Jangan berikan prediksi ! Tapi berikanlah pengetahuan !

16

PANIK !Mungkin kalau anda membaca link ini http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0305/04/04p03.htm akan nggrundel, apalagi trus dikontra lagi dengan brita ini http://www.antara.co.id/seenws/?id=38227

Apa yang adapat kita pelajari dari rentetan bencana gempa-tsunami ini ? PANIK !!!

Segera setelah terjadi gempa-tsunami Aceh 27 Desember 2004, semua panik. Kepanikan itu tidak hanya pada rakyat awam, namun juga pemerintah, bahkan para pakar kebumian ikut panik. Lah wong aku aja trus bingung juga kok. Coba kalau anda ngikuti diskusi di apakabar dll, aku pun sempet membantah bahwa gempanya sebesar 9 SR. Karena gempa sebesar itu belum pernah tercatat dalam sejarah (tertulis) di Indonesia. Tapi akupun baru sadar telah kliru bahwa gempa Aceh ini memang sebesar 9 SR. Akupun lantas membuat blok khusus gempa Aceh ini di blog lama di Tripod. Aku dulu juga mengupdate setiap hari perkembangan gempa tersebut. Sebenarnya selain keprihatinan, mungkin juga merupakan manifestasi kepanikan pada diriku sendiri menghadapi sesuatu yg belum pernah diajarkan.

Sesuatu yg saya dapat catat adalah :
Minat pada awareness (kewaspadaan) lebih dikalahkan oleh ramalan (prediksi).
Prediksi gempa atau bencana seolah-olah menjadi sesuatu yg ditunggu2 oleh siapa saja. Bahkan tulisan di Kompas dan IAGI-Web 2003 tahun lalu menjadi buah bibir dibeberapa milist segera setelah gempa Aceh tahun 2004 itu. Berita ini menjadi “the most read news” di www.iagi.or.id. Padahal aku sendiri yg memposting beritanya sendiri, aku juga lupa. Juga ketika gempa Jogja akupun sudah memposting di web yang sama disini. Padahal itu hanyalah antisipasi bukan ramalan. Dan yang selalu terjadi adalah pernyataan … “Tuuh, sudah diramalkannya, kan ?”. Padahal kalo ramalannya mleset semua orang sudah lupa bahwa ramalan itu lebih banyak mlesetnya daripada benernya. Mengapa ? Alasannya ya sederhana, karena lupa !

Seberapa pentingya sih prediksi ini untuk menyelamatkan korban ?
Tentunya orang akan tertarik dengan ‘what next’ apa yang akan terjadi, berapa nomer nomer buntut yg bakalan keluar, atau siapa yg bakalan menang sepak bola nanti …. Ramalan emang sesuatu yg sering dan selalu ditunggu-tunggu dan dicari oleh orang tertentu, termasuk anda kah ?. Namun apakah iya prediksi ini paling berperan mengurangi korban ? Jawabnya mungkin saja. Karena ramalan yang bagusakan memilki derajat ketepatantinggi misalnya ramalan cuaca. Bencana-bencana yg ada hubungannya dengan cuaca akan lebih mudah diantisipasi, juga bencana yg beruhbungan dengan kegiatan cuaca seperti banjir gunung berapi dll, ketimbang bencana yg dipicu (triggerred).

Saya rasa akan lebih bermanfaat jika masyarakat sendiri sudah mampu dan telah dibekali dirinya dengan “pengenalan gejala bencana” ketimbang menunggu pengumuman si tukang perintah (pemerintah 🙂 tentang akan munculnya bencana dengan early warning, maupun ramalan/prediksi dari ahli geofisika/geologi. Menunggu perintah mengungsi, menunggu ramalan hanyalah menjadikan masyarakat ini semakin tidak berdaya dan malas !
Seperti yg aku gemborkan di beberapa milist —> “Prediksi dan peringatan dini (early warning)” itu konsumsinya orang- orang “diatas” sedangkan sosialisasi “kewaspadaan” pada bahaya di lingkungan sendiri itu konsumsinya orang “awam”, macem kita-kita lah … :).

Skali lagi kuncinya –> Knowledge / Pengetahuan / Ilmu !!!

