya enak, ngga pernah dikejar2 tukang kredit lagi :).
Seorang manager HR tentunya sadar akan adanya perilaku pegawai-pwgawai sperti ini saat ini.

Apa enaknya jadi pegawe tetap ?
Nah, kalau anda memang saat ini masih sebagai pegawe permanen, tentunya bukan hal yang buruk, walaupun sedang musim orang berloncatan. Pegawai permanen yang dikejar mestinya posisi tertinggi diperusahaan, ntah sebagai MANAGER atau bahkan VP. Karena kedua posisi itu merupakan posisi tertinggi di permanen staff (walopun banyak juga terlihat di bbrp perusahaan posisi ini diduduki oleh “kontraktor“).

profesi-2.gifTentunya pegawai tetap harus memiliki visi sebagai the driver not the engine, perlu memiliki managerial skill. Berbeda dengan temennya yg jadi kontraktor, sebagai mesin, yg memerlukan technical skill yg lebih dibanding manarial skill.

Jadi dalam soal ini tergantung diman anda menaruh pengaman kerja anda. mau ditaruh di depan pintu (perusahaan) sebagai pegawai tetap atau di pundak sendiri (own risk) sebagai kontraktor ?

– “Untuk kondisi saat ini bagaimana, Pak Dhe ?”
+ “Kalau Pakdhe sebagai pekerja, saat ini yang tepat memilih untuk longterm contract atau permanen
– “Alasane nopo, Dhe ?”

Pilih saja “Longterm contract or permanent” Why ?

oilpricelast5years.jpgAda beberapa alasan yang mungkin dapat dipakai adalah: saat turunnya harga jual crude, kalau berlangsung cukup lama, maka setiap perusahaan minyak akan cenderung menahan pegawai tetapnya dan memutuskan pegawai kontraknya. Karena memutus ‘pegawai tetap’ akan memakan biaya dan dampak bisnis (kesan politis) yang seringkali kurang bagus. Berita-berita yang menyusul beberapa hari belakangan ini menunjukkan bahwa keengganan BIG PLAYER untuk “bermain“. Statement mereka dengan keluhannya tentang kesulitan akses ke sumber daya ini, serta kenyataan pernyataan mereka yang hanya mendapat untung kecil dari sisi EP mungkin menyebabkan permintaan pegawai EP menyusut dalam setahun atau dua tahun mendatang.

Coba tengok grafik diatas itu. Kalau dilihat bentuk gejolak sebagai sebuah pulse, maka pulse kali ini akan berupa pulse dengan amplitude serta panjang gelombang yang semakin besar. Fluktuasi dalam satu kali gejolak periodanya semakin panjang kan ? Saya perkirakan (interpretasi dan intuisi) impactnya barangkali akan cukup panjang. Ini cuman gathuk-gathuk looh, aku ya ndak ngerti model prediksi harga yang paling canggih, wong prediksi ini selalu saja salah kok πŸ™ Hanya saja coba perhatikan besarnya penurunan harga crude beberapa pekan terakhir ini. Dimana harga sudah merosot dibawah harga terendah selama fluktuasi naik kemarin. Penurunan yang sangat signifikan dalam beberapa pekan kemarin ini sangat mungkin merupakan indikasi bahwa ‘oil boom is over‘. Prediksi bisa bermacam-macam salah satu dari Indonesia tersiar kabar di detik.com. Prediksi ini skali lagi kemungkinan juga salah, tetapi hampir semua bulan ini memperkirakan harga minyak mentah akan menurun akibat Negara-negara OPEC akan meningkatkan produksinya. Ingat ambisiusnya ARAMCO dalam tulisan sebelumnya.

Apakah OPEC akan mampu mempengaruhi harga kali ini. Walaupun beberapa tahun kemarin OPEC tidak berkutik mengontrol harga tetapi kali ini mungkin saja, mengapa ? Coba simak yang ditulis rekan saya Benny yang bekerja di OPEC :

quote —Dari sisi produksi, NOC kontribusinya 50%, “others” 36%, super majors ini “cuma” 14%. Dilihat dari reserves, super majors cuma punya akses 4%, NOC sekitar 71% dan sisanya “others”. (sumber: materi oxford energy seminar 2006). — end

Okelah harga barangkali anjlok tapi tetapi apakah oil boom is over ini juga berlaku untuk workforce boom ?

