Mengapa “relief well” masih harus terus dikerjakan ?

14

relief-well-1.jpgBerikut diskusi di IAGI-net mengapa relief well masih diperlukan.

Saya berusaha menjawab pertanyaan terakhir mengapa relief well masih diperlukan ?

RDP wrote :
relief-well-3.jpgSangat mungkin relief well dan hal-hal teknis yang masih “related to drilling” merupakan syarat yg harus dipenuhi untuk dapat menggunakan penggantian pihak asuransi (insurance clause). Setahuku asuransi pemboran akan dibayarkan kalau sebuah kejadian termasuk BO dan UGBO disebabkan oleh aktifitas pemboran.
Lah kalau yakin bahwa itu tdk ada hubungannya ya ndak bisa dibayar asuransinya. Nah yang saya tidak tahu adalah apakah “collateral damage”, kerusakan yg diakibatkan oleh pemboran juga dibayarkan oleh asuransi ? ok ini PR ditaruh dulu.

relief-well-4.jpgDalam eksplorasi migas, rata-rata succes chance adalah 10% (1:10). Ini untuk mengejar nilai keuntungan yg mungkin bisa 15-30 kali harga pemboran. Artinya walaupun chancenya hanya 10% tetap dilakukan. Hal yang sama dengan relief well ini, walaupun chancenya 10%, tetap harus dilaksanakan karena kalau berhasil akan menyelamatkan jutaan dolar juga. Hanya saja eksplorasi mendapatkan resources, relief well to minimise lost.
Apalagi “relief well” sudah dibayarkan atau dibiayai oleh klausul asuransi.

relief-well-5.jpgJadi relief well menurutku harus tetap dijalankan. Tidak hanya berpikir untuk menutup tetapi masukkan program-program scientific untuk tujuan pembuktian atau menggalai data-data bawah permukaan. Which is, this is part of investigations steps.

Studi studi yg mungkin dilakukan dengan tiga lubang relief well ini misalnya :
Cross well tomography, Ya “Tomographic between three wells”, great !!.
Dengan tiga titik pengeboran maka akn lebih mudah dilakukan teknik-teknik tomografi utk mencari atau mengetahui “jalan” keluarnya lumpur. Darimana dan kemana saja lumpur-2 ini bermula dari bawah dan akhirnya muncrat. Kita tahu dari tiga titik akan diketahui satu titik, tentunya dengan geophone akan sangat mungkin didengan kebisingan yang dibuat oleh lumpur ini ketika berjalan keluar. Yaah, prinsipnya mirip kalau melihat isi kepala dengan tomografi di kedokteran itu.
– Studi 3D stratigraphic model
Melihat proses pembentukan mudvolkano yg diperkirakan berhubunagn dengan hydrothermal
– dll
Aku yakin akan sangat banyak data yg dapat diperoleh dan digali dengan tiga lubang ini.
Pengetahuan ini tentunya akan sangat bermanfaat buat Pak Basuki (KaBag LitBang PU seorang geolog) yg menjadi ketua timnas ini. Pengetahuan bawah permukaan merupakan basis data beliau untuk menangani dan mengantisipasi pembuatan konstruksi permukaan nantinya.

Jadi saya sepakat pengeboran relief well ini dilanjutkan dan jangan terburu-buru untuk mematikan atau dipompakan semen untuk menutup sebelum kita mendapatkan data-data teknis ini yg aku rasa “harga”nya sangat mahal. Toh “sudah ada” surface team akan tetap melaksanakan tugas penanganannya.

Salam
RDP

Awalnya :

> From: Dwiyatno Rumlan [mailto:[email protected]]
>
> Yth bapak/ibu,
> Mungkin saya terlambat mengikuti diskusi ttg LUSI di milis ini, hingga
> detik ini, dari informasi koran dan media, saya kok belum pernah
> mendengar suatu klarifikasi bahwa memang semburan gas dari Banjar
> Panji-1 itulah yang telah menyebabkan terjadinya semburan lumpur. Bagi
> yang punya data dan wewenang, mohon klarifikasinya, apakah benar bahwa
> kebocoran gas yang tidak terkontrol di sumur Banjar Panji-1 itulah yang
> telah menyebabkan terjadinya semburan lumpur.
>
> Atau barangkali hal ini pernah dibahas di milis ini, mohon referensinya
> sekitar tanggal berapa ya …..
>
> terimakasih
>
> Dwiyatno R.

