Is the oil BOOM over ? (1)

0

boomJudul tulisan ini merupakan topik utama dalam majalah Newsweek edisi 9 October 2006. Hembusan issue yang lumayan anget.

Mari kita lihat satu persatu apa saja yang (semestinya) menjadi konsen para ahli perminyakan tentang oil boom.

Apakah benar setiap boom oil selalu menguntungkan ?
Kalau ya, trus siapa yang untung ?

oil-price-cut.gifIstilah oil boom sering hanya ditinjau dari harga minyak mentah, karena secara mudah harga minyak tinggi berarti pemasukan di perusahaan perminyakan akan meninggi. Image pemasukan tinggi ini yangg mendorong usaha atau industri perminyakan menjadi “booming” … meningkat dengan sangat tajam. Gambar di sebelah ini merupakan harga 5 tahun terakhir diambil di oil-price.net. Disini jelas banget menunjukkan harga minyak yg meroket sejak tahun 2001. Fluktuasi ketika meroket ini juga lumayan “bumpy” (ajrut-ajrutan), sehingga bisa dibuat dua batas bawah dan batas atas (‘low cut‘ dan ‘hight cut‘).
Yang cukup menarik adalah harga yang sudah mulai cenderung menurun sejak awal agustus lalu yang menurun melampaui batas bawah. Harga tertinggi mencapai sekitar 80USD/bbl, namun kemudian terjadi rebound (pembalikan) hingga saat ini sudah mencapai sekitar 60 USD/bbl. Turun 20 USD/bbl hanya dalam waktu sebulan !
Source WTRGKalau dilihat dari sejarah kenaikan harga minyak kali ini bisa dilihat kemungkinan adanya beberapa gejala precursor yg mungkin saja sebagai pemicu ataupun sebagai bahan bakarnya, antara lain

  • Perubahan (krisis-berkembangnya) ekonomi di Asia
  • Perubahan kebijakan produksi (penurunan dan penambahan) OPEC
  • Perang atau serangan USA ke Iraq
  • Kebutuhan minyak di China yg meningkat tajam tahun 2004 sekitar 16% (tidak ada dalam gambar WTRG ini).
  • Rumour (?mitos) minyak habis.

Kalau memang benar perubahan atau kenaikan harga minyak mentah dipengaruhi oleh beberpa faktor diatas mari kita lihat apakah faktor itu memang juga akan mempengaruhi penurunan harga.

Perkembangan ekonomi Asia saat ini sudah mencatat pemulihan. Thailand yang terkena lebih dahulu oleh badai krisis sudah pulih sejak beberapa tahun lalu, Indonesia yg mungkin tertinggal dikawasan ini juga sudah mulai menunjukkan geliat perekonomian. pssst walopun politiknya masih gitu2 aja. Tetapi ini artinya muncul independensi ekonomi di Indonesia, berarti membaik kan ?. Kalau Asia kondisi ekonominya dianggap membaik diharapkan perilaku ekonominya akan berjalan “normal” lagi. Jangan grusa-grusu menganggu stabilitas harga ! :), karena ketidak stabilan secara entropi memerlukan energi lebihbanyak lebih boros dn harga cenderung naik.

paprpop.gifDahulu (sebelum tahun 2000) OPEC sangat memegang peranan dalam mengontrol harga. Coba tengok gambar sebelah, ketika produksi opec turun harga naik dan sebaliknya ketika produksi dinaikkan harga turun. Namun pasca 2000 harga minyak tidak banyak pengaruhnya dengan produksi Opec. Bahkan sejak tahun 2001, produksi opec meningkatpun harga juga tetep aja masih meningkat, pasar udah kagak mau diatur-atur lagi, beh !. Ini mungkin artinya Opec sudah tidak lagi memilki kekuatan kontrol harga minyak mentah. Yang menarik selama 5 tahun terakhir dari anggota Opec ini antara lain serangan Amrik ke Iraq, dan juga ulah Venezuella yg mendepak raksasa minyak dunia beroperasi di negaranya. Keduanya jelas akan mempengaruhi harga minyak dunia, tetapi mungkin bukan akibat mereka sebagai anggota OPEC tentunya. Kejadian-kejadian ini sering tumpang tindih sehingga tidak mudah mengetahui mana menyebabkan apa.

