Candi Kedulan : Menguak Potensi Geohazard Jogja dan sekitarnya

0
73

runtuhan-candi.jpgMungkin belum banyak yg mengenal Candi Kedulan yang berada disebelah barat laut Candi Prambanan ini. Candi yg masih dalam tahap ekskavasi ini menarik utk disimak, mengapa ? karena Candi Kedulan ini salah satu candi yang “terkubur” dibawah tanah. Iya, candi ini terkubur lebih dari 5-7 meter. Wah, karena batuan yg menguburnya ini menjadi menarik buat ahli perbatuan (Geologi).

Kalau selama ini banyak yg tertarik melihat candi ini dari sisi arkeologi, Pak Dr Subagyo dari UGM awal bulan Agustus 2006 lalu mengajak untuk dilihat dari sisi geologi. Looh Geologi bukannya cerita sesuatu yg jutaan tahun lalu ?

Kan, Candi ini paling-paling baru ratusan tahun kan ? Lantas mengapa candi ini terkubur ….. Lah ya ini yang menarik, kan ?

Sesama LOGI (arkeologi dan geologi) keduanya merupakan ilmu tentang masalalu. Keduanya kalau dikombinasikan tentunya menjadi ilmu hidup masa lalu yg sangat mungin bisa dipakai utk hidup masa kini. Candi merupakan peninggalan kehidupan manusia masa lalu, batuan yg menutupi bisa dikaji oleh ahli geologi.
CANDI KEDULAN

situasi-candi.jpg
Situasi penggalian Candi Kedulan

Lokasi candi terletak dalam koordinat Lintang Utara 07.44.33,7 dan Bujur Timur 110.28.11,1, sekitar tiga kilometer arah barat laut Candi Prambanan. Situs tersebut dikelilingi sawah dan ladang, sementara rumah penduduk tampak dalam radius sekitar 300 meter. Situs candi Kedulan diketemukan pertama kali pada tahun 1993 oleh para penggali pasir. Karena disekitar lokasi ini banyak sekali endapan pasirnya. Endapan pasir inilah yg mengubur candi Kedulan selama ini.

Secara arkeologis Candi Kedulan merupakan satu-satunya temuan yang benar-benar komplet, meskipun sudah roboh karena terbenam pasir.

Mengapa candi ini ditinggalkan ?

Dari hasil penelitian geologi yang dilakukan oleh Pak Subagyo dkk dari Geologi UGM diketahui candi tersebut terpendam karena tertutup aliran lahar dari letusan Gunung Merapi yang terjadi dalam beberapa periode. Dilihat dari jenis tanah yang menutup candi yang kini telah dibuka atau dilakukan pengerukan, terlihat ada 13 lapis. Beberapa lapisan diketahui berupa endapan lahar, sehingga diperkirakan lahar yang mengubur candi tersebut berasal dari 13 kali letusan Gunung Merapi.

runtuhan-candi.jpg
Profil penggalian candi

Namun ada sesuatu yg menarik dari penampang susunan batuan (stratigrafi) di lokasi ini. Terlihat adanya bekas pohon yg dijumpai pada lapisan yg sama dengan elevasi dasar candi. menurut para ahli arkeologi, bahwa pada lokasi hampir di semua candi tidak dijumpai pohon yg terletak pada kompleks candi. Pohon biasanya ada di luar candi. Namun mengapa ada pohon didalam kompleks candi ini ? Apakah candi ini berbeda dari candi yg lain ? Dari hasil rekonstruksi sementara menunjukkan bahwa candi ini mirip dengan Candi Sambisari yg terletak dekat (2 Km) dengan lokasi candi ini. Dengan demikian candi ini sudah ditinggalkan (tidak dipakai) sebelum adanya endapan lahar yg menguburnya.

Coba perhatikan gambar penampang runtuhan diatas itu. Terlihat bahwa Pohon terletak dibawah endapan lahar kan ? Ini diinterpretasikan bahwa candi tersebut ditinggalkan bukan karena dikubur oleh lahar. Namun ditinggalkan sebelum terkena lahar ?

