KLH harus Mengkaji Ulang Pengertian Pencemaran Lingkungan.

0

ujungp.jpgTentunya nama Professor Koesoemadinata sudah tak asing bagi ahli geologi Indonesia. Juga bagi pemerhati kebumian nama beliau tak asing lagi. Berikut tulisan bapak geologi ini sehubungan dengan pembuangan luapan lumpur di Sidoarjo ini ke laut.

Terimakasih Pak Koesoema yg berkenan menyumbangkan tulisan untuk berbagi ilmu dan bertukar pendapat seputar bencana banjir lumpur panas yg semakin panas ini.

MASALAH PEMBUANGAN LUMPUR LAPINDO BRANTAS KE LAUT
KLH harus Menkaji Ulang Pengertian Pencemaran Lingkungan.
Oleh
Prof. Dr. R. Koesoemadinata
Mantan Guru Besar Ilmu Geologi ITB

Indonesia belakangan ini dirundung bencana, bencana alam maupun bencana yang dipicu oleh kelakuan manusia dalam usahanya untuk memodernisasikan negara Indonesia. Gejala bencana ini tidak ada yang sangat menarik perhatian adalah munculnya semburan lumpur panas di Sidoardjo yang boleh jadi dipicu dengan kegagalan pemboran explorasi sumur Banjar Panji oleh PT Lapindo Brantas dalam usaha pencaharian minyak dan gas bumi di daerah . Tentu hal ini dilakukan dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak dan gas bumi Indonesia yang belakangan ini melorot, demi pertumbuhan ekonomi yang sehat, selain tentunya untuk mencari keuntungan yang besar bagi para pemilik saham perusahaan tersebut.

Terlepas apakah penyebab semburan ini adalah keteledoran para ahli pemboran Lapindo Brantas atau apakah pemboran yang gagal ini adalah sekedar pemicu akan terjadinya gejala ini (mungkin nantinya Pengadilan yang bisa memutuskan), yang menarik perhatian adalah gejala semburan lumpur ini yang boleh dikatakan unik di dunia. Yang jadi masalah adalah jumlah cairan yang konon terdiri dari 70% air dan 30 zat padat yang membanjiri daerah Sidoarjo dan mengancam pemukiman serta melumpuhkan perekonomian, khususnya industri dan transportasi di daerah sekitarnya. Jika pencemaran lingkungan tidak jadi masalah penyelesaiannya sederhana saja, alirkan lumpur panas yang tokh akhirnya akan mendingin juga ke laut, ke Selat Madura, dari mana lumpur itu berasal.

Dalam mass media dikhabarkan bahwa lumpur itu mengandung zat berbahaya dan beracun, antara lain kadar Hg (air raksa) yang tinggi. Sebagai seorang ahli geologi saya heran, bagaimana lumpur yang berasal dari perut bumi bisa mengandung zat2 tersebut? Rekan saya dari Tim Independent Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) yang telah mengambil contoh lumpur langsung dari lokasi semburan memberitakan bahwa hasil analisa kimia serta analisa lainnya tidak meununjukan kehadliran Hg atau logam berat lainnya (paling tidak semuanya jauh dibawah 0.10 mg/liter). Hasil analisa mikropaleontologi menunjukkan bahwa lumpur itu mengandung fosil foraminifera (cangkang zat renik bersel satu) yang dahulu hidup di lingkungan laut yang sama dengan di Selat Madura. Sejak dahulu para ahli geologi Belanda seperti Van Bemmelen (1949) menyatakan bahwa beberapa ratus ribu bahkan lebih 1 juta tahun (zaman Pleistocene) Selat Madura itu menjorok jauh ke barat hampir sampai kota Semarang. Sungai-sungai seperti Bengawan Solo dan lain-lain bermuara di selat Madura purba ini dan mengendapkan sedimen seperti pasir dan lumpur sebagai delta pada pantainya yang berangsur-angsur terjadi pendangkalan dan daratan pun bertambah ke arah pantai Selat Madura dekat Sidoarjo. Jadi pendangkalan serta penambahan daratan ke arah selat Madura memang sudah terjadi secara alami. Bahkan konon Bengawan Solo juga dulunya mengalir ke Selat Madura yang sekarang disebut Kali Brantas, dan oleh Belanda dialihkan ke arah utara yang sekarang disebut Ujung Pangkah. Pada ujung ini terjadi suatu delta yang praktis dikatakan sebagai delta yang dipicu ulah manusia.

Jadi sebetulnya dengan mengalirkan .lumpur ke arah Selat Madura saya yakin akan terjadi proses alami dan tidak mencemari lingkungan, karena lumpur Lapindo itu material yang berasal dari endapan Selat Madura kuno, dan sekarang dikembalikan ke Selat Madura modern. Yang akan terjadi mungkin adalah percepatan dalam pendangkalan serta majunya pantai barat Selat Madura, yang tokh secara alami sedang berlangsung.

Dalam hal ini tentu yang jadi masalah adalah apakah yang disebut pencemaran lingkungan? Kalau limbah kimia atau limbah industri ataupun dari aktivitas manusia yang bersifat asing, maka saya sangat sangat setuju untuk dinyatakan sebagai pencemaran lingkungan yang harus dicegah sekuat tenaga. Contoh-contoh seperti Chernobyl, Peledakan Pabrik Kimia di India, tumpahnya minyak dari tanker Exxon Valdez dst, itu betul-betul dapat dinyatakan sebagai pencemaran lingkungan yang berat. Tetapi dalam hal lumpur Lapindo, kita ini menghadapi zat ataun bahan bumi (earth material) yang akan dimasukan ke dalam lingkungan yang kebetulan sama juga dengan lingkungan di mana lumpur itu terbentuk. Kekhawatiran akan rusaknya biota dsb adalah sangat berlebihan dan boleh dikatakan merupakan paranoid yang sedang melanda kita semua, khususnya para ahli lingkungan. Dari prinsip dasar ilmu geologi saja kita tahu bahwa lingkungan kita itu tidak pernah tetap, gejala-gejala alam yang lambat maupun yang bersifat mendadak, seperti erupsi gunung api dapat “mencemari” lingkungan, merusak biota bahkan menyebabkan kepunahan species bahkan sampai kategori kelaspun (Ingat punahnya Dinosaurus?). Dalam hal ini apakah suatu letusan gunung api di pantai yang menyemburkan abu serta lava pijar ke laut serta memusnahkan biota ditempat itu dapat dikatakan pencemaran lingkungan? Ini sering terjadi di Hawaii dan gunung api lainnya di Pasifik. Apakah letusan G. Merapi yang yang menghamburkan awan panas, abu dan gas yang beracun (saya yakin banyak gas H2S) serta mematikan kehidupan di daerah sekitarnya dianggap pencemaran lingkungan? Gunung-gunung api yang tidurpun seperti G. Tangkuban Perahu di utara Bandung dan banyak lagi di seluruh Indonesia, bahkan di dunia setiap harinya menghamburkan belerang murni dalam bentuk gas maupun gas H2S entah berapa ribu ton ke atmosfer. Tetapi tidak ada ahli lingkungan yang peduli serta mempermasalahkan “acid rain” yang ditimbulkan. Pada waktu G. Krakatau meletus dengan dahsyatnya pada tahun 1883 seluruh biota di lereng gunung itu hancur dan memusnahkan kehidupan. Namun hanya dalam beberapa puluh tahun saja kehidupan sudah pulih kembali, karena kekenyalan (resilience) dari alam itu sendiri untuk mengembalikan keseimbangan lingkungan.

