Kita tengok Selat Madura yook !

0

Tidak adil rasanya kalau kita berbicara soal lumpur tetapi lupa melihat apa yang ada di Selat Madura saat ini. Kondisi Selat saat ini sangat perlu diketahui sebagai base level nantinya kalau … sekali lagi kalau … terpaksa membuang lumpur ke Selat Madura.

Kali ini saya coba bermain-main dengan ANGKA ! angka … ah geologi ini rada gamang kalau berhubungan dengan angka ini.

Dongengan ini merupakan sebagian dari materi yang dipresentasikan di ITS pada tanggal 7 September kemarin. Aku yakin yg hadir engga banyak kan ? lah iya masak semua masuk gedung, tempat duduk kaga cukup kalee … Kalau dimasukkan di Weblok kan duduk di kursi sendiri2 kan ?
Sebelumnya trimakasih buat Mas Amien Widodo dari ITS yang bersedia berbagi info ini sehingga saya bisa berbagi juga dengan pembaca dan komentator disini (kalau di seminar kan susah dikomentari, kan ?).

Saya hanya akan melihat dari sisi air berserta endapannya saja ya, kan banyak sisi lain misalnya kimiawi dan kondisi biologi, tapi kalau sempat nanti juga aku dongengin juga deh.

Dasar Laut Selat Madura

Peta KedalamanKondisi yang perlu diketahui dari Selat Madura adalah kedalaman … lah iya lah ya. Dimana-mana kalau mau membuat peta laut yang diperlukan ya peta dasar lautnya. Apa yg terlihat dari peta batimetri atau peta kedalaman laut ini ?

Ya kita bisa lihat bahwa di Selat Madura di bagian utara dekat Surabaya – Gresik muka air lautnya sangat dangkal. Bahkan kalau proses ini berjalan terus, maka Pulau Madura bakalan bersatu dengan Jawa (asyik dong ya, ga usah naik feri, bisa jalan kaki). Tapi ternyata bersatunya selat ini juga akan mempengaruhi ekosistem disini, tentusaja. Karena pentingnya selat ini sebagai penghubung laut Jawa (di utara) dengan Selat Madura di sebelah selatan. Itulah sebabnya ada usaha mengatasi pendangkalan selat ini dengan membuat saluran yag terlihat pada artikel sebelumnya disini, di artikel itu juga dapat dilihat pada peta Ujung Pangkah yang merupakan delta baru buatan manusia.

Kalau seandainya kedua pulau ini menyatu maka harus merubah buanyak sekali peta ya, karena Selat Madura akan hilang menjadi Teluk Madura !. Dari segi ekologi yg ditakutkan kalau terbentuk teluk maka sirkulasi terganggu dan sangat mungkin biota serta kondisi air laut (teluk) ini krang produkstip utk pertanian, mungkin saja kan.
Mari kita lihat, apakah bener pendangkalan ini terjadi di Selat Madura yg sempit ini, apakah sempitnya ini karena endapan atau karena ramuan Madura ?

Sedimen-sedimen di Selat Madura

Sungai2 yg mengalir ke selat MaduraAda beberapa sungai yang bermuara di Selat Madura, yaitu Sungai Bengawan Solo, dan Sungai Brantas.

Nah yang pertama ini nih, sungai Bengawan Solo yang mengalir dari Solo mengalir juauuh dan dulu sering membuat banjir di daerah Kediri dan sekitarnya. Selain Bengawan Solo ada Sungai Brantas. Sungai ini bercabang di daerah Porong menjadi Sungai Porong (ke selatan) dan Sungai Surabaya atau Kalimas (Sungai Mas) ke utara.

Bengawan Solo merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Pulau Jawa. Alirannya melewati dua propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Panjangnya ada sekitar 600 km. Satuan Wilayah Sungainya atau yang lebih dikenal dengan SWS atau DAS Bengawan Solo luas totalnya ada 20.125 km persegi. Berada di 20 kabupaten/ kota. Wah kalau dirunut sungai ini mengajak untuk menghafal kabupaten2 di Jawa … 🙂

Yang terpenting disini adalah luas daerah aliran sungai Bengawan Solo seluas lebih dari 20 000 Km persegi. Bayangkan jumlah endapan yang dibawa oleh sungai ini. Berapa juga “sampah” kota-kota yang dilewati yang “nunut” mengalir dalam aliran sungai ini. Perlu juga dilihat bagaimana rona sungai-sungai ini. Tentunya KLH atau PU memilki data detilnya kan ?

