T-J (tanya jawab) seputar Lumpur Sidoarjo, dampak eksplorasi dan lainnya

0
57

question.gif Berikut tanya jawab saya dengan salah seorang pengunjung blog ini, masih seputar Banjarpanji, masih soal lumpur, bagaimana penanganan serta salah satu dampak dalam industri perminyakan

Mungkin dia (tanzsc) ini baca tulisanku tentang bertanyalah !

> E-mail : tanzsc@
> Comment:
>
> Terima kasih atas dibuatnya blogger ini, sangat informatif dan edukatif, Mas Rovicky, mau tanya:

> 1. apakah sudah dipastikan struktur / skema sumber dan aliran lumpur yang ada di perut bumi itu (saya menganalogikannya dengan jaringan darah manusia dengan jantung dan nadinya)?

Coba klik gambar iniTidak ada yg pasti dalam interpretasi data geologi seperti yg saya tuliskan disini :
Lubang keluarnya bukan dari lubang asli sumur BPJ-1, tetapi melewati samping kiri-kanan disekitar lubang sumur BPJ-1. Permasalahan bawah permukaan yg rumit sekarang adalah mengetahui dimana arah/jalan keluarnya lumpur (dalam bahasa anda “urat nadi”nya susah dideteksi) sehingga “relief well”pun bukan hal yg sederhana. Smoga saja ujungnya masih berpusat di lubang BPJ lama, sehingga bisa tutup dengan relief well. Relief well merupkan teknik penyumbatan sumur yang mengalami blowout dengan mengebor dari samping.

Coba baca tulisan saya yang lain tentang jalannya lumpur ini disini

> 2. tekanan apa / dari mana yang menyebabkan material (lumpur) naik ke atas terus menerus (apakah ada material di dalam yang keropos yang menekan material yang lebih lunak ke atas, tentu asumsi ini berdasar gambar bahwa ada “bank lumpur” di dalam tanah)?
>

collapsebpj.jpgYang saya gambarkan disini :
http://rovicky.wordpress.com/2006/08/13/banjir-lumpur-panas-sidoarjo/
Memperlihatkan bahwa tekanan bersumber dari beban batuan diatasnya. Dimana berdasarkan sumur sebelahnya (Porong-1) terlihat ada “collapse feature”. Collapse ini yg menunjukkan beban dimasa lampau yg telah terlepaskan. Kondisi di lokasi Porong-1 (7 Km sebelah timur BPJ-1) saat ini sudah mencapai kritis statis. Lumpur dibawah sudah terhenti dimasa lampau.
Kalau sedikit meluangkan waktu coba saja dihitung berapa lama yg diperlukan untuk memindahkan volume batuan dari bawah keatas sehingga kondisi statis ini tercapai. Kita punya radius 3-5 Km dengan kedalaman sekitar 200m. Nah kalau debitnya 50 000 m cubik sehari, maka berapa lama akan terhenti ? …..

> 3. Kalau pengeboran ibarat jarum suntik yang mengenai nadi darah, apakah tidak ada material / beban yang dapat menutup lubang itu (atau mengalahkan tekanan ke atas) mengingat sebelum dibor / ‘disuntik’ bukankah struktur lapisan tanah sebelumnya mampu ‘memelihara’ lumpur / air / material lunak itu tetap di dalam perut bumi?
>

Kondisi yg anda tuliskan diatas saya sebut sebagai “kondisi kritis statis”, namun karena saat ini diperkirakan kondisinya “kritis dinamis”. Sangat mungkin ada “pergerakan” akibat beban dan gaya gravitasi yg menyebabkan penekanan kebawah.

Yang manahan tekanan keatas salah satunya adalah tekanan hydrostatis dari berat lumpur itu sendiri. Seorang kawan memperkirakan tekanan dipermukaan hanya sekitar 2 – 5 meter (tinggi maksimum) luapan dipermukaan. Sehingga bisa saja kita tutup dengan casing setinggi maksimumnya utk melawan tekanan ini.

klik untuk memperbesarCara ini saya maksudkan sebagai “Capping”, dikasi topi baja :). Pemasangan baja ini bisa saja dengan diangkat heli. Banyak sekali heli yg mampu mengangkat berat looh. Dan ini sudah lazim dalam perminyakan mengangkat barang berat bahkan rig dan semua peralan drilling dapat diangkut dengan heli (heli portable rig). Artinya secara tehnis operasi cara ini masih “feaseable”. Mencari selubungnya ini mungkin sulit atau harus fabrikasi (? I have no idea)
Kesulitannya adalah apabila ada lubang-lubang lama yg berpotensi menjadi jalan baru keluarnya lumpur ini. Saat ini diketahui pernah ada 5 lubang, dan hanya satu yg masih muncul. Cara “capping” ini mungkin masih terukur dan tekontrol ketimbang dengan peledakan seperti yg anda sarankan dibawah ini.