Lokasi-lokasi semburan lumpur di Jawa TimurDalam hal semburan lumpur Lapindo ini memang merupakan gejala unik. Boleh jadi saja semburan liar ini disebabkan atau dipicu oleh kelalaian pemboran pada Banjar Panji-1, namun gejalanya sendiri lebih merupakan gejala alam yang menyangkut bahan alami bukan bahan asing untuk lingkungan bumi. Banyak para ahli geologi yang menganalogikan semburan lumpur ini dengan gejala alam yang disebut “mud-volcano” yang banyak tersebar di Indonesia (khusunya di Indonesia Timur dikenal dengan istilah poton), bahkan di Jawa Timur Utara pun banyak diketemukan, seperti Bleduk Kuwu dekat Purwodai, G. Anyar dekat Surabaya bahkan di selatan K Porong, yang di masa lalu menyemburkan lumpur tetapi sekarang sudah mati. Tentu pada waktu itu lumpur itu mengalir dengan sendirinya dan berakhir di laut dan ini merupakah gejala alamiah saja. Mungkin pada waktu itu belum ada KLH atau LSM-LSM lingkungan, bahkan manusiapun pada waktu itu belum ada untuk memprotes pencemaran lingkungan.

Dalam hal semburan lumpur di Sidoarjo, seandainya tidak ada bangunan seperti jalan, perumahan, pabrik dsb, maka secara alamiah lumpur it akhirnya akan mengalir ke laut (Selat Madura) juga. Saya yakin dalam keadaan sekarang lumpur panas ini dapat dialirkan dengan aman dalam saluran terbuka ke Selat Madura, tidak perlu dalam pipa (yang berpotensi untuk tersumbat), bahkan dialirkan lewat K. Porong, yang konon adalah juga buatan manusia. Saya kira air sungai dan air tanah di sekitar Sidoarjo itu sudah lebih tercemar oleh limbah industri daripada lumpur dari semburan yang masih murni. Water treatment yang diusulkan sebelum dialirkan ke laut adalah tidak masuk akal. Kalau memang harus dilakukan treatment, ya hasilnya tidak perlu dibuang kelaut, dijual saja ke PDAM atau perusahan air kemasan.

Jadi sebetulnya mengapa masalah sederhana malah dijadikan sulit? Mungkin terpengaruh iklan rokok tertentu. Tentu banyak orang berprasangka adanya oknum-oknum tertentu yang mencari keuntungan dalam kesempitan.

Sebagai penutup saya usulkan supaya KLH mengkaji ulang pengertian mengenai apa yang disebut pencemaran lingkungan. Sebaiknya para ilmiawan yang betul-betul mengerti mengenai proses alam seperti para ahli geologi juga dilibatkan, tetapi juga bukan para ahli geologi yang ikut hanyut dalam paranoid pencemaran lingkungan yang dewasa ini melanda masyarakat kita.

1 COMMENT

  1. setuju….. banget!!! knp? karena klo kita pikir, klo gak dibuang dilaut dimana lagi mau dibuang.masa mau dibiarin gitu aja! Indonesia bisa tenggelam dong klo lumpurnya gak dibuang. Yang penting, selama gak membhyakan keanekaragaman dan keindahan laut kita. dan satu lagi, pemerintah juga harus melihat dan memperhatikan para nelayan yang memang mata pencahariannya dilaut itu, klo merugikan para nelayan dan orang-orang yang bermukim disitu berikan mereka solusi dan bantuan dong. gmana prof, setuju gak?

  2. Meski agak terlambat, sebenarnya saya memiliki konsep untuk menghentikan semburan lumpur Lapindo. Ideanya sendiri timbul, sesaat setelah membuka situsnya Kementrian ristek.
    Kementrian ristek memiliki teknologinya, tetapi sejauh ini hanya dimanfaatkan untuk memasak telur mata sapi, serta membatukan pisang, Alangkah sayangnya. Saya berfikir teknologinya bisa dipergunakan untuk menghentikan semburan lumpur lapindo. Demikian semoga…………….

  3. Penjelasan profesor sangat membantu kami(team debat bahasa inggri) dalam menemukan solusi dari lumpur di sidoarjo.
    Mrupakan argumen yg kuat tentang asal lumpur itu.
    Slama ini saya tidak pernah berpikir bahwa semburan itu adalah semburan lumpur alami. Walaupun berbahan kimia, tapi bahan2 itu juga dari alam.

    Saya juga mau bertanya,
    Informasi yg saya peroleh menyatakan bahwa 3 daerah di jawa timur(termasuk sidoarjo, yang dua saya lupa) apabila ditarik garis penghubung akan membentuk bangun datar segitiga. Nah, area didalamnya itu dkatakan mrupakan cekungan yg tertimbun lumpur hingga menjadi daratan. Apa itu benar prof?

  4. artikel di atas menurut saya bagus banget. sekarang boleh gak saya minta untuk diberi penjelasan mengenai apa itu pantai dan apa hubungannya dengan lingkungan hidup ???

