Is the oil BOOM over ? (3) – The workforce challenge

0

pekerja Setiap ada BOOM minyak, maka kebutuhan pekerja juga akan meningkat. Ya mesti, lah, kalau akan menjalankan ekplorasi-eksploitasi selalu membutuhkan tenaga manusia. Walaupun begitu teknologi selalu akan menggantikan atau mengurangi jumlahnya. Tetapi setiap kenaikan kebutuhan mendadak maka dipastikan teknologi tertinggal beberapa langkah sehingga kebutuhan tenaga manusia akan dipergunakan untuk mengisinya.

BOOM minyak ditahun 2000-an kali ini merupakan akibat perubahan kompleks tidak hanya politik atau perang dan embargo saja. Seperti sudah saya sebutkan sebelumnya disini bahwa kenaikan kali ini disebabkan oleh diawali dengan harga yang anjlok-njlok setelah OPEC meningkatkan produksi 10%. Namun kemudian ‘disulut dengan perang’ dan diberi “bahan-bakar” dengan krisis ekonomi dan bencana alam Katrina. Wis kumplit ta … persis seperti segitiga api, semua ada ada dan “BOOM !”

Apa saja yg menjadi kekhawatiran serta perhatian para punggawa-punggawa di industri perminyakan ? Coba kita tengok hasil survey dari Grant Thornton LLP yang dilansir February 2006 cukup menarik :

Survey of 75 executives from U.S. independent oil and gas companies

  • 89 % respondent mengantisipasi peningkatan pembelanjaan dalam negri ( domestic capital expenditures) di tahun 2006.
  • 89 % mengharapkan kapital lebih (bandingkan 83 % tahun 2005).
  • 88 % melaporkan kesulitan mencari service drilling – Rig dll (hanya 70 % tahun 2005).
  • 79 % memperkirakan kesulitan mengamankan kontrak pengeboran di tahun 2006.
  • rekruit95 % mengharapkan peningkatan kepegawaian di perusahaannya di tahun 2006 (hanya 70 % thn 2005 dan hanya 62.5 di tahun 2004), jelas ada peningkatan kebutuhan pegawai.
  • 84 % memperkirakan adanya kebutuhan peningkatan kompensasi (gaji) pegawaiannya (tahun 2005 hanya 63 %, dan hanya 35 % pada tahun 2004).
  • 65 % memperkirakan kesulitan mencari pegawai baru (hiring) (naik 20 % dari 2 tahun sebelumnya).
    — dua item terakhir yang di bold ini nih yang menarik —

Kesulitan mencari pegawai masih dialami banyak perusahaan di sektor migas. Seorang manager HR di industri MIGAS di Indonesia menyatakan kebutuhan GGE (Geologist-Geophysicist-Engineer) saat ini diperkirakan masih kurang 10-15%. Bahkan dua bulan lalu, Aramco (Saudi Aramco) mengaku kekurangan 15-20% GGE dalam seminar HR di KL, Malaysia.

Mengapa Aramco (TimTeng) kekurangan GGE begitu banyak ?

Aramco beroperasi di Saudi yang tentusaja kita tahu banyak westerner (bule) yang akhir-akhir ini enggan bekerja di Timur Tengah. Hal ini tentunya berkaitan dengan kekawatiran keselamatan bule-bule yang bekerja di TimTeng akibat ancaman teroris. Lah iya mesti wae, mosok mau kerjo cari makan buat hidup kok hidupnya aja terancam. Mending kerja dirumah sendiri gitu kali mikirnya. Disisi lain Aramco juga telah mentargetkan menambah jumlah sumur produksi minyaknya hingga 61 % ditahun 2006 ! Aramco memang memiliki ambitious plan. Jelas akan ada kekurangan GGE cukup besar.

“Lah kalau kurang orang trus siapa yang megisi lowongan, Pak Dhe ?”
“Sik ta, nanti dijelasin dibelakang, sabar dulu ya, …. udah kepingin, mau ke Arab sana, ya?”

lulusan perminyakanKekurangan geoscientist ini juga dikhawatirkan oleh AAPG (American Assoc of Petroleum Geologist) dengan kenyataan bahwa ditahun 2005 lebih dari 60% anggotanya berumur diatas 55 tahun. Hal ini disebabkan menurunnya jumlah mahasiswa baru yg mendaftar di bidang geoscience pada waktu krisis tahun 80-an. Ya wajar lah, tahun 1987-an harga migas anjlok dibawah 20 US$/bbl, semua mahasiswa baru tentunya banyak yang enggan menjadi geologist maupun menjadi insinyur perminyakan. Grafik di sebalah ini menjelaskan mengapa saat ini dominasi pekerja perminyakan anggota AAPG adalah mereka yang sudah mendekati tua atau bahkan sudah memasuki usia pensiun.
trendlinespeakoildepletionscenariosgraph60726.gifSementara itu hampir semua perusahaan minyak dan gas bumi memperkirakan produksi yang meningkat dalam kurun 2-5 tahun mendatang. Gambar disebelah menunjukkan bagaimana skenario produksi minyak dunia versi dari beberapa perusahaan minyak dunia ini.