Sungai lain yang bermuara di Selat Madura yaitu Sungai Brantas. Sungai Brantas merupakan sungai nomor dua terpanjang di Pulau Jawa setelah Sungai Bengawan Solo . Nah yang terpenting diketahui tentang sungai ini adalah Saat ini Sungai Porong hanya berjarak sekitar 40 km dari hulu sungainya, dan relatif dekat dengan jalur gunungapi (Gunungapi Anjasmoro – Kelud-Kawi). Daerah tangkapan (catchment area) atau DAS dari Sungai Brantas mencapai 11.000 km2.

Bagaimana dengan endapan yg dibawanya. Menurut MGI (Marine Geological Institute Indonesia) atau Geologi Kelautan Indonesia yg berkantor di Bandung ini, endapan bawaan Sungai Brantas mencapai 1,3 kg/m3, (artinya dalam 1 M3 air terdapat endapan seberat 1,3 Kg) yang jauh lebih kecil dari endapan bawaan Sungai Bengawan Solo yang mencapai 2,75 kg/m3. Ya jelas kan wong daerah aliran sungainya atau pengumpulan tanah hasil erosinya juga lebih luas Bengawan Solo kan hanya separonya ?
Perubahan garis pantai dari endapan Sungai Brantas mencapai 7 m/tahun, dan Sungai Porong mencapai 9-15 m/tahun.

Bagaimana dengan debit sungai Porong ? Menurut Tempo interaktif, berdasarkan perhitungan Jasa Tirta, debit air di Kali Porong dalam kondisi banjir mencapai 1.500 meter kubik per detik. Semoga yg dimaksud 1.500 meter kubik perdetik ini bener angkanya berarti seribu limaratus. Atau kalau disetarakan skalanya dalam satu hari, hampir mencapai 130 juta meter kubik/hari. Kalau saja sesuai penghitungan MGI bahwa 1,3 Kg/m3, maka endapan yang dibawa Sungai Porong hampir 170 juta Kg endapan sungai perhari. Sebelum berlanjut coba bandingkan dengan 50 000 meter kubik sehari dari luapan lumpur yang isinya 70% air dan 30% endapan. Jadi kalau saja BJ lumpur itu 2 kg/m3, maka endapan lumpur Lapindo sekitar 30 000 Kg sehari.
Sedimen di Selat MaduraSekarang kita coba lihat dan kita amati saja bagaimana endapan ini di selat Madura. Sebelum dihitung coba kita tengok citra satelitnya. Citra satelit ini merupakan gambaran tahun 2004. Boleh lah kita pakai sebagai peta rona awal. Nanti kalau terpaksa ada pembuangan lumpur, kita kan bisa lihat lagi, apakah lumpur Lapindo itu nantinya memang bener membuat pencemaran dan merusak.

Dalam citra satelit itu sangat jelas terlihat bahwa Bengawan Solo membawa sedimen cukup besar dan cukup banyak bahkan saya yakin dia lebih bertanggung jawab atas pendangkalan Selat Madura. Dan Sungai Bengawan Solo lebih bertanggung jawab terhadap sedimentasi serta proses-proses lain di Selat madura secara umum, namun jangan diabaikan pengaruh sungai Brantas (Porong-KaliMas).

Tambak di Muara PorongNah kita lihat dulu ada apa di muara Sungai Porong ini ? Tambak !

Ya, lihat peta disamping dan klik untuk memperbesar gambarnya. Kalau di Utara Gresik di Muara Sungai Bengawan Solo jelas perubahan arah dan aliran buatan ini malah justru membuat tambak-tambak baru yg produktip artinya ada dampak positip dengan endapan-endapan baru dari Delta Sungai Bengawan Solo. Data dari MGI menunjukkan bahwa delta Porong ini maju sekitar 9-15 meter pertahun !

Sekarang silahkan dipikirkan sendiri-sendiri saja. Kalau Sungai Porong digelontori tambahan endapan yang sekitar 170 Kg sehari akan terpengaruh sangat besar ?

