Lumpur panas : Pandangan dari atas

0

tambak di ujung delta pangkah, lihat juga dalam skala lainnya dibawahUntuk memberikan gambaran dalam skala ruang (peta). Berikut saya lampirkan foto-foto yang diambil dari atas. Berapa luas daerah yg terkena dampak lumpur ini. Mungkin sulit bagi yg tidak sempat melihat. kalau sebelumnya geology hanya melihat bawah permukaan saja, sekarang kita lihat bagaimana pandangan seorang geologi melihat dampak dari permukaan.

Klick gambar utk memperbesar

Klik untuk memperbesar gambar

Pandangan dari atas (satelite view).
Perhatikan luas area yg terpengaruh. Seberapa skala yg diakibatkan oleh lumpur, bayangkan dari sebuah lubang sumur berukuran sekian inci itu (+/- 10 inci) mampumembuat rekahan sampai mengeluarkan material sebanyak itu. Seberapa besar pressure atau tekanan dibawah tanah. Tekanan yang mampu mendorong seluruh material (lumpur) ke permukaan dengan debit 50 000 m kubik sehari.

Juga jangan lupa perhatikan skala jarak 500 m yang ada disebelah kiri, ini bisa dipakai untuk melihat skala luas dampak yangg ditimbulkannya. Nantinya dengan pandangan skala ini bisa dibayangkan seberapa besar kemungkinan akan menenggelamkan sebuah kota atau sebuah desa ? Seberapa besar kemungkinannya.
Klik untuk memperbesar gambarBerikutnya disamping kiri ini adalah pandangan miring dari helikopter (helicopter view) ada juga yg menyebutnya “bird view“.

Sekarang kita lihat sama-sama pandangan dari helikopter secara miring ini. Bisa terlihat seandainya jalan itu hanya garis kecil membelah kolam-kolam lumpur. Digambar ini terlihat bagaimana jalan tol di tengah membelah kolam ini dan dapat dibayangkan bagaimana ketika tanggul disekitar tol ini jebol. Ya kita dapat melihat dan memperkirakan risiko berada jalan tol. Foto ini diambil 29 july dulu. Terlihat bagaimana dampak jebolnya dinding atau tanggul yg membanjiri perumahan disebelahnya (sebelah kiri).
dari-atas-3.jpg

Disamping ini gambaran yg diambil pada tanggal yang sama 29 July 2006 dilihat dari sisi sebelahnya yg lain. Terlihat perumahan yg tersapu banjir akibat jebolnya tanggul sehari sebelumnya.

Sangat cepat penjalaran banjir lumpur ini. Hanya dalam sehari saja sudah menghabiskan berpuluh-puluh rumah penduduk.

klik memperbesar

Masih seperti pandangan diatas memperlihatkan lokasi jebolnya tanggul pada tanggal 28 July 2006 lalu. Serta alirannya yang menyebar kemana-mana. Karena topografi daerah ini sangat landai maka penyebaran lumpur ini akan terkonsentrasi di lokasi semburan, dan menyebar kesegala arah.
dari-atas-5.jpg

Gorong-gorong dibawah ini sering merupakan titik lemah dalam tanggul. tanggulSeperti yg saya gambarkan sebelumnya disini, bahwa bagian dasar dari tanggul ini merupakan daerah yg menerima beban tekanan tinggi kolom air yang terbesar. Gambar sebelah membuktikan bahwa aliran dari bawah ini yg harus diamati ketika ketinggian kolom lumpur sudah mencapai titik maksimum. Rembesan-rembesan kecil harus diawasi karena akan menjadikan awal jebolnya tanggul. Selain itu kondisi awal atau denah /peta lingkungan sebelum dibangunnya bendung atau tanggul ini perlu diketahui dengan baik untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kebocoran dan jebolnya tanggul-tanggul yg sudah dibuat saat ini.
klik memperbesar gambar

Sisi pandangan lain dari luapan lumpur ini juga memperlihatkan desain pembangunan tanggul-tanggul yg sudah direncakan dengan sistem buka tutup untuk mengantisipasi melubernya air. Ada sedikit kendala tentunya. Salah satunya adalah bahwa lumpur ini terdiri dari 30% material padatan yg akan mengendap sehingga akan mendangkalkan kolam-kolam ini dengan sangat cepat.
Sekali lagi saya tampilkan delta buatan yang merupakan hasil rekayasa yang berada di sebelah utara kota Gresik. Kali ini saya tampilkan delta yang ada dengan lebih detil lagi. Kita sebut saja Delta Pangkah. Apa saja yang dapat kita pelajari dari gambar disebelah ini ?.