The investor will need bussines as usual

Kalau saya melihat trend serta kecenderungan gejolak workforce adalah ketika munculnya bisnis yang tidak seperti biasanya. Ketika terjadi gejolak ekonomi entah gejolak harga maupun gejolak politis (perang), maka akan terjadi kondisi yang uncontrolable. Kondisi ini sangat tidak kondusif buat pemain besar (BIG PLAYER) sebut saja investor). Nah walaupun harga nantinya tetap diatas 60 USD/bbl (prediksi 2 tahun kedepan sekitar 50 USD/bbl, πŸ™‚ Tetapi kalau iklim investasinya “bussines as usual” maka posisi pekerja yang paling enak adalah sebagai pegawai permanen, karena dalam setahun dua tahun kedepan ini perusahaan akan cenderung menghire dengan iming-iming retention packages, bonus dll. Perusahaan akan cenderung mengontrak seseorang pekerja untuk longterm.

Pada saat harga minya cenderung naik, kontrak jangka pendek akan sangat menguntungkan pekerja, karena tahun berikutnya ketika perpanjangan kita dapat menawar atau minta gaji naik atau pindah ke perusahaan lain. Kalau harga sedang naik tetapi kontraknya jangka panjang, biasanya tidak ada negosisasi gaji sebelum kontrak ini habis. Lah kalau lima tahun kontrak tetapi gaji ngga naik juga kan kecuut !! Ketika harga turun supaya penghasilan juga tidak ikutan turun ya itulah saatnya mengambil/memilih kontrak jangka panjang atau permanen sekalian, karena pekerja permanen dimanapun ngga pernah (suangat jarang) gajinya diturunkan.

Jadi kalau dalam bulan-bulan mendatang ada tawaran bekerja, akan lebih menguntungkan apabila memilih longterm contract (more than 2 years) atau permanent. Hanya saja itung-itungan tiga komponen utama harus pas (1. remunerasi/gaji, 2. working environment, dan 3. career oportunity)

pssst perkara nanti setelah dua tahun lagi kondisinya berubah kita (sebagai pekerja) toh bisa hengkang lagi … Husst ! πŸ™‚

Bacaan terkait

37 COMMENTS

  1. Intinya enak permanen klo kerja di perusahaan besar, klo tidak lebih baik Freelance..tapi Freelance di luar negeri jadi lebih dihargai, saya sudah 8thn kerja sebagai consultan..4th pertama sebagai permanen di indonesia, dan memang kerja di persh base indonesia kurang di hargain . begitu freeleance terutama di luar negeri saya bisa dpt 650$/day.. memang kerja ta tentu kandang bisa 2 bln ta pulang.. tapi setidaknya dengan 160hr kerja/thn rasa secure akan masa depan sudah dpt dirasakan..
    walaupun masih ada keinginan untuk bisa kerja di si O/G company..
    Tapi sekarang kondisi kesempatan kerja sedang turun banyak teman2 freelance yang susah dapat job..jadi pilih permanen apa freelance tergantung masing2 dah… he…he

  2. Iya,
    untuk career prefessional udah pernah dibahas ama pakdhe. Yg mengenai beda jenjang karier struktural ama professional itu…. πŸ™‚

    Cuman menarik dan gak sabar nih untuk mbaca kelanjutan dongengan pakdhe yg berikutnya mgnai masalah “career development” dan “Work environment” itu. πŸ˜€ [agar dongengan pakdhe mgnai career professional yg kemarin lebih sedeep lagi gitu πŸ™‚ ]

    Request dongengan ya pakdhe kalo nggak keberatan ;D

  3. Pakdhe Rovicky,
    Tulisannya bagus banget :). Kalau saya alhamdulillah, sudah kerja di O&G company sebagai permanet employee namun experience belum nyampe 5 tahun. [freshgrad saya langsung ketrima di O&G Company alhamdulillah. Lewat masa contract diangkat permanent]

    Mau tanya, standart bahwa suatu company itu lebih baik dibandingkan yg previous itu apa ya?? [kalau remuneration kan jelas]. Apa itu tergantung kepada masing-masing individu??