> 4. Bagaimana bila sepanjang sumur bagian tengah diledakkan, sehingga secara alami runtuhan tanah menutup sumur (apakah material runtuhan cukup kuat menahan tekanan ke atas itu, btw, berapa besar tekanan ke atas dari sumur yang bermasalah ini?)
>

Cara ini bisa saja, namun bahayanya adalah tindakan peledakan ini susah di kontrol. Kalau dalam meledakkan bangunan (demolition) , kekuatan bangunan diketahui dengan baik (ada hitungan konstruksinya) namun kita ini ‘deal’ dengan alam yg sangat banyak “unknown”nya, terlalu banayk yg tidak diketahui. Bahanya jelas kalau tak terkontrol dan menyebabkan lubang-lubang baru yg semakin sulit dikendalikan.

Menghitung besarnya tekanan ini menjadi sulit ketika kita tidak memiliki pengukuran. kalau tekanan pori-porinya mungkin bisa dihitung atau diestimasi dari data sumur sebalahnya (Porong-1). Tetapi kalau menggunakan tekanan beban (lithostatik) tentunya ketinggian luapan akan sangat tinggi sekali ! Pengukuran atau pengamatan riil tinggi luapan ini mungkin lebih praktis untuk memperkirakan tekanan permukaan (pressure head).

> 5. OOT sedikit :), sumur ini untuk oil drilling? Pada kedalaman berapa diharapkan minyak dapat ditemukan, apakah menembus nadi / bank lumpur ini, apakah prospek ditemukannya minyak ini masih ada?
>

Wah ini sangat rahasia … hikhikhik .. ndak dink !

Saat ini cekungan Jawa Timur (East Java Basin) merupakan salah satu cekungan yg memilki potensi diduga yang suangat besar. Diketemukannya lapangan Banyuurip (Cepu) serta lapangan-lapangan lain termasuk lapangan Sukowati yg sempet “kentut” kemarin itu merupakan bukti jelas masih banyaknya potensi migas dibawah tanah Jawa Timur ini.

Namun, …. yang saya khawatirkan saat ini penduduk serta semua “stake holder” oil and gas, juga pemerintah sangat mungkin mengalami traumatik. Yang lebih parah kalau terjadi “phobia” pada kegiatan eksplorasi terutama pengeboran. Padahal saat ini mustahil memproduksi minyak tanpa melakukan pengeboran. Yang perlu dilakukan saat ini dan kegiatan selanjutnya adalah “ekstra hati-hati”.
Coba perhatikan peta dibawah ini. Disamping kiri kanannya menunjukkan grafik yg menunjukkan discovery curve, jumlah minyak yg diketemukan. Terlihat bahwa cekungan jawa timur ini memilki sejarah penemuan baru yg cukup signifikan dalam dekade belakangan ini. cekungan-cekungan lain sudah mulai “lesu” dan matang (“mature”).

klik untuk memperbesar

Tentusaja kita harus bersabar menunggu mengalirnya minyak dari Cepu. Karena tentusaja semua menjadi sangat hati-hati. kalau dahulu well proposal disetujui dalam waktu 2 pekan, saat ini mungkin memerlukan waktu yg lebih lama, demikian juga untuk melakukan proses-proses lain, termasuk ekstra kehati-hatian pada saat operasi. Sensitifitas yg meningkat ini mungkin yg menuntut kesabaran kita menunggu mengalirnya minyak di Cepu dan yang lain. Kekhawatirannya apakah secara general nantinya mempengaruhi KEN (Kebijakan Energi Nasional) ? Ah mboh lah … kok aku malah jadi ikutan phobia. Wong ini masalah BPJ-1 saja ya …

> 6. Kalaupun akhirnya lumpur harus dialirkan ke laut (apakah tidak ada laternatif lain, misal ke kawah gunung X misalnya?) bukankah sebaiknya pipa itu disalurkan hingga ke dasar laut dalam untuk menghindari melubernya lumpur ke permukaan karena arus laut permkaan?
>

Mungkin saja alternatif lain ada, seperti yang anda usulkan. Ada juga yg menyebutkan untuk diinjeksikan kembali kebawah permukaan dsb. Semua mungkin saja dilakukan tetapi kita bisa berhitung dengan angka rupiah serta plus minusnya bila gagal. Namun secara teknis serta urgensi karena kita dikejar-kejar dari banyak arah ini maka pembuangan lumpur ke Selat Madura sulit dihindarkan. Dikejar dari bawah oleh lumpur, dua bulan lagi dikejar oleh musim hujan, selain kita harus menyelamatkan manusia. Dengan demikian hanya skala prioritaslah yg paling logis dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan. Saya rasa keputusan membuang lumpur ke laut bukanlah hal yg salah.

