Tempat-tempat yg perlu di’antisipasi’ gempa

44

Pre seismicSebelum pada ribut-ribut, skali lagi ya … Indonesia itu memang sudah jadi juragan gempa dan tempatnya gempa sudah sejak berjuta-juta tahun yang lalu. Kalau masih belum jelas mengapa banyak gempa, ya baca yang disini dulu. Nah kalau sudah tenang terusin baca info baru yang ini. 🙂

Dibawah ini aku cuma ndongeng tentang penelitian terbaru (2006) oleh Pak Wahyu Triyoso Phd dari ITB – Institut Teknologi Bandung. Menurut penelitian Pak Wahyu, saat ini memang masih ada tempat-tempat “penumpukan” tenaga yg suatu saat akan dilepaskan. Haiyak ini tenaga mirip seperti ketapel, kalau di jawa wektu kecil aku bilangnya “plintheng“. Kalau ditarik makin lama makin keras regangannya. Kalau ketapelnya baru ditarik dikit maka kalau dilepas ya getarannya dikit aja. Kalau regangannya besar tentunya kalau dilepas tenaganya juga semakin besar. Sama halnya dengan gempa, hanya saja kalau gempa ini ditekan, bukan ditarik. Jadi karena ditekan lama-lama tenaganya menumpuk, setelah penahannya ngga kuwat maka akan dilepaskan tenaganya … duerr ! terjadilah gempa !.

Pasti kamu langsung nggembor buru-buru nanya …. “Waktunya kapan mas Vick ? Bisa diprediksi nggak ?” sekali lagi belum ada yg mampu mempredisksi kapan terjadinya gempa. Hingga saat ini secara praktis tidak mungkin memprediksi akan datangnya gempa besar dalam orde tahun, apalagi hari, opo maneh jam brapa ?

Pre seismicNah Pak Wahyu dari ITB ini menghitung berdasarkan asumsi pergerakan plate Australia yg bergerak ke utara dengan kecepatan 7 cm per tahun. Pak Wahyu menggunakan data pengukuran GPS (Global Positioning System), alat ini mengukur pergerakan tanah baik besaran dan arahnya. Gambar disebelah kiri ini menunjukkan kondisi pre-seismic, atau mudahnya ya ini adalah basis data awalnya. Coba lihat titik-titik awal dari gambar panah itu menunjukkan dimana lokasi stasiun GPS dipasang. Jadi semua GPS station yg di Indonesia HARUS benar-benar kita jaga bersama-sama.

Nah garis itu menunjukkan besarnya tetapi bukan absolut sesuai dengan skala yg terlihat digambar looh ya … Kalau cuman digambar 10 senti ya ngga nampak nanti garis arah pergerakannya. Jadi garis itu hanya menunjukkan proporsi pergerakannya saja. (Klick aja gambarnya untuk memperbesar)

Geostatistical stress distribution Dengan menggunakan metode geostatistik modeling disebelah ini Pak Wahyu berhasil membuat model yang sesuai dengan data pengukuran. Lihat pengukurannya yg digambar merah, dan garis panah hitam merupakan pemodelan yg beliau lakukan. Ini sebuah cara untuk melihat bagaimana distribusi data pengukuran pergerakan dari GPS ini secara lateral. Sehingga dengan geostatistik modeling ini beliau berhasil membuat model distribusi pergerakannya.

Geostatistik ini sebenernya sama saja dengan statistik biasa. Hanya saja distribusinya dalam ruang spasial. Kalau statistik yg biasa kan kita memilki rata-rata, dan dalam geostatistik ini akan dilihat seperti apa distribusinya dalam peta (spasial). Skali lagi arah garis itu bukan absolut menunjukkan gerakan atau pergeserannya looh ya. Ini dipanjangkan supaya kita mudah melihatnya saja.

