Mana Angkanya ?

0

Ketika berbicara soal LuSi banyak yang menggunakan kata-kata ketika mendeskripsikanseberapa besar dan seberapa besar dampaknya.

Namun susah sekali mendapatkan data dalam bentuk kuantitatif. Berapa persen kandungan lempung, berapa kubik debit airnya, berapa besar pelamparan penyebaran lumpurnya ?

Usulan untuk memanfaatkan lumpu inipun juga tidak kurang-kurang. Tinggal teriak saja, kan bisa buat batubata, kan bisa buat keramik, kan bisa … Tapi tanpa menunjukkan angka ?terntusaja tidak diketahui berapa keuntungan dan kerugian yang bakal diperoleh.

Yaah ….. jangan cuman mikir dibikin batu-bata tetapi coba donk dibuat untuk closet, wastafel, tile (lantai keramik). Nanti KIA atau Asia Tile yg “menambangnya”.
Asalkan diumumkan apa saja unsur kimia mineraloginya bagaimana sifat fisik-kimia dll.
Saya selalu mendapatkan informasi kalimat atau kata-kata saja,

  • “lumpur ini aman kok bukan toxic” …
  • “eh, ada Hg-nya looh” …
  • “Lah itu … jumlahnya sahohah !”

TANPA ADA yang memberikan dalam ANGKA !!
Howgh !

Sudah jelas saat ini yang diperlukan adalah DATA … DATA dan DATA, hasil pengukuran dan pengamatan.

Bukan sekedar opiniĀ  ataupun hasil interpretasi !!!

1 COMMENT

  1. yang qt perlukan tindakan bagaimana menolong korban bukan seandainya tindakan nyata yg dapat dirasakan langsung manfaatnya bukan sekedar komentar

  2. Mas Gatot,
    “Bolongane” ndik permukaan yo eruh. Tapi yg lebih penting mbunteti yg dibawah sana. Sayangnya yg dibawah sana ngga ketahuan mana lubang-lubangnya. bahkan belum apa-apa sudah timbul lubang baru.
    Keduanya memang perlu dilakukan.

    Kenapa perlu angka ?
    sekarang lumpur yang keluar sudah mencapai sekian kubik/hari
    dengan komposisi anunya sakgitu, dengan ininya segini
    jadi mau ga mau ya harus dibegitukan
    Supaya anunya engga nganu lagi, soalnya itu membuat itunya jadi begindang !
    Wuak !!!

  3. yang penting itu sekarang gimana caranya “mbuteti” bolonganya, baru mikirin lumpurnya “sing wis kadung metu” kemana mana. Lha..kan kasian masyarakate, ujung-ujunge cuma jadi korban lagi!. sudah jatuh tertimpa tangga kejatuhan ember geguyur cat.

    salam.
    [email protected]

  4. Lah masa sih mau dijual ke KIA ata selainnya. Masa sih, kan buangan lumpur itu, kandungan tersubur untuk bertanam, kalo gak salah lihat sejarah pinggiran sungai NIL dan mereka bertanam dengan suka ria. Maka dari itu gagasan saya di FPK untuk pembuatan lahan basah buatan itu. tapi pembuatan batako hanya menjadi keberhasilan belaka dan sesaat!!! coba dibuatkan batako dan untuk membangun sea wall, atau pun gabion yang bisa bermanfaat menjadi penahan abrasi. anda suka dengan ide saya gak..? mungkin gak sih..? secara geografi daerah dekat2 sana dibuat “lahan basa buatan terbesar di Indonesia”..?

    salam.

  5. waduh sejak pertama ada kabar “Lumpur Porong bisa di bikin jadi batako atawa batu bata” saya agak lega dan senang juga (maaf saudara2 yg di Porong bukannya saya bahagia diatas penderitaan orang lain)soalnya waktu itu ada kabar2nya juga kalo jadi batako ato batu bata mau di eksoprt ke Jogja yang tentu saja membutuhkan banyak batu bata karena harap maklum saja harga batu bata di Jogja melambung sekali hampir mencapai angka Rp 500,-/buah (kalo tdk salah lho. soal pasir tdk bingung2 krn sudah disediakan Allah melalui Muntahan Merapi. Berita ini saya dengar sekitar 2 bulan yg lalu dan saya sudah lupa hingga buka2 web Pakde rovick ini. Yang jadi tanda tanya bisa tidak ya lumpur itu dijadikan batu bata. Kalo bisa kan uangnya bisa buat penduduk sana yg kena genangan lumpur. Lapindo harus jadi Pabrik Batu bata tuh.

  6. hi..hi..jadi inget pas nonton TV kemaren, pernyataan SBY yang katanya gamang dalam mengatasi bencana….hiks..
    nunggu korban tambah lagi apa yah??

Leave a Reply