Prediksi gempa merusak peluang terjadiannya bisa puluhan tahun sekali, dan tsunami besar ini bisa sekali dalam limapuluh atau ratusan tahun. Sehingga prediksi ini mungkin hanya bermanfaat utk perencanaan bendungan, jembatan, gedung2 tinggi, serta bangunan2 dan perencanaan strategis lainnya. Kesalahan prediksinyapun bisa meleset puluhan tahun, khusunya untuk gempa lokasi atau tempatnya (epicenternya) juga bisa meliputi ratusan Km persegi.
Kejadiannyapun bisa sepuluh tahun lagi, seratus tahun lagi, bulan depan, atau bahkan nanti sore ! Jadi mengapa masih mengadalkan ramalan ? Apakah kita akan bersembunyi dibawah kolong selama menunggu datangnya gempa ?
Peringatan dini (Early warning)

Peringatan dini (“Early warning“) merupakan serangkaian sistem alat utk memberitahukan akan timbulnya kejadian alam setelah diperoleh tanda-tanda fisis yang “pasti” dan sudah terjadi sebagai pertanda (precursor). Bisa saja herupa gejala alam maupun tanda2 alam yg menarik utk dinikmati. Sistem peringatan dini (early warning) akan melibatkan dan membutuhkan ‘hardware’ (alat) dan technology, juga prosedur penyampaian (software), termasuk otoritas siapa yg berhak/wajib menyampaikan (brainware). Bahkan ketika disampaikanpun belum tentu orang yg dibertahukan akan menghindar setelah tahu.
Beberapa tulisan aku baca di web cukup menarik yg intinya “Apakah yg terjadi ketika kau beritahu bakalan akan ada tsunami ? …. beberapa orang akan berjejer di pantai untuk melihatnya !”. Termasuk diantaranya ketika ada gejala-gejala dari Gunung Merapi beberapa bulan lalu di Jogja.
Pada kenyataannya banyak juga yang selamat dari bencana tsunami di Aceh tahun 2004 kemarin. Diantara yg selamat ini banyak yg sudah mengetahui gejala-gejala akan datangnya “bencana” tsunami. Sepupu saya, salah seorang dokter AD yg sedang bertugas di Aceh sana waktu kejadian, ketika mengetahui ada gempa kekuatan besar langsung melarikan diri ke tempat lain (naik gunung) dengan mobil, dan selamat. Salah seorang teman anak saya juga berceritera hal yg sama ttg selamatnya pamannya yg ada di Aceh, yaitu mengenal kemungkinan tsunami setelah merasakan gempa sempet menjemput anaknya yang akhirnya selamat. Cerita yang selamat ini juga banyak diperoleh kalau kita tengok Pulau Simeulue, karena mereka sudah secara “refleks” naik ke bukit ketika terasa ada getaran. Ndak peduli getaran besar ataupun kecil yg penting naik dulu. Dan ini yg menyelamatkan warga Pulau Simeulue.

Beberapa korban adalah yg tidak tahu dan yg tidak waspada, juga terlihat dari video2 amatir. Misalnya :
1. Crita2 di media menyebutkan bahwa ketika terjadi surut sebelum tsunami justru banyak yg lari menjorok kelaut mencari ikan yg terjebak namun dirinya sendiri yang akhirnya terjebak -> karena tidak tahu.
2. Yang lainnya akibat menonton tsunami karena ada badai tsunami pertama yg relatif lebih kecil.–> Karena tertarik hgejala alam
Kalau anda denger apa yg terjadi di rekaman video2 amatir ini terdengar kata-kata ” … here the bigger one … here coming again … wow, now its huge …etc, etc” … artinya mereka sudah tahu sebelumnya, namun tidak menyadari bahayanya. Banyak di rekaman video amatir tentang tsunami Aceh itu nampak orang yg berjejer di pinggir pantai, dan terhempas !. Jadi hanya aksi yg bersifat refleks ini yg akan menyelamatkan ketimbang “pemberitahuan” baik early warning maupun ramalan.

Saat ini saya masih lagi kepingin memberikan “pengetahuan” ke masyarakat tentang bagaimana terjadinya bencana serta tanda2nya, terserahlah mereka dengan pengetahuan ini mau menonton atau menghindar, itu pilihan mereka… thats beyond my control !.

