“The lost of the Indonesian Technology” – Proses belajar

25

On 7/24/06, Pangestu, Sonny T <[email protected]> wrote:
> seperti apa ya ledakan nuklir itu ?
> adakah yg sdh langsung melihat dan merasakannya ?
>

Duh, kalau ledakan nuklir jangan merasakannya lah yaw …. Merasakan atau mengalami (experienced) akan sedikit berbeda dengan mempelajari. Dalam proses belajar (“learning proccess”) jaman dahulu sering dikenal dengan :

I hear and I forget.
I see and I remember.
I do and I understand.
by Confucius.

Saat ini proses belajar sudah jauh berbeda dengan cara belajar tradisional. Jaman dulu proses belajar adalah dengan mengalami sendiri atau harus mengerjakannya sendiri. Atau dengan pengalaman sendiri. Namun saat ini pengalaman orang lain dapat dipakai sebagai ajang pembelajaran. Kita bisa belajar dari jepang tentang gempa, kita bisa belajar berdagang dari cina, belajar ilmu pelayaran dari orang sulawesi.

Ngelmu (angel olehe nemu = sulit mendapatkannya)”
Proses ngelmu jaman dahulu (tradisional) dengan cara “ngenger” ikut kehidupan sang guru, sampai sang guru merasa yakin dengan “cantrik”(murid)-nya untuk dilepas. Dan diberi “aji-aji” atau senjata khusus sebagai pertanda bahwa kemampuan sang murid sudah dapat dipakai sebagai acuan kesuksesan sang murid. Kalau aji-ajinya ‘kapak 212’ asyik juga ya …. kan bisa melawan kapak merah πŸ™‚
Proses belajar masa kini (modern) dengan pergi ke sekolah, di kelas bersama pak-bu guru. Diberi pituduh (petunjuk), membaca pengalaman orang lain (sejarah), diajak berpikir, dan mengerjakan tugas atau soalan. Kemudian diujikan hingga dianggap mampu dan lulus dengan diberi ijazah.

Yang lucunya ketika “cantrik yg ngenger” tadi dianggap sudah mampu mengemban ngelmu ini kemudian disuruh berkelana oleh sang guru, bisa saja disebut disapih (seperti bayi disapih). Proses pengakuannya dengan hanya sebuah sentuhan dengan tangan seperti mumukul … mak “hegh !” maka saktilah sang murid ini. Murid ini emang kadang juga kagak harus pinter, kayak Wiro Sableng itu, tapi dia disebut sakti. Si Pendekar Sakti yg sudah “lulus” ini nantinya setiap gerakannya akan menjadi pertanda, perkataannya diikuti, dan orang lain yg tidak memilki “kesaktian”-pun suyut (salut) sama dia.

Sedangkan murid jaman sekarang diakui kelulusannya dengan ijazah Doktor. Sama seperti cantrik, maka setiap perkataan sang doktor ini dianggap ampuh dan juga diikuti oleh orang lain. Apa yg dibicarakan langsung diacungi jempol sambil manggut-manggut. Coba deh, kalau nulis di koran-koran dengan embel-embel Doktor pasti deh dimuat (hikhik aku komplen soale tulisanku ndak pernah bisa masuk ke koran sih πŸ™ )

Nah, itu hanyalah berbeda cara belajar jaman dulu dengan belajar jaman sekarang. Mana yang baik dan mana yg kurang baik. Yang jelas kurang baik itu adalah “yg tidak mau belajar”.