Mengapa geostatistik ?intro dikit tentang geostatistik ya …

Misalnya saja (ini sekedar contoh) kita memilki data jumlah murid SMP, dan kita juga memilki jumlah guru SMP di seluruh Daerah Istimewa Yogyakatya. Nah kalau dilihat dengan statistik biasa saja mungkin terlihat bahwa 1 guru membawahi 40 murid, nah ini ideal, dan cukup OK utk lapuran keatasan kan. Tapi ketika dilihat distribusi dengan geostatistik, distribusinya ternyata murid-murid ini kebanyakan berada di daerah kabupaten Bantul dan Wonosari, tapi gurunya kebanyakan berada di Kodya Yogyakarta. Lah rak mleset, ta !. Setelah dilihat detilnya, di Kodya Jogjapun ternyata gurunya terbanyak di sekitar Kotabaru. Waaah lah ini mesti sekitar SMP Negeri V. Pantesan muridnya pinter-pinter, soalnya disitu “gurune klumpuk” ndik sekolahan siji iki…. Setelah dilihat detil lagi ternyata kebanyakan guru yg ngajar ilmu sosial, … waaak! pantesan pelajaran fisika dan ilmu buminya merosot ! Aku yang kerja di geologi perminyakanpun jadi sulit nerangin tentang gempa. Padahal mengenal gempa itu ilmu yg harus dimengerti orang Indonesia, terutama yg tinggal di sepanjang pantai selatan Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Timor, trus ketimur sampai Irian, balik lagi ke Maluku dan Sulawesi … (looh itu rak semua sak Indonesia Raya, kecuali kalimantan tengah doank ya )

Hehehehe ini contoh saja.
Maksudku sederhana saja yang disebut rata-rata itu perlu tapi harus tahu distribusi spasialnya juga kan ? Jangan semua di Indonesia ini disama ratakan. Ada tempat yg penduduknya lebih perlu tahu tentang ilmu kelautan, ada yg lebih perlu tahu ilmu pegunungan. Masing-masing tempat juga memiliki potensi sumberdaya alam sendiri-sendiri yg harus dimengerti oleh penduduk lokal. Apalagi sudah ada otonomi daerah. Jadi kalau semua aturan diseragamkan malah enggak karu-karuwan.

Nah demikian juga untuk arah pergerakan tanah yg diukur dengan GPS. Satu pulau Sumatra yang besar jumlah titiknya tidak harus sama dengan satu pulau kecil. Penempatan GPS ini harus “merata” sesuai dengan kondisi setempat. Dan itu sudah dilakukan oleh Bakosurtanal yg memiliki data pengukuran ini. Jagonya GPS Indonesia ini dulu Pak Jacob Rais (guruku di UI dulu). Juga nantinya pemasangan juga tidak trus dipasang setiap 100 Km atau setiap 10 Km, tapi tergantung dari daerah masing-masing.

Peta regangan by W Triyoso, 2006Setelah diketahui distribusi stressstrain-nya, maka bisa dilihat daerah-daerah yg berpotensi gempa. Ingat ini daerah berpotensi gempa, ini bukan peramalan gempa, awas kalao ada yg melintir ya!. Sama halnya kalau saya bilang lereng yg curam itu rawan longsor, tapi bukan berarti aku menyatakan di daerah ini akan longsor besok sore, kan ?. Jadi daerah daerah yg kemarin sudah bergetar dan terrelease (terlepas) maka tidak lagi menjadi ancaman. Sedangkan daerah-daerah penumpukan stress ini menjadi tempat dimana diperkirakan akan menjadi tempat sumber getaran.

Mas Vick, berapa Skala Righter getarannya ?
…. Tuuuh kan, mesti buru-buru udah nggembor pingin tahu terus kaaan ?