Smua juga tau. Serangan US ke Iraq, sangat kental dengan issue perminyakan selain dobol-dobolan soal adanya WMD, perilaku sadam, alkedah dll. Kalau dilihat dari grafik diatas sepertinya serangan ini bukan pemicu kenaikan tetapi sebagai “bahan bakar” untuk roket price ini take off melesat hingga mencapai harga tertinggi 80 USD/bbl. Krisis minyak Iraq mungkin sudah mereda saat ini. Issue politis saat ini barangkali akan berkembang bukan lagi issue energi minyak lagi. sangat mungkin saja nanti dampak ujicoba nuklirnya Korea (senjata) serta perkembangan nuklir Iran (?senjata + energi) akan menjadi penting dalam dunia politik-energi global.

Image China haus minyak – hanya mitos.

Meningkatnya kebutuhan minyak di Cina yang tajam hingga 16 % di tahun 2004 menyebabkan ada “image” (dugaan) bahwa minyak bakalan langka dipasaran, karena produsen dunia tidak mampu memberikan supply ke pasar. Namun kalau dilihat dengan detil sebenernya China ini hanya membutuhkan 8 % dari kebutuhan dunia. Negara yang paling haus minyak tetap saja Amrik hampir seperempat kebutuhan dunia (24.6%), versi BP statistik.

China memang pernah dituduh sebagai penyebab harga minyak naik. Kalau mitos ini masih berlaku, mungkin saja harga kan kembali normal karena china saat ini peningkatannya hanya 1.5% (iea) atau 2.8 (BP). Peningkatan/penurunan kebutuhan China mungkin mitos saja sebagai hal yang mempengaruhi harga minyak mentah. Namun memang China sedang getol-getolnya mencari dan ekspansi explorasi keluar negerinya. CNOOC, Petrochina dan Sinopec merupakan perusahaan migas China, bagaikan raksasa yang baru keluar sarang karena haus. Kalau saja benar kebutuhan peningkatan 16% sudah terpenuhi barangkali China tidak akan sehaus tahun sebelumnya.

– “Tapi, Pakdhe percaya nggak China haus minyak ? ”
+ “Sik ta, teruske disik !”

Mitos minyak habis.

Kubu-kubu mitos minyak habis serta minyak masih banyak saling bergantian berhembus. Salah satu kemungkinan penyebabnya, adalah seperti yang diungkapkan oleh Nolan (Exxon), “The world is not in danger of running out of oil any time soon.” Kenyataan ini ternyata hanyalah karena major oil western company (raksasa minyak) dari negara barat hanya mampu mengakses 25% total cadangan dunia. Artinya negara-negara mereka yg bener-bener haus akan minyak tetapi perusahan migas nya tidak mampu mengakses cadangan tersebut.

Mereka jelas mbingungi, makanya menghembuskan issue “hey minyak tuh masih banyak, cuman gimna nih, gwe kagak bisa ikutan menikmati ” ! 🙁
Lah rak buingung ta … lah wong lagi kepingin ngombe kok wong liyo malah ndekemi minyak tanpa bisa diatur … hihik gethem nih yee 😉

Mengapa Major Oil Company barat tidak bisa akses ke cadangan ini?. Ada beberapa sebab yaitu munculnya kompetitor raksasa minyak asia dari gerombolan Buto-buto China, serta pemain dari kampoenk melayu yang mlikithis si Petronas. Selain itu Brazil dengan kendaraan Petrobras, juga ulah cah mbeling Chevas dari Venezuela mendepak raksasa major dari rumahnya. Kesulitan-kesulitan akses ini menjadikan orang-orang barat ini (Amrik dan europe) kelabakan mengisi tangki minyak-nya.