Warna biru muda (turquoise) menunjukkan pola penyebaran sedimen yg diangkut oleh aliran air laut yg melalui Selat Madura. Batuan yg keluar dari lubang semburan di Porong ini juga sama secara genetika (pembentukannya). Jadi warna biru itu adalah endapan-endapan halus berukuran lempung yg menyebar dan terendapkan didasar-dasar laut.

klik untuk memperbesarPerhatikan skala pembanding yang ada. Dimensi dari kanal buatan yg konon dibuat sekitar 100 tahun yang lalu ini memiliki panjang 15 Km. Bandingkan dengan ukuran kolam-kolam di lumpur Sidoarjo pada gambar paling atas. Terlihat bahwa ukuran kolam itu tidak seberapa kalau dibandingkan lumpur alami yg mendangkalkan laut. Dengan demikian menurut saya kita tidak perlu takut dengan pendangkalan yg mungkin terjadi akibat memasukkan atau mengalirkan lumpur ini ke laut. Namun ada hal lain yg perlu difikirkan yaitu komposisi kimiawi. Menurut penelitian ITS sebelumnya menunjukkan bahwa tidak perlu ditakutkan juga karena dianggap aman untuk biota-biota laut.

Selain itu bisa juga dilihat kan ? Banyak tambak-tambak ikan dan udang di delta yg ‘baru’ ini. Lah kalau memang bisa menjadi sumber ekonomi baru lak malah bagus ta ? Nah kita jangan buru-buru ketakutan dengan perubahan. jelas tidak mungkin tidak terjadi perubahan lingkungan. Usaha menghitung ulang kerugian dengan mengembalikan ekosistem seperti sebelumnya justru malah usaha sia-sia, namun usaha bagaimana beradaptasi dengan lingkungan ini yg lebih penting.

Lihat foto tambak dari dekat digambar paling atas.

Menurutku Menteri KLH justru bertugas untuk membuat lingkungan yang berubah-ubah ini tetap menjadi lingkungan yang layak huni dan layak pakai. Biarkan saja kalau Lapindo membuang “sampah”nya ke pantai. Namun KLH membuat studi ‘tandingan’ untuk membuat lingkungan tempat pembuangan ini menjadi layak pakai. Dan masih mungkin biayanya dibebankan ke siapa saja yg merubah kondisi itu. Jadi semestinya KLH berpikir foreward (kedapan) bukan hanya mencegah supaya tidak berubah, tetapi boleh merubah asalkan masih tetap layak huni.

1 COMMENT

  1. Om Rovicky, kok berita tentang LUSI sudah berhenti ya, padahal terakhir aku lihat di CRISP, alirannya semakin melebar saja.

  2. Kebeneran saya sedang meneleti lumpur lapindo ini pak, saya mohon bantuan komentar kuesioner tesis saya, untuk memberikan bobot pada variabel-variabel penyusun dalam pemilihan lokasi alternatif pembuangan lumpur Lapindo, sebelumnya saya ucapkan terimakasih

    PROGRAM STUDI PENGINDERAAN JAUH
    PROGRAM PASCA SARJANA
    FAKULTAS GEOGRAFI
    UNIVERSITAS GADJAH MADA

    KUESIONER

    Nama Responden : ……………..
    Pekerjaan : ……………………..
    Pendidikan terakhir : ……………………..
    Bidang Keahlian : ……………………..

    Bagaimana pendapat anda tentang penelitian ini :
    Judul penelitian : Kajian Pemilihan Lokasi Alternatif Kolam Pembuangan Lumpur Lapindo Menggunakan SIG dan Citra IKONOS di Jawa Timur
    Diteliti oleh : Firman Farid Muhsoni
    NIM : 23995/250/I-6/2006
    E-mail : [email protected] / [email protected]
    Telepon : 081931724270 / 08121692696

    Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kolam alternatif pembuangan lumpur Lapindo dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis dan citra IKONOS dan melakukan evaluasi volume daya tampungnya serta analisis biayanya. Penentuan lokasi alternatif pembuangan lumpur lapindo ditentukan dengan beberapa variabel penentu, yaitu: zona genangan, penggunaan lahan, fasilitas umum dan area dampak, dengan penjelasan sebagai berikut :
    – Zona genangan,didapatkan dari DEM yang merupakan hasil interpolasi dari titik ketinggian dari peta RBI dan data lapang. Kemudian dilakukan pemodelan untuk mendapatkan akumulasi aliran, arah aliran dan daerah aliran, sehingga didapatkan zona genangan.
    – Penggunaan lahan didapatkan dari digitasi visual citra IKONOS (terdiri dari : laut, tambak, sungai, saluran irigasi, sawah, ladang, hutan mangrove, semak belukar, lahan terbuka, pemukiman, industri, jalan).
    – Fasilitas umum didapatkan dari peta RBI dan citra IKONOS (terdiri dari : jalan utama/arteri, jalan kereta api, jalur pipa bahan bakar, pipa gas, pipa air, kawat tegangan tinggi).
    – Peta area dampak didapatkan dari Peraturan Presiden nomer 14 tahun 2007 tentang Badan Penanggulangan Lumpur Lapindo.
    Keempat variabel tersebut mempunyai rangking pengaruh yang berbeda dalam menentukan lokasi pembuangan lumpur. Menurut pendapat saudara variabel mana yang mempunyai pengaruh yang paling penting dalam menentukan lokasi pembuangan lumpur (nilai pengaruh 1-10, nilai 1 mempunyai pengaruh yang kecil dan semakin besar nilainya menunjukkan pengaruh yang semakin besar, nilai pada masing-masing variabel bisa sama bila dianggap mempunyai besar pengaruh yang sama).