Dengan demikian bisa dipastikan kebutuhan GGE di dunia perminyakan akan mengalami defisit, kalau tidak diantisiapasi sejak dini.

 

– “Lantas mesti gimana, Pak Dhe ?”
+ “Ya tergantung kamu sebagai pegawai atau sebagai manager HR atau sebagai pengusaha migas… psss kalau mau bikin perusahaan minyak ajak Pak Dhe, ya ?”
– “Haiyak Pakdhe niku kan udah melanglang kesana-kemari, bikin
prusahaan aja sendiri nape, dhe ?”
+ “bikin sendiri ?… gundulmu amoh … Emangnya bikin usaha itu modalnya pakai dengkul thok apa ? Apalagi prusahaan minyak yng sekali ngebor jutaan dolar”
– “Belum lagi kalau yg keluar malah lumpur ya, Dhe”
+” Hust !”

Pegawe perminyakan pada umumnya akan menyambut oil BOOM dengan suka cita.
Tapi kalau BOOMnya berenti gimana ?
Seperti yg ditulis diatas bahwa BOOM kali ini bukan sekedar akibat embargo seperti tahun 1980-an. Saat ini kebutuhan pekerja GGE yang masuk dalam “core bussiness” (bisanis inti) dari perusahaan masih tergolong langka. Bahkan tercatat secara global masih kekurangan 10,% dari kondisi “wajar”, masih cukup lumayan besar. Harus disadari juga bahwa nantinya teknologi seringkali mengejar pada akhirnya. Untuk kali ini saya kira mungkin kesulitan ini masih akan bertahan selama 2 tahun lagi.

Setelah itu … wah apa saja mungkin terjadi. Bisa jadi nantinya workforce di perminyakan tambah langka, namun bisa jadi terpenuhi oleh teknologi. Kalau dahulu membuat peta memerlukan 3 orang, saat menggunakan tekno mungkin cukup seorang saja yang dilengkapi peralatan (high tech computing etc).

– “Kalau untuk seorang manager mestinya gimana, Pakdhe ?”
+ ” Haiyak, kamu emang dah manajer ?”

Bagi manajer HR maupun manajer technical, perlu berhati-hati dalam ngangon bebek “memelihara” anak buahnya. Saat ini trend di dunia minyak sudah banyak bergeser dari permanent employee (ini maksudte pegawai tetap) menjadi “onboard employee“, yaitu pegawai yang bekerja di lingkungan kumpeni ini tetapi mereka bukan permanen employee. Ada yang direct contract ada juga yang bahkan memilih lewat “third party body shop” – perusahaan penyuplay tenaga kerja. Mereka (pekerja) ini bekerja di kantor kita tetapi mereka menginginkan kebebasannya sendiri, sehingga opsi-opsi kepegawaian harus dibuka dalam beberapa ragam.

Di Majalah World Energy awal tahun ini, Bruce Crager, CEO (Inteq Engineering) menuliskan adanya trend pergerakan kepegawaian dari permanen staff atau contract. Bahkan Bruce menjelaskan mana yang menguntungkan perusahaan dan bagaimana sebaiknya bagi si pegawai. Pssst …. ini bocoran bagi pekerja nih … Bruce memberikan angka yang mungkin perlu diketahui.

… A contract employee also assumes acquisition of his or her own benefits and may have to make 1.5 to 2 times an annual base salary to make up for the cost of benefits, lack of bonus and coverage of nonworking periods.

+”ini maksudnya kalau ada rekan kamu bekerja dengan term kontrak, dan gajinya 1.5-2 kali lipat darimu yg permanen staff jangan ngiri, sakjane itu podo wae 😉 ”

Tetapi bagi HR perusahaan yang seringkali terpenting adalah “employee related cost” (biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kepegawaian) seharusnya tidak banyak berubah, komponen serta komposisi bisa diatur-atur lah, asalkan total biaya perusahaan tidak berubah. Walaupun begitu, harus diingat bahwa survey Grant Torhthon diatas mengindikasikan akan adanya kenaikan kompensasi pegawai seperti yang aku sitir diatas itu. Hal kenaikan remunerasi (kompensasi) ini sangat mungkin disebabkan kelangkaan pekerja di sektor perminyakan. Pegawai perminyakan ini sedang jadi belalang, sedang naik daun 🙂 . Kalau ngga hati-hati nangkepnya belalang-belalang ini akan loncat mencari daun yang hijau, apalagi mereka kebanyakan masih berfilosofi “daun rumput tetangga lebih hijau”.