Amrikpun sampek-sampek pemerintahnya ikutan turut campur dalam pembelian Unocal hingga hanya dicaplok Chevron. Hal ini tentu dilakukan Amrik untuk melawan perusahaan minyak besar yang dimiliki oleh negara seperti China-group, Petronas, dan Petrobras.

BIG oil company: (ngakunya) Ngga untung dengan harga tinggi.

Newsweek melaporkan juga bahwa pada kenyataannya kenaikan nilai saham perminyakan tidak meningkat drastis seperti peningkatan roket harga minyak yang sudah berlangsung 5 tahun ini. Bahkan Howard Silverblatt (senior analyst S&P) menyatakan return yang mereka (big oil co.) peroleh sekarang hanya 9.8, atau setengah darirata-rata sebelumnya. Iki artine: “udah kerja capek-capek, menggunakan duik banyak, tapi keuntungannya kaga sebanding. Pegel linu thok, rek” 🙁

Hal ini disebabkan ongkos eksplorasi-produksi meningkat sangat tajam, sebagai gambaran dibanding tahun 2002 (ketika harga sedang pada harga normal rata-2 dunia 26 USD/bbl).

  • Drilling Rig Cost (biaya pengeboran) : di Gulf Mexico kenaikan 400%, di North Sea 130%, Semi Sub (Rig besar utk deepwater) meningkat menjadi 180%.
  • Equipment Cost (biaya alat) : Pompa naik 19%, Pipa standard naik40%, Pipa khusus naik 50%.
  • Construction Cost (biaya konstruksi) : Biaya pekerja naik 25%, biaya konstruksi baja naik 75%, biaya manajemen projek naik 85%.

Sebagai gambaran BP mengebor ultra deep water dengan biaya Rig melambung dari US$200 000 menjadi US$500 000. Jadi walaupun mengalami peningkatan pendapatan (income), mereka juga harus berbagi keuntungan dengan pihak-pihak lain.

Yang menakutkan adalah “spiralling effect” dimana harga tidak akan menurun, dan cenderung naik terus.

Kebutuhan BBM dalam Negri Amrik

Amrik jelas negara yang haus minyak (25% world consumption), selain haus secara total kebutuhan minyak mentah, juga kebutuhan minyak mateng (refined product). Salah satu mangsalah besar adalah jumlah refinery (kilang minyak) saat ini tidak dapat mememenuhi kebutuhan lokal BBM. Yang akhirnya nilai jual minyak mateng (BBM) inipun melambung, dan akhirnya disusul kenaikan harga minyak mentahnya di dunia. Apalagi ditambah badai Katrina ikut-ikutan menggoyang kapasitas produksi BBM lokalnya. Wis komplit dah !

Jadi adakah BOOM itu telah berakhir ?

Setelah melihat-lihat faktor2 yang diduga sebagai parameter pengontrol minyak mentah diatas, apakah bener bahwa oil boom ini akan segera berakhir, dengan ditunjukkannya penurunan harga yang signifikan dari 80 ke 60 (USD/barrel) dalam waktu kurang dari sebulan ?

see continue to The workforce challenge (tapekno besok ya … kerjo sik)

ref : Newsweek edisi 9 October 2006

1 COMMENT

  1. Pak Dhe,

    Yang luput kayaknya harga minyak mahal karena spekulan, Liat aja pialang pialang di bursa saham. Mereka jual-beli minyak diatas kertas…
    Kalo konsep jual-beli harus pada material, nggak bakalan harga minyak seperti balon gas.. naek-naek ampe gasnya kempes .psssssss

  2. Dear Mas Harry Kusna,
    Setahuku hanya lembaga-lemabga tertentu saja yang masih mengeluarkan “perkiraan” harga (IEA,. Yang lainnya lebih menonjolkan pendapat beberapa orang yang dianggap ahli atau berdasarkan survey. Jadi pendapat statistik dan kolektif akan lebih dilihat ketimbang prediksi/perkiraan. Seperti yg kutulis bahwa perkiraan (walapun pasti salah) tetap dilakukan dan diperlukan.
    tetapi saya tentunya sangat tidak kompeten lah yaw.
    Hanya yang saya tahu adalah pelajaran yg bisa kita petik, yaitu bagaimana membuat sebuah rencana proyek yang cukup “adaptif” terhadap perubahan. Juga bagaimana kita (sebagai pekerja, manajer, ataupun investor) harus “adaptif”.