  5. dari pada ribut..??? kan lebih baek mikirin untuk jalan keluarnya..>???? gimana caranya..??? nah..yang perlu di tanyakan, apakah benar2 lumpur lapindo itu alamiah..???ato bener2 kesalahan dari pengebornya sendiri..???

    ya…kan..???

  6. Prof. Dr. R. Koesoemadinata itu cuma orang bego dengan mulut besar. Kalo dia berani bilang ini masalah sederhana, kenapa sampe sekarang dia gak turun tangan buat nyelesaiin masalah ini. Dasar, Modal ijazah nembak aja belagu lu.

  7. katanya radius untuk lumpur lapindo 10km dari titik semburan apa benar ?
    prediksi sampai batas lengkungan cekung batas delta apa benar ?
    dan berapa lama kira -kira munculnya? perluasannya juga sampai mana?

  8. saya kurang setuju jika lumpur itu dibuang kelaut, masalahnya lumpur itu mengandung zat-zat kimia yang berbahaya bagi biota laut. nantinya jika dibiarkan bisa menimbulkan masalah baru.ekosistem laut terganggu, nelayan kehilangan mata pencaharian dan berubahnya fishing groud. carilah cara lain yang yang lebih aman bagi kelestarian lungkungan

  9. ass wr wb
    to : lumpur lapindo
    saya ingin membantu cara menanggulangi,menyumbat/mengurangi semburan lumpur lapindo,itu kalo boleh .sekian terima kasih

  10. kalo kita smua lihat suatu masalah dari “kacamata” kita sendiri pastinya akan menimbulkan kerancuan…

    pernahkah kita melihat suatu masalah lewat “kacamata” orang lain juga…???

    kita kumpulkan orang2 yang tau tu tentang masalah lumpur lapindo… truz klo udah pada ngumpul suruh mereka nentuin jalan keluarnya…

    gitu aja ko repot…

    sesama penghuni negara Indonesia ko saling menjatuhkan.. HARUSNYA kita bisa bersatu..

    GBU…

  11. kalau menurut saya itu bukan salah orang yang mengelola,kalau saya itu musibah,seandainya aburizal bakrie disuruh membayar dendanya kelihtannya tidak akan mampu gitu lho….!

  12. PERCUMA PAK. KALO PEMERINTAHNYA CUEK BEBEK..
    MEREKA CUMA MIKIRIN DIRINYA SENDIRI..
    KALO SLH SATU ANGGOTA KELUARGA PEJABAT ERROR ITU TINGGAL DISITU BARU MEREKA ATASIN..
    KRN MEREKA GA TINGGAL DISITU MAKANYA MEREKA MASA BODOH..
    MAKANYA JGN PERCAYA LG SM PEMERINTAH..
    ORANG2 RAKUS KOK DIJADIIN PEMIMPIN…

  13. Waduh aku pusing…. dari atas sampe bawah ga ketemu juga ujungnya……
    Hebat2 pembahasannya tapi kok ya ga keler-kelar masalahnya ya….
    Aku pusing…
    Diem aja ah…
    eh harus komentar..
    Tapi ntar masalah ga selesai juga..
    Bunuh diri aj ah..
    Eh ga boleh deng..
    Ah au ah gelap…
    pusing….

  14. maksude, makin kebawah ko ya isi komentarnya makin aneh. solusi ada… yah kalo emang bisa dilakuin, ya dilakuin dong. kalo ngga bisa ngelakuin sendiri, kasih tau orang yang bisa ngelakuin untuk ngelakuin solusi itu. maksudku bukan bencananya yang ga penting, tapi makin kesini, makin debat kusir aja. yang paling bisa diarepin ya, kita tunggu gimana hasilnya, gimana pihak yang berwenang bekerja. daripada ya… mereka kerja dengan cara mereka sendiri…, sementara kita cuma ribut dengan obrolan ini.

  15. wahhh saya tidak setuju dibuanng kelaut, karena akan merusak ekosistem laut dan sekitar sungai yang dilalui oleh pembuangan lumpur, menurut saya mending di biarin ja biar jd obyek wisata, trs masyarakatnya disuruh pindah ke kalimantan kan penghuninya msh sedikit.

  16. selamat!!!rakyat sidoarjo mendapat karunia lumpur!!!!
    bentar lagi sidoarjo penuh lumpur loh,….
    gak ada yang pengen coba mandi lumpur ta??????
    coba deh,…….

  17. Assalamualaikum Warrahmatullahi wa barrokatu,

    Bismillahirahmanirrahim.
    Saya cuma coba memberikan solusi yang mungkin aneh, saya pernah bekerja di perusahaan minyak/gas dan saya khusus di MUD/ Drilling Fluid.
    dari hasil renungan saya selama ini, dan gejolak bathin akibat tersiksa nya melihat masyarakat susah hidup lahir dan bathin secara berkepanjangan akibat hal ini.

    solusinya adalah “SELESAIKANLAH MASALAH DARI AKAR MASALAH ITU SENDIRI”
    yaitu: ” B O M ” …
    bagaimana cara nya….?

    1. lakukan seismik, pengumpulan data lainya secara terinci,antara lain,titik titik semburan, dan juga data geologist pada lokasi dan sampai radius kurang-lebih 15.000 feet dari titik tengah semburan. data jumlah debit semburan dapat di conversi menjadi perkiraan tekanan dari dalam bumi. setelah ditemukan besaran tekanan lumpur tentu akan bisa di hitung besaran tekanan yang dibutuhkan untuk menahan tekanan dari perut bumi tersebut.

    2. Dari data yang bisa terkumpul akan bisa dihitung berapa kubik sendimen tanah dan juga batuan yang dibutuhkan untuk menahan laju lumpur dari perut bumi tersebut. ( kalo di drilling mungkin kita hitung besaran ppg pada Oil dan water Base Mud yang dibuat guna menahan dan mencirculasi lumpur dari dalam well dengan bantuan MUD PUMP dan juga Equipment lain nya)
    untuk kasus ini tentu ada perhitungan lain yang di luar kelaziman. tentunya disebabkan oleh sulit nya “me-manage” tekanan yang terjadi makan hitungan nya pun akan lebih besar dibanding dengan hitungan lumpur/Mud di dalam pipa.