Kekhawatiran secara global akan kekurangan pegawai ini tentunya ditambah dengan kesulitan mobilitas (akses) dari pegawai-pegawai barat (bule). Lokasi bekerja menjadi satu hal yg penting. Apalagi seperti adanya kekhawatiran tentang keamanan di lokasi geografi tertentu. Perusahaan-perusahaan besar dunia mungkin agak sedikit mudah karena memilki “global resources management“, dimana pengaturan pekerjanya diatur secara global. Pekerjaan interpretasi daerah di Nigeria dapat dilakukan di Houston, pekerjaan data entry dilakukan di India dsb. Namun bagi perusahaan kecil (lokal) harus bermain-main dengan komponen remunerasi, employement type, sistem bonus produksi, retention bonus dll.

Pekerja perminyakan Indonesia ini sangat tangguh !

Pekerja Indonesia biasanya lebih “berani“, karena sering membaca berita tentang pandangan dunia pada negaranya, bagaimana Indonesia juga disebut-sebut sebagai daerah yg berisiko tinggi. Toh mereka masih hidup juga di Indonesia 🙂 . Kekhawatiran itu memang kadang dibesar-besarkan. Kekhawatiran bekerje di Indonesia bukan trus konsen soal Aceh yg dulu rawan GAM, toh juga bukan bekerja di Ambon, juga bukan bekerja di Papua. Tetapi di Jakarta jga memilki risiko sendiri (risk hidup di kota besar) dan mereka sudah terbiasa dengan hidup seperti itu. Akhirnya saat ini banyak pekerja-pekerja Indonesia yang berani dan tersebar di segala penjuru dunia dengan segala “daya tarik“nya.

Pekerja-pekerja Indonesia ini pada umumnya “well trained“, mereka sudah cukup tinggi skill-nya. Sehingga para “employer” (perusahaan yang mempekerjakan) ini sudah tidak perlu lagi men-training mereka. Persis pasukan para-commando, bisa terjun payung dan langsung bisa nembak di daerah lawan … dor !.

Ada hal lain mengapa Indonesia menjadi pensuplay tenaga Geoscientist secara umum.
Pada tahun 1980-an krisis ini membuat jurusan geologi terutama perminyakan tidak laku. Bahkan tercatat beberapa fakultas geologi yang tutup karena kurang peminat. Namun tidak untuk Indonesia. Bahkan jurusan geoscience bertambah dengan munculnya program studi Geologi (kelautan) di Undip, ITS dan juga jurusan geologi yang ada (UGM ITB, UPN, UNPAD dll) masih menerima mahasiswa baru.

Tidak ada yang menyangka bahwa saat ini lulusan geologi banyak diminati. Dan saat ini Indonesia menjadi sumber tenaga kerja geoscience dari Asia Tenggara (bahkan mungkin seluruh Asia). Apakah ini akan berkelanjutan ? No one knows ! , lah kalau kayak aku dulu malah susah, masuk tahun 1981 pas harga tinggi, lulus tahun 1987 pas harga anjlok … blaik !
Apa saja daya tarik-nya

Gaji
range.jpg Wah ini sudah jelas. Karena krisis ekonomi di Indonesia yang menyebabkan nilai rupiah anjlok, peristiwa yang sangat menohok. Pekerja-pekerja perminyakan ini tentusaja akan mencari kerja di luar Indonesia karena mengejar mata uang yang kokoh, Gaji US$. Bahkan mereka yang bekerja di Saudi Aramco mensetarakan gajinya dengan rate Poundsterling ! weleh-weleh 😉

– “Salah satunya juga dengan ringgit Malaysia ya Pakdhe, wah pantes Pak Dhe kesana ga mau balik”
+ “Wah, nyindir terus deh” ;(

Disebelah ini range salary GGE yang bekerja di KualaLumpur yang saya lakukan pertengahan hingga akhir 2005 hingga . Survey ini diambil secara acak, dan karena bukan merupakan survey sistematis maka kemungkinan eror sekitar 20%. Artinya ada yangg perkiraan salary-nya meleset 20%.

Yang cukup menarik dari survey itu adalah mereka yang ke KL dapat dibagi dua kelompok, rata-rata yg sudah diatas 15 tahun dan dibawah 10 tahun. Mungkin bisa ditarik kesimpulan mereka yang berpengalaman disekitar 10-15 tahun saat ini sedang menduduki jabatan managerial yang biasanya sulit atau enggan berpindah dari Indonesia. Mereka yang berpengalaman 5-10 tahun ini biasanya yang “merasa” sudah mandiri dan mereka adalah pekerja keras yang “berani” mengadu nasib. Sedangkan yg berpengalaman diatas sekitar 20 tahun adalah mereka-mereka yang sudah mendapatkan pensiun dini, atau mendapat pesangon dari perusahaan sebelumnya. Sehingga mereka yang pengalaman diatas 20 tahun ini akan merasa nyaman hidup santai di Kuala Lumpur.