Memang besarnya tenaga yg sudah numpuk memang segitu, katakanlah regangan-nya 10, tapi apakah kalau dilepaskan harus sekali gus sepuluh BRUK !, belum tentu kan ? bisa saja getarannya kemudian terlepaskan dengan gempa kecil-kecil beberapa kali. Ini mirip dengan ketapel yang memiliki sepuluh karet. Kalau karet yang satu dengan yang lain ukurannya berbeda dikit, maka karet yg sudah jelek ini akan putus duluan. Hehehe aku dulu wektu kecil suka ngrangkep karetnya sampai lima, tapi ketika ditarik kok pedot (putus) satu … jret !. Wuik, hampir kena mata euy !. Sama juga dengan potensi gempa ini. Bisa saja lepas dikit-dikit. Itulah sebabnya gempa-gempa yg telah terjadi itu, seperti juga gempa Jogja kemarin, buntutnya juga masih dilihat dan direkam terus, karena disitulah akan dihitung berapa jumlah regangan yg sudah terlepaskan. Baik oleh gempa utama, maupun gempa susulannya.
Jadi belum tentu regangan besar mengakibatkan gempa berkekuatan besar. Walopun harus disadari bahwa potensi itu jelas ada lah yaw. Seperti juga lereng yang sangat curam dan tinggi tadi, kalau sangat curam tentunya bisa longsor besar, tetapi bisa juga rontok kecil-kecil. Nah mudah-mudahan rontok kecil-kecil saja berulang-ulang sampai stabil kembali.

Jadi kita harus gimana kalau sudah tau ada potensi gempa ?
Yang jelas kalau kita sudah mengerti potensi bahaya disuatu tempat, itu saja. Ya, trus bekerja seperti biasa dan waspada. Takut ? Yang namanya manusia itu kan mesti punya rasa takut. Yang lebih menakutkan itu rasa takut itu sendiri kan ? Coba tengok Fear Factor, kadangkala yg kita takutnya sebenernya bukan apa-apa kan ?

Nah, buat pemerintah tentunya lain. Pemerintah mestinya bisa mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yg terjadi . Misalnya dengan lebih rajin latihan gempa (earthquake drill), earthquake drill ini kan perlu juga bagi yang akan menolong, bukan hanya yang akan mengalami, kan?. Trus mungkin pemerintah bisa memasang alat-alat perekaman dan pemonitor GPS, dan masyarakat juga harus ikut menjaganya.
Nah yang diatas itu baru sebagian kecil dari Indonesia. Itu masih hanya Sumatra bagian selatan, selat sunda dan Jawa Barat. Lah yang lain ? Bukan berarti daerah lain sudah bebas gempa looh ya. Jangan Lengah ! Nah disitulah pentingnya penelitian. Masih banyak daerah-daerah lain juga perlu diperhatikan. Perlu penelitian, perlu alat-alat, perlu juga pemikir-pemikir.

Nanti kalau pemikir-pemikir itu sudah selesei meneliti, biasanya mereka itu menggunakan bahasa dewa yg susah dimengerti ya … Nah, aku nanti yang kebagian mendongeng saja ya ?

🙂 🙂

referensi : Understanding Shallow Crustal Strain Loading & Probable of Strain Energy Releasing, Wahyu Triyoso, PhD Seismologist, 2006.

44 COMMENTS

  1. saya terlambat baca ..dongeng bapak ini,tapi saya sedikit ada pencerahan ,saya berasal dari jogja yang saya takutkan gempa dan juga gunung merapi meletus secara bersamaan ,apa bisa begitu yach omm? apakah ada penelitian didaearah jogja bahwa suatu saat nanti akan ada gempa yg berkekuatan 10 sampai ada tsunami ,kalau dongeng2 dari para normal seperti itu,dan disambung2kan dg ramalan sabdho palon,mohon pencerahannya…

  2. masalah gempa ini ada yg mengatur jadi kita kembalikan semuanya kpdnya dan selalu berdoa agar kita di jauhkan dari bencana ini….meningkat kan ketakwan pdnya…dan menjauhkan segala perbuatan yng di larangnya……….

