Jangan mengandalkan petugas/pemerintah kalau ada bencana !

0

networkSelalu saja ada berita yg menyatakan bahwa “petugas” atau pemerintah tidak becus menangani bencana, iya kan ? Aku juga sering baca itu. Bahkan yg mengagetkan aku tulisan seperti itu juga ada di selebaran yg beredar di California, Amrik !.

Jadi jangan mengharapkan pemerintah ! Serius nih !
Mengapa ?

Jangan negatip dulu bahwa aku ngga percaya sama pemerintah seperti juga mereka yang di daerah gempa di California, tetapi ada alasan yg sangat tepat untuk tidak mengharapkan fasilitas pemerintah ketika sedang mengalami bencana.

puskesmas.jpgBencana tidak memilih siapa yang akan terkena. Bencana terjadi karena proses alam biasa, bencana tergantung lokasi bukan memilih siapa yg harus mengalami. Apalagi kalau gempa. Banyak juga rumah-rumah yg utuh disekitar rumah hancur, atau sebaliknya ada satu rumah hancur padahal sekelilingnya utuh. Lah kalau kebetulan yg hancur itu rumahnya petugas pemerintah atau petugas penolong yg juga mengorbankan petugas. Siapa lagi yg diharapkan membantu ?
Jadi itulah sebabnya mengapa jangan mengharapkan bantuan petugas atau pemerintah, karena sangat mungkin mereka juga korban dari bencana ini. Gambar diatas memperlihatkan lokasi puskesmas yg pada kondisi normal diharapkan sebagai penolong bagi yg sakit atau luka-luka tetapi ternyata justru hancur perlu pertolongan ketika gempa Jogja.

Sesudah -gempa tektonik. Berdasarkan data Dinas Kesehatan tanggal 12 Juni 2006, gempa tektonik yang terjadi di Propinsi DIY menyebabkan kerusakan pada bangunan sarana dan prasarana kesehatan, diantaranya bangunan puskesmas : 91 unit, puskesmas pembantu : 168 unit, rumah dinas dokter dan paramedis : 159 unit, bangunan Dinas Kesehatan : 3 unit, bangunan RS Daerah : 1 unit, balai engobatan & polindes : 3 unit, dan bangunan kesehatan lainnya : 5 unit. (sumber Atlas Gempa Jogja, BAISDA DIY)

Lantas bagaimana mempersiapkannya ?
Kenali tetanggamu !

Pada saat terjadi gempa yg mengenal dan mengetahui kehidupan sehari-hari di kampung-kampung adalah penghuninya sendiri. Kelaurga sebelah-menyebelah rumah tentunya harus saling mengetahui berapa penghuninya, siapa saja pemuda berbadan kekar yg bisa diharapkan membantu siapa saja orang tua (sedang sakit) yang harus dibantu. Namun itu semua hanya jaga-jaga, lah siapa tahu yg berbadan kekar dan kuat ini juga apes tertimpa atap, iya kan ? Tetapi kita harus mengenal tetangga dibanding orang lain (petugas) yg tinggalnya jauh dari kampung kita.

Kenali siapa saja yg tinggal dirumah sebelahmu. Banyak korban reruntuhan yang terselamatkan karena diketahui berada dibawah runtuhan setelah dihitung ternyata ada warga yg belum diketahui. Hanya dengan sekedar mengingat siapa saja yang tinggal dirumah sebelah saja kita bisa menyelamatkan nyawa.

Selain mengetahui kondisi sekeliling, banyak pengetahuan tentang penanganan hal kritis yang harus dipelajari sendiri oleh masyarakat antara lain :

  • cara penanggulangan kebakaran yg sederhana
  • tindakan penyelamatan (survival) utk diri sendiri (ikut pramuka misalnya … iya kan ?)
  • tindakan penyelamatan untuk anggota keluarga yg luka-luka (pelajari dan siapkan alat-alat untuk P3K)
  • Yang penting kenali lingkungan sendiri. apakah daerahmu termasuk daerah rawan banjir, atau rawan gempa, atau daerahmu rawan longsoran atau rawan kebakaran (misalnya daerah perumahan yg saling nempel).

Hanya dengan mempersiapkan sendiri beginilah maka kita bisa menjadi masyarakat mandiri, masyarakat madani. Tidak tergantung siapa yg jadi penguasa, tidak tergantung pemerintah. Jangan mengharapkan pemerintah, ini kalau di Jogja malah ada spanduknya “Ayo bangkit mandiri, jangan tunggu bantuan !”. Lah wong bantuan yg sudah dijanjikan saja ndak dateng-dateng …. “janjimu palsu” kata wong jogja. Ah itu urusan politisyg rumit aku ga ikutan ah …

1 COMMENT

  1. mas, kewajiban menolong ada di pundak setiap orang, baik berseragam ataupun tidak. masalah pengharapan, sebagai obyek penderita, tentunya selalu tinggi. hal ini akan semakin semrawut kalau kemudian dipanasi oleh para penonton di pinggir lapangan. mungkin yang perlu ditingkatkan kepedulian komunitas, bareng-bareng berbuat tanpa perlu teriak kanan-kiri sambil mengibarkan bendera kepahlawanan…
    : )

  2. o………iya, kelihatannya itu kita punya banyak ” orang2 khusus ” yang punya kewajiban untuk menangani permasalahan2 yg ada di sekitar kita, tp koq cuma gitu2 aja yach…?! apa nggak rugi ya…,kl terus2an membayar ” orang2 khusus ” yang cuma ngono dan ngene thok! dan dengar2 katanya masih ada banyak koruptor di tanah ini, apa perlu di tambah team audit di tanah ini ya…?! atau mungkin semua jd team audit aja…(he3).nah…mBah Djojo kira2 menurut anda itu gmn dan seperti apa tho? salam kenal juga buat mBah Djojo_nya dr saya…salam hangat…(saya tunggu obrolannya lho}