Lifestyle
Mencari hidup yang mudah. Semua berada di Jakarta, ya hampir semua perusahaan minyak di Indonesia ini berlokasi kantor di Jakarta yg rasanya penataannya semakin ruwet saja. Hidup di Jakarta ini jelas tidak mudah. Bagi mereka (GGE) yang sebelumnya hidup di Balikpapan maupun Duri (Riau) jelas tidak mudah. Mereka-mereka ini akan lebih nyaman hidup di Kualalumpur, bahkan beberapa orang GGE Indonesia sudah mulai merasa nyaman hidup di Eropa (Itali, Perancis, Spanyol, Belanda dll), bahkan sudah ada yg dengan senang hati bekerja di Afrika (Nigeria, Sudan, Lybia). Mereka bekerja disana bukan karena “on-asignment“, mereka melamar pekerjaan disana dan dipekerjakan disana atas inisiatipnya sendiri.

Braindrain ?
Ah apa iya mereka ndak kepingin pulang. Apa mereka ngga inget lagunya Ebiet “aku ingin pulang” atau lagu Koesploes “ke Jakarta aku, kan kembali iii …“. Jangan banyak berharap mereka akan kembali ke Indonesia dalam waktu dekat lah. Trus apa indikasi kenyamanan mereka ini ?. Salah satunya beberapa GGE ini ada yg mulai membeli property di negara-negara tempat kerjanya, bahkan sudah banyak yg memeprsiapkan anak-anaknya untuk sekolah dan nantinya bekerja dan hidup dirantau. Kewarganegaraan itu urusan kedua, bahkan terkesan hanya urusan administrasi saja. Asalkan setiap tahun masih bisa balik kampung, dan memiliki passport beres, dah !.

Bagi negara (pemerintahan) memang fenomena “braindrain” sudah terjadi sejak dahulu. Hilangnya pemikir-pemikir ini pernah menjadi konsen berat di Malaysia tiga tahun lalu. Waktu itu menteri tenaga kerjanya sempat membuat kebijakan untuk mengambil kembali pekerja-pekerja profesional Malaysian di LN untuk kembali ke Malaysia. Namun usaha ini sepertinya gagal. Dari kawan-kawan di malaysia menyatakan bahwa ternyata mereka dahulunya dijanjikan untuk memperoleh gaji/remunerasi sama seperti saat di LM (luar malaysia) tidak terpenuhi. Kecemburuan sosial malah menjadi issue tiga tahun lalu.

Malaysia tahun lalu sangat terpukul dengan braindrain ini. Lebih dari seratus pegawai Petronas GGE (Geologist-geophysicist-engineer) hengkang ke Middle East dan sekitarnya dalam waktu satu tahun saja !. Siapa yang mengisi lowongan ini, siapa lagi kalau bukan GGE Indonesia. Hingga tahun ini, di KL sudah tercatat sekitar 200 orang GGE Indonesia dengan pengalaman kerja rata-rata 10-15 tahun. Artinya mereka sudah tidak memerlukan training lagi untuk mampu bekerja. Siapa yang membiayai training mereka dulu di Indonesia ? (hupst ! … dulu kan pakai term “cost recovery”, artinya yg mendidik kan Indonesia).

by-profession.jpgGrafik disebelah merupakan statistik anggota IATMI-KL awal tahun ini. dengan jumlah lebih dari 120 orang. Untuk saat ini jelas sudah sekitar 200 orang GGE Indonesian yang bekerja di Malaysia. Harap diingat yang masuk survey GGE oleh IAMI KL ini hanyalah mereka yang setingkat sarjana. Sedangkan yg setingkat operator, waddduh akan mengagetkan anda pasti. Mereka yang di Malaysia ini juga banyak yang bekerja di Kertih, Trengganu, Miri. Bahkan banyak yang bekerja di Johor untuk konstruksi anjungan serta pembuatan fasilitas produksi.

Panjang ceriteranya kalau ngomongin soal brain-drain ini. Karena disatu sisi Indonesia juga masih belum menjanjikan pekerjaan. Ungkapan Wapres Jusuf Kalla (Republika, 21 Oktober 2006) sangat jelas menunjukkan pengangguran masih tinggi. Jadi ya ada sedikit bersyukur mereka mendapat pekerjaan di LN.
Apakah iya begitu ?
Ah, tapi mereka ini justru yang berpotensi dan pekerja keras …
Silahkan saja berdebat untung ruginya dengan braindrain ini ntah bagi pekerja, bagi perusahaan, bagi negara … silahkan dengan tolok ukur masing-masing.

Tetapi saya rasa masalah tenaga kerja ini semestinya menjadi konsen setiap pemerintahan. Lah iya, kalau enggak ngapain setiap negara memiliki menteri tenaga kerja yang lengkap dengan jajaran departemennya.