  3. Apakah memungkinkan terjadi tsunami atau gempa yang besar di wilayah kepulauan seribu??,,, bagaimana dengan daerah bekasi yang berdekatan dengan proyek kanal timut,,,, terima kasih s atensinya,,

  4. Assalamualaiku, selama ini aku gatek warnet…setelah belajar sedikit-sedikit aku jadi nyandu…terutama cari bahan-bahan untuk KBM peserta diklat tentang IPA SMK…Terimakasih banyak ya…wassalam

  5. nih sya cman mo bgi2 pngetahuan……

    d’Indonesia tu tletak di ptemuan antr 3 lempeng tektonik…lempng eurasia, lmpeng indo_autralia, ma lmpeng pasifik. Nah gra2 tumbukan tu ktiga lereng d’negeri kita ni bnyak tmbul gunung berapi, klo gag slah gunung api d’indo tu nyampe ratusan baik yg aktif mopun yg lgi dorman (tidur), nah slain tu jga indo bnyak pusat2 gempa bumi…stau saya daerah d’Indo yg paling aman di daerah mana tu lpa pkoknya daerah pantai jawa tngeh bgian utara….jepara pa apa gtu….tu untuk jawa…untuk sumatra bagian yg menghadap arah barat tu potensi gmpa smua,,,,d’sbelah barat tu tdapat patahan yg sangat besar….

  6. SyaluT!!!
    Bahasanya mudah dicerna, tidak membosankan sedikit jenaka dan mengena!
    Saya copy paste tulisan2 anda untuk artikel anak-anak disekitar rumah yang kebetulan saya lagi bertugas didaerah tertinggal. Harapanku…. diwaktu dekat ini tidak ada lagi istilah daerah tertinggal dan semua bisa akses informasi berguna seperti ini, salam dan sukses!

  7. SyaluT!!!
    Bahasanya mudah dicerna, tidak membosankan sedikit jenaka dan mengena!
    Saya copy paste tulisan2 anda untuk artikel anak-anak disekitar rumah yang kebetulan saya lagi bertugas didaerah tertinggal. Harapanku…. diwaktu dekat ini tidak ada lagi istilah daerah tertinggal dan semua bisa akses informasi berguina seperti ini, salam dan sukses!

  8. […] Location with respect to nearby cities: 103 km (64 miles) SW (230 degrees) of Bengkulu, Sumatra, Indonesia 386 km (240 miles) WSW (246 degrees) of Palembang, Sumatra, Indonesia 387 km (240 miles) SW (216 degrees) of Jambi, Sumatra, Indonesia 608 km (378 miles) WNW (289 degrees) of JAKARTA, Java, Indonesia Kalau ada yang masih ingat tumpukan tenaga gempa ini pernah dipublikasikan juga di Blog sini, Coba klik dibawah ini: Tempat-tempat yg perlu di’antisipasi’ gempa […]

  9. saya mudi?
    saya mau tanya?apakah daerah trisi indramayu akan kena gempa atau tsunami, di tahun 2007 ini, hanya itu yang ingin saya tanyakan.
    trima kasih sebelumnya,

  10. pakdhe, wonogiri ko Ga masuk petane? daerah wonogiri da kemungkinan kena gempa ato ada patahan yang belom ulang tahun ga? mengenai patahan grindulu, dulu kapan pernah bikin gempa? berapa skalanya? udah waktunya ulang tahun belom? info mngenai hubungn patahan grindulu n patahan opak pny pakdhe ga komplit. hbs ga nyebutin itu tadi.
    Q pny rumah d bibir jurang kali grindulu kie.

  11. Wee lah kawan-kawanku ya banyak loog yg di BMG, yg kmaren barusan ketemu Pak Jaya Murjaya Msi yg jadi kepala stasiun di Jogja. Stasiun yg baru, tapi aku belum sempet nengok sih.
    Silahan saja di kopi dibagi-bagi, tapi juga crita donk seluk belum kerja di Stasiun yg terpencil gitu,

    salam

  12. wah..wah…
    ternyata tulisannya pakde ROVICK ini betul2 mencerahkan
    coba dosen-dosen saya di Akademi Meteorologi dan Geofisika – BMG dulu kayak Pakde ini
    bisa pinter saya hehehehe
    pakde mohon ijin memperbanyak tulisannya buat temen-temen BMG, terutama yang didaerah “tertinggal” macem saya, jauh tinggi di lereng Welirang

    kaki Welirang
    Blekok Mabur Dewe
    (niru2 almarhum Prof. Riswanda hehehe)