Selanjutnya :

> From: “Awang Harun Satyana” <[email protected] >
>
> Pak Dwi,
>
> “Apa penyebab semburan lumpur-air panas di sekitar titik sumur Banjar
> Panji ?” adalah pertanyaan “dalam hati” semua orang, sebuah pertanyaan
> yang sangat esensial, yang sangat penting. Tetapi, yang tetap dalam
> wilayah “abu-abu”. Kalau persolannya berlarut-larut seperti sekarang
> ini, memang antara lain karena jawaban atas pertanyaan ini yang tetap di
> wilayah abu-abu, atau “diabu-abukan ?” Yang ditulis pak Sonny memang
> benar, andai jawabannya jelas mestinya persoalannya tak serumit
> sekarang.
>
> Diskusi-diskusi soal penyebab semburan lumpur ini sudah dilakukan sejak
> tiga bulan lalu, mungkin pak Dwi bisa cek ke arsip-arsip diskusi di
> IAGI-net, atau lebih gampangnya klik saja blogspotnya Pak Rovicky.
> Hanya, tetap saja tak ada jawaban tegas yang diterima oleh yang lain
> bahwa semburan lumpur ini diakibatkan oleh “X” Para ahli geologi, ahli
> reservoir, ahli pemboran pun punya pendapat sendiri-sendiri yang bisa
> berbeda-beda. Di kalangan ahli geologi pun pendapatnya bisa
> berbeda-beda.
>
> Kalau kita ringkaskan dari diskusi-diskusi yang lalu, rasanya ada 3
> pendapat soal penyebab semburan ini : (1) karena gempa yang berhubungan
> dengan gempa Yogya 27 Mei 2006, (2) karena proses pemboran, termasuk
> kelalaian mengikuti prosedur operasi standar (kalau ada), (3) kombinasi
> nomor 1 dan 2, (4) hidrotermal yang berhubungan dengan sistem panas bumi
> Kompleks Gunung Anjasmoro.
>
> Saya kebetulan punya akses kepada semua data baik yang dipublikasi
> maupun yang tidak dipublikasi, baik yang bisa untuk konsumsi umum maupun
> yang rahasia, termasuk data kegempaan maupun data pemboran. Saya pernah
> ulas pendapat saya soal asal semburan lumpur ini baik yang berhubungan
> dengan kegempaan maupun proses pemboran. Dan, saya ada di nomor (3).
>
> IAGI, melalui Pak Edy Sunardi – ketua komisi pengembangan keilmuan IAGI
> – telah mengeluarkan pendapat resmi bahwa kasus semburan lumpur di
> sekitar sumur Banjarpanji itu adalah berhubungan dengan erupsi mud
> volcano. Tetapi, IAGI pun tak mengeluarkan pendapat soal apa penyebab
> semburan lumpur tersebut. Atau, mengapa erupsi mud volcano itu terjadi.
>
> Sebuah data baru dibagi kepada saya dua hari lalu dari seorang kawan di
> oil company sekitar Jawa Timur (offshore East Java Sea, utara Gresik).
> Oil company ini sedang merekam data seismik di wilayahnya pada pagi hari
> gempa berkekuatan 5,9 SR menggoncang Yogyakarta dan sekitarnya (Sabtu 27
> Mei 2006 pukul 05:54:02 WIB). Di wilayah Lapindo, saat itu sumur Banjar
> Panji-1 sedang dalam proses pengeboran.
>
> Rekaman seismik di suatu SP (shot point) di wilayah offshore East Java
> Sea ini pada pukul 05:54:31 WIB sampai 05:54:36 WIB menghasilkan
> tampilan first arrival gelombang seismik yang wajar. Namun, berselang
> beberapa detik kemudian, saat merekam pada SP berikutnya, tepat pada
> pukul 05:54:51, tampilan first arrival gelombang seismik di SP tersebut
> di samping menampilkan gelombang seismik hasil perekaman, juga
> terkombinasi secara dominan oleh gelombang seismik lain dengan frekuensi
> yang relatif jauh lebih rendah dibandingkan gelombang seismik hasil
> perekaman. Gelombang lain apa itu ? Diyakini, itu bukan surface effect
> di sekitar wilayah perekaman seismik yang menimbulkan noise. Tetapi, ini
> gelombang gempa yang berpropagasi dari episentrum sekitar Yogyakarta.
> Runtunan waktunya tepat antara kejadian gempa dan masuknya gelombang
> gempa ke perekaman seismik. Dihitung-hitung, lokasi perekaman seismik
> adalah di 286 km timurlaut episentrum Yogyakarta, gelombang gempa
> mengganggu rekaman seismik setelah 34 – 39 detik kejadian pertama gempa
> menggoncang Yogyakarta. Maka, kecepatan propagasi gelombang gempa ke
> wilayah ini antara 7333 m/detik dan 8412 m/detik.
>
> Saya pernah menulis, propagasi gelombang gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 ke
> arah timur dan timurlaut dari Yogyakarta; ternyata tercatat juga oleh
> kru seismik di wilayah offshore East Java Sea itu, tercatat di beberapa
> stasiun BMG di wilayah Jawa Timur dengan skala < 5 SR, juga mengaktifkan
> Gunung Semeru dua hari kemudian (29 Mei 2006).
>
> Pertanyaannya, apakah gempa memicu erupsi lumpur Pliosen Pucangan di
> sekitar wilayah Banjar Panji ? Silakan dijawab sendiri-sendiri. Saya
> hanya menampilkan fakta bahwa wilayah Banjar Panji ada di dalam wilayah
> propagasi gelombang gempa. Propagasi ini di utara dibuktikan oleh
> rekaman data seismik, di selatan oleh reaktivasi Gunung Semeru, posisi
> Banjar Panji ada di antara dua wilayah ini.
>
> Kemudian, kita juga harus bertanya pada diri kita masing2, andai tidak
> ada sumur Banjar Panji, tetapi ada gempa, apakah erupsi lumpur tetap
> terjadi ? Ini pelik untuk dijawab, dan inilah yang membuat sampai saat
> ini kita tak punya jawaban hitam atau putih.
>
> Salam,
> awang