    3. Setelah dihitung besaran kubik yang dibutuhkan untuk menahan lalu lumpur/Mud yang keluar. dan juga terhitungan nya besaran area maka langkah selanjutnya adalah mencari tanah/sendimen/batuan yang dibutuhkan untuk menahan laju tersebut pada lokasi semburan itu sendiri. petakan wilayah dengan ukuran jumlah sendimen yang dibutuhkan. dapatkan titik-titik lokasi untuk mendapatkan sendimen tersebut.

    4. lakukan pengeboran di titik2 yang sudah di dapati untuk memasukan BOM(Bom ada ukuran nya sendiri dan yang lebih ahli pasti bisa hitung berapa banyak yang dibutuhkan). bom dari beberapa sisi/titik secara bersamaan dan pada kedalam tertentu dengan bom khusus.
    effek nya tanah akan turun dan akan memberikan tekanan tertentu yang mampun menahan tekanan dari lumpur tersebut. secara matematik saya kira bisa dihitung. berapa PSI perkiraan tekanan lupur sehingga bisa di hitung berapa banyak bom yang dibutuhkan dan berapa titik yang akan di bom.
    perkiraan effek samping nya, kemungkinan akan terjadi nya degradasi permukaan tanah (amblas) dalam radius tertentu dan effek effek lain nya tentu harus di perkirakan juga. namun saya yakin bisa di perkirakan secara lebih sempurna dengan melakukan pen-dataan rinci dan akurat terlebih dahulu.

    yah lebih jelas nya tentu harus ada banyak ahli ngumpul/ asal jangan kelamaan, biar ngga bertambah repot tentunya.ini masih menurut saya saja ya…. kira kira ya begitulah.

    yah kalo mau diliat untung-rugi nya ya jelas semua telah merugi besar, saya kira tinggal dilihat dari kacamata mana dulu.
    kalo warga, tentu mau-nya tanah di ganti dengan yang layak dan sesuai agar bisa kembali hidup.
    Namun kalau dari sisi pemerintah sama PT Lapindo dan element yang lainnya saya ngga tau, apa yang terpikir oleh mereka.

    DAN KALO AKAR PERMASALAHAN DARI SEMUA INI SUDAH BISA DISELESAIKAN, KAN SEMUA PIHAK BISA NYARI UNTUNG LAGI…. Betul tidak….???

    dari pada Ngitung untung-rugi ataupun Nyari benar-salah. saya yakin ngga ada yang mau rugi.dan ngga ada yang mau dipersalahkan. semua mau diuntungkan, bukan???? dan kalo siapa yang bener atau salah atau pun siapa siapa pihak yang bertanggung jawab saya kira cuma pemerintahlah yang paling tau hal tersebut.

    dan dari sisi saya yang terlihat sudah jelas sebagai korban adalah masyarakat……. seluruh masyarakat yang langsung maupun tidakadalah korban. Ng-ngeh Boten….???

    dan untuk masyarakat di sidoarjo saya secara pribadi merasa simpati atas apa yang menimpa. namun jelas Jangan pernah berputus asa. selalu ada jalan untuk orang orang yang berpasrah pada ALLAH. Terus lah berdoa dan ihktiar.

    Akhirul Kalam saya mohon maaf sebesar besar nya pada semua yang tidak setuju dengan ide aneh saya ataupun gaya bahasa saya yang susah di cerna. Nawaitu saya hanya untuk memberi solusi yang mungkin bisa menjadi solusi. dan besar harapan juga saya secepat nya keadaan kembali Tentram, Damai dan Sejahtera.

    AMIN…AMIN…AMIN…YA..ROBBALALAMIN…!!!!!!!!

  18. opo c?????q g ngertiii i looo…
    owalaaa…lumpur t???kenapa g dijual j k salon2???
    kan sekarang lagi trend mandi lumpur???
    sapa tw klo pasokan lumpur banyak,,,sapa tw jd murah…
    so,,,nyak2 yang mw cakep kan bisa ikutan???
    gmn mnurut anda,,,prof???

  19. PT. Bio Eco Lestari Bergerak di bidang mikroba pengurai
    dengan nama Bio-Systems Corporation USA Product
    untuk lebih jelas dapat menghubungi oki firman
    Tel 021-5869669, Hp 0818969682

  20. sudah lebih dari setahu. Sekarang sepertinya adem-adem saja. Apa yang terjadi dengan sungai Porong, Muara Porong, mongrove, dan ekosistem lainnya. terutama masyarakat petambak di sekitar Porong River. Apa kabarmu?????

  21. wah..setuju banget ama bapak profesor…
    buat mbak/mas chika..klo mengutamakan estetika keindahan laut…berarti nyawa dan kehidupan manusia ga penting donk.

    pertanyaan saya buat pak rovicky ato pak prof…
    bagaimana klo di buang ke laut selatan jawa, selain lebih dalam, jadi volume ga akan begitu berpengaruh pada pendangkalan..walau jaraknya jadi jauh..
    daripada di buang ke utara, kan lebih dangkal..
    alasan harus ke utara jawa kenapa ya pak??kok ga ke selatan aja??
    hatur nuhun..

    -masih mahasiswa geologi-

  22. Bukan saatnya untuk mencari kambing hitam, mencari solusi adalah hal yang sangat tepat.
    setuju sekali LuSI dibuang kelaut seperti yang sudah dijelaskan oleh Bapak Prof. Dr. R. Koesoemadinata
    bahwa LUSI tidak mengandung zat berbahaya.

  23. Hebat nya pulau Jawa itu ya hebat semuanya.
    Tanahnya paling subur di dunia. Orang nya yah paling mujur, nasehatnya juga paling manjur.

    Bicara tentang pekerjaan mindahin berkubik kubik lumpur ke laut itu siapa yang mau nge sub kontrak ? dan siapa yang mau biayai ? pake peralatan apa ? kapan dimulai dan kapan di akhiri ? jangka waktu 10 taun ?

    Menurut saya point yang harus dilakukan:

    1. Tunda semua pengeboran migas baru di tanah pulau jawa, dengan surat keputusan presiden dan perketat semua applikasi AMDAL.