  13. salm lestari,
    saya asli pacitan,seprti sudah diketahui bahwa secara geografis pacitan adalah wilayah pegunungan dan pantai.seperti sudah diketahui daerah pacitan sangat berpotensi untuk terjadi tsunami dan gempa,untuk itu bisa tidak saya minta informasi tentang sejarah bencana pacitan dan juga tentang disaster management.thanks

  14. Saya tau Indonesia merupakan wilayah dengan potensi gempa yang cukup besar, dan saya rasa pulau maluku sudah menunjukkan gejala-gejalanya. kira-kira maluku khususnya pulau ambon memiliki potensi gempa yang menimbulkan tsunami? makasih sebelumnya atas jawabannya

  15. wah infonya lengkap bgt, bisa nambah pengetahuan. waktu kuliah dl di geografi ga dpt materi seperti ini, cm sebagian doang.sayang saya baru tau skrg tulisan mas rovicky. tanya mas, gempa2 di irian sdh dibahas blm ya?? thanks ya mas, salam kenal!

  16. Megathrust itu tubrukan antar dua lempeng sering disebut juga subduction atau tempat menunjamnya plate samodra yg masuk kkebawah plate benua. Zona penunjaman ini di Indonesia terdapat di sebelah barat sumatra yang mamanjang sampai ke selatan pulau Jawa itu.
    Thrust itu masudnya patahan naik.

    Megatrust earthquake itu maksudnya gempa-gempa yg berada di zona penunjaman. Termasuk gempa Aceh Desember 2004 itu.

    Berbeda dengan gempa jogja dan gempa liwa, dimana merupakan zona patahan yg kedua sisinya sama-sama plate benua asia.

  17. Dear Dewi,
    Lah iya wong aku ini ortunya Jogja, lahir di Jogja, sekolah di jogja di Kotabaru, SMA di Kuncen, Kuliah di Bulaksumur.
    Cuman baru kerja di LN.
    Nanti juga balik kok 🙂
    Aku juga diajak orang Baisda Jogja (Badan Informasi Daerah) untuk membuat buku … kebetulan sampai tanggal 13 masih di Jogja juga. Moga2 sempet buat sedikit tambahan untuk atlas yg dibuat BAISDA JOGJA.

    Salam
    rdp

  18. mas Rovicky, anda saya kira punya potensi besar untuk jadi fasilitator disaster preparedness dan management. sayang ya, tinggal di luar negeri. asli Jogja ya, mas, kok tau kotabaru segala?
    Kayaknya bikin buku disaster (khususnya gempa) preparedness boleh juga tuh.

    Dewi – pekerja LSM di Jogja

  19. Mas selamam kita kumpul-kumpul rembugan mau 17an, katanya ada awan lagi di atas alun-alun tapi surup dah ilang (gara-gara itu jadi orang dho waspada, dan rumahku aman karena rondanya sampai pagi),berkembang ke omong masalah gempa lagi, yang aku mau tanya mas apa bener ada beberapa jenis gempa, ada gempa bergelombang, ada juga gempa yang seperti di interi (muter)? selama ini kok aku gak pernah baca di artikelnya mas Vicky, matur nuwun

  20. Mas Vicky, saya senang membaca artikelnya terasa mendapat pencerahan. Ini kali ya yang orang suka sebut masarakat madani (civil society) dimana persoalan yang menimpa masyarakat dicoba dipecahkan oleh masyarakat sendiri dan untuk masyarakat.Lha peran negara terus opo? ya..sekedar identitas untuk ngisi formulir aplikasi visa. Mas, ngomong2 apa ada ya hubungannya akan gempa yang sekarang kerap terjadi dengan pengerukan isi perut bumi (minyak, bauksit, emas,pasir,nickel dll mineral bumi)yang semakin gencar dilakukan oleh orang-orang. Bayangan saya pastilah banyak ruang kosong sehingga terjadilah gempa…..Perasaan dulu2 nggak sekerap ini lho….