    Mau coba-coba merencanakan masa depan nih ceritanya hehe πŸ˜‰

    –> Wah “career development” dan “Work environment” nanti jadi dongeng sendiri … kalau soal career profesional udah disini kaan ? http://rovicky.wordpress.com/2008/09/08/jenjang-karier-pekerja-profesional/

  4. Pagi Pak Rovicky,

    Saat ini saya bekerja sebagai karywan permanet di sebuah anak perusahaan BUMN yg bergerak dibidang oil&gas selama 4 tahun, sekarang ini saya mendapat tawaran kerja disebuah perusahaan supplier sekaligus service untuk oil&gas company dengan status contract… mohon penjelasannya pak?

    terimakasih

    –> Azza, Pindah perusahaan itu selalu ada beberapa alasan yang bisa dipakai sebagai petunjuk atau clue dalam memilih. Misal gaji dan remunerasi, potensi perkembangan karier, atau lainnya. Kalau gaji ini lebih mudah ngeliatnya. Katakanlah anda utamanya mikir gaji dan mentargetkan akan 5 tahun di perusahaan yang baru, dihitung saja kira-kira berapa yang anda peroleh setelah lima tahun di perusahaan lama dan yang baru. Apakah jumlah uang di perusahaan baru lebih besar ? Kalau iya dan memang gaji menjadi tujuan utama ya ‘go-head’ silakan saja. Kalau perusahaan kedua perusahaan lebih kecil sehingga anada mendapat posisi tinggi (kunci) dan itu yang anda inginkan ya silahkan diambil. Atau bisa jadi karena alasan lain misal deket rumah dan karena saat-saat ini anda harus mengantar anak2 sekolah dll.

    Alasan yang paling bagus, biasanya, adalah adanya kesempatan untuk mengembangkan karier. Kenapa ? Karena dengan adanya “harapan” perkembangan karier ini seringkjali memacu dan memicu semangat kerja yang berujung pada performance kerja yang lebih baik.

  5. Siang Pak Rovicky,

    sy mo ngikut nimbrung nih, mangsud saya nanya deh. sy sekarang dah kerja 3 bulan di satu PT. yang nantinya sy jadi karyawan permanen, sebelumnya sy dah kerja 10 tahun di pabrik, alasan pindah.. bisalah carrierna mandek alias mentok, lah wong dah 10 tahun kok masih gitu-gitu aja. nah sekarang sy dapat tawaran kerja lagi yg gajina 2 x lipat, tatapi dengan term sebagai karyawan kontrak 2 tahun, dengna fasilitas yg lebih baik dari dari PT. yg sekarang, gimana ya Pak Rov, sy jadi bingung mo nentukin pilihan??

    Thanks

    –> Kang Ipin, Kalau boleh saran nih ya … πŸ™‚ Anda mengalami nasib seperti saya tujuh tahun lalu. Sudah permanen 13 tahun (walau karir ngga mandeg sih), tapi trus ditawari kerja kontrak. Tawaran ke aku dulu malah cuman untuk 6 bulanan, bisa diperpanjang dengan gaji berkali-kali, lebih banyak pokoke :). Sebagai konsultan harian. Wektu itu saya ambil aja kontrak, dimana aku berpikir dalam dua tahun nanti itu “no body know”. Saya hany aniat pingin “membuka wawasan baru”. Dalam dua kali kontrak saya menemukan sebuah semangat baru dan “berbeda” dari sebelumnya.
    Nah kalau menilik pengalaman pribadi saya, sepertinya Kang Ipin yang sudah 10 tahun ternyata juga telah terbuka minda-nya, “open mind”. Bahwa dunia kerja itu beragam.

    Bagaimana kalau baru 3 bulan ? Coba pikirkan masak-masak sebelum pindah yang kedua. Kalau memang signifikan potensial serta oportunitynya ya ga papa. Tetapi saran saya …. resign dengan baik-baik ‘as professional worker’.

  6. pak saya kesulitan cari kerja…..
    apa yang salah dengan diri saya….
    saya bisa beberapa keahlian…..
    termasuk komputer dan bahasa inggriss….

    –> Mencari kerja merupakan seni tersendiri dalam hidup. Mirip mencari jodoh. Perusahaan seringkali mencari orang cocok. Tidak harus yang pinter bangget atau hebat bangget. Kecocokan seringkali lebih dipentingkan oleh pemberi kerja. Itulah sebabnya kita (pencari jodoh … eh pencari kerja) harus panda berdandan rapi supaya menarik. Persis kayak cari pacar. Misal ketika interview dengan baju yang pantes, terlihat riang … kalau kata thukul berwajah kaget ! Cheers ! Happy hunting ….