    2. Jgn di stop dulu operasi lapindo, karena kalo di stop, berarti pemerintah harus membeli sumur itu dengan harga murah tetapi biaya ganti rugi dan operasi nya setinggi langit. Sampai masalah nya selesai, baru di stop. Cairkan dana para investor untuk sumur itu secara bertahap untuk biaya re-building semua infrastruktur.

    3. Lapindo harus menutup 3 titik semburan itu dengan segala cara. Cara paling cepat, buat casing di titik titik itu, tutup dengan lumpur sampai beberapa waktu, lalu tutup dengan semen.

    4. Lapindo harus membuat lumpur yang keluar dan tersisa
    itu di buat tidak berbahaya bagi lingkungan hidup. Contoh nya, dinetralisir dan treatment yang bagus dan jgn di buang kelaut atau ke sungai. Sebaliknya, di tanam di balik permukaan humus. Sehingga penduduk local bisa kembali lagi bertanam. Dan Lapindo harus membangun kembali semua infrastruktur di daerah sidoarjo yang terkena efek.

    5. Kalo sumur banjar panji 1 itu bisa diselesaikan sambil menutup 3 titik luapan lumpur, kan keuntungannya bisa didapat bersama sama. Yah pemerintah, lapindo sendiri, dan yang paling penting, penduduk local yang bisa tenang kembali. Masih ada untungnya juga ternyata yah kalo dipikir pikir.

    6. Kalo bisa organisasi lingkungan hidup bisa di bawa bekerja sama dengan pemerintah dan lapindo. Karena mereka mereka ini sebenernya yang banyak memberi ide ide bagus dan bantuan moral. Jadi jgn membuat takut para investor dari sumur itu. Karena sumur itu pasti investornya banyak. Kalo mereka tidak mendapat solusi dari lapindo dan pemerintah dan organisasi lingkungan hidup mereka malah takut dan bisa mencabut dana nya. Karena KEPERCAYAAN dan DEDIKASI investor kepada Lapindo itulah yang bisa membuat operasi penanggulangan ini berhasil. (Insyallah). Pokoknya jgn dibuat panik. Soalnya kalo panik, bisa bisa lari semua investornya. Anda tau sendiri kan, di indonesia jarang bisa diterka siapa aja yang bisa berpotensi jadi investor muda dan senior. Tiba tiba saja datang dan tiba tiba menghilang.

    Pokoknya jgn panik, jgn menyerah dan jgn saling menyalahkan. Mari belajar dan kerja sama sama sekarang, jgn mengeluh dulu, itung itung berpahala kan kalo kita bisa menyelamatkan tanah subur.

    That’s all folks.

    Buka puasa dulu yah, wasalam.

    Regards,
    “Saya bukan siapa siapa dan tidak mau jadi siapa siapa”

  24. saya sangat prihatin menyaksikan peristiwa alam yang satu ini. yang lebih memprihatinkan saya adalah bagaimana kalau kemudian peristiwa ini tidak akan berhenti seperti di bleduk kuwu purwodadi, berapa luas lagi lahan yang diperlukan untuk menampung, berapa lama lagi rakyat yang tinggal disekitar lokasi akan menderita? sementara semua pihak yang mestinya bisa mengambil langkah penyelamatan justru berdebat dengan sudut pandang masing-masing. dipahami sepenuhnya penyelesaian masalah ini akan memerlukan pengorbanan, dan mengalirkan lumpur kelaut adalah solusi terbaik karena membiarkannya menggenangi area yang sedemikian luas pasti akan menumbuhkan masalah yang semakin kompleks. pertanyaannya adalah: siapa yang paling berhak memutuskan, mbokyao jangan rapat-rapat terus tapi segera putuskan karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak….

  25. BUAT WALHI DAN GREEN PEACE

    Jika anda mempunyai orang tua yang tinggal di porong dan mempunyai tambak. Kira-kira anda akan mengalirkan lumpur ke orang tua anda atau ke tambak orang tua anda!.Penjahat pun akan menjawab mengalirkan lumpur ke tambak. Jika anda tidak mengalirkan lumpur ke tambak berarti anda lebih kejam dari PENJAHAT!

  26. ass.wr.wb
    BUAT GREEN PEACE
    buat apa anda bawa2 lumpur ke kantor bakri, jangan anda selalu menyalahkan lapindo. Ini adalah akibat dosa-dosa kita semua termasuk anda, jika memang anda tidak setuju dibuang ke LAUT, berikan S O L U S I N Y A!. Kalo anda hanya bisa memprotes dan berkomentar jadi komentator Sepak Bola Saja. Tulisan ini juga ditujukan bagi siapa saja yang TIDAK SETUJU LUMPUR DIBUANG KELAUT.
    Pak Win ( Bupati sidoarjo) doa kami masyarakat sidoarjo selalu menyertai anda.
    wassalam

  27. ass.wr.wb
    bagi seluruh masyarkat indonesia yang TIDAK SETUJU LUMPUR DI BUANG KE LAUT mohon BERIKAN SOLUSI YANG TEPAT DAN CEPAT BISA DI LAKSANAKAN.Kepada WALHI dan GREEN PEACE kalau anda nda setuju mana solusinya. kami butuh solusi yang tepat dan cepat. JADI tolong jangan asal protes jika tidak ada solusi. LEBIH BAIK WALHI DAN GREEN PEACE BERI SOLUSI ATAU LEBIH BAIK DIAAAAAMMMM1. Bencana ini tidak bisa ditangani oleh lapindo saja atau pemda sidoarjo, kita semua harus ikut serta. DENGAR YA WALHI DAN GREEN PEACE.
    wassalam
    Warga Sidoarjo

  28. Memang pro-kontra buang lumpur ke laut ini semakin rumit dan bergulir menjadi dampak multi dimensi. Jika memang sudah tidak ada lagi tempat yang pantas dan layak lumpur Porong ini ditampung di muka bumi ini, ya alirkan saja ke luar angkasa!! aman dan ngak perlu susah-susah ditreatmen dulu….

  29. Para aktivis lingkungan sibuk teriak-teriak tanpa memberi solusi, tuding sana tuding sini, sementara lumpur terus mengalir, penduduk harus terusir. Ternyata nyawa plankton dan biota laut lebih berharga dari pada nyawa manusia.