  21. Mas Rovicky, terima kasih atas semua dongengnya. Mau di dongengi lagi donk:

    Ngomongin soal lempeng2 yg bergerak dan remuk saat bertumbukan, lantas gimana nasib kantung2 gas dan minyak buminya? Dapatkah terjadi tumbukan lempeng mengakibatkan kebocoran kantung2 tadi? Lantas kalo bocornya nyambung dgn kantung magma, bisakah timbul kebakaran/ledakan? berapa besar dahsyatnya?

  22. #15. Mild. memang akan lebih bagus kalau setiap website ilmiah2 itu, misale websitenya milik pemerintah itu juga diberik ruang khusus pembelajaran ya ?
    Misale punya Volkanologi, DESDM, BPPT dll. Mereka kebanyakan masih berisi apa dan siapa saya, masih belum “ini looh yang dari saya untuk mu … :)”

    # 16 Sam nanti kalau ada daerah padang Aku dongengkan juga. Moga2 aja penelitian ahli2 ini segera dipubliaksikan sehingga bis diulas dan disebar.

    #17 Hariyadi, Buku geostatistik dl bahasa Indonesia memang masih jarang, setahuku masih kebanyakan bahasa Inggris. Saya sendiri menggunakan Basic Geostatistic http://www.seg.org/meetings/past/seg1998/ce/AAPG.html

  23. hi mas rovicky!

    saya sangat mengagumi tulisan2 anda, sangat berbeda dengan ulasan2 gempa lainnya….

    kalo buat anak2 sd ada buku mari membaca, kenapa pak rovicky tidak membuat buku mari menggempa? hehe canda mas..

    mas, aku bener2 pengen kalo mas rovicky menulis sedikit mengenai daerah padang, karena menurut berita2 yg sudah aku baca di berbagai media..padang adalah daerah yg sangat “berpotensi”
    gempa dan tsunami…

  24. wah…mestinya hasil penelitiannya dipublikasikan di masyarakat jangan cuma dikalangan akademis. Trims, mas Vicky pencerahanya…..

  25. Pada prinsipnya. Geostatistik itu “statistik ruang” atau ada yg menyebutnya “Spatial Statistik”.
    Awalnya sederhana saja. Geostat dikembangkan oleh pertambangan.
    Awalnya begini, nih.
    Setiap daerah yg mengandung emas ternyat juga mengandung unsur pengikut lainnya (“trace element”). Nah menganalisa kandungan emas itu sulit dan mahal, tetapi mengukur kandungan unsur (mineral) ikutannya justru lebih murah. Namun tidak semua unsur selalu muncul.
    Misanya :
    E = Emas
    sedang ikutannya ada : a, b, c , d, e, dan f
    Nah kalau aku meneliti dimana saja yg ada A, maka aku ngga harus mengukur E-nya, karena aku mempunyai petunjuknya yaitu unsur a, b, e, d saja. Mengukur kandungan a b e d ini jauh lebih murah, jadi dengan mengetahui dimana saja unsur ikutannya banyak, barangkali aku juga mendapatkan emasnya.

    Dalam contoh gempa itu statistiknya dibalik. Pak Wahyu memiliki data ukuran absolut gerakannya (anggap saja E-nya). kemudian beliau ingin melihat distribusinya dimasing2 tempat (a b c d e f) nya.

    rdp

  26. 9. Komang.
    Kalau Bali dulu sekitar 80-an emang pernah gempa. Tapi yg lebih hars dijaga juga adalah waspada tsunami. Kan pantainya bagus, takutnya pantainya jadi sepi kalau alarm tsunaminya ndak ada.
    Pasifik yang sebalah mana nih, Mang ? Mestinya kalau ditengah laut malah aman 🙁

    10. Iya neh beli Putut, memang mestinya dikroyok bareng2. Ngga hanya ilmiah thok. Masalahe manusia ngindo ini kan beragam, pendekatan ya beragam. Trus saling terbuka pemikiran-pemikiran alternatip. Mirip dokter lah, kalau dokter sdh ngga mampu ya dicarilah pengobatan alternatip. Kan ngga dilarang …

    11. Makasih Tan. Lah mbok kau ini crita juga tentang ilmu itu. Atau njawab pertanyaan rekan2 yg disini juga. Skalian amal ilmu 🙂

  27. Mas Vicky,
    benar-benar ini pengetahuan yang ditulis dengan bahasa dongeng. salut saya tuk Mas vicky, dan tentu saja terima kasih. semoga sehat selalu dan menulis selalu.