  7. anu dhe..ane pindah2 terus jadi kutu mlumpat..pertama di pabrik kertas..trus pabrik logam..karena di pabrik ndak bisa berkembang kerjanya cuman tengak-tenguk ngawasi pekerja (supervisor) lama2 bosen dhe..trus pindah neng EPC oil n gas..disitu masih junior engineer dhe belum setaun..jan-jane ane tambah pinter dhe neng EPC tapi pas ono lowongan PNS ane dikon babe ikut PNS..yo tak coba weleh ternyata lolos dhe..lha terus dadi bingung?..jare teman2ku neng EPC kon ambil coba dulu cari suasana lain..tapi si bos nyaranin kalau bisa tetap di EPC nanti pengalaman lapangan banyak dan kemungkinan pindah oil kumpeni besar dan pendapatan unlimited mudah didapat..tapi yen tak liat kemungkinan untuk S2 lebih besar di BATAN dhe..tur entuk-e yo BATAN jogja..isih soh ngirit..bingunge yo kui dhe..pingine neng oil company tapi mesti perang ro babe..tur yo dideadline batas pemberkasan-e..yen neng BATAN diikat 4 taun dhe yen metu dendo 10 juta..po diambil S2 ne terus kabur dadi konsultan pie dhe..apik ra?oya mo tau info aja kui PLTN dadi sido dibangun tahun 2016 ra to dhe?bulno mengko rasido.suwun dhe nasehat-e..aku tak sing sregep maning kerjone

  8. Ali,
    Btw, pengalaman kerja anda brapa tahun sih ?
    Kalau masih ditrima kerja di BATAN asumsi saya anda sekitar 5 tahun kerja. Memang 5 tahun kerja pertama biasannya emang masih belum sreg dengan pekerjaan apapun. Termasuk saya dulu juga πŸ™‚

    Yang sebenernya lebih penting mnurutku adalah dimana anda dapat melihat peluang untuk maju, silahkan pilih yang itu. Bekerja di BATAN jangan berpikir anda bisa nyatai disana. Kalau pingin nyantai jangan di BATAN-lah … aku ngga rela kalau ada orang di BATAN nyantai aja kerjanya πŸ˜›

    Kalau yang dicari ketentraman ya mnurutku ketentraman juga tidak sekedar jaminan masa depan, selain pendapatan perbulan. Syapa bilang kerja sebagai PNS di departemen pasti bisa sampai pensiun ?
    Tengok Departemen Penerangan dan Transmigrasi yang sudah dilikuidasi. Pegawainya juga diberi pesangon setelah dibubarkan. Demikian juga perminyakan syapa sangka ARCO atau CALTEX masih jaya, kenyataannya mereka mengurangi pegawainya lebih dari 50% setelah beroperasi 20 tahun !!

    Jadi kalau soal kepastian ga ada jaminan kerja dimanapun. Tetapi saya hanya menyarankan, “Pilih yang terbaik pada saat diputuskan !!” Kalau toh anda nanti berpindah bukan berarti keputusan masa lalu salah, tetapi kondisi berubah keputusan berubah itu wajar. Intinya skalilagi PILIH YANG TERBAIK SAAT ITU !

  9. Halo pak rovik. ane ada masalah.. saat ini ane kerja di EPC oil and gas, tapi saat ini ane juga keterima PNS di BATAN…ane harus gimana nih..kalau cari uang emang di oil campany tempatnya…kalau cari tentram hati emang PNS..tapi kalau tentram hati sedang materi tidak tentram lama-lama jadi ga tentram semuanya…tolong dibantu yah..yah..thanks

  10. Aku rada ga mudeng sah dari sisi apa nih ? Aku bukan ahli hukum perburuhan jadi rada tulalit soal ini. Hanya saja yang saya selalu lakukan adalah kesepakatan atau kontrak kerja itulah yang menjadi acuan utama. Karena mnurutku kedudukan surat kontrak itu yg paling utama.

    Jadi kalau memang di surat perjanjian kerja menyebutkan ya saya kira sah-sah saja.

    Training bukan hanya untuk karywan kontrak juga bukan untuk yg percobaan. Training atau pelatihan diperlukan utk segala jenis karyawan. Bahkan managerpun masih perlu training.

    memang ada beberapa perusahaan memberlakukan masa percobaan sbelum dipermanenkan (masa probation). Statusnya ada yg menganggap seperti pegawe kontrak. Waktunya bervariasi tergantung surat perjanjiannya saja, tiap perusahaan bisa beda2.