On 9/14/06, Dwiyatno Rumlan <[email protected] > wrote:
> Pak Awang, terimakasih atas keteranganya yang sangat detail.
> Saya hanya melihatnya, kalau sumber permasalahan itu tidak diketahui dengan
> pasti, bagaimana kita mau menyelesaikanya dengan baik.
> Option2 yang dilaksanakan selama ini, ie: snubbing, sidetrack dan relief
> well ini seakan-akan meyakini bahwa sumur Banjar Panji-1 lah satu-satunya
> yang menyebabkan terjadi mud-eruption. Lha kalau ternyata keyakinan ini
> tidak betul, apa ya gak buang2 waktu dan dana saja ……..
>
> Satu lagi pertanyaan saya pak, gas yang keluar bersama lumpur tersebut, apa
> ya memang gas yang dari formasi Tuban Eq. ?!
> Kalau melihat data2 gempa yang terekord dalam seismic, benar bahwa juga
> setuju dengan pak Awang dengan pilihan yang ketiga bahwa kombinasi antara
> gempa dan pemboran sumur Banjar panji-1 lah yang telah menyebabkan
> terjadinya mud-eruption.
>
> Salam
> Dwiyatno

14 COMMENTS

  1. September 18th, 2006 at 7:42 am lalu saya iseng berkomentar : … masihkah Lapindo dan Pemerintah akan membohongi masyarakat dengan pipa 20 kilo meter, tanggul yang ditutupi serat sintetis….
    Kemudian Mas Rovicky balas komentar : Looh kenapa pipa 20 kilometer dianggep bohong ? Kan pipa itui dipakai utk mengalirkan air yg muncrat terus ini. Debit yg 70% air ini kan lebih bagus kalau airnya saja (kalo non toxic) dialirkan lewat pipa ke laut.
    —> Sekarang, tampak jelas bahwa pipa 20 km itu tidak terjadi. Sewaktu agustus
    lalu saya ke Surabaya, sempat melihat semburan lumpur, kepekatan lumpur yang terinjak kaki. Meskipun, katakanlah benar lumpurnya hanya 30%, tapi sifat lumpur begitu, tidak gampang mengalirkan. –> Sungguh disayangkan, satu pandangan yang terbukti (seharusnya tidak terbukti), Ini menunjukkan memang, logika politik lebih banyak dipakai ketimbang logika keteknikan.

    Begitu juga relief well. Mahluk seberat itu harus dipasang di tengah luberan lumpur dan penurunan tanah pada radius yang sudah lumayan besar. Rasanya ini juga guyonan saja. Bagaimana dengan korban lumpur?, apakah akan diperlakukan juga seperti pipa 20km itu?.

  2. Pak Salman,
    kalau melihat kenampakan yang sama dalam rekaman penampang seismik di daerah Porong, maka lokasi yg terkena pengaruh penurunan kira-kira dalam jarak radius 3-5 Km, yang paling dalam penurunannya radius 2 Km. Jadi, kalau saja gejalanya sama maka amblesan yg akan terjadi tidak akan mencapai perkotaan Sidoarjo.
    Dan yg lebih penting proses amblesannya juga tidak sekonyong-konyong. Saya yakin ada waktu untuk menyelamatkan diri. Hanya saja perlu antisipasi kalau bendungannya jebol. Ini yg lebih berbahaya.

