Memetakan Gunung Lumpur Secara 3dimensi

0

fg7.JPG Secara kebetulan ada artikel khusus membahas Mud Volkano (Gunung Lumpur) di buletin bulanan AAPG (American Assoc of Petroleum Geologst) edisi May 2006, masih cukup hangat lah.

Pembuatan peta 3D ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam program pemboran. Iya program pemboran gunung lumpur. Sebenernya lebih tepat disebut 3d modeling, kalau peta kan hanya dalam 2d.

fg1.JPGDisebelah ini adalah gambar yang menunjukkan lokasi penelitian serta penampang regional daerah yang akan diteliti atau dipetakan. Terlihat bagaimana batuan tergencet karena pergerakan lempeng tektonik sehingga meliuk-liuk kayak ular naik turun. Coba deh tengok dibagian bawah batuan yg meliuk-liuk kayak ular itu. Disitu terlihat adanya batuan yang digambarkan merah ukuran ketebalannya tidak sama, batuan itu tebal tipis karena batuan ini bersifat plastis, mudah “mecotot”. Batuan yg plastis ini ya lempung itu yang membentuk gununglumpur (Mud Volkano). Mirip seperti lempung yang keluar bersama air di Sidoarjo. Lempung ini juga diendapkan dilaut, tetapi karena terangkat sehingga naik keatas seperti pada gambar penampang seismik dibawahnya.

fg2.JPGfg3.JPG Dua penampang seismik disebelah ini merupakan penampaan ideal dari gunung lumpur dalam seismik. Dibawahnya interpretasi dari seismik aslinya yang ditampilkan diatasnya.

Nah apa yang menarik dari dua gambar disamping itu ?

Ternyata banyak sekali sumur yang menembus lapisan gunung lumpur ini.
Apakah berarti gunung lumpur aman kalau di bor ?

Menurut saya memang bagaimanapun pengeboran dalam kondisi yang sangat kritispun masih memungkinkan untuk ditembus. Jadi pengeboran gunung lumpur bukanlah sesuatu yang mustahil, namun yang lebih penting adalah kehati-hatian dalam melakukan pengeboran. Slah satu kehati-hatian dari segi geologi adalah “pengenalan” … ya, pengetahuan akan mud-volkano inilah yang menjadi kunci kesuksesan operasi pengeboran dari sisi geologi. Dari sisi engineering cukup banyak selain mesin pengeboran untuk bawah permukaan tertutama mengetahui tekanan yang ada dibawah. Mengenal kondisi daerah yg akan dieksplorasi tentusaja merupakan syarat utama sebelum melakukan eksplorasi bahan mineral, bijih serta minyak bumi.

Hal yang sama sebenernya dengan usaha relief well. Kalau memang akan diusahakan menutup semburan lumpur ini, maka pengetahuan geologi bawah permukaan akan merupakan kunci dari operasi ini. Dibawah ini diperlihatkan bagaimana memetakan bentuk gunung lumpur ini dengan seismik 3D. Seismik 3D ini sudah sangat lazim dilakuakn dalam eksplorasi migas. Namun seismik 3D ini belum ada untuk daerah porong dan sekitarnya, sehingga sangat sulit mengetahui bagaimana karakteristik gunung lumpur di daerah ini.

Tapi seringkali dengan keminiman data banyak yang “berani” melakukan eksplorasi. Karena bagaimanapun ada sisi “gambling” (adu keberuntungan) dalam setiap tindakan eksplorasi.

fg4.JPG

Tipe-tipe gunung lumpur yang dijumpai didaerah ini memiliki tiga macam yaitu: 1. Tunggal dimana terdapat corong jalannya lumpur dan satu bukit lumpur yang terpendam. 2. Multi stack atau bertumpuk-tumpuk dan berjenjang. 3. Tunggal bertumpuk menjadi satu kesatuan. Ketiga tipe ini merupakan manifestasi tipe “erupsi” dari gunung lumpur.

fg5.JPG Bentuk gunung lumpur seperti yang ada dalam tulisan sebelumnya disini memilki bentuk concave dan convex (cembung dan ada yang cekung). Pemetaan dilakukan untuk permukaan atas (top), dasar (base), juga corong pipa jalan keluarnya lumpur.

