Dibelokkan oleh alam atau oleh manusia ?

0

Hampir semua ahli kebumian (geologi) melihat fenomena BPJ ini sebagai gejala alam yg dipicu oleh aktifitas manusia. Pembelokan ini menurut beberapa kawan di IAGI (dalam diskusi lewat net) “BUKAN dibelokkan oleh pendapat ahli”. Tetapi proses kecelakaan ini berkembang menjadi sebuah proses bencana alam. Kejadian ini menjadi “DOMINAN” sebagai proses alamnya akhir-akhir ini.

Hampir semua daerah dibawah perut bumi ini memiliki tekanan. Looh apa penyebabnya. Ya gravitasi. Gaya yg diketemukan oleh Newton ketika kejatuhan apel … pluk ! Gaya gravitasi bumi ini menarik benda-benda ke pusat bumi. Besarnya gaya ini tergantung dari densitasnya. Yang memilki densitas besar akan lebih kuat ditarik dibanding yg memiliki densitas (berat-jenis) lebih kecil. Lah, kenapa lumpur ini mecotot keluar ? Karena lumpur ini densitasnya lebih kecil dari densitas batu yg diatasnya. Batuan yg berada diatasnya seolah-olah menjadi beban batuan dibawahnya. Karena batu lempung (lumpur) dibawah sana masih gembur, maka akan sangat mudah mecotot akibat terkena tekanan. Dan karena densitasnya lebih kecil maka batu-lempung ini yang kalah dan mecotot keluar.
Daerah Jawa Timur itu dibawahnya ada yg berupa tanah lumpur gembur (non lithified mud) yang “berpotensi” timbulnya Mud Volkano (MV). Ingat “berpotensi” menimbulkan MV. Kalau didiemkan ya ndak apa-apa. Tetapi mungkin (dugaan, mesti ada praduga tak bersalah nih) karena “diberi” jalan akibat pemboran yg amburadul proses pembentukan MV itu terakselerasi. Seperti kelahiran bayi yg masih prematur yang dipacu oleh dukun dan lahir … prucut !.

Kalau bayi lahir mah ditunggu-tunggu lah ini kalau lumpur keluar ya harus dihindari lah. Karena kelahiran lumpur ini merupakan bencana …. Jadi kelahiran bencana ini sangat mungkin karena potensinya diutik-utik, diganggu, di bor dengan tidak memperhitungkan kejadian-kejadian yg berbahaya. Seperti yg aku tuliskan sebelumnya bahwa bencana ini agak sedikit berbeda dengan bencana Chernobyl maupun Exxon-Valdez.

mudflow2.jpgBencana banjir lumpur ini berbeda dengan bencana pencemaran tumpahan minyak Exxon dengan muntahnya minyak dari kapal tanker Exxon-Valdez pada tahun 1989 dan juga berbeda dengan bencana industri PLTN Chernobyl. Kedua bencana terakhir ini juga sama-sama dipicu oleh kegiatan manusia, namun jumlah bahan polutan, serta semua parameter teknis awalnya sangat “terukur”. Kita tahu jumlah minyak mentah yg tumpah sebanyak 11 juta gallon, kita tahu secara teknis berapa bobot mati serta konfigurasi dari kapal Exxon-Valdez. Demikian juga dengan parameter-parameter awal dari Chernobyl, kita tahu jumlah bahan-bakar nuklir yang ada, kita tahu konstruksi bangunan PLTN ini. Dalam hal bencana banjir lumpur lapindo ini, kita berhadapan dengan sebuah bencana alam yg tidak diketahui kondisi teknis awal apa yang ada dan yang terukur dengan pasti. Semua parameter berada dibawah permukaan berupa parameter yg sifatnya interpretatif.

Kesamaannya adalah, efek serta dampak lingkungannya menjadi mencengangkan ketika kita tidak mampu mendeteksi apa yg bakal terjadi selanjutnya. Exxon-Valdez maupun Chernobyl menjadi sebuah kecelakaan yg tidak mampu ditangani oleh manusia, demikian juga keluarnya lumpur dari perut bumi ini.