  3. Dear Pak Rovicky, saya orang awam penghuni perumahan kurang lebih 5 km dari pusat semburan ke utara tepatnya candi. kira2 luberan lumpur sampai ke sana gak ya? kalo berdasarkan kontur tanahnya 4 m, dan berdasarkan kepentingan publik berarti penyelamatan akses jalan dan rel kereta apa ada kemungkinan sidoarjo timur dikorbankan? terima kasih

  4. Mohon perkenan saya ikut urun-rembuk memberikan komentar, matur nuwun.
    Kita prihatin sampai saat ini penanganan masalah lumpur Porong (menurut kaidah penamaan geografis kurang tepat disebut lumpur Lapindo!) masih tetap menjadi pro-kontra yang berkepanjangan. Sebetulnya saya berharap bahwa pada Kepres yang baru ini muncul institusi geologi yang kompeten seperti Geotek-LIPI, BPPT, atau Badan Geologi ESDM yang dilibatkan sebagai anggota Tim Pengarah, karena sejak awal nampaknya gejala yang kita perguncingkan ini adalah fenomena geologi yang sangat sederhana dan lazim terjadi di bumi ini. Tapi justru para pakar geologi nampaknya masih bungkam seribu bahasa sehingga masalah ini makin bergulir dan menjauh dari domain geologi.
    Demikian pula dengan upaya mematikan semburan melalui relief well nampaknya sudah “tidak in” lagi mengingat kekhawatiran bahaya gelontoran lumpur pada musim hujan akan membawa bencana baru. Berhasil atau tidaknya relief well ini tidak akan menjamin penanggulangan korban bencana (masyarakat) yang justru seharusnya menjadi prioritas penanggulangan. Lahan yang sekarang tergenang walau bagaimanapun tidak dapat dipulihkan kembali menjadi pemukiman atau persawahan, karena tempat yang pantas bagi lumpur Porong ini adalah di dasar laut.
    Menurut hemat saya, sangat perlu suatu pernyataan institusi yang kompeten di bidang geologi yang menyatakan bahwa musibah ini telah bergeser dan patut disebut “disaster” terutama ditinjau dari luar biasanya jumlah volum lumpur yang keluar dan tidak terkendali lagi. Dengan demikian penanggulangannya akan bersifat darurat dan lebih efektif.
    Demikian pula dengan skenario terakhir yaitu alternatif penanggulangan membuang lumpur ke laut, nampaknya sulit dilakukan secara teknik karena kelandaian lereng. Cara ini memerlukan penerapan submarine placement technique yang cukup rumit. Oleh sebab itu, saya berpendapat bahwa alternatif terakhir adalah membiarkan saja proses alami ini berlangsung dan mengalir secara alamiah, sebagai mana gejala mud eruption lainnya di dunia. Upaya yang diperlukan hanyalah mengendalikan aliran sehingga tidak menjadi bencana baru.
    Jelas, bahwa kawasan ini harus dinyatakan sebagai kawasan rawan bencana, sehingga semua fasilitas publik (jalan tol, rel KA, dsb.), pemukiman, kawasan industri perlu direncanakan untuk direlokasi ke tempat yang aman. Dengan demikian, dampak muti dimensi yang makin berkembang ini akan secara bertahap dapat ditekan dan diatasi. Semoga….