Dengan pemetaan seismic 3D ini tentunya akan menjadi lebih mudah dalam melakukan pengeboran. Karena pengeboransaat ini sudah lazim mengebor miring bahkan horizontal. Malah ada looh yang berbentuk pancing, atau mengebor naik … loooh piye iki … Ini sudah bebrapa kali dilakukan oleh Shell sewaktu saya di Brunei beberapa tahun yang lalu.

fg6.JPG Apakah ada perbedaan dan persamaan dengan gunung api biasa ?

Skali lagi perhatikan seberapa luas areanya. Rata-rata awalnya hanya sekitar 1 Km saja, namun diameter area colapse sekitar 2-3 Km. Yang perlu diperhatikan adalah luas gunungnya sendiri yang sangat tergantung dari jumlah material dan kekentalan yang menentukan tinggi dari gunung lumpur ini. Luasnya bisa mencapai radius 5 Km. Tetapi radius 5 Km ini karena proses alam yg tidak dikontrol ulah manusia, tidak tersentuh engineering. nah kalau Lusi ini barangkali akan lebih terkontrol karena ada intervensi engineering.

Disebelah ini terlihat bentuk profile dari sebuah gunung api biasa yang berlapis. gunung api memiliki batas (dasar) yang relatif mendatar, tidak ada amblesan akibat keluarnya magma gunung api. Karena material magma ini disuplai terus dari bawah. Lah, trus darimana sumber material ini sebelumnya ? Magma ini sumbernya dari hasil tubrukan (gencetan) antar kerak-kerak bumi. Coba deh kalau diperhatikan, sepanjang Sumatra dan Jawa terdapat rentetan gunung api. Gunung api ini material dapur magmanya berasal dari pelelehan atau pencairan batuan dari kerak yang menunjam (subducted), jadi selama kerak tektoniknya berjalan (yang di Jawa Selatan dengan 7 cm/tahun itu), maka supply material (magma) akan selalu saja ada.

Dengan gambar diatas sepertinya cukup jelas perbedaan profil gunung lumpur dengan profile gunung api.

fg7.JPG Pemataan gunung lumopur tentusaja tidak hanya memetakan bentuk kerucut gunungnya saja, tetapi juga perlu diketahui bentuk dari corong yang menjadi jalan keluarnya material lumpur. Disebelah kiri ini terlihat bagaimana bentuk corong yang seperti pipa yang merupakan dinding dari lubang jalan lumpur.

Selain menggambarkan lubang keluarnya juga menggambarkan patahan yang melingkar (Concentric Fault). Perhatikan betapa idealnya patahan ini. Bandingkan dengan peta amblesan di Banjarpanji yang mirip tetapi patahannya masih lurus2. Kalau berlanjut barangkali peta di BPJ ini juga akan melingkar juga pada akhirnya.

fg8.JPGfg9.JPGfg10.JPGGambar ini menunjukkan kenampakan dari kaldera gunung lumpur. Bentuk yang berupa cone panjang seperti pipa ini merupakan lumpur yang berasal dari bawah. Juga terlihat patahan2 disekelilingKaldera.

Metode visualisasi ini sangat berguna ketika memetakan atau memodelkan gunung lumpur. Pemetaan inipun juga dapat dipakai untuk membuat model fase-fase pembentukan gunung lumpur. Seperti yang terlihat pada gambar 10. Fase-fase pembentukan ini sangat mirip dengan yang sebelumnya, dan juga saya kira nantinya akan sangat mirip dengan gunung lumpur di Sidoarjo yang akan datang.