+Apakah volume lumpur yang 50 000 m3/hari (70 % air, 30 % lempung) atau sekitar 30 ribu Kg sehari ini akan berpengaruh di Selat Madura yg digelontori 170 juta Kg sehari ?
– Ya iya jelas ada pengaruhnya, lah mas Vick !
+ Ya, aku juga yakin pasti ada pengaruhnya, tapi sebesar apa ?
– Bukan masalah besar-kecilnya tapi pasti kan ada pengaruh !
+ OK lah, tapi jangan marah dulu donk ! pengaruhnya itu positip apa negatip ? …

Lah, itu aku juga ngga tahu ! Setahuku perubahan itu akan selalu saja ada. Saya tidak ngajak taruhan, looh. Tetapi kalau sepakat bahwa yg terjadi adalah sebuah bencana banjir lumpur, apa kita masih menunggu penelitian lagi? Sayangnya debit lumpur yg keluar ini sakenake dewe, lumpur terus menyembur tanpa nunggu SK Presiden maupun Menteri je.

Nah nanti kira-kira sepuluh atau duapuluh tahun lagi kita tinjau ulang seperti apa rona-nya.

Kalau ternyata ngga ngefek gimana ?

Ya berarti kita hanya ketakutan atau paranoid seperti yg dibilang Pak Koesoma, kita sama halnya dengan ketakutanya orang-orang wektu dulu ketika Columbus naik kapal menyeberang Samodra. Wektu itu banyak yg ketakutan dan nyumpah-nyumpahin Columbus supaya kecemplung laut (wong udah dilaut je), tapi ternyata ga ada apa-apa malah Columbus jadi terkenal … hihihi sapa tahu diantara kita termasuk “paranoid/phobia” yg menganggap dunia datar (flat earth).

Referensi :

1 COMMENT

  1. berjalan seiringnya waktu lusi pasti mampet jika Allah menghendaki,tetapi resiko mampetnya lusi menyebabkan harus di bangunnya bendungan lawang pitu di selat madura untuk mengontrol aliran lumpur yang tak terbendung,lawang pitu yang bisa di buka dan di tutup untuk keluar masuknya kapal ke pelabuhan.bendungan yang berfungsi untuk menampung lumpur lapindo sepanjang selat madura agar terkontrol dan tidak meluber banyak ke laut lepas!!!!!!

  2. Konon katanya …. kalau sedimen Bengawan Solo menyatukan Jawa Madura maka kerugiannya justru dari perikanan. Karena selama ini nutrisi yang masuk ke selat madura salah satunya berasal dari aliran sungai ini.
    Jadi pertimbangan jembatan SuroMadu salah satunya pertimbangan ekologis.

  3. Kalo P. Jawa dan Madura nyambung karena sedimen Bengawan solo sebenarnya kita beruntung. Ngak perlu bangun jembatan Suramadu. Hemat berapa trilyun ya ?

  4. Om Rovicky ane mo tanya…
    Klo ga salah(brarti bener donk…hehehehe), ada opsi klo didaerah coastal atau dekat dengan muara sungai porong akan dibangun landfill ya???opsi itu didasarkan apa yg telah dilakukan pemerintah jepang pasca tragedi minamata (di negara jepang).
    Bisa tolong jelaskan kepada ane,secara teknis(daya tampung,dll),dan dampak dari pembuatan landfill (ekologi dll).trus,katanya pake acara treatment segala ya???
    dan segalanya tentang landfill tsbt.
    ane butuh informasi itu buat makalah ane…..

    Thank you…
    Hatur Nuhun…
    Matur Nuwun…
    Terimakasih…

  5. Mas Rovicky, saya baru belajar ttg per-DAS-an nih. Sedikit curious (dan nyuwun sewu agak OOT dg tulisan di atas :)), bisa gak sih qta menganalisis sedimentasi dari citra satelit, misalnya dengan teknik pantulan gelombang? Atau ada cara lain?
    Matur nuwun.

  6. Salam,
    # Mazz Vicky, dikit koreksi aja ^^ (introduction di atas),
    ingetku Kediri tu masuknya ke DAS mBrantas. Jadi, sejauh bengawan solo dinyanyikan sedari dulu – Kediri belum pernah juga kelewatan tu bengawan. Kecuali lagunya aja. Tq

  7. Wah jadi menarik uraiannya Pak Rovicky tentang etung-etungan endapan Selat Madura. Tapi kembali lagi masalah pencemaran ‘kan tidak sesederhana itu? Selalu saja apa yang diungkapkan para geolog dan para lingkunganwan bertolak belakang. Ya ndak maido tho, wong yang satu Ontorejo dan satunya Gatotkoco. Mesti harus ada Puntodewo-nya.