    No Variabel Nilai pengaruh (1-10)
    1. Zona genangan ……………
    2. Penggunaan lahan ……………
    3. Fasilitas umum …………..
    4. Area dampak (Pepres No. 14 th 2007) ………

    Perlukah variabel tambahan selain variabel di atas : ………….(ya / Tidak)
    , kalau ya variabel apa : ……………….
    , berapa nilai pengaruhnya : …. (nilai 1-10)

    Saran : …………………………

  3. ujungpankah adalah daerah kelahiranku yang penuh dengan sumber daya alam yang begitu melimpah. dengan mayoritas ahli nelayan sebagai mata pencaharian utama. kini datang tim amerada hess pada daerah kelahiranku. ku harap jangan sampai mengancam nasib masa depan kami. jangan engkau rusak birunya laut ujungpangkah degan limbahmu. jangan engkau jadikan kami seperti kasus porong. salam dari ku REANK (Reaksi Anak Kramat) Ujungpangah

  4. Saya adalah seorang pemancing yang merindukan akan kerinduan alam yang seimbang. Manusia memang tak luput dari kesalahan, namun dosa yang terbesar adalah merusak tanpa memperbaiki lingkungan yang telah tercemar, coba bayangkan jika Dunia ini tanpa Air Bersih, dan bagaimana nasib Bangsa ini serta anak cucu kita?. Sebenarnya yang salah bukan manusia, namun otak manusia yang serakah akan kedudukan dan uanglah yang salah. Saat ini kita tak perlu saling menyalahkan atas musibah yang telah terjadi, namun ambil hikmah dan penanggulangan agar cepat terselesaikan masalah lumpur ini. Saya juga mendapatkan kerugian yang cukup besar, namun saya tak pernah menyalahkan pemerintah, namun saya mencoba untuk bersikap aktif, misalnya tidak membuang sampah alat pancing ke laut. Walaupun sepele, namun jika yang membuang 20000 oarang apa ngk jadi masalah,jadi saat ini mari kita mulai dari diri kita sendiri.Karna ada pepatah bilang ” UCAPAN SANGAT MUDAH DI KATAKAN, NAMUN SANGAT SULIT UNTUK DI PRAKTEKKAN/DI JALANKAN ” O.K, Good Luck.

  5. Saya seorang National Planner sangat prihatin atas kampung halamannya. Mana kepedulian para stakeholders??? Seyogianya Gubernur Jawa Timur menugaskan Pemegang Jabatan Fungsional Perencana (JFP) yang sudah ada !!!! untuk mengidentifikasikan Public Sector dan Private Sector yang kena musibah. Methodology telah disiapkan oleh Asosiasi Perencana Pemerintah Indonesia (AP2I) berupa Public and Private Partnerships, sehingga “Cooperatives” menjadi mutlak dibutuhkan. Ini adalah masalah etical cooperatives tidak hanya milik idologi bangsa tapi global semenjak stunami

  6. Assalamu’alaikum,..

    Banyak artikel yang menarik di sini, keren! Oya, beberapa wktu yg lalu saya membaca artikelnya pak RIrwan tentang optimalisasi dimensi saluran untuk membuang lumpur. yang mau saya tanyakan adalah bagaimana perhitungan untuk mencari jarak tempuh maksimal lumpur jika diketahui:
    nilai laju pengendapan (ws) dan beberapa data tentang dimensi saluran.
    mohon bantuan dari bapak2 semua.
    terimakasih,..

  7. percuma lah.. mau ngomong bagaimana pun tak mungkin ada pelaksanaan yg dilakukan oleh pemerintah.
    pemerintah cuma bisa membuat penyelesaian masalah sementara dengan membuat tanggulan, tidak akan menyelesaikan masalah hingga tuntas tas tas..
    dasar indonesia…

  8. bisa anggak dibantu agar warga yg kena dampak langsung bisa hidup normal lagi? abisnya kalo cuma teori dan teori terus tdk menyelesaikan masalah.
    Jangan pernah ungkapkan “saya turut merasakan kesedihan anda” kalau kita tidak ikut terjun merasakan kesedihan dan kesusahan mereka.
    Warga ini skrg dalam kebingungan dan memiliki tingkat stress yg tinggi jd jangan hanya teori, tapi wujudkanlah teori kalian semua menjadi kenyataan yg beruna bagi rakyat banyak.
    trims

  9. Hi Terry

    memang membuang kelaut bukan berarti tanpa dampak. Apapun yang kita lakukan selalu saja ada dampaknya. Paling tidak menganggu “stabilitas” lingkungan. Yang pasti akan terjadi “perubahan kondisi lingkungan”.