Untuk apa memetakan atau memodelkan dalam 3dimensi ?

fg11.JPGGambar yang disebelah ini bisa terlihat bagaimana well trajectory (bentuk lintasan sumur) yang berusaha sedikit mungkin menerobos lapisan material gunung lumpur yang seringkali sangat labil, namun masih dapat mencapai sasaran dengan tepat.

Lihat saja bentuk sumur yang meliuk-liuk bahkan kemudian mengebor horizontal. Iya, bener tuh ngebornya horizontal . Mengebor horizontal berarti menambah penampang reservoir atau batuan yg mengandung minyak yang terpotong, sehingga produksi dapat lebih optimum.

“Pak Dhe, yang di BPJ sudah ada 3d seismiknya belom ?”

BPJ-1 ini sumur eksplorasi. Seringkali seismic 3d ini dilakukan setelah daerah itu dinyatakan atau dipastikan memang ada minyak. Tetapi sumur BPJ-1 merupakan sumur eksplorasi sehingga dilakukan pengeboran hanya berdasarkan data 2d seismik saja. Kalau sukses mestinya dilakukan survey seismic 3d untuk meningkatkan efisiensi pengambilan minyaknya.

Tapi sepertinya emang lagi apes. Minyak dan gas belum ketemu, eh lumpurnya nyembur duluan. Itulah konsekuensi eksplorasi dalam migas. Harus disadari adanya risiko besar yang harus ditanggung oleh perusahaan migas.

Referensi :

  • Simon A. Stewart,1 Richard J. Davies2, 2006, Structure and emplacement of mud volcano systems in the South Caspian Basin, AAPG Bulletin, V. 90, No. 5 (May 2006), P. 771-786.

1 COMMENT

  1. heloo
    Q masih bertanya2 pa bener kiamat tu tahun 2012 Q masih gak percaya baeud Q LOM bisa melakukun apa2 untuk k”2 orang tua Q……………..
    SUNGGUH Q gk menyangka beuud………………………………………………………..

  2. mungkinkah akan terjadi suatu longsor hebat sehingga menimbulkan suatu cekungan dalam yang nantinya akan menjadi danau abadi yang sanggggat dalam?

  3. Pak dhe tlong jelaskan napa gunung kelud ga jdi mletus, pdahal klo diamati harusnya udah,eh malah tiba2 muncul kepundan baru diatas gunung,mangnya magmanya bersifat basa y,harusnya kan asam…….. tlong jelaskan???????????

  4. Lho…Kenapa seismik 3D untuk Porong belum ada? Apakah Lapindo tidak memiliki data yang akurat untuk mengetahui karakteristik Lumpur? Apa persentase gambling Lapindo mengeksplorasi Porong terbilang besar? Jangan2 emang sarat bermuatan politis nih….wah kasihan warga sidoharjo….

  5. Pak Rovicky sebelumnya saya cuma mau minta ijin untuk mencuplik beberapa isi dari website nya ke tulisan fiksi saya. Abis… lengkap beneerrrr gitu… dan dongeng geologinya mau bener-bener saya jadiin dongeng. Boleh ,khan??? biar nanti anak-anak ABG yang beli chiklit or teenlit bisa ngeh juga sama kejadian alam begini!

  6. mas rovicky kalo lumpurnya abis keluar terus gimana kondisi lahan di atasnya apa g mpengaruhin struktur geomorfologinya trus lahannya masih layak dipakai ga mas

  7. Gunung lumpur terbentuk karena lumpurnya terperangkap dan tertimbun oleh tanah lain, air (laut) dari lumpur itu enggak keburu keluar, tanah yang menimbun tambah terus dan makin tebal sehingga lumpur yang tertimbun mestinya jadi “gepeng”. Tapi lumpur bisa bergerak-gerak jika tertimpa beban, kecenderungannya akan bergerak ke atas karena beda tekanan antara bagian bawah dan bagian atas lapisan lumpur. Jika ada bidang lemah pada bagian bawah lapisan tanah yang “menyelimuti” si lapisan lumpur, maka lumpurnya akan berusaha menerobos lewat sana. Bagian inilah yang menyebabkan gunung lumpur akan berbentuk agak lancip ke atas. Dari samping akan terlihat seperti kerucut juga kan? Yah enggak lancip-lancip amat gitu lho. Kalau lihat gambar no 2 di atas, lumpurnya malah membantuk bicone, kerucutnya dobel atas bawah (saya juga baru tahu nih bisa bicone :)).