  5. Looh kenapa pipa 20 kilometer dianggep bohong ?
    Kan pipa itui dipakai utk mengalirkan air yg muncrat terus ini. Debit yg 70% air ini kan lebih bagus kalau airnya saja (kalo non toxic) dialirkan lewat pipa ke laut. Pond-pond baru itu aku pikir perlu untuk menampung “padatannya” / lempungnya yang 30% itu. Kan lempung ini bisa dimanfaatkan nantinya, atau sebagai “pengisi” lubang yg diperkirakan ambles ini.

    Kalau sosialisasi yg kurang … nah itu barangkali yg perlu diperhatikan. Bahwa perlu pemberitahuan dan pengajaran ke masyarakat tentang bahaya tentang (kelahiran) gunung lumpur ini.

    Yang gawat kan relief well kemungkinan gagal karena lokasi dipermukaannya kebanjiran.

  6. Kalau membor perut bumi dengan kemungkinan 10% berhasil, dan jika berhasil akan dapat sekian ratus persen, bisa dibilang impas. Jika untuk menutup semburan lumpur, kemungkinan berhasilnya 10% maka dibacanya 90% kemungkinan gagal. Lalu, masihkah Lapindo dan Pemerintah akan membohongi masyarakat dengan pipa 20 kilo meter, tanggul yang ditutupi serat sintetis, jalur tol yang akan dialihkan. Lalu kebohongan lagi tentang, pond-pond untuk mengolah lumpur. Kepres sudah turun, tapi sosialisasi resiko dan perlindungan pada korban dan calon korban masih terbata-bata. Jelas, di sini para pengambil keputusan, purel, dan penelitian tidak berjalan sebagaimana mestinya. Mungkin semua sudah pada panik. Jadi relief well terus dikerjakan dengan setengah hati tujuannya bukan untuk menutup semburan atau dapat minyak, tapi sekedar menghibur isu saja. Makanya dikerjakan lama dan setengah hati, karena mereka tahu persis apa yang sesungguhnya terjadi…

  7. Dear Tzc,
    Kalau pendapat pribadi saya penyebabnya mungkin bukan forcemajeur. Saat ini memang sudah berubah menjadi bencana. Kasus hukumnya seperti ExxonValdez, kasus kecelakaan yg enjadi bencana. Dalam kasus itu Exxon tetap tanggung jawab, dan saya rasa asuransi masih membayarkan preminya.
    Aku tidak tahu bagaimana aspek asuransi/hukumnya soal BPJ-1 ini.

    Soal keputusan bupati membuang ke Porong krn darurat, secara politis saat ini ditangani sebagai bencana, dengan Keppres tsb menunjukkan gejala2 “disaster” spt yg ditulis UNDEP.

  8. koreksi:

    Ammmpunnn deh šŸ™ . Terima kasih atas perhatiannya dan selamat bermalam minggu, buat saudaraku yang pinggir tol, tabah dan tawakal, yo.