  8. Mas Surendra,
    Suhunya memang sangat tinggi, namun suhu ini akan cepat turun, dalam satu hari pasti juga sudah berkurang. Seperti kita punya kopi pagi, kalau ngga cepet2 disruput ya cepet dingin. Paling tidak kalau dialirkan dalam kolam dan dibiarkan sehari disitu sebelum dialirkan ke laut aku rasa akan mendingin sendiri.

    Air bukanlah penyimpan panas yang baik.

  9. bagaimana dengan soal suhu, mas rovicky, karena suhu yang cukup tinggi akan mengganggu kehidupan biota yang setahu saya spesifik pada suhu tertentu.

  10. cuma itung itungan ringan aja nih mas

    dimisal kan endapan perhari sekitar 1/3 dari 170.000.000 kgjadi sekitar 56 juta M3 dan nilai tengah dari majunya delta porong yang sekitar 9 – 15 m/tahun adalah 12 m/tahun
    maka dengan bertambahnya volume endapan dari LUSI yang 30.000 kg
    maka majunya delta porong cuma nambah 12,006428 m/tahun saja.

    truss kalo misalnya lagi kita masih diberi umur 50 tahun kedepan, LUSI cuma memberi kontribusi ke endapan delta porong sebesar 0,3214 meterrr selama 50 tahun.

    truss kalo bener ada ahli yang nyebutin bahwa LUSI akan berhenti mengalir di tahun yang ke 50.000 dan dengan aliran perhari yang misalnya konstan sebesar 50.000 M3/hari. maka total endapan lusi akan menambah maju delta porong sejauh 105,6 meter dalam 50ribu tahun kedepan.

    pada tahun itu kita ini udah jadi bagian dari endapan kujung formation kaliyee…

  11. Wah harus lihat peta hidrologinya Pak. Kebetulan saya cuma bisa lihat peta hidrologi Brantas di papernya TOSHIKATSU OMACHI, yang kalau dirunut dari peta hidrologi itu sepertinya data debit yang Porong itu sudah cukup dekat dengan Selat Madura, hanya saja lokasi Porong yg sebelah mana yg diukur dalam data yg saya kirim di komentar sebelumnya, saya kurang tahu, karena kalau gak salah panjang kali porong lebih dari 40km ya Pak?

    Sebenarnya, menurut saya, kalau ada data lengkap bulanan, bisa lebih bagus lagi analisisnya, terutama utk kondisi terkini karena “morfologi” sungai Brantas sudah mengalami perubahan yg cukup signifikan dari tahun 1976 hingga kini (berdasarkan papernya TOSHIKATSU OMACHI). Saya kira, data debit ini mungkin tersedia di Perum Jasa Tirta, mengingat selama ini Jasa Tirta banyak bekerjasama dgn pihak luar negeri dalam melakukan pengukuran di Sungai Brantas. Paper2 ttg. sungai Brantas juga sepertinya cukup banyak di internet yg sumber datanya dari Jasa Tirta.

  12. Wah Makasih Mas Agus,
    Kalau sungai Porong (pecahan Brantas) itu masuk yang mana ya ? Debit minimum mana yg paling pas ya ?
    Karena saya akan membandingkan kalau akan digelontorkan deket Muara Porong. Bukan kali Porongnya.
    Bisa saja menggunakan debit minimum sebagai “low cut” atau safety factors, tapi kalau pas musim banjir (musim hujan) mungkin jumlah yg digelontorkan tergantung dari musim, bisa nggak ?

  13. Pak Rovicky, ini saya dapet data tahun 2000 di internet, debit terbesar dan terkecil utk. Bengawan Solo dan Kali Brantas di beberapa lokasi desa/kecamatan/kabupaten:

    Induk Sungai Desa/Kec./Kab. Debit(m3/detik)
    Max. Min.
    ——————————————————–
    B. Solo Nepal, Ngawi 2.571,68 45,00
    B. Solo Kauman,Widodaren,Ngawi 1.468,77 30,67
    B. Solo Ngawi,Ngawi — 10,38
    B. Solo Nambangan,Madiun 558,70 —
    B. Solo K.Ketek,Bojonegoro 2.023,89 9,96
    B. Solo Babat, Lamongan 1.352,31 9,02
    K. Brantas Kota Kediri 638,40 139,57
    K. Brantas Kertosono 875,00 92,63
    K. Brantas Jombang Babat 1.537,86 7,30
    K. Brantas Padangan, Mojokerto 1.043,09 20,48
    K. Brantas Bandar, Mojoroto — 49,69
    K. Brantas Jeli, Karangrejo — 10,31
    K. Brantas Lodoyo, Blitar — 52,85
    K. Brantas Wilingi, Blitar — 51,53
    K. Brantas Pagang, Malang — 31,79
    K. Brantas Kepanjen, Malang — 22,27
    K. Brantas Makikis, Kediri — 37,12
    K. Brantas Ploso, Jombang — 60,98
    K. Brantas Kemlangi, Mojokerto — 42,83
    K. Brantas Gunungsari, Wonokromo — 47,11
    K. Brantas Widas, Nganjuk — 10,65
    K. Brantas Porong, Pasuruan — 3,03
    K. Brantas Tumpuk, Trenggalek — 0,58