Lantas apa yg menjadikan alasan mengapa Candi Kedulan ini ditinggalkan ? …. “lah iya ini mau dijelasin, jangan buru-buru soalnya critanya menarik nih …”
Bagian dasar dari candi ini rusak berat. Bagian dasarnya hancur. Dan ada satu hal yg menarik adalah diketemukannya sebuah lingga (arca) dibagian luar dari pagar kompleks candi yang mungkin merupakan salah satu tanda adanya usaha memindahkan candi-candi ini sebelum terkubur. Jadi apa yg membuat candi ini ditinggalkan ?

Apakah terkena runtuhan (longsoran) ?

Kalau dilhat dari morfologi permukaan serta batuan yg menguburnya jelas candi ini tidak terkena longsoran. karena secara topografis berada pada punggungan bukit. Endapan longsoran juga tidak dijumpai pada lapisan-lapisan batuan penutup yg mengubur candi ini. Bahkan yg mengubur berupa endapan lahar. Namun adanya pohon seperti dijelaskan diatas menunjukkan bahwa Candi Kedulan telah ditinggalkan sebelum adanya lahar.

Apakah karena Gempa ?

situasi-candi-2.jpg
Kenampakan candi

Kalau dilihat dari struktur dasar candi terlihat bahwa struktur dasar candi ini bergelombang dimana batuan-batuan dibagian dasarnya rusak berat dan berantakan. Disinilah mungkin kuncinya. Candi ini ditinggalkan akibat adanya gempabumi besar yg terjadi di sekitar Jogja. Candi ini ditinggalkan bukan karena terkena lahar merapi, bukan pula akibat longsoran. Selama ini kita melihat merapi sangat aktif. Tentunya banyak potensi bencana dari aktifitas Gunung Merapi. Namun ternyata tidak selalu merapi merupakan penyebab mengapa sebuah candi ditinggalkan atau tidak dipakai lagi.

Bagaimana tinjauan geologi kegempaannya ?
kebetulan saya juga mendengar presentasinya Pak Danny Hilman yang ahli kegempaan Sumatra iini juga telah melihat dan menelitikegempaan Jogja dan sekitarnya . Apa salah satu kesmpulan yg dijumpainya, ternyata sangat menarik.

Daerah Sumatra merupakan daerah yg memilki kegempaan cukup sering bahkan sangat aktif, dengan frekuensi sangat sering ini menjadikan Sumatra sering menjadi objek penelitian tentang gempa selama ini. Banyak sekali gempa-gempa berkekuatan sedang (4-5 M) terjadi disepanjang Patahan Sumatra, Patahan Mentawai, juga pada zona penunjaman dimana salah satunya penyebab tsunami Aceh (Desember 2004) dan Tsunami Mentawai (Maret 2005). Walupun juga banyak gempa-gempa besar di Sumatra gempa-gempa kecil juga sering terjadi disini.
Sedangkan Jogja dan sekitarnya, termasuk Jawa bagian selatan dan juga zona penunjaman kerak tektoniknya merupakan daerah yg lebih jarang frekuensinya dibanding yang ada di Sumatra. Frekuensinya barangkali 150-200 tahun sekali namun ketika terjadi gempa seringkali berukuran diatas 6/7 SR. Bahkan gempa tahun 1867 yang merusak Taman Sari diselatan Jogja itu diperkirakan berkekuatan 8 MW. Sebuah gempa yg sangat kuat kan ? Ya, perkiraan ini didasarkan atas kerusakan Taman Sari (di selatan Pasar Ngasem Jogja) juga adanya korban hingga 500 orang. Memang sepertinya hanya 500 orang korban meninggal tetapi pada kala itu tentunya Jogja belum sepadat saat ini kan ?

Berikut update dari komentar dari Mbak Sri Mulyaningsih yang mengambil doktor dari Candi  Kedulan.