Kalau anda amati pantai utara Jawa Timur, disana ada sebuah delta (muara sungai) baru yg dibuat untuk menghindari pendangkalan pelabuhan Tanjung Perak. Silahkan tengok google-earth. Karena operasi perusahaan saya HESS, ada diutara “delta baru” ini. Didelta baru itu saat ini sudah banyak tambak-tambak yg dikembangkan penduduk setempat, yang kadangkala kami juga sulit ketika melakukan survey seismic. Tapi ya ndak apapa, wong kita berkolaborasi dengan mereka untuk mencari sesuap nasi :).

klik memperbesar gambar

Delta Pangkah ini menunjukkan bahwa delta baru belum tentu menyebabkan petaka. sangat mungkin justru merupakan tambahan “makanan” bagi biota yang menjadi lahan subur untuk ikan atau udang. Kita memang tidak tahu apa yg akan terjadi tetapi masih memungkinkan melakukan simulasi. Toh yang kita masukkan adalah material yg dulunya juga berupa endapan delta. Lumpur yg keluar saat ini merupakan sebuah endapan delta yg usianya 2-5 juta tahun yang lalu.
Perbedaan mencolok antara delta baru di utara Gresik dengan kasus lumpur ini adalah, yang di Gresik itu “by planning” (direncanakan) sedang dalam kasus lumpur ini merupakan tindakan “by accident” (tak terencana). Tetapi sebagai contoh riil bahwa pembuangan ke pantai tidak selalu berakibat buruk.

> Terima kasih atas dimuatnya pertanyaan ini juga untuk tanggapan yang diberikan.
>

Terimaksih juga sudah bertanya, menjadikan saya untuk bisa mengungkapkan pikiran. πŸ™‚

1 COMMENT

  1. maaf, cuma mau nimbrung.. percaya apa nggak, teman saya bisa menghentikan semburan lumpur lapindo one-by-one dengan metode payung pipa baja (rancangan alatnya harus ada yg buatin),..dengan tingkat keberhasilan 75 %…trims

  2. menapa tidak dilakukan tindak lanjutin dengan norma terakhir yaitu dengan Hukum di Indonesia…
    seperti halnya pada UUD45 tertulis dan mememandang HAM !…
    apa yang harus dilakukan pemerintah !..
    untuk membayar ganti rugi aj pemerintah tersedk – sedak untuk melakukannya!..

  3. kalau memang tidak bisa menangani lumpur lapindo, mungkin kita ekspor saja itu lumpur ke “Kualalumpur” di Malaysia sehingga sumber lumpur ini bisa digunakan sebagai sumber devisa negara yang akan berlangung puluhan bahkan ratusan tahun untuk tambah-tambah “dana kerugian penduduk yang kena lumpur”

  4. sebenarnya secara gak langsung lapindo brantas tidak harus bertanggung jawab total atas lumpur liar yang jalan jalan keatas hingga buat orang diatasnya jadi susah semua, tetapi menurut saya tanpa lapindo brantas beroperasi disanapun lumpur liar tersebut pasti keluar lhaa wong sudah waktunya kok dia musti keluar ? ya apesnya lapindo brantaslah ? ini pendapat saya lhoo !

  5. mengapa tdk dicoba mencari dasar masalah? yang dilakukan selama ini coba2 penyelesaian masalah?yang akhirnya project oriented??kenyataan para ahlinya tdk berkutat dilapangan tapi dihotel?
    Kalau emang seperti aliran darah apakah ada teknologi yang bisa masuk keperut bumi seperti microchip yang dimasukkan dalam tubuh manusia unt mengetahui penyakit dalam?

  6. makasih banyak pak, saya semakin tahu. krn saya kebetulan saat ini sedang mengajar geografi kelas X. saya mohon izinnya untuk mengambil data2 dari tulisan2 bapak. terima kasih sebelumnya.

  7. Biar negeri kita kaya minyak dan gas tapi kemana perginya minyak dan gas negeri ini nggak ada yang jelas…kok ndak di olah dewe ae minyak bumi ini biar BBM murah nggak nyengsarakno rakyat…

  8. Pak mohon info komposisi hidrokarbon dr lumpur lapindo?
    Saya sdg mengerjaan TA tentang dampak korosi dari lumpur lapindo. Trims.

  9. pak, ini saya ada tugas geologi teknik,
    saya disuruh membuat paper tentang analisa tanggul lumpur porong, sidoarjo, jawa timur,,,,

    mungkin bapak bisa membantu saya,,,,

    terimakasih sebelumnya pak,,,,

  10. Pak Saya Liat Penjelasan Bapak Diatas Yang begietu BAIK hehehe :-), yang saya tanyakan dampak positif dari lumpur lapindo tsb dan kebijakan pemerintah dalam dampak positif tersebut. thx’s yah.

