Warga desa Sriharjo tidak mau dikasihani

0

obor.JPGMalam itu rombongan peserta Simposium Internasional Ahli kebumian diundang oleh masyarakat Desa Seriharjo, Bantul utk bersama-sama mengadakan hajatan “charity dinner“. Ya mereka mengundang rombongan yg terdiri dari berbagai bangsa ini, ada yg dari Jepang, Amerika, Inggris, New Zealand, serta hampir seluruh wakil negara-negara Asean.jamuran.JPGRombongan dari peserta hadir yang menggunakan satu bus dengan beberapa kendaraan kecil tiba di Desa Sriharjo sekitar pukul 7:30 wib, langsung disambut oleh anak-anak laki-laki yg membawa obor, kemudian diikuti oleh anak-anak perempuan yg seterusnya mereka bermain dolanan jawa, seperti aku dulu. Ada yg bermain Jamuran ” jaaa muraan … yo ge .. ge tok … jamur opo … yo ge getok … ” Wah ini mengingatkan aku dulu kalau pas “padhang mbulan” (terang bulan).

Di wajah anak-anak ini kesedihan masih terlihat walaopun mereka bercanda-candi.

lesung.JPGSetelah masuk terus ke dalam gang itu kami kemudian menemui sebuah pelataran yg sudah dipersiapkan lengkap dengan pangungnya. Diatas panggung ada ibu-ibu PKK yg menyanyi dengan diiringi lesung (itu tuh … alat tumbuk padi “thok thuk … thok ..”). Juga ada seperangkat gamelan lengkap yg diselamatkan dari reruntuhn balaidesa kata salah satu dari mereka.

Syair lagu ibu-ibu PKK ini mengajak untuk kawan-kawannya untuk bangkit bersama …” Ayo Jogja bangkit !” … wah jian sangat mengharukan. Beberapa dari peserta simposium sampai berkaca-kaca. Bagaimana tidak, hampir semua bangunan tidak ada yg utuh di Seriharjo ini. Tetapi mereka tetap bersemangat untuk membangun kembali desanya yg luluh lantak. Beberapa spanduk bertuliskan “Uwis le nelongso, ayo bangkit !” … “Ayo bangun mandiri, bantuan tidak akan selamanya” .gamelan.JPG

Aku sempat berbincang dengan salah atu dari mereka. “ nek mung ajeng ngguguk sampun kathah tunggale mas” (kalau cuman mau menangisi, itu sih banyak temennya). Hampir semua kawan-kawan yg dari Malaysia (dosen UKM) yg juga ikut hadir berbincang-bincang dengan mereka. Karena bahasa Melayu mirip dengan bahasa Indonesia.

Acara malam itu sebenernya merupakan acara “penggalangan dana” (charity dinner) yg dikoordinir oleh Karang Taruna desa setempat. Penduduk di Sriharjo ini tidak dengan mudah menengadahkan tangan (ngemis meminta bantuan), tetapi mereka dengan bersemangat memberikan suguhan berupa pertunjukan ketrampilan. Mulai dari seni swara, seni lesung, seni bahkan hingga pelelangan foto-foto seputar gempa. Walaupun mereka tahu bahwa dirinya sedang dirundung malang namun mereka yakin bahwa mereka mampu untuk mandiri membangun desanya.

Aku pikir bener juga ngapain nunggu bantuan pemerintah yg cuma janji doang. Hal yang sama dengan negara-negara donor yg katanya mau membantu Aceh juga ada yg bilang bantuannya juga kagak nyampe-nyampe, ntah isu atau bukan.

Segokucing dan wedangjahesegokucing.JPGSelain disuguhi hiburan kami juga disuguhi makanan khas daerah Sriharjo sendiri berupa roti dari tepung ketela. Juga tidak lupa aku langsung mencoba nangking disebuah angkringan “Sego Kucing” …. Iya namanya ‘nasi kucing’…. Soalnya bungkusan dipenak kecil-kecil seperti makanan kucing aja. Isinya nasi dengan lauk oseng-oseng tempe. Dan belum lengkap kalau tidak digelontor dengan wedang jahe … Glek !.

Menikmati sate telurpuyuhTidak hanya para peserta dari Indonesia yg menikmati suguhan sego kucing ini. Para ahli gempa ini ikut menikmati suguhan sebagai rasa kebersamaan dengan para korban bencana. Keakraban muncul ketika para peserta bayar segokucingberdialog dengan warga Sriharjo ini.

Dialog inilah yang sangat disukai oleh penduduk di Sriharjo. Mereka sangat senang pabila ditengok dan ada orang lain ikut merasakan kesedihan dan berbagi duka. Kamipun dengan serius mendengarkan setiap keluhan dan juga berbagi pengalaman yg mereka miliki.
diantara-mereka.JPGAcara selanjutnya adalah penggalangan dana, mereka tidak sekedr meminta sumbangan tetapi mereka memberikan suguhan termasuk tari-tarian, nyanyian dan juga … menjual foto !

Penjualan foto dengan cara lelang ini akhirnya menghasilkan sumbangan jutaan rupiah hanya dalam satu malam. Selain penjualan foto, maka tetamu ini dengan suka rela “membayar” apa yg sudah disantapnya dengan melalui gentong yg diedarkan. Jadi para hadirin ini “membeli” suguhan mereka.

lelangfoto.JPGSangat mengharukan bahwa mereka yg harta bendanya sudah hancur luluh lantak tidak sekedar nyadong .. menengadahkan tangan, tetapi mereka memberikan pertunjukan dan menjamu tamu dimana hasil penjualannya akan dipakai untuk membangun kembali. Secara mandiri !

1 COMMENT

  1. Assalamualaikum…
    Saya mengalami langsung kejadian gempa tersebut di Sriharjo 2,5 th yll. Kebetulan saya sedang liburan di rumah orang tua di Sriharjo. Saya bangga pada temen-2 di Sriharjo, ayo bangkit. Saya juga merasakan kehilangan rumah, tapi tidak kehilangan semangat untuk menapaki hidup dimasa mendatang. Doa ku dari jauh.

    Har – asli Sriharjo, tinggal di Banjarmasin

  2. Assalamu’alaikum,

    Saya sungguh tertarik dengan berita2 mengenai akibat gempa yang dimuat dan prihatin bercampur terkesan dengan yang diperbuat oleh saudara2 kita dari Sriharjo yang perlu dicontoh oleh kita semua. Semoga Allah memberkahi mereka karena mereka mau merubah keadaan mereka sendiri untuk lebih maju.

    Wassalam, mh

  3. Pakdhe,matur nuwun,tulisan yg sangat menyentuh sekaligus menggugah semangat :).Tapi saya heran,tulisan positif sseperti ini malah nggak ada yg komentar.Sedang hampir di tulisan2 lain,penuh komentar (salut!Tulisan yg informatif, sekaligus memancing org utk berkomentar!),apalagi kalo pada komentar yg berbau menyudutkan,hehehe..Apa org Indonesia mmg lebih suka urun suara utk berita2 negatif ya;Pakdhe??

    IsengisengNgasihKomentarSambilKenalan:D

Leave a Reply