    Sebenernya tanpa ulah manusiapun kondisi lingkungan hidup atau bumi ini akan berubah. Hanya saja yang harus diperhatikan ialah perubahan itu sebaiknya diketahui apa kira-kira dampaknya. Kemuadian keputusan dipilih berdasarkan atas kepentingan-kepentingan tertentu yang diurutkan berdasarkan urgensitasnya, misalnya seperti,
    1. Selamatkan penduduk !
    2. Selamatan lingkungan

    Sayangnya dalam Keppres no16/tahun 2006 kemarin hanya dijelaskan langkah2 timnas saja yaitu :
    a. penutupan semburan lumpur;
    b. penanganan luapan lumpur;
    c. penanganan masalah sosial.

    Rasanya langkah a terancam gagal, dan yang keduapun sudah kewalahan, dan ketika HARUS BERHASIL (ini kareppe Pakdhe 🙂 … Tetapi paling tidak kita bisa tahu bahwa masalah sosial termasuk penyelamatan penduduk harus didahulukan dibanding penyelamatan lingkungan.

    Nah tentunya perubahan lingkungan seandainya lumpur dibuang ke laut memang terus dikaji, tetapi … lah gimana bisa mencemari laut … wong ngalirkan ke sungai saja susahnya minta ampuun 🙁

    RDP

  10. tery rasa cara membuang lumpur ke laut itu ga bagus …
    tery dah ngomong ama dosen tery di kampus, katanya cara terbaik adala dengan membuangnya ke laut . tapi kalo kata tery hal itu ga bagus …
    walaupun emang kandungan kimianya masih dalam tahap normal, namun dengan jumlah lumpur yang begitu banyak pastinya ada sedikit perubahan yang terjadi pada komposisi bahan kimia di laut..
    walaupun sedikit, namun terry ga begitu yakin dengan dampak yang akan terjadi..
    jadi menurut tery harus dilakukan peninjauan ulang yang sangat teliti, walaupun tery tau kalo waktunya sangat mendesak…
    tapi tery rasa ga boleh ada resiko yang lebih besar lagi setelah masalah ini selesai..
    yang saya dengar dari dosen saya,,katanya kandungan raksa dalam lumpur itu cukup besar, walaupun masih dalam kondisi aman… bener ga sih??

  11. Naahhh .. sampai pertengahan desember 2006, lumpur sidoarjo belum dapat ditanggulangi taaa…. omong2 kasihan pak Basuki M, komandan lapangan penanggulangan lumpur, dia alumni kita, angkatan 73. Titip weling buat pak Basuki, golek paranormal/spiritualis minta supaya jebolannya dipindah ke arah timur laut, kira-kira tibo neng segoro selat madura, biar yang dipinggir jalan tol bisa rada gembos. Prinsipnya itu nggak bisa dilawan, tapi dipindah/ disalurkan. Kaya yen kebelet nguyuh, ditahan malah tensi darah munggah … heheh.. Kaya yen nolak udan kae lho, mendunge digeser, dudu udane sing ditolak.

  12. Hmmm…kayaknya bikin caphe deh! mendingan dibawa santai aja. ga pelu mikir,,,ntar klo tlalu dipikir sakit malah tambah caphe deh!

  13. Seharusnya mulai sekarang, kita bersama membuat dokumen tentang sejarah, budaya, kependudukan, dan hal lain yang penting untuk dijadikan buku tetang sejarah pernah adanya daerah yang bernama SIDOARJO untuk anak cucu kita, sebelum terlambat, sebelum semuanya tenggelam ditelan bumi (lumpur), terima kasih