Mencari pengalaman.
Saat ini dunia global sudah bukan hal aneh. Apalagi bagi para pekerja perminyakan ini. Mereka kebanyakan sebelumnya (pernah) bekerja dibawah bendera perusahaan asing yg beroperasi di Indonesia. Sehingga mata mereka sangat melek terhadap dunia luar. Keinginan mencicipi menjadi “expatriate” sangat kental sekali. Pada umumnya, orang Indonesia ini sangat bangga apabila bisa bekerja di luarnegeri. Bekerja di luarnegeri merupakan prestasi, sehingga merupakan sebuah simbol kesuksesan yang harus dikejar.

Perusahaan yg memilki “cabang” operasi di LN tentunya dapat memanfaatkan bisnis unitnya untuk tetap mempertahankan pekerjanya supaya betah bekerja dengan perusahaannya. Orang-orang Indonesia yg berprestasi ditahan dengan sesekali dikirim ke LN. Bagi perusahaan lokal tentunya tidak mudah, merka harus jeli menahan pegawainya. Term kontrak kerja barangkali akan menjadi minat pekerja-pekerja ini. Sesekali perlu mengirim mereka ke LN untuk mengikuti training atau seminar mungkin akan sedikit membantu “menahan” kepergiannya.

Sepertinya tantangan fluktuasi tenaga kerja di dunia perminyakan ini bukan hanya untuk pegawai, tetapi juga buat HR manager, pengusaha dan bahkan mungkin negara.

dream.gif– “Lah Pakdhe juga ngapain, kok konsen soal tenaga kerja ini ?”
+ “Lah pakdhe sekarang masih pegawe, sebentar lagi jadi manajer, trus siapa tahu nanti aku diangkat jadi penasehat negara ..?”

-“Walah Pakdhe, … bangun Pakdhe … mbok jangan ngimpi terusss”

Sumber ilustrasi : AAPG, Trendline,

1 COMMENT

  1. Dear Pak Rovicky,

    Waduh telat banget nih baca blognya…ga sengaja nemu waktu lagi nyari2 referensi soal indonesian oil and gas experts (termasuk G&G) yang ada di Middle East…maklum lagi bikin studi tentang itu…

    Mau nanya ni pak…ada referensi yang updated ga soal G&G scarcity ini? Atau tentang jumlah & kompetensi Indonesian yang skrg kerja di Middle east?

    Makasih banyak ya… 🙂

  2. waaah menarik bgt tulisannya (walaupun saya telat 2 taun bacanya)…
    oya begini ni mas2, pakar2,..
    saya dari jurusan Matematika(semester 7), tp Tugas Akhir saya mengenai seismik, bagi yang punya pengalaman di dunia kerja yang berkaitan dengan seismik dan seismologi, bagi2 pengalaman dooong..
    seperti, dari dunia kerja apa sih yang dituntut dari seorang seismologist, trs hal-hal apa yang perlu saya pelajari dan perhatikan, dengan notabene saya baru berkecimpung di bidang ini…matur nuwun, nuhun Aa aa teteh2!

  3. Tulisan bagus. Terimakasih atas informasinya. Lumayan buat referensi dan persiapan bagi engineer muda yang ingin bersaing ke luar negeri.

  4. Menurut saya bagus kerja di Perusahaan Minyak namun mengapa kita berusaha berbisnis setelah berhasil diperusahaan minyak. Khan Rasulullah juga bekerja dan berniaga. Telp. 062-021-5747043 ext.263 – BADAN STANDARDISASI NASIONAL INDONESIA

  5. Pak Rovicky,
    Saya usul Bapak menulis tentang perminyakan dan gas di Indonesia.
    Setuju usulan saya ya Pak.

    Best regards,
    Ratih Anwar

  6. @nanang

    kalau soal perpajakan,
    prinsipnya, anda perlu membayar pajak ditempat dimana uang dihasilkan.
    misalkan, anda kerja di timteng dan gak punya usaha apapun di indonesia, maka anda hanya perlu membayar pajak di timteng, ndak perlu bayar pajak di indon.

    nah, andaikata anda sudah punya npwp, sekalipun anda bekerja di timteng, anda tetap wajib utk melaporkan pajak tahunan anda paling lambat 31maret setiap tahunnya.
    kalau lupa, kena denda (sekitar 400-an ribu/tahun).
    laporannya yah cuma bilang “NIL”.

    mudah2an menjadi jelas.

  7. Kalau dilihat secara parsial (Indonesia saja) pendapat Pak Kurtubi soal hengkangnya investor memang mungkin ada benarnya. Larinya investor memang menyebabkan ‘brain-drain’ dari Indonesia ke LN.
    Sedangkan saat ini sedang terjadi “worldwide shortage” untuk G&G. Sehingga semakin sulitnya mencari G&G di Indonesia saat ini karena memang permintaan dunia sedang meningkat.