  30. Bapak2,
    Saya kebetulan rumah di KOta Sidoardjo. Langsung saja ke pertanyaan kira-kira setelah lumpur keluar semua dan berhenti nggak tahu sampai kapan, apakah kota sidoardjo akan ambles ditelan bumi ?

    Kira2 efek keluarnya lumpur terhadap amblesnya ketinggian permukaan tanah sampai radius berapa dari pusat semburan ?

    Demikian terimakasih

  31. Setuju dengan pak R.P. Koesoemadinata….!!!
    Tapi yang susah diberi pengertian dari awaaaaal sekali kan orang KLH, termasuk mentrinya itu lho…Belum apa-apa udah teriak racun, padahal sebagai KLH mereka mestinya tahu yang namanya ambang batas untuk bisa dikatakan racun.
    Ngomong dengan KLH itu seperti debat kusir, nggak ada habisnya. Teooriii mulu, itu kali bedanya ama praktisi …..saking bisanya cuma teori, susah banget kalo diajari masalah ‘proses’, barangkali Om Koes bisa membuat bahasa yang lebih ‘gamblang’ supaya orang-orang KLH ini bisa agak ‘mudheng’ gitu……
    BTW, mentri KLH kita lulusan apa sih ?

  32. […] Spa lumpur Bakrie di Sidoarjo rupanya masih menimbulkan kericuhan. Akademisi sibuk menganalisis, politisi sibuk mencari kambing hitam, para korban masih mengungsi dan menjadi korban, sementara yang bertanggungjawab belum bertanggungjawab. Salah satu tulisan terakhir yang saya baca dari blog ini [1] juga  belum menunjukkan titik cerah. […]

  33. Cepat atau lambat toh akhirnya ke laut juga. Kalo LUSI ini nantinya mengotori/mengeruhkan selat Madura kayaknya kok kecil kemungkinanya karena debitnya gak seberapa dibanding endapan lumpur yang dibawa K. porong & Sungai Brantas selama ini…

  34. Saya sama sekali tidak melihat bahwa membuang lumpur ke Selat Madura itu akan merusak lingkungan, tidak ada bahan toxic atau bahan apapun yang merusak lingungan. Seluruhya adalah bahan alami dan sbetulnya juga adalah proses alami. Sudah jutaan tahun lumpur dan bahan alam ini diendapkan di Selat Madura oleh sungai Brantas, dan beberapa puluh tahun lewat saluran buatan K.Porong. Penambahan lumpur dari Lusi sama sekali tidak berarti, mengingat jumlahnya relative kecil. Jadi bukan si malakana, hanya KLH saja harus mengerti proses2 alami kebumian.

  35. Pepatah berkata…
    “Jangan pernah menganggap Alam sebagai warisan nenek moyang sehingga layak dirusak karena kita anak cucunya yang memiliki warisan tsb, tetapi yang benar adalah bahwa Alam adalah harta yang harus kita wariskan kembali kepada anak cucu kita…” oleh sebab itu kelestarian Alam adalah tanggung jawab kita bersama demi kepentingan generasi penerus…

    Masalah Lapindo itu seperti Makan Buah Simalakama, Kalo dimakan Bapak mati, kalau nggak dimakan ya Ibu yang mati…lah tinggal pilih mau yang mana?

    Pilih merusak lingkungan di selat madura atau pilih membiarkan semburan terus bertambah sampai seluruh pulau Jawa tergenang hingga seluruh ekosistem darat dan akhirnya bermuara ke laut akan rusak semua? Keadaan sudah darurat, dan solusi terbaik adalah untuk berbuat sesuatu atau mengambil tindakan segera bukan hanya berdiskusi dan saling membenarkan diri serta teori masing-masing tanpa memberikan tindakan yang nyata…

    Mari kita kembali pada diri masing-masing apakah semua ini memberikan bantuan dalam penyelesaian masalah? Apakah kita hanya akan debat kusir sementara kita berperang dengan bom waktu? belum kedepannya menghadapi musim penghujan…ck ck ck… bisa 1000x lebih repot ngurus banjir bandang yang isinya air+lumpur yang mengandung beberapa unsur beracun…kalau nggak dari sekarang kapan lagi kita harus bertindak? otomatis salah satu kepentingan mau nggak mau harus dikorbankan dalam masalah Lapindo apakah kepentingan Dept KLH atau kepentingan Dept Kelautan yg akan dikorbankan? sudah pasti dari hasil yg kita lihat Kementrian Kelautan lah yg akan dikorbankan karena Pemerintah dan KLH sendiri menyetujui pembuangan ke selat madura… Memang hasilnya akan tidak adil, namun saya rasa mau nggak mau kita semua harus menerima pil pahit hasil pilihan buah simalakama Lapindo ini…

    Semoga saja tindakan memakan buah simalakam ini tidak terjadi lagi dimasa yang akan datang… Keep Safety First In Every Aspect That You Are Doing … When you realize that safety is a value and not a loss of profit then you will learn that you must have a good safety system within your operations…or if you not taking the lesson learn of all this stupidity in Indonesia, you will just have to wait to become the next LAPINDO BRANTAS…!