Sebagai bahan tambahan, saya ingin berpendapat ada periode dari penggunaan Candi Kedulan. Periode yang pertama adalah pada kisaran waktu abad ke 3-6, bangunannya ada di sisi selatan dari bagunan utama (sekarang sudah agak nongol di permukaan). material yang mengubur dasar candi ini adalah endapan pyroclastic surge dalam 3 lapisan, yang masing-masing dibatasi oleh lapisan tipis paleosol, endapan tersebut masing-masing berumur 1445+/-50 yBP, 1175+/-50 yBP dan 1060+/-40 yBP. Periode ke II yaitu Candi yang berada di utaranya. dari prasasti yang ditemukan, candi ini pernah direnovasi pada abad ke 8-9M. Kemudian candi ini tertimbun dan digali lagi pada 940+/-100 yBP (menimbun dasar candi di sisi tenggara). Selanjutnya candi terkena gempabumi, sehingga lantai dan pondasinya menjadi bergelombang dan sebagian besar batucandi (bahkan arca) terlempar bahkan sejauh 5 m ke selatan-baradaya. candi selanjutnya dibiarkan saja, hingga terkena awan panas pada 1285 M (740+/-50 yBP). Lalu permukaan
Kedulan naik hingga pada halaman dalam Candi yang selanjutnya tumbuh pohon Aren dan Jokong, dan berikutnya secara berulang-ulang tertimbun lahar dalam 4 periode, yaitu 1587 M (360+/-50 yBP, 240+/-50 yBP, 200+/-50 yBP dan unknown date pada lapisan fluvium teratas).

Mudah-mudahan dapat membantu.

Salam
Sri Mulyaningsih (pernah disertasi di candi Kedulan)

Mungkin saja patahan-patahan di Sumatra ini relatif “licin” ya jadinya bergeraknya lebih sering. Sedangkan di Jawa karena penunjamannya frontal. Coba perhatikan gambar arah gerakan plate di Selatan Sumatra (yg miring) dengan benturan jawa yg relatif membujur barat-timur.
Tamansari Jogja yg hancur oleh gempa 10 juni 1867

pemandian-tamansari.jpg
Tamansari setelah direnovasi
reruntuhan-tamansari.jpg
Reruntuhan Taman Sari Yogyakarta akibat gempa

Taman Sari ini dulunya sangat indah dimana sebuah taman yang dilengkapi dengan laut buatan dan juga adanya Masjid serta terowongan yang tentusaja elevasinya dibawah elevasi air dari laut buatan ini. Sketsa gambar Tamansari ini tentunya cukup indah seperti yg digambarkan pada sebuah kitab Kuno di Surakarta. Dan juga coba tengok ketika Nyi Laras kesana awal Agustus lalu. Di sebelah kiri ini sebagian taman sari yang sudah direnovasi sedangkan sebelah kanannya reruntuhan sebagian tamansari yang ditinggalkan akibat gempa Jogja 10 Juni 1867. Namun pada tahun 2003, sebuah yayasan pelestarian seni-budaya dari Portugal bekerjasama dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) dan Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogja, telah merehabilitasi Tamansari. Karenanya saat ini Tamansari telah kembali indah dan lebih menarik untuk dikunjungi.

Keindahan Tamansari ini merupakan salah satu bukti tingginya peradaban dan teknologi Jawa yg hilang.

Jadi kita dapat belajar dari Candi Kedulan dan juga Taman Sari, bahwa ancaman bebncana alam di Jogja dan sekitarnya yg paling berbahaya dan mengancurkan mungkin saja adalah bahaya gempabumi. Sesuatu yg kalau aku dulu sebelumnya ditanya, mengapa kok kita tidak pernah belajar gempa dari sejarah ? aku hanya menjawab “Simbahku ora ngalami, bapakku yo ora ngandani, aku yo terus ora ngerti” (kakekku tidak mengalami, bapakku juga tidak menceriterakan, dan aku jadi tidak tahu). Ini semua karena frekuensi gempa merusak di Jogja sangatlah jarang, frekuensi terjadinya 150-200 tahunan sekali. Dah, mulai sekarang kita harus rajin mencatat dan membaca catatan-catatan lama tentang kehidupan kita sendiri dimasa lampau. Ya, untuk bekal hidup (survival) dimasa mendatang tentunya.

Referensi :

Subagyo Pramumijoyo, Wartono Rahardjo, 2006, Firld trip guide book during the International Simposium on Geoscience Education and Geohazard in Jogjakarta.