  11. Pagi Pak Rovicky..saya mau tanya ke Bapak. Kalau karyawan kontrak yang melewati masa training itu sah nggak ya? Apa training buat karyawan kontrak itu termasuk masa percobaan? Tolong dijawab selengkap-lengkapnya..

    Trim’s

  12. Rovicky, kok ndak ada yg bahas ttg kerja wiraswasta yah ?!

    Nanti kalo sudah dibahas kan judulnya bakal beda : Milih kerja kontrak atau permanent atau wiraswasta?

    hehehe…

    makasiy…

  13. Jawab satu2 ya
    1. Working time (berapa jam sehari). Saya dengar di onshore dan offshore ada perbedaan periode kerja.
    – Rata-rata pekerja kantor yang 8 jam sehari. Utk lapangan jarena operasinya 24 jam maka ada diantara mereka bekerja 12 jam sehari (shif siang malam).

    2. Period of rest-nya (berapa kali dan berapa jam per hari)
    – Di kantor rest sekali wektu lunch. di lapangan biasanya istirahat siang dan juga ketika sebelum pergantian shift.

    3. Overtime (sering dan gimana OT moneynya?)
    – Beda2 menghitungnya. Ada perusahaan yg menghitung untuk orang lapangan dan kantor berbeda perjamnya. Karena perbedaan actual jam kerja. Seringkali OT hanya untuk non-staff.

    4. Holidaynya kapan?? (kalau kerja di off dan on bisa lebaran ga ya??)
    – Utk pekerja lapangan (offshore) ada yang berjadwal 2-2 (artinya 2 minggu on 2 minggu off) ada yang 3-2. ada pula yang 1-1. Lebaran ya bisa saja, kan lebaran ngga harus di kampung. Aku juga pernah berlebaran dilapangan :P.

    5. Ada shift pattern enggak Pak?
    – Ada seperti yg saya tulis diatas. Di pertambangan ada yg shiftnya 6-2, karen daerahnya sangat remote (susah dijangkau)

    6. Apakah ada rotasi wajib untuk pekerja onshore ke offshore, atau berdasar kebutuhan?
    – Pada waktu hire biasanya dikasih tahu nantinya bekerja di lapangan atau dikantor. Setelah kerja bisa juga di mutasi
    – Utk pekerja kantor seringkali ke lapangan juga tetapi sesuai kebutuhan.

  14. Halo Pak Rovicky

    Apa kabar? Lama saya tidak “berkonsultasi” dengan panjengengan. Sekarang boleh ya.
    Pak saya sedang nulis paper tentang kondisi kerja di perusahaan minyak. Cuman sayangnya suliiiiiiiitt..sekali untuk mendapat info tertulis tentang waktu kerja khususnya di bagian ekplorasi dan eksploitasi.
    Apakah Pak Rovicky bisa menolong saya mengatasi kelangkaan informasi ttg waktu kerja di perusahaan minyak, dalam hal:
    1. Working time (berapa jam sehari). Saya dengar di onshore dan offshore ada perbedaan periode kerja.
    2. Period of rest-nya (berapa kali dan berapa jam per hari)
    3. Overtime (sering dan gimana OT moneynya?)
    4. Holidaynya kapan?? (kalau kerja di off dan on bisa lebaran ga ya??)
    5. Ada shift pattern enggak Pak?
    6. Apakah ada rotasi wajib untuk pekerja onshore ke offshore, atau berdasar kebutuhan?

    Banyak sekali pertanyaan saya ya Pak. Maturnuwun sekali atas informasinya.

    Salam, Ratih

  15. Hi Ratih,
    Working condition di perusahaan minyak secara umum enak dan enak bangget πŸ˜€ ini terutama perusahaan oil and gas yang menjadi operator (Shell, Exxon, Medco, Salamander, Hess dll) dikenal dengan oil company
    Ada juga perusahaan minyak yg bersifat pelayanan disebut “oil services” (Halliburton, Corelab, Schlumberger, Baker-Atlas, CGG dll)
    Juga ada supplier, yang sering ndobel menjadi services (Teleco, dll)

    Perusahaan services/supplier kebanyakan bertugas di lapangan. Nah disini tentunya kondisi fisik menjadi penting banget. Tidak semua suka dengan pekerjaan lapangan yg belepotan minyak dan tanah.