  14. Kita prihatin sampai saat ini penanganan masalah lumpur Porong (menurut kaidah penamaan geografis kurang tepat disebut lumpur Lapindo!) masih tetap menjadi pro-kontra yang berkepanjangan. Sebetulnya saya berharap bahwa pada Kepres yang baru ini muncul institusi geologi yang kompeten seperti Geotek-LIPI, BPPT, atau Badan Geologi ESDM yang dilibatkan sebagai anggota Tim Pengarah, karena sejak awal nampaknya gejala yang kita perguncingkan ini adalah fenomena geologi yang sangat sederhana dan lazim terjadi di bumi ini. Tapi justru para pakar geologi nampaknya masih bungkam seribu bahasa sehingga masalah ini makin bergulir dan menjauh dari domain geologi.
    Demikian pula dengan upaya mematikan semburan melalui relief well nampaknya sudah “tidak in” lagi mengingat kekhawatiran bahaya gelontoran lumpur pada musim hujan akan membawa bencana baru. Berhasil atau tidaknya relief well ini tidak akan menjamin penanggulangan korban bencana (masyarakat) yang justru seharusnya menjadi prioritas penanggulangan. Lahan yang sekarang tergenang walau bagaimanapun tidak dapat dipulihkan kembali menjadi pemukiman atau persawahan, karena tempat yang pantas bagi lumpur Porong ini adalah di dasar laut.
    Menurut hemat saya, sangat perlu suatu pernyataan institusi yang kompeten di bidang geologi yang menyatakan bahwa musibah ini telah bergeser dan patut disebut “disaster” terutama ditinjau dari luar biasanya jumlah volum lumpur yang keluar dan tidak terkendali lagi. Dengan demikian penanggulangannya akan bersifat darurat dan lebih efektif.
    Demikian pula dengan skenario terakhir yaitu alternatif penanggulangan membuang lumpur ke laut, nampaknya sulit dilakukan secara teknik karena kelandaian lereng. Cara ini memerlukan penerapan submarine placement technique yang cukup rumit. Oleh sebab itu, saya berpendapat bahwa alternatif terakhir adalah membiarkan saja proses alami ini berlangsung dan mengalir secara alamiah, sebagai mana gejala mud eruption lainnya di dunia. Upaya yang diperlukan hanyalah mengendalikan aliran sehingga tidak menjadi bencana baru.
    Jelas, bahwa kawasan ini harus dinyatakan sebagai kawasan rawan bencana, sehingga semua fasilitas publik (jalan tol, rel KA, dsb.), pemukiman, kawasan industri perlu direncanakan untuk direlokasi ke tempat yang aman. Dengan demikian, dampak muti dimensi yang makin berkembang ini akan secara bertahap dapat ditekan dan diatasi. Semoga….

  15. Kepada Yth; Bp.Pengawas Lokasi Hot Mud Porong.Divisi.

    Dengan Hormat.
    agar Tanggul Tanggul Yg ada saat ini.:
    Mengajukan ke: Gudang Gudang Semen Sisa sisa Semen Yg Keras &
    yg Jelek Karung2 di.kirim untuk campuran Lumpur.
    di Siram Ke;Tepi Tepi Tanggul Mencegah Longsor Tanggul2.
    dan Bambu Bambu tusuk Tepi Tepi Tanggul ( bila Perlu ada
    Plastik Kain Terpal Yg Jelek Siring Tepi Tepi Tanggul..
    Demikian Partisipasi Saya.

  16. Kalau bener bahwa yg keluar itu steam (uap panas) barangkali bisa dikejar geothermal energi disekitar situ. Tentunya dengan studi khusus mencari low resistive rock, biasanya low resistivity ini related dengan HOT rock.
    Kalau Minyak dan gas di Kujung ini jelas terbukti, lah itu Exxon ngendon di cepu mengejar formasi yg sama dengan yg dikejar-kejar Lapindo.

  17. Mas Rovicky, makasih atas informasi dan tulisannya yang mencerahkan.

    Kira-kira, selain gas alam yang akan dibor Lapindo, adakah SDA lain yang mungkin nilainya sangat besar?

  18. Saya br saja ketemu dng Bob Yulian, dan memang saran BP Migas dulunya alirkan saja ke laut, dan di tata ulang daerah itu menjadi wisata mud volkano. Siapa sih yang mampu menahan kekuatan alam, kalo di semen, ya nanti jebol di tempat lain, ngikuti patahan watu kosek.
    Supaya tdk merugikan nelayan, ya iwaknya digiring dulu ke timur biar tdk kena lumpur … hehehe … susahnya masalah Lusi ini jadi sarat problem sosaial politik, jadi pikiran teknis kagak laku. Daripada membanjiri rumah ya mending memmbanjiri laut, malah daratnya tambah luas. Idep2 sebagai ganti pasir yang dijual ke singapur.

  19. Mas Tjahjo,

    Setahuku di lemigas sudah banyak image-image satelite seperti ini. Memang akan lebih bagus kalau Lemigas bisa membuka data-data serta hasil penelitiannya untuk segera dapat dimanfaatkan oleh publik.
    Sependek pengetahuanku lemigas cukup maju dengan pemanfaatan teknologi satelit ini yg dulu dikerjakan dengan kerjasama JICA kalau ngga salah.
    Ayo mas Tjahjo, data-data lemigas di-publik-kan, bisa semua merasakan manfaat teknologi yg telah kita miliki.

    salam,

  20. Saya tertarik dengan teknologi peta ini dan saya ingin merencanakan infastructure nya agar Geoscience dam/atau Planing Teknology nya dapat berkembang justru di Indonesia yang terletak didaerah panas ini. Setahu saya di kawasan Asia Pacific sedang banyak teknologi tinggi termasuk satelite yang butuh diintegrasikan. Untuk itu butuh alternative infrastructure yang terbagus. Saya tidak tau persis namanya apa? mulai dari istilah canggih cangih mulai dari open system sampai dengan operation support systems. Sekarang kita sudah punya identifikasi masalah yang jelas. Tinggal planning process dipersiapkan oleh Local, Sectoral, National, and International Planners.