    Kalau untuk “global shortage of G&G” ini disebabkan karena krisis tahun 80-90an itu.

    Nah yang cukup menarik adalah saat ini sudah banyak terjadi “culik-menculik” G&G diantara perusahaan di dalam negeri. Ini secara gross nasional Indonesia tidak akan membuat lebih bagus, karena selalu ada waktu yg hilang (un productive time) karena adanya learning time ketika seorang G&G pindah kerja. Bagaimanapun ada angka optimum yang dihasilkan seorang G&G, hitungan saya dulu rata-rata memerlukan 2-4 G&G untuk memproduksi 1000 Barell minyak perhari. Kalau jumlahnya berkurang ya tentusaja produksiminyaknya ya sulit untuk dinaikkan kan ?
    Teknologi memerlukan waktu untuk mengejar ketertinggalan atau mengisi dan menambah kemampuan produktifitas seorang G&G.
    Perkiraan asaya krisis ini akan terus dihadapi 5-10 tahun mendatang, sampai tanaga2 muda saat ini mengisi GAP yang ada.

  8. Dear Pak Rovicky,
    Maturnuwun Pak, penjelasannya. Pengamat perminyakan Indonesia Pak Kurtubi pernah mengatakan kalau UU No 22 Tahun 2001 itu membuat banyak investasi perusahaan minyak asing “terbang” keluar negeri. Akibatnya permintaan G&G di Indonesia turun, sedangkan di luar negeri bertambah. Ini dapat mempengaruhi permintaan tenaga kerja. Apakah benar begitu?

    Maturnuwun dan salam

  9. –> Dear Ratih
    UU Migas tidak mempengaruhi shortage (kelangkaan) geoscientist di dunia. UU MIgas hanya mempengaruhi iklim investasi migas di Indonesia.
    Harga minyak secara tidak langsung mempengaruhi kebutuhan human resources. Ketika harga rendah kebutuhan HR dikurangi sehingga input menjadi kecil (sedikit), oleh sebab itu university juga hanya mengeluarkan sedikit. tetapi sedikitnya periode ini terbawa terus selamanya. Hingga saat ini krisis tahun 80-an menyebabkan kelangkaan untuk tenaga berpengalaman 15-20 tahun.
    Ketika saat ini mencari orang utk bekerja yg biasanya dikerjakan oleh tenaga independen dengan pengalaman 15-20 ini menjadi sulit.
    Situasi dunia dengan terbatasnya ruang gerak westerner (orangnya, maupun perusahaannya) menjadikan supply dari westerner di geoscience terbatas juga. Akhirnya kebutuhan utk region Asia-Middle East diisi oleh G&G dari Indonesia dan Malaysia. Cina memenuhi kebutuhannya sendiri.
    Sangat jarang G&G Chinese asli China yg bekerja di MEast.

  10. Pak Rovicky tulisannya sangat bermanfaat, apalagi susah mencari tahu pengalaman kerja orang migas di literatur.
    Pak Rovicky pernah menjawab komentar ttg situasi lapangan kerja di sektor migas bisa berubah.

    Apa ini karena UU Migas No 22 tahun 21 atau karena output kita makin menurun atau karena harga minyak terus cenderung naik??

    Boleh minta penjelasannya Pak? Maturnuwun sebelumnya

  11. Tulisan yg menarik.

    Mudah2an orang Indonesia bisa meniru “solidaritas” orang India, yang bisa “memboyong” teman2/saudara2 sekampungnya untuk kehidupan yg lebih baik (hopefully).

    Gimana dengan salary rate orang IT di oil industry?

  12. Mas,
    Bagaimana urusannya dengan perpajakan di Indonesia (NPWP) kalau status bekerjanya kita di LN bukan assignment dari kumpani?

  13. Bukan hanya orang india pak siswanto…, orang philipine juga punya Nepotisme yang sangat kuat, disini di UAE, banyak kerabat atau teman yang ditarik kerja. bahkan mereka berani membiayai sanak / saudara untuk tinggal bersama sembari mencarikan pekerjaan.

  14. Pak Siwanto,
    Kebetulan partner kerja saya saat ini ada satu orang India (support IT). Memang bener kuatnya networking orang-orang India ini. Secara mental mereka ini sangat tolong menolong “sesama-nya (maksud saya sesama India. Mereka memilki jiwa persaingan kuat dengan bangsa lain. Kebanyakan orang india ini menguasai IT (komputasi) yang sangat sulit ditembus oleh bangsa lain. Walaupun di Malaysia banyak IT dari Indonesia juga, tetapi lebih banyak orang Idn ini bekerja untuk perusahaan lokal.
    Mereka (India) sering menarik kawan-kawan senegaranya untuk menjadi bawahannya.
    Dahulu, orang indonesia jarang yg berkenan berbagi info kerja atau bahkan menarik kawannya. Saat ini sudah mulai ada beberapa yg dengan senang hati melihat kawannya ikut merasakan senang bekerja di rantau bersama.