    Kalau kita mengasumsikan bahwa lumpur itu sebagai “sumber polutan”, menurut saya seharusnya debit minimum yg dijadikan pembanding, karena yg akan kita cari adalah “seberapa besar” lumpur itu memberikan “kontribusi tambahan” sedimen disamping dari sungai yang ada.

    semoga bermanfaat.

  14. Lah nyuwun sewu aku punya infonya cuman dari situ.
    Taapi kalau pas ngga banjir kira-kira sepertiganya ada ndak ? Kalao misalnya sepertiganya saja, itu masih juga sekitar 50 Juta Kg/hari … masih juga boleh dibilang “sedikit”. Bandingin antara 50 juta Kg dibanding 30 ribu Kg … masih jauuuh bo …

  15. hehehe… sedikit mau ngritik: kalau dibandingin ya memang kecil, apalagi yg dijadiin standar cuman kondisi banjir aja (kondisi yang sangat ekstrim)? lha emangnya banjir terjadi setiap hari di sana? harusnya, supaya fair dalam perbandingan, ya ambil kondisi rata-ratanya dalam setahun atau kondisi klimatologisnya (rata2 selama sekian tahun adanya data), toh kondisi banjir tidak terjadi sepanjang tahun kan?

    mengenai besarnya sedimentasi dari sungai2 itu, itu juga harus jadi perhatian serius pemerintah. kondisi yg digambarkan pak Rovicky mengindikasikan bahwa kerusakan lingkungan di daerah hulu cukup besar juga. harusnya kerusakan di hulu bisa diperbaiki/dicegah supaya angkutan sedimen akibat tingginya tingkat erosi bisa dikurangi.

  16. Mas Rovicky, kalau tidak berkeberatan, mohon dapat menjelaskan maksudnya berat endapan 1,3kg/m3. Saya bandingkan dengan air kemasan 1L itu sudah satu kilo, kemarin tetangga beli semen satu zak sudah 50kg, dicampur air dalam satu ember adukan beratnya ada kali 10kg. (dalam bentuk komentar saja, biar nggak begitu ketahuan begonya saya :)).

    O, ya mungkin perhatian petambak / nelayan itu adalah perubahan sifat air, ‘kan biasa tuh ikan ngambang di waduk Jatiluhur saat-saat tertentu (misal ketika digelontor), atau sederhananya ikan kita di akuarium mati waktu diganti airnya.

    Dasarnya kita kali, menganggap lumpur ini adalah luar biasa dan karenanya dapat mempengaruhi suatu yang sudah biasa. Hal-hal yang di luar kebiasaan ‘kan paling tidak kurang bisa / belum bisa dikontrol dan ini dianggap suatu risiko baru / potensial cost, perlu pembelajaran / pembiasaan (bukan pembilasan lho, nanti dianggap urusan cuci-mencuci lagi, apalagi cuci otak, wak :)).

    Kita ‘kan ngomong amannya kalau…, kalau sesuatu yang baru terjadi, seperti yang Mas tulis, kalau positif, bagus, kalau negatif, siapa yang tanggungjawab, seberapa besar, ada kompensasi, berapa lama, dst, dll.

    Tentu menjadi tugas (emang ada yang nugasin :)) ahli-ahli seperti Prof. Koesoema, Dr Mulyono, Mas Rovicky dll-nya untuk menjembatani pengertian kami, masyarakat awam dengan aspek teknis keilmuannya (btw, emang susah ya dapetin kandungan yang ada dalam lumpur itu, apakah menyentuh aspek kerahasian (misal: potensi kandungan minyak / mineral) dari PT. LBI??

    Itu saja dulu, terima kasih atas penjelasannya, juga tentang blog hotmudflow-nya.

Leave a Reply