  21. Encernya lumpur Sidoarjo ini memang bisa merupakan air yang menggerus formasi lempung tapi bisa juga lumpur yang bercampur air formasi. Dari rekaman sismik yg saya lihat, BJP-1 menembus tepat di ujung struktur yang sering disebut “gas chimney”. Tapi apakah itu betul-betul berisi gas mengingat Sidoarjo terletak berbatasan dengan depresi Randublatung yang notabene merupakan gudangnya lumpur.
    Tapi apapun penyebabnya, kebocoran ini kan harus ditutup dengan segala cara. Sebenarnya yang paling tepat adalah dengan penyemenan di kedalaman >6000-an ft di lubang bor BJP-1. Tapi sayangnya itu masih gagal karena takut resiko yang begitu tinggi. Kalau melalui relief wells, kemungkinannya fifty-fifty apalagi tekanan formasi yang sebesar itu.

    Mengenai pengaliran ke laut, menurut saya sih gak apa-apa, karena memang air lumpur itu dulunya juga endapan laut. Tetapi masyarakat kan punya logikanya sendiri. Selain itu kita juga perlu menyadari pula bahwa pandangan geologi juga belum tentu benar.

    Masalah tanggul, persoalannya kita tidak tahu seberapa besar volume lumpur yang bakal keluar. Sekuat apapun tanggul, kalau akhirnya luber (over-topping), toh akhirnya akan jebol juga.

    Jadi solusinya bagaimana ?

    Tidak ada jalan lain selain menyumbat lubang bor BJP-1 di kedalaman yg disebutkan di atas. Karena kalau dibiarkan saluran itu tetap terbuka, kita tidak bisa mengendalikannya sampai tekanan dari bawah permukaan reda. Dan itu sampai berapa lama ? Mungkin sebentar saja, tapi dalam skala waktu geologi yang berarti bisa dikatakan “abadi” dalam skala umur manusia.

  22. You wrote:

    “Jadi semestinya KLH berpikir foreward (kedapan) bukan hanya mencegah supaya tidak berubah, tetapi boleh merubah asalkan masih tetap layak huni.”

    Pertanyaannya: “Mengubah sejauh mana dan layak huni buat siapa Pak?”

    Secara sepintas memasukkan lumpur ke laut memang tidak akan ada beda signifikan buat manusia, kecuali mungkin secara kasat mata hanya terlihat adanya perubahan warna air yg menjadi keruh atau terjadinya sedimentasi. Tapi, dari sudut pandang penghuni laut (tinjauan ekosistem) ya jelas akan ada pengaruhnya. Artinya ekosistem yg ada akan berubah dan itu bakalan dirasakan oleh penghuni lautan. Dan sudah pasti, tidak mudah bagi penghuni laut itu utk langsung beradaptasi dgn perubahan yg terjadi. Selain itu, proses kembali kepada kondisi “setimbang” dari kerusakan lingkungan akibat masuknya lumpur itu akan memakan waktu yg sangat lama (jika ditinjau dari sudut pandang para penghuni laut yg sensitif pada perubahan lingkungan yg drastis).

    Dampaknya ke manusia, sebagai predator di level akhir dari rantai makanan yg ada di laut ya gak terlalu signifikan, tapi bagi para nelayan atau petambak, mungkin signifikan karena mata pencahariannya bergantung pada ekosistem laut. Jadi kalau mengacu kepada apa yg anda tulis di atas: buat manusia, perubahannya jelas tidak signifikan, karena manusia bukan termasuk penghuni laut. Dan dalam kasus membuang lumpur ke laut ini, buat manusia jelas tidak berlaku parameter layak huni karena manusia bukan penghuni lautan.

    Tapi memang, dari sudut pandang manusia, manusia jauh lebih “berarti” daripada binatang. Rusaknya ekosistem binatang lebih bisa “diterima” daripada “ekosistem” manusia yang rusak. Menenggelamkan desa jelas tidak manusiawi, dan alternatif menggelontorkan lumpur itu ke laut jelas lebih “baik” buat manusia dan dari sudut pandang manusia.

  23. I can smell the danger ….

    Aku yg hanya mengamati dari jauh saja kadang ngeri melihat dampaknya. Kalau material lumpur (berserta air) yg “menggunung” ini tidak segera dialirkan akan sangat-sangat membahayakan. Bendungan darurat atau tanggul darurat ini sangat rapuh…. sangaat rapuh.
    Dari segi volume sebenernya tidak seberapa bagi alam. Namun bagi orang yg disebelahnya bener-bener mengkhawatirkan…dan sangat membahayakan.

    Meninggikan bendungan sama saja meninggikan atau menumpuk risiko, semakin tinggi bendungan semakin tinggi risikonya.

    Seperti yg aku tulis minggu lalu, menambah tinggi ataupun menambah luas sama saja. Menambah tinggi berarti mempertaruhkan kekuatan vertikal, namun menambah luas juga akan menampung curah hujan lebih banyak nantinya.

    Kejadiannya bisa saja mirip seperti apa yg dicurigai sebelumnya …. menambah panjang lubang tanpa casing pernah ‘dituduh’ sebagai penyebab UGBO (walopun memang belum bisa dipastikan). Sangat jelas menambah tinggi sama saja menambah risiko. Jangan mengulang lagi kejadian yg lalu.