1 COMMENT

  1. mbak Sri yth,.. sy suka dng literatur/sejarah peradaban tanah Jawa. Informasi apa yng kita dapatkan saat era sekarang untuk menelisik sejarah Kotapraja Mataram Kuno. Menurut sy, ada kaitannya dng kegiatan geo-eruption kegunung apian jarak antara Borobudur dan Prambanan dalam peradaban yng sama sebagai bentuk lambang kejayaan dan toleransi msyrkt penganut Hindu dan Budha saat itu. mohon tanggapannya. Tanah Jawa dng 1000 misteri sejarah peradaban berakulturasi dng kegunung-apiannya. (lihat selalu bentuk Tumpengang* tanda peradaban)

  2. Menarik sekali Pak, berarti mungkin gempa yang dahsyat seperti beberapa tahun lalu akan terulang lagi pada 150 -200 tahun mendatang. Tugas ahli goelogi sekarang untuk mencatatnya demi generasi mendatang..

  3. wah kebetulan sekali ini.. saya sedang menyusun website tentang baciro yang berkaitan dengan gempa jogja 1867…

    terima kasih sdh berbagi ilmu. tolong kalo ada info tentang asal-usul nama Baciro saya diberitahu ya…

  4. Sugeng enjang mas
    Panjenengan menapa saged maringi struktur Jawa Barat especially Bandung , kula kok dereng ningali wonten kajian makaten kangge Bandung. Nyuwun sewu, kula samenika manggen wonten Bandung wiwit 1991 (SMA 1969).
    Matur nuwun
    pWidya

  5. Makasih info-nya Pak Dhe, cocog sama mimpi saya ….

    Baru-baru ini saya mimpi melihat sejarah Pulau Jawa, khususnya Yogyakarta. Dalam mimpi itu saya seperti kembali ke akhir masa Mataram Kuno.
    Nah dalam mimpi saya, kerajaan mataram kuno ambles ato longsor ke arah selatan sehingga air laut masuk ke jogja dengan buih putih seperti susu.
    Trus saya seperti ambles ke dalam tanah dan berada dalam goa yang dipenuhi lumpur. Lumpur ini berkontraksi seperti layaknya suspensi. Tiba-tiba saya tersedot keluar, nongol dipermukaan tanah. Ternyata saya nongol di bekas pengeboran Lapindo.

    Mimpi yang sangat mengganggu ini mbikin saya cari-cari info seputar Lapindo dan runtuhnya Mataram Kuno. Dari info didapat keruntuhan Mataram kuno di kenal dgn nama Ekarnawa. Ekarnawa ditemukan di prasasti Jawa Timur sbg gambaran peristiwa runtuhnya kerajaan mataram kuno. Ekarnawa sendiri berarti lautan susu, dan mungkin lautan susu yang dimaksud bukan kiasan, tapi seperti apa yang saya lihat di mimpi.

    Berkaitan dengan candi kendulan di atas, mungkin ndak klo lapisan tanah pertama yang menimbun adalah tanah yang terbawa air laut saat peristiwa Ekarnawa?

    Saya sudah coba cari info penelitian sisa-sisa tsunami di Jogja, tapi engga nemu ….

  6. kalo aja semua org indonesia mau menulis sesuai bidang nya masing2…pasti Indonesia cpt maju….
    artikel nya bagus2 pak de
    salam knal dr anak salatiga..heee

  7. Subhanallooh…

    Saya merinding membaca kisah-kisah ini. Baik kisah LUSI / Majapahit, maupun GEMPA / Jogja.
    Saya sendiri bukan berlatar belakang pendidikan sejarah, tapi Perikanan UGM dan sekarang berwiraswasta pada bidang Jasa Konstruksi Pipa Gas Bumi. Kami sangat senang membaca cerita sejarah, namun sejarah yang ditinjau dari sisi Geologis ini memberikan nuansa lain, sampai-sampai kulit saya merinding saat membacanya.
    Kami coba juga analogkan kisah-kisah sejarah tersebut untuk pembangunan suatu organisasi atau perusahaan. Segala sesuatu mungkin berputar. Apa yang terjadi saat ini mungkin pernah terjadi di masa lampau, namun kita lupa / tidak tahu, karena kejadian tersebut berubah wajah, namun hakekatnya sama. Dengan belajar pada sejarah, kita akan lebih siap menghadapinya. Bahwa segala sesuatu hanyalah Titipan Alloh, Dia berhak mengambil kapan saja. Namun kita sebagai manusia harus selalu berupaya dan belajar.
    Keruntuhan Majapahit bisa jadi karena Lumpur dan Perpecahan. Bisa jadi andai Ibukota Majapahit dipindah sebelumnya, maka akan bisa bertahan lebih lama. Demikian juga Perusahaan, bisa jadi karena tidak berani mencoba / pindah usaha lain, bidang yang semula jadi primadona tapi akhirnya malah menjadikan penjara karena menyebabkan takut melihat peluang lainnya.