Kedua contoh kecelakaan diatas menjadi sebuah bencana seolah-olah mirip seperti kejadian bencana banjir lumpur ini –> “ketika tidak dapat dikontrol lagi”, dan banyak pula yang menyetarakan tingkat kebencanaannya (uncontrolled).

Andang Bachtiar mantan ketua IAGI secara tegas menyatakan : “Itu karena data-data dan bukti eksplorasi yang saya terima menunjukkan, apa yang terjadi adalah ‘mud vulcano’ (gunung lumpur) yang dipicu proses pengeboran,” ujarnya usai berbicara dalam simposium tentang pembuangan lumpur Porong di ITS Surabaya, Kamis (7/9) – dikutip dari Tempo interaktif.

Menurut saya :

  • Penanganan penyebab –> Industrial Accident (peradilan)
    Yang bersalah dihukum. Penyidikan dilakukan dengan dasar-dasar scientific approach, karena menyangkut hal-hal tenis. Saya yakin penyidik dari kepolisian sudan belajar teknik pemboran, kan ?
  • Penanganan akibat –> Natural Disaster (actions)
    Membiarkan Lapindo menangani sendiri sama saja menyengsarakan rakyat yg jelas terkena bencana lumpur ini. Lapindo mapun Bakrie sekalipun pasti termehek-mehek menangani luapan lumpur ini. Ada hal-hal tertentu yg hanya diketahui oleh Lapindo, misal data geologi bawah permukaan dimiliki oleh Lapindo. Semua assetnya jangan dibekukan sehingga tidak dapat diakses (ini bukan accident mode) tetapi semua data dimanfaatkan secara terbuka untuk menangani bencana lumpur.
    Hal ini penting juga karena banyak data-data yang menurut ESDM bersifat RAHASIA harus dibuka. ESDM perlu legowo menerbitkan serta membuka data-data ini.

1 COMMENT

  1. pak rovicky memang benar, kalau seandainya kita tidak otak-atik perut bumi, lusi tidak akan pernah terjadi. karena bencana terjadi juga disebabkan oleh tangan2 manusia yang tidak bertanggung jawab. Tapi menurut sejarah majapahit yang anda paparkan di situs lain. ada kemungkinan lusi itu akan terjadi tapi tidak tau kapan dan apa penyebabnya. Saya juga pernah dengar dari seseorang kalau asalnya kota sidoarjo itu rowo(rawah2) yang kemudian diuruk(di kasih pasir) untuk dijadikan sebuah perkampungan jadi ada sedikit kemungkinan kalau kota sidoarjo menjadi rowo(rawah2) kembali dan PT. Lapindo Brantas, Inc. itu jalarane(penyebabnya). begitu menurut saya, tapi sebelum saya berterima kasih atas ilmu yang anda sampaikan.

  2. pak situs anda bagus sekali saya suka dengan penuturan dan gaya fotografi anda, maaf sebelumnya jika saya mendowload hampir semua foto anda tentang lapindo (saya gunakan untuk membantu murid saya dalam mengerjakan tugasnya) jadi saya sangat terbantu dan sangat berterima kasih

    sekali lagi trima kasih pak rovicky

  3. Saya kemarin barusan dapat pencerahan dari seseorang yg sudah malang melintang di dunia pengeboran minyak puluhan tahun. Menurut beliau, kasus Lumpur Sidoarjo ini memang:

    – awalnya dipicu oleh kesalahan prosedur pengeboran yg tdk memasang casing semestinya,
    – dan diperparah oleh tindakan “menyelamatkan diri” dari pihak operator drilling yg tdk mau merugi karena rig-nya tidak diasuransi (??), sehingga asal “nableg” (menutup sumur hasil bor tanpa perhitungan yg tepat) shg formasi geologi-nya pecah dan “moncrot” menjadi semburan lumpur tadi.

    Saya bukan orang yg mempelajari ilmu perminyakan atau geologi, jadi semoga aja yg saya paparkan tadi enggak meleset dr yg dimaksud orang yg bercerita pada saya.