    Satu-satunya … alirkan saja ke laut !!

  24. mas rovicky,
    bbrp hari yll lewat milist arèk-arèk sidoarjo crita ttg kejadian yg mirip spt ini, kira-kira 50-60 thn yll …
    di sebuah ladang jagung di pedesaan mexico, suatu hari timbul kepulan asap dari tumpukan sampah panenan jagung yang memang ditumpuk mengelompok di bbrp tempat (utk dibakar kalo’ sdh kering, sbg pupuk utk musim tanam berikut). para petani sekitar mencoba memadamkan dg siraman air, tapi nggak berhasil …
    kepulan asap tambah hari tambah membesar, dan bbrp hari (ato minggu) kemudian timbunan sampah tsb seolah kesruduk ato kesundul sesuatu dr bawah, yang berupa partikel padat yg cair dan panas (panasnya sampé membuat kering dan membakar timbunan sampah yg tersisa …) yg pelan-pelan menumpuk, melebar .. sampé berbentuk kerucut ato piramid.
    demikianlah, dunia melihat (ato mengamati) lahirnya sebuah gunung, yg dlm tempo sekitar setahun sdh membentuk bukit kecil setinggi ratusan meter!
    gunung ini akhirnya disebut/dinamai gunung el paricutin, yg merupakan gunung berapi termuda di bumi ini.

    proses “semburan” asap yg kemudian diikuti partikel padat (seperti sirtu)tapi cair/kental memang mirip dg yg terjadi di siring. yg secara signifikan membedakannya adalah pd kejadian di mexico tsb bbrp hari ato minggu sebelum dan selama proses munculnya gunung daerah tsb diguncang gempa VULKANIK, yg betambah hari getaran dan frekwensinya bertambah tinggi … suatu fenomena yg belum terasa dan kliatan pd kasus semburan lumpur lapindo tsb.

    apa ada kemungkinan fenomena alam yg sama terjadi di siring ini? wallahu alam wal bishawab —- smoga tidak (!), apalagi sampé hari ini BELUM dilaporkan adanya gempa vulkanik; tapi kalo’ mengikuti aktivitas bbrp gng berapi di kawasan ini selama paruh pertama th 2006 ini menunjukkan gejala kenaikan (selain merapi ..), rasanya patut kalo’ ada vukanoloog ato geoloog yg ‘ngikuti blog ato thread ini bisa memberikan opininya …

    wass.:

    [bam]
    (sampé lepas SD masih main di seputaran kawasan yg skrng sdh abis kelumpuran — SD ato SR-ku doeloe di kampung mindi, diarah belakang kantor PLN porong.
    sekarang tinggal di pinggiran bogor, di kaki gunung salak — makanya terkadang deg-degan juga, apalagi kalo’ ada gempa … walaupun sbg awan pd getaran pertama tentunya nggak bisa mbedain ini gempa vulkanik apa tektonik)

  25. Cak Rovik,
    Matur nuwun info gamblangnya.

    Kalau kita teliti dampak bencana Sidoarjo, bencana semburan lumpur panas ini bukan bencana yang sama bisa ditangani seperti bencana Tsunami, gempa dll yang terjadi belakangan ini.
    Dampak bencana lumpur panas ternyata tidak berbeda dengan dampak pembuatan bendungan, dimana terjadi perubahan permanen bagi lingkungan, yang berarti merubah tata kehidupan masyarakat.

    Rumah tinggal, kampung dan sarana fisik bisa di relokasi cepat, pabrikpun bisa direlokasi dengan mudah, namun kebiasaan dan budaya hidup penduduk setempat, apalagi yang mereka terbiasa bertahun hidup dengan mata pencarian tradisional yang ada di daerah bencana tidak mudah diubah dalam sekejab.
    Sehingga dalam hal ini perusahaan membuat bencana memang wajib menanggung semua biaya, namun pembuatan tata ruang baru, penyediaan lapangan kerja pengganti, pendidikan masyarakat agar mampu hidup dilokasi baru, manajemen perubahan agar tidak ada dampak negatif yang merugikan masyarakat, memerlukan kerja keras dari pemda yang perlu diperhitungkan dalam proses pembiayaan karena harus juga dibiayai oleh pembuat bencana.

    Semoga musibah ini membuat kita semua menjadi “eling”, agar dibalik musibah ini dapat terjadi banyak kemudahan bagi semua yang menjadi korban bencana, baik masyarakat setempat, masyarakat Sidoardjo dan juga bagi perusahaan pengeboran yang menjadi penyalur bencana.

    Sekali lagi terima kasih,
    Wass.
    Hari S.noegroho

  26. MAs RDP,
    Bagaimana dengan penurunan tanah yang terjadi seperti diberitakan di Metro TV kemaren. Menurut para peneliti, tanah di sekitar lumpr tsb turun 20 cm. Apakah benar ada kemungkinan terjadi ledakan?