    [email protected]

  8. Candi Kedulan, Puzzle dari Masa Lalu

    Kita lanjutkan petualangan candi kita. Siapkan buku Sejarah kalian, anak-anak.
    Kali ini kita akan jalan-jalan ke Candi Kedulan, sebuah candi yang tergolong “baru” dan masih dalam tahap ekskavasi (penggalian dan penyusunan kembali).
    Candi,…

  9. Mas Rovicky numpang lagi ya… saya ingin nimbrung berkaitan dengan pertanyaannya Hedy: “dashyat…bagaimana dg kemungkinan gempa masa datang mengubur candi besar spt borobudur misalnya?”

    Menurut saya, gempabumi tidak mampu mengubur candi, apalagi candi sebesar Borobudur yang (dulunya) terletak di atas bukit, namun mampu meruntuhkan. Yang mengubur candi adalah aktivitas gunungapi, yaitu lahar dan awan panas.

    Sebagai contoh adalah Candi Plaosan baik pada bangunan di bagian utara maupun bangunan yang berada di bagian selatan (kini masih belum sempurna direkonstruksi). Terutama bangunan candi di bagian selatan mengalami rusak berat pada pondasi, lantai dalam dan halaman candi. batu-batu candi pada pondasi, lantai dan halaman banyak yang retak dengan arah retakan hampir sama, yaitu sekitar N 15-30o E. Batu candi yang menyusun dinding can atap candi berjatuhan dengan arah jatuhan sangat acak. Lantai teratas candi memang tertimbun, namun bangunan utamanya tidak ada yang tertimbun seutuhnya, bahkan tanah hanya menimbun bagian lantainya saja. Kondisi yang bergelombang pada halaman candi dan batu pondasi yang sedikit teracak-acak mengindikasikan bahwa candi telah mengalami beberapa kali guncangan (mungkin saja gempabumi). Sedangkan pagar dan halaman luar (berada +/- 10 m di sebelah baratnya) yang tertimbun oleh material gunungapi (abu) setebal 175 cm yang terdiri dari sedikitnya 7 lapisan abu gunungapi mengindikasikan bahwa candi pernah tertimbun oleh aktivitas fluviatil (mungkin lahar distal atau banjir lumpur) dalam beberapa periode. material lumpur abu yang tidak mengalami deformasi juga mengindikasikan bahwa penimbunan diduga tidak berhubungan dengan gempabumi, namun gempabumi mampu mendeformasi bangunan-bangunan pada masanya. Halaman dalam candi juga tertimbun oleh lebih dari 5 lapisan tefra dan accretionarry lapilli berwarna abu-abu kekuningan dengan tebal masing-masing 0,4-0,8 cm. beberapa tefra juga ada yang ditumpangi abu tipis berwarna hitam (kaya organik), yang pada dasar halaman diketahui berumur 1070+/-90 yBP. Jadi hemat saya, gempabumi tetap hanya meruntuhkan candi-candi namun tidak menimbunnya.

    Bagaimana dengan Candi Borobudur pada saat ini? Saat rekonstruksi candi Borobudur, pun juga ditemukan adanya kenampakan bergelombang pada tubuh bangunan (sumber: foto sebelum direkonstruksi). Dari data geologi (rangkuman dari hasil beberapa penelitian (banyak)), di sepanjang Sungai Progo merupakan jalur sesar yang masih aktif. Di sekitar candi tersebut juga tempat bermuaranya banyak sungai yang berasal dari Gunung Mrapi, Merbabu, Sumbing dan Peg. Menoreh sendiri. Jadi bisa dibayangkan, cukup kompleks. Kemungkinan di masa depan akan ada gempa yang dapat meruntuhkannya? Tentunya ada potensi. Berapa % potensinya, mungkin sangat besar, karena ada sejarah kegempaan di wilayah ini. Mampu meruntuhkan? Wallahualam. Bagaimana dengan Candi Prambanan dan Kalasan? Genmpabumi pada 27 Mei 2006 telah membuktikannya, Candi Prambanan justru rusak parah karenanya. Potensi runtuh lagi? Ada, karena Sungai Opak juga merupakan sesar aktif.