  4. Pak Rovicky, apa dari artikel dibawah ini, bermakna Gunung Lamongan mungkin akan meletus kapan saja?

    http://petrology.oxfordjournals.org/cgi/content/abstract/42/9/1643
    Petrology and Geochemistry of the Lamongan Volcanic Field, East Java, Indonesia: Primitive Sunda Arc Magmas in an Extensional Tectonic Setting?
    S. A. CARN,* and D. M. PYLE

    DEPARTMENT OF EARTH SCIENCES, CAMBRIDGE UNIVERSITY, DOWNING STREET, CAMBRIDGE CB2 3EQ, UK

    New geochemical data are presented from prehistoric and historical eruptive products of the Lamongan volcanic field (LVF), East Java; a region of the Sunda arc covering ~260 km2 and containing ~90 eruptive vents plus the historically active Lamongan volcano. LVF lavas include medium-K basalts and basaltic andesites from historical eruptions of Lamongan and prehistoric eruptions in the eastern LVF, along with a high-K suite represented by prehistoric deposits in the western LVF. Although lacking some of the characteristics of truly primary basalts, the least evolved lavas identified in the LVF have some of the lowest SiO2 contents (~43 wt % SiO2) yet reported in Sunda arc volcanic rocks. Mass balance considerations indicate that two chemically distinct LVF magmas may be parental to suites currently being erupted from the neighbouring volcanoes, Semeru and Bromo. Lamongan’s historical lavas can be related to the medium-K andesitic products of Semeru by fractional crystallization, despite the former’s location at the same distance from the trench as Bromo, a high-K volcano. Extensional tectonics, possibly related to arc segmentation in the region of the LVF, creating conditions that promote the rapid ascent of parental magmas, is probably responsible for this and several other features of the complex.

  5. Saya setuju sekali dengan pendapat mas Rovick…Alam ini sebenarnya sudah memiliki keseimbangan, kalau ada “wudun” di permukaan yg sewaktu2 “mlothot” dg keluarnya lava dll itu kan salah satu penyeimbang saja.
    Jadi dalam kasus LUSI itu ya, yg bersalah harus di hukum karena “nguthik2” keseimbangan yg ada, tapi tetep pemerintah bertanggung jawab secara sosial kpd rakyatnya…ya to! Atur relokasi dan buang ke laut lumpurnya……
    Kl mengenai pencemaran lingkungan…sudah dibicarakan ahli2nya, kalo sy orang awam ngertinya laut itu adalah tempat pembuangan yg sempurna, segala sampah & racun ada disana dan satu lagi AIR adalah penetralisir/menyucikan segala kotoran, makanya bumi ini juga mayoritas komposisinya air to..tinggal menjaga keseimbangan dan kesetimbangan..sudah diatur oleh Yang Menciptanya. Tinggal manusianya aja yang harus menghindari keserakahan…klo udah ada indikasi “bulbing” ya sudah nggak usah di cari2 lagi..nggih mboten Omm!??

  6. Mas Agus jangan ikutan bingung.
    Bapak-bapak yang “diatas” sana sih emang kebingungan ….

    Daerah itu “berpotensi” timbulnya Mud Volkano (MV). Kalau didiemkan ya ndak apa-apa. Tetapi mungkin (dugaan, mesti ada praduga tak bersalah nih) karena “diberi” jalan akibat pemboran yg amburadul proses pembentukan MV itu terakselerasi. Seperti kelahiran bayi yg masih prematur.

    MV banyak dijumpai disekitar Jawa Timur ini, yg paling dekat barangkali Gunung Anyar di dekat Airport Juanda.

  7. soal mud volcano, seperti yg dikatakan oleh pak Andang Bachtiar, seharusnya kan dari awal sudah bisa diinterpretasikan dari data survey geofisika/geologi yang ada?

    terus, kalau memang itu betul mud volcano, mestinya kan di sekitar kawasan itu sejak dulu sudah timbul “vents” yg mengeluarkan lumpur atau gas metan, betul begitu gak Pak? jadi bingung sendiri sayanya…

Leave a Reply