“The lost of the Indonesian Technology”

Beberapa hari lalu aku dan beberapa temen (om Guntas, mBong dan Kang Aris ngobrol dengan pak doktor Andang Bactiar yg dateng dari jakarta. Ngobrolnya disebuah cafe dipinggir airmancur KLCC dekat Twin Tower.
Salah satu topik yg kita bincangkan adalah “the lost Indonesian technology”. Ya teknologi indonesia jaman koeno. Salah satu yg menarik dalam diskusi itu adalah :
Saluran air di candi (sumber : photography - Riley)– Hebatnya sistem drainasi candi-candi di Jawa yg sangat perfect, bahkan org Jerman pernah terkagum-kagum dengan desain sistem pengairan di dalam candi yangg tidak menyebabkan genangan. Orang Jerman ini banyak heran karena pada waktu dibuatnya candi prambanan maupun Borobudur ini Jerman masih nol, Jerman masih au ah gelap ! europe still within dark ages !
– konstruksi prambanan yg cukup stabil dan tahan gempa. Candi prambanan ini baru rusak berantakan dengan gempa jogja kemarin ini, sedangkan candi boko sudah lebih dulu hancur. Candi prambanan sepertinya dibangun diatas pasir yg meredam gempa (cmiiw).
– Bendungan di jawa timur jaman Singasari . Pak ADB yg ikutan di AMC dengan harinjing ingat, ada Prasasti Harinjing yang menceritakan pembangunan sebuah dam atau bendungan di Jawa timur, diperkirakan pembangunan dam itu terjadi pada Abad VIII. Lah itu Indonesia (jawa
kuno) telah memiliki teknologi sejak jaman singosari. Nah sekarang yg ahli bendungan di dunia ini justru belanda !

Nah yg heran mengapa teknologi2 ini hilang begitu saja. digantikan teknologi moderen dari barat dengan science-nya.

Teknologi Indonesia (jawa) ini dipelajari tidak dengan cara belajar moderen, mereka dipelajari dengan cara “ngenger” dan pengalaman.
Barangkali dengan “puasa”, prihatin dan latihan.

That is not “klenik” … that is technology !

salah sorang kawan langsung menjawab :

Tak usah heran teknologinya hilang… Sepertinya sih orang jawa yang ahli membangun candi dan bendungan pada pindah ke belanda/german and europe… arena offernya lebih menarik… … ..oooooppp…. heee…heee………
Lagian waktu itu orang jawa fokusnya ngak bikin candi dan bendungan, tapi bikin keris (ken arok) buat modal adu jago memperebutkan ken dedes….. maap bagi yang ngak berkenan.. .
becanda kok biar ngak terlalu serius…

25 COMMENTS

  1. bagaimanapun parahnya keadaan posisi kita sekarang ini di percaturan dunia, (Rafles dll telah membawa pulang 30 ton Lontar dll-ttg catatan sistem pengetahuan Jawa)- ada Moto ; Mau merusak negara lain ?,..maka HANCURKAN ! PERPUSTAKAANnya !,.. Tapi kita masih tetap Positip Thinking !,… Meskipun ada rasa was-was juga,!…Tapi saya inget kalimat dari Prof.Damardjati Supadjar sewaktu di dekat Merapi View – Jogja, Beliau pernah berkata bahwa Pengetahuan Local Genius Eyang2 Leluhur tersarikan di Keris, Batik & semua Candi2 di Nusantara,..Maka carilah itu,.!,..jadi ANAK ZAMAN yaa !,..

  2. nuwun sewu,, “asyk”,, smoga keturunan “jawa” tidak lupa dgn “jawanya”, ini jg parah, harga sapi lokal anjlok gara2 sapi import,,, apa negeri ini kekurangan daging,,,??

  3. Teknologi candi jaman nenek moyang kita memang sungguh menakjubkan. Bayangkan dari sisi tata ruangnya, drainase, arsitektur, serta kekokohannya sedemikian perpect. Yang lebih mencengangkan saat membangunnya tidak menggunakan alat perekat semacam semen, kabarnya cuma dengan kuning telur. Wah??

    Tapi kita patut berbangga, sekarang ada teknologi baru karya anak bangsa yang lebih kurang mengadopsi teknologi candi, namanya Teknologi Delta Qualstone. Teknologi ini selain memiliki karakter serupa candi juga memiliki toleransi terhadap getaran hingga 8 skala richter.