  28. Yang lebih penting lagi adalah perlunya sosialisasi standar tanggap/waspada bencana (mulai dari gempa-tsunami gak papa. ‘Jenis’ bencana kan macem-macem) ke masyarakat luas.
    Pengenalan indikasi dan antisipasi awal.
    Tentu, dengan dasar info yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Kalaupun ada ‘bantuan’ dari kalangan metafisis, gak masalah, asal disinergikan dengan data akurat dan yang lebih penting lagi dikemas dengan bahasa yang logis, umum, membumi.

  29. wah mas vicky tulisannya oke juga tuh … mas lek kalo di Bali potensi gempanya gimana tuh? Soale istri dan anak tak tinggal di rumah atuh…
    terus gitu aku sekarang ini tinggal di daerah pasifik…ini juga rawan gempa ngga yah?
    em sori tu mach kuescien….bat is oke yo…

  30. Lah ya monggo saja Eyang Sofyan.
    aku dapet tulisannya juga gratis, nulis di web yg gratis, kalau mau diambil ya gratis. Asalkan mengingat yg sudah meneliti dengan mikir sampai mumet. Jangan lupa mensitir penulis di references aslinya.

    rdp

  31. menarik sekali bung tulisannya dan tentu gaya bahasa.. sangat membantu untuk menjelaskan lebih jauh tentang gempa..
    mohon ijin untuk aku distribusikan ke banyak kawan..

    salam

  32. Saya belum mendapat hasil studi terbaru daerah Padang. Namun setahu saya tahun kemarin Padang dianggap rawan karena posisi geografis serta topografisnya yg kurang menguntungkan. Kalau ngga salah landasan pesawat (airportnya) di daerah rendah, saya belum perna ke Padang sih, kalo Bukit tinggi sih pernah. Tapi bukit tinggi malah rawan longsor. Duh susah ya.
    Dulu Padang sempat dikhawatirkan. Tapi kemudian yg rame justru ke selatan, moga-moga kewaspadaan dijaga dan tidak lengah.

    salam

  33. dari negoro toto titi tentrem jadi negoro sing ati ati an serem.

    kemungkinan di padang bagaimana pak? untuk beberpa tahun ke depan potensinya untuk meningkatkan kewaspadaan. tq.

  34. Soal potensi bengkulu terkena gempa itu sepertinya benar (saya harus cek dngan rekan geologi dulu ya :). Tapi kalau besarnya lebih besar dari Aceh … waah rasanya belum pernah mendengarnya sih.
    Soal pencatatan yg berbeda silahkan baca tulisan ini :
    http://rovicky.wordpress.com/2006/07/19/samudra-yang-kembali-bicara/
    disitu dijelaskan banyak hal juga selain pengukuran kekuatan gempa yg berbeda.

    Kalau diperhatikan bahkan lokasi episenter yg dimilki oleh USGS juga berubah-ubah tergantung jumlah data yg dikumpulkan. Gempa Jogja awalnya diperkirakan di ujung Sungai Opak. Namun belakangan berubah menjadi disekitar Pathuk. Ini bukan salah hitung, tetapi jumlah data bertambah dan analisa yg lebih detil lagi.

  35. salam kenal,
    ada yang bilang bengkulu punya potensi gempa yang lebih besar dari yang pernah di aceh dulu, opo iyo ?
    tanya dong, knapa hasil pencatatan gempa bmg dengan usgs berbeda ? apa beda skala ? atau beda cara hitung ?

Leave a Reply