Ki Sakiyun audisi menutup semburan lumpur !

0

Sore itu Sakiyun harus menyeleseikan uji kesaktian sebagai syarat untuk ikut lomba menutup lumpur panas di Desa Sirni (dekat tempat ringgalnya Si Timus Emas). Dasar Sakiyun rada nyantai, dia datang hanya menggunakan sandal jepit. Padahal sudah diwanti-wanti kalau lumpur yg keluar itu panas, harus pakai safety shoes. “Ah, wong ini acaranya di kantor kalurahan, kan hanya ‘audisi’ saja”, pikirnya.

Usaha menutup semburan lumpur ini dilakukan dengan segala cara baik cara normal maupun cara paranormal. Kepala desa Sirni pun tidak ketinggalan dengan membuka sayembara. Untuk menguji kemampuan paranormal sebelum memasuki uji ke semburan aslinya, akan dicobakan kemampuan para dukun ini pada semburan-semburan kecil.

Skalian mendamaikan suasana yang memanas akibat bentrokan antar warganya, begitulah pikiran Pak Kades. Lah iya lah, siapa orangnya yang ngga ketir-ketir, warganya dikelilingi tanggul setinggi limameter. Namun Pak Kades sadar, tidak mudah melakukan seleksi untuk menentukan siapa yg kompeten dan siapa yang dukun gadungan. Maka diperlukan sebuah uji seleksi awal sebagai ajang audisi paranormal sebelum memasuki arena semburan lumpur panas.

Tak pelak Ki Sakiyun ikut-ikutan mengadu ketangkasan, dan mengadu kesaktiannya dan mengadu nasib. lah hadianya rumah mewah gitu, je. Apalagi mengingat rumahnya yang gentengnya sudah mulai bocor sana-sini agara-gara beli lewat developer nakal.
Dengan gagah gempita Ki Sakiyun didampingi ajudannya mendatangi kalurahan yang sudah mulai penuh sesak dengan para kontestan yang akan mengikuti audisi. Hari itu sudah terkumpul lebih dari 69 peserta pendaftar. Tapi Ki Sakiyun seorang pemalas yang rada “mbethik” beliau selalu mendaftar terakhir, kalau kalah bisa beralasan kalau dulu lupa mendaftar 🙂

Ditengah gedung balai keluarahan sudah berkumpul para normal tigkat kecamatan dan juga tingkat kabupaten. Beberapa kontestan banyak melengkapi dengan aji-aji serta senjata pusakanya masing-masing. Ada yg membawa tongkat bengkok, ada yg membawa keris (ini paling banyak) ada juga yg membawa cincin dengan mata sebesar jambu mete … eh beneran nih, ini sebesar jambunya looh, bukan hanya sebesar ‘biji mete’nya.

Di depan balai desa terpampang dengan jelas isi dari uji ketangkasan dalam rangka audisi menutup lubang muncratnya lumpur panas ini :

kran.gifPara peserta diharapkan dapat menunjukkan kemampuannya dengan tugas sederhana:

Menutup kran bocor dalam waktu 15 menit ditengah2 arena terbuka …. dengan syarat
TIDAK BOLEH MENYENTUHNYA

Arena uji ketangkasan paranormal berlangsung terbuka. Di tengah lapangan Balai Desa Sirni ada satu lingkaran yang dipagari, sehingga para pemirsa boleh menonton polah tingkah semua peserta audisi dalam usaha menutup kran yng dibuka dengan air ngocor cukup deras.

Peserta pertama Kibroto Susilo (bukan nama sebenernya)  diundang maju kedepan …. Eng ing eng !. Seorang prewangan agak pendek gemuk, kulit coklat tua dengan ubel-ubel dikepalanya ini langsung duduk bersila dengan jarak satumeter dari kran yang ngocor airnya. Mulutnya terus ndremimil. Air tetep saja ngocor. Satu menit lewat, dua menit … sepuluh menit … dan “Dool … dool … dool !”. Waktu limabelas menit sudah habis. Kibroto gagal menutup dengan mantranya.

Peserta berikutnya KiBejo dari desa sebelah timur Desa Srini. Datang didampingi para ajudan lengkap dengan alat-alat jarak jauhnya. Satu keris dipasang di seblah arah matahari tenggelam, ini ada tujuannya katanya. Arah tenggelam berarti matinya kucuran air. Namun setelah ditunggu selama 10 menit air tetep saja ngocor. dan .. “Dool Dool Dool !” … peserta keduapun gagal.

Peserta ketiga, mencoba dengan tenaga dalamnya … hegh … air tetep ngocor… Peserta keempat gagal … kelima dst akhirnya berguguran. Semua gagal menutup kran bocor di Balai Desa. Dengan menyaksikan banyaknya para peserta yang gagal ternyata menyurutkan nyali beberapa peserta. Akhirnya beberapa kontestan dengan sukarela mengundurkan diri. Lainnya tidak muncul ketika dipanggil alias di “We O”, diskualifikasi karena tidak muncul. Kok kayak pertandingan tujuh blasan aja 🙂 . Penonton langsung  teriak “wuuuuu …. !!”

Semua cara normal yang dipakai paranormal ini sudah terpakai. Semua alat mulai dari keris, pecut, tali temali (ntah kayaknya ada juga tali pramuka yang dibawa). Bahkan beberapa kitab mantra-mantri sudah dicobakan dalam usaha menutup kran. Peralatan yg sudah ditaruh dipinggir kran pun sudah dicobakan hingga bau kemenyan dan bau obat nyamuk.
Ki Sakiyun makin gemeter juga melihat banyak kontestan yang mengundurkan diri. Tapi dia yakin mampu menutup kran itu dengan ilmunya. Ketika peserta nomer enampuluh gagal Ki Sakiyun makin gemetrean, apalagi dua ajudannya tidak berada disampingnya karena sedang menyaksikan uji audisi peserta lain.