  3. Weleh mBah Djojo … ngaturi sugeng. Lama tak jumpa.
    “15 minutes golden period” … wah istilah bagus nih mBah. Mungkin pelatihan bisa dilakukan lewat institusi yg sudah ada saja … kalau tingkat kampung/desa ya “karang taruna”, kalau tingkat kecamatan atau kotamadya bisa memanfaatkan PBK (Pemadam kebakaran).
    Cuman yg sulit itu menentukan jenis bencana apa yg paling mungkin terjadi pada satu tempat, karena tidak seluruh daerah Indonesia rawan gempa, walopun ini bencana yg paling dominan. Perlu pemetaan jenis bencana lain (banjir, longsoran, kebakaran dll) atau barangkali sudah ada ya ?

  4. Hallo Om Vicky,
    Masih inget istilah “Conthong?” He..he…bat Om Vicky ini, luas pemikirannya dan dapat disalurkan lewat chontongnya juga.
    Setuju banget dengan masyarakat harus mandiri dalam menghadapi bencana. Dalam disaster management dikenal dengan pendekatan secara holistik yang artinya penanganan bencana dilakukan oleh semua pihak baik pemerintah, masyarakat serta swasta dalam semua phase mulai dari prevention, mitigation, preparedness, emergency response dan recovery (rehabilitation and reconstruction)….tidak hanya emergency response.. bagi-bagi indomie yang banyak kita kenal saat ini…..
    Masyarakat sebagai pihak pertama yang mengalami/korban sekaligus “first responder” bencana harus mampu menyelamatkan diri sendiri (self help) kemudian lihat sekelilingnya dan membantu sesama korban (mutual help) baru mengharapkan bantuan dari luar daerah bencana termasuk dari pemerintah (daerah, pusat)dan international.
    Dalam kasus gempa bumi “golden period” bagi korban hanya kurang dari 15 menit, lewat dari itu banyak yang tidak tertolong jiwanya karena korban umumnya mengalami pendarahan. Untuk itu peningkatan kemampuan masyarakat, peningkatan kesiapsiagaan dan kewaspadaan masyarakat adalah sangat penting sebagai upaya preventif penanganan bencana, sehingga terbentuk masyarakat yang memiliki ketahanan dalam menghadapi bencana di negeri yang penuh bencana tetapi kaya sumberdaya alam ini…..
    ini cuma urun chonthong..lho om Vicky.

    Salam
    Mbah Djojo 11446

  5. wah hebat ya pemerintah kita! bagi-bagi janji dan rakyat tertawa menatap janji pemerintah. nah, sekarang baru kena batunya tuh… rakyat menagih janji dan apakah pemerintah siap menghadapinya? lalu GEMPA SOSIAL siap meledak. rakyat saling berebut mendapatkan bantuan. ketidakjelasan mekanisme dan bentuk bantuan menjadi masalah yang tidak ada habisnya. 30 juta kali jumlah korban gempa…busyet banyak amat!!! negara kita ternyata kaya..harapanku sih duit segitu gedhenya bagi masyarakat bukan menjadi sebuah bencana sosial yang sangat dasyat soalnya masyarakat kita kan lagi mengalami sindrom krisis ekonomi sehingga banyak orang berusaha mengail di air keruh. aku sebagai anak muda berusaha mendukung lewat pemikiran dan kritik bagi semua yang mau mendengarkan. saat rakyat menagih janji siapkah pemerintah menepati janjinya dan siapkan masyarakat kita semakin dewasa dalam menghadapi bencana akhir-akhir ini. ini merupakan fenomena alam dan kita sebagai manusia harus menghadapi dengan akal budi yang diberikan oleh sang pencipta bukannya berdiam menyesali perbuatan yang tidak berkaitan dengan fenomena alam. saatnya masyarakat bangkit dan mengenal lingkungan lebih mendalam untuk menatap hari esok lebih maju lagi! kapan lagi kalau bukan dari sekarang…. viva indonesia …maju bangsaku…..maju masyarakatku…

  6. setuju den,
    bantuan dalam bentuk apapun oleh siapapun yang pasti membutuhkan waktu juga untuk sampai ke lokasi bencana.
    jadi ketika daerah yang didiami menjadi daerah yang terisolir otomatis bantuan “yang dijanjikan” akan “segera” tiba juga membutuhkan waktu untuk dapat disampaikan.
    yang jadi masalah sekarang ini seringkali kita gak bisa “menolong diri sendiri” ketika bencana itu muncul…
    boro-boro nolong orang lain kan ?
    yang parah lagi…
    masyarakat kita ini termasuk masyarakat yang mudah sekali “termakan” issue….
    mungkin ini ada hubungannya dengan tulisan njenengan sebelumnya, den…
    tentang berita pagi, koran pagi atau yang mirip2 seperti itu… hehehehe
    masyarakat kita kan udah “terlatih” untuk lebih percaya gossip, yang “digosok makin siip” ketimbang berita2 akurat yang bisa membangkitkan semangat…
    misalnya, putra-putri kita meraih medali pada olimpiade fisika beberapa waktu yang lalu….
    atau pengiriman perempuan ke ajang miss universe…
    ups! kalo yang ini enggak ding… soalnya masih kontroversi… hehehehe

    cekap mekaten rumiyin, den….
    tulisan njenengan seperti halnya tempe…
    enak dibacem dan perlu….
    hehehehe

Leave a Reply