Seismic Gap dan Generation Gap, sama-sama berbahaya !
Seismic gap merupakan jeda dari suatu daerah yg tidak mengalami gempa cukup lama, namun ketika terjadi gempa biasanya kekuatannya sangat besar. Kekuatan yg besar ini akibat tekanan tersimpan cukup lama. Perlu diingat keterjadian bencana ini puluhan tahun bahkan ratusan tahun sekali, Sehingga akan ada generasi yg tidak mengalami. Seperti gempa jogja ini juga terjadi sekian puluh tahun lalu, bapakkupun tidak pernah cerita ke aku sewaktu aku kecil di Jogja dulu. Apalagi ditambah rakyat Indonesia ini mnurutku termasuk yg “malas belajar” dan “pelupa” … maaf. Maka lengkaplah sudah bencana alam ini.
Kejadian gempa yg sekali dalam ratusan tahun ini memiliki dampak khusus dalam proses belajar umat manusia … its part of learning proccess. Belajar tidak harus dengan mengalami sendiri … ini penting !!
Kakek nenek saya tidak megalaminya …
Cucu saya mungkin juga tidak mengalaminya …
Tapi cicit serta cicit-cicitnya …. dalam artian “human race” …mesti dan harus tahu dan belajar ini. Karena “cascading knowledge
atau “getok tular” inilah salah satu cara “manusia” mempertahankan rasnya. Atau manusia akan punah dimakan bencana yg tidak pernah dipelajarinya turun menurun …

Ilmu yg disampaikan” …
skali lagi ilmu yg disampaikan turun-menurunlah yg menyelamatkan umat manusia Indonesia dari kepunahan !!

salam duka … 🙁

16 COMMENTS

  1. Mas Mita Fauzi, tulisan dan kekhawatiran anda yang telah anda utarakan 2 (dua) tahun lalu terbukti hari ini…..turut berduka cita atas musibah gempa dan tsunami di Mentawai hari ini.

  2. untuk masyarakat awam pada umumnya saya rasa tidak perlu pengetahuan yang terlalu mendetail tentang apa dan bagaimana tsunami atau gempa itu terjadi. yang perlu ditanamkan adalah langkah2 pertama dan utama kita untuk menyelamatkan diri saat bencana datang.

  3. Pak de, ada hasil penelitin terbaru LIPI dan IPG Paris di kabupaten Kepulauan Mentawai pada 15 Februari – 6 maret 2008, ditemukan bekas longsoran tanah bawah laut yang sangat besar. Longsoran tanah tidak hanya terjadi di Siberut, tapi area sepanjang 340 km dari Pagai Selatan sampai Siberut. Penelitian dilakukan 50 orang dari 16 institusi internasionel termasuk BPPT, pusat Penelitian Geologi Kelautan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral serta Departemen Kelautan dan Perikanan RI. Penelitian ini dinamakan Pre-Tsunami Investigation of Seismic Group (PreTI-GAP) Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Longsoran berpotensi menimbulkan Tsunami meski gempa dalam magnitudo kecil. Wah pak…jadi skala gempa berapa nih kita harus mengungsi ? Soalnya rumah dekat laut. Tolong pembahasannya pak. Terima kasih sebelumnya.

  4. Ya kami dari kota padang sangat cemas neh dan segala sesuatu itu kita harus sering ingat2 ma Allah S W T karena dengan Dialah kita mengadu. Sudah banyak prediksi orang terhadap kota Padang. Belum suatu teknologi dan Ilmu mana pun yg bisa memprediksi gempa tersebut

  5. Dengan adanya gempa yang terjadi kemarin sore sekitar jum 18.10 wib, dan diprediksikan akan ter
    jadi gempa susulan, maka ini menjadi suatu peringatan sebagai early warning untuk kita semua!
    mewaspadai berikutnya apa yang bakal terjadi, namun tetap secara tenang dan tidak panik mengikuti prosedur yang berlaku.

  6. waduh! gempa mah kaga bisa diprediksi(mungkin belom). klo da berita “akan da gmpa jam…di…”itu pasti ndabul. gempa pasti terjadi cuman ga tau kpn. yang penting mah jangan panik tetapi harus tanggap. ingat! orang panik ga bisa bertindak secara tepat. Contohnya: tetanggaku pas gempa 27 mei panik saat gempa. eh,bukannya nyuruh keluarganya keluar rumah, malah mengunci pintu n nglarang anak2 keluar rumah. nah, klo rumahnya rubuh kan berabe.