    Ada juga info yg pernah saya baca soal kenaikan harga baja dunia yg sempet melambung akibat permintaan Cina yg tiba-tiba meninggi karena akan membuat stadium Olimpiade 2008. Tetapi permintaan sudah normal, karena tahap konstruksi bajanya sudah selesei.
    Permintaan energy china juga menguat kemarin itu tetapi tidak berketerusan, sifatnya sementara.

    Yang sekarang saya sedang curiga adalah Korea Utara. Percobaan Bom nuklirnya bisa mempengaruhi situasi di Asia … who knows ..

    Nah dari pertimbangan diatas, sepertinya harga labour bisa saja naik. Braindrain (perpindahan labour) bisa saja terjadi dalam skala regional Asia tenggara. Hanya saja kalau tidak ada kejadian istimewa mungkin permintaan material konstruksi mungkin tidak akan fluktuatif. Yang perlu diperhatikan justru dampak economic recovery (growth) di Asia.

  3. Pak Rovicky,
    Kalau kita mau bikin proyek pengembangan ladang minyak yang masa pembangunannya sekitar 2-3 tahun ke depan misalnya, sehubungan dengan fluktuasi harga minyak ke depan ini juga, kira2 bagaimana gambaran eskalasi dari current rate of engineering services di Indonesia yang mungkin terjadi thdp budget kami di tahun ini yaa, yang ant. lain akan meliputi:
    – biaya material, design, konstruksi
    – platform
    – FPSO
    – pipeline
    – biaya labor
    – skilled labor
    – local
    – expat
    – unskilled labor
    – biaya2 lain

    Terimakasih Pak.

    Wassalam,
    Harry Kusna
    ————————————
    Pak Rovicky menulis:
    “Hal ini disebabkan ongkos eksplorasi-produksi meningkat sangat tajam, sebagai gambaran dibanding tahun 2002 (ketika harga sedang pada harga normal rata-2 dunia 26 USD/bbl).

    Drilling Rig Cost (biaya pengeboran) : di Gulf Mexico kenaikan 400%, di North Sea 130%, Semi Sub (Rig besar utk deepwater) meningkat menjadi 180%.
    Equipment Cost (biaya alat) : Pompa naik 19%, Pipa standard naik40%, Pipa khusus naik 50%.
    Construction Cost (biaya konstruksi) : Biaya pekerja naik 25%, biaya konstruksi baja naik 75%, biaya manajemen projek naik 85%.”

  4. Betul Mbah, secara mudah rata-rata hanya 20-25% ini yang bisa diambil. Namun pada fase kedua bisa dilakukan penapisan, trus diperesh, didorong pakai uap panas seperti di Duri Sumatra … sampek bisa 40%. Brarti masiiih juga ada 60% yang mbegegeg ga mau keluar.

    Teknologi kan yo ono regane. Kalau harganya OK ya bolehlah diambil.

    Tapi kalau harganya jauuh tinggi melayang, nantinya energi alternatip menggantikan sebagai sumber alam pengganti. Tapekno kalau diinget-inget, berpindahnya dari batubara ke migas bukan karena batubaranya habis looh. Cadangan batubara di Indonesia masih bisa tahan jauuh lebih lama ketimbang minyakbumi.

  5. saya pernah dikasih tahu konco dari Teknik Kimia, bahwa teknology yg ada sekarang ini hanya mampu mengambil cadangan minyak bumi 20% saja, sedangkan yang 80% gak akan terambil karena belum ada teknologi yang bisa menjamahnya…

    apa betul pakdhe? atau ini hanya dobosannya temen saya saja. Hawong saya itu urusan ginian gak paham je…

  6. Ini komentarnya Benny Lubiantara di mailist Indoenergi
    benny ragu BIG player ndak untung, ….
    komenku : takut ditolak sama host country macam Veneuela kali ya ….