  27. mas, gw baca kompas kemarin (29 aug) katanya gejala sembulan lusi ini adalah gejala mud volcano, artinya menurut berita itu tidak mungkin lagi ada upaya menghantikannya (kecuali secara alami) karena fenomena itu seperti halnya pembantukan “gunung” baru…
    Pemahaman awam gw : yah tinggal tunggu waktu aja…malah siapa tau nantinya drh itu malah bisa jadi bernilai ekonomis…bisa di bangun mal, tempt wisata dll..hehehe

  28. Saya tidak melihat keberatan dari KLH untuk mengalirkan air lumpur ini ke Selat Madura, tidak usah lewat pipa (bisa mempat) tetapi lewat saluran terbuka, bahkan lewat K Porong saja.
    Sebetulnya lumpur ini apa mengandung zat beracun atau zat berbahaya? Saya tidak bisa percaya kecuali ada data analisa lumpur yang diambil dari semburannya sendiri yang belum dicemari oleh sungai yang sudah tercemar industri sekitar Sidoardjo.

  29. Pada semburan lumpur Sidoardjo ini, airnya sangat banyak,jadi sangat encer, dan saya sangsikan ini adalah shale intrusion.
    Saya berpendapat bahwa ini ada suatu hot spring yang membawa lumpur dalam perjalanannya lewat formasi Pliocene dan Pleistocene. Airnya berasal dari Kujung yang sangat overpressured (sekitar 9000 psi). Saya kira semburan ini akan berhenti sendiri begitu tekanan reservoir Kujung turun sampai hidrostatik, tetapi akan memakan waktu beberapa tahun.
    Dengan mengetahui volume reservoir dari prospect Banjar Panji, yang pasti sudah dihitung oleh geologist Lapindo Brantas serta reservoir pressure yang diambil dari Porong-1, maka waktu berakhirnya semburan lumpur ini dapat dihitung.
    Temperatur air yang cukup panas dari air formasi Kujung juga bisa dihitung dengan mengetahui geothermal gradient dari IPA untuk daerah ini.

  30. Iya Mas Rovicky, aku hanya rada-rada nggak percaya bahwa lumpur bisa dialirkan ke laut melalui pipa hanya mengandalkan gaya gravitasi saja. Kan akan lucu bin aneh, kalau lumpur sudah dialirkan ke pipa nantinya, eh … tahu-tahu berhenti di pipa kilometer 3-7 karena mampet. Namanya juga lumpur mud volcanoes yang kental gitu. Kan akan sangat konyol kalau ini terjadi. Tapi kalau disainnya hanya untuk mengalirkan air hujan yang akan menggenangi tanggul lumpur sih, itu rasanya lebih logis… Dongeng geologi Mas Rovicky telah membukan pemahaman kami, apa itu semburan lumpur panas yang juga karena tekanan hidrostatis ditambah geo thermal kali… Menurut saya, masyarakat perlu diberi tahu, apalagi korbannya WAJIB paham apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Kelihatannya ini sangat kurang tuntas dan jujur disampaikan.

  31. Waaah…apik kuwi Pak Dhe buat masukan Pak Menteri KLH >>> bukan hanya mencegah supaya tidak berubah, tetapi boleh merubah asalkan masih tetap layak huni. (KLH kerjane gur bengok2 thok…tapi gak kasih solusi.hiks)

  32. Wadduh Mas Aji,
    semestinya ya konsultan-konsultan itu yang melakukan studi-studi ini. Aku ini kan hanya sekedar mendongeng sederhananya saja. Wong aku juga ngga punya data otentik. Minta juga ngga dikasi karena “rahasia”, blaik !. Aku hanya ingin memberikan pembelajarannya saja ke masyarakat awam. Bukan memberikan arahan ataupun suggestion tehnis. Kan, di Indonesia ini sudah buanyak wong pinter-pinter doktor Phd S3. Aku yakin Lapindo akan lebih senang dengan membiayai studi-studi ilmiah. Ketimbang membayar lawyer karena adu argumentasi berkepanjangan menghabiskan masa. Padahal musim hujan dan lumpur dua-duanya mengejar2 terus.

  33. Terimakasih atas infonya yang bernas ini. Coba Mas Rovicky analisis deh, bagaimana dengan pembuangan lumpur ke laut itu, apa bisa dialirkan ke laut? yang jaraknya kurang lebih 10 km itu melalui pipa. Saya kok cenderung melihat bahwa seperti pada kasus mud volcanoes lainnya, nggak bakalan tuh lumpur sampai ke laut. Paling-paling bakal nyumbat itu pipa. Kecuali jika saat dialirkan ke pipa, berbarengan dengan semprotan tekanan air ke dalam saluran pipa buangan lumpur. Lumpur mengalir kelaut, ya kalau ditumpahkan saja ke sungai Porong di waktu musim hujan nanti… itu baru sampai ke laut dan mengikuti mekanisme alam….

Leave a Reply