    Safety regards,
    Dimas Satya Lesmana

  36. Hebat juga diskusi ini, sampai ramai sekali. Saya mungkin mewakili arek suroboyo yang cinta laut
    Saat ini di selat madura baik itu di lamongan ataupun di pasuruan probolinggo sudah sering
    terjadi carok antar nelayan di tengah laut antara nelayan Madura dan pantai-pantai di Jawa
    (lamongan, pasuruan, probolinggo) dan sudah banyak yang meninggal karena rebutan ikan. Ini susah
    dikendalikan karena carok dan bakar-bakaran terjadi di tengah Selat Madura.
    Selat Madura selat yang relatip tertutup artinya ombak yang timbul disitu hanya bergerak ke
    barat timur mbolak mbalik mbulet di selat tersebut. Pada saat musim angin (saat ini musim angin
    barat-musim kemarau) dan pada saat air pasang air laut akan menuju ke darat masuk lewat sungai-
    sungai sampai sejauh kira-kira 5 km ke darat. Air pasang ini sebagian besar dimanfaatkan
    penduduk pantai untuk tambak-tambak baik tambak udang, bandeng dan tambak garam. Banyak penduduk
    bergantung pada`selat madura di sepanjang pantai Gresik, Surabaya, Sidoarjo, pasuruan,Bangkalan
    Sampang, Sumenep, Probolinggo dst dst sampai ke timur.
    Bila lumpur dimasukkan ke laut maka lumpur tidak akan pernah mengendap tapi akan mengambang
    kampul-kampul mengikuti arah ombak dan arus. LUSI ini akan mengumpul menutupi muka air laut
    makin hari akan makin melebar. Saat muka air laut tertutup lumpur matahari tidak akan bisa
    menembus laut maka eksistem dalam laut akan terganggu, mikroba, flora, fauna laut akan mati.
    Rantai makanan berikutnya ikaan akan mati, nelayan akan bengong, dan bengong.
    Bila terjadi pasang LUSI akan masuk ke pantai, ke sungai dan ke tambak-tambak. Saat ditambak
    inilah LUSI baru bisa mengendap dan ini akan jadi masalah besar bagi penduduk.
    Ada`salah satu tambak di wilayah sidoarjo berstandar ISO dan layak ekspor.
    Isolasi, memanfaatkan, memindahkan ke tempat yang layak di darat menurut saya lebih baik
    sambil nunggu ambles yang digambarkan p rovicky.

    AW

  37. Paling-paling cuma nunggu sampe musim hujan bener2 datang, hingga terjadi “kejadian alamiah” lagi…… Lha wong sekarang aja belon apa2 gitu kok…
    Sama dengan komentar Sdr.Dimas, “Tanya kenn…apaa… :D”

  38. saya lebih setuju pembuangan ke laut melalui pipa..cuman, persoalannya klo mengalirkan secara gravitasi khan barangkali tidak cukup energi dan akan menyebabbkan lumpur itu menyumbat di pipa, well, gw rasa sekarang ini biar aja dulu area sekeliling semburan di timbun/diberi tanggul, lalu nanti dibikin inlet pipa di bagian atas tanggulnya, sehingga “over flow” nya baru mengalir ke laut (setidaknya akan ada dulu ketinggian yg cukup untuk bagi fluida tersebut meluncur secara gravitasi) hehehe, kedengaran konyol memang, tapi ada juga sedikit keuntungan >> air overflow di bagian atas ini tentu sudah lebih “bersih” karena lumpurnya sudah mengendap, ya khan?? well jadi gak ada persoalan lagi dengan kualitas “air” yang mengalir melalui pipa ke arah laut, dan persoalan energi pengaliran juga sudah tersedia….>>tapi persoalannya… berapa tingginya ya? (klo asumsi kemiringannya 2% artinya untuk jarak sepanjang 20 km diperlukan elevasi sebesar 100m!!! walah!!!)

  39. […] Blog Dongeng Geologi memuat opini Prof. Dr. R. Koesoemadinata yang berjudul KLH harus Mengkaji Ulang Pengertian Pencemaran Lingkungan, yang ada kaitannya dengan usulan membuang lumpur Lapindo ke laut. Dalam opini tersebut, Prof. Koesoemadinata meminta agar KLH mengkaji ulang pengertian pencemaran lingkungan. Selain itu beliau beranggapan bahwa membuang lumpur Lapindo ke laut tidak berpotensi mencemari karena apa yang dibuang itu juga berasal dari laut dahulunya. Dari uraian tersebut sepertinya beliau hendak berkata bahwa membuang sesuatu yang dahulunya berasal dari lingkungan tersebut tidak bisa disebut sebagai pencemaran lingkungan. Kasus seperti itu bisa disetarakan dengan fenomena alam seperti erupsi gunung api yang mengalirkan laharnya ke laut yang juga berpotensi merusak ekosistem tapi tidak diributkan oleh orang lingkungan sebagai pencemaran lingkungan. […]

  40. hehehe…
    ikutan jadi binun..kompas/tempo begitu…telematika begini…Prof. Koes…begindang…..

    fast executionnya mana Pak dhe?

    lah kayak saya wong awam…po yo ra tambah judeg.

    wassalam,
    -wongcilik

  41. MIld Says:
    September 2nd, 2006 at 7:15 am
    Setujuuuuuuuuuuu!!!!…Buang ke Laut .. (sekalian KLHnya)..he..he;

    Komentar diatas itu indah sekali ya? Lebih bagus lagi sebenarnya bila yang memperhitungkan masalah ini sederhana, dapat mewujudkan
    kesederhanaan itu dengan tanpa kejadian berkepanjangan seperti sekarang.

  42. memang susah jadi orang….
    saya bukan ahli gelogi maupun lingkungan hidup
    saya kurang setuju pendapat mengenai buang saja lumpurnya kelaut… laut yg mana dulu yg mo dijadikan tpa sih ? moga2 jauh dr rumah saya deh…..
    emang sie alam punya kemampuan me recovery dirinya sendiri
    tapi tentu saja ada waktu yg diperlukan untuk merecovery kiriman lumpur itu, masalahnya berapa lama waktu yg dibutuhkan untuk itu ?
    akibat buat kematian atau hilang nya biota di sekitar ‘tpa’ walau hanya ‘sementara’jangan dianggap terlalu remeh begitu… gimana dengan masyarakat yg cari kehidupan
    disekitar tpa ? ‘apa mau suruh alih profesi’ ? nelayan suruh jadi pembuat batu bata ?
    ga mudah lhoooo seperti mungkin sama sulitnya spt kalo lapindo disuruh berubah jadi perusahaan batu bata….. kali lho…. hehehe
    gimana kalau tpa nya disekitar rumah bos2 lapindo aja ?

  43. Rekan – Rekan Geologist

    Saya pikir jalan terbaik adalah mengembalikan masalah ini sesuai porsi ilmiahnya, jika hasil analisa lab memastikan tidak ada unsur bahan berbahaya atau logam beracun , ya sudah buag ke laut aja ,

    Kalau mau lihat dari sisi lain sehubungan dengan proyek jembatan madura – jawa kenapa nggak sekalian lumpun ini dipakai sebagai bahan material timbunan jembatan tersebut …..Gimana setuju khan

    Dandy
    Mantan Geologist

  44. Artikel dengan materi yang sangat menarik dan masuk akal sekali. Prof Kusumadinata adalah tipe ilmuwan yang memiliki prinsip: “Kalau bisa dipermudah kenapa harus dipersuit” Tanya Kenapa??? hehehe… Betul banget Prof, saya sependapat dengan artikel/makalah yang dituangkan oleh Profesor, kita orang Indonesia selalu berkebalikan dalam berprinsip yaitu: “kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?” lagi-lagi Tanya Kenn…Apa…??