  8. poin yg ini saya g’ nerti, tololng dijelasin dong :
    “Gunung lumpur karena berada di bawah permukaan tanah, cenderung ditimpa oleh material (sedimen/batuan) yang berada di atasnya, sehingga bentuknya lebih landai, kerucut juga tapi tidak selancip gunung berapi yang kita lihat di pulau Jawa.”

    aduh…. saya juga bingung nih dg istilah2 yg ada dalam vulkanologi, gimana ya, ada yg bisa jelasin g’?

  9. Numpang kasih komentar, Mas Vicky dan Mas/Mbak Hana,
    Kalau kaldera yang dimaksud adalah caldera, definisinya adalah lubang gede di puncak gunung (biasanya gunung api, tapi dalam hal ini gunung lumpur) yang terbentuk karena puncak gunung itu kolaps. Beda lagi dengan crater, yang terbentuk karena letusan magma, lubangnya lebih kecil, sehingga dalam 1 kaldera akan terdapat banyak crater.
    Kalau bentuk kerucut atau tidak, saya pikir karena 2 hal (yang bisa saya pikirkan):
    1. Gunung berapi mengeluarkan material dan menimbun material/batuan yang dikeluarkan di lereng-lerengnya sehingga makin tinggi dan terlihat seperti kerucut (inipun tergantung materialnya, karena jika terlalu cair, malah gunung apinya berbentuk seperti perisai, alias landai misalnya yang berada di Hawaii).
    2. Gunung lumpur karena berada di bawah permukaan tanah, cenderung ditimpa oleh material (sedimen/batuan) yang berada di atasnya, sehingga bentuknya lebih landai, kerucut juga tapi tidak selancip gunung berapi yang kita lihat di pulau Jawa.

    Nah yang saya juga bingung adalah kalau di bahasa Indonesia, mana yang namanya kepundan, mana yang kawah, bahkan ada danau kepundan segala dan padanan bahasa Inggrisnya apa. Bukan karena sok-sokan, tapi karena jarang dipake dan biasanya kalo pake seringnya meng-Indonesia-kan bahasa Inggris, jadinya gak tahu.

  10. Ithan,
    Kejadian Pulau Jawa kena gempa dan pensesaran atau terpatahkan, trus gunung meletus dan banjir dan terpatahkan lagi dan lain-lain dan selanjutnya …. ya, itu sudah terjadi berulang-ulang sejak jutaan tahun yang lalu ya gitu-gitu juga. Dan Pulau Jawa masih utuh dan masih ada, masih subur, masih padet 🙂

    Kejadian gempa kan tidak ujug2 seratus tahun yang lalu kan ?
    Itulah pentingnya mengetahui bumi yang dipijak ;D

  11. Setelah di timpa gempa (pulau jawa dan sekitarnya)…trus merupukan bagian dari (maaf kalo salah)…patahan dan lempengan…kira-kira piye ya kesimpulannya pak dhe…

    Nuhun

    Ithan

  12. Hana,
    Setahuku gunung lumpur ini hampir semuanya terjadi di laut, shingga bentuk kerucutnya tidak kentara (relatif lebih landai). Hal ini mungkin mudflow terjadi “under water” (dibawah air) berbeda dengan “under air” (dibawah udara). Selain itu material lumpur itu berbeda dengan material magma dan juga ejecta yg kelur dari gunung api.

  13. kenapa mud volkano berbentuk kardera sedangkan gunungapi biasanya berbentuk kerucut.apakah mungkin mud volkano berbentuk kerucut

Leave a Reply