    ==============

    Bung Vicky,

    Saya tertarik mengomentari ulasan Newsweek yang anda posting,

    BIG oil company: Ngga untung dengan harga tinggi.

    Karena PER (price earning ratio bukan return!) sebesar 9.8 lebih kecil dari rata rata sebelumnya. Saya kira kita harus hati hati menginterpretasikan PER ini, bisa saja harga sahamnya naik walaupun PER nya kecil, tergantung earningnya. Kalau earningnya naik, PER nya tetap, ya harga sahamnya jadi naik, kira kira gitu.

    Moral ceritanya nya gini, kalau super majors mengklaim (nggak untung) lha gimana dengan host country?, lebih tekor lagi donk!!, lha wong semua cost yang naik itu di recover semua!, saya kira terjadi “asymetric information”, informasinya nggak balance, kita kan nggak tahu super majors itu pake asumsi harga minyak berapa.

    Simak salah satu pertanyaan dari wawancara Petroleum Intelligent Weekly (PIW) – August 21, 2006 dengan Rex Tillerson (RT), chairman of chief executive – ExxonMobil, PIW: Can you discuss the price assumptions you are using? RT: The answer is No !…It
    is not really relevant to how make we investment decisions..

    Jadi kita nggak boleh tahu, jangan jangan yang dipake masih harga 25 $/bbl, saya kira kenaikan harga minyak ini tentu sangat menguntungkan super majors, cuma mereka nggak mau high profile donk, bisa bisa kena windfall profit tax. Makanya tulisan spt Newsweek itu diperlukan super majors, mengesankan bahwa gua nggak untung untung banget!, Bear in mind, dunia minyak itu
    sarat urusan politik dan permainan persepsi, nggak heran kalau banyak buku buku (bukan yang teknis tentunya) dan artikel sebagian pesanan kelompok tertentu untuk membangun persepsi juga.. ya perang bukulah.

    Oke Bung Vicky keep posting… share with us..!

    Salam,
    Benny

  7. Saya kira bagus oil harga nya naik, more project more job. membuat ekonomi memanas jadi spin off nya cukup besar buat indonesia.

    yang saya ngak ngerti beleid pemerintah, menjual lng nya dg harga $ 6 – 12/mmbtu ke luar. tapi mengkonsumsi energi yang harga nya mahal di dalam negri, sebagai contoh harga diesel industri setara dg $ 30/mmbtu. kebalik balik pikiran nya policy maker di negri ini.

  8. nanya pak: untuk drilling cost dan equipment cost, konsumsi fuel ada kontribusinya gak? kalo ada, signifikan nggak?

    di industri laen, kayak mineral processing (terutama gold), malah untung lho…karena mereka pake coal (batu bara)untuk power generation, sementara harga minyak mentah yang naek ternyata ikutan nyundul harga gold (sekitar $790/troy oz, per Mei kemaren) hingga sempat mendekati rekor taon ’82 ($819/troy oz)
    ditilik dari operational fuel cost emang naek rata2 5% dibandingkan pada saat harga minyak normal, tapi kenaikan gold nya malah lebih sakti lagi…dari $460 ke $790!

    oh ya, kalo saya percaya Tuhan Maha Adil, begitu cadangan minyak mulai abis, pasti muncul sumber energi laen yang bisa dimanfaatkan. Begitu Amrik mulai bisa numpuk minyak, pasti gak bakalan bisa dipake, karena udah muncul sumber energi lain, itu feeling saya loh…
    sama halnya dengan kasus AIDS dulu, begitu free-sex dah mulai merajalela, maka turunlah penyakit AIDS, he2..ngawur ya pak? eniwei, trims loh atas wacananya yang bermanfaat bangedh.

  9. mmhhh…masih lebih kentel urusan politik-nya drpd urusan minyak…China emang ambisi-nya besar tapi seperti-nya mereka pun blom siap untuk go lebih international lg…ups…

Leave a Reply