  15. Pak Rovicky,
    Nice writing…sangat menarik sekali ulasannya
    Apa benar pak brain drain dr india yg lebih besar dibanding kita disebabkan krn adanya “networking” mrk lebih bagus ?
    Misalnya kalo key personnya dr mereka maka dibawah2nya jg cenderung demikian

    salam
    sis

  16. Mas Rovicky..
    kalo untuk surface engineering (process, mechanical, electrical..etc..) punya datanya gak?
    biar komplit gitu loh Mas…
    Terima Kasih..
    Salam
    Tasfin

  17. Mas Rovicky,
    Salut buat tulisannya yang mengena dan seperti TEMPE ..TEMPO (enak dibacem eh.. dibaca dan perlu). Dan enak sekali dibacanya, PakDhe !

    Soal “braindrain”, saya kok masih tidak begitu khawatir, justru mungkin kita sekarang lebih baik eksport TKI (Tenaga Kerja Intelek) perminyakan dulu. Dulu kan kita cuma sebagai oil & gas exporter, sekarang tambah ‘komoditi’ lagi. Justru ini akan memotivasi tenaga kerja kita untuk berprestasi, dan “aliran darah” di tanah air jadi lancar.

    Nah, buat yang sudah dan sedang melanglang buana sebagai orang minyak, boleh gabung dengan milis Indo_Oil_Expat[email protected]

    Salam.

    ASD

  18. Hi Royyan,

    BRAIN-DRAIN (Brain = otak, Drain = banjir) …. itu berpindahnya isi otak (ilmu) yang dibawa manusia. Ilmu itu bagaimanapun mengikat atau terikat didalam otak si empunya. Kalau si empunya otak atau manusia ini pergi, maka ilmunya juga ikutan pergi.

    Sebuah perusahaan yang kehilangan tenaga kerja tentunya kehilangan ilmu (ilmuwan) yang ada didalam tenagakerjanya yang hengkang keluar atau ‘resign’ itu. Nah kalau yang pegawai2 yang pergi keluar perusahaan itu pegawai2 yang pinter-pinter tentunya perusahaan kehilangan.

    Nah tidak hanya perusahaan, negara juga begitu. Kalau orang-orang pinternya pada pergi, lah trus ilmuwan negara itu jelas berkurang lah yaw. Kalau sedikit bolehlah disebut “Brain Leak” (Leak=bocor). Tapi kalau dalam jumlah besar ya Brain Drain (banjir).

    Jadi “braindrain” ini bagi negara bisa saja menjadi sebuah kerugian, paling tidak kerugian potensi (potential loss). kalau wong2 pinter ini tetap bekerja di Indonesia, ya Indonesia yang akan memanfaatkan hasilnya, kalau mereka bekerja di LN, ya LN-lah yang mendapatkan hasil olah pikir mereka.
    Apalagi kalau dipikir yang nyekolahkan (subsidi wektu kuliah) diambil dari anggaran negara …. lah ya kehilangan dua kali kan ?

    Itulah sebabnya, ada negara yang cenderung mencegah braindrain karena kerugian diatas.

    Namun dalam kacamata lain, braindrain ini dapat pula dianggap sebagai potensi “ekspor brain”, sperti TKI. Asalkan hasil nya memang ada yang kembali ke Indonesia. Jadi TKI – Tenaga Kerja Intelek, hasil memeras keringatnya dikembalikan lagi dalam bentuk tabungan untuk menambah devisa negara.

    Salam.

  19. Mas Rovicky,
    Kajiannya sangat menarik tentang workforce challenge …dan tentunya hal berkaitan dengan ulasan yang disajikan oleh tentang : Petroleum Industry 2020: People First: Full Engagement Jadi bottom linenya dalam hal ini adalah bagimana mensinergikan antara oil boom – workforce challenge dengan urgensi yang mengalamatkan “how to maximize engagement and capture the full potential of workforce” ..?

    http://www.spe.org/spe/jpt/jsp/jptmonthlysection/0,2440,1104_1585_0_5821088,00.html

    Salam

    IRN

  20. Mas Rovicky, punya alamat website buat ngelamar kerja di luar negeri, atau semacam head hunter, boleh juga kok…

    Bisa dishare gak mas, kalo gak ya lewat japri saja…

    Salam
    Sigit Ari

  21. Waduuh min pertanyaan mendasar yang tidak mudah dijawab, terutama berhubungan dengan kondisi saat ini. Ntar kutulis terpisah aja.
    Tetapi secara singkat kalau aku melihat saat ini lebih baik kontrak jangka panjang atau permanen. Kondisi situasi kerja ini sepertinya bisa berubah dalam satu dua tahun mendatang.