    Mudah-mudahan bisa menjawab tantangan di tengah banyaknya bencana alam.

    Bagi yang penasaran bisa lihat di metacafe.com (search di sains dan teknologi). Merdeka!!

    From: [email protected]

  4. Pernah ada essay di Suara Merdeka (dalam format sastra, sih), yg sampai skr aku coba lacak lagi gak ketemu2.

    Di situ diceritakan bagaimana pengaruh orang Jawa di masa lampau, ada beberapa jejak peninggalan di Madagaskar (jauh sebelum jaman2 kolonial), dan yang samapi sekarang masih nampak adalah di Jepang bagian selatan (nah tuh, krn gak ada rujukuannya lagi, jadi tidak bisa detail).

    Ada daerah di Jepang selatan yang budayanya memiliki kemiripan dg budaya Jawa (cenderung berupa campuran budaya Jepang dan Jawa).

    Lihat pula dalam cerita2 ninja yg memiliki senjata2 mirip dg senjata2 di Jawa jaman dulu…

    Kenapa bisa sampai ke sana ke mari sejauh itu dan meninggalkan jejak sedalam itu, kalau orang orang Jawa saat hanya orang2 yg “krenyeh” kupikir tidak bakal bisa memberikan pengaruh sejauh dan sedalam itu. the lost knowledge pula.

    Tapi, dari babad, orang Jawa kan juga pendatang, dalam 2 gelombang. Gelombang I habis krn di Jawa rebutan lahan dg raksasa (sisa2 homo erectus kali ya), dan baru berhasil setelah gelombang II. Jadi, ilmunya pun bekal dari import.
    Pun, ketika membangun candi Borobudur, ada ahli yg didatangkan dari luar (dari mana ya, India atau Vietnam?)
    Mungkin, setelah diimpor, ilmunya terasimilasi dg ilmu yg berkembang dari pengalaman2 keturunan2 pendatang2 itu.

    Kalau pendatang itu dari Cina, puluhan abad yg lalu kan mereka jagonya ilmu. Apa njut orang Jawa kecipratan?

    Tapi toh, ilmu di Jawa selalu berdinamika, kadang unggul, kadang wagu. Suatu ketika, di jaman hubungan Cina-Jawa begitu rapat, di jaman dulu, orang-orang Cina mengajari teknologi seputar pertanian kepada orang Jawa. Adanya bajak dan alat pengupas kelapa adalah contohnya.

  5. menarik juga yah. walaupun kaatanya kita merdeka tetapi pada dasarnya kita telah kalah dengan telak kalah KO. lihat saja bagaimana ‘teknologi’ yag canggih canggih itu tidak turun temurun ke kita, tetpai malah pindah ke negeri orang. tidak hanya teknologi, budaya jawa pun telah ‘hilang’ dari bumi jawa. lihat saja komentar orang suriname, mereka kepengen belajar budaya jawa dari ‘mata airnya’ tetapi ternyata di jawa ‘ mata air’ itu telah kering. tantanhan neh buat para scientis kita. tunjukan kemampuan kalian.

  6. Menarik sekali tulisan Mas Rovicky ini. Awalnya saya mikir ini: gimana sih orang-orang jaman dulu (sblm abad 18 di Jawa) belajar matematika? lalu mikir borobudur: dimana ya bisa baca dokumen perancangan struktur borobudur? lalu cari-cari di google: eh ketemu blognya mas rovicky hehe. Biasanya saya lihat nama sampeyan di milis migas πŸ˜€ Mungkin alasan hilangnya teknologi jawa itu karena budaya kerajaan yang tidak mbagi2 ilmu ke rakyat kecil. Wong cilik yg jumlahnya banyak dan “alat” yang baik buat promosi teknologi belum dilihat sbg sarana advertisement. Tapi jaman itu teknologi mungkin bukan komoditi, tapi suatu aji-aji. Jadi pantas saja jika didekep, disimpen, kemudian dicolong, ilang, dan skrg kita gak bisa nemu lagi dokumen2nya. Bisa dipropose ke National Geographic nih buat cari-cari teknologi Jawa yang hilang: mereka punya duit & resources. Kita palingan punya resources aja, tp gak ada duit ….