Tiba-tiba peserta nomer enampuluh satu, enampuluh dua, … sampai peserta nomor pendaftaran enampuluh delapan tidak muncul dipanggil. Giliran Ki Sakiyun nomor enampuluh sembilan dipanggil. Ki Sakiyun gemeter, ajudan yang seharusnya disampingnya malah ngga ada, Blaik !. Dengan kaki gemeteran dia masuk arena. “Waddduh … pemirsa dipinggir lapangan sudah melotot semua”, pikirnya. Dia hanya dengan sendal jepit, melangkah maju.

Sangking stressnya Ki Sakiyun kebelet pipis, “diamput!!”, pisuhnya. Dua ajudannya malah ngilang lagi. Akhirnya dia maju sendirian, langsung menemui panitia. Ki Sakiyun memberitahuna bahwa dia memerlukan sarung saja, tapi ketinggalan agara-gara ajudannya mengudurkan diri, membawa lari semua peralatannya. Tetapi sakjane ya karena kebelet pipis, dan sebagai syarat terpaksa harus dilakukan hajat di tengah-tengah lapangan. Akhirnya panitia menyetujui untuk menyediakan sarung yang dipegangi sebagai syarat.

Akhirnya Ki Sakiyun ndodok (jongkok) di dalem krukupan sarung. Wedian iki sarungnya sapa lagi. Dia tetep diam didalem menahan mualu … “wedian kiyi,  sarung bau begini. Wah kudu bisa nahan 15 menit, bau sarung belum dicuci sebulan kali ya?”, pikirnya. Sambil grayak-grayak dia hanya ketemu HP pisang miliknya. Trus tiba-tiba Mak Pleng !! … dia punya ide. Dengan HP itu dia mau minta tolong kawannya supaya tidak mati kena bau sarung yang lama tidak dicuci ini..

Tiba-tiba  dalam waktu sepuluh menit berikutnya …. air yang mengucur dari kran langsung MAMPET  PET !! Penonton bersorak. “Horee !! …  Hidup Sakiyuun !”
Semua heran …. Sakiyun akhirnya keluar dari krukupan sarung sambil gethem gebras-gebres senyum “mentheng kelek“, Misuh-misuh, “Diancuk iki sarunge sapa sih  ambune ga ketulungan ?.

Ternyata didalam sarung tadi Sakiyun nelpon kawannya :

  • Dar, kon ijik tugas ndik PAM tah ?”, ujarnya.
  • Iyo cak iki jik tugas”, jare Darmoyo kancane SD jaman cilikane.
  • Aku tulongono ndiluk ae ya. Iku aku lagi ndandani pipo iki banyune mili terus aku ga iso nutup. Tulung pateni diluk ae limolas menit ga popo ta ? iki ambune ga karuwan
  • Lah gae opo sih Cak, kok mambu?”, tanya kawannya
  • Iki ambune ga kuwat aku, wis da lah. Jepetan itu patenono disik seko pusate ndik cedekmu iku“, kata Ki Sakiyun sambil nutup hidung
  • “beres Cak”
  • “Dar, kamu masih bertugas di PAM, kan ?”
  • “Bener, ini aku sedang tugas jaga”, Jawab Darmoyo kawan Sakiyun di SD waktu kecil.
  • Aku minta tolong bentar saja ya. Aku sedan mbetulin pipa dirumah ini. Duh, bauk banget tuh. Bentar aja limabelas menit ya”
  • “Looh, lagi ngapain kok bau banget ?”, tanya kawannya
  • “Udah lah cepet matiin aja, aku udah ga kuwat baunya nih?, itu kran dekatmu itu dimatiin dulu bentar ya”
  • “Oke lah”

1 COMMENT

  1. […] Yang non agamis : Lah ini seru banget looh. Banyak yang usaha menutupnya mendekati dengan urusan perklenikan. Termasuk menggunakan tenaga dalam dan tenaga luar, barangkali juga tenaga listrik (yaaah … paling enggak listrik batu baterei, karena ada yang mengajukan syaratnya harus dikerjakan tengah malam hari) . Tak kurang Pak Lurah melombakannya, termasuk yang diikuti Ki Sakiyun yang kisahnya ditulis disini. Bahkan tercatat lebih dari 35 yang dianggap memenuhi syarat. Tapi lucunya banyak yang memberikan syarat yang memang sulit bagi yang bepikiran logis. Ada yang minta dihubungi langsung … ada yang minta ditlipun, tapi juga ada yang minta dijemput … waduh yang ini sih pede aja lagi Ada juga yang memberikan syarat “bunga dari tujuh samodra” … wedian opo samodra mana yang ditumbuhi bunga. Lah wong ini soal klenik bukan soal pikiran, makanya jangan dipikirin.Ada juga looh yang menghubungkan dengan ramalan-ramalan masa lalu. Coba baca disini. Mereka yang ikuta peserta lomba ini juga ada yang adu untung-untungan, walaupun ada juga yang kemekelen kalau disuruh nutup keran bocor tapi ga boleh disentuh. Bayangin aja kalau sampek ada yang pol “ngeden” (mbah Dipo, apa ya bhasa Indonesia-nya?). ” hueghhhh …” Malah bisa-bisa punya sendiri jadi bocor kan ? Ya …. kran air dingin aja kagak bisa nutup, lah gimana mau nutup semburan yang 120 ribu meter kubik sehari, dengan suhu diatas seratus derajat lagi. […]

Leave a Reply