Longsoran dan Gempa

0

slidingPak Ma’rufin sekali lagi menjelaskan soal longsoran yg dipicu oleh gempa. Perlu ekstra hati-hati untuk bertahan hidup di lingkungan yang rawan gempa, tidak hanya bagunan yg tahan gempa yg diperlukan namun juga lingkungan yg rawan longsor merupakan ancaman lain akibat gempa. Perlu “uji tapak” lebih cermat.

On 8/16/06, Ma’rufin Sudibyo <[email protected]> wrote:

Longsoran dan Gempa

Dulu pak J.A. Katili pernah nulis di Selingan-nya TEMPO tahun 1987 (edisinya sudah gak inget) tentang longsoran2 di sepanjang sesar Semangko di selatan Danau Toba akibat gempa tektonik. Tesisnya pak Danny menempatkan gempa itu di segmen Toru (panjang 95 km) sesar besar Sumatra, dengan surface magnitude 6,6 skala Richter dan tentunya moment magnitudenya lebih besar dari angka ini meski tak disebutkan. Di tulisan itu ada foto udaranya, menampakkan beberapa titik longsoran di tebing2 curam dan dari titik2 itu bisa ditarik sebuah garis lurus, yang berimpit dengan jalur sesar Semangko.
Longsoran dan patahanHal yang sama juga bisa dilakukan dalam gempa Yogya. Sebagian besar titik2 longsoran yang dipetakan Dr. Dwikorita dkk terkonsentrasi dalam garis lurus imajiner antara Parangtritis – Prambanan, berdekatan dengan letak sesar (hipotetik) Opak yang selama ini dihebohkan.

Masalah apakah sesar Opak atau bukan yang bergeser, sebelum ditulis pak Rovicky, itu pernah juga diulas (sekilas) oleh Dr. Irwan Meilano dkk di KOMPAS lewat pendekatan geodesi, dengan mengukur titik2 patok BPN di sekitar Yogya, Bantul, Klaten dan Wonosari. Didapatkan daratan di barat sesar Opak bergeser relatif ke arah selatan, sementara di timur sesar bergeser relatif ke timur – timur laut, sehingga disimpulkan yang terjadi adalah gerakan sesar geser ke kiri. Sesar yang bergeser itu disebutkan bisa saja sesar Opak atau sesar lain yang sejajar dengan sesar Opak. Kalo mengambil analogi tulisannya pak Awang (ketika menjelaskan masalah Banjar Panji 1 dan sesar Gresik/Watukosek), bisa saja yang bergeser itu sesar sintetik dari sang master fault (sesar Opak).

Pak Rovicky menyebut sesar Opak sejenis sesar turun, sementara gempa Yogya murni diproduksi oleh aktivitas sesar geser. Kalo merujuk catatannya pak Awang (tanggal 29 Mei silam), ada analogi dengan sesar Cimandiri di Jawa Barat, yang mula2 muncul sebagai sesar turun namun kemudian berulang-ulang direaktivasi menjadi sesar geser kiri. Kiranya hal semacam itu pula yang sedang terjadi di sesar Opak kah ?

Kembali ke soal longsor melongsor ini, syukur alhamdulillah bahwa meski titik2 longsor juga dijumpai di pantai cliff Gunungkidul yang sangat dekat dengan episentrum, skala longsorannya tetap tergolong kecil. Tak terbayangkan jika yang ambrol dari tebing curam itu berwujud bongkahan monolit yang sangat besar dan kemudian ambrol ke Samudera Hindia. Bukan saja tsunami yang terjadi, namun barangkali kita akan menyaksikan munculnya megatsunami seperti yang menyapu Teluk
Lituya Alaska tahun 1958 dan Kep. Hawaii 300.000 tahun silam.

salam

Ma’rufin

1 COMMENT

  1. ass.iiiiih sebener ny aq pngen tau lbh bnyk tentang gempa bumi,longsor!krn aq auka bgtz tentang IPA,,krn aq ska gtz bljr ttntng IPA jdi aq pngen lbh luas bsa mengetehui semua ny!!!aq klo d suruh jwb ttntng IPA aq sellu paling gesit ngejwbnyaaaaa maklum hobby bca ttntng IPA…………ya udh sekian dri crt quw bayyyyyyyyyyyy………ASS.

  2. buat mas Rovicky
    Apa ada sesar lain selain sesar opak-oyo, progo, dll.
    karena di lowano, yogyakarta ada
    tanah yang turun seperti dilewati sesar,
    apa itu benar sesar pak…????

  3. Dear Mas Rovicky,
    Saya malah jadi penasaran setelah membaca tulisan di atas, karena pada artikel sebelumnya tentang terjadinya danau akibat sesar geser yang mana disebutkan sesar di jogja adalah sesar turun. Namun tulisan di atas dikatakan sebagai sesar geser yang dimana tadinya berasal dari sesar turun yang mengalami reaktivasi, lha saya jadi berpikir jangan-jangan kekhawatiran dari bunyi glung bleg benar-benar terjadi karena sesar yang ada di jogja tidak lurus mutlak tetapi mengalami pembelokan di daerah imogiri dan pundong (sesuai gambar di atas). Berdasarkan gambar di atas dan dibandingkan dengan genesa terjadinya danau singkarak dan danau ranau dimana sesar gesernya tidak lurus, saat meleset terjadilah daerah penurunan (semoga hal tersebut tidak terjadi di jogja). Mohon pencerahannya mengenai hal tersebut, karena saya sebagai wong jogja ngeri juga membayangkannya. Matur nuwun.
    Salam,
    Cambra

Leave a Reply