    Soal tingkat dan jabatan kalau di oil co saat ini kebanyakan dengan “broad band” sehigga jenjangnya sedikit.
    misal
    – (Jr Geologist)
    – Geologist
    – Sr Geologist
    – Staff Geologist/Chief Geologist
    – Mgr Geology * – Geological Advisor
    – Mgr Exploration * – Sr Geological Advisor
    – VP
    – GM

    Manager keatas sifatnya struktural. Tetapi banyak yg memilih jenjang profesi ke advisor (spt aku πŸ™‚ )

  16. Selamat sore Pak Rovicky,
    Ternyata asik juga ya web-nya Bapak, cerita dan pengetahuannya macam-macam. Pak Rovicky saya mau tanya lagi seputar dunia kerja di sektor minyak. Secara umum tingkat jabatan di perusahaan minyak itu ada berapa ya pak? Dan sistem upah atau tingkat upahnya berkaitan dengan tingkat jabatan tersebut?
    Pak Rovicky pernah cerita kalau mau kerja di perusahaan minyak kita kudu timbang-timbang working conditions-nya.
    Gimana sih working conditions perusahaan-perusahaan minyak di Indonesia itu?

    Maturnuwun dan PF dengan “ensiklopedi on line” -nya!!!

    Salam, Ratih

  17. Setahu saya (berdasarkan cerita langsung dari rekan2 yg mengalami) biasanya orang dari oil services company berusaha cari kesempatan utk pindah ke oil kumpeni. Alasannya biasanya job security termasuk benefit2 yg didapat di oil kumpeni terutama medical benefit yang biasanya ditanggung 100% oleh perusahaan.

    Gimana kalau kita udah di oil kumpeni yang suasana kerja cukup enak dlm arti hubungan antar peers/colleague baik (gak sikut2an, main fitnah dsb) malah kompak kayak temen, tapi terjadi krisis kepemimpinan di dalam yg merembet akibatnya ke banyak hal, ujung2nya bikin orang kerja gak hepi lagi (merasa nggak berkembang, para subordinate lost trust to the bosses, dsb).

    Sudah pernah diusahakan mengatasi permasalahan ketidak-hepian kerja dengan meminta rotasi ke departemen lain, tapi ujung2nya boss nggak ngasih. Alasannya, nggak ada orang yg bisa menggantikan! Alasan macam apa itu? Tapi ya kalo boss nggak ngasih, nggak bisa lah kita ‘ngeloyor’ begitu aja. Departemen yg dituju pun walaupun udah mau merekrut kita, pasti nggak mau melangkahi boss kita kan. Bener2 ‘dikekep’ di keteknya, tapi kesulitan, ide2 dsb nggak diperhatikan, dibantu maupun didukung.

    Lalu mulailah ‘tebar pesona’, sehingga datang tawaran dari kumpeni lain dgn tantangan baru di depan mata, janji pengembangan yang baik, benefit cukup bagus (terutama medical tetap 100%) tapi ternyata mereka mau ngontrak dulu 1 tahun. Nah, bingung deh…

    Selain itu saya ‘dicekoki’ warning dari teman2 yg pengalaman di beberapa oil kumpeni tentang suasana kerja yang sarat dengan sikut2an & injak2an. Saya ingin pindah untuk cari tantangan baru dan suasana kerja yg lebih hepi, apa nggak bakal kecewa & nyesal kalau ‘tercemplung’ ke suasana yang sama buruknya atau lebih parah? Sementara status saya kontrak 1 thn, saya nggak bisa cuti sebelum mencapai 1 thn, jumlah hari cuti saya berkurang banyak, service year saya ter-reset lagi ke angka nol,…dst.

    Meanwhile, hadir seorang boss baru di departemen, yang kelihatannya ingin merombak & memperbaiki keadaan yg rusak ini. Saya coba mengatakan kepada boss baru apa yg saya inginkan & harapkan. Tapi, melakukan perubahan itu nggak gampang & nggak sebentar. Apakah saya harus bersabar lagi entah berapa lama menunggu sesuatu yg entah apa (nggak jelas)?

    Sebaiknya gimana yah pak? boleh minta masukan?