  22. Dear Gary,
    Kontrak 3 kali trus harus permanen ini upaya Depnaker untuk melindungki pekerja kontrak tingkat bawah, yang sering dikuyo-kuyo sama pengusaha.
    Memang ada perbedaan antara pekerja kontrak sebagai Consultant, dan pekerja kontrak (blue collar) yg biasa bergabung dalam Serikat Pekerja ini.
    Saya rasa depnaker mulai harus berpikir juga dan membedakan bahwa ada pekerja kontrak yang sebagai Konsultan (kongkonane sultan 🙂 ) dan ada yang tergabung dalam Serikat Pekerja.

    GGE ini sekarang ini bukan lagi yang harus dilindungi depnaker lewat organisasi SP, tetapi depnaker harus juga berpikir bahwa mereka adalah “pekerja” penggerak ekonomi tingkat konsultan.

  23. Wah Mas Yusak kalo urusan ngomporin memang jago deh hehehe….
    Sena ini mas Sena yang dulu di balikpapan ya?
    Btw, it’s a good writing mas vick. Harusnya ini direlease kemarin2 biar banyak teman-teman di indo yang bisa menikmati kerja di LN.
    Ngomong2 ada sedikit tanggapan tentang hidup dan kerja di Indonesia. Walaupun indo dibilang beresiko tinggi masih banyak pula bule2 yang kerja di indo. Lha gimana ndak enak lha wong semua murah, tinggal di tempat yang enak (perumahan) terutama waktu masih di balikpapan dulu.
    Sama halnya di Thailand. Kalo ditanya2 lebih banyak yang mau tinggal disini (Bangkok) daripada di Jakarta lha wong disini lebih murah lagi terus lebih open dan banyak entertainment buat bule2. Walaupun ada kudeta kemarin sepertinya bule2 itu ndak terusik. Nah tanggapan yang lain adalah semakin banyak tenaga kerja indo yang kerja di Malaysia itu semakin menarik. Kita boleh bangga sebagai WNI. Tapi apakah salary yang diberikan cukup kompetitif? Kalo dibanding gaji di indo ya jelas tapi apakah kompetitif dibanding gaji dari perusahaan lain di LN. Kenyataannya banyak yang dapat gaji di Malaysia yang hanya 2 kali lipat gaji di indo. Nah ini yang ditakutkan malah merusak harga pasar. Mungkin ada sebagian yang menilai gaji bukan segalanya asalkan bisa kerja di luar buat nambah2 CV. Kalo gini caranya ya kasihan perusahaan2 di indo terutama pertamina yang harus bersaing dgn petronas misalnya. Apakah mereka mau berkompetisi dgn perusahaan2 di Malaysia? Segi positifnya adalah membuat perusahaan2 di indo semakin melihat dunia luar. Orang indo ndak bisa disamakan dgn yang dulu. Mereka sekarang bisa berkompetisi sehingga untuk menarik kembali mereka yang perusahaan2 di indo harus lebih berani bersaing. bukan begitu toh pakde? Seperti TOTAL di balikpapan contohnya. sekarang tOTAL banyak pake tenaga indo dgn gaji dolar. Semoga perusahaan lain bisa begitu hehehehehe.

  24. Tulisan yg menarik Pak Rovicky,

    Bila mengenai “direct contract” atau status “contract” untuk pekerja, setau saya bukankah ada term & condition-nya yg telah ditentukan oleh Depnaker?

    Seperti untuk “direct contract” maksimal 3 kali, setelah itu harus permanen.

    Tapi ya mungkin aja kalau karyawan tersebut akan pindah sebelum mendekati “due date” kontraknya.

    Anyway, tulisannya sangat menarik.

    jabat erat,
    ~gary~

  25. Pak Rovicky,
    Salut! Pas aku mau nyumbang artikel tentang ketenagakerjaan dilihat dari sisi manajemen resiko perubahan,..eh Pakdhe sudah membahas sedikit banyak. Klop dah..

    Aku ndak setuju dibilang brain drain,..karena jumlah anak muda di Indonesia bisa puluhan juta.
    Kalau di LN sudah ada puluhan ribu,..kan baru 0.1 persen bukan?
    Yang penting tidak boleh jual negara, susah dikit minta asylum!

    Nuwun,.
    -h-

  26. Good job !
    Rangkuman yg cukup lengkap dan menarik untuk menyikapi perkembangan yg sedang berlangsung.

    Dari pengamatan pribadi (tanpa data statistic), sudah mulai terlihat dampak positif dari brain drain tenaga berpengalaman menengah keatas, yaitu peningkatan recruitment dari fresh graduate dalam negri untuk mengisi kekosongan ini,comment ?

Leave a Reply