  7. artikel ini menarik pak, lenyapnya suatu peradaban atau teknologi banyak sebabnya, penguasa yang nggak mau ngerti iptek, perang, bencana alam, dll juga bisa jadi penyebab

  8. pak soekarno presiden pertama kita pernah bertutur kalo ga salah bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya sendiri”. kalo kita lihat dan coba amati kehidupan bangsa kita sudah jauh dengan perkataan diatas, para generasi muda kita lebih bangga kalo memakai produk amrik ato yang sejenisnya.tul ga mas? pak de? bude? om? mbak yu?
    maka barangkali sudah saatnya para ahli geologist ato ahli2 indonesia yang laen lebih banyak menguak potensi keilmuan orang jawa kuno pada pada khususnya dan indonesia pada umumnya.

  9. Kalau saya malah cendrung percaya bahwa para ahli bangunan kuno zaman dulu dari Indonesia yang membangun candi2 tersebut memang kelompok elit masyarakat yang tahu geometri. Miriplah kelompok fremason dari kaum Yahudi yang mempeunyai pengetahuan teknis karena mereka belajar dari kuil-kuil atau sekolah-sekolah agama Hindu/Budha yang memang mengajarkan matematika dan geometri tanpa kehilangan imajinasi seninya yang dihubungkan dengan daya spisitualitas mereka. Apalagi kalau kita hubungkan dengan hipotesis kalau Indonesia ternya lokasinya benua atlantis seprti diulas di situs ini http://www.atlan.org . Nah gimana nih geolog dan arkeolog punya spirit nggak menyingkapkan teknologi masa lalu wilayah Indonesia?

  10. β€œThe lost of the Indonesian Technology” – Proses belajar

    semua koment itu benar adanya….
    dan semua sepertinya anak cucu baroe berani bangga usai Wong German kagumi & akui teknologi kakek nenek moyang wong Jambi (Jaman Biyen) hehehe..hehe….

    teman ayas poenya boekoe yg. mengulas tata cara & pola pilih
    lokasi dimana bangunan candi/istana harus didirikan & mhadap
    kemana prayogane…sesuai penjuru mata angin & hitungan nogo
    dino ….. saat (waktu tepat letakkan batu pertama) dst. dan
    ternyata..seperti dikagumi wong germany itoe tak lekang oleh waktu & gempa (kali udah direstorasi ya) hehehe…

    kali kuncinya disini…
    digarap dengan Mohon Petunjuk Illahi dan ikhlas sepenuh hati
    jga dlakoni/proses tanpo sarwo tjepet-an (malah ketjopet-an)
    untuk diwariskan boeat anak cucu di kemudian hari.. itu kali
    karya jambi jadi lebih abadi & awet ya.. hehehee…

    kucinge musafir

  11. Betul astyka, kalau pasirnya dipakai sebagai fondasi juatru akan hancur. Tapi kalau fondasinya “mengapung” diatas pasir mungkin efeknya lain. Sperti memakai peredam kejut (shock breaker). Tapi kalau dikasih pasir dan ngga pakai “slab” sebagai landasannya ya ambyar lah yaw.
    Atau bisa jadi seperti dugaanmu, semennya malah kurang bagus dibanding semennya jaman dulu. Perekatannya terlalu rigit kali ya .