  9. Mas Rovicky,
    Saya membaca lagi laporan UNDAC, dan kebetulan di pemberitaan disebutkan Bpk. Bupati menyatakan keadaan darurat.
    Saya teringat pada laporan UNDAC p.6 yaitu:
    Emergency response
    As the mud volcano and mudflow has not been declared a national disaster, the overall coordination and esponsibility for the emergency response rests with the provincial authorities, i.e., the Governor of East Java. Based on their assessments of the situation, the provincial authorities have established the following three main
    objectives:
    ā€¢stem the flow
    ā€¢manage the social impacts
    ā€¢minimize the environmental impacts.

    dan dari p.20
    Marine environment exposure
    The aquatic environment can be exposed to the mud for example, if a decision is made to deposit the mud at sea. This situation would occur in the event of a dam collapse or overflow, as the sea is located only few kilometres from the source. The mud would follow natural gravity and be transported via rivers to the sea (if no preventive measures are taken).

    Impact
    Numerous fish ponds are situated in the coastal zone. Apparently the marine environment, including former mangroves, has been degraded by the aquaculture activities. The table below provides an overview of expected impacts.

    Perhatian saya:
    Karena di sini ada Bpk. Awang yang memiliki akses luas, maka sudilah
    kiranya kita (melalui blog ini) dijelaskan mengenai Insurance Clause
    yang ada. Kalau tidak salah, dari pemberitaan disebut pertanggungan aset LBI tidak lebih dari Rp12M ???, bagaimana dengan pertanggungan third party?

    Saya sudah baca artikel di
    http://hotmudflow.wordpress.com/2006/07/07/luapan-lumpur-sumur-banjar
    -panji-dari-aspek-hukum/
    kalau tidak salah mengerti Keadaan Darurat (Force Majeure) tidak
    memungkinkan penggantian klaim. Ammmpunnn deh :). Terima kasih atas perhatiannya dan selamat bermalam minggu, buat saudaraku yang pinggir tol, tabah dan tawakal, yo.

  10. Guru saya malah bilang turun 5 cm perhari. Kayaknya itu Hoax atau orang salah baca&liat terus disebarin, mungkin lho. Kalo dulu saya baca koran waktu awal keluar lumpur, ada ahli yang bilang tanah di sidoarjo tidak akan ambles, mungkin mengalami penurunan sedikit. Terus dikasih contoh kota semarang yang tanahnya turun 5cm per tahun, utk membandingkan atau apa gitu. Seingat saya di berita waktu itu bukan sidoarjo yang ambles 5cm ato Hari ato Bulan ato Tahun atoitungan lain.

  11. menurut yg berita yg saya baca, lumpur Lapindo gak bisa dihentikan secara sempurna sampe 21tahun. itu berdasarkan analisa atau ngaco?
    satu lagi, katanya sejak terjadinya semburan (mei 2006) permukaan tanah wilayah dg radius 2km dari pusat semburan turun 5 cm per bulan. Itu bener apa gak? Kalo bener gimana cara itung2annya koq dapat angka segitu

  12. Apakah mungkin relief well dari sumur Banjar Panji dilaksanakan 3D-VSP di
    sekitar lubang sumur. Ide ini bisa untuk meningkatkan kepercayaan
    interpretasi bawah permukaan oleh G&G, dan diharapkan dapat untuk
    mengetahui sumber permasalahannya. Pernah ada salah satu perusahaan yang
    berlokasi di Gulf Mexico melakukan hal ini dikarenakan adanya salt dome
    disekitar sumur yang mengakibatkan seismik-nya sulit sekali untuk dilakukan
    analisa, ternyata dari VSP, bukannya 2d VSP walkaway biasa, tetapi
    source-nya 3D, sehingga bisa menghasilhkan 3D survey, yang tentunya
    resolusinya jauh lebih bagus daripada 3D seismik survey biasa.

    salam,
    mandhiri

Leave a Reply