  7. Akhir2 ini muncul berita yang menyebutkan bahwa para pejabat kita di Jakarta telah memindahkan aset kekayaannya ke Bogor, krn ada kabar dari BMG sampai Februari tahun depan akan ada Gempa dan Tsunami di Jakarta dan Jawa.
    Sebenarnya sama BMG pernah dipublikasikan di Televisi, cuma kok g santer beritanya?katanya juga untuk menghindari kepanikan masyarakat. Mungkin teman2 bisa dapat info yang pasti soalnya ini bukan sekedar ramalan. Apabila ada early warning sebelumnya setidaknya kita bisa jaga-jaga, jangan hanya untuk kalangan pejabat. Maaf sebelumya, Informasi ini memang dari mulut ke mulut saya sendiri juga tidak jelas. trims (replynya tolong di cc ke email saya)

  8. Menurut anda apa program yang pas untuk “memberikan pengetahuan” pada masyarakat yang awam..
    Saya sering di tanya ” Kata email ini nanti malam ada gempa? Apa benar ?”.. Belum email-email hoax serta sms lainnya. Untuk kaum profesional ( non geologist/geophysicist) saja menjelaskan terjadi tsunami dan penyebabnya saja tidak mudah apalagi untuk masyarakat yang berada di pesisir pantai ?

  9. memetakan kawasan rawan bencana dan memastikan warga negara tahu dan paham bahwa daerahnya rawan adalah dasar untuk membangun kesiapsiagaan..
    sepakat dengan : “jangan berikan prediksi, tapi berikan pengetahuan”…
    tapi tergantung konteknya juga sih.. karena untuk ancaman banjir bandang dengan kondisi alam yang sudah parah banget.. prediksi menjadi penting untuk mitigasi dan kesiapsiagaan.
    masalahnya… pemerintah gak pernah merasa punya kewajiban untuk melindungi warganya dari ancaman bencana. sekalipun madat dari konstitusi sangat jelas..
    Hal yang juga penting.. bahkan amat penting.. bagaimana proses recovery dan pembangunan kembali harus dilakukan dengan meletakan dasar analisis risiko dan dampak bencana..

  10. Dimana kalian para pakar Dr. Nanang dari ITB, Dr. Terry Sriwana dari Sekolah Tinggi Teknologi Mineral, Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Bandung Dr. Hendry Subakti, Dr. Soewarno ahli geologi kelautan, dan Dewi Kurnia dari Bappeda Jabar yang menyatakan pengandaran aman baca KR Jumat, 04 Maret 2005.

  11. “…Dr. Nanang dari ITB, Dr. Terry Sriwana dari Sekolah Tinggi Teknologi Mineral, Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Bandung Dr. Hendry Subakti, Dr. Soewarno ahli geologi kelautan, dan Dewi Kurnia dari Bappeda Jabar….”

  12. Meski berusaha mengetahui, berusaha belajar dan mencoba mengerti mengenai fenomena kebumian, tapi kalo ingat ramalan yg menyatakan pulau jawa akan terbelah jadi ngeri juga…jangan..jangan….

  13. […] Adanya seismic dan generation gap (seperti yang ditulis oleh Rovicky) menjadikan generasi saat ini banyak yang tidak tahu tentang hal-hal yang berhubungan dengan bencana alam gempa bumi dan tsunami. Apalagi, arsip-arsip tentang kegempaan di masa lalu pun sulit untuk didapatkan, atau bahkan malah tidak ada sama sekali mengingat kebiasaan jelek kita yang malas mencatat sejarah. Untuk itu, ada baiknya jika mulai saat ini, di saat dimana warga mulai antusias mencari tahu banyak hal tentang gempa, lembaga-lembaga yang bergerak dalam bidang sosial bekerjasama dengan lembaga-lembaga yang menangani masalah bencana alam dan ilmu-ilmu kebumian menyebarkan seluas mungkin informasi-informasi tentang hal ini melalui media massa, sekolah-sekolah, dan kantor-kantor. […]

  14. yah….begitulah.tapi geologi ini memang ilmu bumi yang tidak (mudah-mudahan belum)membumi. mencari bahasa yang awam untuk menjelaskan satu fenomena saja sudah sulit, belum lagi dibenturkan dengan kepentingan lain, (dianggap bikin isu, bikin panik, investor lari, etc.), tambah kacaunya lagi, kalo yang mencoba woro-woro ke masyarakat itu seorang PNS (rendahan-red – macam saya. makin repot lah urusannya. dianggap membangkang, nilai DP3nya jelek, malah gak bisa naek pangkat (kapan mo jadi PNS tinggian, wuih pokoke ruepooot. kapan ya presidennya atau gubernurnya geologist, atau paling tidak decision maker dalam pemerintahan kita ini punya nurani, tidak cuma mementingkan kebutuhan ekonomi sesaat.
    dilematis….cqk….cqk….cqk…

Leave a Reply