  18. mantab juga tulisannya..
    sudah ada lom bahas.. mending kerja sbg service oil company apa di oil companynya itu?

    mantan srvc co jd company man.. hehe..
    loncat2x boleh ajha.. tp jaminan jg harus jelas juga πŸ˜€

  19. salam kenal pak Rov,

    tulisan2nya amat bagus n informatif ga mboseni gitu loh…
    sy jg kerja di prsh minyak tapi cuman kebagian ngelap2 komputernya ajah πŸ˜€

  20. Dony
    Kalau Fresh grad mnurutku lebih enakan diawali bekerja di persh besar, karena biasanya program trainingnya cukup lengkap dan terstruktur.
    Kalau sudah berpengalaman lebih dari 5 tahun, bekerja di persh besar pasti akan merasa susah naik keatas, persaingan sangat ketat, kalau ingin menduduki jabatan struktural sering terkendala oleh jumlah posisi yang terbatas. Namun kalau memang lebih berminat pada jenjang teknikal, maka menimba pengalaman serta memilih jenjang spesialis di persh besar akan sangat menguntungkan juga.

    Kalau di perusahaan kecil, maka akan lebih banyak pengalaman dengan berbagai sisi. Kalau di perminyakan bisa beralih jalur dari developmen ke exploration (ini pengalaman saya sendiri πŸ™‚ ).

    Di perusahaan relatif kecil (LASMO) saya dulu dapat mengerti dan berpengalaman untuk satu siklus penuh dalam usaha migas (untuk geologinya looh). Dimulai dari dari NEw venture mencari daerah, eksplorasi hingga developement, bahkan infill.

    Yang lebih penting dapatkan dulu pekerjaan, kemudian optimumkan pengalaman yang dilewati. jangan sampai sebuah route itu hanya dilewati tanpa ada yang sempat dipelajari.

    Salam

  21. salam pak

    saya fressh graduated TG Upn mohon ijin kut koment di sini soalnya saya lihat yang komentar dari orang yang uda kerja

    menurut bapak enakan perusahaan kecil apa besar kalo kerja?
    untuk fress graduated soalnya lagi job seeker ini ,mohon nasehatnya
    biar tidak salah melangkah

    terimakasih

    Dony

  22. Omong-omong soal kualifikasi akademis Mas, kayake super major sekarang sudah bikin persyaratan minimal S2 lho Mas. Jadi kalau mereka cari S1 pun, nanti si S1 ini dicari yang bener-bener mumpuni karena nanti akan didevelop untuk ambil S2. Sudah ada 2 kumpeni yang aku tahu bikin persyaratan minimal S2, baik lulusan dari dalam mampun luar negeri. Semua demi “keeping up” dengan standar induk perusahaan mereka di Amrik sana.

  23. Memang kalau fresh grad hingga 5th lebih enak permanen setelah itu bisa mencoba kontrak shorterm atau bahkan berkerja sendiri. Krn setelah 5 th biasanya sdh mengrti ttg bisnis, kerja, dan lingkungan usaha.

    Kalau sudah diatas 15 tahun kerja kontrak akan lebih bagus seandainya sbg managerial. Pertambahan remunerasi akan banyak krn posisi ini. Kerja profesional siatas 15 th akan tinggi jika memiliki keahlian khusus, langka atau gelar Phd dibidangnya.

  24. Mas,
    Baru inget, ada satu lagi alasan mengapa orang memilih permanent position, yaitu kesediaan perusahaan untuk mendidik permanent employee mereka, alias dibantu/didevelop/diberi training supaya orang itu tahu lebih banyak dan sanggup mengambil keputusan-keputusan besar bernilai jutaan US$ di masa yang akan datang. Tentu saja hal semacam ini lebih menarik untuk orang-orang yang merasa belum cukup memiliki pengalaman, misalnya baru lulus, atau baru 2-3 tahun bekerja.

  25. Hi Hernawi
    Lah sekarang tinggal itung2an saja lah. berapa yg diperoleh dari freelance dan berapa yg didapat kalau jadi permanent. Kalau ternyata masih mirip2 saja, maka liat lagi potential futurenya, misal adakah karier managementnya.
    Managerial ini biasanya memerlukan loyalitas, artine anda harus masuk ke permanen dulu.

    Juga perlu diingat usia (lamanya pengalaman kerja). Kerja freelance consultant itu kadangkala hanya melihat apa yg dikerjakan (services). Kalau mengelas itu harganya ya segitu saja, mau dikerjakan oleh orang kontrakan yg sudah pengalaman 5 atau 18 tahun ya harga “kerja mengelas” akan sama saja. Beda dikit2 tak berarti. Tetapi kalau permanen staff tentunya beda ngitungnya. Semakin lama kerja di perusahaan itu, maka akan “dihargai”.