  12. stau saya kalau dibangunnya diatas pasir mbalah tambah gede efek getaran gempanya, apalagi pasirnya ada airnya.. kaya yang di jogja kemaren, bagian bantul mbalah lebih banyak yang hancur, karena diatas satuan endapan volkanik Merapi (pasir+air) jadilah ‘liquifaction’, makanya banyak sumur yang langsung keisi pasir.. sedang yang di gunung kidul karena diatas batugamping dan breksi ( Formasi Semilir klo ga salah) jadi rusaknya ya yang deket dengan kali Oyo aja -aku lebih percaya klo episentrum gempanya di kali Oyo- πŸ™‚

    klo candi pada rusak kliatannya gara2 udah direnovasi paska kena Bom perang dunia mungkin ya? kan jadi banyak yang di semen dan di cor.. πŸ™‚

    kliatannya ini ( bencana geologi, Merapi njeblug + Gempa ) juga yang bikin Mataram hancur, trus pindah ke jawa timur

    _astyka.p

  13. suketq Says:
    July 25th, 2006 at 5:30 pm
    sampai saat ini sudah adakah teknologi atau semacam alat anti gempa?

    alat anti gempa yang benar adalah alat yang bisa menghentikan pergerakan lempeng-lempeng bumi. kalau tidak bisa menghentikan pergerakan lempeng-lempeng bumi maka itu bukan alat anti gempa.

    soal alat anti gempa yang diklaim, saya melihat kecocokannya dengan data gempa hanya “kebetulan” saja, kalau di matematik istilahnya: “spurious correlation”

  14. Weh menarik! hehe.. sebelumnya salam kenal mas πŸ™‚
    Ya, Demak dengan penumpasan membabibuta atas so caled berhala memang memberi andil pada hancurnya beberapa situs dan dokumen berharga.
    Akan tetapi –srimulat style– kita juga harus ingat, seperti yang ditulis mas Rovick, budaya lisan lebih kuat daripada budaya tulis. Akibatnya tidak semua orang bisa meng-akses, apalagi ketika penerus dari keilmuwan tersebut sudah tidak ada.
    Sebenarnya kapitalisme berkembang dari Jawa (becanda.. hehe), budaya lisan dan pewarisan semata-mata untuk menjaga mata pencaharian penerus/keturunannya. Empu Mada dengan keahlian membuat kapalnya yang sangat terkenal, tidak memiliki penerus karena anaknya mati. Dan yang lain juga demikian. Belum lagi kenyataan, setelah pemimpin negara berganti, kebijakan juga berganti. Itu mewaris sampe sekarang (makanya tiap ganti mentri berarti ganti kurikulum dan ganti buku). Jadi pada jaman Sri Maharaja A, konsentrasi ke Kapal. Kapal belum hebat, berganti jadi Sri Maharaja B, dan konsentrasi beralih ke puisi. Dan begitu, dan seterusnya, seperti komen saya yang melompat-lompat konsentrasinya. Haha.. ulasan menarik mas rovick! bravo! πŸ™‚

  15. Mungkin yang ngerti sejarah bisa cerita banyak, mungkin melalui blog. Peluang tuh, blog khusus sejarah indo.

    Setahu saya ada kerajaan yang bertanggung jawab atas raibya dokumen-dokumen kuno, mereka secara sengaja menghapus sejarah… klo ga salah…. DEMAK dibawah Raden Patah!

    Hehehe, mohon yang mengerti sejarah meluruskan, dan kalau memang sudah lurus ya di jelaskan sekalian. Konon sejarah itu kelam, saking kelamnya sampe kita malu untuk mengakui.

  16. Iya ya. Jawa kuno malah lebih canggih dengan budaya dan teknologinya. Sekarang kita malah import teknologi. Jangan-jangan dulu sudah ada komputer pada jaman Majapahit πŸ˜€

  17. Mitos-nya ada candi yang dibangun oleh Pasukan Jin.
    Ada yang bisa menjelaskan secara rasional bagaimana candi sebesar Borobudur itu dibangun, berapa lama waktu pembangunannya, siapa pencetus ide-nya dan untuk apa.

Leave a Reply