    Tapi yang jelas, masalah tertimbun-tidaknya, kuncinya ada pada suplai material dari Merapi, kalau suplainya besar ya bisa saja, kalau tidak ya … bisa tapi sangat lama, dengan catatan tidak ada yang ngutik-utik pasir-batu Merapi lagi… he he he…

    Mas, nyuwun sewu lagi nggih… boleh kan sedikit nyinggung Merapi? Saat terjadi gempabumi 27 Mei, tidak lama kemudian geger boyo-nya kubah lava 1911-1913 kan runtuh, sehingga sekarang ini morfologi kubah lava lebih banyak membuka ke selatan, melalui Sungai Gendol, Woro dan Boyong. Sungai Gendol ini di Cangkringan bertemu dengan Sungai Opak, dan Sungai Gendol ini juga membelah puncak Merapi dan menerus hingga Merbabu. Kalau kata van Bemmelen (1949) merupakan lineament yang selanjutnya dilalui magma membentuk gugusan gunungapi di Jawa Tengah.

    Kalau saja ada gempabumi yang kemudian mereaktivasi sesar-sesar tersebut, ya… tentunya akan berpotensi meningkatan aktivitas Merapi. Sementara itu dulu… kapan-kapan disambung lagi.

    Salam
    Sri Mulyaningsih

  10. Sebagai bahan tambahan, saya ingin berpendapat ada periode dari penggunaan Candi Kedulan. Periode yang pertama adalah pada kisaran waktu abad ke 3-6, bangunannya ada di sisi selatan dari bagunan utama (sekarang sudah agak nongol di permukaan). material yang mengubur dasar candi ini adalah endapan pyroclastic surge dalam 3 lapisan, yang masing-masing dibatasi oleh lapisan tipis paleosol, endapan tersebut masing-masing berumur 1445+/-50 yBP, 1175+/-50 yBP dan 1060+/-40 yBP. Periode ke II yaitu Candi yang berada di utaranya. dari prasasti yang ditemukan, candi ini pernah direnovasi pada abad ke 8-9M. Kemudian candi ini tertimbun dan digali lagi pada 940+/-100 yBP (menimbun dasar candi di sisi tenggara). Selanjutnya candi terkena gempabumi, sehingga lantai dan pondasinya menjadi bergelombang dan sebagian besar batucandi (bahkan arca) terlempar bahkan sejauh 5 m ke selatan-baradaya. candi selanjutnya dibiarkan saja, hingga terkena awan panas pada 1285 M (740+/-50 yBP). Lalu permukaan Kedulan naik hingga pada halaman dalam Candi yang selanjutnya tumbuh pohon Aren dan Jokong, dan berikutnya secara berulang-ulang tertimbun lahar dalam 4 periode, yaitu 1587 M (360+/-50 yBP, 240+/-50 yBP, 200+/-50 yBP dan unknown date pada lapisan fluvium teratas).

    Mudah-mudahan dapat membantu.

    Salam
    Sri Mulyaningsih (pernah disertasi di candi Kedulan)

  11. Kang Rovicky, saya sudah pernah menemukan informasi yang menyatakan bahwa lokasi pertama tugu Yogyakarta itu adalah di depan pasar Beringharjo. Nah, tugu ini juga hancur bersama gempa abad 19.
    Kata Mas Soeryanto Sastroatmodjo (ensiklopedi hidup sejarah budaya Jawa itu), tugu yang berdiri sekarang di perempatan Jln. Mangkubumi, Sudirman, A.M Sangaji dan Diponegoro ini baru dibuat di akhir abad 19.
    Mudah-mudahan bisa semakin melengkapi info sampeyan yang sudah lengkap itu.

  12. weh weh weh…
    ma rovicky ni selalu bawa berita baru nan segar.
    udah gitu, mana banyak banget lagi, sampai2 sekedar ngikutin beritanya pun ketinggalan terus..

    ada tulisan baru tentang gempa2 susulan, yang sampai saat ini (terakhir sabtu 19agt06 00.45, sekitar 5 detik) yang akan sangat berguna?

    sugeng makaryo mas vicky…
    salam, zainal
    -pindah nogotirto, jogja-

Leave a Reply