    Jadi kalau kerjaan anda memungkinkan masuk ke managerial (biasanya remunerasi lebih bagus krn fasilitas jabatan), bisa saja masuk ke permanent.
    tetapi kalau anda masih sangat muda (pengalaman dibawah 8 tahun) tentunya bekerja freelance akan mendapatkan jauh lebih besar ketimbang kawan-kawan seangkatan yg menjadi pegawai tetap.
    jangan lupa membandingkan : – Gaji – Career – Working environment.

  26. Hallo om Rovicky, aq mau ikut gabung dengan om bisa ya???
    aku sekarang ini freelance di MOODY International, ada tawaran dari BO$$ buat jadi permanent,tapi koq aku tidak yajin akan perkataan dia yang terkesan ulur waktu, gimana cara hadapinya om???

  27. Hi @isyah,
    Bersyukur itu untukku jelas harus. Makanya aku mensyukuri hidup ini dengan cara terus bekerja keras dan tekun mengejar cita-cita. Kalau aku ngga kerja keras berarti aku tidak mensyukuri nikmat sehingga aku bisa nyampai disini.
    Bersyukur tidak terus mandeg looh Aisyah .. bersyukur itu kalau terhadap hasil, bukan terhadap usaha.

    rdp

  28. Aq sebenarnya cukup beruntung bisa gabung di chevron (dulu unocal (kaltim),meskipun cuma lulusan D3 (lokal lagi)harus bersaing ma lulusan universitas terkenal, eh ternyata bisa lulus juga.Meskipun cuma jadi Operator doank…(cita2 seeh pengen jadi boss..he3x..) Kata orang seeh emang udah rezekinye kali yee.. Mo pindah ke kumpeni lain??.. nggak ah, mending mensyukuri yg udah ada ajah, bukannya pasrah tapi baru juga kerja 2 thn-an masih butuh pengalaman… Klo Pak-Dhe milih yg mana???yg banyak duitnya apa yg menjamin hari tuanya???

  29. Pak Benny,
    Kadang international exposure itu juga “sepenting gaji” terutama bagi yang “belum” pernah kerja di luar negeri. Jadi untuk pekerjaan pertama mungkin harga miring dikit enggak apa-apa, tapi kalau terus begitu yah mendingan kerja di Jakarta dengan gaji luar toh?

    min

  30. Mas Vicky,

    Umumnya orang orang yang kepalang basah gonta ganti company, cenderung lebih suka jadi kontraktor, disamping memang bawaannya bosenan kali.

    Tapi tentu juga banyak pertimbangan lain, dulu (4 tahun yang lalu?) saya pernah di offer sebagai PE (kontrak) di salah satu negara middlle east, ternyata tawarannya “tidak seindah” yang dibayangkan, apalagi pada saat itu istri kerja juga, lha kalau dihitung hitung nggak significan bedanya. Tapi kolega saya yang laen pada ngambil, padahal kayanya nggak beda beda amat sama gajinya waktu itu, ya tentu tiap orang punya objektif masing masing.

    Salam,

  31. Hi Goio,
    Mengancam menurutku bukan sikap professional. Akan lebih bagus kalau anda memberikan positip impact (bersikap manis) kepada perusahaan kemudian minta naik gaji sesuai dengan bertambahnya kemampuan anda. Coba pelajari dulu sistem promosi dll di perusahaan tempat anda kerja setelah tahu coba meminta promosi karena kemampuan anda meningkat. Kalau toh perusahaan ngga bisa mengakomodir peningkatan kemampuan anda, coba di-benchmark dengan perusahaan lain, caranya ?
    Ngelamar aja pekerjaan di perusahaan lain,
    – Kalau memang ditempat lain ngga ada tawaran yang bagus, ya stay saja sementara, sambil meningkatkan kemampuan.
    – Kalau dapat tawaran yang lebih bagus “just resign with nice face” πŸ™‚

    Think WIN !

  32. wah, saya ‘player’ baru di perminyakan nih pak .. eh bukan perminyakan ding, supplier dari perminyakan lah kurang lebih … hehehehe

    satu pertanyaan pak Rovicky… sebenarnya aku pribadi lebih senang kalo bisa selalu ‘stay’ di satu kumpeni. Namun, kalo kumpeni kemudian men’treat’ karyawannya dengan tidak baik (dalam hal benefit, false-promises, career development dkk), solusi yang win-win-nya bagaimana ya? apakah perlu ‘mengancam’ keluar? (dengan asumsi bahwa kumpeni akan berusaha menahan karyawannya)… aku masih belum terlalu faham pola pikir orang HRD nih pak. terima kasih

Leave a Reply