    Kenapa lumpur panas yang keluar dari sumur lapindo tidak segera langsung diatasi pada saat kejadian? mungkin kalau pihak Lapindo bisa mengambil keputusan yang Cepat dan Tepat pada saat kejadian saya yakin tidak akan terjadi luapan sampai seperti yg terjadi saat ini. Kebanyakan mikir? prosedur yang rumit? tanpa ambil tindakan segera? bisa jadi…Tanya kenapa?

    Alam sendiri memiliki kemampuan untuk me-recovery dirinya sendiri, tapi masalahnya adalah apakah alam bisa me-recovery diri sendiri dengan adanya kiriman lumpur dari lokasi semburan menuju lokasi pembuangan akhir? kita tidak pernah bisa tahu kemampuan alam dalam melakukan hal ini toh? dan mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa KLH begitu concern dengan pengolahan buangan lumpur tsb dimana ada beberapa parameter dan baku mutu yg harus dipenuhi, tak lain agar membantu memudahkan recovery yg dilakukan oleh alam. Biar bagaimanapun kondisi alam Indonesia rata2 sudah memiliki penurunan dan oleh karenanya tugas KLH lah yg menjaga agar LH di Indonesia tetap terawat dan terjaga malah kalau bisa meningkat perbaikannya.

    Kita lihat saja nanti bagaimana hasil akhirnya yah, karena saya juga penasaran sih hehehe…

    Salam,
    DSL

  45. Suatu usulan beralasan yang sangat bagus sekali dari Pak Prof n saya sangat sependapat sekali dengan beliau. Dan juga yang perlu di tekankan di sini bahwa pihak yang berwenang seperti KLH yang notabene kerjanya berkaitan dengan lingkungan hidup jangan hanya mengambil keputusan dari satu sudut pandang saja, artinya mari kita duduk satu meja entah itu dari pihak KLH, geologi atau pihak2 laen yang kiranya dianggap relevan dengan problema yang sedang dihadapi untuk diminta info dan pendapatnya. apalagi masalah yang dihadapi bukan hanya dari sisi lain lingkungan saja.

    trims

  46. Tambah lagi pengetahuan saya, terima kasih Prof. Jarang-jarang kaum awam seperti saya dapat memperoleh “kuliah umum”.

    Mengenai pembuangan terbuka (lewat sungai?, jelas lebih murah dan cepat ?), namun di sisi lain, menurut saya dengan pembuangan lewat pipa, kita memiliki “kekuasaan lebih untuk mengatur” aliran lumpur (kecepatannya, arahnya, pemanfaatannya), intinya lebih manageable. Lagipula, kalau diyakini, material yang dialirkan adalah lumpur, risiko tersumbat apakah tidak sama dengan risiko pendangkalan sungai yang dijadikan sarana pengaliran lumpur (mas Rovicky mungkin dapat memberi gambaran berapa debit arus yag diperlukan untuk mengalirkan lumpur dengan kecepatan yang berimbang dengan debit lumpur yang saat ini keluar).

    Mungkin pula musim penghujan dapat membantu menambah debit arus walaupun menimbulkan risiko baru lubernya lumpur ke tempat yang tidak dikehendaki (semoga tidak terjadi banjir bandang di Sidoarjo, sekaligus menambah plus point untuk keterkendalian jika pembuangan dilakukan melalui pipa. Saya bukan penjual atau pengusaha pipa 🙂 dan tidak mengambil manfaat dari penggunaan pipa itu :))

    Pandangan saya pribadi: Ternyata banjr lumpur ini membawa “sedikit berkah” :), paling tidak laboratorium raksasa hadir tanpa diminta. Berbagai macam bidang ilmu dapat menggunakan lumpur dan hal-hal yang berkaitan (sejarah, geologi, paleontologi bahkan tidak tertutup kemungkinan kecantikan) sebagai obyek penelitiannya, seperti yang banyak disebut-sebut di webblog ini. Siapa tahu ada jasad renik purba yang dapat menjadi obat, atau kandungan dan manfaat terpendam lainnya dari lumpur ini.

    Kami masyarakat awam hanya berharap bahwa hasil temuan dapat dimanfaatkan, paling tidak memberi harapan baik bagi masyarakat yang sekarang, saya pikir, sudah demikian stres hidup selama itu di penampungan (apakah ada penelitian pula mengenai hal ini, bukan untuk menambah luka hati, tetapi menambah pengetahuan psikis Disaster Relief).

    O, ya, Mas Rovicky, di koran-koran disebut menurut A kandungan lumpur adalah X Y Z dan dapat dimanfaatkan untuk 123, Si B lain lagi, si C apa lagi. Sebenarnya mana yang benar dan apa yang harus segera dilakukan? Sekali lagi Terima Kasih.

  47. Dear Joko,
    yang di Migas cepu (Petrochina Block) anda maksudkan Sukowati well ya ?
    Itu BO-nya masih dari lubang sumur (lihat profil BO di artikel sebelumnya), tapi itu belum keterusan disebut dengan “kick”, ketendak pressure dr bawah. Itu diatasi dengan mengalirkan dan membakarnya istilahnya “flaring”, sambil diatasi dengan menaikkan berat jenis lumpur.

  48. wah2 kayaknya kalo ga salah dulu pernah juga ada insiden waktu eksplorasi Migas di Cepu. sampai beberapa minggu nyembur terus dan berhasil diatasi, kira2 caranya bisa di pakai ga ya?
    Matur thankyou

  49. kalo memang masalahnya simple skali, bisa langsung dibuang kelaut, kenapa bisa sampai beberapa desa terendam lumpur? kasian kan warga desa yg udah kehilangan rumah dan sawahnya.

    harusnya orang seperti prof. Koesumadinata ini yg jadi menteri KLH, kan masalahnya ngga bakal jadi serumit skrng.

Leave a Reply