  11. apa masyarakaty yang tertimpah lumpur lapindo itu sudah mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara yang di lindungi oleh hukum?????
    dan sudah sejauh mana perlindungan yang di berikan pemerintah???????
    mohon jawabannya om….. :):):):):)

  12. >selamat siang
    > sepertinya sangat menarik hal tentang lapindo
    > terlepas dari kesalahan siapa yang terpenting sekarang bagaimana memikirkan nasib korban lumpur tersebut
    > dari setiap musibahbencana dapat diambil pelajaran agar kita lebih berhati-hati
    > dan dari setiap musibah mempunyai dampak negatif maupun positif, tergantung frame apa yang kita gunakan dalam menganalisisnya
    > apa saya bisa dikirim komposisi mineral yang terkandung pada lumpur lapindo, karena saya yakin bahwa kandungan minerla yang terkandung pada lumpur tersebut mempunyai value added dalam bidang saya, yaitu bidang perikanan budidaya
    > terima kasih sebelumnya

  13. – Hana,
    Itu adalah yang menurut saya paling aman unruk saat ini. Yaitu membuang “airnya saja” yang 70% itu, sedangkan lumpurnya diendapan atau dipisahkan. Namun tentusaja hal ini juga harus ada kontrol dengan kemampuan penampungan. Jadi saat ini yang paling logis adalah membuang airnya saja. Nantinya kalau lempungnya ternyata juga tidak bisa dikontrol (ditampung) tentunya harus dibuang. Tetapi membuang lempung ini juga harus difikirkan caranya, Lempung ini ada yg menyebutkan mudah mengendap, kalau benar mudah mengendap sebaiknya dipakai untuk reklamasi pinggir pantai. Kalau susah mengendap dialirkan lewat sungai. Tindakan papun yang diambil, konsekuensi selalu saja ada. Inilah perlunya modeling atau simulasi pembuangan lumpur.

  14. P.roviky apakah membuang lumpur kelaut merupakan solusi yang paling baik, gimana seandinya keluarnya lumpur itu tidak berhenti dalam waktu dekat misalnya kejadian ini berlangsung bertahun tahun seperti perkiraan beberapa ahli geologi, tentu hal ini ahan merubah topografi indonesia, lautnya akan tertimbun lumput kemudian tempat keluarnya lumpur akan menjadi cekungan karena ambles.
    Gimana pendapat P. Rovikyseandainya lumpurnya dibiarkan aja disana, nantikan lumpurnya bisa mengisi daerah yang ambles akibat adanya ruang kosong dibawah permukaan dan akibat tekanan beban diatasnya (lumpur itu sendiri).
    Kalo tekanan yang keluar dah mulai mereda, lumpur yang meluber jauh kemana-mana kan bisa jadi surut untuk mengisi daerah yang ambeles

  15. om rovicky,kebetulan saya tergabung dalam tim penanggulangan lumpur dari ITS surabaya. Hasil penelitian saya menunjukkan adanya kandungan senyawa hidrokarbon jenis alifatik dan aromatik.gmn ini om?trus kira-kira dengan adanya senyawa biomarka ini apakah bisa ditentukan kedalaman sumber lumpur dengan pasti?gmn caranya om?yang terakhir,lumpur lapindo ini kan buat TA saya jadi saya minta bantuannya ya om!he..he..he..merci

  16. mas lumpur itu khan “muncrat” krn tekanan diatas permukaan lebih kecil dari tekanan dlm perut bumi,gimana klo dibom aja biar tekanannya turun

  17. Mas Bowo, saya salut anda masih sempat menghitung dengan angka-angka. Ini yg langka saat ini adalah melihat dampak dari angka-angka sehingga kita memilki “skala” pembanding sakjane seberapa to dampaknya.

    Nah tergantung apa yg mau dibandingkan, mau dibandingkan panjang truk atau dibandingkan dengan faktor alam yg lain. Seringkali media ini membandingkan untuk tujuan yg bombastis.

    membangun instalasi penjernihan memang bukan hal mustahil. lah saiapa tahu malah justru menjadi sumber air daerah sekitar sini. Dan kalau melihat angka yg anda cantumkan sebenernya “doable”, bisa dilakukan. hanya saja yg mendesak saat ini adalah waktu. Apakah kita masih cukup waktu untuk memanfaatkan ‘potensi’ air ini ?

    Aku lihat mas Bowo melihat dengan bagus pembanding angka-angka ini. Coba sekarang dibandingkan dengan debit dari sungai porong, S Kali Mas yg membelah Surabaya dll. Bagaimana dampak sedimentasinya.

    Yang sulit bagi saya saat ini adalah memilki angka-angka yg pasti dari pihak yg berwenang. Termasuk berapa sebenernya kadar Hg (merkuri). Saya masih bingung darimana merkuri ini ?

Leave a Reply